Pendidikan Transformatif: Elektabilitas Santri . aum sarunga. menjadi PemimpinIdaman Nanang Qosim Email:qosimatik99@gmail. Saifur Rohman Email:puenkzz@gmail. Universitas islam Zainul hasan genggong Probolinggo Abstract Transformative education is an education that focuses on changing the behavior of students for the better. Transformative education includes social entities related to social texts in it. Transformative education at the final peak becomes a virtuous human being and is useful for Being a leader is not easy, being able to understand very well who he is and who he leads, a leader must know his function as a leader, understand the situation and conditions that are happening, work hard, work together, give appreciation to subordinates who have high performance, keep focus on the goal to be achieved. The electability of santri to become a leader is no longer taboo, because reality sees with the naked eye that students have significant potential. Keyword: Transformative Education. Leaders and Santri Pendahuluan Konsep pendidikan sering disamakan dengan pemahamanpemahaman pada pengajaran, yang jelas kedua hal tersebut memiliki konsep dan makna berbeda. Pendidikan lebih menyiapkan kepada peserta didik supaya mampu menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara efektif dan efisisen melalui transformasi nilai. Sedangkan pengajaran lebih difokuskan kepada pembentukan karakter dan teknis saja. (Hamdi 2. Di abad ke -21 bisa dikatakan sebagai generasi millenial di Era Society 5. Pada masa ini, meneruskan kedigdayaan masa modernis IPTEK,berkembangnyamaterialisme,kompetisi global dan persaingan yang semakin ketat. Proyeksi seperti ini sangat urgent dibutuhkan oleh masyarakat untuk bisa menyebrangi lautan globalisasi yaitu dengan menyiapkan sistem pendidikan yang bisa menetaskan benih-benih manusia atau santri hebat yang bisa bersaing ketat di era (Suparta 2. Pendidikan bisa dimaknai sebagai salah satu yang bisa mempengaruhi kehidupan sosial dan individual yang mampu menentukan dan menciptakan budaya serta perilaku kelompok. Pendidikan adalah bagian dari "rekayasa sosial" disengaja dan tersistematis yang telah berlangsung dalam waktu lama sehingga tidak hanya berinteraksi dengan tatap muka antara pendidik dan siswa atau santri di lingkungan kelas. pendidikan merupakan seauatu yang sangan intim sekali dalam proses"pembudayaan" yang sedang berlangsung ditengah-tengah masayarakat,yang mana didalamnya terkandung berbagai proses menumbuhkembangkan potensi siswa, mewarisakan budaya dan memadukan keduanya. (Arif 2. Pendidikan transformatif bukan hanya men-transfer of knowledge, men-transfer of skills, melainkan juga men-tranfer ofattitude yang di tumbuhkembangan nilai-nilai budi pekerti yang Orang yang memiliki ilmu belum tentu berakhlak dan orang yang memiliki akhlak baik sudah pasti memiliki ilmu, bisa dikatakan sangat sulit melahirkan akhlak baik tanpa berilmu. (Dawiyatun 2. Fungsi pesantren inilah yang diharapkan mampu mengelola dan memproses pendidikan yang bisa membantu para santri dalam memahami ilmu-ilmu Allah SWT. Serta bisa mengamalkan dalam Manusia cenderung bisa membuat keputusan dan solusi setiap permasalahan dirinya atau sosial. Dengan adanya pendidikan maka ilmu dan amal pada individual sangat berarti untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Sehingga lembaga pendidikan seharusnya memiliki sikap dinamis sesuai dengan perkembangan Keberhasilan dalam pendidikan dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya adalah sistem pendidikan, guru . elaksana pendidikan, siswaataupun santr. Sehebat apapun sistem pendidikan itu dibangun tidak akan terlaksana dengan baik jika santri atau siswa tidak memiliki kriteria yang baik. (Dawiyatun 2. Pendidikan menjadikan santri sebagai agent of change didalam kehidupan sosialnya. Berkaitan dengan hal itu, lembaga pendidikan pesantren seharusnya bersikap dinamis sesuai dengan zaman yang berkembang dan tetap memegang teguh prinsip ulama Pendidikan transformatif merupakan salah satu alat atau media penting untuk merealisasikan masyarakat menjadi demokratis. Model pendidikan tersebut sangat penting sehinggaperlu disiapkan santri untuk menjadi warga negara aktif dan inovatif. Peran semua lembaga pendidikan disinilah sangat diperlukan mulai dari tingkat rendah yaitu TK/RA. SD/MI. SMP/MTs. SMA/MA, dan Perguruan Tinggi serta Pesantren. (Suparta 2. Pesantren merupakan tempat/media para santri untuk memulai mengembangkan kemampuan yang ada dalam dirinya. Pesantren memiliki peran substansial dalam mengembangkan intelektual, emosional dan spiritual santri. Dalam hal ini, ketiga potensi tersebut diharapkan mampu direalisasikan dan diaplikasikan pada diri santri dan bisa menyempurkan segala kelebihan ayang ada pada dirinya. Guru sebagai tenaga pendidik dan pengajar agar bisa mengenali, mengelola serta mengembangkan setiap potensi santri. Potensi-potensi yang dimiliki oleh santri seperti menjadi seorang leader, interpreneurship, manager, dan lain-lain. (Dawiyatun 2. Elektabilitas merupakan bagiandari tingkat kesenangan atau dipilihnya atau ketertarikannya masayrakat dalam menentukan pilihan seorang tokoh, publik figur, partai, serta barang dan jasa. Informasi tersebut diperoleh dari bermacam kegiatan survei yang (Maxmanroe 2. Penulis tertarik pada penelitian ini dengan judul: Pendidikan Transformatif: Elektabilitas Santri Menjadi Leader Idaman. Elektabilitas dan eksistensi santri menjadi leader idaman dan dipilih oleh masayarakat atau sebuah instansi dikarenakan santri dikenal baik oleh masyarakat, memiliki etos kerja yang baik, mempunyai potensi dan prestasi dibidang tertentu dan memiliki rekam jejak positif Jadi, santri berhak untuk mengembangkan potensi dirinyasalah satunya menjadi seorang manager. Tidak selamanya santri harus memakai sarung, mengaji kitab kuning tetapi mereka juga bisa mengembangkan karir demi masa depannya. Pembahasan Pendidikan Transformatif Pendidikan adalah seluruh kegiatan pembelajaran dalam proses pentransferan pengetahuan, keterampilan dan pembiasaan sikap/budi pekerti tersebut diwarisakan secara turun-temurun melalui program kegiatan belajar mengajar dan melakukan penelitian. Secara etimologis pendidikan berasal dari kata "ducare" memiliki makna memberi tuntunan, membimbing, mengarahkan, memimpin dan diawali huruf "e" yang berarti "keluar". Bisa dikatakan pendidikan sebagai kegiatan menuntun keluar. Semua perbuatan atau pengalaman setiap orang berfikir memiliki efek formatif, merasa, dan berbuat tindakan diangap sebagai pendidikan. Pada umumnnya lembaga TK,SD/MI,SMP/MTs/SMA/MA/SMK dan Perguruan Tinggi. (Wikipedia 2. Menurut Syekh Nawawi. Pemaknaan pendidikan dan ta'lim, ta'dib. Pendidikan pada hakikatnya bukan hanya bertugas menyuplai ilmu pengetahuan . ransfer of knowledg. saja, melainkan mentransfer nilai-nilai inti . ore valu. , bisa juga mentransfer nilai kebaikan . ransfer of valu. dan pengembangan berbagai metode . engembangkan nilai dalam pendidikan dan menjadikan pribadi peserta didi. Oleh karena itu, kenyataan yang ada selalu menggambarkan adanyaadanya permasalahan yang terjadi. Pendidikan bukan menciptakan manusia cerdas . ntelligent huma. melainkan yang dibentuk adalah kecerdasan manusia . uman intelligenc. Karena yang dibentuk adalah mendidik kognitif dan intelegencesaja tanpa memperhatikan pengembangan sikap afektif, psikomotorik dan spiritual santri sehingga terjadi ketidakseimbangan di dalam peserta (Pransiska 2. Peristiwa yang sering terjadi pada negeri ini adalah banyak kaum terdidik dan terpelajar melakukan perbuatan yang kurang mencerminkan baikseperti kasus korupsi, asusila, dan lain ini disebabkan karena mereka hanya dibentuk kecerdasan manusia bukan membentuk manusia cerdas. Pendidikan transformatif merupakan transmisi perubahan dalam pendidikan dari tardisional mengarah pada pendidikan Pendidikan dalam kehidupan manusia memiliki peran penting untuk menuju peradaban baru. Pendidikan seharusnya memiliki karakter fleksibel dan transformasi sehingga bisa beradaptasi dengan segala perubahan yang fluktuatif. Pendidikan transformatif tidak hanya berfungsi sebagai tranfer of knowledge, tetatpi juga aktif menumbuh kembangkan budi pekerti baik, mengembangkan potensi siswa melauli latihan kepemimipinan, kewirusahaan, menjadi pemimpin, dan lain-lain. (Dawiyatun 2. Pendidkan transformatif merupakan kegiatan yang bisa mempertahankan tradisi/budaya yang menjadi dasar pandangan Di dalam pendidikan transformatif mengorientasikan terhadap kemandirian santri atau peserta didik dalam menghadapi permasalahan yang ada, membuat planning yang matang, beradaptasi dengan kebiasaan belajar kelompok, kemandirian, kreatif, produktif, (Misbachul 2. Dalam Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional (RSDPN) bahwa tujuan pendidikan transformatif menjadikan manusia cerdas komprehensif dan kompetitif. (Jubaida Kidam 2. , yaitu: Cerdas Intelektual/ olah pikir (Intellectual Intelligenc. menjadi manusia yang kritis, kreatif, berinovasi dan teknologi b. Cerdas Sipiritual/olah hati (Sipiritual smar. : Menjadi manusia yang memiliki Iman yang kuat, bertaqwa, berkepribadian tinggi dan berkeadaban. Cerdas Emosional/olah rasa (Emotionally Intelligen. Menjadikan manusia yang memegang kelembutan dan seni keindahan serta kultur yang trus diaplikasikan. Sedangkan cerdas kompetitif diantaranya adalah. pribadi unggul . uperior personalit. , kemandirian . , pantang mundur . , membangun jejaring . uild network. , mengikuti perubahan . eep up with the change. , selalu beriovasi . lways innovat. ,keratifitas dan belajar seumur hidup . ifelong Untuk menjadikan manusia yang cerdas komprehensif dan kompetitif tidak mudah karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu 5 M. (Jubaida Kidam 2. Man ( manusi. : perlu peningkatan SDM Money. : penyelenggaraan pendidikan belum maksimal dan bermutu karena disebabkan keuangan terbatas Method . : penggunaan metode pendidikan kurang bervariasi dan berinovasi tampak kurang efektif dan efisien. Machines . lat/medi. : media/alat pendukung dalam pendidikan masih kurang sehingga kegiatan belajar menggunakan seadanya. Materials . : objek dalam pendidikan adalah siswa yang meiliki kekurangan dan problematika dalam dirinya, kelaurga dan masyarakat. Pendidikan seharusnya mengajarkan manusia agar bisa menghadapi kemajuan globalisasidengan mempersiapkan sistem pendidikan yang mampu menetaskan generasi selanjutnya yang berkompeten dan memiliki daya saing tinggi. Timbul pertanyaan dibenak kita adalah, apakah sistem pendidikan sudah siap untuk Untuk (Suparta 2. Untuk mengantisipasi kemajuan abad ke-21 di era 5. 0 Society. UNESCO (United Nation Edu- Sebagaimana Qadri A. Azizi merumuskan Visi dan Misi Pendidikan sebagai berikut:(Suparta 2. Learning to think/atau learning to know . elajar untuk Pada tahap ini mengajarkan kepada pendidik dan peserta didik untuk selalu senang membaca, belajar yang berkesinambungan yang sudah dipikirkan secara matang dan timbul rasa ingin tahu serta memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Learning to do . elajar untuk berbua. Pendidikan seharusnya bisa menempatkan dan memposisikan anak pada kegiatan pembelajaran yang mampu meningkatkan taraf hidupnya dan supaya bisa melakukan apa yang sudah di Learning to be . elajar untuk menjad. Pada tahap ini bertujuan supaya kita mengetahui kelebihan dan keurangan diri kita sendiri dengan cara introspeksi. Sehingga dengan melakukan introspeksi diri kita mampu mengendalikan kemampuan diri kita menjadi lebih baik. Learning to live together . elajar hidup bersam. Pendidikan mengajarkan kepada kita untuk bisa menghargai setiap perbedaan yang ada disekitar kita, maka kebersamaan akan muncul dan terjalin. Pengetahuan tentang pluralis, multikultural, nasionalis, agamis, maka kita akan sadar dan bisa berfikir akan nilai-nilai demokratis. HAM dan lain-lain. Bisa dikategorikan sebagai pendidikan transformatif, jika model pendidikan yang harus digunakan adalah kooperatif terhadap semua potensi peserta didik/santri untuk kritis dalam berfikir, bebas, terukur dan terarah. Model pendidikan yang menghargai semua kemampuan yang ada pada diri anak didik dan dikembangkan secara benar dan Tidak ada kekerasan, diskriminatif, menjaga kesetaraan, saling menghargai, saling memulyakan, peka dan (Misbachul 2. Dari berbagai pendapat diatas bisa diambil kesimpulan bahwa pendidikan transformatif adalah pendidikan yang memprioritaskan terhadap siswa yang mandiri agar mampu menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi, senang belajar diskusi, berinovasi, memiliki rencana yang smart untuk masa Model Pembelajaran Transformatifbagi Santri Pembelajaran transformatif, sebagai teori, mengatakan bahwa proses "transformasi perspektif"memiliki tiga dimensi: psikologis . erubahan pemahaman tentang dir. , convictional . evisi sistem kepercayaa. , dan perilaku . erubahan gaya hidu. Desainpembelajaran transformative bisa disandarkan dan diaktualisasikan dengan paradigma konstruktivis melalui pengetahuan yang mereka alami. Implikasi dari penerapan pembelajaran transformative diproses dan dikembangkan melaui sebuah interaksi Pembelajaran transformative bertujuan bukan sekedar transformasi secara pribadi melainkan mampu mengembangkan menjadi pribadi yang memiliki kreatifitas tinggi sekaligus mampu membangun jejaring . sosial, ekonomi dan politik. (Suparta Sadirman memberikan pengertian mengenai belajar bahwa suatu proses perubahan-perubahan perilaku seseorang melalui proses melihat, membaca, mengamati, mendengar serta menirukan. Perilaku yang berubah melalui proses belajar mengajar yang dilaksanakan melaui jenjang dan satuan pendidikan. Model pembelajaran transformative memberikan stimulus mengenai pemahaman, peran dan kontribusinya dalm memberikan keterampilan bagi masyarakat sekitar pesantren melaui penyeimbangan antara otsak . ead/brai. , akhlak/adab . eart/mora. and/psikomotori. Pembelajaran ini memberikan petunjuk dan dalam merevisi/memperbaiki perubahan-perubahan dipesantren yang sangat urgent, seperti pembentukan nilai pendidikan multicultural yang berkembang di masyarakat. Memberikan kesempatan bagi santri berkontribusi aktif dalam mengembangkan potensi dan memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi. Masyarakat pesantren utamnya para santri di tunutut harus bisa memberikan solusi terbaik disetiap ada konflik keagamaan, karena santri merupakan garda terdepan dalam mewakili masyarakat (Saihu 2. Dalam pendidikan transformative berusaha mengajarkan bagaimana peserta didik memahami kemampuan yang dimilikinya . ndividualAos consciousness of himself or hersel. pada saat dirinya menempati posisi kekuatan ekonomi, sosial dan politik. Sebagaimana yang di ungkapkan oleh Paulo Freire tentang konsep menyadarkan . bahwa pemberian sarana pengetahuan dan pemahaman mengenai efikasi dan yang mendominasi dari alienasi bisa dirubah dan dibentuk. Pendidikan transformative . ransformative learnin. bertujuan bukan hanya mentransfer secara personal, melainkan menstranformasi dalam bidang sosial. Sehingga semua orang bisa menghasilkan dan mengembangkan ide kreatifnya sendiri dan juga bermanfaat bagi masyarakat. (Suparta 2. Bila kita amati secara mendalam, keberadaan pesantren tumbuh dan berkembang di sekitar masyarakat tentunya memiliki hubungan ikatan yang sangat erat. Harapan masyarakat dengan adanya pondok pesantren akan melahirkan santri-santri yang berprestasi, arif, produktif, calon pemimpin bijaksana, berkualitas dan memiliki dedikasi tinggi. (Saihu 2. Pemahaman Mengenai Pemimpin. Kepemimpinan dan Santri Kata Pemimpin berasal dari AupimpinAy yaitu lead . ahasa inggri. yang memiliki makna bimbing dan tuntun. Oleh karena itu, bagian terlibat ada orang yaitu AumemimpinAy dan AudipimpinAy. Ketika mendapat awalan kata AupeAy berubah jadi AupemimpinAy yaitu leader . ahasa Inggri. bermakna menuntun dan atau membimbing. Menurut etimologi pemimpin merupakan seorang yang bisa memberikan pengaruh dan membujuk orang lain supaya mengerjakan kegiatan tujuan organisasi, sehingga menjadi awal progress kerja dalam struktur organisasi tersebut. (Amin and Siregar 2. Kepemimpinan merupakan sebuah usaha agar bisa mempengaruhi pihak lain, sedangkan kekuasaan dimaknai sebagai kompetensi pengaruh dari pemimpin. Kekuasaan adalah sesuatu yang bersumber dari pemimpin agar bisa memperoleh hak dan kepercayaan supaya mampu mempengaruhi orang lain. (Yudiaatmaja 2. Perbedaan kata pemimpin dan kepemimpinan bisa dijelaskan sebagai berikut : elemen pemimpin diantaranya. pertama, pemimpin selalu membangun konsep relasi . oncept relatio. Dikatakan pemimpin apabila memiliki relasi dengan pihak lain. Jika tidak ada relasi serta pengikut tidak bisa dikatakan pemimpin. Kedua, pemimpin selalu berproses. Supaya bisa menjalankan titah sebagai pemimpin, maka seorang pemimpin harus bertindak sesuatu. Ketiga, pemimpin mampu merayu/membujuk . bawahan agar bisa mengambil keputusan/tindakan. Fenomenologis dalam memahami kepemimpinan pertama, kekuatan dalam sebuah kepemimpinan bukan hanya terpusat pada individu, posisi strategis yang dimilki melainkan berpusat pada bagaimana kita mentaati hokum. Kedua, kepemimpinan tradisisonal yang masih kental terhadap tradisinya. Kepemimpinan ini yang menentukan posisinya adalah masyarakat yang mempertahankan tradisi tersebut. Ketiga, kepemimpinan dimaknai seseorang ayng memiliki kemauan kuat dalam dirinya. (Amin and Siregar 2. Tipologi Kepemimpinan Kepemimpinan pada organisasi dasarnya merupakan sebuah Untuk bisa mempengaruhi pihak lain dibutuhkan factor utama dalam organisasi yaitu manusia . Untuk menggerakkan sebuah organisasi memerlukan bantuan orang lain supaya mampu berkolaborasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Untuk mengatur dan mengendalikan individu yang ada dalam organisasi diperlukan seorang pemimpin yang diharapkan mampu memberi arahan mencapai tujuan organisasinya. Kegiataan berproses seperti inilah yang disebut dengan kepemimpinan. (Sari 2. Kepemimpinan Berbasis Imtaq Kepemimpinan berbasis Imtaq . man dan taqw. merupakan pondasi utama dalam membangun jaringan pekerjaan . Perumpamaanbangunan dengan pondasi kokoh sebagai penentu kuatnya bangunannya. Jika bangunan tersebut tidak kokoh maka mudah runtuh. Manusia yang memegang iman dan taqwa dengan kokoh dan kuat tentu kehidupannya, pola piker dan sikapnya selalu lurus. Apabila manusia selalu belajar istiqomah akan menjadikan dirinya mennjadi karomah. Sebaliknya, jika manusia memiliki iman dan taqwa yang rapuh maka mudah dipengaruhi oleh bisikan syaithoniyahyang selalu menimbulkan keraguan dalam dirinya. (Rasim 2. Kepemimpinan Transaksional Pemimpin memberikan bimbingan bawahan mengajak melakukan tujuan yang telah ditetapkan bersama dan menjelaskan tupoksi yang yang diamanahkan. Kepemimpinan ini memfokuskan tugas pemimpin secara formil menjadi coordinator, controlling,dan evaluasi kinerja tim. Keunikan dalam kepemimpinan ini lebih menitikberatkan pada hasil kerja. (Quamila 2. Kepemimpinan Transformasional Kepemimpinan ini memiliki peran terpusat, memiliki taktik/strategi dan jiwa karismatik dalam menjalankan organisasi demi tujuan yang sudah disusun. Pemimpin ini memiliki potensi yang besar sehingga mampu menyelaraskan visi dan misi organisasi dengan anggota, serta mampu memingkatkan kesejahteraan bawahan lebih tinggi ketimbang dengan yang (Muchlisin Riadi 2. KepemimpinanOtokratik(Authoritaria. Pemimpin seperti ini selalu merasa lebih mengetahui apa yang menjadi keinginan bawahan dan selalu memberikan ekpresikan kebutuhan dalam bentuk perintah langsung. (Mukhlis 2. Kepememimpinan seperti ini memiliki gaya seperti . kekuasaan penuh ada di tangan pemimpin, keputusan diambil mutlak, bawahan yang melaksanakan perintah dan sedikit membuka komunikasi terbuka dengan bawahan. (Quipper Campus 2. Kepemimpinan Demokratis (Democrati. Kepemimpinan selalu mengikutsertakan anggota bawahan dalam memutuskan keputusan dan kebijakan. Type Pemimpin ini menjadikan semua anggota sebagai tim partner, menerima ide, saran dan kritikan dalam organisasinya. Memberikan tugas pokok dan fungsi . yang menjadi tanggung jawab (Amiruddin 2. Segala penetapan keputusan dan kebijakan dalam sebuah organisasi melewati musyawaroh dengan anggota sedangkan pemimpin memberikan dorongan dan motivasi. (Mukhlis 2. Pandangan mengenai teori, model semuanya tidak lepas dari tingkah laku seseorang dalam organisasi tersebut. Perilaku atau tindakan yang dimaksud adalah pimpinan dan anggota Kepemimpinan bukan hanya bagaimana cara berfikir, melakukan tindakan, mengungkapkan perasaan, menggunakan sikap dan menunjukkan perilaku etos kerja yang baik sekaligus mampu menggerakkan bawahannya. (Runtu and Waworuntu Pemimpin berkarakter kuat mememiliki ciri khas yang berkembang pada bagian teori kepemimpinan. Integritas seorang pemimpin menjadi ujung tombak keberhasilan dalam Seorang pemimpin pasti membutuhkan karakter Strong leadership, berintegritas dan memiliki jiwa solid. Langkah untuk menjadi kepemimpinan yang mudah dicapai maka harus memiliki strong leadership. Kepedulian seorang pemimpin, bisa merasakan kesulitan/penderitaan masyarakat yang menjadi tanggung jawabnya akan mempermudah baginya menjalankan tugas dan mencapai tujuannya. (Kariena Febriantin. IP. Tanggung jawab dari seorang pemimpin sangat berat, disamping mampu mengetahui kemampuan diri sendiri, dan siapa rakyat yang dipimpin. Pemimpin mampu memahami tugas pokok dan fungsinya sebagai pimpinan, mmengetahui kondisi dan situasi terbaru . , memiliki semangat tinggi, kooperatif, memberikan reward kepada anggota apabila memiliki etos kerja tinggi dan focus pada program yang telah ditetapkan. Permasalahan dan kesenjangan yang terjadi pada sebuah organisasi akan bisa terkontrol dengan baik oleh pemimpin. Apabila pemimpin bisa menempatkan dirinya sendiri pemimpin, dimanapun dan kapan saja. (Sari 2. Nurcholish Madjid berkomentar mengenai kataAu santriAy Au SastriAy bahasa sanskerta adalah melek huruf . embaca serta menuli. Au CantrikAy berarti orang yang senantiasa aktif mengikuti seluruh kegiatan, men- dampingi serta tinggal bersama Santri merupakan siswa ataupun mahasiswa yang terdidik, terpelajar, serta penggerak dan melanjutkan perjuangan ulama. Santri ialah gelar kemuliaan, kehormatan, kebanggaan karena orang mendapatkan gelar Santri bukan sebab selaku pelajar/ mahasiswa melainkan mempunyai akhlak ataupun budi pekerti yang tidak miliki orang awam pada biasanya. (Qosim 2020. Santri dipecah jadi 2, ialah: . Santri menetap, ialah murid/ santri yang berasal dari wilayah jauh serta menetap dalam kelompok pesantren. Santri tinggal ataupun menetap telah lama umumnya . bertanggungjawab menjaga, mengelola kepentingan pesantren. Santri Kalong merupakan santri berasal dari kampung disekitar pesantrren, mereka bukan tinggal ataupun tinggal di pesantren. Dalam proses aktivitas belajar umumnya mereka pulang- pergi . kerumah tiap- tiap. Proses belajar mengajar tidak ditentukan oleh lama ataupun tidaknya seseorang santri belajar serta mengaji kepada guru ataupun kyainya, karena tidak terdapat dimensi buat menemukan gelar ataupun sarjana. namun yang jadi tolak ukur merupakan tawaduAo kepada guru ataupun kiai serta mengaplikasikan ngelmu dari si kiai. (Qosim Elektebilitas Santri Menjadi Leader Idaman Keberadaan pesantren merupakan hasil produk budaya bangsa Indonesia, sebab pesantren memiliki sejarah, tradisi keagamaan, sosial dan budaya yang sudah kuat serta mengakar . Eksistensi keberadaan pesantren sampai saat ini merupakan sebuah anugrah yang luar biasa karena pesantren bergerak dinamis mengikuti perkembangan zaman dan selalu berusaha mempertahankan keberadaanya . urvival syste. Model pendidikan di pesantren adalah multi disiplin, multi aspek, dan lain-lain. Mereka yang menetap dan belajar . antri/muri. di pesantren bukan hanya di kepemimipinan. , latihan menjadi pemimpin. , kerarifan, hidup sederhana, istiqomah . , koperatif, dan berfikir Apa yang menjadi tujuan pesantren tersebut diatas merupakan modal besar yang nantinya akan menjadi tumpuan di masa depan. Maka, pesantren memberikan sumbangsih terhadap kemajuan pembangunan nasional dan mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang tertuang dalam UUD 11945. (Saihu 2. Elektabilitas santri menjadi seorang leader . sudah tidak AutabuAy lagi, sebab realita melihat dengan mata telanjang bahwa santri memiliki potensi yang signifikan. Berbicara santri identic dengan Aukaum sarungan/bersarungAy. Ciri khas seorang santri adalah mereka berkopyah dan bersarung. Siapapun berhak menjadi pemimpin bangsa termasuk santri mempunyai hak sama menjadi seorang pemimpin . Rata-rata yang menjadi pemimpin dari santri . aum sarunga. mulai dari jabatan pemerintah desa. Bupati dan partai politik, termasuk yang menjadi Wakil Presiden RI sekarang termasuk santri. Mengutip pendapat KH. Mutawakkil Alallah. SH. ,MM. selaku Ketua Yayasan Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo, sekaligus Ketua MUI Jawa Timur mengatakan : AuMenjadi Santri yang Intelektual dan Intelektual yang Santri. Berfikir Modernis dan Berhati SufistikAy(Qosim 2020. Intelektualitas, potensi, kearifan, kreativitas dan kebajikan seseorang bukan terhalangi olehAusarung/santriAytetapi bagaimana kita bijak mengemban amanah menjadi pemimpin yang baik, menempatkan posisi utama kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, melayani ummat tanpa memandang kasta, sosial dan budaya. Maka, kita akan menjadi pemimpin yang menjadi idaman Menjadi pemimpin harus mampu memberikan layanan terbaik kepada yang dipimpan, sekaligus mau menerima saran dan kritikan daripada masyarakat tersebut. Kesimpulan Pendidikan transformatif merupakan transmisi perubahan dalam pendidikan dari tardisional mengarah pada pendidikan Pendidikan dalam kehidupan manusia memiliki peran penting untuk menuju peradaban baru. Pendidikan seharusnya memiliki karakter fleksibel dan transformasi sehingga bisa beradaptasi dengan segala perubahan yang fluktuatif. Elektabilitas santri menjadi seorang leader . sudah tidak AutabuAy lagi, sebab realita melihat dengan mata telanjang bahwa santri memiliki potensi yang signifikan. Berbicara santri identic dengan Aukaum sarungan/bersarungAy. Ciri khas seorang santri adalah mereka berkopyah dan bersarung. Siapapun berhak menjadi pemimpin bangsa termasuk santri mempunyai hak sama menjadi seorang pemimpin . Daftar Pustaka