73 Buana Sains Vol 18 No 1: 73 - 84, 2018 ANALISIS POTENSI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN AGROWISATA (Studi Kasus di Study Wisata Bukit Flora. Desa Gunung Petung. Nongkojajar. Kecamatan Tutur. Kabupaten Pasurua. Yusuf Kholil dan Farah Mutiara Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Tribhuwana Tunggadewi Abstract The first purpose of the research were to identify and analyze potential of agrotourism Bukit Flora and potential area to support development agrotourism Bukit Flora. The second purpose is to identify and analize internal and external environment agrotourism Bukit Flora the factors into strengths, weaknesses, oppurtunities and threats for development agrotourism of Bukit Flora and the last purpose in this research is formulate appropriate strategies for development strategy of agrotourism Bukit Flora. Data analysis method use descriptive analysis and qualitative analysis. Descriptive analysis was used to analyze the potential of agrotourism Bukit Flora and identify the main factors to give weight to the factors that we have setconsisting of strengths, opportunities, weaknesses and threats by comparing the rows and columns of each variable on internal factors (IFE) and external (EFE). While the use of qualitative analysis in the form of a SWOT analysis and SWOT matrix IE matrix is used to analyze the development of agrotourism strategy using analysisQSPM. IFE total weighted scores 56 and 2. 30 for EFE. Placing agro Bukit Flora is in cell V. Based on the results of the SWOT matrix analysis, it can be obtained by four alternative strategies that can be taken in the development of agro Bukit Flora. Based on the results QSPM matrix, the value of the attraction was highest at 3 strategy with the total amount of the appeal (TAS) was 6. Keywords : Internal Factors Evaluation (IFE). Eksternal Factors Evaluation (EFE). SWOT Matrix. QSPM Matrix. Pendahuluan Sektor Pariwisata merupakan sektor penting dalam upaya penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang cukup potensial. Hal ini akan lebih maksimal jika didukung oleh obyek yang ditawarkan menarik, kemudahan akses serta promosi yang baik. Adanya pertumbuhan sektor pariwisata secara tidak langsung akan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten yang bersangkutan. Salah satu sektor pariwisata di Indonesia yang potensial untuk dikembangkan Agrowisata merupakan diversifikasi produk wisata yang menggabungkan aktivitas pertanian . dan rekreasi di sebuah lingkungan Agrowisata . merupakan salah satu istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan wisata di pedesaan . ural touris. , selain farm tourism, soft tourism dan ecotourism (Suyitno. Konsep agrowisata sekaligus menjadi daya tarik wisata adalah terdapat something to see . da sesuatu yang bisa diliha. , something to do . da sesuatu yang Kholil dan F. Muiara/ Buana Sains Vol 18 No 1 : 73-84 bisa dilakuka. dan something to buy . da sesuatu yang bisa dibel. (Karyono. Didalam agrowisata terdapat pemandangan atau keindahan alam pertanian yang dapat dilihat . omething to Terdapat agrowisata yang dapat diidentifikasikan berdasarkan potensi komoditas dan Obyek pertanian yang dikemas dan ditawarkan sebagai produk agrowisata sangat banyak dan bervariasi yang menawarkan keindahan alam serta lokasi pengolahan dimana pengunjung dapat melihat proses produksinya seperti Nongkojajar. Agrowisata Bukit Flora yang terletak di Desa Gunung Petung. Nongkojajar. Kecamatan Tutur. Kabupaten Pasuruan merupakan agrowisata yang menawarkan tanaman hias dan tanaman obat sebagai obyek wisatanya. Melalui agrowisata Bukit Flora mempelajari jenis-jenis tanaman hias dan tanaman obat di kebun pembibitan dengan lingkungan taman dan kebun koleksi dengan lingkungan hutan. Sebagai salah satu unit usaha. Bukit Flora menghadapi berbagai kendala dalam pengembangan usaha. Sejak berdiri tahun 2007, usaha ini masih menghadapi kendala baik internal maupun eksternal dalam proses perkembangan usahanya. Adanya diperlukan suatu penelitian mengenai perumusan strategi pengembangan yang tepat untuk perkembangan usaha agrowisata di masa mendatang. Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi potensi agrowisata dan faktor-faktor Kemudian menganalisis faktor-faktor tersebut ke dalam faktor internal dan eksternal yang ada didalam agrowisata Bukit Flora. Dari faktor internal dan eksternal dapat dirumuskan strategi pengembangan yang tepat. Strategi yang tepat ini diharapkan dapat menunjang agrowisata Bukit Floradalam meningkatkan usahanya. Kemudian kedepannya mampu mendorong petani dan masyarakat sekitar untuk ikut berperan demi kemajuan usahanya dan pertanian pada umumnya. Maka dari itu, perlu dilakukan analisis potensi dan strategi pengembangan agrowisata Bukit Flora. Metode Penelitian Penentuan dilakukan secara sengaja . yaitu agrowisata Bukit Flora pertimbangan bahwa agrowisata Bukit Flora merupakan usaha agrowisata yang dikemas dengan study wisatayang didalamnya melakukan pembudidayaan tanaman hias dan tanaman obat yang terbilang baru . dalam bisnis ketersediaan data untuk keperluan penelitian ini. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2013. Metode Penentuan Responden Metode penentuan responden dalam penelitian termasuk dalam nonprobability sampling karena tidak memberi kemungkinan yang sama bagi tiap unsur populasi untuk dipilih. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik critical case sampling untuk responden faktor internal dan teknik accidental sampling untuk responden faktor eksternal. Teknik Critical Case Sampling Peneliti menggunakan teknik responden harus memiliki tingkat penguasaan yang tinggi terhadap bidang Jumlah responden yang diambil berjumlah 4 orang Responden terdiri dari Kholil dan F. Muiara/ Buana Sains Vol 18 No 1 : 73-84 Pemilik agrowisata dan Pengelola agrowisata Bukit Flora dengan proses memperoleh informasi faktor internal agrowisata Bukit Flora. Teknik Accidental Sampling Dalam penelitian ini, populasinya adalah pengunjung agrowisata Bukit Flora dengan jumlah yang tidak diketahui secara pasti. Tidak diketahui secara pasti karena pengunjung yang datang setiap hari berbeda jumlahnya sehingga tidak bisa diprediksikan berapa orang yang akan berkunjung. Teknik pengambilan sampel yang diambil berdasarkan pertimbangan bahwa populasi yang ada tidak diketahui secara pasti jumlahnya Accidental Sampling yaitu pengambilan sampel yang dilakukan kepada siapa saja yang (Soeratno Lincolin,2. Dalam hal ini responden ditujukan kepada pengunjung agrowisata. Jumlah responden yang diambil sebanyak 25 orang responden atau pengunjung dengan pemberian kuisioner untuk memperoleh informasi faktor eksternal agrowisata Bukit Fora. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini Data Primer Wawancara menggunakan daftar pertanyaan atau kuisioner meliputi keadaan lingkungan internal dan eksternal agrowisata Bukit Flora diantaranya mengenai kunjungan, struktur organisasi, sejarah dan lain-lain serta pengamatan langsung di lapangan. Narasumber utama dalam eksplorasi data primer dalam penelitian adalah pemilik Agrowisata Bukit Flora, para pengelola agrowisata dan pegunjung agrowisata Bukit Flora. Observasi untuk meneliti beberapa segi dari masalah yang dijadikan sasaran untuk memperoleh fakta-fakta yang diperlukan. Dalam penelitian ini observasi dipakai untuk mengamati situasi yang terkit dengan potensi daerah di sekitar lingkungan internal dan eksternal agrowisata Bukit Flora dalam menentukan strategi usaha. Dokumentasi yaitu suatu dibutuhkan apabila data tersebut tersedia dalam bentuk tertulis. Metode ini digunakan untuk memperoleh data primer tentang gambaran umum dari agrowisata Bukit Flora. Data Sekunder Digunakan untuk melengkapi bahan-bahan dan informasi yang didapat selama melakukan penelitian, yaitu yang berasal dari literatur atau pustaka. Data yang didapat dari studi literatur ini berupa data sekunder, yaitu data yang didapat bukan dari sumber-sumber Data juga bisa didapat dari dokumen atau arsip terkait atau bahkan penelitian Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis kualitatif. Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis potensi Bukit Flora mengidentifikasi faktor utama untuk memberikan bobot pada faktor yang sudah kita tentukan terdiri dari kekuatan, peluang, kelemahan dan ancaman dengan membandingkan antara baris dan kolom dari masing-masing variabel pada faktor internal (IFE) dan eksternal (EFE). Sedangkan dalam analisis kualitatif menggunakan analisis SWOT yang berupa matriks IE dan matriks SWOT yang digunakan untuk menganalisis strategi pengembangan agrowisata Bukit Flora menggunakan analisis QSPM. Kholil dan F. Muiara/ Buana Sains Vol 18 No 1 : 73-84 Hasil dan Pembahasan Pada bagian ini akan dilakukan Strategi Pengembangan Agrowisata Bukit Flora. Berdasarkan hasil analisis tersebut maka dapat diuraikan sebagai berikut: Analisis Potensi Potensi agrowisata Bukit Flora terdiri dari sesuatu yang dapat dilihat . omething to se. , sesuatu yang dapat dilakukan . omething to d. dan sesuatu yang dapat dibeli . omething to bu. Something to see Suasana daerah di sekitar agrowisata Bukit Flora yakni Desa Gunung Petung. Nongkojajarmasih kental dengan suasana pedesaan dan kondisi lingkunganyang masih alami. Hal ini menjadi sesuatu yang dapat dilihat oleh pengunjung yang Setelah masuk ke dalam dimanjakan dengan kebun greenhouse tanaman hias dan tanaman obat serta kebun wisata outbond yang dilengkapi dengan kolam renang fasilitas waterboom. Something to do Di agrowisata Bukit Flora, pengunjung dapat melakukan banyak kegiatan Objek wisatanya pun beragam dan dapat dilakukan baik untuk individu maupun rombongan. Kegiatan yang dapat dilakukan diantaranya wisata mempelajari tanaman hias dan tanaman obat, seperti mengenal macam-macam tanaman hias, cara bercocok tanam, manfaat tanaman obat dan sebagianya. Selain itu, pengunjung dapat melakukan wisata yang lain seperti berenang, flying fox, outbond dan berkemah. Something to buy Cinderamata atau oleh-oleh penting bagi pengunjung sebagai buah tangan untuk keluarga di rumah. Di agrowisata Bukit Floraterdapat produk yang dapat dibeli pengunjung sebagai oleh-oleh seperti, produk tanaman hias dan tanaman obat, souvenir, kaos dan sebagainya. Analisis IFE dan EFE Matriks IFE (Internal Factors Evaluatio. dilakukan dengan menentukan total skor pada analisis lingkungan internal. Penentuan skor pada analisis lingkungan internal diperoleh dari hasil perkalian antara bobot dan rating. Nilai rating ditentukan berdasarkan seberapa besar pengaruh faktor-faktor internal terhadap agrowisata Bukit Flora. Adapun hasil matriks IFE (Internal Factors Evaluatio. dapat dilihat pada tabel 1. Berdasarkan hasil perhitungan matriks IFE (Internal Factors Evaluatio. (Internal Factors Evaluatio. , faktor strategis yang menjadi kekuatan terbesar dan paling berpengaruh bagi agrowisata Bukit Flora adalah rekreasi yang ditawarkan adalah rekreasi edukatif dimana dalam agrowisata Bukit Flora menawarkan rekreasi edukatif yaitu dengan mempelajari dan mengenali macam-macam tanaman hias dan tanaman obat dengan skor sebesar 0,56. Sedangkan faktor strategis internal yang menjadi kelemahan terbesar dan paling berpengaruh bagi agrowisata Bukit Flora adalah permodalan dari dana pribadi dengan skor sebesar 0,22. Hal ini dikarenakan usaha agrowisata Bukit Flora merupakan usaha keluarga yang didirikan sendiri dan dibiayai sendiri seluruh kebutuhannya oleh Bapak H. Abdul Qodir. Hasil analisis matriks IFE (Internal Factors Evaluatio. untuk kekuatan dan kelemahan diperoleh total skor faktor 2,56. Hal agrowisata Bukit Flora dalam hal menggunakan kekuatan berada pada posisi rata-rata. Kholil dan F. Muiara/ Buana Sains Vol 18 No 1 : 73-84 Tabel 1. Matriks IFE (Internal Factors Evaluatio. No. Faktor Internal Kunci Kekuatan (S) Agrowisata yang baru . dalam wisata tanaman hias dan tanaman obat Rekreasi yang ditawarkan adalah rekresi edukatif Udara pemandangan yang indah Harga paket agrowisata yang ditawarkan murah Adanya outbond yang menarik Menawarkan produk wisata yang berbeda dengan jenis wisata yang sudah ada Tersedianya fasilitas waterboom dikolam renang Total Skor Kekuatan Kelemahan (W) Promosi yang masih belum Keadaan kebun yang belum Permodalan dari dana pribadi Belum tersedianya tenaga Lokasi yang jauh dari pusat Pelayananan agrowisata yang kurang memuaskan Total Skor Kelemahan Total Skor Faktor Internal Bobot (A. 0,07 Rating (B. =1,2,3,4 Skor Bobot (Ai x B. 0,14 0,14 0,56 0,07 0,14 0,12 0,36 0,06 0,18 0,05 0,15 0,08 0,24 0,59 1,77 0,09 0,04 0,11 0,08 0,09 0,12 0,22 0,16 0,01 0,04 0,08 0,16 0,41 0,79 2,56 Sumber: Data Primer Diolah, 2014. Matriks EFE (External Factors Evaluatio. dapat dilakukan dengan menentukan total skor pada analisis lingkungan eksternal. Penentuan skor pada analisis lingkungan eksternal diperoleh dari hasil perkalian antara bobot dan rating. Nilai rating ditentukan berdasarkan seberapa besar pengaruh faktor-faktor agrowisata Bukit Flora. Adapun hasil matriks EFE (External Factors Evaluatio. dapat dilihat pada tabel 2. Kholil dan F. Muiara/ Buana Sains Vol 18 No 1 : 73-84 Tabel 2. Matriks EFE (External Factors Evaluatio. No. Faktor Eksternal Kunci Peluang (O) Pesaing yang menawarkan obyek wisata yang sama dalam satu daerah belum ada Selera Trend masyarakat kembali ke alam . ack to natur. Tawaran Wisata sebagai bagian dari Total Skor Peluang Ancaman (T) Masih Kurangnya dukungan pemerintah daerah setempat Akan tumbuh agrowisata lain Pengunjung memilih obyek wisata yang lain Pengunjung tidak merekomendasikan ke orang Total Skor Ancaman Total Skor Faktor Eksternal Sumber: Data Primer Diolah, 2014. Berdasarkan hasil perhitungan matriks EFE (External Factors Evaluatio. , faktor eksternal yang menjadi peluang terbesar bagi agrowisata Bukit Flora adalah trend masyarakat untuk kembali ke alam . ack to natur. dengan skor sebesar 0,60. Karena, agrowisata sebagai rekreasi yang berwawasan lingkungan pertanian maka dengan trend masyarakat untuk kembali ke alam maka agrowisata akan menjadi sangat ramai untuk Sedangkan faktor eksternal yang menjadi ancaman terbesar bagi agrowisata Bukit Flora adalah akan tumbuh agrowisata lain dengan skor sebesar 0,40. Hasil analisis matriks EFE untuk peluang dan ancaman diperoleh Bobot (A. 0,10 Rating (B. =1,2,3,4 Skor Bobot (Ai x B. 0,30 0,10 0,30 0,15 0,60 0,10 0,20 0,05 0,10 0,50 1,50 0,20 0,20 0,10 0,40 0,10 0,10 0,10 0,50 1,00 0,80 2,30 total skor faktor eksternal sebesar 2,30. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan agrowisata Bukit Flora dalam merespon peluang untuk menghindari ancaman tergolong rata-rata. Analisis Matriks Internal Ae Eksternal (IE) Untuk mempermudah dalam memberikan pemilihan alternatif strategi, maka dibuat matriks internal-eksternal (IE). Karena dari matriks I-E dapat diketahui posisi perusahaan saat ini. Gambar analisis matriks internaleksternal (I-E) dapat dilihat pada gambar. Kholil dan F. Muiara/ Buana Sains Vol 18 No 1 : 73-84 Kuat Total Skor IFE Rata-rata 2,56 Lemah Tinggi i i 2,30 Total Skor EFE Sedang Lemah VII Vi Gambar 1. Matriks Internal-Eksternal Berdasarkan hasil yang diperoleh dari matriks IFE dan matriks EFE, maka dapat disusun matriks I-E. Total skor bobot IFE sebesar 2,56 dan EFE sebesar 2,30. Menempatkan agrowisata Bukit Flora berada pada sel V. Posisi ini menggambarkan agrowisata Bukit Flora dalam kondisi internal rata-rata dan respon perusahaan terhadap faktorfaktor eksternal yang dihadapinya tergolong sedang. Strategi yang dapat dilaksanakan adalah growth and stability atau strategi pertumbuhan dan stabilitas yang terdapat pada agrowisata Bukit Flora . Analisis Matriks SWOT Berbagai alternatif strategi dapat dirumuskan berdasarkan analisis matriks SWOT (Strength. Weakness. Opportunities. Threat. Keunggulan dari matriks ini memformulasikan strategi berdasarkan gabungan faktor internal dan eksternal. Empat strategi utama yang disarankan yaitu SO. WO. ST dan WT. Analisis ini menggunakan data yang telah diperoleh matriks IFE (Internal Factors Evaluatio. dan EFE (External Factors Evaluatio. Hasil matriks analisis SWOT (Strength. Weakness. Opportunities. Threat. dapat dilihat pada tabel. Kholil dan F. Muiara/ Buana Sains Vol 18 No 1 : 73-84 Tabel 3. Matriks SWOT pada Agrowisata Bukit Flora IFE EFE Peluang (O) Pesaing yang menawarkan obyek wisata yang sama dalam satu daerah belum ada Selera pengunjung dalam berwisata yang berbasis Trend masyarakat kembali ke alam . ack to natur. Tawaran dari lembaga keuangan Wisata sebagai bagian dari Ancaman (T) Masih kurangnya pemerntah daerah Akan tumbuh agrowisata lain Pengunjung memilih obyek wisata yang lain Pengunjung tidak kepada orang lain. Kekuatan (S) Agrowisata yang baru . dalam wisata kebun tanaman hias dan tanaman obat Rekreasi yang ditawarkan adalah rekreasi edukatif Udara pemandangan yang indah Harga paket agrowisata yang ditawarkan murah Adanya paket agrowisata outbond yang menarik Menawarkan produk wisata yang berbeda dengan jenis wisata yang sudah ada Tersedianya fasilitas waterboom di kolam renang Strategi SO Menciptakan dan mengorientasikan agrowisata Bukit Flora sebagai agrowisata yang baru dengan mengoptimalkan potensi dan keunggulan yang dimiliki. S1, S2. S6. O1. O2. O3. Memanfaatkan selera wisata yang berbasis lingkungan dengan mengoptimalkan produk yng bernuansa alam. S1. S3. S5. S6, O2. O3. O4. Strategi ST Menciptakan citra baik dimata pengunjung untuk mengantisipasi adanya pemilihan wisata lain. S2, S4. S5. S6. S7. T2. T3. T4. Memanfaatkan kualitas layanan wisata dan mempertahankan kualitas layanan wisata. S2. S4. S6, S7. T1. Sumber: Data Primer Diolah, 2014. Kelemahan (W) Promosi yang masih belum Keadaan kebun yang belum Permodalan dari dana pribadi Belum Lokasi yang jauh dari pusat kota Pelayanan agrowisata yang kurang memuaskan Strategi WO Meningkatkan kegiatan promosi secara optimal dengan memanfaatkan perkembangan W1. W6. O5. Meningkatkan kualitas Sumberdaya Manusia dengan pelatihan untuk meningkatkan kinerja serta mengaktifkan peran W3. W4. W6. O4. O5. Bekerjasama dengan instansi terkait atau biro perjalanan W6. O4. O5. Strategi WT eningkatkan kualitas sumberdaya manusia dan manajemennya dengan pelatihan khusus untuk meningkatkan produktivtas W2. W4. W6. T3. T4. engikutsertakan agrowisata pada pameran untuk mempromosikan wisata agar lebih dikenal. W1. W5. W6. T2, T3. T4. Kholil dan F. Muiara/ Buana Sains Vol 18 No 1 : 73-84 Analisis Matriks SWOT Berbagai alternatif strategi dapat dirumuskan berdasarkan analisis matriks SWOT (Strength. Weakness. Opportunities. Threat. Keunggulan dari matriks ini memformulasikan strategi berdasarkan gabungan faktor internal dan eksternal. Empat strategi utama yang disarankan yaitu SO. WO. ST dan WT. Analisis ini menggunakan data yang telah diperoleh matriks IFE (Internal Factors Evaluatio. dan EFE (External Factors Evaluatio. Hasil matriks analisis SWOT (Strength. Weakness. Opportunities. Threat. dapat dilihat pada tabel. Strategi SO Strategi SO yaitu strategi yang memanfaatkan keuntungan dari peluang yang ada, terdiri dari: Menciptakan dan mengorientasikan agrowisata Bukit Flora sebagai agrowisata yang baru dengan keunggulan yang dimiliki (S1. S2. S6. O1. O2. Memanfaatkan selera wisata yang bernuansa alam (S1. S3. S5. S6. O2. O3. Strategi WO Strategi WO yaitu strategi yang memanfaatkan keuntungan dari peluang yang ada, terdiri dari: Meningkatkan teknologi (W1. W6. Meningkatkan kualitas Sumberdaya Manusia dengan pelatihan untuk mengaktifkan peran litbang (W3. W4. W6. O4. Bekerjasama dengan instansi terkait atau biro perjalanan wisata (W6. O4. Strategi ST Strategi menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman, terdiri dari: Menciptakan citra baik dimata pengunjung untuk mengantisipasi adanya pemilihan wisata lain (S2. S4. S5. S6. S7. T2. T3. Memanfaatkan kualitas layanan wisata dan mempertahankan kualitas layanan wisata (S2. S4. S6. S7. Strategi WT Strategi meminimalkan kelemahan dan mengatasi ancaman, terdiri dari: Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dan manajemennya dengan pelatihan khusus untuk meningkatkan produktivtas karyawan (W2. W4. W6. T3. Mengikutsertakan agrowisata pada pameran untuk mempromosikan wisata agar lebih dikenal (W1. W5. W6. T2. T3. Analisis Matriks QSPM Matriks QSPM (Quantitative Strategy Plannig Matri. adalah alat yang digunakan untuk mengevaluasi pilihan strategi alternatif secara obyektif berdasarkan faktor-faktor utama internal dan eksternal pada matriks IFE. Matriks EFE, matriks I-E (Internal Ae Eksterna. serta matriks SWOT. Penentuan alternatif strategi yang layak dimasukkan pada matriks QSPM (Quantitative Strategy Plannig Matri. berdasarkan penilaian atas kondisi perusahaan dan penggunaan Matriks ini akan menentukan kemenarikan relatif . elative attractivenes. dari tindakan-tindakan strategi alternatif yang dapat dilaksanakan oleh agrowisata Bukit Flora. Kholil dan F. Muiara/ Buana Sains Vol 18 No 1 : 73-84 Tabel 4. Matriks QSPM pada Agrowisata Bukit Flora Alternatif Strategi Faktor Utama Strategi 1 Bobot Kekuatan (S) Agrowisata yang baru . dalam wisata kebun tanaman hias dan tanaman obat Rekreasi yang ditawarkan adalah rekreasi edukatif Udara pemandangan yang indah Harga paket agrowisata yang ditawarkan murah Adanya paket agrowisata outbond yang menarik Menawarkan produk wisata yang berbeda dengan jenis wisata yang sudah ada Tersedianya fasilitas wterboom di kolam renang Kelemahan (W) Promosi yang belum intensif Keadaan kebun yang belum tertata Permodalan dari dana pribadi Belum tersedianya tenaga Lokasi yang jauh dari pusat kota Pelayanan agrowisata yang kurang Peluang (O) Pesaing yang menawarkan obyek wisata yang sama dalam satu daerah belum ada Selera pengunjung dalam berwisata yang berbasis lingkungan Trend masyarakat kembali ke alam ack to natur. Tawaran dari lembaga keuangan Wisata sebagai bagian dari Ancaman (T) Masih kurangnya dukungan pemerintah daerah setempat Akan tumbuh agrowisata lain Pengunjung memilih obyek wisata yang lain Pengunjung tidak merekomendasikan ke orang lain Total Strategi 2 Strategi 3 Strategi 4 TAS TAS TAS TAS 0,07 0,28 0,21 0,21 0,21 0,14 0,56 0,42 0,56 0,42 0,07 0,21 0,14 0,21 0,07 0,12 0,36 0,24 0,48 0,24 0,06 0,18 0,18 0,24 0,12 0,05 0,20 0,15 0,20 0,15 0,08 0,16 0,16 0,32 0,08 0,09 0,04 0,11 0,08 0,27 0,08 0,22 0,16 0,36 0,08 0,44 0,32 0,27 0,04 0,22 0,16 0,36 0,16 0,44 0,24 0,01 0,08 0,01 0,24 0,02 0,32 0,01 0,24 0,03 0,32 0,10 0,40 0,30 0,30 0,30 0,10 0,40 0,30 0,30 0,30 0,15 0,60 0,45 0,45 0,45 0,10 0,05 0,20 0,10 0,40 0,20 0,10 0,05 0,20 0,15 0,10 0,30 0,20 0,30 0,30 0,20 0,10 0,60 0,30 0,60 0,30 0,80 0,40 0,80 0,40 0,10 0,20 0,10 0,40 0,40 6,03 5,89 6,26 Sumber: Data Primer Diolah, 2014. Berdasarkan hasil matriks QSPM, nilai daya tarik tertinggi terdapat pada strategi 3 dengan jumlah total daya tarik (TAS) sebesar 6,26. Nilai daya tarik tertinggi kedua terdapat pada strategi 4 dengan jumlah TAS sebesar 6,14 dan 6,14 Kholil dan F. Muiara/ Buana Sains Vol 18 No 1 : 73-84 tertinggi ketiga terdapat pada strategi 1 dengan total TAS sebesar 6,03. Sedangkan nilai daya tarik terendah terdapat pada strategi 2 dengan total TAS sebesar 5,89. Maka, strategi-strategi yang dapat didahulukan dalam penerapan strategi pengembangan agrowisata Bukit Flora dapat dirumuskan dengan urutan strategi sebagai berikut: Strategi ST Menciptakan citra baik dimata pengunjung untuk mengantisipasi adanya pemilihan wisata lain Memanfaatkan kualitas layanan dan mempertahankan kualitas layanan wisata (Jumlah total daya tarik sebesar 6,. Strategi WT Meningkatkan manajemennya dengan peltihan khusus untuk meningkatkan produktivitas karyawan Mengikutsertakan agrowisata pada pameran untuk mempromosikan wisata agar lebih dikenal (Jumlah total daya tarik sebesar 6,. Strategi SO Menciptakan Bukit Flora sebagai agrowisata mengoptimalkan potensi dan keunggulan yang dimiliki Memanfaatkan selera wisata yang berbasis lingkungan dengan mengoptimalkan produk yang bernuansa alam (Jumlah total daya tarik sebesar 6,. Strategi WO Meningkatkan kegiataan promosi Meningkatkan sumberdaya manusia dengan pelatihan untuk meningkatkan kinerja serta mengaktifkan peran Bekerjasama dengan instansi terkait atau biro perjalanan wisata (Total daya tarik sebesar 5,. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang analisis potensi dan strategi pengembangan agrowisata pada agrowisata Bukit Flora diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut: Hasil dari analisis potensi agrowisata Bukit Flora adalah agrowisata Bukit Flora berpotensi untuk dijadikan usaha agrowisata. Potensi agrowisata Bukit Flora terdiri dari sesuatu yang dapat dilihat . omething to se. , sesuatu yang dapat dilakukan . omething to d. dan sesuatu yang dapat dibeli . omething to bu. Analisis lingkungan yang dilakukan dalam agrowisata Bukit Flora ini adalah pada lingkungan internal dan Untuk lingkungan internal yang menjadi kekuatan pada agrowisata Bukit Flora adalah agrowisata Bukit Flora merupakan agrowisata yang baru . dalam wisata kebun tanaman hias dan tanaman obat, rekreasi yang ditawarkan adalah rekreasi edukatif, udara yang sejuk dan pemandangan yang indah, harga paket agrowisata yang ditawarkan murah, adanya paket agrowisata outbond yang menarik, menawarkan produk wisata yang berbeda dengan jenis wisata yang lain dan tersedianya fasilitas waterboom di kolam renang. Untuk lingkungan eksternal agrowisata yang menjadi peluang bagi agrowisata Bukit Flora adalah pesaing yang menawarkan obyek wisata yang sama dalam satu daerah belum ada. Kholil dan F. Muiara/ Buana Sains Vol 18 No 1 : 73-84 Selera pengunjung dalam berwisata yang berbasis lingkungan, trend masyarakat kembali ke alam . ack to natur. , tawaran dari lembaga keuangan, wisata sebagai bagian dari Dari hasil analisis yang digunakan agrowisata pada agrowisata Bukit Flora, maka strategi-strategi yang seharusnya diterapkan berdasarkan hasil matriks SWOT dan matriks QSPM , nilai daya tarik tertinggi terdapat pada strategi 3 dengan jumlah total daya tarik (TAS) sebesar 6,26. Nilai daya tarik tertinggi kedua terdapat pada strategi 4 dengan jumlah TAS sebesar 6,14 dan tertinggi ketiga terdapat pada strategi 1 dengan total TAS sebesar 6,03. Daftar Pustaka