E-ISSN 2776-7752 P-ISSN 2775-197X Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. September 2025 - Februari 2026 Pendampingan Pembuatan Pencatatan Meningkatkan Kinerja UMKM Takao Takoyaki Keuangan Zesika Wulan Romadani 1*. Suryani Yuli Astuti 2. Devi Febrianti3 1,2,3 Program Studi Akuntansi. Universitas Muhammadiyah Lamongan. Indonesia Abstrak Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia, namun dalam praktiknya masih banyak UMKM yang menghadapi kendala dalam pengelolaan usaha, khususnya pada aspek pencatatan keuangan. UMKM Takao Takoyaki merupakan salah satu usaha kuliner skala mikro yang masih melakukan pencatatan keuangan secara manual dan belum terstruktur, sehingga menyulitkan pemilik usaha dalam memantau kondisi keuangan dan mengevaluasi kinerja usaha. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pendampingan dalam pembuatan pencatatan keuangan berbasis spreadsheet serta penyusunan flowchart proses usaha sebagai upaya meningkatkan kinerja UMKM. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi wawancara, observasi, dan pendampingan langsung kepada pemilik UMKM. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa UMKM Takao Takoyaki telah memiliki sistem pencatatan keuangan yang lebih rapi, sistematis, dan mudah digunakan, serta flowchart proses usaha yang dapat menjadi pedoman operasional. Dengan adanya sistem pencatatan keuangan dan alur proses usaha yang jelas, pemilik UMKM diharapkan mampu memahami kondisi keuangan usaha secara lebih akurat dan mendukung pengambilan keputusan usaha yang lebih baik. Kata Kunci: Flowchart. Pencatatan keuangan. Pengabdian Masyarakat. Spreadsheet. UMKM. Korespondensi: Zesika Wulan Romadani . esikawulanromadani@gmail. Submit: 12-09-2025 Revisi: 21-11-2025 Diterima: 08-12-2025 Terbit: 30-12-2025 Abstract Micro. Small, and Medium Enterprises (MSME. play an important role in IndonesiaAos economy. however, many MSMEs still face challenges in business management, particularly in financial record-keeping. Takao Takoyaki MSME is a small-scale culinary business that still applies manual and unstructured financial records, making it difficult for the owner to monitor financial conditions and evaluate business performance. This community service activity aims to provide assistance in developing spreadsheet-based financial records and preparing a business process flowchart to improve MSME performance. The methods used include interviews, observation, and direct assistance to the business owner. The results show that Takao Takoyaki MSME has obtained a more organized, systematic, and easy-to-use financial recording system, as well as a process flowchart that serves as an operational guideline. With the implementation of structured financial records and a clear business process flow, the MSME owner is expected to better understand the financial condition of the business and support more informed business decision-making. Keywords: Flowchart. Financial recording. Community service. Spreadsheet. MSMEs. Pendahuluan Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu sektor strategis yang memiliki peran dominan dalam perekonomian Indonesia, baik dari sisi jumlah unit usaha, penyerapan tenaga kerja, maupun kontribusinya terhadap pendapatan nasional. Keberadaan UMKM tidak hanya menjadi penggerak ekonomi lokal, tetapi juga berfungsi sebagai penopang stabilitas ekonomi masyarakat, terutama pada sektor informal dan usaha berbasis rumah tangga. Namun demikian, keberlanjutan UMKM tidak hanya ditentukan oleh kemampuan produksi dan pemasaran, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh kualitas pengelolaan keuangan Pengelolaan keuangan yang lemah, khususnya pencatatan transaksi yang tidak tertib, sering menjadi penyebab utama UMKM sulit berkembang dan tidak mampu mengevaluasi kinerja usahanya secara objektif (Azmiyati et al. , 2. Pencatatan keuangan merupakan fondasi penting dalam manajemen usaha karena berfungsi sebagai sumber informasi utama untuk memantau arus kas, menghitung laba rugi, serta menjadi dasar pengambilan keputusan bisnis (Assor & Rusdianti, 2. Pelaporan keuangan dapat menjadi sarana keterbukaan informasi bagi UMKM terutama UMKM penerima dana bantuan dari pemerintah atau pihak independen lainnya (Damayanti & Rompis. , 2. Banyak UMKM masih melakukan pencatatan keuangan secara manual menggunakan buku tulis tanpa format baku, sehingga data transaksi tidak terdokumentasi dengan baik, rawan hilang, dan sulit ditelusuri kembali. Kondisi tersebut menyebabkan pelaku UMKM kesulitan menyusun laporan keuangan sederhana dan mengevaluasi perkembangan usaha secara periodik (Rahmawati et al. , 2. Usaha yang tidak mempunyai pembukuan dengan jelas, pinjaman dari bank akan sulit untuk didapatkan. Hal ini terjadi karena usaha tersebut tidak bisa memberikan bagaimana keuangan dalam usaha yang Jadi, pihak bank tidak dapat menilai bagaimana kinerja usaha tersebut (Rayyani et al. , 2. Selain itu pihak pemberi pinjaman modal seperti bank akan menghindari usaha yang tidak mampu memberikan informasi bagaimana kinerja usaha. Melalui pembukuan keuangan yang baik dan dapat dibaca, bank dapat menilai prospek usaha ke depannya (Priharto, 2. Penelitian Azmiyati et al. menegaskan bahwa penggunaan spreadsheet seperti Microsoft Excel sebagai alat pencatatan keuangan sederhana mampu membantu UMKM menyusun laporan keuangan secara lebih rapi, sistematis, dan akurat. Sistem berbasis Excel dinilai efektif karena mudah dioperasikan, fleksibel, serta mampu meminimalkan kesalahan perhitungan yang sering terjadi pada pencatatan manual (Aulya & Rahmawati, 2. Selain itu, digitalisasi pencatatan keuangan juga terbukti meningkatkan efisiensi dan kualitas informasi keuangan UMKM. Krisdiyawati dan Maulidah . menjelaskan bahwa penerapan pencatatan keuangan digital pada UMKM dapat mempercepat proses rekapitulasi data, meningkatkan akurasi pencatatan, serta memudahkan penyimpanan arsip transaksi. UMKM yang masih mengandalkan pencatatan manual cenderung mengalami kesulitan dalam memisahkan antara pemasukan dan pengeluaran, menghitung laba rugi secara berkala, serta melakukan evaluasi usaha ketika terjadi fluktuasi penjualan. Oleh karena itu, diperlukan solusi pencatatan keuangan yang sederhana namun aplikatif agar dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh pelaku UMKM. Gambar 1. Tampilan Akun Media Sosial Instagram UMKM Takao Takoyaki Sumber: Instagram @takoyaki_takao . UMKM Takao Takoyaki yang berlokasi di Kabupaten Lamongan merupakan usaha kuliner skala mikro yang memiliki potensi pertumbuhan cukup besar, namun masih menghadapi kendala dalam pengelolaan keuangan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara awal, pencatatan keuangan UMKM ini masih dilakukan secara manual dan belum terstruktur, sehingga belum mampu menyajikan informasi arus kas dan laba rugi secara Selain permasalahan pencatatan keuangan. UMKM Takao Takoyaki juga belum memiliki dokumentasi alur proses usaha dalam bentuk flowchart, sehingga kegiatan operasional masih berjalan berdasarkan kebiasaan tanpa panduan tertulis yang sistematis. Kondisi ini berpotensi menimbulkan ketidakteraturan dalam pencatatan transaksi dan menyulitkan pemilik usaha dalam melakukan pengendalian operasional (Hadayanti. Berdasarkan permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menawarkan solusi berupa pendampingan pembuatan sistem pencatatan keuangan berbasis spreadsheet serta penyusunan flowchart proses usaha. Pendampingan dilakukan melalui observasi, wawancara, perancangan format pencatatan, serta pelatihan langsung penggunaan spreadsheet agar pemilik usaha mampu mencatat transaksi harian, melakukan rekapitulasi, dan memahami kondisi keuangan usaha secara mandiri (Zuniarti et al. , 2. Pelatihan penggunaan Microsoft Excel pada UMKM terbukti mampu meningkatkan keterampilan pencatatan keuangan secara signifikan dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data (Yuanita et al. , 2. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah membantu UMKM Takao Takoyaki memiliki sistem pencatatan keuangan yang lebih rapi, terstruktur, dan mudah digunakan, serta memiliki flowchart proses usaha sebagai pedoman operasional. Manfaat yang diharapkan dari kegiatan ini adalah meningkatnya kemampuan UMKM dalam memonitor arus kas, mengevaluasi kinerja usaha, dan mengambil keputusan bisnis secara lebih tepat berdasarkan data keuangan yang valid. Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi sarana penerapan ilmu akuntansi dalam konteks nyata sekaligus melatih kemampuan analisis dan pemecahan masalah pada UMKM, sedangkan bagi mitra UMKM, pendampingan ini diharapkan mampu mendukung keberlanjutan dan peningkatan kinerja usaha secara berkelanjutan. Metode Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan pendampingan . ommunity-based assistanc. yang berfokus pada peningkatan kapasitas mitra dalam pengelolaan keuangan usaha. Ruang lingkup kegiatan meliputi identifikasi kondisi awal UMKM, perancangan solusi pencatatan keuangan sederhana, pelatihan penggunaan alat bantu pencatatan, serta evaluasi penerapan sistem yang telah diberikan. Objek kegiatan pengabdian adalah Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) Takao Takoyaki yang bergerak di bidang kuliner modern dengan produk utama takoyaki. Pemilihan objek pengabdian didasarkan pada kebutuhan riil mitra terhadap sistem pencatatan keuangan yang lebih terstruktur serta kesesuaian dengan tujuan kegiatan pengabdian, yaitu penguatan manajemen keuangan UMKM melalui pemanfaatan teknologi sederhana berbasis spreadsheet. Kegiatan pengabdian dilaksanakan di lokasi usaha UMKM Takao Takoyaki yang beralamat di Jl. Basuki Rahmat No. Tumenggungan. Kecamatan Lamongan. Kabupaten Lamongan. Lokasi ini dipilih karena merupakan tempat operasional utama usaha sehingga memudahkan proses observasi langsung terhadap aktivitas produksi, penjualan, dan pencatatan transaksi. Selain itu, pelaksanaan pendampingan di lokasi usaha memungkinkan mitra untuk langsung mempraktikkan sistem pencatatan keuangan yang diberikan sesuai dengan kondisi nyata operasional usaha. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian dilakukan melalui beberapa tahapan yang saling Tahap awal adalah pencarian dan penetapan mitra, yang dilakukan berdasarkan daftar UMKM binaan yang telah disediakan oleh Universitas Muhammadiyah Lamongan. Mitra dipilih dengan kriteria telah beroperasi minimal dua tahun, memiliki legalitas usaha, serta menunjukkan permasalahan pada aspek pencatatan keuangan. Setelah mitra ditetapkan, tahap selanjutnya adalah identifikasi permasalahan melalui wawancara dan observasi langsung kepada pemilik usaha. Wawancara dilakukan untuk menggali informasi mengenai pola pencatatan keuangan, alur transaksi harian, serta kendala yang dihadapi dalam pengelolaan Observasi dilakukan untuk memahami proses operasional usaha dan kebiasaan pencatatan transaksi yang selama ini diterapkan. Pendekatan ini sejalan dengan metode pendampingan UMKM yang menekankan pentingnya pemahaman kondisi awal mitra sebelum perancangan solusi (Tasik et al. , 2. Berdasarkan hasil identifikasi permasalahan, tim pengabdian merancang solusi berupa sistem pencatatan keuangan berbasis spreadsheet yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan mitra. Format spreadsheet dirancang sederhana namun fungsional, mencakup pencatatan pemasukan, pengeluaran, serta rekapitulasi laba rugi secara otomatis. Penggunaan spreadsheet dipilih karena relatif mudah dioperasikan, fleksibel, dan efektif untuk membantu UMKM menyusun laporan keuangan sederhana dibandingkan pencatatan manual (Azmiyati et al. , 2. Selain itu, tim juga menyusun flowchart proses usaha yang menggambarkan alur kegiatan operasional mulai dari penerimaan pesanan, proses produksi, hingga penyelesaian transaksi. Penyusunan flowchart bertujuan untuk membantu mitra memahami alur kerja secara sistematis dan menjadikannya sebagai pedoman operasional usaha (Hadayanti, 2. Tahap berikutnya adalah pelaksanaan pendampingan dan pelatihan penggunaan sistem pencatatan Pendampingan dilakukan secara langsung dengan memberikan penjelasan mengenai fungsi setiap bagian spreadsheet, cara menginput transaksi harian, serta cara membaca hasil rekapitulasi keuangan. Metode ini memungkinkan mitra tidak hanya menerima alat bantu, tetapi juga memahami dan mampu menggunakannya secara mandiri. Metode pelatihan berbasis praktik terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan pencatatan keuangan UMKM berbasis Microsoft Excel (Yuanita et al. , 2. Pengumpulan data dalam kegiatan ini dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi (Sopanah et al. , 2. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan membandingkan kondisi pencatatan keuangan sebelum dan sesudah pendampingan. Analisis ini bertujuan untuk melihat perubahan pemahaman dan kemampuan mitra dalam mencatat transaksi serta memanfaatkan informasi keuangan untuk evaluasi usaha. Seluruh rangkaian kegiatan kemudian didokumentasikan dan disusun dalam laporan pengabdian sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik serta referensi bagi kegiatan pendampingan UMKM selanjutnya. Hasil dan Pembahasan Hasil Kegiatan pendampingan yang dilaksanakan pada UMKM Takao Takoyaki menghasilkan sejumlah temuan empiris yang berkaitan dengan kondisi usaha, sistem pencatatan keuangan, serta alur proses operasional mitra. UMKM Takao Takoyaki merupakan usaha kuliner skala mikro yang telah beroperasi sejak tahun 2020 dan bergerak dalam produksi serta penjualan takoyaki sebagai jajanan modern. Usaha ini melayani penjualan langsung di lokasi serta pemesanan dari konsumen sekitar. Dalam aspek legalitas, mitra telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), yang menunjukkan bahwa usaha telah terdaftar secara resmi dan memiliki dasar administratif untuk menjalankan kegiatan usaha secara berkelanjutan. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa aktivitas operasional usaha berjalan cukup stabil, baik dari sisi produksi maupun pemasaran. Mitra menjaga kualitas produk dengan menggunakan bahan baku yang konsisten dan menerapkan proses produksi secara fresh tanpa bahan pengawet. Dalam aspek pemasaran, mitra telah memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi untuk menjangkau konsumen yang lebih luas (Wardan. Namun, di balik kestabilan operasional tersebut, ditemukan kelemahan utama pada aspek manajemen keuangan dan dokumentasi proses usaha. Temuan utama pada tahap awal pendampingan menunjukkan bahwa pencatatan keuangan masih dilakukan secara manual menggunakan buku tulis tanpa format baku. Transaksi dicatat secara sederhana dan tidak konsisten, tanpa pemisahan yang jelas antara pemasukan dan pengeluaran. Selain itu, tidak terdapat rekapitulasi keuangan yang dilakukan secara berkala, baik harian, mingguan, maupun bulanan. Kondisi ini menyebabkan informasi keuangan yang dihasilkan belum mampu memberikan gambaran yang akurat mengenai kondisi usaha, khususnya terkait arus kas dan estimasi keuntungan. Pemilik usaha juga mengalami kesulitan ketika ingin menelusuri kembali transaksi yang telah terjadi, sehingga evaluasi kinerja usaha belum dapat dilakukan secara optimal. Selain permasalahan pencatatan keuangan, hasil observasi juga menunjukkan bahwa mitra belum memiliki dokumentasi alur proses usaha dalam bentuk panduan visual. Seluruh kegiatan operasional, mulai dari penerimaan pesanan, proses produksi, hingga penyelesaian transaksi, masih dijalankan berdasarkan kebiasaan sehari-hari. Ketiadaan dokumentasi alur kerja ini berpotensi menimbulkan ketidakteraturan, terutama ketika volume pesanan meningkat atau ketika pemilik harus berkoordinasi dengan karyawan dalam proses Sebagai tindak lanjut dari temuan tersebut, kegiatan pendampingan menghasilkan luaran berupa sistem pencatatan keuangan berbasis spreadsheet yang dirancang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mitra. Sistem ini mencakup pencatatan pemasukan, pencatatan pengeluaran, serta rekapitulasi sederhana yang dapat memberikan gambaran kondisi keuangan usaha. Melalui pelatihan dan pendampingan langsung, pemilik UMKM mampu memahami cara menginput transaksi dan membaca hasil rekapitulasi yang dihasilkan sistem. Selain itu, pendampingan juga menghasilkan penyusunan flowchart proses usaha yang menggambarkan alur operasional penjualan takoyaki secara runtut, mulai dari pemesanan hingga transaksi selesai. Secara keseluruhan, hasil kegiatan menunjukkan adanya perubahan dari kondisi awal yang belum terstruktur menuju sistem pengelolaan keuangan dan operasional yang lebih tertata. Mitra telah memiliki alat bantu pencatatan yang lebih rapi dan mudah digunakan, serta panduan alur kerja yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan operasional sehari-hari. Pembahasan Hasil pendampingan menunjukkan bahwa permasalahan utama UMKM Takao Takoyaki tidak terletak pada aspek produksi maupun pemasaran, melainkan pada lemahnya sistem pencatatan keuangan dan ketiadaan dokumentasi proses usaha. Pencatatan manual yang tidak terstruktur menyebabkan informasi keuangan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai dasar evaluasi dan pengambilan keputusan. Kondisi ini sejalan dengan temuan Azmiyati et al. yang menyatakan bahwa sebagian besar UMKM mengalami kendala dalam pengelolaan keuangan akibat pencatatan yang tidak sistematis, sehingga berdampak pada rendahnya kualitas informasi keuangan yang dihasilkan. Penerapan sistem pencatatan keuangan berbasis spreadsheet pada kegiatan ini menunjukkan bahwa solusi sederhana dan mudah diakses dapat memberikan dampak yang signifikan bagi UMKM. Spreadsheet memungkinkan pencatatan transaksi dilakukan secara lebih rapi, konsisten, dan terstruktur, serta membantu pelaku usaha memisahkan antara pemasukan dan pengeluaran. Temuan ini mendukung hasil penelitian Krisdiyawati dan Maulidah . yang menegaskan bahwa digitalisasi pencatatan keuangan pada UMKM dapat meningkatkan efisiensi pencatatan, mempermudah rekapitulasi data, serta memperbaiki kualitas arsip Gambar 2. Pencatatan Keuangan Berbasis Spreadsheet Sumber: Dokumentasi Penulis . Selain meningkatkan keteraturan pencatatan, penggunaan spreadsheet juga berperan dalam membangun kesadaran pelaku usaha terhadap pentingnya evaluasi keuangan. Ketika data transaksi tersaji secara lebih sistematis, pelaku UMKM mulai mampu memahami pola pemasukan dan pengeluaran usaha. Hal ini menjadi langkah awal dalam membangun pengambilan keputusan berbasis data, yang sangat penting bagi keberlanjutan usaha skala mikro. Temuan ini sejalan dengan penelitian Yuanita et al. yang menyatakan bahwa pelatihan penggunaan Microsoft Excel mampu meningkatkan keterampilan pencatatan keuangan UMKM dan membantu pelaku usaha dalam memahami kondisi keuangan usahanya. Selain aspek keuangan, penyusunan flowchart proses usaha juga memberikan kontribusi penting dalam meningkatkan keteraturan operasional. Flowchart berfungsi sebagai representasi visual yang menggambarkan urutan kegiatan operasional secara sistematis. Dengan adanya flowchart, pelaku usaha memiliki acuan yang jelas mengenai tahapan kerja, mulai dari penerimaan pesanan hingga penyelesaian transaksi. Hal ini membantu mengurangi potensi kesalahan pencatatan pesanan dan meningkatkan konsistensi pelayanan, terutama ketika usaha melibatkan karyawan. Temuan ini memperkuat pendapat Hadayanti . yang menyatakan bahwa pemodelan proses bisnis melalui flowchart dapat membantu UMKM memahami alur kerja dan meningkatkan efisiensi operasional. Gambar 3. Flowchart Proses Usaha UMKM Takao Takoyaki Sumber: Dokumentasi Penulis . Pendekatan pendampingan langsung yang digunakan dalam kegiatan ini juga menjadi faktor penting keberhasilan program. Pendampingan berbasis praktik memungkinkan mitra tidak hanya menerima alat bantu, tetapi juga memahami cara penggunaannya secara langsung dalam konteks usaha sehari-hari. Pendekatan ini mendorong terbentuknya kebiasaan pencatatan yang lebih konsisten dan meningkatkan kesiapan mitra untuk menerapkan sistem secara berkelanjutan. Dengan demikian, pendampingan tidak berhenti pada pemberian solusi teknis, tetapi juga memperkuat kapasitas manajerial pelaku UMKM. Secara konseptual, hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa penguatan UMKM dapat dimulai dari intervensi sederhana yang tepat sasaran, khususnya pada aspek pencatatan keuangan dan dokumentasi proses usaha. Kombinasi antara sistem pencatatan berbasis spreadsheet dan flowchart operasional memberikan fondasi awal bagi UMKM untuk mengelola usaha secara lebih terstruktur. Temuan ini sejalan dengan Bachrie et al. yang menegaskan bahwa UMKM di bidang makanan membutuhkan pencatatan keuangan yang tertib untuk menjaga stabilitas usaha dan mendukung keberlanjutan jangka panjang. Kesimpulan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan pada UMKM Takao Takoyaki menunjukkan bahwa permasalahan utama mitra terletak pada aspek pencatatan keuangan yang masih dilakukan secara manual dan belum terstruktur, serta belum adanya dokumentasi alur proses usaha yang jelas. Kondisi tersebut menyebabkan informasi keuangan sulit ditelusuri kembali, rawan terjadi kesalahan pencatatan, dan belum mampu dimanfaatkan secara optimal sebagai dasar evaluasi kinerja serta pengambilan keputusan usaha. Selain itu, ketiadaan panduan alur proses usaha juga berpotensi menimbulkan ketidakteraturan dalam kegiatan operasional, khususnya pada proses pemesanan hingga penyelesaian transaksi. Solusi yang diterapkan melalui kegiatan pengabdian ini berupa pendampingan pembuatan dan penggunaan sistem pencatatan keuangan berbasis spreadsheet serta penyusunan flowchart proses usaha terbukti mampu menjawab permasalahan yang dihadapi mitra. Pencatatan keuangan berbasis spreadsheet membantu pemilik UMKM mencatat pemasukan dan pengeluaran secara lebih rapi, konsisten, dan terstruktur, serta memudahkan proses rekapitulasi dan pemantauan kondisi keuangan usaha. Sementara itu, flowchart proses usaha berfungsi sebagai pedoman operasional yang menggambarkan alur kerja secara sistematis, sehingga membantu pemilik dan karyawan memahami urutan kegiatan usaha dan meningkatkan keteraturan dalam pelaksanaan operasional. Melalui penerapan kedua solusi tersebut. UMKM Takao Takoyaki memiliki dasar yang lebih baik dalam mengelola keuangan dan menjalankan usaha secara lebih terorganisir. Meskipun demikian, kegiatan pengabdian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pendampingan masih difokuskan pada pencatatan keuangan sederhana dan dokumentasi alur proses usaha, sehingga belum mencakup penyusunan laporan keuangan yang lebih lengkap, seperti laporan laba rugi periodik secara formal, arus kas, maupun pencatatan persediaan secara detail. Selain itu, evaluasi dampak kegiatan masih bersifat jangka pendek dan belum dapat menggambarkan pengaruh penerapan sistem pencatatan terhadap kinerja usaha dalam jangka panjang. Berdasarkan hasil dan keterbatasan tersebut, disarankan agar pemilik UMKM Takao Takoyaki dapat menerapkan sistem pencatatan keuangan berbasis spreadsheet secara konsisten dan berkelanjutan agar data keuangan yang dihasilkan tetap akurat dan dapat digunakan sebagai bahan evaluasi usaha secara berkala. Flowchart proses usaha yang telah disusun juga sebaiknya digunakan secara aktif sebagai pedoman operasional sehari-hari untuk menjaga keteraturan alur kerja. Untuk kegiatan pengabdian selanjutnya, pendampingan dapat dikembangkan pada aspek manajemen usaha lainnya, seperti perencanaan keuangan jangka panjang, pengendalian biaya, dan pencatatan persediaan, sehingga penguatan kapasitas UMKM dapat dilakukan secara lebih komprehensif dan berkelanjutan. Daftar Pustaka