E-ISSN 2798-8678 SEGARA WIDYA Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Volume 13 No. 2, 2025 P183-195 Makna Pertunjukan Wayang Wong Ramayana Lakon Maya Sandi di Banjar Pesalakan Gianyar Ni Komang Sekar Marhaeni1. I Made Marajaya2* 1,2Prodi Pedalangan. Fakultas Seni Pertunjukan. Institut Seni Indonesia Denpasar Jalan Nusa Indah Denpasar Bali imademarajaya@gmail. Penelitian ini bertujuan mengkaji makna pertunjukan Wayang Wong Lakon Maya Sandi di Banjar Pesalakan Kabupaten Gianyar Bali. Wayang Wong yang lakonnya bersumber dari cerita pewayangan ini termasuk kesenian langka dan hanya terdapat di beberapa daerah di Bali. Wayang Wong Ramayana ini dipentaskan pada tanggal, 19 September 2024 saat upacara pujawali atau odalan di Pura Dalem Prajurit. Kehadiran Wayang Wong dalam upacara ini mengandung makna yang diyakini dapat membawa berkah dan keselamatan bagi para pendukungnya. Permasalahannya adalah: . Bagaimana bentuk estetika pertunjukan Wayang Wong Lakon Maya Sandi di Banjar Pesalakan Kabupaten Gianyar?. Makna apa yang terkandung dalam pertunjukan Wayang Wong Lakon Maya Sandi di Banjar Pesalakan Kabupaten Gianyar?. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data kualitatif dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi literature. Data yang telah terkumpul diolah secara deskriptif kualitatif didukung oleh teori estetika dan teori semiotika. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa bentuk estetika pertunjukan Wayang Wong lakon Maya Sandi di Banjar Pesalakan di Kabupaten Gianyar dapat dilihat pada. lakon, penokohan, retorika, gerak, antawacana, dan dialog antar tokoh. Makna pertunjukan Wayang Wong Ramayana lakon Maya Sandi antara lain. religius, makna estetika, makna hiburan, makna pelestarian, dan makna sosial. Kata Kunci: Makna. Wayang Wong. Lakon Maya Sandi This study aims to examine the meaning of the Wayang Wong performance of Maya Sandi in Banjar Pesalakan. Gianyar Regency. Bali. Wayang Wong whose play is sourced from the puppet story is a rare art and is only found in several regions in Bali. Wayang Wong Ramayana was performed on September 19, 2024 during the pujawali or odalan ceremony at Pura Dalem Prajurit. The presence of Wayang Wong in this ceremony has a meaning that is believed to bring blessings and safety to its supporters. The problems are: . How is the aesthetic form of Wayang Wong Lakon Maya Sandi performance in Banjar Pesalakan. Gianyar Regency. What meaning is contained in the Wayang Wong Lakon Maya Sandi performance in Banjar Pesalakan. Gianyar Regency? This research used qualitative method. Qualitative data was collected through observation, interview, and literature study. The data that has been collected is processed descriptively qualitative supported by aesthetic theory and semiotic theory. The findings in the field show that the aesthetic form of Wayang Wong performance of Maya Sandi play in Banjar Pesalakan in Gianyar Regency can be seen in. play, characterization, rhetoric, movement, antawacana, and dialog between characters. The meanings of the Wayang Wong Ramayana performance of Maya Sandi include. religious meaning, aesthetic meaning, entertainment meaning, preservation meaning, and social meaning. Keywords: Meaning. Wayang Wong. Lakon Maya Sandi Ni Komang Sekar Marhaeni (Makna A) Volume 13 No. 2, 2025 PENDAHULUAN Wayang Wong yang oleh masyarakat Hindu Bali sering disebut Barong Kedingling adalah salah satu jenis pertunjukan yang digolongkan ke dalam seni dramatari topeng wayang karena seluruh pemainnya memakai topeng menyerupai Dibia . mengatakan bahwa. Wayang Wong adalah dramatari topeng yang mengikuti pola pewayangan dengan pelaku-pelaku manusia atau orang . Teknik penyajian Wayang Wong hampir sama dengan seni dramatari lainnya. Dalam memerankan tokoh-tokoh, semua pemain menari dan berdialog memakai bahasa kawi dan bahasa Bali serta melantunkan tetembangan yang bersumber dari kakawin Ramayana. Bahasa Kawi dipakai oleh para kesatria dan tokoh utama, sedangkan bahasa Bali dipakai untuk penerjemahan oleh para punakawan seperti. Tualen. Merdah. Delem, dan Sangut. Hingga saat ini kesenian Wayang Wong masih dapat kita temukan di beberapa daerah di Bali seperti. di Desa Tejakula (Bulelen. Desa Apuan (Bangl. Desa Sulahan (Bangl. Desa Blahkiuh (Badun. Desa Bualu (Badun. Desa Sanur (Denpasa. Desa Mas (Gianya. Desa Telepud (Gianya. Desa Den Tiyis (Gianya. Desa Pejeng Kangin (Gianya. Desa Marga (Tabana. Desa Apuan (Tabana. Desa Tunjuk (Tabana. Desa Klating (Tabana. Desa Wates Tengah (Karangase. Desa Perancak (Jembran. , dan lain-lain. Wayang Wong adalah genre dari pertunjukan wayang kulit, sehingga tokohtokohnya sebagian besar memakai tapel menyerupai wayang (Marajaya, 2. (Wayang Wong, seperti telah dijelaskan di atas termasuk kesenian yang langka, sehingga perlu dilestarikan karena berfungsi sebagai wali atau dijadikan pratima . imbol Tuha. oleh masyarakat di beberapa pura atau merajan di Bali. Wayang Wong yang lebih dikenal dengan nama AuWayang OrangAy tidak saja terdapat di Bali, melainkan terdapat pula di beberapa daerah di Jawa seperti Wayang Orang Sriwedari Surakarta Juli . ttps://visitjawatengah. id diunduh tanggal, 31 September 2. Selain di Surakarta. Wayang Wong juga ditemukan di daerah Yogyakarta yang diperkirakan dipentaskan pertama kali pada tahun 1757 . ttps://w. diunduh tanggal 30 Oktober 2. Ciri khas Wayang Wong adalah semua penari memakai tapel menyerupai tokoh wayang kulit Ramayana, kecuali dayang-dayang. Wayang Wong diiringi dengan gamelan Batel Gender Wayang atau Batel Selendro. Retorika atau ucap-ucapan tokoh manis seperti. Rama. Laksemana. Sita. Trijata. Meganada, dan lain-lain hampir menyerupai kesenian Gambuh atau Calonarang. Di desa Tejakula Kabupaten Buleleng, juga memiliki ciri khas tersendiri, dimana gerak-gerak tari wanaranya tidak meniru tari petopengan, melainkan meniru gerakan monyet yang ketika berjalan kakinya diperkaya dengan gerakan ninjik atau nengkleng. Ciri khas lainnya dari kesenian Wayang Wong adalah menampilkan tokoh-tokoh wanara . yang menyerupai wayang kulit Ramayana. Adapun tokoh-tokoh wanara yang sering ditemukan dalam pertunjukan Wayang Wong menurut (Diatmika, 2. antara lain: Sugriwa. Hanoman. Ngada. Nila. Nala. Sempati. Kapi Sraba. Menda. Jembawan, dan lain-lain. Berbeda halnya dengan pertunjukan Wayang Wong di Banjar Pesalakan Kabupaten Gianyar, dimana tidak semua penarinya memakai topeng. Hampir sebagian besar penarinya memakai riasan wajah. Tokoh-tokoh yang mamakai topeng antara lain. Hanoman. Garuda. Tualen. Merdah. Delem, dan Sangut. Keunikan Wayang Wong ini hampir menyerupai pertunjukan Wayang Wong Parwa karena sebagian besar tokoh-tokohnya memakai riasan wajah. Wayang Wong yang Ni Komang Sekar Marhaeni (Makna A) Volume 13 No. 2, 2025 disungsung oleh masyarakat di Banjar Pesalakan ini tersimpan di Pura Dalem Prajurit dan dipentaskan sewaktu-waktu ketika ada upacara pujawali atau odalan. Wayang Wong yang pernah eksis di masa lalu ini, kini kembali bangkit berkat pembinaan yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa Program Studi Pedalangan. Fakultas Seni Pertunjukan. Insitut Seni Indonesia Denpasar. Pada mulanya Wayang Wong yang ada di Banjar Pesalakan ini dipentaskan dalam bentuk ngelawang . entas di jalan-jalan mengelilingi des. dan penarinya hanya memakai hiasan gelungan yang Lambat laun barulah bentuk pertunjukan ngelawang-nya dilengkapi dengan memakai beberapa tapel seperti: tapel Hanoman, tapel Garuda. Tapel Tualen. Tapel Merdah. Tapel Delem, dan Tapel Sangut seperti yang kita sekarang. Dalam perkembangan selanjutnya ditambah dengan tata busana sesaputan seperti seni Selain memiliki beberapa jenis tapel yang dijadikan sungsungan sampai sekarang, di Pura Dalem Prajurit juga ditemukan artefak yang dijadikan sungsungan berupa Barong Macan. Barong Bangkung, dan Rangda. Oleh karena itulah pada saat pementasan yang dilakukan pada tanggal, 19 September 2024. Barong dan Rangda dikolaborasikan dengan pementasan Wayang Wong dengan lakon Maya Sandi. Adapun tokoh-tokoh yang tidak memakai tapel dalam pementasan tersebut adalah: Meganada. Rama. Laksemana. Sita. Condong. Raksasa, dan dayang-dayang. Jadi pementasan Wayang Wong dengan lakon Maya Sandi di Banjar Pesalakan termasuk yang paling unik di Bali, sehingga muncul niat penulis untuk melakukan penelitian terkait dengan bentuk estetika dan nilai makna yang terkandung di dalamnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pementasan Wayang Wong lakon Maya Sandi di Banjar Pesalakan Kabupaten Gianyar. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pelestarian dan pengembangan kesenian Wayang Wong khususnya di Banjar Pesalakan dan di daerah-daerah lainnya di Bali. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengkaji bentuk estetika dan makna pertunjukan Wayang Wong lakon Maya Sandi di Banjar Pesalakan Kabupaten Gianyar. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan studi literature, selanjutnya diolah dan dianalisis secara deskriptif kualitatif dan interpretatif didukung dengan teori estetika dan teori semiotika. Hasil analisis disajikan dengan kalimat ilmiah dan didukung oleh foto pementasan. ANALISIS DAN INTEPRETASI DATA Asal Mula Pertunjukan Wayang Wong di Banjar Pesalakan Pertunjukan Wayang Wong adalah pengembangan dari pertunjukan wayang kulit yang telah diperkirakan muncul di Bali pada abad XVI . , yaitu pada zaman Kerajaan Gelgel (Klungkun. Pada zaman keemasan Bali yang dipimpin oleh raja Sri Kresna Kepakisan itu, banyak ditemukan jenis-jenis pertunjukan wayang seperti: Wayang Calonarang. Wayang Cupak, dan Wayang Gambuh. Terkait dengan sejarah pertunjukan Wayang Wong yang terdapat di Banjar Pesalakan. Desa Pejeng Kangin. Kecamatan Tampaksiring. Kabupaten Gianyar tidak banyak yang tahu. Walaupun demikian, dari informasi yang digali diperoleh data bahwa. Wayang Wong tersebut bermula dari kegiatan ngelawang. Di Bali aktivitas ngelawang sudah menjadi budaya dari sejak turun temurun. Jenis kesenian yang sering melakukan kegiatan ngelawang pada hari raya Galungan dan Kuningan atau hari-hari tertentu adalah Barong Bangkung. Barong Macan. Gandrung, dan lain-lain. Sebelum diberi nama Wayang Wong, kesenian yang dibawa ngelawang oleh masyarakat setempat adalah sejenis tari-tarian yang hanya memakai gelungan Gandrung. Lambat laun barulah disempurnakan dengan pemakaian tapel seperti tapel Hanoman dan tapel Garuda. Ni Komang Sekar Marhaeni (Makna A) Volume 13 No. 2, 2025 Kemudian dilengkapi dengan tapel Tualen. Merdah. Delem, dan Sangut. Gegelungan dan tapel yang ada sekarang disimpan di Pura Dalem Prajurit Banjar Pesalakan. Selama ini tidak ada penambahan tapel-tapel yang lain, kecuali tapel-tapel yang telah disebutkan di atas. Keterbatasan tapel-tapel tokoh pewayangan tidak menjadi hambatan dalam pementasan Wayang Wong yang ada di Banjar Pesalakan, sebagai bentuk aktivitas ngayah di Pura Dalem Prajurit Banjar Pesalakan. Oleh karena itulah identitas Wayang Wong yang ditemukan di Banjar Pesalakan dapat dikategorikan dengan Wayang Wong Ramayana karena lakon yang ditampilkan bersumber dari cerita Ramayana. Demikian pula dengan tapel-tapel punakawan seperti: Tualen. Merdah. Delem, dan Sangut adalah ciri khas dari pertunjukan Wayang Wong Ramayana. Bentuk Estetika Pertunjukan Wayang Wong Lakon Maya Sandi Bentuk pertunjukan Wayang Wong Ramayana di Banjar Pesalakan berbeda dengan Wayang Wong yang terdapat di daerah-daerah lain seperti: di Desa Tejakula. Desa Bualu. Desa Sanur, dan lain-lain yang pada umumnya hampir semua penarinya memakai tapel, tak terkecuali tokoh Rama. Laksemana, dan Dewi Sita. Kelemahan tokoh-tokoh manis memakai tapel terletak pada mimik dan kualitas suara. Bagaimanapun juga bahwa semua tokoh-tokoh dalam pertunjukan Wayang Wong harus berbicara dan berkomunikasi dengan tokoh-tokoh yang lain termasuk Oleh karena itulah tokoh-tokoh manis dalam pertunjukan Wayang Wong kebanyakan memakai riasan wajah menyerupai wayang. Bentuk pertunjukan Wayang Wong Lakon Maya Sandi di Banjar Pesalakan, tidak jauh berbeda dengan bentuk pertunjukan yang ditemukan di daerah-daerah lain di Bali. Pertunjukan dimulai dengan tabuh pategak . dan dilanjutkan dengan tari dayang-dayang. Kemudian muncullah Dewi Sita ditemani oleh Condong menceritakan kesedihannya setelah bertahun-tahun berpisah dengan Sang Rama. Dewi Sita sangat khawatir karena yang menjadi panglima perang di Kerajaan Alengka adalah Sang Meganada yang sanat sakti dan merupakan anak dari Sang Rahwana. Sang Meganada memiliki ajian sesirep . embuat orang tertidu. dan senjata pamungkas yang bernama Nagapasa. Senjata tersebut jika dilepas dapat mengikat semua musuh-musuhnya di medan perang. Selengkapnya bentuk estetika pertunjukan Wayang Wong Ramayana lakon Maya Sandi dapat dijelaskan sebagai Lakon Lakon Maya Sandi adalah lakon carangan yang bersumber dari cerita Ramayana yang merupakan bagian dari kanda keenam dari Sapta Kanda yang bernama Yuddakanda. Kata AumayaAy berarti tidak kelihatan . dan kata AusandiAy berarti ampuh atau mukjizat. Lakon Maya Sandi mengisahkan perjalanan Sang Meganada menjadi panglima perang pasukan Alengka. Berawal dari terbakar dan rusaknya Taman Angsoka akibat ulah Sang Hanoman setelah bertemu dengan Dewi Sita. Mendengar berita tersebut Sang Rahwana sangat murka dan menetapkan Sang Meganada menjadi panglima perang menghadapi pasukan Sang Rama. Sang Meganada berhasil mengelabui Sang Rama dan Laksemana dengan meluncurkan senjata Napapasa yang berhasil melilit tubuhnya. Berkat kecerdikan Sang Hanoman dalam medan perang, ia lalu memanggil Sang Garuda untuk melepaskan ikatan tubuh Sang Rama dan Laksemana. Setelah Sang Rama dan Laksemana terlepas dari lilitan Nagapasa, mereka lalu menyerang balik Sang Meganada. Merasa kewalahan. Sang Meganada kembali meminta kanti atau panugrahan kesaktian dari Bhatari Durga Berawi di kahyangan. Daya upaya yang licik dan samar-samar Sang Meganada untuk Ni Komang Sekar Marhaeni (Makna A) Volume 13 No. 2, 2025 dapat mengalahkan Sang Rama dan Laksemana diketahui oleh Sang hanoman. Pada saat Bhatari Durga Berawi sedang menganugrahkan kewisesan kepada Sang Meganada. Sang Hanoman tiba-tiba mencegatnya dari samping. Dengan kejadian ini. Bhatari Durga Berawi lalu kembali ke kahyangan dan Sang Meganada batal mendapatkan kesaktian. Pemilihan Lakon Maya Sandi ini didasarkan atas berbagai Pertama, karena kekurangan tapel, maka dimanfaatkan tapel-tapel yang ada dikolabrasikan dengan tokoh Rangda yang berperan sebagai Bhatari Durga Berawi. Kedua, untuk mengurangi tokoh-tokoh terutama tokoh wanara atau palawaga sebagai ciri khas pertunjukan Wayang Wong. Dengan keterbatasan tokoh-tokoh yang ada, tidak mengurangi nilai estetika pementasan Wayang Wong lakon Maya Sandi di Pura Dalem Prajurit Banjar Pesalakan. Penokohan Dalam seni pertunjukan apapun, penokohan menjadi titik sentral dalam alur Di dalam sebuah drama, kita menemukan tiga jenis tokoh, yaitu tokoh protagonist . , tokoh antagonis . , dan tokoh tritagonis . ttps://w. com, diunduh tanggal, 2 Nopember 2. Tokoh-tokoh inilah yang menjadi aktor dan peran dalam pertunjukan Wayang Wong lakon Maya Sandi. Dengan demikian, struktur pertunjukan Wayang Wong lakon Maya Sandi dapat dijelaskan sebagai berikut: . Eksposisi Plot dalam cerita . embukaan cerita dan pengenalan toko. Rising action . enanjakan menuju konfli. Komplikasi . elanjutan dari penanjaka. Klimaks . uncak dari penanjaka. Resolusi . emecahan persoala. Konklusi . awaban atas masala. ttps://digilib. id, diunduh 2 Nopember 2. Secara etimologi kata AupenokohanAy berasal dari kata AutokohAy yang berarti rupa, wujud, keadaan, bentuk, dan sifatnya. Penokohan berati orang-orang yang suka mempermainkan, memperlakukan, memerankan (Poerwadarminta, 2003, p. Dengan demikian tokoh-tokoh yang terdapat dalam lakon Maya Sandi terdiri dari: Meganada. Rama. Laksemana. Sita. Condong. Hanoman. Garuda, raksasa, dan dayang-dayang. Oleh karena tapel palawaga . yang dimiliki oleh pangempon Pura Dalem Prajurit sangat terbatas, maka tokoh-tokoh wanara lainnya seperti: Sugriwa. Ngada. Anila. Anala. Sempati. Jembawan. Kapi Seraba. Guwaksa. Menda, dan lain-lain tidak dapat ditampilkan seperti pada pertunjukan Wayang Wong lainnya di Bali. Dalam teater tradisional Bali, penokohan merupakan visualisasi dari tokohtokoh yang sifatnya abstrak dalam sebuah cerita. Kakawin Ramayana hanya menceritakan perjalanan Sang Rama tanpa menjelaskan wujud tokoh-tokohnya. Kemudian para seniman seni pewayangan menciptakan tokoh-tokoh sesuai dengan sifatnya yang abstrak dalam cerita Ramayana. Awal mulanya, tokoh-tokoh dalam cerita pewayangan divisualisaikan dalam bentuk gambar seperti parba, kemudian lukisan wayang dalam parba tersebut dilepas satu persatu serta di setiap persendian tangannya diisi AusengkiAy sehingga bisa bergerak-gerak. Demikian pula mulut wayang diisi alat pecuntil, sehingga bibir bagian bawahnya bisa bergerak-gerak seolah-olah sedang berbicara. Kemudian dibuat dalam bentuk cerita bergambar wayang yang disebut dengan AukomikAy. Bentuk-bentuk wayang yang kita temukan sekarang adalah bentuk khayalan dari para dewa dan dewi, manusia, binatang, dan raksasa, serta binatang mitologi . arong dan rangd. Dari wayang kulit kemudian ditransformasikan ke dalam bentuk tapel . , sehingga disebut dengan tapel Wayang Wong. Setelah kelihatan wujudnya melalui tapel, lalu dibuatkan busananya mulai dari gelungan . enutup kepal. , menutup badan, dan kaki serta perhiasan Ni Komang Sekar Marhaeni (Makna A) Volume 13 No. 2, 2025 Dengan demikian, busana Wayang Wong ada yang hampir mirip dengan busana wayang . dan ada yang menyerupai busana sesaputan dalam tari topeng . okoh-tokoh utama, punakawan, dan raksasa bal. Olah Vokal Seni suara atau yang disebut dengan tembang adalah bentuk suara atau nyanyian yang diperindah dengan variasi gregel, luk, dan ileg-ilegan mengikuti irama pupuh atau kakawin. (Wicaksana, 2009, p. mengatakan, bahwa tembang memiliki kedudukan dan fungsi sangat penting dalam kehidupan masyarakat Bali. Olah vokal merupakan teknik dan kemampuan mengolah suara yang dipergunakan dalam pertunjukan Wayang Wong mulai dari suara tertinggi hingga suara terendah. Seni suara vokal yang digunakan dalam pertunjukan Wayang Wong ada dalam bentuk gancaran dan ada pula berbentuk tembang. Untuk membedakan suara tokoh yang satu dengan yang lainnya, dapat digunakan suara-suara yang bersumber dari: . Suara yang bersumber dari langit-langit, yaitu suara digunakan untuk menyuarakan tokoh Rama. Laksmana. Sita. Wibisana, dan Merdah. Suara yang bersumber dari hidung, yaitu suara yang digunakan untuk menyuarakan tokoh Sangut. Suara yang bersumber dari kerongkongan, yaitu digunakan untuk menyuarakan tokoh Delem. Meganada. Hanoman, dan raksasa serta. Suara yang bersumber dari perut, yaitu suara yang digunakan untuk menyuarakan tokoh Tualen. Bentuk suara-suara yang telah dijelaskan di atas disesuaikan dengan logat dan karakter tokoh-tokoh yang diperankan agar terbangun komunikasi yang baik dan indah antar tokoh. Demikian pula dengan suara vokal jenis tetembangan yang merupakan bagian dari etetika percakapan dan ciri khas dari setiap tokoh. Gerak Dalam pementasan Wayang Wong, teknik gerak adalah unsur estetik yang paling mendasar karena di dalamnya terdapat seni berakting dan seni menari. Selain menggunakan gerakan tubuh, para penari Wayang Wong juga menggunakan tapel dengan berbagai karakter yang perlu dihidupkan dan dijiwai melalui gerakan kepala sehingga tapel tersebut seolah-olah hidup dan berkarakter. Secara umum gerak dalam seni pertunjukan Wayang Wong lakon Maya Sandi dapat dibagi menjadi dua macam gerak wantah . dan gerak maknawi . Kedua macam gerak ini harus dikuasai oleh para penari sebagai pengayaan gerak dari masing-masing tokoh yang Adapun yang dimakud dengan gerak murni atau gerak biasa adalah gerak yang diperagakan oleh para punakawan . erlepas dengan tariny. Gerak Maknawi merupakan gerak estetis yang dimaknai sebagai simbol ekspresi dalam tari (Marajaya et al. Gerak murni ini selalu digunakan oleh seluruh penari yang baru keluar dari langse . menuju ke atas panggung. Pada saat adegan magegonjakan . khusus antar punakawan, gerak yang digunakan adalah gerakan murni atau biasa, demikian halnya pada saat berjalan, lari, dan sebagainya. Berbeda halnya dengan gerak maknawi, dimana para penari baik laki maupun perempuan yang memerankan tokoh-tokoh utama atau raksasa pada saat keluar dari langse . berkewajiban untuk menari. Akan tetapi yang terpenting harus dilakukan oleh para penari Wayang Wong adalah menggabungkan antara gerak baik itu gerak wantah maupun gerak maknawi dengan antawacana dan dialog. Kombinasi antara dua unsur estetika inilah yang menjadi bobot atau nilai estetik dari pementasan Wayang Wong. Bagi para penari yang tidak memakai tapel, tentu semua gerakan dapat diekspresikan dengan baik dan indah, sedangkan penari yang memakai tapel, gerakan idealis sangat sulit dilakukan karena mengikuti bentuk tapel itu sendiri. Berikut adalah gambar proses latihan Wayang Wong lakon Maya Sandi yang dilakukan di Pura Dalem Prajurit Banjar Pesalakan. Ni Komang Sekar Marhaeni (Makna A) Volume 13 No. 2, 2025 Antawacana Antawacana adalah kemampuan seorang dalang atau penari di dalam tokoh-tokoh Dalam pertunjukan wayang kulit, seluruh tokoh yang ada dalam cerita disuarakan oleh seorang dalang. Demikian pula di dalam sendratari, seluruh tokoh dalam pewayangan disuarakan pula oleh seorang dalang laki-laki dan seorang dalang perempuan. Dalang perempuan tokoh-tokoh perempuan yang ada dalam cerita. Akan tetapi dalang sendratari selalu diperankan oleh seorang laki-laki dan dibantu oleh seorang juru tandak . enyanyi laki-lak. dan juru gerong . enyanyi wanit. dalam tari Topeng Pajegan, seluruh tokohtokoh dimainkan oleh seseorang, atau dalam Tari Topeng Panca . enarinya lima oran. , seseorang di antaranya akan memainkan beberapa tokoh topeng yang disebut dengan istilah AubebondresanAy. Khusus untuk pertunjukan Wayang Wong, masing-masing penari hanya memerankan satu tokoh saja baik tokoh laki-laki maupun perempuan. Oleh karena itulah, di dalam pertunjukan Wayang Wong seorang penari selain piawai menarikan tokoh-tokoh tertentu, juga dituntut mampu menyuarakannya sesuai dengan Gambar 1. Proses Latihan Tokoh Rama. Laksemana. Tualen, dan Merdah. (Sumber: Dokumen Pribadi Marhaeni, 2. Gambar 2. Proses Latihan Tokoh Dewi Sita. Condong, dan Dayang-dayang. (Dokumen: Marhaeni, 2. Antawacana juga berisikan tentang penggunaan Bahasa atau pocapan, dan jika di Bali disebut dengan anggah-ungguhing basa. Tokoh utama atau kesatria dalam percakapannya memakai Bahasa Kawi, dan para punakawan menerjemahkannya dalam Bahasa Bali. Khusus antar punakawan percakapannya wajib memakai Bahasa Bali untuk penerjemahan. Di dalam pementasan Wayang Wong, pemakaian bahasa juga dianggap hal yang sangat penting dan esensial, karena lewat bahasalah terjadi komunikasi baik antar tokoh maupun terhadap penonton. Selain memakai Bahasa verbal, para penari juga wajib memakai Bahasa isyarat atau Bahasa tubuh. Variasi antara Bahasa verbal dan Bahasa tubuh akan menambah indahnya sebuah wacana atau dialog, apalagi didukung oleh retorika . aya bertutu. yang baik. Penggunaan Bahasa Bali dalam seni pewayangan, dikenal dengan istilah unda usuk, yaitu tingkatan basa atau sor singgih basa yang digunakan dalam percakapan antar tokoh. Kesalahan dalam pemakaian Bahasa dalam seni pertunjukan memang sering terjadi, misalnya menggunakan kata AuinganikaAy kepada tokoh yang kedudukannya lebih rendah. Oleh karena itulah, antawacana harus dikuasai para penari agar komunikasi antar tokoh dalam pementassan Wayang Wong dapat Ni Komang Sekar Marhaeni (Makna A) Volume 13 No. 2, 2025 dibedakan kedudukannya, misalnya antara raja dengan raja, raja dengan raja bawahan, raja dengan abdi . , dan punakawan dengan punakawan. Dialog Antar Tokoh Selain menggunakan Bahasa dalam berantawacana, hal yang perlu dikuasai oleh para penari adalah cara atau teknik berdialog dengan baik dan indah dalam pertunjukan Wayang Wong. Dengan demikian, hal-hal yang perlu didialogkan adalah, pertama terkait dengan lakon, dan kedua terkait dengan gegonjakan . yang menghasilkan ketawa. Seperti kita ketahui bahwa, teater tradisi Bali lebih banyak menonjolkan humor daripada lakon yang serius. Lakon pewayangan yang serius biasanya dimainkan dalam pertunjukan drama klasik. Kesenian drama klasik pada era tahun 1980-an sangat populer di Bali yang dipentaskan lewat layar kaca TVRI (Televisi Republik Indonesi. Denpasar, atau yang kini disebut dengan TVRI Bali. Akan tetapi di era sekarang ini jarang terdengar lagi keberadaan kesenian tersebut. Dialog tidak saja diekspresikan melalui gancaran . , tetapi juga dengan Bahasa bertembang . Keterpaduan antara gancaran dengan tetembangan inilah yang manghasilkan keindahan dalam sebuah dialog. Di dalam gancaran inilah akan ditemukan istilah unda-usuk atau sor singgih basa . ingkatan Bahas. seperti telah dijelaskan di atas. Kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh tokoh kesatria . pada umumnya memakai gaya palawakya . rosa liri. , sehingga mirip dengan tari Gambuh dan Calonarang, lalu diterjemahkan oleh para punawakan ke dalam Bahasa Bali. Iringan Dalam bentuk seni pertunjukan apapun, iringan selalu menjadi unsur estetik yang terpenting, karena iringan berfungsi sebagai pembuka acara, ilustrasi, mengiringi setiap adegan, dan sebagai penutup. Demikian halnya dalam pertunjukan Wayang Wong lakon Maya Sandi yang diiringi dengan gamelan batel Gender Wayang yang ansamblenya terdiri dari. 8 buah gender wayang, 2 buah kendang kerumpungan, 1 buah cengceng ricik, 1 buah kajar, 1 buah tawatawa, 1 buah klenang, 1 buah kemong, 1 buah kempur, dan beberapa suling. Selain dipergunakan mengiringi Wayang Wong, gamelan Batel Gender Wayang juga dipakai mengiringi Wayang Wong Parwa. Wayang Kulit Ramayana. Wayang Cupak. Wayang Calonarang, dan Drama Klasik. Jenis-jenis Wayang Wong lakon Maya Sandi adalah. gending pategak . , gending angkat-angkatan, gending pepeson tokoh manis, gending pepeson tokoh keras, dan gending pepeson tokoh Delem dan Sangut, gending aras-arasan, gending bebatelan, gending batel siat, dan gending penutup. Dalam pementasan Gambar 3. Tokoh Sita. Condong, dan DayangDayang. (Sumber: Dokumen Pribadi Marhaeni, 2. Gambar 4. Tokoh Rama. Laksemana. Hanoman. Tualen, dan (Sumber: Dokumen Pribadi Marhaeni, 2. Ni Komang Sekar Marhaeni (Makna A) Volume 13 No. 2, 2025 ini, gender wayang yang digunakan sejumlah 8 buah supaya situasinya lebih ramai, sedangkan untuk pementasan biasa hanya menggunakan 4 buah gender wayang. Dengan harmoninya antara iringan dengan gerak, tetembangan, gancaran, siat, dan lain-lain menjadikan pertunjukan Wayang Wong lakon Maya Sandi lebih menarik dari Berikut adalah gambar pementasan Wayang Wong lakon Maya Sandi di Pura Dalem Prajurit. Makna Pertunjukan Wayang Wong Ramayana Lakon Maya Sandi Wayang Wong termasuk kesenian yang sakral, sehingga di tempatkan di purapura atau merajan baik milik perorangan maupun masyarakat. Pertunjukan Wayang Wong adalah sebuah symbol atau penanda dari cerita pewayangan yang tokohtokohnya diperankan oleh manusia. Kesenian Wayang Wong berkisah Ramayana juga ditemukan di beberapa negara seperti India Thailand. Kamboja. Vietnam, dan lainlain . ttp://map-bms. org, diunduh tanggal, 27 Desember 2. Terkait dengan keberadaan pertunjukan Wayang Wong di Bali seperti telah dijelaskan di atas dapat dibagi menjadi dua, yaitu Wayang Wong lakon Ramayana dan Wayang Wong lakon Mahabharata. Wayang Wong yang terdapat di Banjar Pesalakan termasuk Wayang Wong Ramayana yang mengandung arti dan makna seperti: makna religious, makna estetis, makna hiburan, makna pelestarian, dan makna sosial. Makna Religius Seni pertunjukan adalah titipan Tuhan kepada manusia khususnya para seniman untuk mengabadikannya dalam kehidupan sehari-hari Dalam hal ini siapapun yang ingin menjadi seorang seniman atau pragina wajib meminta restu dan doa dari Tuhan yang manifestasinya sebagai Dewa Pragina atau Pragina Taksu. Oleh karena itulah, jika seseorang belum memiliki Sanggah Pragina secara khusus, boleh meminta restu dan doa di Sanggah Taksu Rong Dua atau di pura-pura tertentu yang ada di dalam maupun di luar Bali. Pesona alam dan makhluk ciptaan Tuhan sering dijadikan objek atau sumber penciptaan dalam seni pertunjukan dan seni kriya oleh para seniman. Seni pertunjukan sakral seperti: Barong Macan. Barong Bangkung. Barong Gajah. Tari Sanghyang Jaran. Tari Sanghyang Bojog. Tari Sanghyang Celeng, dan lain-lain yang sering dipentaskan dalam upacara ritual adalah symbol tindakan manusia yang mengagungkan ciptaan Tuhan. Demikian halnya dengan seni kriya yang berupa lukisan, patung, pratima, arca, tapel, dan lain-lain sering dijadikan sungsungan atau hiasan oleh umat Hindu di pura-pura yang ada di Bali. Hal ini membuktikan bahwa setiap seni pertunjukan memiliki makna religious yang sering disebut dengan teo-estetis. Artinya, selain memiliki nilai-nilai ritual juga memiliki nilai-nilai estetika untuk menghibur mayarakat. Nilai religius yang melekat pada seni pertunjukan sering dimaknai sebagi pedoman dan tuntunan oleh masyarakat, karena diyakini memiliki kekuatan gaib yang dapat mempengaruhi jiwa dan baik buruknya kehidupan masyarakat Hindu Bali. Oleh karena itulah benda-benda seni yang disebutkan di atas dirawat dan dipelihara dengan baik oleh masyarakat pendukungnya sejak dahulu hingga sekarang. Merawat benda seni yang disakralkan sangatlah sulit, di samping membutuhkan dana upacara yang sangat besar juga waktu yang tidak sedikit. Demikian halnya dengan keberadaan Wayang Wong berikut tapeltapel, busana, dan gelungan yang tersimpan di Pura Dalem Prajurit, dirawat dan dijadikan pratima atau sungsungan oleh masyarakat setempat, dan dipentaskan sewaktu-waktu apabila ada upacara besar. Makna Estetik Untuk mendapatkan makna estetik dari sebuah pertunjukan, kita harus memiliki suatu kemampuan untuk menilai dan mengamati suatu benda seni dan Ni Komang Sekar Marhaeni (Makna A) Volume 13 No. 2, 2025 pergelaran seni di hadapan kita. Seni adalah ekspresi atau ungkapan perilaku atau aktivitas seseorang yang memiliki kelebihan, keistimewaan, dan keprofesionalan di bidang tertentu (Marajaya, 2015, p. Semakin tinggi pengalaman seseorang mengamati seni, maka semakin tinggi pulalah kadar ataun bobot keindahan yang diperoleh dari seni itu. Misalnya Wayang Wong, pertunjukan ini memakai tapel, sehingga para pemainnya memiliki keterbatasan untuk berekspresi. Tokoh-tokohnya pun sangat terbatas karena tergantung dari banyak tapel-tapel yang dimiliki. Seperti halnya pertunjukan Wayang Wong lakon Maya Sandi di Banjar Pesalakan yang hanya memiliki enam buah tapel, sehingga untuk melengkapi tokoh-tokoh yang diperlukan para penari terpaksa merias wajahnya sesuai dengan tokoh-tokoh diperankan. Dibandingkan dengan Wayang Wong di daerah lain, mungkin memiliki lebih dari enam tapel, sehingga dalam pementasannya terkesan lebih ramai. Seperti diketahui, bahwa tokoh-tokoh dalam pertunjukan Wayang Wong pada umumnya terdiri dari. Rama. Laksemana. Sita. Sugriwa. Hanoman. Ngada. Anala. Anila. Menda. Kapi Seraba. Sempati, kera-kera kecil. Rahwana. Kumbakarna. Wibisana. Meganada. Trijata, dan lain-lain. Dengan lengkapnya tapel-tapel yang dimiliki, maka akan lebih mudahlah para pemain atau penari untuk membuat lakon yang diinginkan. Dengan demikian makna estetis yang diperoleh dari pertunjukan tersebut akan lebih tinggi Seperti yang dikatakan oleh Djelantik . 0, p. bahwa, nilai estetis itu adalah kemampuan dari sesuatu benda atau karya seni untuk dapat menimbulkan pengalaman estetis bagi orang yang mengamatinya. Semakin besar benda dan karya seni seseorang menimbulkan tanggapan estetis pada orang lain, maka semakin tinggi pula nilai estetis benda atau karya seni itu. Bermutu atau tidaknya sajian seni pertunjukan sangat ditentukan oleh unsurunsur estetis yang terkandung di dalamnya. Oleh sebab itu, pengalaman estetis sangat berperan untuk menjawab apa yang baik, indah, elok, agung, dan apa yang jelek, tidak indah, tidak elok, dan sebagainya (Soetarno et al. , 2007, pp. 23Ae. Dengan demikian, nilai-nilai estetik dalam pertunjukan Wayang Wong lakon Maya Sandi dapat dilihat melalui tata penyajian mulai dari tabuh pembukaan . , olah vocal, gerak, retorika, antawacana, dialog antar tokoh, harmoni dan keserasian antara gerak dan ucap-ucapan para tokoh, dan keutuhan. Pertunjukan Wayang Wong lakon Maya Sandi yang dibina oleh dosen dan mahasiswa Program Studi Pedalangan. Fakutas Seni Pertunjukan. Institut Seni Indonesia Denpasar ini telah berhasil menghipnotis penonton dengan penampilan penari-penari lokal yang berbakat. Makna Hiburan Pertunjukan Wayang Wong Lakon Maya Sandi selain berfungsi sebagai pelengkap dan bagian dari ucapara keagamaan seperti pujawali atau odalan, juga berfungsi sebagai hiburan. Seluruh penari dan penabuh dapat memuaskan atau menghibur diri, jika pertunjukannya berhasil dan banyak yang menonton. Hiburan menurut (Bungin, 2001, pp. 61Ae. merupakan kebutuhan pribadi masyarakat yang telah dipengaruhi oleh struktur kapitalis. Hiburan menyatu dengan makna-makna hiburan dan saat ini didominasi oleh seni musik. Musik merupakan perangkat hiburan yang lengkap yang dipadukan dengan berbagai seni lainnya. Hampir tidak dapat ditemui sebuah hiburan tanpa mengabaikan peran musik, sebaliknya musik menjadi sebuah bagian hiburan yang besar dan paling lengkap, sehingga komponis dunia musik menjadi sebuah pertunjukan profesinal yang menghasilkan uang dan menciptakan lapangan kerja baru. Menurut Sedyawati . 2, p. seni dan hiburan memiliki makna yang berbeda. Seni adalah ungkapan perasaan yang mempunyai implikasi kepada perenungan, didukung oleh teknik yang cukup rumit, ada perangkat konsep yang mendasarinya. Sementara hiburan sifatnya langsung merangsang panca Ni Komang Sekar Marhaeni (Makna A) Volume 13 No. 2, 2025 indra atau juga tubuh untuk mengikuti dengan gerak, mementingkan glamour, dan Jadi seni dan hiburan yang dipancarkan melalui pertunjukan Wayang Wong lakon Maya Sandi adalah dapat dinikmati oleh para penari atau pemeran dan juga oleh orang yang menonton pertunjukan tersebut. Selain didukung oleh musik atau iringan dari gamelan Batel Gender Wayang sebagai ciri khas pertunjukan Wayang Wong, hiburan juga dapat diperoleh melalui sajian-sajian yang terkesan humor baik dilakukan oleh tokoh punakawan Delem dan Sangut maupun oleh tokohtokoh raksasa. Jadi benarlah apa yang dikatakan oleh RaAouf . 0, pp. 15Ae. bahwa, hiburan bisa membuat perasan menjadi tenang dan segar . Banyak masyarakat yang menganggap, bahwa seni pertunjukan sebagai hiburan bisa dilakukan oleh para pemainnya sendiri, sehingga bisa menggugah hati dan perasaan para penontonnya. Makna Pelestarian Dalam rangka memahami keberadaan kesenian Bali agar tetap terjaga kelestariannya, perlu diupayakan atau dilakukan penyelamatan/pemertahanan melalui pendokumentasian dan dalam bentuk pertunjukan. Dengan demikian penyelamatan mengandung makna menyimpan agar tidak hilang, melestarikan agar tetap diwariskan, memertahankan agar tidak dipengaruhi budaya lain (Seramasara, 2005, p. Dengan demikian, apabila kesenian tersebut sulit untuk dikembangkan karena bersifat sakral, maka cukup untuk dilestarikan saja. Seperti halnya keberadaan Wayang Wong yang ada di Banjar Pesalakan yang merupakan warisan leluhur tetap dijaga kelestariannya oleh masyarakat pengempon-nya. Walaupun yang menjadi hambatan utama upaya pelestarian ini adalah masalah penari dan pemain gamelan Batel Gender Wayang, tetapi berkat upaya para tokoh agama dan masyarakat di Banjar Pesalakan, kesenian Wayang Wong yang diwarisi sampai saat ini dapat dipentaskan sewaktu-waktu apabila ada upacara besar di Pura Dalem Prajurit. Dalam hal ini Wicaksana . 8, p. mengatakan, bahwa ketahanan dan kelestarian warisan budaya leluhur memiliki fungsi dan makna yang dianggap penting bagi masyarakat pendukungnya. Berbicara mengenai pelestarian kesenian, dalam hal ini dapat dimaksudkan mengembangkan, memelihara, dan mewariskan kepada generasi berikutnya sehingga kesenian itu dapat berfungsi di dalam pemenuhan kebutuhan manusia itu sendiri. Terkait dengan pernyataan ini. Dibia . 0, p. menegaskan, bahwa di dalam kebudayaan Bali, hingga kini bentuk-bentuk kesenian wali dan bebali masih dipertahankan sebagai kesenian sakral untuk upacara keagamaan, sedangkan bentukbentuk kesenian lainnya seperti balih-balihan diperlakukan sebagai kesenian sekuler yang bisa dipentaskan sewaktu-waktu untuk publik. Makna Sosial Pertunjukan Wayang Wong banyak menggunakan simbol-simbol. Hal tersebut dapat dilihat dari kompleksitas simbol yang mendukung pertunjukan tersebut seperti penggunaan tapel, kostum, serta perlengkapan lainnya. Demikian pula terhadap tata penyajiannya yang penuh dengan simbol-simbol yang kadangkala tidak banyak diketahui oleh penonton karena yang lebih dipentingkan adalah dapat memberikan kesenangan dengan berbagai model lelucon dan dagelan-dagelan yang menggambarkan kehidupan masyarakat masa kini. Di Bali, seniman seni pertunjukan sering disebut dengan AupraginaAy abdi masyarakat. Kehadiran mereka di tengah-tengah masyarakat diharapkan dapat memberikan hiburan kepada masyarakat di samping pesan-pesan yang disampaikan. Menurut Dibia . 4, p. bahwa predikat atau gelar pragina bagi seorang aktor atau penari hanya diberikan oleh masyarakat Bali bagi mereka yang berpenampilan aktif dalam genre pertunjukannya. Ni Komang Sekar Marhaeni (Makna A) Volume 13 No. 2, 2025 Makna sosial yang dirasakan manfaatnya oleh para penari Wayang Wong dan masyarakat di Banjar Pesalakan adalah rasa kebersamaan atas terwujudnya kesenian Wayang Wong yang telah diwariskan oleh generasi pendahulunya. Masyarakat sangat mendukung keberadaan Wayang Wong di Banjar Pesalakan sebagai sungsungan di Pura Dalem Prajurit. Keberadaan sesuhunan tersebut diyakini memberikan berkah bagi masyarakat, sehingga bisa menjalin hubungan baik antar individu seperti. penari, antar penabuh, penari dengan penabuh, masyarakat dengan penari, masyarakat dengan penabuh, dan penonton pada waktu proses latihan serta pada saat Terwujudnya Wayang Wong di Banjar Pesalakan juga menjadi kebanggaan bagi masyarakat di Banjar Pesalakan karena merupakan asset budaya leluhur yang tak ternilai harganya. Selain memiliki kesenian Wayang Wong, masyarakat Banjar Pesalakan juga memiliki sungsungan Barong Macan. Barong Bangkung, dan Rangda. Seluruh jenis kesenian tersebut dipentaskan secara bersamaan dengan Wayang Wong pada saat diadakan upacara pujawali atau odalan yang jatuh pada setiap enam bulan sekali. SIMPULAN Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa pertunjukan Wayang Wong Lakon Maya Sandi di Banjar Pesalakan. Desa Pejeng Kangin. Kecamatan Tampaksiring. Kabupaten Gianyar, provinsi Bali, merupakan sesuhunan yang diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat pangempon Pura Dalem Prajurit. Bentuk estetika pertunjukan Wayang Wong Lakon Maya Sandi dapat dilihat dari lakon, penokohan, olah vocal, retorika, gerak, antawacana, dialog antar tokoh, dan Makna pertunjukan Wayang Wong Lakon Maya Sandi antara lain. religius, makna estetik, makna hiburan, makna pelestarian, dan makna sosial. Pertunjukan Wayang Wong di Banjar Pesalakan hanya dipentaskan (Bali: mepaja. pada saat Pujawali atau odalan di Pura Dalem Prajurit. Kesenian Wayang Wong yang disungsung oleh masyarakat Banjar Pesalakan ini hanya memiliki enam buah tapel yaitu: tapel Hanoman, tapel. Garuda, tapel Tualen, tapel Merdah, tapel Delem, dan tapel Sangut. Dalam mengkemas pertunjukan sesuai dengan lakon, para penari merias wajahnya dan berbusana menyerupai tokoh-tokoh dalam pewayangan. Penelitian tentang pertunjukan Wayang Wong di Banjar Pesalakan ini adalah langkah awal yang dapat dijadikan rujukan oleh para peneliti selanjutnya sesuai dengan bidang ilmu yang digelutinya. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan research terhadap kesenian-kesenian yang langka di Bali yang salah satunya adalah Wayang Wong. DAFTAR PUSTAKA