Contents list avaliable at Directory of Open Access Journals (DOAJ) Ar-Raihanah: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 2 Nomor 2 Desember 2022. Pages 21-34 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Meningkatkan Kemampuan Berbicara Anak Usia Empat Sampai Lima Tahun Melalui Media Pop-Up Book Anggraeni Rizki Lestari1. Aam Kurnia2. Arif Nursihah3 Article Info Abstract Keywords: Speaking Ability. Classroom Action Research. Pop-up Book. The background of this research is motivated regarding children's speaking which is still low. The number of children experience the difficulty in speaking due to the pronunciation of the letters and words which is unclear. The purpose of this study is to know the children's speaking ability, before, in process, and after using the pop-up book media in every cycle in group A at RA Widuri Asy-Syifa Cinanjung. Tanjungsari. Sumedang. The approach uses in this study is mixed-method design which is combining the quantitative and qualitative approach. The method that uses by the researcher is Classroom Action Research. This research consisted of two cycles and each cycle consisted of planning, implementing, observing and The data collection technique of this research using observation, documentation and performance. The data analysis of this research using descriptive and statistics. The result of the study showed that children's speaking ability before using pop-up book media obtained an average value of 56 with less criteria. The process of implementing pop-up book media showed an increase, the teacher activity in cycle I is 75% and cycle II is 90%. The activity of the first cycle of children is 68% and the second cycle is 88%. Therefore, the children's speaking ability after implementing pop-up book media has increased, cycle I the average value is 67 and cycle II the average value is 85. Thus, the hypothesis proposed is accepted, therefore using pop-up book media can improve children's speaking ability. Kata Kunci: Kemampuan Berbicara. Penelitian Tindakan Kelas. Pop-up Book. Abstrak Penelitian ini dilatar belakangi adanya permasalahan mengenai kemampuan berbicara anak yang masih rendah. Beberapa anak mengalami kesulitan berbicara karena pengucapan huruf dan kata tidak jelas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan berbicara anak sebelum, proses, dan sesudah menggunakan media pop-up book pada setiap siklus di kelompok A RA Widuri Asy-Syifa Cinanjung Tanjungsari Sumedang. Pendekatan yang digunakan peneliti yaitu pendekatan campuran . ixed method. yang menggabungkan penelitian kuantitatif dan kualitatif. UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Indonesia Email: arizkilestari@gmail. UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Indonesia Email: aamkurnia@uinsgd. UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Indonesia Email: arifnursihah@uinsgd. Ar-Raihanah: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian ini terdiri dari dua siklus dan setiap siklusnya terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Teknik pengumpulan datanya dengan observasi, dokumentasi dan unjuk kerja. Analisis data menggunakan deskriptif dan statistika. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan berbicara anak sebelum menggunakan media pop-up book diperoleh nilai rata-rata sebesar 56 dengan kriteria kurang. Proses penerapan media pop-up book menunjukkan adanya peningkatan, aktivitas guru siklus I sebesar 75% dan siklus II sebesar Aktivitas anak siklus I sebesar 68% dan siklus II sebesar 88%. Demikian pula, kemampuan berbicara anak setelah diterapkan media pop-up book mengalami peningkatan, siklus I nilai rata-ratanya sebesar 67 dan siklus II sebesar 85. Dengan demikian hipotesis yang diajukan diterima, maka dari itu dengan menggunakan media popup book dapat meningkatkan kemampuan berbiacara anak. PENDAHULUAN Menurut Pasal 1 ayat 14 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah pendidikan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan rentang usia enam tahun dalam upaya pembinaan, yang dicapai melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk menunjang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan jasmani rohani anak. Hal ini dilakukan agar anak siap menduduki pendidikan lebih lanjut. Sujiono pun mengatakan, bahwa usia dini ini sejak lahir sampai usia enam tahun, merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan watak dan kepribadian seorang anak. Ini karena masa usia dini merupakan masa pembentukan fondasi dan dasar kepribadian yang akan menentukan pengalaman masa depan seorang anak (Sujiono, 2. Tentu proses pembelajaran di lembaga PAUD yang ada berupaya untuk mencapai tujuan yang dimaksud. Adapun secara lebih jelas tujuan dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah untuk mempersiapkan anak kepada jenjang studi tingkat dasar (UU No. 20 Tahun 2003. Pendidikan yang diberikan berupa rangsangan terhadap seluruh aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan bahasa. Menurut Bromley dalam Nurbiana, bahasa didefinisikan sebagai sistem tanda yang teratur yang memungkinkan terjadinya transfer berbagai ide dan informasi yang termasuk dalam simbol verbal dan visual. Simbol visual yaitu membaca dan menulis, sedangkan simbol verbal adalah menyimak dan berbicara (Nurbiana dkk, 2. Berbicara merupakan keterampilan berbahasa yang berkembang pada kehidupan Didahului dengan menyimak, kemampuan berbicara atau berucap anak mulai Tentu saja, kemampuan berbicara terkait erat dengan pengembangan kosakata yang diperoleh anak-anak melalui kegiatan mendengarkan dan membaca. Penting juga untuk dipahami bahwa keterampilan yang dibutuhkan untuk berbicara secara efektif banyak persamaannya dengan yang dibutuhkan untuk komunikasi yang efektif dengan menggunakan keterampilan bahasa lainnya (Tarigan, 2. Dari beberapa pendapat yang diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa berbicara merupakan keterampilan berbahasa yang menggunakan kata-kata untuk menyampaikan informasi serta mengkomunikasikan pendapat dan ide. Tujuan yang utama dalam Ar-Raihanah: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 kemampuan berbicara yaitu komunikasi. Komunikasi ialah sebuah pengiriman dan penerimaan pesan . ataupun kabar oleh dua orang atau lebih sehingga pesan yang dituju mudah dimengerti. Oleh sebab itu, supaya dapat menyampaikan pesan secara efektif, pembicara harus dapat memahami apa yang hendak disampaikan atau dikomunikasikan terlebih dahulu. Tarigan mengatakan juga bahwa berbicara memiliki tiga tujuan umum yaitu untuk memberitahukan dan melaporkan . o infor. , menjamu serta menghibur . o entertai. , dan untuk membujuk, mengajak, mendesak serta meyakinkan . o persuad. (Tarigan. Pemberian rangsangan untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak, tidak dengan hanya melatih anak dalam berbicara dengan baik serta benar pula, tetapi dapat melalui dengan pembacaan cerita yang unik dan menarik (Pratama R. N dkk, 2. Berdasarkan dari beberapa pendapat yang diuraikan di atas, tujuan utama berbicara yaitu untuk komunikasi, dan secara umum tujuan berbicara adalah untuk menginformasikan atau memberitahukan informasi kepada penerima informasi, untuk meyakinkan atau mempengaruhi penerima informasi, menghibur, dan untuk menghendaki reaksi dari pendengar atau penerima informasi. Menurut Hurlock aspek kemampuan berbicara anak usia dini terdiri dari tiga proses yang terpisah tetapi saling berkaitan (Hurlock, 2. , yaitu: Pengucapan Tugas yang pertama dalam belajar berbicara adalah mengucapkan sebuah Pengucapan dimulai melalui dengan belajar meniru. Pengucapan kata-kata tersebut dimulai dengan orang yang terlibat dengannya. Ketika seorang anak ditempatkan di lingkungan baru di mana orang lain mengucapkan kata-kata yang berbeda, maka keseluruhan pola pengucapan anak akan berubah dengan cepat. Pengembangan kosakata Tugas yang kedua belajar berbicara yaitu mengembangkan sejumlah kosakata. Banyak kata yang memiliki banyak arti, dan beberapa kata terdengar sama, namun mempunyai arti yang berbeda. Jadi ketika mengembangkan kosakata, tentu anak perlu belajar mengaitkan bunyi kata dengan arti. Pembentukan kalimat Tugas yang ketiga belajar berbicara adalah menyatukan kata-kata menjadi kalimat yang benar secara tata bahasa dan mudah dimengerti. Pertama, anak akan menggunakan satu kalimat kata benda atau kata kerja dan menggabungkannya dengan kata simbolik atau isyarat untuk mengekspresikan ide yang lengkap. Pada saat usia empat tahun, kalimatnya hampir lengkap, dan pada saat satu tahun kemudian, kalimatnya itu sudah lengkap dengan memuat unsur elemen kalimat . ubjek, objek, dan predika. Mussen dkk. dalam Christiana mengungkapkan, pembicaraan anak berusia empat hingga lima tahun lebih lama, lebih kompleks, dan satu kalimat bisa mengatakan dua Kata-kata tersebut berhubungan dan menyerupai bahasa orang dewasa. Seorang anak berusia empat sampai lima tahun dapat mengubah huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat dan dapat memainkan peran orang dewasa. Di usia ini, anak juga sudah dapat mengetahui hubungan dari sebab akibat . isalnya: saya makan karena lapa. Jalongo berpendapat bahwa: Ar-Raihanah: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Au4year vocabulary: 1. 400 to 1. 600 word. Social: child seeks ways to correct begin to adjust speech to listenerAos information needs. with peers can be resolved with words and invitations to play are more common. vocabulary: uses approaximately 2. 500 words, understands about 6. 000, respons to Social: child has good control of elements of conversation. Ay Seorang anak berusia empat tahun sudah memiliki kosa kata 1. 400 hingga 1. kata, dan secara sosial, anak-anak dapat memperbaiki apa yang tidak jelas dengan hanya memulai berbicara untuk pendengar yang memerlukan informasi. Dengan contoh anak bertengkar dengan temannya dan dapat menyelesaikannya dengan kata-kata dan ajakan seperti biasa. Anak yang berusia lima tahun memiliki kosa kata hingga 2. kata, dapat memahami 6. 000 kata, dan dapat menjawab hingga 25. 000 kata. Sosial anak hingga usia lima tahun memiliki kontrol yang lebih baik atas sebagian dari percakapan (Jalongo, 2. Tentunya untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak, selain dengan menggunakan media, orang tua juga harus selalu mengajak anaknya untuk melatih kemampuan berbicaranya. Seperti mengajak mengobrol, bernyanyi bersama, dan bercerita dengan anak yang didalamnya memuat tanya jawab dengan anak. Terdapat banyak media pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berbicara pada anak salah satunya yaitu dengan menggunakan media pop-up book. Popup book merupakan buku yang dapat menampilkan elemen berbentuk tiga dimensi atau timbul saat dibuka, dapat memberikan visualisasi cerita yang lebih menarik, dimulai dengan tampilan gambar yang dapat bergerak halaman demi halamannya saat dibuka (Hanifah, 2. Media pop-up book yaitu salah satu media yang dapat dimanfaatkan oleh guru sebagai saluran untuk menyampaikan pesan kepada anak-anaknya. Media pop-up book merupakan salah satu bentuk media berbasis cetak. Pop-up book ialah buku dengan komponen pemindah atau memiliki elemen tiga dimensi yang dapat bergerak ketika halamannya dibuka (Novita Kurniawati dan Pudjiastuti Sartinah, 2. Berdasarkan beberapa pemaparan diatas dapat disimpulkan pop-up book adalah buku dengan bagian yang bergerak atau mempunyai unsur tiga dimensi dengan menggunakan kertas sebagai bahan untuk lipatan, gulungan, bentuk, roda dan putarannya yang dapat memberikan visualisasi cerita yang lebih menarik, dimulai dengan tampilan gambar yang dapat bergerak halaman demi halamannya saat dibuka. Menurut Dzuanda dalam Miratanti media pop-up book memiliki beberapa manfaat yang sangat berguna (Miratanti, 2. Mengajarkan anak untuk dapat lebih menghargai buku serta merawatnya dengan Pop-up book dapat membentuk hubungan antara anak dan orang tua karena memiliki bagian yang halus di mana orang tua dapat duduk bersama anak dan menikmati cerita. Memperluas pengetahuan anak dalam memberikan deskripsi bentuk dari suatu Dapat digunakan sebagai salah satu media untuk menanamkan rasa cinta untuk membaca pada anak. Ar-Raihanah: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 METODE Dalam pendekatan penelitian, peneliti menggunakan pendekatan campuran . ixed method. yang menggabungkan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan secara kolaboratif dan parsitipatif, di mana peneliti dan guru kelas berkolaborasi dalam melaksanakan penelitian. Adapun metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Researc. atau PTK. Menurut Ebbutt Wiriatmadja. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan cara sekelompok guru untuk mengatur keadaan praktik belajar mereka serta belajar dari hasil pengalaman yang dialami mereka sendiri. Penelitian tindakan kelas ini merupakan sebuah usaha mengamati proses kegiatan belajar sekelompok siswa melalui perilaku yang disengaja dimunculkan dengan memberikan sebuah tindakan . (Mulyasa, 2. Tindakan ini dilaksanakan oleh guru dengan siswa atau guru memberikan bimbingan dan arahan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Proses dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dirancang sesuai dengan model Kurt Lewin yang telah dikembangkan oleh Kemmis dan Mc. Taggart yang perangkatnya terdiri dari empat komponen yaitu, perencanaan . , tindakan . , pengamatan . , dan refleksi . (Iskandar, 2. Perencanaan . Langkah pertama dalam rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) ini yaitu tahap perencanaan. Pada tahap perencanaan ini memuat rencana tindakan . yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah yang telah ditentukan. Pada tahap ini disusun langkah-langkah yang ditujukan untuk memperbaiki serta meningkatkan kinerja aktivitas anak serta hasil yang diperoleh dari proses Tindakan . Tahapan ini adalah tahap di mana langkah-langkah yang telah disiapkan sebelumnya dalam tahap perencanaan. Tahapan ini berfungsi untuk memecahkan masalah dan meningkatkan kualitas pembelajaran tentang masalah yang sedang Dalam tahapan tindakan ini peneliti melaksanakan implementasi atau penerapan isi dari rancangan yang sudah dibuat, yaitu menggunakan tindakan Pengamatan . Observasi merupakan tahap yang dilaksanakan bersamaan pada saat yang sama ketika suatu tindakan dijalankan. Pada tahap observasi ditemukan beberapa data penting yang merupakan data mentah dan nantinya akan diolah untuk mengetahui peningkatan kemampuan berbicara anak hasil penerapan dari menggunakan media pop-up book. Data yang dihasilkan adalah data yang didapat dari kuantitatif penilaian unjuk kerja anak pada saat menggunakan media pop-up book. Refleksi . Pada tahap refleksi, dilakukan pengujian ulang dari awal perencanaan kembali untuk menemukan fokus masalah pada awal perencanaan, pelaksanaan, dan Setelah dilakukan tahapan refleksi, berarti satu siklus telah tercapai. Jika hasil analisis refleksi tidak mencapai tujuan, lanjutkan ke siklus berikutnya yaitu siklus II, dan mulai perencanaan sampai hasil mencapai tujuan yang direncanakan. Ar-Raihanah: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Secara sederhana, alur penelitian tindakan kelas dapat digambarkan seperti Gambar 1. Alur Penelitian Tindakan Kelas Model Kemmis & Mc. Taggart Jenis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu data kuantitatif dengan data Data kualitatif ini diperoleh dari hasil observasi kepada guru dan anak serta dokumentasi yang berupa foto dan data sekolah. Adapun Untuk data kuantitatif pada penelitian ini didapat dari hasil unjuk kerja anak yang diberi skor pada saat kegiatan berbicara berlangsung dengan menggunakan media pop-up book. Untuk Sumber data primer penelitian ini yaitu anak kelompok A yang berjumlah delapan orang di RA Widuri Asy-Syifa Dusun Rancabawang Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang. Sedangkan sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah dokumen sekolah, foto kegiatan pembelajaran, serta Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) di sekolah. Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti meliputi observasi di . peneliti mengamati kemampuan berbicara anak sebelum menggunakan media pop-up book dan setelah menggunakan media pop-up book dengan instrumen item pernyataan yang sudah dibuat. peneliti membuat instrumen item pernyataan yang di dalamnya mencakup tentang kemampuan berbicara anak, seperti pengucapan huruf, kata, kalimat, dll. Dokumentasi digunakan peneliti berupa foto, catatan atau video untuk merekam atau mengamati kegiatan dalam setiap siklus ketika berbicara menggunakan media popup book yang dilakukan oleh anak serta hal-hal yang berupa catatan, buku agenda, dan arsip administrasi sekolah yang berhubungan dengan penelitian dan unjuk kerja digunakan sebagai instrument lembar kerja anak yang harus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak melalui media pop-up book. Teknik analisis data yang digunakan peneliti terbagi menjadi dua yakni: Analisis Data Hasil Observasi Aktivitas Guru dan Aktivitas Anak Menurut Ngalim Purwanto rumus yang akan digunakan dalam memperoleh hasil dari observasi aktivitas guru dan aktivitas anak dapat dihitung dengan menggunakan rumus seperti berikut: ycAycy = ycI ycu 100% ycIycA Keterangan: : Nilai persentase aktivitas guru dan anak Ar-Raihanah: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 : Jumlah aktivitas guru dan anak yang terlaksana : Jumlah aktivitas keseluruhan : Bilangan tetap Setelah diperoleh hasil dari aktivitas guru dan aktivitas anak, kemudian hasil tersebut diinterpretasikan pada kualifikasi skala sebagai berikut: Tabel 1. Skala Persentase Aktivitas Guru dan Anak Interval 86-100% 76-85% 60-75% 55-59% O - 54% Kategori Sangat Baik Baik Cukup Kurang Kurang Sekali (Purwanto, 2. Analisis Unjuk Kerja Penilaian pada unjuk kerja ini yaitu sebagai gambaran dari kemampuan berbicara anak yang diolah secara keseluruhan terhadap setiap indikator yang digunakan. Nilai ketuntasan yang didapat oleh anak akan dihitung dengan menggunakan rumus: Nilai Kemampuan Berbicara = skor yang diperoleh anak skor maksimal Untuk mengetahui rata-rata nilai kemampuan berbicara anak usia empat sampai lima tahun pada kelompok A di RA Widuri Asy-Syifa Dusun Rancabawang. Desa Cinanjung. Kecamatan Tanjungsari. Kabupaten Sumedang, maka digunakan skor rerata dari hasil praktik siklus I dan siklus II dengan rumus (Nana, 2. Ocx xI = Keterangan : xI = rata-rata . Ocx = jumlah seluruh nilai siswa = Jumlah siswa Setelah diperoleh hasil dari rata-rata tingkat kemampuan berbicara anak, tingkatan keberhasilan dalam kemampuan berbicaranya di kelompok A RA Widuri Asy-Syifa Dusun Rancabawang. Desa Cinanjung. Kecamatan Tanjungsari. Kabupaten Sumedang mengacu pada lima kriteria, berdasarkan dari pendapat Muhibbin Syah sebagai berikut: Tabel 2. Interpretasi Skala Keterlaksanaan Pembelajaran Tingkat Penguasaan Predikat Sangat Baik Baik Cukup Kurang Gagal Ar-Raihanah: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 PEMBAHASAN Berdasarkan analisis data hasil kemampuan berbicara anak melalui media pop-up book memperoleh nilai rata-rata sebesar 56 dari delapan anak yang dinilai oleh peneliti dengan kriteria kurang atau Belum Berkembang (BB), adapun penyebab rendahnya dalam kemampuan berbicara anak usia empat sampai lima tahun yaitu: . beberapa anak di kelompok A atau usia empat sampai lima tahun mengalami kesulitan berbicara dan berkomunikasi karena pengucapan huruf dan kata yang tidak jelas. adanya sebagian anak yang berbicaranya hanya disebutkan akhirnya saja, seperti ibu AubuAy, harimau AumauAy. anak sulit untuk mengembangkan kosakata dan menyusun kata-kata menjadi kalimat yang mudah dipahami orang lain, terutama guru. beberapa anak sulit memberikan keterangan atau informasi tentang apa yang dilihatnya, karena dikomunikasikan dengan kata-kata yang tidak jelas dalam pelafalannya. Berikut dijelaskan mengenai kriteria keberhasilan kemampuan berbicara anak dalam tabel 3 di bawah ini: Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Kemampuan Berbicara Anak Pra Siklus No. Kriteria Tingkat Keberhasilan Sangat Baik Baik Cukup Kurang Gagal Jumlah Anak Nilai Rata-rata Anak Jumlah Anak Dapat dilihat dari tabel diatas bawasannya 1 anak dengan kriteria gagal, 4 orang anak dengan kriteria kurang, dan 3 anak dengan kriteria cukup. Berikut merupakan penggunaan media pop-up book pada setiap siklusnya di kelompok A RA Widuri Asy-Syifa Desa Cinanjung Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang yakni pada siklus satu penggunaan media pop-up book untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak dapat dilakukan melalui hasil observasi aktivitas guru dan aktivitas anak yang terdiri dari dua tindakan pada setiap siklusnya. Berdasarkan penilaian aktivitas guru pada siklus satu selama proses pembelajaran menggunakan media pop-up book memperoleh nilai rata-rata 75% dengan kriteria cukup, sedangkan aktivitas anak memperoleh nilai rata-rata 68% dengan kriteria cukup. Pada siklus dua berdasarkan hasil observasi aktivitas guru selama proses pembelajaran berlangsung menggunakan media pop-up book memperoleh nilai rata-rata 90% dengan kriteria sangat baik, dalam hal ini adanya peningkatan aktivitas guru dalam peroses pembelajaran belangsung disebabkan karena guru melakukan perbaikan selama proses pembelajaran serta melalui tahapan yang sesuai dengan teori model dan metode dalam kegiatan belajar mengajar, sedangkan aktivitas anak siklus dua memperoleh nilai ratarata 88% dengan kriteria sangat baik. Ar-Raihanah: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Tabel 4. Peningkatan Aktivitas Guru dan Anak Pada Siklus I Siklus Guru/ Anak Nilai Ratarata Kriteria Siklus I Guru Cukup Siklus I Anak Cukup Tabel 5. Peningkatan Aktivitas Guru dan Anak Pada Siklus II Siklus Guru/ Anak Nilai Ratarata Kriteria Siklus II Guru Sangat Baik Siklus II Anak Sangat Baik Adapun perkembangan kemampuan berbicara setelah diterapkan media pop-up book di kelompok A RA Widuri Asy-Syifa Desa Cinanjung Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang, bedasarkan analisis hitungan pada siklus I dengan dua tindakan dimana tindakan pertama memperoleh nilai rata- rata sebesar 61 dengan kriteria cukup, sedangkan untuk tindakan kedua memperoleh nilai rata-rata sebesar 72 dengan kriteria Berikut merupakan banyaknya anak dalam peningkatan kemampuan berbicara anak melalui media pop-up book di kelompok A RA Widuri Asy-Syifa Desa Cinanjung Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang dengan kategori penilaian siklus I tindakan I dan siklus I tindakan II: Tabel 6. Rekapitulasi Hasil Kemampuan Berbicara Anak Siklus I Tindakan I Kriteria Sangat Baik Baik Cukup Kurang Gagal Tingkat Keberhasilan Kemampuan Berbicara Anak Jumlah Anak Nilai Rata-rata Anak Jumlah Anak Dapat dilihat dari tabel diatas bawasannya 1 anak dengan kriteria baik, 3 orang anak dengan kriteria cukup, 3 orang anak dengan kriteria kurang dan 1 anak dengan kriteria gagal. Ar-Raihanah: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Tabel 7. Rekapitulasi Hasil Kemampuan Berbicara Anak Siklus I Tindakan II Kriteria Tingkat Keberhasilan Kemampuan Berbicara Anak Jumlah Anak Sangat Baik Baik Cukup Kurang Gagal Jumlah Anak Nilai Rata-rata Anak Dapat dilihat dari tabel diatas bahwasannya 2 anak dengan kriteria sangat baik, 3 anak dengan kriteria baik, 2 orang anak dengan kriteria cukup dan 1 anak dengan kriteria kurang. Berikut merupakan hasil analisis pada siklus II dengan dua tindakan, dimana tindakan I memperoleh nilai rata-rata 80 dengan masuk kriteria sangat baik. dan pada tindakan II memperoleh nilai rata-rata 90 dan masuk pada kriteria sangat baik pula. Dengan demikian kemampuan berbicara anak mengalami peningkatan pada setiap siklusnya. Oleh karena itu dapat dilihat pada tabel di bawah ini rekapitulasi hasil kemampuan berbicara anak pada siklus II tindakan I dan tindakan II: Tabel 8. Rekapitulasi Hasil Kemampuan Berbicara Anak Siklus II Tindakan I Kriteria Sangat Baik Baik Cukup Kurang Gagal Tingkat Keberhasilan Kemampuan Berbicara Anak Jumlah Anak Nilai Rata-rata Anak Jumlah Anak Dapat dilihat dari tabel diatas bahwasannya pada siklus II tindakan I, 4 anak masuk dengan kriteria sangat baik, 3 anak dengan kriteria baik, dan 1 orang anak dengan kriteria cukup. Tabel 9. Rekapitulasi Hasil Kemampuan Berbicara Anak Siklus II Tindakan II Kriteria Sangat Baik Baik Cukup Kurang Tingkat Keberhasilan Kemampuan Berbicara Anak Jumlah Anak Ar-Raihanah: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 Gagal E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Jumlah Anak Nilai Rata-rata Anak Dapat dilihat dari tabel diatas diketahui 6 anak dengan kriteria sangat baik, dan 2 anak dengan kriteria baik. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa kemampuan berbicara anak dalam penerapan media pop-up book mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya anak yang mampu mengembangkan kosakata, pengucapan, dan pembentukkan kalimat. Selain itu pada siklus II anak sudah mampu berbicara dengan kalimat yang mudah dipahami oleh orang Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil perhitungan dari mulai pra siklus, siklus I dan siklus II tingkat kemampuan berbicara anak mengalami peningkatan yang signifikan dalam setiap siklusnya. Peningkatan kemampuan berbicara anak dengan menggunakan media Pop-up Book dalam setiap siklus digambarkan pada tabel: Tabel 10. Rekapitulasi Peningkatan Kemampuan Berbicara Anak pada setiap Siklus Pra Siklus Jenis Data Nilai Rata-rata Anak Nilai Rata-rata Anak padasetiap Siklus Siklus I Tindakan I Tindakan II Kriteria: Kurang Kriteria: Cukup Siklus II Tindakan I Tindakan II Kriteria: Sangat Baik Grafik berikut menunjukkan meningkatnya hasil nilai rata-rata ketercapaian kemampuan berbicara anak pada setiap siklus: Peningkatan Nilai Rata-rata Kemampuan Berbicara Anak Melalui Media Pop-Up Book Pra Siklus Siklus I Siklus II Gambar 1. Peningkatan Nilai Rata-Rata Kemampuan Berbicara Anak Pada Setiap Siklus Ar-Raihanah: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Sebelum dilakukan penerapan pada siklus pertama, peneliti mengumpulkan data untuk mengetahui mengenai kemampuan berbicara anak kelompok A2 di RA Widuri AsySyifa pada pra siklus. Kemampuan berbicara anak sebelum penerapan menggunakan media pop-up book terlihat belum berkembang. Hal tersebut dikarenakan kurangnya kegiatan bercakap Ae cakap dan diskusi ketika proses pembelajaran berlangsung. Dalam hal ini terbukti pada hasil penelitian yang telah dilakukan. Hasil yang diperoleh pada pra siklus nilai rata-rata anak adalah sebesar 56 masuk ke dalam kriteria kurang. Pada tahap pra siklus terdapat satu orang anak masuk dalam kriteria gagal, empat orang anak masuk ke dalam kriteria kurang, dan tiga orang anak masuk ke dalam kriteria baik. Dari data tersebut ditemui bahwa masih banyak anak yang rendah tingkat kemampuan berbicaranya. Rendahnya tingkat kemampuan berbicara anak di RA Widuri Asy-Syifa disebabkan oleh kurangnya interkasi antara guru dengan anak, maupun antara anak yang satu dengan yang lainnya. Salah satu untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak yaitu dapat menggunakan dengan sebuah media pembelajaran yang sesuai. Salah satunya yaitu menggunakan media pop-up book. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Hanifah bahwa media pop-up book merupakan sebuah media alternatif yang bisa digunakan sebagai saluran untuk menyampaikan pesan dari guru kepada anak (Hanifah, 2. Jika dilihat dari aktivitas guru, proses penggunaan media pop-up book pada siklus I tindakan I didapat persentase aktivitas guru yaitu sebesar 71% sedangkan hasil dari tindakan II sebesar 79%. Maka rata-rata presentase aktivitas guru yang diperoleh pada siklus I yaitu sebesar 75% dengan kriteria cukup. Sementara persentase aktivitas guru pada siklus II tindakan I diperoleh sebesar 86% sedangkan pada tindakan II sebesar Maka diperoleh rata-rata persentase pada siklus II aktivitas guru sebesar 90% masuk dalam kriteria sangat baik. Adanya peningkatan pada aktivitas guru disebabkan karena guru selalu berusaha dan melakukan upaya perbaikan dalam setiap tahapan untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak di RA Widuri Asy-Syifa melalui penggunaan media pop-up book. Hal ini dikemukakan oleh Sriwahyuni dan Nopialdi bahwa seorang guru diharuskan untuk dapat menggunakan metode atau media pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan anak dan tugas aspek perkembangan anak (Sriwahyuni. , 2. Selain persentase aktivitas guru, digambarkan pula hasil aktivitas anak selama proses penggunaan media pop-up book di RA Widuri Asy-Syifa. Dari hasil observasi yang diperoleh pada siklus I tindakan I aktivitas anak nilai rata-rata persentasenya sebesar 60% sedangkan pada tindakan II sebesar 75%. Maka diperoleh pada siklus I nilai ratarata persentase aktivitas anak sebesar 68% dengan kriteria cukup. Sementara pada siklus II tindakan I diperoleh persentase aktivitas anak sebesar 82% sedangkan pada tindakan II sebesar 93%. Maka diperoleh rata-rata persentase aktivitas anak pada siklus II sebesar 88% dengan kriteria sangat baik. Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh peneliti dalam hal ini terjadi peningkatan kemampuan berbicara dengan media pop-up book. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil penelitian yang menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berbicara dari kriteria gagal sampai dengan kriteria sangat baik. Adapun rincian data peningkatan kemampuan berbicara kelompok A RA Widuri Asy-Syifa adalah sebagai berikut. Ar-Raihanah: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Nilai rata-rata yang didapat dalam kemampuan berbicara pada anak siklus I tindakan I sebesar 61 sedangkan pada siklus I tindakan II sebesar 72 maka nilai rata-rata pada siklus I kemampuan berbicara anak sebesar 67 dengan kriteria cukup. Untuk nilai ratarata kemampuan berbicara pada anak siklus II tindakan I yaitu sebesar 80 sedangkan pada siklus II tindakan II sebesar 90. Maka nilai rata-rata kemampuan berbicara anak yang dihasilkan pada siklus II sebesar 85 dengan mendapatkan kategori sangat baik. Dengan demikian bahwa kemampuan berbicara anak di RA Widuri Asy-Syifa mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan adanya pemberian motivasi oleh guru selama proses pelaksanaan kegiatan berlangsung. Sehingga membuat anak menjadi cukup antusias dan dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik juga guru telah menerapkan media pop-up book dengan perencanaan dan langkah-langkah tersebut. Adanya peningkatan kemampuan berbicara pada anak di RA Widuri Asy-Syifa membuktikan bahwa media pop-up book mampu meningkatkan kemampuan berbicara Menurut Bluemel dan Taylor dalam Miratanti manfaat pop-up book yaitu salah satunya membantu anak dalam memahami makna melalui ungkapan-ungkapan menarik melalui gambar dengan kemampuan melakukannya secara terampil yang dapat membangkitkan keinginan serta motivasi untuk membaca secara mandiri (Miratanti. KESIMPULAN Berdasarkan dari hasil penelitian tentang meningkatkan kemampuan berbicara anak usia empat sampai lima tahun melalui media pop-up book kelompok A RA Widuri AsySyifa Dusun Rancabawang Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang dapat disimpulkan yaitu kemampuan berbicara pada anak di kelompok A di RA Widuri Asy-Syifa sebelum diterapkan media pop-up book masih terbilang rendah. Selama proses pelaksanaan penggunaan media pop-up book, hasil dari aktivitas guru dan aktivitas anak pada siklus I dan siklus II mengalami peningkatan. Setelah digunakannya media pop-up book kemampuan berbicara anak meningkat dan masuk dengan kategori sangat baik. DAFTAR KEPUSTAKAAN Hanifah. Pemanfaatan Media Pop up Book Berbasis Tematik Untuk Meningkatkan Kecerdasan Verbal Linguistik Anak Usia 4-5 Tahun (Studi Eksperimen di TK Negeri Pembina Bulu Temanggun. Jurnal Unnes. Hayati. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: CV. Insan Mandiri. Hurlock. Perkembangan Anak Jilid II. Jakarta: Anggota IKAPI. Iskandar. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Gunung Persada. Jalongo. Early Childhood Language Arts . th ed. Boston: Pearson Education. Miratanti. Peningkatan Kemampuan Berbicara Anak Kelompok A2 melalui Metode Bercerita dengan Media Pop-Up Book di TK Darus Sholah Tegal Besar Jember Tahun Pelajaran 2016/2017. Universitas Jember. Mulyasa. Praktik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya. Ar-Raihanah: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Nana. Media Pengajaran (Penggunaan dan Pembuata. Bandung: Sinar Baru Aglensindo. Novita Kurniawati dan Pudjiastuti Sartinah. Pengaruh Metode Bercakap-cakap Berbasis Media Pop-up Book terhadap Kemampuan Berbicara Anak Kelompok A. Jurnal UNESA. Nurbiana dkk. Metode Pengembangan Bahasa. Jakarta: Universitas Terbuka. Pratama R. N dkk. & I. Meningkatkan Keterampilan Berbicara Anak Usia Dini Melalui Metode Bercerita Menggunakan Media Pop-Up Book. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. Purwanto. Evaluasi Hasil Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Sujiono. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Indeks. Syah. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Tarigan. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. UU No. 20 Tahun 2003. Tentang Standar Pendidikan Nasional.