TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM PERSPEKTIF HADIS Muhammad Abror Rosyidin Universitas Hasyim AsyAoari. Jombang. Indonesia Abror30031994@gmail. Muhammad Latif Mukti Universiti Islam Sultan Sharif Ali. Bandar Seri Begawan. Brunei Darussalam lathiefahmed07@gmail. Abstrak Pendidikan agama Islam merupakan hal terpenting dalam sistem pendidikan di Indonesia. Pendidikan Islam memiliki tujuan yang didasarkan pada sumber-sumber ajaran agama, salah satunya adalah hadis. Namun, sedikit dari penelitian pendidikan yang memfokuskan penggalian tujuan pendidikan dari hadis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi literatur dengan analisis data deskriptif analitis yang difokuskan pada hadis-hadis pendidikan yang termuat dalam kutub al-tisAoah. Penelitian tersebut dapat menghasilkan sebuah konsep tentang tujuan pendidikan Islam dalam perspektif hadis Rasullah, dan ditemukan rumusan yang terdiri dari 5 poin tujuan pendidikan Islam dalam perspektif hadis, yaitu . membentuk dan mengembangkan circle ilmiah, . penghambaan diri kepada Allah SWT, . mengarahkan destinasi penyelenggaraannya kepada akhirat, . mendapatkan kebaikan, dan . mengembangkan fitrah manusia. Kata Kunci: tujuan, pendidikan Islam, hadis Nabawi - Volume 2Nomor 2Maret2022iC162 Abstract Islamic religious education is the most important thing in the education system in Indonesia. Islamic education has goals that are based on the sources of religious teachings, one of which is hadith. However, little of the educational research focuses on extracting educational goals from hadith. This study uses a qualitative approach to literature study with analytical descriptive data analysis focused on educational traditions contained in the kutub al-tis'ah. This research can produce a concept about the goals of Islamic education in the perspective of the Prophet's hadith, and found a formulation consisting of 5 points of Islamic education goals in the perspective of hadith, namely . forming and developing scientific circles, . self-servitude to Allah SWT, ( . directing the purpose of its implementation to the afterlife, . getting good, and . developing human nature. Keywords: puspose. Islamic education, hadith, 163 iCMA Rosyidin & ML Mukti Ae Tujuan Pendidikan PENDAHULUAN Masalah yang menjadi kegagalan pendidikan hari ini adalah kecenderungan manusia yang melihat pendidikan sebagai tujuan dunia eperti jabatan, pekerjaan, pangkat, dan lain-lain. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh KH. Hasyim AsyAoari saat berbicara tentang adab seorang murid dalam belajar untuk tidak berorientasi pada kepentingan 1 Pengembangan pendidikan Islam berkaitan secara langsung dengan ilmu pengetahuan dan metodologi serta perkembangannya. Dalam belajar agama sangat tidak pantas apabila finansial dan keduniaan menjadi tolak ukur utama melakukan kegiatan pendidikan Islam. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang sengaja didirikan dan diselenggarakan dengan hasrat dan niat . encana yang sungguhsunggu. untuk mengejawantahkan ajaran dan nilai-nilai Islam. Sebagaimana disebutkan dalam visi, misi, tujuan, progam kegiatan, maupun pada praktek pelaksanaan kependidikannya. Wawasan kependidikan Islam merupakan suatu konsep atau cara pandang dalam mengembangkan dan menyelenggarakan program pendidikan Islam di lapangan dengan memperhatikan beberapa landasan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam. Para calon sarjana pendidikan Islam dituntut untuk memilki dan menguasai wawasan kependidikan Islam tersebut. Tujuan pendidikan Islam secara keseluruhan yaitu mewujudkan insan kamil dengan keutuhan manusia baik rohani maupun jasmaninya. Mereka yang dapat hidup dan berkembang secara wajar karena tawakalnya kepada Allah SWT. Tujuan menjadi faktor yang sangat penting, karena hal tersebut merupakan arah yang ingin dicapai dalam pendidikan. Tidak dapat dipungkiri, bahwa tujuan pendidikan itu menyangkut tujuan hidup. Pendidikan dikembangkan dalam konteks membantu perkembangan manusia untuk memiliki kecakapan dalam bertahan hidup maupun melaksanakan tugas kehidupan yang sering disebut sebagai tujuan fungsional dan tujuan praktis, yang di dalamnya meliputi skill, keterampilan, dan kecakapan,3 Tujuan harus bersifat stasioner artinya telah mencapai atau meraih segala yang diusahakan. Dalam ajaran Islam, seluruh aktivitas 1 Lihat: Hasyim AsyAoari. Adab al-AoAlim wa al-MutaAoallim, (Jombang: Maktabah al- Turats al-Islami, 1. , 25. 2 Ibid. 3Hasbiyallah dan Moh. Sulhan. Hadist Tarbawi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. Nabawi - Volume 2Nomor 2Maret2022iC164 manusia bertujuan untuk mewujudkan insan yang beriman dan Dengan demikian, apabila anak didik telah beriman dan bertakwa artinya telah tercapai tujuannya. Apabila dikaitkan dengan pendidikan Islam yang bertujuan mencetak anak didik yang beriman, wujud dari tujuan itu adalah akhlak anak didik. Adapun akhlak anak didik itu mengacu pada kurikulum yang diterapkan dalam pendidikan yang dilaksanakan di berbagai lembaga, baik lembaga pendidikan formal maupun nonformal. Secara filosofis, semua pendidikan harus dilandaskan pada tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Dalam perspektif pendidikan maqasidy, tujuan-tujuan yang menjadi arah pendidikan hendaknya berorientasikan pada tiga tingkatan kemaslahatan, baik yang bersifat individual . l-shalah al-fardl. , komunal . l-shalal al-jamaAoi. , ataupun peradaban . l-shalah al-Aoumrani. Ungkapan ini mempunyai aksioma, apabila sebuah proses pendidikan Islam tidak mengantarkan kepada trilogi kemaslahatan, maka pendidikan tersebut bisa dinilai telah mengalami kegagalan. Untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan harus memiliki lembaga pendidikan yang berkualitas dengan dilengkapi oleh sumber daya pendidik yang kompeten. Dalam kehidupan sehari-hari, indikator tercapainya tujuan pendidikan Islam adalah mencetak anak didik yang mampu bergaul dengan baik kepada sesama manusia, serta mengamalkan amar makruf nahi munkar kepada sesama manusia. Anak didik yang telah dibina dan dilatih oleh pola pendidikan Islam adalah anak didik yang sukses dalam kehidupan. Karena mereka memiliki kemampuan dan kemauan yang kuat untuk menjalani kehidupan berbekal ilmu-ilmu ke-islaman yang diridhai Allah dan rasul-Nya. Dalam penelitian ini, tujuan pendidikan dilihat dari sumber utama kedua dalam Islam, yaitu hadis. Hadis memiliki derajat yang tinggi dalam pengambilan hukum dan pedoman. Hadis juga berfungsi sebagai bayan taqrir yaitu menetapkan, memantapkan, dan mengukuhkan apa yang ditetapkan al-QurAoan, sehingga tak perlu dipertentangkan lagi posisinya. Selain itu hadis juga berfungsi sebagai Beni Ahmad Saebani dan Hendra Akhdiyat. Ilmu Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2. , 146. 5Mohamad Anang Firdaus. Menggagas Pendidikan Maqasidi. Konstruksi Pemikiran Maqasid Ibn AoAshur sebagai Paradigma Pendidikan Islam, (Jombang: PustakaTebuireng, 2. , 314-315. 6Saebani dan Akhdiyat, 147. 165 iCMA Rosyidin & ML Mukti Ae Tujuan Pendidikan bayan tafsir, yaitu menjelaskan makna yang masih samar dan merinci luasnya makna al-QurAoan. 7 Banyaknya perhatian dari para ulama terhadap kajian bahasa Al-QurAoan tidak menyurutkan perhatian mereka terhadap kajian bahasa hadis. Sebab, bahasa hadis juga tidak lepas dari unsur-unsur estetis yang mencerminkan karakteristik tutur kenabian. Untuk itu, peneliti tertarik mengkaji tujuan pendidikan Islam dari kacamata hadis Rasulullah SAW. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan filosofis, penalaran dan penyusunan sudut pandang pada objek tujuan pendidikan Islam dalam kacamata hadis. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library Researc. Sumber data utama adalah kitab-kitab hadis, yaitu sembilan kitab hadis yang utama . utub altisAoa. , literatur tentang pendidikan Islam, maupun buku-buku, penelitian, jurnal, dan sumber-sumber lain yang mendukung. Ada beberapa artikel ilmiah yang telah membahas topik ini, seperti Sulaemang L. Tujuan Pendidikan dalam Hadis Nabi Shallallahu AoAlaihi Wasallam (SAW). Penelitian ini tidak memfokuskan pada kitab hadis tertentu, serta penulis menggunakan pendekatan psikologi, sosiologi dan teologi dalam penelitiannya. Kedua. Muhammad Zaim. Tujuan Pendidikan Islam Perspektif AlQurAoan dan Hadis. Isu dan Strategi Pengembangan Pendidikan Islam. Penelitian ini mencoba untuk merumuskan tujuan pendidikan dari ayat al-QurAoan dan hadis, dengan perbandingan tafsir dari beberapa kitab, dan hadis-hadis populer. Ketiga. Fatkhur Rohman. Tujuan Pendidikan Islam pada Hadis-hadis Populer dalam Shahihain. 11 Penelitian ini mendeskripsikan tujuan pendidikan perspektif hadis Nabi dalam kitab Shahihain, dan dibatasi hanya pada bab iman. Arim Zufaida Amna. AuHADIS SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM (Studi Kasus Pandangan Masyarakat Desa Besito-Kudus Terhadap Hadis Larangan Tertaw. ,Ay SYARIAH: Journal of Islamic Law 2, no. : 2. 8Achmad Shidiqur Razaq, dkk. AuPengertian Stilistika dan Posisinya dalam Ilmu HadisAy. NABAWI Journal of Hadith Studies. Vol. No. 2, (Maret 2. , 4. 9 Sulaemang L. AuTujuan Pendidikan dalam Hadis Nabi Shallallahu AoAlaihi Wasallam (SAW)Ay. Jurnal Al-TaAodib. Vol. No. Januari-Juni 2015, 155. Muhammad Zaim. AuTujuan Pendidikan Islam Perspektif Al-QurAoan dan Hadis. Isu dan Strategi Pengembangan Pendidikan IslamAy. Jurnal Muslim Haritage. Vol. No. November 2019, 239-260. https://jurnal. id/index. php/muslimheritage/article/view/1766. 11 Fatkhur Rohman. AuTujuan Pendidikan Islam pada Hadis-hadis Populer dalam ShahihainAy. TaAodibuna. Jurnal Pendidikan Islam. Vol. No. September 2021. Nabawi - Volume 2Nomor 2Maret2022iC166 Dari tiga penelitian terdahulu, artikel ini mengambil fokus pada tujuan pendidikan Islam yang disarikan dari hadis-hadis pendidikan yang terdapat pada kitab kutub al-tisAoah. Untuk menganalisis data yang diperoleh, penulis menggunakan analisis dan deskripsi konten atau isi, setelah menentukan hadis-hadis pendidikan dengan substansi orientatif yang terdapat pada kitab kutub al-tisAoah. Metode ini dimaksudkan untuk menganalisis seluruh pembahasan mengenai tujuan pendidikan Islam dalam perspektif hadis. Dalam penelitian ini, terdapat beberapa sasaran, di antaranya: tujuan pendidikan dalam Islam, . hadis-hadis tentang tujuan pendidikan, dan . tujuan pendidikan Islam dalam perspektif hadis. Pengumpulan data, secara primer maupun sekunder diperoleh melalui penelitian pustaka (Library Researc. 167 iCMA Rosyidin & ML Mukti Ae Tujuan Pendidikan Tujuan Pendidikan dalam Islam Al-Ghazali menuliskan tujuan pendidikan sesuai dengan pandangan hidup dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya yaitu sesuai dengan filsafatnya, memberi petunjuk akhlak dan pembersih jiwa untuk membentuk individu-individu yang ditandai dengan sifat Hujair AH Sanaky menyebut istilah tujuan pendidikan Islam dengan visi dan misi pendidikan Islam. Menurutnya pendidikan Islam telah memiliki visi dan misi yang ideal, yaitu rahmatan lilAoalamin. Selain itu, konsep dasar filosofis pendidikan Islam ini lebih mendalam dan menyangkut persoalan hidup multidimensional, yaitu pendidikan yang tidak terpisahkan dari tugas kekhalifahan manusia, atau lebih khusus sebagai penyiapan kader-kader khalifah dalam rangka membangun kehidupan manusia yang makmur, dinamis, harmonis, dan Sebagaimana diisyaratkan oleh Allah dalam al-QurAoan. Munzir Hitami berpendapat bahwa tujuan pendidikan tidak terlepas dari tujuan hidup manusia, meskipun dipengaruhi oleh berbagai budaya, pandangan hidup, atau keinginan lainnya. Melihat dari ayat-ayat al-QurAoan ataupun hadis yang di dalamnya mengisyaratkan tujuan hidup manusia yang menjadi tujuan Tujuan pendidikan Islam yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun yang dirangkum dan disimpulkan oleh AoAthiyyah al-Abrasyi dalam kitabnya al-Tarbiyah al-Islamiyyah wa Falasifatuha merupakan tujuan pendidikan yang mengarah pada tujuan akhirat dan dunia. Tujuan akhirat yang dimaksud adalah pendidikan Islam diarahkan dan diorientasikan pada kehidupan untuk beramal dan mendekatkan diri pada Tuhan. Sedangkan tujuan pendidikan yang ada di dunia ini tentang bagaimana manusia dapat menjalankan hidupnya dengan baik dalam mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak untuk memperoleh dan meraih tujuan jangka panjang yaitu akhirat. Dengan begitu manusia mendapat dua kebahagiaan yang diperoleh di dunia dengan menjalani kehidupan yang layak dan bahagia dan bisa beramal menurut ajaran agama untuk bekal kehidupan yang abadi dan selamalamanya. Selain untuk tujuan akhirat . Athiyah Al-Abrasyi juga menekankan tujuan pendidikan Islam pada tataran pembentukan 12Hasbiyallah dan Sulhan. Hadist Tarbawi, 16. 13Ahmad Falah. Hadis Tarbawi (Kudus: Nora Media Enterprise, 2. , 28. Nabawi - Volume 2Nomor 2Maret2022iC168 akhlak yang mulia sebagai jiwa . pendidikan Islam. 14 Maka seluruh pengajaran dalam proses penyelenggaraan pendidikan harus dimuarakan pada pembentukan akhlak karimah. Selain itu, pendidikan Islam juga bertujuan untuk membentuk iklim ruh ilmiah . cientific spiri. , untuk membantu peserta mendapatkan pekerjaan profesional dengan penghidupan yang layak dan dapat bermanfaat bagi sesama. Pendiri NU. Hadratussyaikh KH. Hasyim AsyAoari menyebut bahwa tujuan dari penyelenggaraan pendidikan agama adalah ketakwaan kepada Allah SWT. Secara gamblang Kiai Hasyim menyebut bahwa tujuan pendidikan adalah mengamalkan ilmu yang didapatkan, sebab amal dalah buah dari ilmu itu sendiri. Mengamalkan ilmu juga membuat hidup lebih berguna dan menjadi bekal di akhirat Keberuntungan tentu akan didapatkan oleh mereka yang menjadikan ilmu sebagai pijakan amal, dan menjadikan amal sebagai tujuan mencari ilmu. Sebanarnya tujuan pendidikan yang bermuara pada ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa juga dicantumkan oleh konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam UUD. Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila dan Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang disusun oleh Sekretariat Negara. Dalam rumusan tersebut, jelas menggambarkan bahwa bangsa Indonesia dibangun atas kultur sosialistis religius, di mana gotong royong sebagai spririt dasar dan dibangun atas nilai keagamaan. Itulah yang ingin dicapai oleh pendidikan sebagai instrumen pembentukan generasi Bicara tentang tujuan pendidikan Islam yang berhubungan dengan kultur atau kebudayaan, maka pendidikan harus mengandung tiga prinsip. Pertama, prinsip otonomis, di mana pendidikan memberi kesadaran, pengetahuan, dan kemampuan secara maksimum untuk Kedua, prinsip equity . artinya siapapun dapat belajar agama Islam tidak peduli latar belakangnya apa. Ketiga prinsip survival, artinya keilmuan harus terus digariskan dari generasi ke Zuhairini. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2. , 164. 15165Ae66. 16Muhammad Abror Rosyidin. AuAkhlak Dan Adab Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Perspektif KH. Hasyim AsyAoari,Ay Journal of Research and Thought on Islamic Education 4, no. Juni 2. : 43. 17Muzayyin Arifin. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2. , 118. 169 iCMA Rosyidin & ML Mukti Ae Tujuan Pendidikan generasi. Genealogi keilmuan penting diperhatikan karena pendidikan bertanggungjawab atas kelestarian keilmuan. Quraish Shihab mejelaskan bahwa tujuan pendidikan Islam, adalah membina manusia, baik secara pribadi maupun komunal agar dapat menjalankan fungsinya masing-masing sebagai hamba dan khalifah-Nya di bumi, membangun dunia ini sesuai dengan ketetapan Allah. Pendapat lain dari M. Natsir, bahwa pendidikan Islam kehidupan memiliki tujuan yang sama, yaitu penghambaan kepada Allah SWT. penghambaan itu bukan untuk keuntungan bagi yang disembah, malainkan kebutuhan bagi kebahagiaan dunia akhirat untuk yang menyembah. Oleh Zaim, tujuan yang disampaikan oleh Natsir diklasifikan menjadi dua. Pertama, membentuk insan purna yang pada muaranya nanti dia lebih dekat dan semakin dekat kepada Allah SWT. dan kedua, membentuk insan purna yang mendapat kebahagiaan di dunia dan di Hal itu sejalan dengan tujuan Islam sebagaimana yang disebutkan Ibn Khaldun, yaitu tujuan ukhrawi yang berorientasi pada penghambaan diri kepada Allah agar kelak dapat selamat di akhirat, dan tujuan duniawi di mana manusia bisa bermanfaat bagi sesamanya dan dapat menghadapi kehidupan di dunia dengan layak. Melihat pada apa yang disampaikan Natsir dan Quraish Shihab, maka sebenarnya menunjukkan bahwa pendidikan tidak dipisahkan oleh agama. Islam dalam tujuan pendidikannya bertolak belakang dengan konsep sekularisasi pendidikan, di mana ilmu pengetahuan tidak bisa dikaitkan dengan nilai-nilai agama. Maka tujuan pendidikan seharusnya tidak mendikotomikan keduanya. Sekularisasi pendidikan dan keilmuan cenderung berat sebelah terhadap penggunakan akal intelektual. Dalam pendidikan Islam, akal saja tidak cukup, artinya untuk mencapai suatu tujuan, harus melibatkan spiritualitas. Pendidikan Islam juga bertujuan untuk menyediakan ruang internalisasi nilai-nilai keislaman, agar peserta didik mampu mengamalkan ilmu yang didapat secara dinamis dan fleksibel. Hal ini berarti bahwa pendidikan Islam bertugas memberikan pendidikan yang Teguh Wangsa Gandhi HW. Filsafat Pendidikanm Madzhab-Madzhab Filsafat Pendidikan (Sleman: Ar-Ruzz Media, 2. , 68. 19Nabila Nabila. AuTujuan Pendidikan Islam,Ay Jurnal Pendidikan Indonesia 2, no. Mei 2. : 870, https://doi. org/10. 36418/japendi. 20Faisal Ismail. Paradigma Pendidikan Islam. Analisis Historis. Kebijakan, dan Keilmuan (Bandung: Rosda Karya, 2. , 14Ae15. Nabawi - Volume 2Nomor 2Maret2022iC170 maksimal agar peserta didik memiliki kecerdasan dan kematangan dalam bertakwa, beriman, dan mengamalkan ilmunya. Sehingga dapat menjadi ilmuan sekaligus praktisi keilmuan Islam yang dialogis dengan perkembangan zaman. Perkembangan zaman menuntut pendidikan Islam bergerak dinamis searah dengan dinamika makna al-hayah . yang memanifestasikannya sebagai al-harakah . yang juga diteruskan menjadi al-barkah . Berkah sendiri memiliki unsur az-ziyadah . ilai tambah dalam hidu. , an-niAomah . enikmatan/kenyamanan hidu. , dan as-saAoadah . ebahagiaan dunia dan akhira. Itulah siklus yang harusnya dijadikan sebagai tujuan pendidikan Islam untuk menghadapi kehidupan yang dinamis. Internalisasi nilai-nilai inilah yang barangkali dikritisi oleh KH. Salahuddin Wahid atau Gus Sholah dengan problem orientasi pendidikan Islam di Indonesia. Pendidikan Islam maupun pendidikan secara umum di negara ini masih berfokus pada nilai-nilai kognisi, di mana angka menjadi patokan utama. Hal itu mengakibatkan pengajaran di dalamnya hanya sampai pada batas menyampaikan . keilmuan dari guru kepada peserta didik. Padahal potensi pendidikan tidak hanya sebatas itu, tetapi pendidikan harus berada dalam garis depan pembentukan karakter, moral, dan prilaku manusianya. Maka tidak heran apabila perbuatan korupsi dilakukan oleh mereka yang justru berpendidikan tinggi. Itulah yang menjadi salah satu kegagalan internalisasi nilai-nilai dalam pendidikan di Indonesia, termasuk pendidikan Islam. Dari semua tujuan di atas, ada tiga poin penting dalam tujuan pendidikan Islam. Pertama, membentuk sikap hubungan yang seimbang dan selaras antara hamba dan Tuhannya. Kedua, membentuk hubungan yang seimbang dan selaras antar masyarakat. Ketiga, mengembangkan kemampuan untuk menggali, mengelola, dan 21Muhammad Zaim. AuTujuan Pendidikan Perspektif al-QurAoan Dan Hadis (Isu Dan Strategi Pengembangan Pendidikan Isla. ,Ay Muslim Heritage 4, no. Desember https://jurnal. id/index. php/muslimheritage/article/view/1766. Muhaimin. SutiAoah, dan Nur Ali. Paradigma Pendidikan Islam. Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. , 39. 23Muhammad Rosyidin dan Imron Arifin. AuIntegration of Islamic and Indonesian Education in the Perspective of KH. Salahuddin Wahid,Ay Jurnal Pendidikan Agama Islam 18, no. Desember 2. : 239Ae40, https://doi. org/10. 14421/jpai. 171 iCMA Rosyidin & ML Mukti Ae Tujuan Pendidikan memanfaatkan kekayaan alam yang diciptaan Allah SWT. kesejahteraannya dan kepentingan beribadah kepadaNya. Dari ketiga hal tersebut, muaranya adalah beribadah kepada Allah SWT. PEMBAHASAN Hadis-Hadis tentang Tujuan Pendidikan Sebelum menuju pada proses analitis deskriptif dalam menentukan tujuan pendidikan Islam yang bersifat substantif, penulis sajikan beberapa hadis pendidikan yang menjadi landasan utama dalam merumuskan tujuan pendidikan yang terdapat pada kitab kutub altisAoah. Adapun beberapa hadis yang dimaksudkan sebagaimana Hadis Pertama Rasulullah SAWa bersabda: aa a e a a a ea a e ae e a e a a a A A aO u aAUA a a aU aaUa eO a ao aU a Ua eO a e ao a UUaA:AaEA A"! U A#a A A s AU Ue a a c a UA u a e a a a AA A aoA,-AO eA0A aA Artinya: AuDari Abdullah bin MasAoud Ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: AuJadilah orang yang alim, atau orang yang mencari ilmu, atau orang yang suka mendengarkan ilmu dan jangan menjadi orang yang keempat, yaitu orang yang merusak ilmu . erbuat kerusakan dengan ilm. Ay (HR. ad-Darim. Hadis ini memiliki 3 . periwayatan yang semuanya ada di Sunan al-Darimi, satu di antaranya . aAoi>f, dan dua lainnya mauquf namun dengan redaksi yang berbeda-beda. Dua redaksi lain yang berbeda dari riwayat al-Darimi akan dipaparkan sebagaimana berikut. Pertama, hadis dalam Sunan ad-Darimi pada mukadimah bab Pengembaraan Ilmu yang bertaraf . aAoi>f. Hadis ini diriwayatkan dari Abdullah bin MasAoud dari jalur Qabishah dari Shufyan dari AthoAo ibn Saib dari Hasan. Dalam riwayat tersebut hanya terdapat tiga orang yang berhadapan dengan ilmu, yaitu orang yang berilmu, orang yang Arifin. Filsafat Pendidikan Islam, 121. 25Abdullah bin Abdurahman bin al-Fadhl bin Bahram bin Abdullah Abu Muhammad ad-Darimi. Sunan ad-Darimi. Jus. No. 254 (Riyadh: Dar al-Mughni, 2. , 313. 26 Hadis ini diriwayatkan oleh al-Baih. qi dalam musnad-nya. Beliau tidak masuk dalam sembilan penyusun kitab hadis yang paling kredibel (Kutubu At-TisAoa. Nabawi - Volume 2Nomor 2Maret2022iC172 menuntut ilmu, dan orang yang suka mendengarkan ilmu, tanpa menyebut orang yang mencintai ilmu. Kata yang dipakai juga menggunakan gada-yagdu-ughdu, bukan ka<>na-yaku>nu-kun sebagaimana dalam periwatan al-Baihaqi. Kata ugdu memiliki arti AumenjadiAy tapi lebih ke arah AuberkembangAy sehingga berindikasi pada proses pengembangan. Kata ka>na bermakna AumenjadiAy, tetapi menunjukkan gerakan yang lebih statis. Hadis ini memang . aAoi>f, namun untuk fad. >il al-aAoma>l . eutamaan ama. , para ulama sepakat memperbolehkan pengamalannya. Hal ini juga dijelaskan oleh an-Nawawi dalam kitabnya yang lain, al-A. kar dengan kalimat Aupara ulama istihbab . beramal dengan hadis . aAoifAy. 29 Hafid Hasan MasAoudi lebih menganjurkan untuk berhati-hati dalam menggunakan hadis . aAoi>f. Boleh beramal dengannya, asal kelemahan hadisnya tidak keterlaluan, apalagi jika ada riwayat yang lebih baik derajatnya. Pada riwayat kedua, masih dalam Sunan Ad-Darimi, pada bab Aukeutamaan ilmu dan ahli ilmuAy. Hadis ini memiliki kedudukan mauquf dengan keterangan bahwa rija>l al-hadisnya . ara periwayat hadisny. berstandar tsiqqah . Kualitas . iqqah berada di atas . Hadis ini diriwayatkan dari Abdullah bin MasAoud dari jalur Abul Mughiroh dari al-AuzaAoi dari Harun ibn Riab. Redaksi matan dalam hadis riwayat ad-Darimi yang kedua ini, memiliki redaksi yang cukup berbeda, ea a a 8a A aAUA" a! a aU e aA# a AaU e aU ee ec a e aUA Aa aA4 A aOAUA a a aU aaUa eO a ao aU a UaA: AaI a ao aEA aAs A a a a a a Aa a e a a a a a a e a a a a U a e aa a a a e a a a e a a a A JKa AoA:Aa a a a A,-AC aA:AI U aUui ABa A OAUAADAI ao aFAI ao u e aOI a cAFAaea cA a AA a a e a a c a ae e A aa aca OA a A aU aA Artinya: AuDari Abdullah Ibn MasAoud Ra. ia berkata. AoJadilah orang yang alim, atau orang yang mau belajar ilmu, dan jangan menjadi orang yang berada di antara keduanya. Maka, sesungguhnya yang Lihat: al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, (Beirut: Dar al-Kutub al-AoIlmiyah, 2. Vol. 11, 66. Muhyiddin Abu Zakariyah Yahya ibn Syaraf an-Nawawi, al-AoArbaAouna anNawawiyah (Jeddah: Dar al-Minhaj li an-Nasyr wa at-TauziAo, 2. , 43. 29Muhyiddin Abu Zakariyah Yahya ibn Syaraf an-Nawawi, al-Adzkar al-Muntakhabah min Kalami Sayyidi al-Abror (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah, 2. , 36. 30Hafidz Hasan MasAoudi. Minhatu al-Mughits fi AoIlmi Musthalah al-Hadis (Surabaya: Maktabah Muhammad ibn Ahmad Nabhan wa Auladih, t. ), 10. 31ad-Darimi. Sunan ad-Darimi. No. Juz 1:36. 173 iCMA Rosyidin & ML Mukti Ae Tujuan Pendidikan berada di antara keduanya adalah orang yang bodoh. Dan sesungguhnya malaikat membentangkan sayap-sayapnya bagi orang yang menginginkan ilmu dari kerelaan dengan apa yang ia perbuatAy (HR. ad-Darim. Dalam riwayat kedua ini, hadis tersebut menggunakan redaksi yang lebih panjang dan kompleks. Namun, hanya menyebutkan 3 . orang saja yang berhubungan dengan ilmu, yaitu yang benar-benar berilmu, yang sedang belajar ilmu, dan orang yang memang tidak berilmu atau bodoh. Tidak menyebutkan orang mendengarkan ilmu, orang yang mencintai ilmu, dan yang merusak ilmu. Sementara hadis ketiga dalam Sunan ad-Darimi pada bab Keutamaan Ilmu dan ahli ilmu, masih dari Ibn MasAoud namun dari jalur al-Mualla ibn AsAoad dari Sallam yaitu anak dari Abu MuthiAo, dari Abu Hazhaz dari Dhohhak. Hadis ini juga bertaraf mauquf dengan periwayatnya semuanya . walaupun sanadnya yang terputus . 32 Hadis tersebut berbunyi: a a c a Aa a a a A aDA ae aa a aAQa Fe A aO AUA a a aU aaUa eO a ao aU a UaA: A" a! a aU e aA#a A aA s AaE U ee a ec a e aUA a a Artinya: AuAbdullah ibn MasAoud ra. AuJadilah orang yang berilmu atau orang yang mencari ilmu, dan tidak ada yang lebih bagus dalam hal ini kecuali kedua orang ituAy (HR. ad-Darim. Hadis tersebut hanya menyebutkan dua juga, yaitu orang alim dan orang yang belajar ilmu. Juga tidak menyebutkan perbandingan dari keduanya, seperti orang bodoh atau orang yang merusak. Hanya saja dia menyebutkan bahwa selain kedua jenis orang tersebut, tidak ada yang melebihi kebaikannya. Dua hadis terakhir di atas memang tergolong lemah, sudah mauquf, munqathiAo pula. Mauquf merupakan hadis yang disandarkan kepada seorang sahabat atau sekelompok sahabat, bukan kepada Rasulullah SAW. baik sanadnya mutta. il atau munqathiAo. 34Mutta. il jika sanad dari awal hingga akhirnya tersambung tanpa ada yang hilang atau terhapus. Apabila terhapus baik di awal, 32 Lihat: MarAoi ibn Yusuf al-Karmi. Al-Fawaid al-MaudluAoah fi al-Ahadith alMaudluAoah, (Beirut: Dar al-Waraq li al-Nashr wa al-TauziAo, 2. , 122. 33ad-Darimi. No. 349 Juz 1:359. 34Abu Hafsh Mahmud ibn Ahmad Thahhan. Taisir Mushthalah al-Hadis (Jeddah: alHaramain, 1. , 130. Nabawi - Volume 2Nomor 2Maret2022iC174 akhir, maupun pertengahan sanad, maka disebut munqathiAo. Sementara dua hadis di atas, termasuk munqathiAo. Menurut para ulama hadis mauquf tidak bisa dijadikan hukum berhujah, karena ia bukan termasuk hadis Rasulullah, melainkan perkataan, perbuatan, atau ketetapan dari sahabat. Akan tetapi, hadis mauquf mampu menguatkan hadis-hadis . ai>f dan berasal dari para sahabat yang masih terjaga dalam beramal mengerjakan sunnah. Kecuali terdapat indikasi hukum marfuAo, yaitu hadis yang disandarkan kepada Nabi SAW. baik penyandarannya itu mutta. il atau munqat. Ao. Mauquf merupakan atsar sahabat, sedangkankan marfuAo merupakan khobar . Hadis Kedua Hadis kedua ini sangat masyhur di kalangan umat Islam. Bahkan menjadi jargon di kalangan pelajar untuk memupuk semangat dalam belajar. Hadis ini merupakan pesan Rasulullah SAW kepada umat Islam bahwa siapa yang dikehendaki oleh Allah SWT. kebaikan, maka mereka akan tafaquh fi al-din. Terdapat beberapa riwayat dengan isnad dan matan yang berbeda-beda dalam hadis ini, namun mengandung makna serupa. Tiga hadis diriwayatkan oleh Imam Bukha>ri> dalam Shahihnya. Hadis pertama tersebut berbunyi lengkap: Aa a a aea e a ae e a a e a a a aa a U aa a a e a A a A AXYA A a !A[ A a A a aUnA: A oEA- A aEeaA- AiATA aUn U aaOA: AaE c Ue a aA a a Ac a A AA a c aa ea aAe a A a aa a a a A UA eU aEa a A aOAUAa UA a J\a A i ao . AQU FA " a a a ac a A: AU e a O a oEA a A aa a ABa A OAUA aA a e a e a a a a ea a a U aa a A Aa a a a e a e a a a a e a a a e a A AO A a A A4a A EAghA a. ADA AAU a A e aAXYA a a i a aU ai UAD AEA Artinya: AuHumaid ibn Abdirrahman berkata bahwa ia mendengar MuAoa>wiyah saat menjadi khatib berkata bahwa ia mendengar Nabi SAW. bersabda: AoBarangsiapa yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan kebaikan maka dia akan dipahamkan dalam hal agama. Dan Sesungguhnya aku adalah pembagi . , sementara Allah lah yang menganugerahkan. Dan . umat ini (Isla. berpijak pada perintah Allah, orang-orang yang berselisih dengan mereka tidak akan Thahhan, 77. 36MasAoudi. Minhatu al-Mughits fi AoIlmi Musthalah al-Hadis, 14. 37Thahhan. Taisir Mushthalah al-Hadis, 129. 38Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Barduzbah Al-JuAofi al-Bukhari. Shahih al-Bukhari Juz 1. No. 71 (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah, 2. , 25. 175 iCMA Rosyidin & ML Mukti Ae Tujuan Pendidikan membahayakan mereka hingga perintah Allah datang . Ay. (HR. Bukha>ri>) Hadis ini diriwayatkan dari MuAoa>wiyah bin Abi Sufyan melalui jalur SaAoi>d ibn AoUfair dari Ibn Wahb, dari Yunus, dari Ibn Syihab, bahwa Humaid ibn Abdirrahman mendengar MuAoa>wiyah mengutarakan hadis tersebut saat menjadi khatib. Terlihat dari dimuatnya hadis ini (S. hi>h Bukha>r. , tentu memiliki derajat S. hih dan valid berasal dari Rasulullah sesuai dengan kesepatakan para ulama. Hadis riwayat Imam Bukha>ri yang selanjutnya juga dari Humaid bin Abdirrahman dari MuAoawiyah bin Abu Sufyan, namun dengan Isnad dan matan yang sedikit berbeda. Sanadnya Hibba>n mengambil dari Abdullah dari Yunus dari az-Zahri dari Humaid ibn Abdiirahman dari MuAoawiyah ra. Hadis tersebut a berbunyi: a A a a a a a a a a a a a a a a a A e AaU e a a e ec aU ee A A a aU e aAXYAA a a a a A aE EA: Ai aEATA aO U aaOAU A a aA aA aO a aa eoAUA aO a eUa eUEAUAA c J\ A a ai co . aAQU Fe A " a e a a c aA: AaO a aA aA aOa a aEAUAa aA aa aa a a a a a e a a ae a a a e a a Aa a a a e a a a a e a a a e a A AOIADA N aDA a OA4a A EAghA a. AXYA UATA aADA a a i N aDa Artinya: AuDari Humaid bin Abdirrahman bahwa ia mendengar MuAoawiyah berkata bahwa Rasulullah SAW. AoBarangsiapa dikehendaki oleh Allah SWT. kebaikan dia akan dipahamkan dalam Allah-lah yang menganugerahkannya, sementara Nabi SAW. lmu it. Dan umat ini (Isla. akan terus menang atas orang-orang yang menentang mereka sampai datang perintah Allah . sementara mereka menangAy (HR. Bukha>ri>). Hadis ketiga yang serupa diriwayatkan oleh Imam Bukha>ri> dan sama-sama diriwayatkan dari Humaid ibn Abdirrahman dari MuAoawiyah ra. tetapi dari jalur IsmaAoil ibn Wahb dari Yunus dari Ibn Syihab dari Humaid dari a MuAoawiyah. Hadisnya berbunyi: a A a ei aAnA ai ec a ATa A a eU an a aUaOA: AaEA a A aAUAaI a e aE a a A aAU A a a e UAoQa a pa A eAU AaU ec a . aA : AaEA a a c J\ A a ai co . aAQU Fe A" a e a a c aA: A a aU a e aO a a a ao aEAXYA A Aa eU an A a !A[ A aA aABA aOAUAA a a aa a a a a a 39Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Barduzbah Al-JuAofi al-Bukhari. Shahih al-Bukhari Juz 2. No. 3116, (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah, 2. , 143. Nabawi - Volume 2Nomor 2Maret2022iC176 a a a A a a a e a a a a e a a e a a e a U a a a a A a aa ghA eO a AUAaUiA A oI AghA a a ai o aoa AD A O E AU A eU aEAta Aa a a U aOA a e Aa a e a A a A A4a AEA Artinya: AuDari Ibn Syihab mendapatkan khabar dari Humaid, ia berkata. AoAku mendengar Muawiyah ibn Abi Sufyan Khutbah dan berkata. AoAku mendengar Nabi SAW bersabda. AoBarangsiapa yang dikehendaki oleh Allah mendapatkan kebaikan, dia dipahamkan tentang agama. Sesungguhnya aku adalah pembagi, sedangkan Allahlah yang menganugerahkan. Dan tidak akan berpaling umat ini berpijak . ada perintah Alla. hingga hari kiamat. Atau ketika perintah Allah datangAy (HR. Bukha>ri>). Hadis selanjutnya dari Imam Muslim dalam Shahih-nya dalam bab an-Nahyu Aoan al-MasAoalah . elarangan terhadap sesuatu masala. Hadis tersebut juga diriwayatkan dari MuAoawiyah ibn Abi Shufyan dari jalur Abu Bakar ibn Abi Syaibah dari Zaid ibn Hubbab dari MuAoawiyah ibn Shalih, dari RabiAoah ibn Yazid ad-Dimasyqi dari Abdillah ibn Amir al-Yahshabi bahwa ia mendengar MuAoawiyah berkata: a a a a a A a e a a a a U a a ae a a A AA Ae A a AA A a aU AJ\a a AaI aA8 A e aOI UAUA U] a UAJ\a AaIA8 A O aao au auaAUAauauA a Aa a a e a a a a a A AA A uAQU FA " a a a a ac a A: A a a ao aEADa A a aU e a aO a a aOAXYAA a A aUn EAUAOA UAa a e a a a aE a a a a e a a a a a aE a a a a IA c J\ Aa ai co . aA U A " aua a a: A U a O oAXYA O aUn a A. " A aA a a a aIA8a A aO a e a eU aE e ao a aU e a e aE ai aO a a uAUAae a e a eU aE e ao a aU e Ea a ei u ae a ae a aE a a eA a a a a a Aa A a a e a a a a a a AeOAa A OA8Aa aO EA8 Artinya: AuBagi kalian beberapa hadis kecuali hadis yang ada pada zaman Umar. Sesungguhnya Umar menakut-nakuti orang-orang atas tentang Allah AoAzza wa Jalla. Aku mendengar Rasulullah SAW. AoBarangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan dia akan dipahamkan tentang agama. Dan Aku juga mendengar Rasulullah SAW. AoSesungguhnya aku hanya seorang yang menyambung lidah . enyampai ilm. Maka barangsiapa yang aku memberinya . dari kebaikan seseorang, maka Allah memberkatinya. Dan 40Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Barduzbah Al-JuAofi al-Bukhari. Shahih al-Bukhari Juz 4. No. 7312, (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah, 2. , 187. 41Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi anNaisabury. Shahih Muslim Juz 2 No. (Bandung: CV Diponegoro, t. ), 718. 177 iCMA Rosyidin & ML Mukti Ae Tujuan Pendidikan barangsiapa yang aku memberinya . dari masalah dan kerakusan, ia seperti orang yang makan tapi tidak kenyang-kenyangAy (HR. Musli. Dan ada beberapa riwayat dari imam Muslim lain, juga ada dari ad-Darimi, at-Tirmidzi. Imam Malik. Ibn Majjah, dan Imam Ahmad dalam kitab hadis masing-masing. Semua hadis tersebut memiliki derajat shahih, kecuali riwayat ad-Darimi yang diklaim . aAoi>f yang letak kelemahannya ada pada Abdullah ibn Shalih. Namun hadis tersebut menjadi kuat karena Muttafaqun Alaih, yaitu disepakati oleh dua muhadi. Imam Bukha>ri> dan Imam Muslim. Hadis tentang tafaquh fi> ad-di>n sebenarnya menafsiri ayat alQurAoan surat at-Taubah ayat 122: a 8a AaO a c X\ A e aE a ai Ui c a ao ai o . eA,a Ae A c e e ai cA8a A a e Ui ae a ea a ai a eA8a AaI eUa eI a e aI a ei a eOA A e aA a a a A a a a a s a a a Ae a a A A e aU . e a e a eO aIA,a Ie AaOa a e a a eO e a . e a a a aU e aA Artinya: AuDan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semua pergi . e medan peran. Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembai agar mereka dapat menjaga dirinyaAy (QS. At-Taubah:. Dalam Tafsir Jalalain, disebutkan bahwa tidaklah semua orang ikut berjuang jihad dengan berperang, namun di antara umat Islam ada yang fokus pada pendidikan, untuk mengajarkan ilmu-ilmu tentang hukum-hukum . 42 Ibn Katsir menjelaskan bahwa ini khusus bagi perang sariyah . erang yang tidak diikuti oleh Rasulullah SAW). mereka yang tidak berangkat diminta mengajar orang-orang yang tidak ikut perang, dan mengajar mereka yang ikut perang jika telah kembali. 43 Ini merupakan awal mula di mana Rasulullah memerintahkan pendidikan secara masif kepada para sahabat agar pergi ke negara-negara yang ditaklukkan untuk mengajarkan agama. Ibn Abbas dalam riwayat al-Kalby, menjelaskan bahwa ayat ini turun ketika aib orang-orang munafik terdeteksi dalam perang Tabuk. Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk berperang secara sariyah . idak bersama Nabi SAW). Namun, semua orang berangkat 42Jalaluddin Muhammad ibn Ahmad al-Mahally dan as-Suyuthi. Tafsiru al-QurAoani al- AoAdzim (Surabaya: Nurul Huda, t. ), 170. 43Abu FidaAo Ismail Ibn Umar Ibn Katsir al-Qurasyi ad-Dimasqi. Tafsiru al-QurAoan al- AoAdzim Juz 2 (Kairo: Dar al-Fajr li at-Turats, 2. , 590. Nabawi - Volume 2Nomor 2Maret2022iC178 berperang dan meninggalkan Nabi SAW. Seharusnya ada beberapa orang yang duduk bersama Rasulullah dan mendiskusikan keilmuan, seperti al-QurAoan, hadis, faraidl, hukum-hukum dll. Ketika para pasukan sariyah datang, hasil belajar itu bisa disebarkan kepada 44 Islam membutuhkan pemerataan pendidikan, yang pada satu titik nanti tidak hanya bergantung pada Rasulullah. Penyebaran jangkauan pendidikan ini, diperlukan agar para sahabat menjadi agen profetik menggantikan Rasulullah sebagai ulama yang mewarisi tugas dakwah dan pendidikan. Az-Zamakhsyari mencoba menafsiri dengan cara berbeda. Bahwa tidak mungkin semua orang dalam kelompok tertentu fokus pada keilmuan secara kaffah. Namun, jika memang memungkinkan semua dapat fokus pada keilmuan dan tidak menimbulkan mafsadah, maka wajib untuk tafaquh fi> ad-di>n, karena hakikatnya umat Islam wajib menuntut ilmu. Tetapi apabila tidak memungkinkan dan juga tidak mendatangkan maslahah . ika semua fokus keilmua. , maka sebagian saja tidaklah masalah. Karena bagi az-Zamakhsyari, menjadi orang yang berproses dalam keilmuan ansich adalah suatu perkara yang susah, ada konsekuensi beban yang harus ditanggung untuk ambil bagian dan menghasilkan. Hadis Ketiga Hadis selanjutnya tentang tujuan pendidikan Islam adalah hadis tentang menempuh jalan ilmu mendapat garansi masuk surga oleh Allah. Hadis tersebut terdapat 3 . Pertama adalah riwayat at-Tirmidzi dalam Sunan-nya. Hadis tersebut berbunyi: a AaE a a aE A a A aA: AaEA a A a a aATeA aADa AAnAaU e A a Aoa a e ao aATU A " a e a a ao aEA: A a aU a e a aO a aAXYA A AA Aa a a a a a U a e a A AA aiAeA AXAAoa auATAae a aUa u ] E aA Artinya: AuDari Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW. bersabda: AoBarang siapa menitih jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surgaAy (HR. at-Tirmidz. Abu Muhammad Husain ibn MasAoud al-Baghawi. Tafsir al-Baghawi al-Musamma bi MaAoalimi at-Tanziil Juz 2 (Kairo: ad-Dar al-Alamiyah, 2. , 363. 45Abu al-Qasim Mahmud ibn Umar az-Zamakhsyari, al-Kasysyaf an Haqaiq at-Tanzil wa AoUyuni at-TaAowil fi Wujuhi at-TaAowil Juz 2 (Kairo: Dar al-Hadis, 2. , 298. 46Abu Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurah at-Tirmidzi. Sunan at-Tirmidzi. No. (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah, 2. , 624. 179 iCMA Rosyidin & ML Mukti Ae Tujuan Pendidikan Hadis ini asalnya berisnad hasan, karena ada salah satu rawinya, yaitu Imam Sulaiman bin Mihran al-AAomasy yang terkenal tsiqqah . namun juga masyhur rawan melakukan tadlis . eriwayatkan hadis tanpa menyebutkan sanadny. , dengan menggugurkan perawi dhaAoif . ibarat berbicara sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah tapi tanpa memberitahu sumbernya secara sempurnya. Hal itulah yang membuat hadis ini menjadi hasan Namun ada hadis lain yang membuat hadis ini menjadi shahih lighairihi . hahih karena ada periwayatan lain yang serupa dan shahi. Artinya, secara Isnad . ia hasan, namun, hukum hadisnya menjadi shahih. Salah satu hadis shahih yang serupa dengan hadis di atas, ada hadis panjang di bawah ini: a a e A AnA au e an aa Ua U e a A: AaEA a A aAU A ec a eAAQFAaU e au auA UA a eA aA a a a an eE aa a a UAJ\a A e a aA a a a a A aa a aca A: AaEA a A a ai a aE A: A a a eA ao ao a eUa aiAUA e a aA aA a aU a e aO a AXYA A a Aae aoA a a a a a a a a a a a a a a a a c a a c a a aae a a A A a a aUA e aa a aa ac aoA: AaEA A A. A U a OAXYAo ca aAy! o a ac a U a a[ a! A s AAo aAea a a a a a a ea a a a aa a a a a a a A AXYA A a A a eU an a a aE Aoc A aeOA: AaEA A AQFA O a aco aA: A aEA. A A: A aEA a a a A A. A A: AaEA ea a U a a a a Ae U a a A AA a Aoa ao aATU A " a e a a ao aEA: AaU a e a aO a a a ao aEA UAA aiAeA AXAAoa auATA ae a aUa ] E aA a a ea e a e e a a Ae e a A a U a a a e a a a a a a a aa e Aa A J\a Aoa ai Aa AI E a aU aABa A OAUAa aa aE aa aa aU aA,-AI U aUui oAO aABa AOA ae a a AA e e a a a e aa a e a e a Aea a A e AA AA a ao a aA A U aac a uiAXYAI eA U aa a UABa A OAUA U aJ\a A aAo ao aaIAeA AghA a AUAA a A aa OA A UaADA aa c au a Ua O a eA:a A auI AUA a:a A Oui AD A auI U a aUA aa aU a u a au aXYAaUA a a a a a a a e e a Aau aa aO u aU a e a e a ac a sI aO ae sA Artinya: AuDari Katsir ibn Qais berkata. AoAku telah duduk di samping Abu DardaAo ra di Masjid Damaskus. Datanglah seorang laki-laki dan bertanya. AoWahai Abu DardaAo, aku telah datang dari Madinah, kota Rasulullah SAW, untuk untuk sebuah hadis yang disampaikan Sesungguhnya engkau menyampikan hadis dari Rasulullah SAW. Lalu Abu DardaAo bertanya. AoApa yang membawamu ke sana? Berdagang?Ao. Lelaki itu menjawab. AoBukanAo. Abu DardaAo bertanya lagi. AoLalu apakah tidak ada orang yang membawamu?Ao. ia menjawab AoTidakAo. Abu DardaAo berkata. AoAku mendengar Rasulullah SAW bersabda. AoBarang siapa menitih jalan untuk mencari ilmu, maka Allah 47Thahhan. Taisir Mushthalah al-Hadis, 51. 48Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah ar-RabiAoi al-Qazwini. Sunan ibn Majjah. No. 223, (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah, 2. , 49. Nabawi - Volume 2Nomor 2Maret2022iC180 akan memudahkannya jalan menuju surga. Dan Sesungguhnya malaikat sungguh melatakkan sayapnya secara suka rela bagi pencari Sesungguhnya pencari ilmu itu, dimintakan ampun kepada Allah baginya, oleh para penghuni langit dan bumi, hingga ikan-ikan di Dan sesungguhnya keutamaan ahli ilmu atas ahli ibadah seperti keutamaannya bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan hanya merawiskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambil ilmu itu, ia mendapatkan dengan bagian yang besarAy (HR. Ibn Majja. Hadis di atas, dihukumi Shahih. Secara isnad lebih baik dari pada hadis riwayat at-Tirmidzi sebelumnya. Bahkan secara matan juga lebih lengkap dan panjang. Hadis ini juga dimuat ulang oleh asSamarqandi dalam kitabnya yang meringkas beberapa hadis penting sebagai tanbih . eringatan/penginga. agar tidak lalai. Dalam versi yang lebih pendek dan ringkas juga ada hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Musnad-nya pada bagian AuMusnad Abu Hurairah raAy yang merupakan ruang khusus untuk hadis-hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Hadis itu a AAnA aU e AU A aU e eU aAU a ac ac euAQa pa A eAU Aa au aa e e a a ec a aUaA AAna A aU e AU s eA a sa ea U a a a a a e a a Aa ae a a a a a a a a a a a a a e a a A Aoa o a ae aATA " o E aA: A U a OAXYA aE E a A: A aEAU AATAAD u Aa a a a a a U a e a A AA aiAeA AXAAoa auATA ] E aAUAaU UaA Artinya: Aual-Aswad ibn Amir meyampaikan kepadaku. Abu Bakar mengabarkan dari al-AAomasy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda. AoBarangsiapa yang menitih jalan mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surgaAy (HR. Ahma. Hadis ini, juga melalui satu nama dalam sanadnya yaitu alAAomasy yang di atas sudah peneliti singgung sebagai perawi yang tsiqqah tapi suka melakukan tadlis. Dalam keterangan Imam Ahmad, 49Nashruddin Muhammad ibn Ibrahim as-Samarqandy. Tanbih al-Ghafilin bi Ahadis Sayyidi al-AnbiyaAoi wa al-Mursalin. No. 8316, (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah, 2. , 50Abu Abdillah Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal ibn Hilal ibn Asad asy-Syaibani. Musnad Imam Ahmad ibn Hanbal Juz 14 (Beirut: Muassasah al-Risalah, 2. , 66. 181 iCMA Rosyidin & ML Mukti Ae Tujuan Pendidikan hadis itu disebutkan AuSanadnya shahih sesuai dengan syarat Imam Bukha>ri>Ay. Hadis Keempat Hadis keempat yang berhubungan dengan tujuan pendidikan terdapat pada hadis tentang kesucian bayi yang lahir, di mana ia bisa saja mengarah ke agama tertentu tergantung orangtua mereka membawa ke mana. Islam. Yahudi. Nasrani, atau kepada agama-agama Tergantung pendidikan yang diterima sebagai rangsangan keyakinan yang dianut. Ada beberapa riwayat hadis tersebut, dua di antaranya ada di dalam Shahih Muslim riwayat dari Abu Hurairah ra. Hadis tersebut berbunyi: Aa ae a a a a a a a a a a a a a a a a a e a a a a e a e a A e a A auA s A " a a A: A U a OAXYA aE E a A: AaI oEA8 A ATAAD AAna AU A a e ea a c A aATa A aOAUA c aA,a a A ae aE ac a aAUA ei eE aAXYa Aa a a aUA A aiA,a ea A aiA,a Aa A ao a AA u aa AUA a a c aa a aATa A aOAUA a a aA aa a a a e e a a e a a a ea a aa a a a Aa e a a a e a a a e a e a a a A } : Aoa OO auI aA: AATAAD Aa a Ua " u oE cA,IA aI aeAD U AUaA Ae a a a a a aea a a e a a e A u aA eAaiAU{ a A anAAea Aa e aA,IA! eE a a UAha AaeE a a A Artinya: AuDari Abu Hurairah ra sesungguhnya ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda. Aotidaklah bayi itu dilahirkan kecuali dalam keadaan suci. Maka orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi. Nasrani. Majusi, sebagaimana hewan yang melahirkan hewan yang sehat, apakah engkau melihatnya terputus hidungnya?Ao. Kemudian Abu Hurairah AoBacalah ayat,AyFithratallahi. Ay (HR. Musli. Hadis tersebut di dalam Shahih Muslim bab AuMakna setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan suciAy. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari jalur Hajib ibn Walid, dari Muhammad ibn Harb, dari az-Zubaidi, dari az-Zuhri, dari Said ibn Musayyab dari Abu Hurairah ra. dalam versi lain di Shahih Muslim dengan redaksi matan yang sama diriwayatkan oleh Abu Bakar ibn Abu Syaibah dari Abdul AAola, dari Abdullah ibn Humaid, dari Abdurrazzaq, keduanya dari MaAomar dari az-Zuhri. Namun ada sedikir perbedaan redaksi matan di akhirnya, dengan redaksi: a e ea a ae a U A a e aUaA: A aO e au eAU" A aiA,a ea A aiA,a Aa A ao a AAu aa A u a 51Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi anNaisabury. Shahih Muslim Juz 4. No. , (Bandung: CV Diponegoro, t. ), 2047. 52an-Naisabury, 2047. Nabawi - Volume 2Nomor 2Maret2022iC182 Artinya: AuSebagaimana hewan melahirkan dalam keadaan sehatAy. Dan tidak menyebutkan kata AujamAoaAo . ehat/lengkap organny. Ay. Di dalam Shahih Muslim juga ada hadis lain yang serupa, yaitu hadis dari Abu Thahir dari Ahmad ibn AoIsa, keduanya mengaku mendapatkan keterangan dari Ibn Wahb, dari Yunus ibn Yazid, dari Ibn Syihab, dari penjelasan Abu Salamah yang mendapatkan hadis tersebut dari Abu Hurairah ra. Hadis ini tidak menyebut redaksi tentang orangtua yang menjadikan seorang bayi beragama apa. Hadis tersebut a a a a A a a ae a a a a a a a a a a a a a e a a a a e a e a A XYA au a a aUA s A " a a A: A U a OAXYA aE E a A: A aEAU AATAAD AI caA e e a a e a a aea a a Ae a a a a a A AA Aa e aA,IA! eE a UAha A } aeE a A: A a aOA: A u a ao aEA. " A aiE a aA a A anAAea AA a a u a c a e a c { A o aA a A aoA Artinya: AuSesungguhnya Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: AoTidaklah seorang bayi dilahirkan, selainkan dalam keadaan suciAo. Kemudian Abu Hurairah berkata. AoBacalah ayat AoFithratallahi. Ay (HR. Musli. Hadis-hadis riwayat Imam Muslim tentu saja tidak bisa diragukan keshahihannya. Sebagai perbadingan periwayatan dari kitab lain yang masuk dalam kategori Kutub At-TisAoah . embilan kitab hadis Salah satunya ada dalam Musnad Ahmad karya Imam Ahmad bin Hanbal. Dalam kitab itu ada hadis serupa dengan redaksi yang lebih lebih panjang: a a Aa ae a a a a a a a a a e a a a a a a e a e a A e a XYA au a a aUA s A " a a A: A U a O aEAXYA I E a AU AATAAD AAna AU A Ae e a a a a a aa a a A a ea a ea a c A a eO a aAUA c aA,a a A aIA A eADa UA aU aau eAoA ao aI AA a a a u aa A A uI cAghA AUA aiE aA aa a a a a A e ADa A eE e aA: AaE a a UA a A A. " Aa A,a AA a au o e e aU aAghAa a e aU aa a A,Ia Aa au aI aeA " : AaEA a a u a a a a A a a A a A aA. " AIAFa A aa aU aa aA8a Aa eU a a c a U Ae AaE aA aTOAaI aA8 A aa aO a ao auA: AA Artinya: AuDari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: AoTidaklah bayi yang dilahirkan itu melainkan dalam keadaan suci hingga orang tuanya menjadikan mereka Yahudi. Nasrani, sebagaimana hewan-hewan melahirkan. Apakah hewan-hewan itu 53an-Naisabury, 2047Ae48. 54asy-Syaibani. Musnad Imam Ahmad ibn Hanbal Juz 14. No. 8562, 233. 183 iCMA Rosyidin & ML Mukti Ae Tujuan Pendidikan kurang telinganya . , hingga kalian memotongnya?Ao. Lakilaki itu berkata. AoDimana mereka?Ao. Rasulullah SAW menjawab. AoAllah lebih mengetahui terhadap apa yang dilakukan merekaAo. Qais berkata. AoDia tidak tahu lelaki tersebut kecuali bahwa ia adalah orang-orang qadariyahAy (HR: Ahma. Hadis Imam Ahmad di atas, diriwayatkan dari Abu Hurairah dari jalur Affan, dari Hammad ibn Salamah, dari Qais, dari Thawus, dari Abu Hurairah ra. Hadisnya memiliki derajat sanad yang shahih sesuai dengan standar Imam Muslim. Standar yang dimaksud adalah kesahihan sanad. Antar perawi harus ada AuImkan al-liqaAy memungkinkan pertemuan di antara mereka. Artinya tidak perlu bertemu, tapi hidup sezaman, yang memungkinkan mereka sebenarnya bisa bertemu. Sementara standar Bukha>ri>, lebih tinggi, yaitu Au. ubutu al-liqaAy, yaitu keharusan bertemu di antara setiap tingkatan perawi. Untuk itulah S}ahi>h Bukha>ri> oleh para ulama ditempatkan menjadi kitab sumber kedua dalam Islam, setelah Al-QurAoan. An-Nawawi menyebut bahwa isnad dalam hadis al-Bukha>ri> kebanyakan merupakan periwayatan yang interaktif bertemu, misal antara guru dan murid. Memungkinkan penyampaian hadis tersebut tertangkap oleh pancaindra dengan jelas. Menurut Abu Mu'az, konsep kondisi perawi hanya dapat diterapkan pada sebuah hadis yang dinilai sebagai hadis "alasyarth alBukhari-Muslim" atau salah satunya, jika memenuhi syarat sebagai berikut: . Perawi harus merupakan narator sanad, yang juga digunakan oleh Bukhari dan/atau Muslim dalam kitab-kitab shahih masing-masing. Perawi hadis harus al-Bukhari/Muslim sebagai ihtijaj . edudukan hadis al-Usu. , bukan syawahid atau mutaba'at, ta'aliq atau maqrunan. Apakah Bukhari dan Muslim harus hidup berdampingan dengan semua perawi dalam sanad mereka berdasarkan riwayat yang sama dengan Bukhari dan/atau Muslim. Jika setiap narator digunakan oleh Buhari sendiri, beberapa digunakan oleh Muslim. Oleh karena itu, dengan adanya percampuran ini, hadis tidak dapat disebut sebagai syarth al-Bukhari-Muslim atau 'alasyarth. 55Jalaluddin Abdurrahman ibn Abi Bakr as-Suyuthi. Tadribu ar-Rawi fi Syarh Taqribu an-Nawawi (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah, 2. , 64. Syukrillah. AuTeori Ulama Hadis Tentang Syarth Sahih Al-Bukhari,Ay TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Kemanusiaan 2, no. Oktober 2. : 385, https://doi. org/10. 52266/tadjid. Nabawi - Volume 2Nomor 2Maret2022iC184 Untuk itulah, al-Bukha>ri> dan Muslim dianggap sebagai dua orang yang hafidz, terpercaya, terkenal dengan keadilannya dalam meriwayatkan hadis, dan inilah derajat paling utama dalam hadis shahih dan hadis yang memenuhi persyaratan keduanya, jumlahnya tidak sampai 10. 000 hadis. Untuk hasil yang sempurna, mari kita lengkapi dengan riwayat Bukha>ri> dalam Shahih-nya, pada bagian jenazah pada bab Auketika bayi masuk Islam dan mati, apakah dishalatkan?Ay. Redaksi matan pada hadis tersebut sama dengan riwayat Imam Muslim, namun Imam Bukha>ri> menyebutkan asal usul Abu Hurairah menyampaikan hadis tersebut, yaitu Abu al-Yaman mendapatkan kabar dari Syuaib, yang mengatakan bahwa Ibnu Syihab bertaka: AoShalat atas setiap bayi yang dilahirkan lalu meninggal, jika ada tujuan bahwa ia dilahirkan dalam keadaan kesucian Islam yang dituntun oleh orangtuanya menuju Islam terkhusus ayahnya. Jika ibunya nonmuslim, dan bayi tersebut lahir maka boleh dishalati. Janganlah shalat atas bayi yang tidak tampak . idak lahi. , karena ia bayi yang keguguran . eninggal sebelum dilahirka. Ao. 58 Setelah itu, barulah mengutip hadis dari Abu Hurairah yang sama dengan redaksi Imam Muslim di atas. Hadis tentang fitrah manusia yang dilahirkan merupakan manifestasi dari Surat ar-Ruum: 30 yang juga menarik untuk dikaji Allah SWT berfirman: Aae A a a a a a e a e a a ce a eU ea a e a aa A A an a a aoAAea Aa ee a e aA,a Ie Aa aUA A! eE Aha Aea a O]o a a a aia aeE a A o a a Ac e a e a c ao a a e a a A A eU a e aIa Aa A a A AQAA o a O au uA Artinya: AuMaka hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama Islam. sesuai fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia . Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itula. agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinyaAy (QS: arRuum: . Asy-Syaukani dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Aufa aqimAy adalah perintah untuk tidak geser sedikitpun kepada agama yang lain, selain agama yang di maksud dengan ad-Diin al-Hanif . gama yang luru. yaitu Islam. AsySyaukani menerjemahkan kata fitrah itu dalam asalnya berarti 57Abu Bakar Muhammad ibn Musa al-Hazimi. Syuruthu AAoimmati al-Khamsah (Damaskus: al-Qudsi, 1. , 13. 58al-Bukhari. Shahih al-Bukhari Juz 2. No. 1358, 205. 185 iCMA Rosyidin & ML Mukti Ae Tujuan Pendidikan AukhilqahAy atau penciptaan. Namun yang dikehendaki ayat ini menurut asy-Syaukani adalah AumillahAy atau agama. Maka fithratallah bermakna agama Allah tentu saja Islam. Manusia yang di maksud dalam ayat di atas adalah manusia yang diberikan fitrah keislaman oleh Allah. Allah menciptakan manusia dalam keadaan yang fitrah . atak Artinya watak dasar yang diciptakan Allah, diarahkan pada agama yang lurus, yaitu Ad-Diin al-Qayyim . gama yang tega. , agar tidak condong kepada yang lain. Ayat inilah yang kemudian ditafsiri oleh hadis di atas. 60 Di mana kesucian bayi yang dilahirkan, itu mengikuti pada bagaimana orang tua mereka mengarahkan, meluruskan kepada agama Islam sebagaimana fitrah penciptaan Allah. Al-Qurthubi menyebut adanya perbedaan makna fithrah pada konteks ayat di atas. Pertama, mengartikannya dengan AuIslamAy sebagaimana Abu Hurairah. Ibn Syihab, dan ulama-ulama lain yang tergolong ahli taAowil. Kedua, fitrah disini dimaknai suci, dihubungkan dengan hadis Nabi SAW. yang membahas tentang nasib bayi yang meninggal, apakah dia muslim atau nonmuslim. Hukumnya dikembalikan kepada asal mula penciptaan manusia oleh Allah SWT. yaitu menghamba kepada Allah. Bayi yang baru lahir tidak memiliki sangkut paut dengan kekafiran, didasarkan atas kesepakatan ulama soal penciptaan Allah terhadap anak turun Adam as yang berada dalam status fitrah . Ketiga, fitrah dimaknai sebagai al-badaAoah, permulaan kisah seorang manusia mulai dari dilahirkan hingga mati. Tujuan Pendidikan Islam dalam Perspektif Hadis Dari beberapa hadis di atas, peneliti menganalisis ada beberapa tujuan dasar pendidikan Islam sebagai berikut: Membentuk dan Mengembangkan Circle Ilmiah Dalam hadis pertama, disebutkan bahwa Rasulullah menganjurkan kita agar menjadi pribadi yang selalu membersamai Pertama, orang-orang yang melekatkan ilmu dalam diri dan 59Muhammad ibn Ali ibn Muhammad asy-Syaukani. Fathu al-Qadir al-JamiAo baina Fannai ad-Dirayah wa ar-Riwayah min AoIlmi at-Tafsir (Beirut: Dar al-Marefah, 2. , 60Muhammad ibn Jarir ath-Thabari. Tafsir ath-Thabari. JamiAou al-Bayan an TaAowil Ayyi al-QurAoan (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1. , 104. 61Abu Abdillah Muhammad ibn Ahmad ibn Abi Bakr al-Qurthubi, al-JamiAo li Ahkami al-QurAoan wa al-Mubayyinu lima Tadhammanahu min as-Sunnah wa Ayyi al-Furqan Juz 16 (Beirut: Muassasah al-Risalah, 2. , 322Ae23. Nabawi - Volume 2Nomor 2Maret2022iC186 mencermikan ilmu dimanapun ia berada. Sehingga ilmu menjadi karakternya dalam kehidupan sehari-hari. AoAlim merupakan bentuk jamaAo dari ulama yang merupakan warasah . dari para Nabi. KH. Hasyim AsyAoari menyebut bahwa kedudukan yang mulia dan terhormat, tidak ada derajat di atas kenabian. Jika dalam nash shahih sudah diputuskan bahwa tidak ada lagi nabi setelah nabi Muhammad SAW. maka kedudukan mulia itu diestafetkan kepada para ulama sebagai pewaris. Ulama juga merupakan orang khusyuAo sebagaimana dalam al-Fathir: 28. Jika dikaitkan dengan ayat lain dalam surat alBayyinah, bahwa seorang yang beriman dan beramal saleh maka ia disebut sebaik-baiknya makhluk . hair al-bariya. Di akhir surat ini. Allah memperjelas siapa mereka itu, yaitu orang-orang yang khusyuAo, yang dalam surah al-Fathir: 28 disebut sebagai ulama. Sedangkan menurut para ulama, khusyuk adalah kelembutan hati, ketenangan pikiran, penyerahan diri, tangisan hati di hadapan Allah, sehingga segala keangkuhan di hati menghilang. Oleh karena itu, para hamba hanya bertindak menurut perintah Tuhan. 63 Dalam tafsirnya. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa khidmat di sini berarti merendahkan diri di hadapan Allah dan tidak memperdagangkan kitabkitab Allah dengan harga murah. Maka dalam hadis riwayat ad-Darimi di atas, kata Aoalim . mendapatkan porsi di awal, karena merupakan kriteria yang sangat berat. Setidaknya seorang alim itu memiliki kriteria . Amanu . kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasulNya, hari akhir, dan qadha-qadar-Nya, . merupakan orang yang amal saleh, . khusyuAo di hadapan Allah, . , . mampu mengembang tugas estafet profetik, dan . menyebarkan keilmuannya . engamalkan ilmuny. dengan taAolim . dan tarbiyah . Kedua, jika tidak mampu menjadi Aoalim . cukup menjadi orang yang selalu ingin belajar . utaAoalli. Seorang yang belajar dia harus mengosongkan hatinya dari prasangka buruk, penyakit hati seperti iri, dengki, bernaluri kotor, serta terhindar segala sesautu yang mengurangi potensi ia mendapatkan ilmu. Dia harus KH. Muhammad Hasyim AsyAoari. Adab al-AoAlim wa al-MutaAoallim (Jombang: Maktabah at-Turats al-Islami bi MaAohad Tebuireng, t. ), 13. 63Salim bin AoIed al-Hilali. Beruntunglah Orang-Orang yang KhusyuAo (Jakarta: Pustaka ibn Katsir, t. ), 112. 64Abu FidaAo Ismail Ibn Umar Ibn Katsir al-Qurasyi ad-Dimasqi. Tafsiru al-QurAoani alAoAdzim Juz 1 (Kairo: Dar al-Fajr li at-Turats, 2. , 166. 187 iCMA Rosyidin & ML Mukti Ae Tujuan Pendidikan punya niat yang kuat dan benar-benar memaksimalkan waktu yang ia Pendidikan harus membantu mutaAoallim membiasakan diri menjadi seorang wara' atau wira'i. Mereka harus ihtiya. erhati-hat. untuk menggunakan barang-barang terlarang . , baik itu makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan semua kebutuhan hidup mereka. Tujuannya untuk menjaga cahaya di hati, bertakwa dalam menghadapi ilmu, dan menjadikan ilmu bermanfaat Ketiga, jika berat menjadi pencari ilmu, cukup menjadi pendengar setiap kalam-kalam ilmu . Orang yang mendengarkan ilmu ini lebih pasif dari yang disebutkan dalam poin Namun, kondisi ini masih merupakan bagian dari orang-orang yang berada dalam circle keilmuan. Keempat, adalah orang yang hanya menjadi supporter . iklim keilmuan itu dapat terbentuk. Dia disebut Muhibbin . rang yang menyukai ilm. Minimalnya seorang pecinta ia tidak akan mencela apa yang dicintainya, walau ia tak mampu menggapainya. Maka seorang pecinta ilmu, ia akan terus mendukung proses keilmuan, walau dia hanya di balik layar. Kategori ini juga bisa terjadi pada orang tua yang di masa mudanya tak mampu belajar di pesantren. Oleh karena itu ia mengirim anaknya ke pesantren untuk belajar, bertujuan agar kecintaannya kepada ilmu, dikembangluaskan oleh sang anak menjadi derajat yang lebih tinggi, yaitu menjadi alim, atau seminimalnya menjadi mutaAoallim. Empat poin di atas adalah tingkatan respon terhadap keilmuan, yang dapat mencegah munculnya orang kelima. Rasulullah dalam hadisnya memberi peringatan keras, yaitu kepada orang yang bodoh dan merusak. Kesadaran terhadap kebodohan dapat memunculkan keinginan untuk merespon datangnya ilmu. Namun, jika sudah bermental destruktif, maka memiliki keinginan melakukan hal negatif. Sebenarnya perusak ilmu ini bisa membawa dua kemungkinan, orang bodoh yang merusak dengan kebodohannya atau orang berilmu yang merusak dengan keilmuannya. Keduanya memiliki potensi kerusakan yang sama. Oleh sebab itu, tujuan pendidikan Islam adalah mencegah terjadinya kerusakan dan membangun peradaban yang beriklim Pendidikan Islam hadir dalam wajah yang dinamis agar 65AsyAoari. Adab al-AoAlim wa al-MutaAoallim, 25. Nabawi - Volume 2Nomor 2Maret2022iC188 empat golongan orang di atas, tidak dirusak oleh golongan kelima yang dapat merusak tatanan intelektual umat Islam. Bagan 1 Membentuk dan Mengembangkan Circle Ilmiah Penghambaan Diri kepada Allah SWT Dalam al-QurAoan surat al-Mujadalah:11. Allah sudah menggaransi peningkatan derajat keimanan yang dintegrasikan dengan ilmu pengetahuan. Artinya iman saja tidak cukup namun perlu kelengkapan piranti intelektualitas agar sampai pada level derajat yang Seperti disebutkan di atas bahwa tujuan dari penyelenggaraan pendidikan agama adalah ketakwaan kepada Allah SWT. Seorang insan pendidikan menyengaja tujuannya untuk mendapatkan Ridha-Nya dan merasa terus diawasi oleh-Nya dalam sepi maupun ramai. Tujuan ini juga tercantum dalam konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam UUD. Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila dan Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang disusun oleh Sekretariat Negara. Pada rumusan di dalamnya, jelas menggambarkan bahwa bangsa Indonesia dibangun atas kultur sosialistis religius, di mana gotong royong sebagai spririt dasar dan dibangun atas nilai keagamaan. Itulah yang ingin dicapai oleh pendidikan sebagai instrumen pembentukan generasi unggul. Beberapa karakter di atas sebenarnya telah masuk dalam kategori akhlak, yaitu sifat yang telah melekat dalam diri peserta didik hingga menjadi karakter. Akhlak dalam Islam menempati posisi yang Tugas utama yang diemban oleh Nabi Muhammad Saw. dunia ini adalah untuk menyempurnakan akhlak. Sebagaimana hadis 66Muhammad Abror Rosyidin. AuAkhlak Dan Adab Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Perspektif KH. Hasyim AsyAoari,Ay Journal of Research and Thought on Islamic Education 4, no. Juni 2. : 43. 67Arifin. Filsafat Pendidikan Islam, 118. 189 iCMA Rosyidin & ML Mukti Ae Tujuan Pendidikan Nabi yang diriwayatkan Abu Hurairah: Aysesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang muliaAy. Dalam hadis-hadis di atas, ada beberapa poin yang dapat menunjukkan bahwa pendidikan Islam selalu membersamai ketuhanan dan spritualitas. Pertama, hadis-hadis di atas memposisikan Tuhan sebagai center of main . emikiran dasa. Misalkan, barangsiapa tafaquh fi> ad-di>n, maka Allah akan menghendaki kebaikan, siapa yang menitih jalan keilmuan Allah akan memudahkan jalannya menuju surga, fitrah manusia yang diarahkan kepada fitrahnya Allah . gama Alla. , dan Rasulullah hanyalah penyebar ilmu, sementara Allah yang Semua dikembalikan kepada Allah sebagai Yang Maha Mengetahui. Ini seharusnya menjadi dasar bahwa ilmu pengetahuan harus dilandasi atas keimanan, ketakwaan, ketauhidan. Maka pendidikan Islam tidak seharusnya memisahkan antara ilmu pengetahuan dan agama, keduanya dapat diintegrasikan menjadi paduan yang kuat. Hal itu tidak hanya berlaku bagi penyelenggaraan pendidikan Islam yang berbasis ilmu agama saja, ilmu umum, sains dan teknologi juga dapat dipadukembangkan dengan ilmu agama. Misalkan beberapa lembaga pendidikan mengembangkan ilmu sains yang dipadukan dengan ayatayat al-QurAoan, seperti pesantren sains (Trensain. di Sragen dan Tebuireng. Setiap bayi lahir dalam keadaan suci, maka siapa saja bisa masuk dalam rangsangan awal keyakinanya, entah Islam. Yahudi. Nasrani atau agama lainnya. Dengan pendidikan Islam sejak dini, orang tua menghembuskan nama Allah, mengajarkan ketauhidan dan menanamkan Islam, sehingga anak bisa menjadi seorang muslim. Untuk dapat merealisasikan pendidikan Islam yang berdasarkan keimanan dan ketakwaan, maka sebenarnya pendidikan Islam tidak perlu khawatir dengan sisi kognisi yang masih menjadi tolak ukur utama. Pendidikan Islam harusnya dapat menjadi pembeda dengan pendidikan umum, di mana internalisasi nilai justru yang Mohamad AnangFirdaus. AuMoralitasIntelektualdalamPerspektifFiqh al-HadithAy. JurnalKacaJurusanUshuluddin STAI AL FITHRAH. Vol. No. 2 (Agustus 2. , 69Muhammad Abror Rosyidin. AuINTERAKSI PESANTREN DENGAN SAINS DAN TEKNOLOGI,Ay TAAoDIBUNA: Jurnal Pendidikan Agama Islam 4, no. Mei 2. 61, https://doi. org/10. 30659/jpai. Nabawi - Volume 2Nomor 2Maret2022iC190 menjadi kekuatannya. Pendidik dan peserta didiknya diajak untuk menghayati ajaran-ajaran agama yang dipelajari bersama. Hal itulah yang akan menjadikan generasi Islam berkarakter dan bermoral sesuai dengan ajaran Islam, bukan yang mengejar dunia semata apalagi menjadi golongan yang matrealistis. Dari sinilah titik balik adanya keterpaduan antara intelektualitas, spiritualitas, dan Intelektualitas membawa pada kesadaran berilmu, spiritualitas membawa pada kesadaran beragama, dan emosionalitas membawa pada kesadaran sebagai manusia yang bermasyarakat. Bagan 2 Penghambaan diri kepada Allah Mendapatkan Kebaikan Gol pendidikan Islam yang lain, adalah mendapat dan menebar Siapa yang berilmu. Allah akan beri kebaikan. Sebagaimana hadis Nabi SAW tentang . yang ber-tafaqquh fi> addi>n. Rasulullah diperintahkan Allah untuk menjadi in. juga ibsyar . emberikan kabar bai. Dakwah menyebarkan ilmu-ilmu Allah. Dalam hadis itu. Nabi melihat bahwa perlu adanya orang-orang yang memang bertugas untuk tekun berilmu. Kebaikan yang dimaksud sangat luas, mencakup dunia akhirat, sebagaimana yang disebutkan dalam al-Baqarah:201. Harapan setiap orang bisa mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat. Ibnu Katsir mengejelaskan bahwa kebaikan di dunia bisa berupa dijauhkan dari segala keburukan, dikabulkan semua harapan yang bersifat keduniaan, tanah yang luas, istri yang shalihah . eluarga yang bai. , rizki yang luas, ilmu yang bermanfaat, amal saleh, kendaraan yang bagus, dan 70Salahuddin Wahid. Berguru pada Realitas. Refleksi Pemikiran menuju Indonesia Bermartabat (Malang: UIN Maliki Press, 2. , 118. 191 iCMA Rosyidin & ML Mukti Ae Tujuan Pendidikan banyak lagi. Semua itu bermuara pada satu titik, yaitu kebaikan di dunia yang memiliki destinasi surganya Allah. Kebaikan yang ini juga harus diterapkan dalam pola pikir positif, pola hidup yang baik, menjaga kesehatan, pola makan, bersedekah, membantu sesama, juga bagian dari pengejawantahan kebaikan yang diberikan Tuhan. Hal itu juga mengarah pada satu titik, yaitu hadis Nabi yang lain. AuSebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanyaAy. Hadis riwayat dari Jabir ra. ini memang . aAoi>f isnadnya, namun menjadi hasan karena seluruh perawinya . iqqah kecuali Ali ibn Bahram, karena ia majhul hal . idak diketahui kualitasnya/kondisiny. Sesuai salah satu hadis telah dipaparkan bahwa ahli ilmu . rang-orang yang merespon positif ilm. , tidak akan melakukan Lawan dari menciptakan kerusakan adalah menebarkan Pendidikan Islam bertujuan untuk menyiapkan generasi yang baik, generasi yang sukses di dunia dan sukses di akhirat, generasi yang bermanfaat bagi sesamanya, serta memaksimalkan potensi yang diberikan oleh Allah. Bagan 3 mendapatkan kebaikan Destinasi Ukhrawi Sudah disinggung di atas bahwa keimanan menjadi landasan dasar, kebaikan di dunia juga kebaikan di akhirat, dan bermanfaat bagi Destinasi akhir bagi kebaikan di akhirat adalah surga. Pendidikan Islam harus mampu membentuk peserta didik yang tidak hanya mengurusi duniawi tapi juga orientasi ukhrawi. Jika sudah ada orientasi berilmu pada ukhrwi menurut Ibnu Katsir berarti mampu mengakomodir keilmuan yang dia miliki untuk 71ad-Dimasqi. Tafsiru al-QurAoani al-AoAdzim Juz 1, 365Ae66. 72Muhammad ibn Salamah al-QudhaAoi. Musnad asy-Syihab Juz 2. No. (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1. , 1234. Nabawi - Volume 2Nomor 2Maret2022iC192 menjauhi yang haram dan syubhat. Disebutkan orang-orang tersebut memiliki qalban syaki>ran . ati yang bersyuku. , lisanan . aki>ran . isan yang terus mengingat Alla. , dan jasadan shabiran . asad yang saba. Mereka inilah yang akan mendapatkan kriteria potensi yang ada dalam doa pada al-Baqarah: 201. Allah telah menggaransi bagi siapa saja yang meniti jalan ilmu kelak diberikan fasilitas surga. Sekarang makna suluk . emasuki/melalui jalan/bertinda. harus dikaji. As-Silku bermakna kawat berduri, sementara suluk bermakna kelakuan. 74 Suluk sering dipakai dalam ilmu tasawuf pada komunitas sufi dan tarekat. Orang yang suluk di kalangan sufi adalah sebuah perjalanan kepad Tuhan. Dikaitkan dengan keilmuan, suluk dalam mencari ilmu sejatinya juga berjalan menuju ridha dan menghamba kepada Tuhan. Sebelum mengharapkan surga, pencari ilmu dengan jalan suluk harus bersiap-siap terseok-seok, mengalami kesusahan, perjuangan, rintangan, ujian dan tentu tidak semudah yang Belum lagi kriteria ilmu yang yang diterima adalah ilmu yang didasari atas kekhusyuAoan dan bermanfaat. Bagan 4 Destinasi Ukhwori Mengembangkan Potensi Fitrah Manusia Setelah tujuan yang bersifat preparation . dengan menata hati, menata niat, dan jiwa. Maka perlu tujuan yang bersifat Seperti dijelaskan oleh Hadis bahwa semua yang lahir itu dalam keadaan suci. Tergantung orang tua mengarahkan ke mana si anak ad-Dimasqi. Tafsiru al-QurAoani al-AoAdzim Juz 1, 366. Mahmud Yunus. Kamus Arab-Indonesia (Tangerang: Mahmud Yunus wa Dzurriyah, 2. , 177. Syamsul MaAoarif. AuNILAI-NILAI AKHLAK DALAM SULUK LINGLUNG DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN ISLAM,Ay EMPIRISMA: JURNAL PEMIKIRAN DAN KEBUDAYAAN ISLAM 24, no. Juli 2. : 170, https://doi. org/10. 30762/empirisma. 193 iCMA Rosyidin & ML Mukti Ae Tujuan Pendidikan tersebut. Setiap orang memiliki fitrah ini, meski seringkali karena kesibukan dan dosa suara alaminya begitu samar atau tidak terdengar lagi, arena bahkan jika seseorang menyangkal keberadaan dan keesaan Allah, penolakan bersifat sementara. Dalam arti tertentu, sebelum akhir jiwanya terpisah dari tubuhnya, dan dia akan mengakuinya. Kebutuhan manusia terlaksana secara bertahap, ada yang harus segera dilaksanakan, seperti makan, minum, dan berhubungan seks. Permintaan jangka panjang bisa yaitu kebutuhan akan keyakinan keberadaan dan ke-esa-an Tuhan. Menurut al-Ghazali, yang dimaksud dengan fitrah adalah dasar manusia sejak lahir, seperti beriman kepada Tuhan, mampu dan mau menerima kebaikan serta siap menjadi generasi penerus. Keingintahuan mencari esensi kebenaran dalam bentuk kekuatan untuk berpikir, impuls biologis . berupa keinginan dan karakter, serta kekuatan dan sifat manusia lainnya yang dapat dikembangkan dan dapat ditingkatkan. Menurut Abd al-Rahman al-Bani yang dikutip Nahlawi, amanat pendidikan Islam adalah melestarikan dan mengembangkan fitrah peserta didik, dan kemudian mengembangkan dan mempersiapkan semua potensi, dengan membimbing dan fitrah . yang ada menuju kebaikan dan kesempurnaan, dan menerapkan program secara bertahap. Dari sini, maka sebenarnya tujuan pendidikan Islam dalam rangka mengembangkan potensi fitrah manusia bersifat teknis dan Penulis menganalisis rumus alur pengembangan fitrah manusia dalam pendidikan Islam, . pendidikan Islam di awal pertumbuhan di dalam keluarga, . menentukan konsep pendidikan Islam . ujuan, fungsi, manfaa. , . membentuk dan menjalankan lembaga pendidikan Islam berjenjang untuk mengembangkan keilmuan, lalu . merumuskan manajemen pendidikan Islam sebagai bentuk improvisasi. Pendidikan Islam telah melakukan tujuan itu, namun perlu pengembangan ke arah internalisasi nilai agar menyatu menjadi karakter dan prilaku berkehidupan. Potensi manusia yang diberikan Quraish Shihab. Wawasan Al-QurAan: Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 2. , 375Ae76. 77Zainuddin. Seluk Beluk Pendidikan Al-Gazal (Jakarta: Bumi Aksara, 1. , 67. 78Achmad Munib. AuKONSEP FITRAH DAN IMPLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN,Ay Jurnal PROGRESS: Wahana Kreativitas Dan Intelektualitas 5, no. Desember 2. : 231, https://doi. org/10. 31942/pgrs. Nabawi - Volume 2Nomor 2Maret2022iC194 Allah bisa dikembangakan dengan menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas, tidak hanya sekedar mengadakan, tapi berkelanjutan mengantar mereka menjadi insan kamil, sebagaimana makna pendidikan Islam itu sendiri. Bagan 5 Mengembangkan Fitrah Manusia Bagan 6 Tujuan Pendidikan Islam dalam Perspektif Hadis 195 iCMA Rosyidin & ML Mukti Ae Tujuan Pendidikan KESIMPULAN Dari penelitian atas tujuan pendidikan dalam perspektif hadis yang telah dilakukan terhadap hadis-hadis pendidikan di dalam kitab kutub al-tisAoah, penulis menemukan empat hadis pendidikan dengan mengelaborasikan beberapa hadis yang sama dengan redaksi yang berbeda dalam kutub al-tisAoah. Keempat hadis pendidikan tersebut antara lain. Pertama, hadis tentang perintah menjadi alim, mutaAoallim dan mustamiAo, diriwayatkan oleh al-Darimi. Kedua, hadis tentang tafaqquh fi al-din, diriwayatkan oleh al-Bukhari. Ketiga, hadis tentang dimudahkannya jalan ke surga bagi penuntut ilmu, diriwayatkan oleh al-Tirmidzi. Keempat, hadis tentang kesucian bayi yang lahir, diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad ibn Hanbal. Dari keempat hadis pendidikan tersebut, penulis mendapatkan rumus tujuan pendidikan Islam antara lain. Pertama, membentuk dan mengembangkan circle Kedua, penghambaan diri kepada Allah SWT. Ketiga, mendapatkan kebaikan yang dimanifestasikan dalam bentuk-bentuk amal saleh. Keempat, mengarahkan destinasi penyelenggaraannya kepada akhirat . Kelima, mengembangkan fitrah manusia sesuai dengan tahapan tumbuh kembangnya dalam lingkungan Nabawi - Volume 2Nomor 2Maret2022iC196 DAFTAR PUSTAKA