Hal: PENINGKATAN PENGETAHUAN HIPERTENSI MELALUI MEDIA VIDEO ANIMASI IMPROVING KNOWLEDGE OF HYPERTENSION THROUGH ANIMATED VIDEOS Fajar Nur Rahman1*. Yarwin Yari1. Ika Mustafida1 STIKes RS Husada Jakarta *E-mail: fajarnurrahman77@gmail. ABSTRAK Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang sering dijuluki sebagai silent killer karena seringkali tidak menunjukkan gejala yang jelas, namun dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius seperti stroke, gagal ginjal, hingga kematian di wilayah kerja Puskesmas Karang Satria. Kabupaten Bekasi. Salah satu penyebab tingginya kasus hipertensi adalah rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang penyakit ini, meliputi faktor risiko, upaya pencegahan, serta cara pengelolaannya. itu, diperlukan strategi edukasi yang menarik dan efektif, salah satunya melalui media video animasi yang dapat meningkatkan daya tarik serta pemahaman masyarakat terhadap informasi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi melalui media video animasi terhadap tingkat pengetahuan hipertensi pada masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experimental jenis one group pretest-posttest. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 50 responden yang dipilih dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi tertentu. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Hypertension Knowledge Level Scale berisi 16 pertanyaan. Intervensi berupa video animasi edukasi tentang hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor pengetahuan yang signifikan setelah Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai p = 0,000 . < 0,. , yang menandakan adanya pengaruh signifikan dari edukasi melalui video animasi terhadap peningkatan pengetahuan responden mengenai hipertensi. Dapat disimpulkan bahwasanya terdapat perbedaan yang signifikan. Perbedaan nilai pengetahuan responden mengenai hipertensi antara hasil pre-test dan post-test setelah diberikan intervensi berupa edukasi melalui media video animasi. Temuan ini membuktikan adanya pengaruh yang baik penggunaan media video animasi terhadap tingkat pengetahuan hipertensi. Dalam upaya pencegahan serta penanganan terhadap penyakit Hipertensi. Kata Kunci: Edukasi. Video Animasi. Pengetahuan Hipertensi ABSTRACT Hypertension is one of the non-communicable diseases often referred to as the "silent killer" because it often does not show clear symptoms, yet can lead to serious complications such as stroke, kidney failure, and even death in the service area of the Karang Satria Community Health Center. Bekasi Regency. One of the causes of the high incidence of hypertension is the low level of public knowledge about this disease, including risk factors, prevention efforts, and management methods. Therefore, an engaging and effective educational strategy is needed, such as through animated video media, which can enhance public interest and understanding of health information. This study aims to determine the impact of education through animated video media on public knowledge of hypertension. This study uses a quantitative approach with a quasiexperimental design of the one-group pretest-posttest type. The sample consists of 50 Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 12. Januari 2026 ISSN. respondents selected using purposive sampling based on specific inclusion and exclusion The research instrument uses the Hypertension Knowledge Level Scale questionnaire, which contains 16 questions. The intervention consists of an educational animated video about hypertension. The results of the study showed a significant increase in knowledge scores after the intervention. The Wilcoxon Signed Rank Test yielded a pvalue of 0. < 0. , indicating a significant effect of education through animated videos on improving respondents' knowledge about hypertension. It can be concluded that there is a significant difference in respondents' knowledge scores about hypertension between the pre-test and post-test results after the intervention in the form of education through animated video media. This finding proves the positive effect of using animated video media on hypertension knowledge levels, particularly in efforts to prevent and manage hypertension. Keywords: Education. Animated Video. Hypertension Knowledge Pendahuluan Penyakit tidak menular penyumbang terbanyak terhadap tingginya angka kematian setiap tahun, mempengaruhi individu dari berbagai kelompok usia dan terjadi di berbagai penjuru seluruh dunia. Berbagai macam penyakit tidak menular kardiovaskular yang berhubungan terhadap peningkatan tekanan darah, kadar gula dalam darah, kadar lipid dalam darah, serta Keadaan ini dapat menyebabkan munculnya berbagai penyakit, termasuk serangan jantung, stroke, serta penyakit jantung dan gangguan kardiovaskular lain dan berbagai jenis penyakit kanker. Penyakit pernapasan kronis seperti asma, dan penyakit pernapasan lainnya, diabetes tipe 1 dan 2, serta penyakit tidak menular lainnya seperti Alzheimer, artritis, epilepsi, hemofilia, dan berbagai penyakit lainnya juga sering ditemukan di sekitar kita (Rika Widianita dkk. Berdasarkan data WHO . , sebanyak 1,28 miliar orang di dunia mengalami hipertensi, namun hanya sebagian kecil yang menyadari dan mengendalikan kondisi tersebut. penderita hipertensi di Indonesia mencapai 63 juta orang, dan angka kematian mencapai 427 ribu jiwa. Kasus hipertensi paling sering ditemukan pada usia 31 - 64 Namun, hanya sebagian kecil yang terdiagnosis . ,8%), dan dari (Ratna Dila , 2. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023 menghasilkan bahwasanya Indonesia menunjukkan peningkatan pada kelompok usia Ou18 tahun dengan angka mencapai 33,6% yang diperoleh dari pengukuran tekanan darah. Jika dibandingkan dengan data Riskesdas 2018. Survey Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan adanya kenaikan prevalensi hipertensi di kalangan. Masyarakat berusia lebih dari 18 tahun berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah (Kemenkes 2. Faktorfaktor risiko hipertensi seperti pola makan tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, merokok, serta kurangnya kesadaran masyarakat menjadi tantangan utama dalam penanggulangan penyakit ini (Kuba , 2. Jumlah kasus hipertensi terus meningkat setiap tahun. Pada tahun 2024 tercatat sebanyak 5. 596 pasien hipertensi di wilayah tersebut. Survei awal yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat tentang hipertensi kurangnya edukasi yang efektif dan minimnya partisipasi dalam kegiatan Media video Animasi dapat memberikan penjelasan yang lebih mendalam dengan dukungan gambar dan suara yang Beberapa studi memperlihatkan bahwasanya pemanfaatan media visual masyarakat mengenai berbagai isu kesehatan, termasuk hipertensi (Aliyah , 2. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh edukasi melalui media video animasi hipertensi pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Karang Satria. Bekasi. Hal: 57-63 Peningkatan Pengetahuan Hipertensi Melalui Media Video Animasi Metodologi Penelitian Penelitian pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experimental tipe one group pretestposttest, di mana responden diberikan pengukuran tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi edukasi melalui media video animasi. Desain ini dipilih untuk mengetahui perbedaan pengetahuan yang terjadi akibat perlakuan intervensi secara langsung dalam satu kelompok tanpa kelompok kontrol. Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Karang Satria. Kecamatan Tambun Utara. Kabupaten Bekasi. Waktu pelaksanaan penelitian berlangsung pada bulan Juni hingga Juli 2025. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien hipertensi yang terdaftar di Puskesmas Karang Satria. Sampel berjumlah 50 responden. Menentukan jumlah sample ditentukan menggunakan aplikasi Software G-Power dengan menetapkan jumlah sample 45 responden Menghitung Drop Off 10% sehingga total sample menjadi 50 responden. menggunakan teknik purposive sampling yaitu pemilihan sampel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi tertentu yang telah ditetapkan Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner Hypertension Knowledge-Level Scale (HK-LS) yang terdiri dari 16 pertanyaan pilihan ganda. Kuesioner ini digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan responden sebelum Pengumpulan data dilakukan melalui tiga tahap: pretest . ebelum edukas. , intervensi pemutaran video animasi edukatif sesuai Satuan Acara Penyuluhan, dan posttest . etelah edukas. Video animasi yang digunakan berisi materi tentang definisi, faktor risiko, gejala, komplikasi, pencegahan, dan pengelolaan hipertensi. (Nelly Sulastri dkk. , 2. Analisis data dilakukan secara statistik menggunakan dua tahap: analisis univariat untuk mendeskripsikan karakteristik responden dan distribusi pengetahuan, serta analisis bivariat menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test untuk menguji perbedaan skor pengetahuan sebelum dan sesudah Uji Wilcoxon digunakan karena data hasil pretest dan posttest tidak Signifikansi ditentukan pada tingkat kepercayaan 95% . <0,. Hasil Penelitian Tabel. 1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin. Tingkat Pendidikan. Pekerjaan dan Usia Pada pasien Hipertensi di Puskesmas Karang Satria . Variabel Jenis Kelamin LakiAeLaki Perempuan Tingkat Pendidikan SMP SMA/SMK Perguruan Tinggi Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja Frekuensi Persentase Berdasarkan tabel 1 Mayoritas responden mayoritas berjenis kelamin Dengan responden dengan persentase . %). Rata Ae rata responden memiliki tingkat pendidikan SMA/SMK dengan frekuensi Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 12. Januari 2026 27 dan persentase . %). Responden yang memiliki jenjang tingkat pendidikan (SMP) berjumlah 9 responden . %). Selanjutnya responden yang memiliki jenjang tingkat pendidikan (SD & Perguruan Tingg. 7 responden . %). Hasil ini menunjukan bahwa mayoritas responden berasal dari jenjang pendidikan ISSN. tingkat menengah atas (SMA/SMK). Yang menunjukan latar belakang pendidikan cukup memadai untuk menerima informasi edukasi terkait hipertensi. Dan mayoritas responden rata Ae rata memiliki frekuensi dan persentase yang sama antara bekerja dengan tidak berkerja dengan frekuensi 25 dan persentase . %). Tabel 2 : Distribusi Responden Berdasarkan Usia pada Pasien Hipertensi di Wilayah Puskesmas Karang Satria . = . 95% Confidence Interval Variabel Mean Min-Max Lower Upper Usia 45,58 12,046 Berdasarkan table 2 Hasil analisis di dapatkan bahwa rata-rata usia responden adalah 45,58 tahun dibulatkan keatas menjadi 46 tahun, dengan usia termuda adalah 19 tahun dan usia tertua adalah 71 43,08 dengan standar deviasi 12,046. Hasil merupakan individu pada kelompok usia dewasa hingga lansia. Tabel 2 Distribusi Responden Pre-Test Post-Test pada Pasien Hipertensi di Wilayah Puskesmas Karang Satria Variabel Mean Min-Max Pre - Test Post - Test 12,88 14,88 2,115 1,686 Berdasarkan table 3 Hasil analisis data menunjukan adanya perbedaan skor antara pre-test dan post-test. Pada tahap pre-test rata rata . skor responden adalah 12,88. Sementara itu pada tahap post-test terjadi peningkatan rata rata skor Variabel Pre - Test Post - Test 95% Confidence Interval Lower Upper 12,32 13,48 14,40 15,32 menjadi 14,88. Pada Pretest Min Ae Max menghasilkan 8-16. Pada Posttest MinMax menghasilkan 11-16. Standar deviasi pada Pretest menghasilkan nilai 2,115. Pada Posttest Standar menghasilkan nilai 1,686. Tabel 3 Hasil Uji Normalitas Shapiro Wilk Interpretasi 0,19 Normal 0,0001 Tidak Distribusi Normal Berdasarkan Tabel Test Normalitas pada uji pre dan post Test. penelitian ini dilakukan dengan uji Shapiro Wilk karena jumlah responden tergolong Interpretasi dari hasil Uji Normalitas ini didapatkan bahwa hasil Pre-Test Berdistribusi Normal. Sedangkan Post Test Tidak Berdistribusi Normal. Sehingga uji analisis Bivariat yang Non Parametric Wilcoxon signed rank test. Hal: 57-63 Peningkatan Pengetahuan Hipertensi Melalui Media Video Animasi Tabel 4 Hasil Uji Wilcoxon Signed Rank Test Variabel Negative Rank Positive Rank P Value Tingkat Pengetahuan Hipertensi 0,0001 Data diatas hasil uji statistik menggunakan analisis wilcoxon signed rank test didapatkan nilai p-value sebesar 0,0001 (P O 0,. Nilai ini menunjukan bahwasanya terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pre-test dan post-test hipertensi setelah diberikan intervensi melalui edukasi video animasi, sehingga disimpulkan bahwa H0 ditolak. Berdasarkan hasil analisis terhadap 50 responden diketahui total responden yang bekerja pada penelitian ini berjumlah 25 responden. Dan responden yang tidak bekerja berjumlah 25 responden. Pada pernyataan penelitian yang dilaksanakan oleh (Pebrisiana dkk. , 2. Bahwasanya pekerjaan memiliki hubungan dengan kejadian hipertensi, dimana orang yang tidak bekerja berisiko 1,42 kali mengalami Hasil analisis terhadap 50 responden terhadap tingkat pendidikan didapatkan Pada Jenjang (SMA/SMK) sebanyak 27 responden. Tingkat pendidikan merupakan salah satu pengetahuan dalam masalah kesehatan. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi memungkinkan responden untuk lebih berpikir kritis. Menyaring informasi secara baik. Serta mengambil keputusan yang tepat terkait upaya pencegahan dan pengendalian terkait masalah kesehatan. Dalam penelitian ini didapatkan hasil. tingkat pendidikan menengah dominan memiliki pengetahuan yang lebih baik Dari data tersebut terlihat bahwa nilai rata rata tingkat pengetahuan responden terdapat adanya peningkatan yang baik setelah dilakukan intervensi menggunakan media video animasi terhadap pengetahuan mengenai penyakit Hipertensi. Tingkat pengetahuan awal sebelum pemberian edukasi melalui media video animasi (Pretes. Berdasarkan hasil analisis data pada tahap . dari rata rata skor responden menunjukan nilai mean 12,88 berdasarkan nilai cut off point 8-16. Berdasarkan hasil analisis data pada tahap posttest menunjukan nilai dari rata rata skor responden menunjukan nilai mean 14,88. Dari data tersebut terlihat bahwa nilai rata rata tingkat pengetahuan responden terdapat adanya peningkatan yang baik setelah dilakukan intervensi menggunakan media video animasi terhadap pengetahuan mengenai penyakit Hipertensi. Pembahasan Berdasarkan hasil analisis distribusi frekuensi usia didapatkan bahwa rata rata usia responden adalah 46 tahun pada usia termuda adalah 19 tahun dan usia tertua adalah 71 tahun. Hasil analisis ini merupakan individu pada kelompok usia dewasa hingga lansia Hal ini dikarenakan Pada kondisi usia lanjut seperti komorbiditas yang tinggi dan dapat mengakibatkan kerusakan pada fisik dan fungsi psikososial. Fungsi fisiologis tubuh dan kemampuan untuk melakukan aktivitas mulai menurun pada masa pralansia sehingga dapat memicu munculnya penyakit dan menurunkan status kesehatan Pada usia lanjut (Mustafida dkk. , 2. Berdasarkan hasil analisis data terhadap 50 responden, diketahui proporsi perempuan berjumlah 32 orang dan responden laki-laki berjumlah 18 orang. Berdasarkan hasil telah menunjukan bahwa partisipasi jenis kelamin perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kelamin laki-laki. Jenis kelamin Menurut penelitian yang di lakukan oleh (Ratna Dila dkk. Risiko hipertensi dipengaruhi oleh jenis kelamin, di mana pria cenderung peningkatan tekanan sistolik dengan rasio sekitar 2,29. Gaya hidup pria lebih tekanan darah seperti merokok. Tetapi sesudah menopause, prevalensi hipertensi pada wanita cenderung bertambah. Setelah mencapai usia 65 tahun. Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 12. Januari 2026 Berdasarkan nilai cut off point 11-16 pada kuesioner hypertensions knowladge level scale HKLS, yang menyatakan bahwa semakin tinggi nilai menunjukan pengetahuan yang baik (Nelly Sulastri , 2. Hasil membuktikan tingkat pengetahuan dipengaruhi dengan adanya dukungan media video animasi memiliki daya tarik visual dan audio yang baik. Sehingga dapat memudahkan responden Penyajian materi yang sangat baik dan interaktif dibantu dengan adanya animasi membantu untuk meningkatkan pengetahuan Hipertensi. Penelitian ini sejalan dengan (Handayani dkk. ,). menunjukan bahwa Sebelum menunjukan hasil bahwasanya sebagian besar responden hipertensi memiliki intervensi, dengan total 25 responden yang memiliki tingkat pengetahuan yang kurang Penelitian lain menurut (Novrianti , 2. , menunjukan hasil bahwasanya sebelum dilakukan intervensi melalui audivisuai terhadap penderita hipertensi menunjukan nilai mean 6,95. Dan pada nilai Standar Deviasi 1. Dengan total keseluruhan 63 responden. Pada penelitian yang dilakukan oleh (Cherliana dkk. ,). Pengaruh edukasi menggunaka media video terhadap kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi. Mendapatkan hasil Pretest terdapat 24 responden tergolong rendah, 8 responden tergolong sedang. Dan 8 responden tergolong tinggi terhadap kepatuhan minum obat Hipertensi sebelum intervensi. Menganalisis Perbedaan Tingkat Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Pemberian Edukasi Melalui Media Video Animasi Berdasarkan hasil analisis terdapat perbedaan yang signifikan antara pretest dan posttest. Hal ini dibuktikan dengan adanya pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengetahuan, hasil Uji Analisis Wilcoxon Signed Rank Test menghasilkan nilai p-value sebesar 0,0001 (P O 0,. Nilai ini menunjukan bahwasanya terdapat ISSN. perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan post-test pengetahuan responden mengenai hipertensi setelah diberikan intervensi melalui edukasi video animasi. Dalam hal ini peran media video animasi memiliki daya tarik audio dan visual yang baik. Dan juga tepat dengan kuesioner yang digunakan, untuk meningkatkan pengetahuan. Sehingga dapat memudahkan responden dalam menerima informasi yang disampaikan. Penyajian materi secara interaktif ditambah dengan animasi dapat membantu meningkatkan daya ingat. menerima informasi. Terutama dalam hal edukasi kesehatan terhadap penyakit Hipertensi. Berdasarkan hal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pemberian edukasi dengan media video animasi, efektif dilakukan pada pasien dengan hipertensi, dibuktikan dengan adanya responden sebelum dan sesudah dilakukan intervensi dengan media video animasi dikarenakan dengan adanya dukungan media video animasi memiliki daya tarik visual dan audio yang baik. Sehingga dapat memudahkan responden dalam menerima informasi yang di sampaikan. Penyajian materi yang sangat baik dan interaktif dibantu dengan adanya animasi membantu untuk meningkatkan daya ingat responden terhada pengetahuan Hipertensi. Kesimpulan Temuan ini membuktikan adanya pengaruh yang baik penggunaan media pengetahuan hipertensi. Dalam upaya pencegahan serta penanganan terhadap penyakit Hipertensi. antara hasil pre-test dan post-test setelah diberikan intervensi berupa edukasi melalui media video Saran Untuk Puskesmas, di harapkan dapat menggunakan media video animasi sebagai salah satu metode penyuluhan rutin kepada masyarakat karena lebih mudah untuk Untuk Masyarakat. Di harapkan lebih aktif mencari informasi tentang hipertensi serta selalu memanfaatkan media edukasi seperti video animasi untuk Hal: 57-63 Peningkatan Pengetahuan Hipertensi Melalui Media Video Animasi meningkatkan pengetahuan khususnya untuk penyakit hipertensi. Untuk peneliti selanjutnya, dapat meneliti penggunaan media video animasi terkait penyakit tidak menular lainya, atau membandingkan pengaruh media video dengan media lainnya seperti, poster. Daftar Pustaka