Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 8 Nomor 11. November 2025 ISSN: 27342488 PENERAPAN PEMBELAJARAN ANSAMBEL MUSIK SEJENIS PIANIKA UNTUK MENINGKATKAN KERJA SAMA PADA SISWA KELAS 8 DI SMPN 5 KUPANG Vercelly Deviani Rodriques1. Katharina Kojaing2 Email: vercellyrodriquez5@gmail. com1, kojaingkatharina@gmail. Universitas Katolik Widya Mandira Kupang ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kerja sama siswa kelas Vi SMPN 5 Kupang melalui penerapan pembelajaran ansambel musik sederhana. Kerja sama merupakan keterampilan sosial yang penting namun masih menjadi tantangan di kalangan siswa. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus dengan subjek penelitian 32 siswa kelas Vi-H. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, kuesioner, dan dokumentasi. Pembelajaran ansambel musik sederhana menggunakan alat musik tiup sederhana pianika dengan menggunakan lagu daerah sederhana. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan kemampuan kerja sama siswa dari 56% pada pra-siklus menjadi 73% pada siklus I dan 89% pada siklus II. Indikator kerja sama yang meningkat meliputi komunikasi dalam kelompok, saling mendengarkan, tanggung jawab individu, dan koordinasi dalam bermain musik bersama. Penelitian ini membuktikan bahwa pembelajaran ansambel musik sederhana efektif meningkatkan kerja sama siswa karena memberikan pengalaman konkret berkolaborasi menciptakan harmoni musikal yang membutuhkan sinkronisasi dan saling ketergantungan positif antar anggota kelompok. Kata Kunci: Ansambel Musik. Kerja Sama. Pembelajaran Musik. Pendidikan Karakter. Seni Musik. ABSTRACT This study aims to improve the ability to work together students of grade Vi SMPN 5 Kupang through the application of learning simple music ensemble. Cooperation is an important social skill but still a challenge among students. This class action research was conducted in two cycles with 32 students of Class Vi-H. Data collection methods using observation, questionnaires, and Learning simple music ensemble using simple wind instruments pianika using simple folk songs. The results showed a significant increase in students ' cooperation ability from 56% in pre-cycle to 73% in cycle I and 89% in Cycle II. Indicators of increased cooperation include communication in groups, mutual listening, individual responsibility, and coordination in playing music together. This study proves that simple music ensemble learning is effective in increasing student cooperation because it provides a concrete experience of collaborating to create musical harmony that requires synchronization and positive interdependence between group members. Keywords. Music Ensemble. Collaboration. Music Education. Character Education. Music Arts. PENDAHULUAN Pendidikan di era abad ke-21 tidak hanya menekankan pada penguasaan konten akademik, tetapi juga pengembangan keterampilan sosial yang dikenal dengan 4C (Critical Thinking. Creativity. Communication. Collaboratio. Kerja sama atau kolaborasi menjadi salah satu keterampilan esensial yang harus dikembangkan sejak dini. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan kerja sama siswa masih rendah, termasuk di SMPN 5 Kupang. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa hanya 56% siswa kelas Vi-H yang mampu bekerja sama dengan baik dalam kegiatan kelompok, sisanya cenderung bekerja individual atau mendominasi kelompok. Permasalahan rendahnya kemampuan kerja sama siswa terlihat dalam berbagai situasi Siswa kesulitan berkomunikasi dengan teman sekelompok, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, kurang bertanggung jawab terhadap tugas kelompok, dan tidak mampu menyelaraskan peran masing- masing untuk mencapai tujuan bersama. Kondisi ini berdampak pada hasil belajar yang tidak optimal dan perkembangan sosial-emosional siswa yang terhambat. Pembelajaran seni musik, khususnya ansambel musik, memiliki potensi besar untuk mengembangkan kemampuan kerja sama siswa. Ansambel musik adalah kegiatan bermain musik secara bersama-sama dengan membagi peran dan fungsi masing-masing instrumen untuk menghasilkan harmoni yang utuh. Dalam ansambel, setiap pemain harus mendengarkan pemain lain, mengikuti tempo yang sama, menjaga dinamika, dan menyesuaikan permainannya dengan keseluruhan kelompok. Kegiatan ini secara alami menuntut kerja sama yang erat antar anggota. Penelitian sebelumnya oleh Hallam . menunjukkan bahwa aktivitas musik kelompok dapat meningkatkan keterampilan sosial dan kemampuan bekerja dalam tim. Demikian pula penelitian Kokotsaki dan Hallam . menemukan bahwa siswa yang terlibat dalam ansambel musik mengembangkan kemampuan mendengarkan, empati, dan kerja sama yang lebih baik. Di Indonesia, penelitian Wicaksono . membuktikan bahwa pembelajaran ansambel musik tradisional efektif meningkatkan sikap kooperatif siswa sekolah menengah. Namun penelitian tentang penerapan ansambel musik sederhana untuk meningkatkan kerja sama siswa di konteks pendidikan menengah Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur, masih terbatas. Pembelajaran ansambel musik sederhana dipilih dalam penelitian ini dengan pertimbangan bahwa alat musik yang digunakan tidak memerlukan keterampilan teknis yang tinggi dan dapat dengan mudah dipelajari oleh siswa pemula. Alat musik yang digunakan meliputi alat musik melodis sederhana seperti pianika. Pemilihan alat musik sederhana ini bertujuan agar siswa dapat lebih fokus pada aspek kerja sama dan interaksi musikal daripada terbebani oleh kesulitan teknis memainkan alat musik yang kompleks. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian dilaksanakan di SMPN 5 Kupang semester ganjil tahun ajaran 2024/2025 selama 4 bulan dari bulan Agustus hingga November 2025. Subjek penelitian adalah siswa kelas Vi-A SMPN 5 Kupang yang berjumlah 32 siswa, terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Pemilihan kelas Vi-H didasarkan pada hasil observasi awal yang menunjukkan bahwa kelas tersebut memiliki kemampuan kerja sama paling rendah dibandingkan kelas paralel lainnya. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan kuesioner. Observasi dilakukan untuk mengamati proses pembelajaran dan perilaku kerja sama siswa selama kegiatan ansambel musik berlangsung. Instrumen observasi berupa lembar pengamatan dengan indikator kerja sama meliputi komunikasi dalam kelompok, saling mendengarkan, tanggung jawab terhadap peran masing-masing, kemampuan berkoordinasi, dan sikap saling Kuesioner diberikan kepada siswa untuk mengetahui persepsi mereka terhadap kemampuan kerja sama diri sendiri dan kelompok. Prosedur penelitian dimulai dengan tahap pra-siklus untuk mengidentifikasi kondisi awal kemampuan kerja sama siswa. Pada siklus I, siswa dibagi menjadi 2 kelompok beranggotakan 16 orang. Setiap kelompok berlatih memainkan lagu sederhana menggunakan alat musik sederhana pianika. Repertoar yang digunakan adalah lagu daerah Nusa Tenggara Timur "Bolelebo". Pembelajaran dilaksanakan 4 pertemuan dengan durasi 2 jam pelajaran per Pada akhir siklus I dilakukan evaluasi dan refleksi untuk mengidentifikasi kekurangan yang akan diperbaiki pada siklus II. Siklus II dilaksanakan dengan perbaikan berdasarkan refleksi siklus I. Perbaikan meliputi pembagian peran yang lebih jelas dalam kelompok dan penguatan teknik komunikasi musikal. Repertoar pada siklus II menggunakan lagu yang sama yaitu lagu daerah "BoleleboAy dengan aransemen sederhana seperti pada siklus I. Siklus II juga dilaksanakan dalam 4 pertemuan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik deskriptif kuantitatif. Data dari hasil observasi dan kuesioner dianalisis dengan menghitung persentase ketercapaian indikator kemampuan kerja sama siswa. Rumus yang digunakan adalah: Persentase = (Jumlah skor yang diperoleh / Jumlah skor maksima. y 100%. Indikator keberhasilan penelitian ditetapkan apabila minimal 80% siswa mencapai kategori baik dalam kemampuan kerja sama. Untuk memastikan validitas dan reliabilitas, penelitian ini menggunakan triangulasi data dari dua sumber . bservasi dan kuesione. dan melibatkan kolaborator sebagai pengamat independen untuk mengurangi subjektivitas. Keterbatasan penelitian ini adalah hanya dilaksanakan pada satu kelas di satu sekolah sehingga generalisasi hasil perlu dilakukan dengan hati-hati. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menghasilkan data tentang peningkatan kemampuan kerja sama siswa melalui pembelajaran ansambel musik sederhana. Data diperoleh dari pengamatan selama pra-siklus, siklus I, dan siklus II yang menunjukkan perkembangan bertahap kemampuan kerja sama siswa dalam berbagai indikator. Pada tahap pra-siklus, dilakukan observasi terhadap kemampuan kerja sama siswa dalam pembelajaran kelompok reguler. Hasil observasi menunjukkan bahwa dari 32 siswa, hanya 18 siswa atau 56% yang menunjukkan kemampuan kerja sama kategori cukup, sementara 44% sisanya masih dalam kategori kurang. Permasalahan utama yang teridentifikasi adalah komunikasi yang tidak efektif dalam kelompok, dominasi beberapa siswa tertentu, rendahnya sikap saling mendengarkan, dan kurangnya tanggung jawab individual terhadap tugas kelompok. Siswa cenderung bekerja sendiri-sendiri meskipun dalam kelompok, jarang berkonsultasi dengan teman sekelompok, dan tidak ada koordinasi yang jelas dalam menyelesaikan tugas. Ketika diminta presentasi kelompok, hanya satu atau dua orang yang aktif berbicara sementara anggota lain pasif. Kondisi ini menjadi dasar pentingnya intervensi melalui pembelajaran ansambel musik yang secara inheren membutuhkan kerja sama erat untuk menghasilkan penampilan musikal yang baik. Hasil Siklus I Pada siklus I, siswa dibagi menjadi 2 kelompok dan mulai berlatih ansambel musik Setiap kelompok terdiri dari pianika 1 . antus firmu. dan pianika 2 . ontra Pembelajaran difokuskan pada pengenalan instrumen, teknik dasar bermain, pembagian peran, dan latihan koordinasi memainkan lagu "Bolelebo". Hasil observasi pada siklus I menunjukkan peningkatan kemampuan kerja sama siswa menjadi 73%. Peningkatan terlihat pada beberapa indikator. Komunikasi dalam kelompok meningkat karena siswa harus berdiskusi untuk menentukan siapa memainkan instrumen apa, kapan mulai bermain, dan bagaimana mengatur Kemampuan saling mendengarkan berkembang karena dalam ansambel, setiap pemain harus mendengarkan pemain lain agar tetap sinkron. Siswa mulai belajar tidak hanya fokus pada permainan sendiri tetapi juga memperhatikan bunyi yang dihasilkan teman sekelompok. Tanggung jawab individual meningkat karena setiap siswa memiliki peran spesifik yang harus dimainkan. Jika satu orang tidak memainkan bagiannya dengan baik, keseluruhan penampilan kelompok akan terganggu. Hal ini membuat siswa lebih serius berlatih bagian masing-masing. Koordinasi mulai terbentuk meskipun masih sederhana, terlihat dari upaya siswa untuk mulai dan berhenti bermain bersama- sama. Namun siklus I juga menghadapi beberapa kendala. Beberapa siswa masih kesulitan menyesuaikan tempo, ada siswa yang masih malu-malu memainkan instrumen, dan koordinasi antara melodi dan harmoni belum sempurna. Beberapa siswa juga masih menunjukkan sikap kurang sabar menunggu giliran dan cenderung ingin memainkan melodi favorit saja. Dari refleksi siklus I, diputuskan untuk memberikan penguatan peran conductor dalam kelompok, meningkatkan frekuensi latihan koordinasi, dan memberikan feedback lebih intensif pada setiap kelompok. Hasil Siklus II Siklus II dilaksanakan dengan perbaikan berdasarkan refleksi siklus I. Setiap kelompok menunjuk seorang conductor yang bertugas memberikan aba-aba mulai, mengatur tempo, dan memberi tanda dinamika. Hasil observasi siklus II menunjukkan peningkatan signifikan kemampuan kerja sama siswa menjadi 89%. Dari 32 siswa, 28 siswa berada dalam kategori baik dan 4 siswa dalam kategori cukup. Tidak ada lagi siswa dalam kategori kurang. Peningkatan terlihat pada semua indikator kerja sama. Komunikasi dalam kelompok sangat berkembang, siswa aktif berdiskusi tentang interpretasi lagu, kapan harus bermain keras atau lembut, dan bagaimana mengatasi bagian yang sulit. Kemampuan saling mendengarkan meningkat drastis, terlihat dari keselarasan permainan antar instrumen yang semakin baik. Siswa tidak hanya mendengarkan melodi utama tetapi juga memperhatikan harmoni untuk menciptakan keseimbangan bunyi. Tanggung jawab individual sangat kuat, setiap siswa serius berlatih bagian masingmasing di luar jam pelajaran. Mereka menyadari bahwa kesuksesan kelompok bergantung pada penguasaan setiap individu terhadap bagiannya. Koordinasi mencapai tingkat yang baik, kelompok mampu mulai bermain serempak, mempertahankan tempo stabil, mengikuti arahan conductor, dan mengakhiri lagu dengan presisi. Yang menarik, sikap saling membantu juga berkembang secara natural. Siswa yang lebih cepat menguasai teknik bermain secara sukarela membantu teman yang kesulitan. Mereka saling memberi tips, memperlambat tempo saat latihan untuk memudahkan teman yang tertinggal, dan memberikan apresiasi ketika ada perbaikan. Suasana kompetitif yang negatif berubah menjadi suasana kolaboratif yang positif. Pembahasan Peningkatan kemampuan kerja sama siswa dari 56% pada pra-siklus menjadi 89% pada siklus II membuktikan efektivitas pembelajaran ansambel musik sederhana. Peningkatan ini dapat dijelaskan melalui beberapa aspek teoretis dan praktis. Menurut perspektif teori belajar sosial Vygotsky, ansambel musik menciptakan zona perkembangan proksimal di mana siswa belajar melalui interaksi dengan teman sebaya dan bimbingan guru. Kegiatan bermain musik bersama menempatkan siswa dalam situasi yang membutuhkan negosiasi, komunikasi, dan pemecahan masalah kolaboratif. Scaffolding terjadi secara natural ketika siswa yang lebih mahir membantu yang kurang mahir. Ansambel musik memberikan pengalaman konkret tentang saling ketergantungan positif, sebuah elemen kunci dalam pembelajaran kooperatif menurut Johnson dan Johnson . Dalam ansambel, kesuksesan kelompok benar-benar bergantung pada kontribusi setiap anggota. Tidak ada yang bisa "menumpang" karena ketiadaan satu suara akan langsung terdengar. Pengalaman ini membuat siswa memahami secara visceral pentingnya kerja sama. Musik sebagai bahasa universal memberikan media komunikasi alternatif selain bahasa Siswa yang mungkin kurang percaya diri berkomunikasi verbal menemukan cara berkomunikasi melalui musik. Kontak mata, bahasa tubuh, dan komunikasi musikal . eperti mengikuti tempo dan dinamik. menjadi bentuk komunikasi non-verbal yang memperkaya kemampuan berinteraksi siswa. Proses mencapai harmoni musikal mengajarkan pentingnya mendengarkan dan penyesuaian diri. Dalam ansambel, siswa harus mendengarkan tidak hanya untuk mengikuti tetapi juga untuk menyesuaikan volume, tempo, dan karakter permainan mereka agar selaras dengan keseluruhan. Keterampilan mendengarkan aktif ini adalah dasar dari kerja sama yang Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan penelitian sebelumnya. Podu . dalam penelitiannya tentang pembelajaran ansambel rebana Gorontalo menemukan bahwa pembelajaran ansambel dengan metode yang tepat dapat meningkatkan interaksi dan kerja sama siswa. Mali . dalam penelitiannya tentang ansambel musik suling bambu juga menunjukkan bahwa aktivitas musik bersama mengembangkan keterampilan kolaboratif Firdaus . membuktikan efektivitas pembelajaran ansambel campuran dalam mengembangkan kemampuan bekerja dalam kelompok. Penelitian internasional oleh Hallam . menemukan bahwa partisipasi dalam ansambel musik meningkatkan keterampilan sosial, kepercayaan diri, dan kemampuan bekerja dalam tim. Penelitian Kokotsaki dan Hallam . menunjukkan bahwa siswa dalam ansambel mengembangkan empati, toleransi, dan apresiasi terhadap kontribusi orang lain. Namun penelitian ini memberikan kontribusi baru dengan menunjukkan bahwa ansambel musik sederhana menggunakan instrumen yang mudah diakses . juga efektif meningkatkan kerja sama siswa. Ini penting karena tidak semua sekolah memiliki akses ke instrumen musik tradisional atau orkestra yang mahal. Penelitian ini membuktikan bahwa dengan instrumen sederhana dan lagu-lagu familiar, guru dapat menciptakan pengalaman pembelajaran musikal yang bermakna untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Temuan lain yang menarik adalah peran conductor dalam kelompok. Pada siklus II, penunjukan conductor membantu meningkatkan koordinasi dan memberikan pengalaman kepemimpinan kepada siswa. Conductor belajar memberikan arahan jelas, membaca situasi kelompok, dan mengambil keputusan, sementara anggota lain belajar mengikuti arahan dan mempercayai pemimpin mereka. Dinamika ini menambah dimensi pembelajaran kerja sama yang lebih kompleks. Data dari kuesioner siswa mendukung temuan observasi. Sebanyak 91% siswa menyatakan bahwa mereka menjadi lebih menghargai pendapat teman setelah bermain Sebanyak 87% siswa merasa lebih percaya diri berkomunikasi dalam kelompok. Dan 94% siswa menyatakan bahwa mereka menjadi lebih memahami pentingnya mendengarkan orang lain. Respons siswa ini menunjukkan bahwa pembelajaran ansambel musik tidak hanya meningkatkan perilaku kerja sama tetapi juga mengubah sikap dan kesadaran siswa tentang pentingnya kolaborasi. Keterbatasan penelitian ini adalah waktu pelaksanaan yang relatif singkat . dan terbatas pada satu kelas. Penelitian lebih lanjut dapat mengeksplorasi efek jangka panjang pembelajaran ansambel musik terhadap kemampuan kerja sama siswa dan transfer keterampilan tersebut ke konteks lain. Penelitian dengan sampel lebih besar dan kelompok kontrol juga diperlukan untuk memperkuat validitas eksternal temuan ini. KESIMPULAN Penelitian ini membuktikan bahwa penerapan pembelajaran ansambel musik sederhana efektif meningkatkan kemampuan kerja sama pada siswa kelas Vi di SMPN 5 Kupang. Peningkatan signifikan terjadi dari 56% pada kondisi awal menjadi 89% pada akhir siklus II. Pembelajaran ansambel musik memberikan pengalaman konkret berkolaborasi yang membutuhkan komunikasi efektif, saling mendengarkan, tanggung jawab individual, koordinasi, dan sikap saling membantu. Keberhasilan pembelajaran ini disebabkan oleh sifat inheren ansambel musik yang menuntut saling ketergantungan positif antar anggota kelompok. Setiap siswa memiliki peran penting yang tidak dapat digantikan, sehingga mereka termotivasi untuk menguasai bagian masing-masing dan berkoordinasi dengan baik. Proses mencapai harmoni musikal mengajarkan siswa tentang pentingnya mendengarkan, menyesuaikan diri, dan menghargai kontribusi setiap anggota kelompok. Penelitian ini penting bagi guru seni budaya dan praktisi pendidikan karena menawarkan alternatif pembelajaran yang menyenangkan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Ansambel musik sederhana dapat diimplementasikan dengan instrumen yang mudah diakses dan lagu-lagu familiar, sehingga tidak membutuhkan investasi Implikasi praktis dari temuan ini adalah guru dapat memanfaatkan pembelajaran seni musik tidak hanya untuk mencapai kompetensi bidang seni tetapi juga untuk mengembangkan keterampilan abad ke-21 seperti kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk mengeksplorasi penerapan ansambel musik pada berbagai tingkat pendidikan, menggunakan berbagai jenis instrumen musik, dan mengkaji transfer keterampilan kerja sama yang dipelajari melalui ansambel musik ke konteks pembelajaran lain. Penelitian longitudinal juga diperlukan untuk memahami efek jangka panjang pembelajaran ansambel musik terhadap perkembangan sosial-emosional DAFTAR PUSTAKA