Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 13 No. 2 Tahun 2025 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 STUDI PRODUKSI GARAM DENGAN METODE PLTS UNTUK PERBANDINGAN AIR LAUT DENGAN AIR TAMBAK Dimas Hijul Anwar1. Jamaaluddin 1. Syamsudduha Syahrorini1. Indah Sulistiyowati1 Prodi Teknik Elektro. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Jl. Raya Gelam No. Pagerwaja. Gelam. Kecamatan Candi. Kabupaten Sidoarjo. Jawa Timur 61271 Email: jamaaluddin@umsida. ABSTRAK Penelitian ini membahas pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dalam proses produksi garam dengan membandingkan efektivitas penggunaan air laut dan air tambak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan proses pembuatan garam menggunakan air tambak dan air Sistem yang dirancang meliputi pemanas otomatis, kontrol suhu, dan sistem pemompaan otomatis yang dioperasikan dengan energi dari PLTS. Pengujian dilakukan selama 1,5 jam dengan interval pengukuran 10 menit. Hasil menunjukkan bahwa air laut menghasilkan garam lebih banyak, yakni 6 gram, dibandingkan air tambak yang hanya menghasilkan 4 gram, dengan volume air hasil evaporasi masing-masing berkisar 5Ae8 mL. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kandungan garam dalam air laut lebih tinggi, sehingga lebih efisien untuk produksi garam. Walaupun sistem PLTS yang digunakan belum sepenuhnya optimal, penelitian ini menunjukkan potensi besar penggunaan energi terbarukan dalam proses produksi garam yang ramah lingkungan dan mandiri dari pasokan energi konvensional. Kata Kunci: PLTS. Produksi Garam. Air Laut. Air Tambak. Energi Terbarukan ABSTRACT This research discusses the utilisation of Solar Power Plant (PLTS) in the salt production process by comparing the effectiveness of using seawater and pond water. The purpose of this study is to compare the process of making salt using pond water and seawater. The designed system includes automatic heating, temperature control, and automatic pumping system operated with energy from PLTS. The test was conducted for 1. 5 hours with a measurement interval of 10 minutes. The results show that seawater produces more salt, namely 6 grams, compared to pond water which only produces 4 grams, with the volume of evaporated water ranging from 5-8 mL each. This difference indicates that the salt content in seawater is higher, making it more efficient for salt production. Although the solar PV system used is not yet fully optimised, this research shows the great potential of using renewable energy in the salt production process that is environmentally friendly and independent from conventional energy Keywords: PLTS. Salt Production. Sea Water. Pond Water. Renewable Energy Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 13 No. 2 Tahun 2025 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 PENDAHULUAN tenaga surya (PLTS) atau sel surya . el photovoltai. akan lebih diminati karena dapat digunakan di berbagai tempat, seperti perkantoran, pabrik, perumahan, dan lainnya (Syukri & Azhar, 2. Garam merupakan komoditas hasil laut yang memiliki peranan signifikan sebagai unsur pelengkap dalam konsumsi pangan masyarakat Indonesia (Maurina et al. , 2021. Wisaksono & Mokhtar, 2. Sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang digunakan untuk proses pengeringan garam terdiri atas sejumlah komponen utama, antara lain baterai, pengendali pengisian daya surya, inverter, panel distribusi listrik, serta modul panel surya sebagai sumber utama energi (Riyanto et al. , 2. Kebutuhan energi meningkat seiring dengan laju pembangunan. Begitu juga dengan jumlah energi yang diperlukan (Liestyowati et al. , 2. Karena tidak melepaskan polutan seperti halnya pembangkit listrik tenaga fosil. PLTS adalah teknologi yang ramah lingkungan. Sistem energi listrik yang menggunakan PLTS menjadi sumber energi yang ramah lingkungan (Ayuni et al. , 2. Selain itu, karena Indonesia adalah negara tropis di mana sinar matahari dapat diperoleh dengan mudah, sistem PLTS ini sangat diminati (Nurjaman & Purnama, 2. Efektivitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dapat meningkat apabila dioperasikan secara sinkron dengan jaringan listrik milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Jamaaluddin et al. , 2020. Anshory et al. Namun, perpindahan daya yang lambat dan tidak terorganisir saat dioperasikan oleh manusia akan mempengaruhi efisiensi dan keandalan sistem sinkronisasi antara PLN dan PLTS, sehingga diperlukan sistem kontrol yang dapat berjalan secara otomatis (Jamaaluddin et , 2. Perencanaan rangkaian sistem, perancangan rangkaian modul instruktur, perancangan rangkaian modul instruktur PLTS, dan analisis hasil pengujian modul instruktur adalah beberapa teknik yang digunakan (Susilowati & Perkasa, 2. Penelitian ini didasarkan pada beberapa penelitian terkait yang membahas desain pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) (Zebua, 2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan proses Indonesia adalah negara kepuluan. Itu berada di daerah ekuator, atau tengah bumi, yang membaginya menjadi bagian utara dan Selatan (Simatupang et al. , 2. Dengan pengecualian pada musim hujan dan kondisi cuaca berawan tebal yang menghalangi radiasi matahari, intensitas sinar matahari di Indonesia umumnya tersedia secara konsisten sepanjang tahun (Lorobezy & Krismadinata, 2. Semakin tidak cukup sumber energi untuk pengembangan sumber energi terbarukan, salah satunya adalah energi matahari, menjadi sangat penting (Ahfas et al. , 2022. Simamora et , 2. Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2014 mengenai Kebijakan Energi Nasional (KEN) menetapkan target bauran energi Indonesia, dengan sasaran pemanfaatan energi terbarukan sebesar 23% dari total konsumsi energi nasional pada tahun 2025 (Rossoleh et al. Indonesia memiliki potensi besar dalam pemanfaatan berbagai jenis sumber energi terbarukan, termasuk energi air, panas bumi, biomassa, angin, dan energi surya, dengan cara yang ramah lingkungan dan berkelanjutan karena negara ini terdiri dari 34 provinsi dan memiliki iklim tropis (Zaenal et al. , 2. Kebutuhan energi meningkat seiring dengan laju pembangunan. Indonesia dianggap memiliki sumber daya alam yang melimpah, yang dapat digunakan sebagai pengganti pembangkit Listrik (Jamaaluddin et al. , 2. Hukum kekekalan energi menyatakan bahwa energi tidak hilang ketika diubah dari satu bentuk ke bentuk lain(Syahrorini et al. , 2. Energi listrik sekarang sangat penting untuk berbagai aktivitas ekonomi. Saat ini, jumlah energi listrik di Indonesia hampir 100% disediakan dan disuplay oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN)(Wahyu et al. , 2. Contohnya adalah PLTS dapat dipasang bahkan di daerah yang sangat terpencil untuk menyelesaikan masalah jangkauan jaringan listrik yang terbatas (Jamaaluddin et al. , 2. Namun, perkembangan PLTS yang pesat di Indonesia belum sepenuhnya didukung oleh jumlah informasi yang diperlukan untuk mengoptimalkan energi yang dihasilkan oleh sel surya, khususnya di daerah yang terpencil (Harahap et al. , 2. Pembangkit listrik Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 13 No. 2 Tahun 2025 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 pembuatan garam menggunakan air tambak dan air laut (Sulistiyowati et al. , 2018. Balatif et al. , 2. Flow Chart METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan merancang tahapan-tahapan sistematis yang meliputi penyusunan blok diagram, diagram alir . , serta perancangan perangkat alat guna mencapai tujuan penelitian. Pada Gambar 1 terlihat blok menggambarkan keseluruhan sistem yaitu studi produksi garam dengan metode PLTS untuk perbandingan air laut dengan air tambak. Blok Diagram Gambar 1. Blok Diagram Blok diagram di atas menggambarkan suatu proses pemanasan yang menggunakan kompor sebagai sumber panas utama. Dalam proses ini, kompor digunakan untuk proses pemasakan garam selama 1,5 jam pada suhu tinggi, yaitu antara 240AC hingga 250AC. Setelah proses pemanasan selesai, lalu dilakukan perbandingan untuk mengukur kualitas garam dari air laut dan air tambak, masing-masing pengukuran dilakukan 1,5 jam untuk mencari data perbandingan. Gambar 2. Sistem Keseluruhan proses Pada Gambar 2, terlihat dalam flowchart yaitu proses pemasakan garam diawali dengan pengisian air ke dalam panci hingga mencapai ketinggian 1 cm. Setelah volume air sesuai dengan batas yang telah ditetapkan, pompa akan berhenti secara otomatis. Selanjutnya, kompor akan menyala dan memanaskan air hingga mencapai suhu maksimum yang telah diatur, yaitu 250AC. Jika suhu melebihi ambang batas tersebut, sistem secara otomatis mematikan kompor dan akan menyala kembali ketika suhu turun hingga 240AC. Proses pemanasan berlangsung selama 1,5 jam, dan setelah waktu tersebut tercapai, sistem Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 13 No. 2 Tahun 2025 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 dari tambak selama 1,5 jam dengan pengukuran 10 menit seperti disajikan pada Tabel 1. Desain Alat Tabel 1. Pengujian Pertama Menggunakan dari Air Tambak Waktu Temp Kompor Temp Panci Hasil Garam Hasil H2 O 4 Gram 5 mL Pada Tabel 1, pengujian menggunakan dari air tambak dimulai pengukuran pertama pada pagi hari pukul 09. 40 dengan rentan pengukuran setiap 10 menit, menunjukkan proses pemasakan garam lalu keluar air sebagai H2O nya menggunakan air tambak melalui Temperatur pada kompor dan panci meningkat bertahap, pada pukul 11. 10 proses pemasakan sudah selesai diperoleh 4 gram garam dan 5 mL H2O nya. Hal ini menunjukkan bahwa proses evaporasi dan kondensasi mulai efektif terjadi pada temperatur kompor sekitar 249 AC. Gambar 3. Desain Alat Pada Gambar 3 terlihat desain alat untuk proses pemasakan garam. Alat ini di desain dengan 3 sekatan, sekatan pertama terdapat actuator untuk menyorok garam supaya keluar di tempat yang sudah disediakan, dan panci stenlis sebagai wadah untuk proses pemasakan, selanjutnya sekatan ke dua ada panel control automatic sebagai proses mulainya pemasakan, dan kompor otomatis untuk pengapian pada proses pemasakan garam, lalu sekatan yang ketiga terdapat ada baterai untuk menyimpan energi untuk mensuplay system pada proses pembuatan garam, pompa sebagai mengalirkan air pada panci dan tempat untuk penyimpaan air laut dan H2O. Tabel 2. Pengujian Kedua Menggunakan dari Air Tambak HASIL DAN PEMBAHASAN Waktu Temp Temp Hasil Garam Hasil H2 O Hasil perancangan dan pengujian sistem perangkat yang telah dirancang, apakah telah berfungsi sesuai dengan spesifikasi yang Melalui proses pengujian ini, diperoleh data dan bukti empiris yang menunjukkan tingkat keberfungsian serta efektivitas perangkat keras yang telah Pengujian dilakukan untuk mengetahui seberapa efektif alat bekerja dan pengujian diukur setiap 10 menit. Data yang diambil untuk mengukur temperatur kompor, temperature panci, hasil garam dan hasil H2O Berikut hasil pengujian menggunakan air 4 Gram 5 mL Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 13 No. 2 Tahun 2025 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 Pada Tabel 2, pengujian menggunakan dari air tambak dimulai pengukuran kedua pada siang hari pukul 12. 10, menunjukkan proses pemasakan garam lalu keluar air sebagai H2O nya menggunakan air tambak melalui Temperatur pada kompor dan panci meningkat bertahap, pada pukul 13. 40 proses pemasakan sudah selesai diperoleh 4 gram garam dan 5 mL H2O nya. Hal ini menunjukkan bahwa proses evaporasi dan kondensasi mulai efektif terjadi pada temperatur kompor sekitar 250 AC. Tabel 4. Pengujian Keempat Menggunakan dari Air Laut Waktu Tabel 3. Pengujian Ketiga Menggunakan dari Air Tambak Waktu Temp Kompor Temp Panci Hasil Garam 4 Gram Hasil H2 O Temp Kompor Temp Panci Hasil Garam Hasil H2 O 6 Gram 7 mL Pada Tabel 4, pengujian menggunakan dari air laut, pengukuran ke empat ini dimulai pada pagi hari pukul 09. 30, selesai pada pukul 00, pada proses pemasakan garam selama 1,5 jam ini dapat dilihat temperatur kompor dan panci cukup stabil selama proses pemasakan dan dapat menghasilkan garam 6 gram dan keluar air 5 mL dari H2O nya. 5 mL Tabel 5. Pengujian Kelima Menggunakan dari Air Laut Waktu Pada Tabel 3 menggunakan dari air tambak dimulai pengukuran ketiga pada sore hari pukul 14. menunjukkan proses pemasakan garam lalu keluar air sebagai H2O nya menggunakan air tambak melalui pemanasan. Temperatur pada kompor dan panci meningkat bertahap, pada 10 proses pemasakan sudah selesai hasil diperoleh dengan pengujian pertama sampai ketiga sama sama 4 gram garam dan 5 mL H2O nya. Hal ini menunjukkan bahwa proses pemasakan garam menggunakan air tambak hasil garam nya sebanyak 4 gram dan 5 mL H2O nya. Temp Kompor Temp Panci Hasil Garam Hasil H2 O 6 Gram 7 mL Pada Tabel 5, pengujian menggunakan dari air laut, pengukuran ke lima ini dimulai pada siang hari pukul 12. 20, selesai pada pukul 50, pada proses pemasakan garam selama 1,5 jam ini dapat dilihat temperatur kompor dan panci cukup stabil selama proses pemasakan dan dapat menghasilkan garam 6 gram dan keluar air 5 mL dari H2O nya. Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 13 No. 2 Tahun 2025 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 Tabel 6. Pengujian Keenam Menggunakan dari Air Laut Waktu Temp Kompor Temp Panci Hasil Garam 6 Gram DAFTAR PUSTAKA