SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober. Hal. Pendampingan Program Inklusi Sosial pada Komunitas Perempuan Pembaca dalam Mewujudkan Kampung Tematik Hantaran Kota Surabaya Syafi'i1. Novia Adibatus Shofah2* 1Prodi Pendidikan Agama Islam. UIN Sunan Ampel. Surabaya. Indonesia 2Prodi Sastra Indonesia. UIN Sunan Ampel. Surabaya. Indonesia e-mail: syafii@uinsa. id1, nashofah@uinsa. Informasi Artikel Article History: Received : 9 Januari 2025 Revised : 22 April 2025 Accepted : 11 Juni 2025 Published : 27 Oktober 2025 *Korespondensi: nashofah@uinsa. Keywords: Asset-Based Community Development. Social Inclusion. Social Welfare Program. Women Reader Communities Hak Cipta A2025 pada Penulis. Dipublikasikan oleh Universitas Dinamika Artikel ini open access di bawah lisensi CC BY-SA. 37802/society. Abstract Social welfare program can be achieved through the development of empowered and inclusive communities. However, womenAos communities in Balongsari Subdistrict. SurabayaAiparticularly the Fatayat and Muslimat groupsAi face limitations in accessing literacy resources that support their social and economic empowerment. This study focuses on mentoring women reader communities through the Kampung Tematik Hantaran program as an effort to develop creative literacy and empower women. The program adopts the concept of a thematic village, focusing on hantaran . ift arrangements, commonly for wedding. as creative products with market potential. The approach used is Asset-Based Community Development (ABCD), which emphasizes the utilization of local assets as the foundation for community Community-based mentoring was conducted in RW 05 Balongsari, supported by the mobile literacy service LINKSMOKA. The results show increased skills in arranging hantaran, greater participation of women in local economic activities, and growing interest in reading as well as stronger social networks among community members. This mentoring initiative demonstrates that strengthening literacy and community-based creative economies can effectively promote sustainable social inclusion. Society : Journal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat 2745-4525 (Onlin. 2745-4568 (Prin. https://ejournals. id/index. php/society PENDAHULUAN Perempuan yang seringkali hanya fokus terhadap peran domestik membuat perempuan kurang memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan yang luas sehingga hal tersebut mempengaruhi tingkat pengetahuan, dan keterampilan serta berpotensi menghambat kemajuan sosial dan ekonomi masyarakat (Andika et al. , 2. Sekalipun perempuan memberikan kontribusi di wilayahnya, tetap masih menjadi misteri bahwa ada perbedaan yang membuat lawan gender lebih beruntung, sementara gender perempuan masih terbatas dalam peluang-peluang lainnya (Rakotoarison, 2. Melalui akses sumber daya literasi yang baik di lingkungan Balongsari, maka peran komunitas perempuan tidak hanya terbatas pada perihal domestik, namun juga berperan dalam DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober. Hal. peluang-peluang lain demi mewujudkan kesejahteraan sosial daerahnya. Untuk meningkatkan peran komunitas perempuan pembaca dalam kesejahteraan sosial dibutuhkan dukungan yang penuh dari pemerintah dan mitra lain. Salah satu strategi yang telah dilakukan Pemerintah Kota (Pemko. Surabaya dalam menghadapi tantangan terhadap kesenjangan sosial secara umum dengan menurunkan angka kemiskinan adalah dengan melahirkan Kampung Madani dan Kampung Pancasila (Manumoyoso, 2. Dalam beberapa tahun terakhir. Surabaya memiliki lebih dari 15 Kampung Madani dan 2 Kampung Pancasila sebagai langkah Pemkot dalam mewujudkan inklusi sosial di beberapa titik kelurahan di Surabaya sehingga dapat memperbaiki aspek perekonomian masyarakat (Intan, 2. Selain Pemerintah Kota, institusi atau lembaga pendidikan juga berperan sebagai mitra dalam membangun inklusi sosial melalui komunitas-komunitas Oleh sebab itu, rancangan program pendampingan yang efektif dari lembaga pendidikan diharapkan dapat menjadi strategi lanjutan dalam memperkuat inklusi sosial. Mengetahui fenomena-fenomena tersebut, maka UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai mitra turut serta dalam mendukung mewujudkan kesejahteraan sosial melalui kampung yang berdaya dengan melakukan pendampingan program inklusi sosial. UIN Sunan Ampel Surabaya melakukan pendampingan program inklusi sosial pada komunitas perempuan pembaca di Kelurahan Balongsari Kota Surabaya dengan mewujudkan Kampung Tematik. Hal tersebut dilandasi oleh beberapa program yang telah dilakukan oleh Pemkot Surabaya yaitu adanya Kampung Madani. Kampung Pancasila, atau Kampung Batik Okra di Kelurahan Bubutan yang dapat membangun kreatifitas para perempuan dan akhirnya mendongkrak perekonomian (Putih, 2. Merespon fenomena tersebut, maka UIN Sunan Ampel Surabaya fokus pada penanaman literasi kreatifitas merangkai hantaran dalam mewujudkan Kampung Tematik Hantaran bagi komunitas perempuan pembaca di Kelurahan Balongsari Kota Surabaya. Potensi di Kelurahan Balongsari adalah adanya komunitas perempuan pembaca yang aktif dalam ruang-ruang sosial seperti Fatayat dan Muslimat. Hal tersebut dapat menjadi sarana dalam mendongkrak perekonomian masyarakat dan menjadi solusi atas permasalahan sosial dan ekonomi. Tentu saja banyak tantangan yang mungkin saja dihadapi karena keberagaman dinamika sosial, ekonomi, dan budaya di Kelurahan Balongsari. Meskipun terdapat komunitas perempuan aktif seperti Fatayat NU dan Muslimat NU di RW 05 Balongsari dengan total sekitar 50 anggota, keterlibatan mereka masih belum optimal dalam konteks ekonomi kreatif dan literasi Oleh sebab itu dibutuhkan pemahaman yang mendalam terhadap kebutuhan dan harapan masyarakat setempat agar program inklusi sosial dalam mewujudkan Kampung Tematik Hantaran sesuai dengan konteksnya. Selain itu, dibutuhkan kerja sama antar berbagai pihak, yaitu pemerintah, swasta, lembaga non profit, pihak lokal, dan institusi pendidikan untuk memastikan ketersediaan sumber daya yang cukup. Menanggapi kondisi tersebut. UIN Sunan Ampel Surabaya menginisiasi program pendampingan inklusi sosial berbasis literasi kreatif dengan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD). Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan kapasitas komunitas perempuan pembaca dalam aspek literasi dan ekonomi kreatif, serta mewujudkan Kampung Tematik Hantaran sebagai model inklusi sosial berbasis komunitas. Program ini dilaksanakan melalui identifikasi potensi komunitas, pelatihan keterampilan merangkai hantaran, pemberdayaan melalui layanan literasi bergerak LINKSMOKA (Layanan Inklusi Sosial Mobil Pustak. , serta kolaborasi dengan berbagai pihak seperti pemerintah, institusi pendidikan, dan komunitas lokal. Keterlibatan berbagai pihak, terutama institusi pendidikan dalam hal ini adalah UIN Sunan Ampel Surabaya akan berpotensi menjadi mitra strategis dalam menyediakan fasilitas, layanan, pelatihan, dan pendidikan untuk memperkuat inklusi sosial pada komunitas perempuan pembaca di Kelurahan Balongsari. Oleh sebab itu pendampingan kepada masyarakat penting dilakukan DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober. Hal. institusi pendidikan sebagai pondasi literasi dan pendidikan masyarakat. Hal tersebut akhirnya menjadi sebuah urgensi karena berdampak langsung terhadap keberlanjutan dalam menghadapi tantangan sosial di Balongsari. Melalui penanaman literasi kreatifitas merangkai hantaran yang disediakan oleh perpustakaan keliling, komunitas perempuan pembaca dapat mengembangkan keterampilan, mendorong interaksi sosial, hingga menciptakan momen-momen pertukaran ide antar anggota komunitas. Sehingga pendampingan kepada masyarakat melalui program inklusi sosial yang dilakukan dapat memperkuat realisasi terwujudnya Kampung Tematik Hantaran pada komunitas perempuan pembaca di Kelurahan Balongsari Kota Surabaya yang menonjolkan pattern atau motif khas Balongsari dalam produk rangkaian Dengan demikian. Kampung Tematik Hantaran menjadi bentuk transformasi dan inovasi dalam strategi pemberdayaan masyarakat menuju kesejahteraan sosial yang METODE PELAKSANAAN Metodologi pengabdian kepada masyarakat (PkM) berbasis komunitas ini menggunakan adalah metode Asset Based Community Development (ABCD) yang fokus kepada potensi aset pada suatu kelompok masyarakat (Kretzmann & McKnight, 1. Cara kerja metode ABCD adalah dengan membalik paradigma yang semula berbasis masalah. ABCD melakukan pengabdian berbasis kekuatan dan potensi masyarakat (Afandi et al. Dalam praktiknya, tim pelaksana memulai kegiatan dengan mengidentifikasi potensi lokal yang dimiliki komunitas perempuan pembaca, seperti keterampilan merangkai hantaran dan jejaring sosial yang telah terbangun. Asset Based Community Development (ABCD) merupakan alternatif pendekatan yang berbasis dengan kebutuhan untuk pembangunan melalui partisipasi komunitas (Rakotoarison. Dietrich, & Hiilamo, 2019. Rusli et al. , 2. Pendekatan ABCD merupakan salah satu metode untuk melihat lebih dalam apa saja potensi dan aset yang dimilikinya dan membangun keadaan sosial serta ekonomi melalui berbagai macam program yang dapat memperkuat suatu komunitas (Coley. Howze, & McManamy, 2023. Rialny & Anugrahini. ABCD bertujuan untuk memberdayakan masyarakat atau komunitas lokal agar dapat mengontrol dan mengelola sumber daya mereka sendiri, sehingga mereka mampu memperjuangkan otonomi dan hak mereka dalam mengatasi berbagai masalah sosial dan ekonomi melalui perubahan dari dalam (Ward, 2. Melalui beberapa pengertian tersebut dapat diketahui ada beberapa kunci yang berhubungan dengan metode ABCD, yaitu kekuatan dan aset suatu komunitas, kemampuan komunitas untuk mengidentifikasi kebutuhan, partisipasi aktif komunitas, sense of belonging pada komunitas, dan kolaborasi antar anggota komunitas (Chupp. Hirsch, & Malone, 2023. Harrison. Blickem. Lamb. Kirk, & Vassilev, 2019. Omodan. Aset komunitas menjadi kunci utama dalam metode ABCD sehingga dalam sebuah penelitian haruslah menekankan kekuatan dan keterampilan aset sebagai pencipta pengetahuan, bukan sebagai subjek pasif dari sebuah penelitian (Chupp et al. , 2. Dalam implementasinya, kegiatan PkM ini melibatkan pemetaan aset komunitas melalui beberapa cara yaitu survei dan wawancara pada anggota komunitas perempuan. Tim PkM selanjutnya mengadakan diskusi kelompok terarah (FGD) degan tujuan untuk menggali lebih lanjut tentang kebutuhan dan aspirasi komunitas perempuan pembaca di Keluruhan Balongsari. Dalam konteks tersebut, kegiatan pelatihan kreatifitas merangkai hantaran dirancang berdasarkan hasil identifikasi aset dan kebutuhan yang ditemukan di awal. Proses fasilitasi tersebut didampingi oleh narasumber yang kompeten dan melibatkan anggota komunitas secara aktif dalam setiap tahap kegiatan. DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober. Hal. Ada beberapa langkah dalam melakukan penelitian dengan metide ABCD, meski tidak dilakukan secara berurutan karena setiap komunitas memiliki perbedaan pada potensi, aset, dan tantangan. Langkah umumnya adalah pada identifikasi lingkungan, kolaborator, identifikasi potensi, peta sumber daya komunitas, diskusi mendalam dengan kelompok masyarakat, merancang program yang tepat, memberdayakan sumber daya secara maksimal, dan berbagai pengalaman sukses untuk meningkatkan partisipasi secara lebih luas (Klee. Mordey. Phuare, & Russell, 2. Dalam kegiatan tersebut, tim PkM memulai dari pemetaan sosial dan observasi lapangan di RW 05 Balongsari, kemudian dilanjutkan dengan perencanaan bersama komunitas untuk menentukan bentuk kegiatan yang sesuai, seperti pelatihan kreatifitas, demo produk, dan pertemuan evaluatif berkala. Sementara itu, terdapat lima elemen ABCD menurut Mathie dan Cunningham yaitu pendekatan berbasis aset, perhatian khusus pada aset, pendekatan yang menggunakan hubungan sosial sebagai titik awal perubahan, berfokus pada pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, dan strategi pembangunan ekonomi berkelanjutan. Kelima elemen tersebut dijadikan acuan tim PkM dalam menyusun rangkaian kegiatan pengabdian yang tidak hanya berhenti pada pelatihan tetapi juga diarahkan pada keberlanjutan, seperti rencana pemasaran produk hasil pelatihan secara daring maupun luring. Dalam PkM tersebut, pengabdian dilakukan pada setiap analisis datanya dengan cara bersama-sama merefleksikan hasil dari kegiatan pengabdian, wawancara, diskusi, observasi, dan forum partisipatif. Dengan menggunakan teknik tersebut, tindakantindakan yang lebih relevan dapat dilakukan demi pengembangan suatu komunitas atau Refleksi juga dilakukan secara kolektif oleh tim PkM melalui dokumentasi harian kegiatan, notulensi diskusi, serta penyusunan laporan partisipatif yang ditulis bersama oleh tim pelaksana dan perwakilan komunitas. HASIL dan PEMBAHASAN LINKSMOKA: Pelatihan Merangkai Hantaran Pelatihan merangkai hantaran adalah sebuah kegiatan atau program yang bertujuan untuk melatih peserta dalam menyusun dan menghias hantaran. Hantaran sendiri biasanya digunakan sebagai seserahan pada acara-acara tertentu, seperti pernikahan, lamaran, atau tradisi budaya lainnya. Hantaran bisa berisi berbagai macam barang, kosmetik, perhiasan, hingga makanan, yang kemudian akan dihias seindah mungkin sehingga menjadi tampilan yang menarik dan penuh makna. Gambar 1. Pelatihan Hantaran Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan warga Kelurahan Balongsari dengan memberikan pengetahuan mengenai teknik dasar hingga lanjutan dalam menyusun hantaran secara kreatif dan profesional, selain itu juga membantu peserta pelatihan ini untuk mengeksplorasi kreativitas dalam merangkai isian hantaran yang DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober. Hal. memiliki makna simbolis disetiap pemilihannya. Pelatihan ini juga diharapkan bisa menjadi pembuka pintu usaha bagi warga sekitar yang ingin mengembangkan keterampilannya menjadi bisnis hantaran. Pelatihan ini dimulai dari mengajarkan teknik dasar menyusun hantaran, pemilihan tema dan konsep yang sesuai dengan acara, pemilihan bahan-bahan yang cocok menjadi hiasan, seperti bunga, pita, dan lain sebagainya, selain itu juga belajar memilih warna yang sesuai dan senada sehingga memenuhi unsur estetika dalam susunan hantaran. Gambar 2. Pelatihan Hantaran Selain itu juga program ini dilakukan untuk membantu pergerakan strategi Zero to Hero yang merupakan pendekatan untuk mengubah seseorang atau sebuah situasi dari keadaan awal yang minim ditemukan atau bahkan belum ada sama sekali menjadi sukses besar dalam waktu singkat. Strategi Zero to Hero ini sendiri biasanya diterapkan dalam berbagai konteks seperti pengembangan pribadi, bisnis, bahkan pendidikan. Strategi ini memiliki tujuan yang jelas mengenai terget-terget kesuksesan yang ingin dicapai. Strategi ini juga dibentuk untuk memecah tujuan besar menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah dicapai, sehingga lebih memungkinkan untuk mengalami kemajuan yang terus-menerus dan menjadi motivasi untuk melanjutkan proses kemajuan berikutnya. Selain itu strategi ini juga bisa membantu mengembangkan kemampuan beradaptasi dengan belajar dari kesalahan dan mengadopsi pendekatan yang lebih efektif seiring waktu. Dan semuanya ini bisa dicapai dengan adanya ketekunan, karena pada hakikatnya tidak ada kesuksesan yang datang secara instan. Lingkungan sekitar akan sangat mempengaruhi perjalanan menuju sukses, itu sebabnya mengapa kita harus mengelilingi diri dengan lingkungan yang positif. Bahkan sebenarnya strategi Zero to Hero tidak lagi menjadi tujuan utama dari program pelatihan merangkai hantaran kali ini, kelurahan Balongsari diharapkan bisa bergerak secara Empowerment to Excellence yang mana hal ini merupakan lanjutan dari strategi dasar Zero to Hero, dimana hal ini dimaksudkan untuk membangun inisiatif pemberdayaan masyarakat, melalui program peningkatan keterampilan dan kapasitas individu serta komunitas, yang diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat utamanya dikelurahan Balongsari. Program ini dilakukan setiap sebulan sekali dengan dua pertemuan, pertemuan yang pertama bertepatan pada hari Kamis, 29 Agustus 2024 yang dimulai dengan pengenalan teknik-teknik dasar dalam merangkai hantaran kemudian dilanjutkan pemantapan dalam merealisasikan teknik-teknik yang sudah dipelajari pada pertemuan sebelumnya dipertemuan kedua yang juga dilaksanakan pada hari Kamis, 26 September 2024. DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober. Hal. Gambar 3. Pelatihan Hantaran Hantaran yang dibuat dengan barang-barang yang beragam menjadi tempat yang tepat untuk mengekspolarasi kreatifitas ibu-ibu kelurahan Balongsari. Antusias mereka dalam menjalankan kegiatan tersebut juga sangat bisa dilihat, mulai dari kebersediaannya meluangkan waktu, hingga semangatnya memilih dan membawa bahan-bahan utama pembuatan hantaran dalam pelatihan ini. Panitia juga mendukung semangat mereka dengan menyediakan alat-alat yang dibutuhkan selama proses pengerjaan. Kreasi warga memang sudah tidak perlu diragukan, hal ini dibuktikan dengan ide-ide yang diluapkan oleh peserta pelatihan merangkai hantaran di kelurahan Balongsari ini, mereka membuat hantaran dengan bentuk yang beragam, mulai dari bunga, angsa, hingga Warna yang dipilih juga dinilai cukup lumayan pada pelatihan pertama dan dikembangkan pada pertemuan kedua. Program ini memiliki 2 program monev yang membidik prilaku ekonomi ibu-ibu, dan prilaku baca anak. Oleh sebab itu, peserta yang hadir pun merupakan ibu-ibu dan anak-anak warga kelurahan Balongsari setempat. Sehingga dapat disimpulkan dari semua progres dan tujuan yang telah ditetapkan bahwasanya program ini ditujukan untuk menciptakan masyarakat Balongsari yang mandiri, produktif dan dapat bersaing dalam berbagai bidang kehidupan, sehingga mampu mencapai AuexcellenceAy atau titik keunggulan yang telah ditargetkan dalam berbagai aspek kehidupan. Secara kuantitatif, pelatihan tersebut diikuti oleh 23 peserta tetap dari kalangan ibu rumah tangga. Sebanyak 78% peserta menunjukkan peningkatan keterampilan dalam aspek teknik dasar merangkai . ilihat dari penilaian instruktur sebelum dan sesudah Selain itu, 60% dari peserta menyatakan siap menjadikan keterampilan merangkai hantaran ini sebagai peluang usaha kecil yang dapat menambah pendapatan keluarga, berdasarkan hasil survei akhir kegiatan. Secara kualitatif, peningkatan paling nyata tampak pada kepercayaan diri peserta dalam menyampaikan ide, kemampuan bekerjasama, dan keberanian mereka dalam menampilkan hasil karya di hadapan publik. Wawancara singkat dengan beberapa peserta juga mengungkap bahwa pelatihan ini memberikan dampak psikologis positif, seperti rasa bangga atas hasil karya sendiri, peningkatan komunikasi antaranggota komunitas, serta munculnya gagasan untuk berjejaring dalam pengembangan produk hantaran. Program ini juga disandingkan dengan dua instrumen monitoring dan evaluasi . , yaitu perubahan perilaku ekonomi ibu-ibu dan kebiasaan membaca anak-anak yang turut dilibatkan dalam kegiatan ini. Kombinasi monev tersebut memperkaya pendekatan community empowerment yang tidak hanya fokus pada ekonomi tetapi juga membangun budaya literasi di tingkat keluarga. Dari keseluruhan capaian dan pengamatan, dapat disimpulkan bahwa pelatihan merangkai hantaran ini berhasil meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kelurahan DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober. Hal. Balongsari secara bertahap, baik dari aspek keterampilan praktis, kesiapan mental untuk berwirausaha, maupun dampak sosial yang positif dalam komunitas. Pelatihan Media Sosial Selain dibimbing untuk merangkai hantaran dengan bentuk-bentuk yang menarik, program ini juga menyediakan pendampingan lanjutan bagi warga Balongsari untuk memasarkan hasil kreasi hantaran mereka. Pelatihan ini dilaksanakan pada hari JumAoat, 20 September 2024. Hal ini sangat perlu dilakukan mengingat persaingan ekonomi yang semakin ketat di era digital ini, di mana semua pelaku ekonomi memasarkan produknya melalui media sosial yang lebih mudah dijangkau oleh konsumen (Debby et al. , 2. Gambar 4. Pelatihan Media Sosial Jual beli online juga menjadi pilihan utama bagi konsumen yang tidak ingin melakukan transaksi tatap muka seperti pada toko-toko yang dilakukan oleh orang-orang Mereka lebih banyak memilih untuk melakukan transaksi secara online yang dinilai lebih mudah dan cepat. Oleh sebab itu, sebagai pencipta barang atau produsen, kita juga harus memikirkan teknik pemasaran yang tepat untuk mengenalkan produk kita. Gambar 5. Pelatihan Media Sosial Pelatihan media sosial ini berfokus pada platform-platform yang biasa dilakukan untuk berjualan, pelatihan ini menyangkut mulai dari bagaimana memotret produk, memberi caption pada postingan sosial media, dan bagaimana teknik menarik perhatian konsumen dengan barang atau jasa yang ditawarkan. Selaku penjual online, penjual diharapkan tidak hanya bisa menyediakan barang jadi, tapi juga barang setengah jadi, bahkan barang mentah yang nantinya akan dirangkai atau dibentuk sesuai kemauan Ini merupakan salah satu teknik penjualan yang menarik dan cukup berpengaruh, karena beberapa orang tetap ingin membeli seserahan sesuai dengan selera estetikanya masing-masing. DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober. Hal. Secara kuantitatif, pelatihan ini diikuti oleh 18 peserta yang sebelumnya belum pernah menggunakan media sosial secara khusus untuk kegiatan bisnis. Setelah pelatihan, sebanyak 14 peserta . %) berhasil membuat akun media sosial bisnis . aik di Instagram. Facebook, atau status WhatsApp Busines. dan mulai mengunggah minimal satu konten produk hasil karyanya. Selain itu, 9 peserta . %) menyatakan telah melakukan interaksi dengan calon pembeli secara daring dalam waktu dua minggu setelah pelatihan Secara kualitatif, perubahan signifikan terlihat dari peningkatan pemahaman peserta terhadap branding produk, pentingnya visual yang menarik, dan kemampuan mengelola komunikasi dengan konsumen secara sopan dan responsif. Beberapa peserta juga menunjukkan inisiatif untuk belajar lebih lanjut mengenai fitur promosi berbayar dan kolaborasi dengan sesama pelaku UMKM di lingkungan sekitarnya. Wawancara singkat menunjukkan bahwa pelatihan ini memberikan dorongan kepercayaan diri dalam menghadapi era digital dan mendorong transformasi dari konsumen pasif menjadi produsen aktif yang terhubung dengan pasar yang lebih luas. Secara umum, pelatihan media sosial ini melengkapi pelatihan keterampilan merangkai hantaran secara menyeluruh, dari tahap produksi hingga pemasaran. Dengan keterampilan ganda ini, warga Balongsari tidak hanya mampu menciptakan produk yang menarik, tetapi juga mampu mempromosikan dan menjualnya secara mandiri. Hal ini menjadi langkah konkret menuju terciptanya masyarakat yang mandiri dan melek teknologi di era digital. Layanan Literasi: Minat Baca dan Mendongeng Layanan literasi memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk masyarakat yang lebih cerdas, mandiri, dan siap menghadapi tantangan global era saat ini yang terus Pendampingan layanan literasi di kelurahan Balongsari ini telah dilaksanakan di Balai RW 05. Di era digital yang semakin pesat ini, literasi tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga keterampilan dalam mengakses, memahami, dan memanfaatkan informasi dari berbagai sumber dengan bijak. Keterampilan literasi ini menjadi pondasi utama bagi individu untuk dapat beradaptasi dengan kemajuan teknologi, memahami isu-isu sosial dan politik, serta mengembangkan potensi diri. Pentingnya layanan literasi juga tidak bisa dipisahkan dari upaya menciptakan kesetaraan dalam akses pendidikan. Dengan layanan literasi yang efektif, terutama bagi kelompok yang kurang beruntung atau terpinggirkan, seperti anak-anak, perempuan, atau masyarakat lansia. Selain itu, layanan literasi yang terintegrasi dengan teknologi, seperti pelatihan literasi digital, juga mempersiapkan masyarakat untuk dapat berperan aktif dalam dunia yang semakin terhubung secara online. Dalam konteks ini, literasi menjadi jembatan untuk menjawab tantangan ekonomi, sosial, dan budaya yang dihadapi oleh masyarakat di era digital. Dengan literasi yang kuat, masyarakat dapat membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari, serta berkontribusi lebih besar dalam pembangunan sosial dan ekonomi. Layanan literasi seperti minat baca dan mendongeng yang dilakukan oleh komunitas perempuan pembaca di Kelurahan Balongsari menjadi sebuah upaya luar biasa dalam memberdayakan komunitas perempuan, terutama mereka yang telah pensiun dari pekerjaannya di sektor formal. Setelah pensiun banyak dari para perempuan yang memilih untuk tidak hanya menjadi ibu rumah tangga, tetapi juga aktif berperan dalam berbagai kegiatan komunitas di kelurahan Balongsari. Keaktifan ini mencerminkan semangat tinggi untuk terus produktif dan memberi kontribusi positif bagi lingkungan sekitar. Melalui kegiatan mendongeng dan minat baca, para perempuan ini tidak hanya mengisi waktu luang mereka dengan kegiatan yang bermanfaat, tetapi juga membantu DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober. Hal. menumbuhkan kecintaan terhadap literasi di kalangan masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda di Balongsari. Mereka tak hanya membentuk identitas sebagai ibu rumah tangga, tetapi juga sebagai individu yang berpengetahuan, berwawasan, dan berdaya di tengah masyarakat. Kegiatan mendongeng, misalnya, mengajarkan nilai-nilai penting dalam pendidikan karakter, serta memperkenalkan anak-anak pada dunia literasi sejak Komunitas perempuan pembaca ini merupakan contoh bagaimana perempuan di Balongsari mampu mengubah sisa-sisa kesibukan mereka menjadi kekuatan untuk mendorong perubahan sosial yang lebih baik. Dengan kesertaan aktif dalam mendukung literasi, mereka membantu membangun budaya membaca yang tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas dalam komunitas. Perbedaan peran dan tugas di dalam komunitas perempuan pembaca Kelurahan Balongsari dapat dilihat dari kontribusi masing-masing generasi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristiknya. Perempuan dari generasi Baby Boomers memegang peran yang sangat penting dalam manajemen kegiatan komunitas. Dengan pengalaman hidup yang kaya, mereka tidak hanya berfungsi sebagai mentor dan pembimbing bagi generasi setelahnya, tetapi juga sebagai penggerak utama yang memastikan berbagai aktivitas dalam komunitas tetap berjalan. Pengalaman mereka yang bertahun-tahun menjadi sumber pengetahuan yang tak ternilai, membantu membentuk arah komunitas dan mentransfer nilai-nilai penting kepada generasi penerus. Sementara itu, generasi Milenial dan Zilenial, yang tumbuh di era teknologi, turut memberikan dampak signifikan dalam perkembangan komunitas perempuan pembaca. Kedua generasi ini memiliki keterampilan tinggi dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, serta pemahaman mendalam tentang tren terbaru di dunia digital, seperti pemasaran digital, media sosial, dan platform online lainnya. Kemampuan ini membuka peluang baru bagi komunitas untuk berinovasi, memperkenalkan aktivitas mereka ke khalayak lebih luas, dan menjadi komunitas panutan bagi kelurahan lainnya. Selain itu, teknologi juga mempermudah akses informasi yang berguna, baik dalam hal referensi pembelajaran baru maupun strategi pemasaran yang efektif. Dengan adanya keberagaman generasi dalam komunitas perempuan pembaca ini, tercipta sebuah dinamika yang saling melengkapi. Setiap generasi membawa kekuatan dan keahliannya sendiri, yang memperkaya dan memperkuat eksistensi komunitas. Sebagai hasilnya, komunitas ini tidak hanya menjadi wadah bagi pembaca, tetapi juga pusat aktivitas yang dinamis dan saling menguntungkan bagi semua anggotanya. Harapannya, layanan literasi ini tidak hanya membuka ruang bagi perempuan paruh baya yang telah pensiun, tetapi juga dapat menyentuh seluruh generasi perempuan yang ada di Kelurahan Balongsari. RW 05. Dengan begitu, komunitas perempuan pembaca Balongsari dapat terus berkembang dan menciptakan ekosistem literasi yang inklusif, mendukung semua lapisan usia, serta menjadikan perempuan sebagai agen perubahan yang penuh inspirasi di tengah Pelaksanaan layanan literasi di Kelurahan Balongsari menunjukkan dampak yang cukup signifikan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara kuantitatif, kegiatan ini berhasil menghimpun sebanyak 20 perempuan yang tergabung dalam komunitas perempuan pembaca, terdiri atas delapan orang dari generasi Baby Boomers, enam orang dari generasi Milenial, dan enam orang dari generasi Zilenial. Selama masa pendampingan, telah diselenggarakan empat sesi kegiatan mendongeng dan minat baca yang masingmasing diikuti oleh rata-rata dua puluh lima anak usia sekolah dasar. Selain itu, komunitas ini juga berhasil membentuk akun media sosial resmi di Instagram dan Facebook untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan kegiatan literasi yang mereka lakukan secara Komunitas pun telah memiliki jadwal rutin dua mingguan untuk DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober. Hal. menyelenggarakan kegiatan literasi, dengan partisipasi aktif dari setidaknya lima belas anggota inti pada setiap pertemuan. Secara kualitatif, kegiatan ini mendorong peningkatan kepercayaan diri dan semangat berdaya di kalangan anggota komunitas, khususnya perempuan lansia. Para anggota dari generasi Baby Boomers menunjukkan kemampuan baru dalam mengoperasikan teknologi sederhana, seperti membuat konten dan mengelola grup WhatsApp komunitas. Di sisi lain, kolaborasi antargenerasi terbangun dengan baik, di mana generasi Milenial dan Zilenial berperan besar dalam mendukung aktivitas komunitas melalui pembuatan konten digital dan promosi media sosial (Sukmayadi & Asyahidda, 2. , sementara generasi tua menyumbangkan pengalaman serta cerita rakyat sebagai materi utama mendongeng. Anak-anak yang terlibat dalam kegiatan juga menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap buku dan dunia literasi, yang tampak dari antusiasme mereka dalam mendengarkan cerita dan keinginan meminjam buku untuk dibaca di rumah. Di luar itu, kegiatan ini juga memperkuat solidaritas dan kohesi sosial antarperempuan di Kelurahan Balongsari, yang menjadikan masa pensiun bukan sebagai masa pasif, melainkan masa produktif yang tetap mampu memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Balongsari: Kampung Tematik "Hantaran" Pelatihan Merangkai Kampung Tematik AuHantaranAy menjadi wadah untuk warga Kelurahan Balongsari terkhusus untuk perempuan. Mayoritas yang mengikuti kegiatan tersebut dari Ibu-Ibu rumah tangga, remaja/dewasa, dan pensiunan PNS (Pensiunan Warga Sipi. Komunitas fasilitas LINKSMOKA (Layanan Inklusi Sosial Mobil Pustak. Berdasarkan riset dan pengambilan data lapangan komunitas merangkai Kampung Tematik AuHantaranAy terwujud untuk pemberdayaan sumber daya manusia yang banyak dari kalangan warga kelurahan mayoritas penduduk kelurahan di Balongsari belum mempunyai wadah untuk menyalurkan bakat terutama komunitas untuk berbisnis. Kampung Tematik AuHantaranAy dibentuk untuk melatih kreatifitas, inovasi, perdangan menjual jasa dan barang-barang untuk hantaran pernikahan. Misalnya. Taman Baca Masyarakat (TBM) dibentuk untuk mendongkrak semangat belajar para remaja, karena mayoritas lebih dari lima puluh persen beranggotakan remaja. Warga Kelurahan Balongsari menginginkan generasi penerus mereka berwawasan yang luas. Taman Baca Masyarakat aktif mengikuti kegiatan pembelajaran dan pembekalan setiap hari, kecuali hari Minggu, setiap malam tempat ini ramai oleh anak-anak berbagai usia yang belajar dan mengaji. Sebagai antisipasi, pihak RW juga berkolaborasi dengan instansi pendidikan di lingkungan tersebut. Mengingat di lingkungan RW tersebut terdapat sekolah sederajat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). TK. SD. SMP, dan SMA. Masyarakat kelurahan Balongsari sadar akan kerugian yang didapatkan apabila penerus mereka anak-anak, remaja yang putus sekolah bisa mempengaruhi sebuah integritas kualifikasi kemajuan dan kejayaan suatu tempat. Warga bersama seluruh lembaga pendidikan di kawasan ini memastikan tidak boleh ada kasus putus sekolah. Selain mendapatkan predikat terbaik pada kategori Kampung Asuh, warga RW 5 turut menjuarai kategori Kampung Aman dan Kampung Kreatif. Selain itu juga berpartisipasi pada kegiatan sosial dan berhasil meraih juara di 5 Puncaknya adalah Balongsari mendapat penghargaan Best of The Best pada Awarding KAS-RPA tahun 2024. DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober. Hal. Gambar 6. Momen Diskusi Terarah (FGD) Secara kuantitatif, diskusi FGD ini berhasil menjaring partisipasi aktif dari 35 peserta tetap yang terdiri dari ibu rumah tangga, gadis muda, dan pensiunan PNS, serta didukung pula oleh bapak-bapak dan remaja dalam beberapa sesi pelatihan. Kegiatan dilaksanakan secara rutin empat kali dalam seminggu sejak Agustus hingga November, menghasilkan lebih dari 40 produk hantaran yang siap jual dengan berbagai varian dan model, termasuk buket jajan, perlengkapan mandi, mukena, hingga souvenir flanel. Selain itu, lima peserta telah berhasil memasarkan produknya secara mandiri melalui media sosial dan marketplace lokal, serta tiga di antaranya sudah menerima pesanan secara reguler. Secara kualitatif, pelatihan ini membawa perubahan positif pada cara pandang warga terhadap potensi ekonomi kreatif lokal. Warga, khususnya perempuan, menunjukkan peningkatan keterampilan dalam hal kreativitas, inovasi produk, dan pemahaman dasar tentang pemasaran digital. Perempuan yang sebelumnya hanya beraktivitas di ranah domestik kini memiliki rasa percaya diri untuk berkarya, berwirausaha, dan tampil dalam ruang-ruang publik komunitas. Adanya kolaborasi lintas usia dan peran juga memperkuat rasa solidaritas sosial, serta membentuk identitas kolektif sebagai warga kelurahan yang produktif dan berdaya. Bahkan, semangat kewirausahaan yang tumbuh dari pelatihan ini mendorong warga untuk membentuk kelompok usaha bersama (KUB) yang dikelola secara gotong royong. Dengan terbentuknya KUB dan meningkatnya permintaan produk, peluang terbukanya lapangan kerja baru di sektor informal pun semakin terbuka. Hasil ini menunjukkan bahwa pelatihan tidak hanya berdampak pada peningkatan ekonomi rumah tangga, tetapi juga memperkuat kapasitas sosial dan struktur ekonomi komunitas secara Perilaku Ekonomi Komunitas Perempuan Pembaca Pelatihan media sosial untuk mempromosikan hasil produk homemade Kampung Tematik AuHantaranAy diberlakukan sebanyak dua kali seminggu dengan tujuan memperluas pasar pembeli. Masyarakat Kelurahan Balongsari membentuk tim khusus untuk marketing Tim tersebut mempunyai tugas memasarkan produk mereka melalui media sosial melalui website, aplikasi jasa antar seperti Instagram. Selain media sosial mereka juga memasarkan lewat marketplace. DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober. Hal. Gambar 7. Pelatihan Media Sosial Pesatnya dunia perkembangan teknologi, dunia internet juga memberikan dampak positif pada dunia pemasaran ekonomi. Startegi marketing ini memiliki potensial untuk memperoleh informasi barang yang dibutuhkan dan bertransaksi melalui internet (Utami &Marzuko, 2. Metode ini mampu mencapai konsumen secara pribadi, relevan dan tepat sesuai keinginan. Rekomendasi pada progres pelatihan berikutnya dengan membuat video dan trik untuk mengambil foto produk yang menarik. Promosi menggunakan media sosial memberikan perubahan dari segi ekonomi keluarga maupun masyarakat Kelurahan Balongsari. Melalui media sosial dan marketplace hasil dari Pelatihan Kampung Tematik AuHantaranAy banyak yang sudah dipasarkan dan sudah dikenal oleh banyak warga kota Sidoarjo. Surabaya, dll. Secara kuantitatif, setelah mengikuti pelatihan selama dua bulan, sebanyak 12 anggota komunitas perempuan telah berhasil membuat akun bisnis secara aktif dan memasarkan produknya secara mandiri. Dari data transaksi sederhana yang dicatat oleh tim manajemen komunitas, tercatat rata-rata peningkatan pendapatan rumah tangga sebesar 30Ae50% dalam satu bulan. Contohnya, dalam satu event pernikahan, pemesanan 100 souvenir handuk seharga Rp25. 000 per unit mampu menghasilkan Rp2. Jika dalam seminggu terdapat tiga event serupa, maka penghasilan mingguan dapat mencapai Rp7. 000, yang secara signifikan menyamai bahkan melampaui pendapatan rata-rata gaji pokok PNS golongan awal. Secara kualitatif, pelatihan ini turut meningkatkan literasi digital dan kepercayaan diri para perempuan dalam memasarkan produk secara profesional. Sebelum pelatihan, sebagian besar peserta belum memahami cara membuat konten visual menarik atau menggunakan strategi digital marketing secara efektif. Namun kini, para peserta tidak hanya mampu memotret produk secara estetik dan membuat video promosi, tetapi juga mampu mengelola interaksi pelanggan secara daring. Perubahan sikap dan peningkatan keterampilan ini memperlihatkan transformasi peran perempuan dari konsumen menjadi produsen aktif yang melek digital. Program ini juga mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif akan pentingnya ekonomi berbasis komunitas, sekaligus membuka wawasan warga tentang potensi wisata ekonomi kreatif yang bisa dikembangkan secara berkelanjutan. Keberhasilan ini memperlihatkan bahwa dengan pelatihan yang terarah dan pendampingan yang konsisten, komunitas perempuan dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal sekaligus aktor utama dalam pembangunan berbasis aset masyarakat. Rekognisi Balongsari Level Regional dan Nasional Rekognisi Kelurahan Balongsari. Kota Surabaya, baik di level regional maupun nasional, semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu model pengembangan DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober. Hal. komunitas yang sukses salah satunya pemberdayaan komunitas perempuan pembaca. Prestasi ini tidak lepas dari berbagai program pemberdayaan masyarakat yang berhasil dilaksanakan, terutama dalam meningkatkan kualitas hidup warga melalui berbagai inisiatif kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya hingga kegiatan keagamaan dengan didukung komunitas penggerak lainnya seperti Muslimat. PKK dan Fatayat. Di level regional. Kelurahan Balongsari mendapat pengakuan atas keberhasilannya dalam menciptakan lingkungan yang inklusif di mana masyarakat terutama perempuan diberdayakan melalui program pelatihan seperti pelatihan media sosial, pelatihan literasi membaca mendongeng dan pengembangan keterampilan seperti keterampilan dalam menghias seserahan. Sementara itu, di tingkat nasional, berbagai prestasi yang diraih adalah seperti inovasi dalam pemberdayaan ekonomi kreatif dan literasi, semakin memperlihatkan komitmen Kelurahan Balongsari dalam meningkatkan kesejahteraan warganya. Rekognisi ini tidak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi juga memberikan inspirasi bagi daerah lain untuk mengembangkan program-program serupa yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. Secara kualitatif, pelatihan ini mendorong peningkatan kepercayaan diri, literasi digital, serta keterlibatan perempuan dalam kegiatan wirausaha dan promosi produk lokal. Di tingkat nasional, berbagai penghargaan dan pengakuan diterima Kelurahan Balongsari sebagai bentuk apresiasi atas inovasi dalam pemberdayaan ekonomi kreatif dan literasi Hasil dari pelatihan Kampung Tematik "Hantaran" telah melahirkan berbagai produk unggulan seperti hiasan hantaran, souvenir pernikahan, dan buket jajanan, yang kini dipasarkan secara daring melalui media sosial dan berbagai marketplace seperti Shopee dan Tokopedia. Produk-produk ini tidak hanya dikenal di wilayah Surabaya, tetapi juga menjangkau konsumen di Sidoarjo dan daerah sekitarnya. Dengan demikian, rekognisi terhadap Kelurahan Balongsari tidak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi juga menjadi inspirasi bagi daerah lain. Model pemberdayaan yang diterapkan mampu menunjukkan keberhasilan yang nyata dan terukur, baik dalam aspek peningkatan kapasitas individu maupun dampak ekonomi secara kolektif. Strategi ini layak dijadikan contoh dalam mengembangkan program serupa yang menekankan pada keberlanjutan dan kemandirian komunitas. KESIMPULAN Program pendampingan inklusif sosial yang diterapkan pada komunitas perempuan pembaca di Kelurahan Balongsari memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan keterampilan dan kemandirian perempuan melalui pelatihan kreasi hantaran serta pemanfaatan media sosial. Pelatihan yang dilakukan dalam beberapa pertemuan ini tidak hanya meningkatkan kreativitas komunitas perempuan pembaca dalam menciptakan peluang kerja di bidang ekonomi kreatif, khususnya dalam pembuatan dan penjualan produk hantaran, tetapi juga mengembangkan kemampuan mereka dalam menggunakan teknologi digital untuk pemasaran. Secara keseluruhan, program ini berhasil menjadi sumber daya baru yang mendorong anggota komunitas untuk lebih berdaya, baik secara ekonomi maupun dalam meningkatkan partisipasi aktif mereka dalam pengembangan sosial dan budaya di lingkungan sekitar. Selain itu, program ini juga berpotensi menjadi jembatan menuju terwujudnya kampung tematik sesuai dengan harapan. DAFTAR PUSTAKA