Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: xxxx-xxxx Vol. 1 No. 1, Oktober 2023 Perbandingan Perencanaan Dimensi Bangunan Ekodrainase Sumur Resapan di Desa Ngraseh Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro Fajrina Nur Fadhila 1, Harjono 2, Mushthofa 3 1,2,3 Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Bojonegoro. fajrinafadhila@gmail.com ABSTRAK Meningkatnya Pembangunan kawasan pemukiman memicu kurangnya lahan terbuka sebagai lahan resapan. Maka dari itu perlu dibuat bangunan ekodrainase salah satunya dengan sumur resapan untuk menampung dan menyerapkan air hujan ke tanah secara perlahan. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Ngraseh Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro dengan luas atap rumah berkisar antara 60 – 200 π‘š2 . Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dimensi dan jumlah sumur resapan dari metode Sunjoto (1988) dan SNI 8456:2017 serta mengetahui efektivitas dan efisien dari kedua metode. Dengan kedalaman recana (H rencana) 2,5 meter dan diameter 1 meter, dari Metode Sunjoto (1988) diperoleh hasil yaitu rumah dengan luas atap 60 – 70 π‘š2 H total 2,82 – 3,29 meter sebanyak 1 unit, luas atap 80 – 130 π‘š2 H total 3,76 – 6,11 meter sebanyak 2 unit, luas atap 140 – 180 π‘š2 H total 6,58 – 8,46 meter sebanyak 3 unit, luas atap 190 – 200 π‘š2 H total 8,93 – 9,4 meter sebanyak 4 unit. Dan dari perhitungan SNI 8456:2017 yaitu rumah dengan luas atap 60 – 70 π‘š2 H total 3,16 – 3,68 meter sebanyak 1 unit, luas atap 80 – 110 π‘š2 H total 4,20 – 5,77 meter sebanyak 2 unit, luas atap 120 – 160 π‘š2 H total 6,29 – 8,38 meter sebanyak 3 unit, luas atap 170 – 200 π‘š2 H total 8,90 – 10,49 meter sebanyak 4 unit. Didapatkan efektivitas dari SNI 8456:2017 sebesar 95,52% sedangkan metode sunjoto 84,45% dan nilai efisien dapat dilihat dari jumlah sumur resapan. Kata kunci: Bojonegoro, Ekodrainase, Ngraseh, Sumur Resapan ABSTRACT The increasing development of residential areas triggers a lack of open land as infiltration land. Therefore, it is necessary to construct an eco-drainage building, one of which has infiltration wells to collect and slowly absorb rainwater into the ground. This research was conducted in Ngraseh Village, Dander Subdistrict, Bojonegoro Regency with a house roof area ranging from 60 - 200 m^2. The purpose of this study was to determine the dimensions and number of infiltration wells from the Sunjoto (1988) and SNI 8456: 2017 methods and to determine the effectiveness and efficiency of the two methods. With a planned depth (H plan) of 2.5 meters and a diameter of 1 meter, from the Sunjoto Method (1988) the results obtained are houses with a roof area of 60 70 m^2 H total of 2.82 - 3.29 meters as much as 1 unit, roof area 80 - 130 m^2 H total of 3.76 - 6.11 meters as much as 2 units, roof area 140 - 180 m^2 H total of 6.58 - 8.46 meters as much as 3 units, roof area 190 - 200 m^2 H total of 8.93 - 9.4 meters as much as 4 units. From the calculation of SNI 8456: 2017, houses with a roof area of 60 - 70 m^2 H total of 3.16 - 3.68 meters as many as 1 units, roof area 80 - 110 m^2 H total of 4.20 - 5.77 meters as many as 2 units, roof area 120 - 160 m^2 H total of 6.29 - 8.38 meters as many as 3 units, roof area 170 - 200 m^2 H total of 8.90 - 10.49 meters as many as 4 units. The effectiveness of SNI 8456: 2017 is 95.52% while the Sunjoto method is 84.45% and the efficient value can be seen from the number of infiltration wells. Keywords: Bojonegoro, Eco-Drainage, Ngraseh, Infiltration Wells 1. PENDAHULUAN Seiring dengan perkembangan penduduk maka kebutuhan lahan untuk kawasan tempat tinggal juga semakin meningkat, hal itu berdampak pada kurangnya jumlah lahan untuk 19 Received: 25 September 2023, Accepted: 13 Oktober 2023 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: xxxx-xxxx Vol. 1 No. 1, Oktober 2023 meresapnya air karena daerah yang dulunya potensial untuk menjadi tempat meresapnya air tertutupi oleh pembangunan karena beralih menjadi rumah penduduk, sehingga jika suatu daerah mengalami curah hujan tinggi dalam kurun waktu yang lama, air hujan akan menjadi aliran permukaan (surface run off) semakin besar sehingga melebihi kapasitas drainase yang ada. Hal ini mengakibatkan meluapnya air sehingga terjadi genangan disekitar yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat setempat (Bahunta & Waspodo, 2019). Penelitian ini dilakukan di Desa Ngraseh Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro, Selama ini di Desa Ngraseh Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro menerapkan drainase konvensional sehingga air akan dialirkan cepat ke sungai tanpa meresap terlebih dahulu ke dalam tanah, akibatnya pada musim hujan sungai akan menerima beban diatas kapasitasnya terlebih saat mendapat kiriman air dari bagian selatan desa dan akan mengakibatkan genangan di sekitar pemukiman masyarakat sehingga dapat mengganggu aktivitas masyarakat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak dari berkurangnya lahan untuk daerah resapan air adalah dengan cara pembuatan drainase berwawasan lingkungan (ekodrainase) salah satunya dengan sumur resapan, dalam pembuatannya sumur resapan tidak banyak memakan lahan dan waktu (Firmansyah et al., 2022). Konsep ekodrainase sumur resapan merupakan salah satu upaya dalam konservasi sumber daya air dengan cara memperlambat aliran limpasan air hujan di permukaan dan mengendalikan agar dapat meresap ke tanah. Dalam perencanaan pembuatan sumur resapan terdapat banyak metode yang dapat digunakan untuk merancang sumur resapan, metode yang paling sering digunakan adalah SNI 03-2453-2002 yang saat ini telah dikembangkan menjadi SNI 8456:2017, metode SNI merupakan rumus empiris yang diturunkan dari percobaan lapangan, selain metode SNI juga terdapat metode Sunjoto, Metode sunjoto merupakan metode yang diturunkan berdasarkan mekanisme asupan air hujan ke dalam tanah, dalam beberapa penelitian metode sunjoto menghasilkan dimensi yang lebih kecil sehingga lebih mudah diterapkan pada lahan yang kecil (Putri, 2019). Hal ini mendorong penulis untuk mencoba melakukan perencanaan sumur resapan dengan membandingkan dua metode yaitu metode sunjoto (1988) dan SNI 8456:2017 yang merupakan revisi ketiga dari SNI 03-2453-2002 guna untuk mengetahui dimensi kedalaman dan jumlah bangunan sumur resapan yang efektif dan efisien untuk diterapkan di Desa Ngraseh Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk megetahui hasil dimensi sumur resapan yang dihasilkan dari perhitungan metode Sunjoto (1988) dan SNI 8456:2017 serta mengetahui metode yang efektif dan efisien untuk diterapkan di Desa Ngraseh, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro. 2. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam perhitungan penelitian ini adalah metode yaitu metode sunjoto (1988) dan SNI 8456:2017 yang merupakan revisi ketiga dari SNI 03-2453-2002. variabel – variabel yang digunakan serta dimensi yang dihasilkan dari masing – masing metode dipresentasikan dalam tabel dibawah ini. 20 Received: 25 September 2023, Accepted: 13 Oktober 2023 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: xxxx-xxxx Vol. 1 No. 1, Oktober 2023 Tabel 1. Perbandingan Metode Penentuan Dimensi Sumur Resapan Metode Parameter Sunjoto (1988) 𝐻= Penetuan dimensi sumur resapan 𝑄𝑖 βˆ’ 𝐹𝐾𝑇 {1 βˆ’ β„― ( )} 𝐹. 𝐾 πœ‹π‘…2 H : kedalaman air dalam sumur (m) 𝑄𝑖 : debit air masuk ( π‘š3 /π‘‘π‘‘π‘˜ ) F : Faktor geometri sumur (m) K : koefisien permeabilitas tanah (cm/dtk) T : lama hujan dominan R : radius/jari – jari sumuran (m) SNI 8456:2017 H= 𝑄 πœ”πœ‹π‘ŸπΎ H : kedalaman sumur (m) r : radius sumur (m) K : koefisien permeabilitas tanah (m/jam) Q : debit andil banjir (Q = C.I.A) (m3/jam) C : Koefisien limpasan atap 0,95 I : Intensitas hujan (m/jam) A : Luas bidang tadah (π‘š2 ) Sumber : (SNI 8456:2017, 2017; Sunjoto, 2011) Apabila setelah dilakukan perhitungan kedalaman optimum (H) pada sumur resapan dirasa cukup tinggi dikarenakan kedalaman sumur resapan harus lebih rendah daripada kedalaman muka air tanah, maka sumur resapan perlu dibuat menjadi sistem seri (Tjandra, 2019). Untuk menghitung jumlah sumur resapan digunakan rumus sebagai berikut (Prasojo & Astuti, 2015) : 𝐻 π‘‘π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ n = (β„Ž π‘Ÿπ‘’π‘›π‘π‘Žπ‘›π‘Ž ) (1) Dengan n = jumlah sumur resapan, H = kedalaman sumur resapan optimum (m), dan h = kedalaman sumur resapan yang direncanakan (m). Pengumpulan data Prosedur dalam penelitian ini adalah mencari data sekunder yang dibutuhkan pada penelitian dari instansi yang telah ditentukan, dan menentukan lokasi pengambilan data primer. Kemudian selanjutnya dilakukan analisis antara data primer dengan data sekunder sehingga mendapatkan dimensi dan jumlah sumur resapan yang cocok untuk lokasi penelitian. Selanjutnya dilakukan perhitungan efektivitas dari hasil kedua metode, dan terakhir membandingkan serta membahas dan menyimpulkan dari hasil perhitungan kedua metode. Data - data yang digunakan sebagai bahan acuan untuk perhitungan didapatkan dengan cara antara lain data curah hujan dari tahun 2013 sampai 2023 diperoleh dari UPT PSDA wilayah Sungai Bengawan Solo, Data Jenis Tanah Kabupaten Bojonegoro diperoleh dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Bojonegoro, sedangkan data luas atap diperoleh dari lokasi penelitian. 21 Received: 25 September 2023, Accepted: 13 Oktober 2023 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: xxxx-xxxx Vol. 1 No. 1, Oktober 2023 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Konstruksi Sumur Resapan Spesifikasi sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan adalah tipe III sumur resapan dengan dinding buis beton dengan kedalaman yang dapat diterapkan sesuai dengan kedalaman maksimum sampai muka air tanah, spesifikasi sumur resapan yang akan dipakai antara lain : bak kontrol yang dipakai ukuran 30 cm X 30 cm, dinding bak kontrol menggunakan bata merah, alas bak kontrol menggunakan plat beton tanpa tulangan dengan tebal 5 cm dan penutup menggunakan plat beton tanpa tulangan dengan tebal 4 cm, sumur resapan air hujan menggunakan buis beton dengan diameter 1 meter dengan kedalaman rencana 2,5 m, dinding sumur resapan menggunakan buis beton dengan tebal 10 cm, alas sumur resapan menggunakan batu pecah ukuran 10 – 20 cm, tebal 30 cm, pasir dengan tebal 30 cm, serta ijuk dengan tebal 10 cm, dan saluran masuk serta pipa peluap menggunakan pipa PVC ΓΈ4”. Jenis tanah Gambar 1. Peta Jenis Tanah Kabupaten Bojonegoro Sumber : Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Bojonegoro, (2023) Jenis tanah yang berada di Kecamatan Dander di dominasi oleh jenis tanah gleisol vertik dan termasuk dalam padanan ordo inceptisol berdasarkan key to soil Taxonomy (Soil Survey Staff, 2014). Yang memiliki warna hitam atau kelabu hingga coklat tua, dengan tekstur debu, lempung berdebu, lempung, dan memiliki tingkat infiltrasi sedang dikarenakan daya ikat pada tanah tersebut tidak terlalu kuat dan tidak terlalu lemah (Sulaiman et al., 2017). Tanah inceptisol mempunyai kelas tekstur lempung berdebu, bobot volume tanah 1,32 g π‘π‘šβˆ’1, nilai porositas tanah 46 %, mempunyai nilai permeabilitas tanah sedang 2,44 cm π‘—π‘Žπ‘šβˆ’1 , kadar air tanah pada Pf 2,54 dan 4,2 yaitu 32 % dan 15 % dan nilai indeks stabilitas agregat tanah agak stabil (55,00) (Wulandari, 2021). Pengolahan data curah hujan Terdapat beberapa hal yang digunakan untuk menentukan parameter yang digunakan untuk mennetukan jenis distribusi, antara lain mencari nilai rerata hujan, standar deviasi, koeefisien variasi (Cv), koefisien swekness (Cs), dan Koefisien kurtosis (Ck) (Prasojo & 22 Received: 25 September 2023, Accepted: 13 Oktober 2023 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: xxxx-xxxx Vol. 1 No. 1, Oktober 2023 Astuti, 2015). Berdasarkan dari hasil perhitungan parameter statistik dari data curah hujan maka digunakan distribusi log person III, dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 2. Data Curah Hujan Maksimum Stasiun Dander, Jatibimbing dan Leran 2013 - 2022 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Banyak Data Rata - Rata Standar deviasi Cs Ck Cv Tahun 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 Dander Rmax Ri (mm) (mm) 18 127 14 121 9 115 12 105 27 102 17 102 18 100 14 97 24 82 11 58 Ξ£ 1009 n 10 100.9 𝑅̅ 0.00477 -1.25 1353500.016 0.000142091 Nama Stasiun Jatiblimbing Rmax Ri (mm) (mm) 95 133 82 133 70 131 82 100 90 95 133 90 133 83 100 82 131 82 83 70 Ξ£ 999 n 10 99.9 𝑅̅ 22.563 0.707 3.393 0.226 Leran Rmax (mm) 81 98 80 68 68 70 10 110 104 96 Ξ£ n 𝑅̅ Ri (mm) 110 104 98 96 81 80 70 68 68 10 785 10 78.5 27.042 -1.852 8.791 0.344 Sumber : Perhitungan (2023). Tabel 3 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Curah Hujan Rencana Kala Ulang Tertentu dengan Metode Log Person III Stasiun dander Periode No. RT Frekuensi Log R (mm) K 1 2 0.254 2.0196 104.64 2 5 0.817 2.0744 118.71 3 10 0.994 2.0917 123.52 Sumber : Perhitungan (2023). Periode Ulang Tahun Stasiun Jatiblimbing Periode RT Frekuensi Log R (mm) K -0.0644 1.982 96.027 0.8168 2.0710 117.78 1.3162 2.1213 132.24 Stasiun Leran Periode RT Frekuensi Log R (mm) K 0.38271 1.9515 89.439 0.66842 2.0382 109.21 0.70556 2.0495 112.08 Perhitungan curah hujan rerata daerah Dalam menentukan nilai hujan rerata daerah digunakan metode rata – rata aljabar, dengan periode ulang hujan 2 tahun yang digunakan untuk perencanaan sumur resapan sesuai dengan persyaratan teknis dalam SNI 8456:2017. 1 R = 3 (104,64+ 96,027 + 89,439) R = 96,7 mm 23 Received: 25 September 2023, Accepted: 13 Oktober 2023 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: xxxx-xxxx Vol. 1 No. 1, Oktober 2023 Perhitungan intensitas Hujan Dalam menentukan intensitas hujan digunakan persamaan monobone, dengan durasi hujan 2 jam dan curah hujan periode ulang 2 tahun yang didapatkan dari tahap perhitungan curah hujan reata daerah. 2 96,7 24 3 I = ( 24 ) [ 2 ] I = 21,11 mm/jam. I = 0,02111 m/jam. Perhitungan sumur resapan dengan SNI 8456:2017 Langkah perhitungan dengan SNI 8456:2017 adalah mencari debit limpasan dengan metode rasional dengan parameter koefisien limpasan atap (C) ditetpakan 0,95, dalam hal ini debit limpasan merupakan debt air hujan yang jatuh ke bidang tadah yang akan di limpaskan di sumur resapan, dan nilai intensitas hujan menggunakan periode ulang 2 tahun. Sesuai dengan SNI 8456:2017 luas bidang tadah yaitu merupakan daerah yang menampung limpasan air hujan dapat berupa atap rumah ataupun permukaan pada tanah yang terkedapkan, dalam perhitungan ini digunakan bidang tadah (A) sesuai dengan luas atap masing – masing rumah. Rumah yang ada di Desa ngraseh memiliki ukuran atap yang berbeda – beda yaitu berkisar antara 60 π‘š2 sampai dengan 200 π‘š2 . Setelah itu dilakukan perhitungan kedalaman efektif (H), kemudian dilakukan perhitungan jumlah sumur resapan yang dibutuhkan. Perhitungan rekapitulasi sumur resapan SNI 8456 : 2017 dapat dilihat pada tabel 4, berikut contoh perhitungan kedalaman efektif sumur resapan (H) untuk rumah dengan luas atap 60 π‘š2 dengan SNI 8456:2017 : 𝑄 H = πœ”πœ‹π‘ŸπΎ (2) = CΓ—IΓ—A (3) πœ”πœ‹π‘ŸπΎ 0.95 x 0.02111 x 60 = 5 π‘₯ πœ‹ π‘₯ 0.5 π‘₯ 0.0244 = 3.16 m Perhitungan sumur resapan dengan Metode Sunjoto Rekapitulasi perhitungan sumur resapan dengan metode Sunjoto dapat dilihat pada tabel 5, berikut contoh perhitungan kedalaman efektif sumur resapan (H) untuk rumah dengan luas atap 60 π‘š2 dengan Metode Sunjoto : H 𝑄 βˆ’ 𝐹𝐾𝑇 = 𝐹.𝐾𝑖 {1 βˆ’ β„― ( πœ‹π‘…2 )} 𝐢𝐼𝐴 (4) βˆ’ 𝐹𝐾𝑇 = 𝐹.𝐾 {1 βˆ’ β„― ( πœ‹π‘…2 )} = 0.95 π‘₯ 0.02111 π‘₯ 60 2.75 π‘₯ 0.0244 βˆ’ 2.75 π‘₯ 0.0244 π‘₯ 2 {1 βˆ’ β„― ( πœ‹ π‘₯ 0.52 )} = 2.82 m 24 Received: 25 September 2023, Accepted: 13 Oktober 2023 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: xxxx-xxxx Vol. 1 No. 1, Oktober 2023 Tabel 4. Rekapitulasi Perhitungan Sumur Resapan SNI 8456:2017 C 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 I (m/jam) 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 A (m2) 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 Q (m3/jam) 1.21 1.41 1.61 1.81 2.01 2.21 2.41 2.61 2.81 3.01 3.21 3.41 3.61 3.82 4.02 Ø (m) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 k (m/jam) 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 H total (meter) 3.16 3.68 4.20 4.72 5.25 5.77 6.29 6.81 7.34 7.86 8.38 8.90 9.42 9.97 10.49 H rencana (meter) 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 Jumlah 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 3 4 4 4 4 Sumber : Perhitungan (2023). Tabel 5. Rekapitulasi Perhitungan Sumur Resapan SNI 8456:2017 C I (m/jam) A (m2) Q (m3/jam) F 5.5 R K Ø (m) H total (meter) 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 0.02111 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 1.21 1.41 1.61 1.81 2.01 2.21 2.41 2.61 2.81 3.01 3.21 3.41 3.61 3.82 4.02 2.75 2.75 2.75 2.75 2.75 2.75 2.75 2.75 2.75 2.75 2.75 2.75 2.75 2.75 2.75 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 0.0244 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2.84 3.31 3.78 4.24 4.71 5.18 5.65 6.12 6.59 7.05 7.52 7.99 8.46 8.95 9.42 H rencana (meter) 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 Jumlah 1 1 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 4 4 Sumber : Perhitungan (2023). Dari tabel 4 dan tabel 5 dapat dilihat bahwa hasil dari perhitungan kedua metode tersebut memiliki kedalaman total yang berbeda – beda, pada luas atap 60 π‘š2 memerlukan kedalaman optimum 3.16 m dari hasil perhitungan SNI 8456:2017 sedangkan pada metode Sunjoto memerlukan 2.89 m, sehingga dari hasil kedua metode akan menghasilkan jumlah sumur resapan yang berbeda. Terdapat perbedaan jumlah sumur pada luas atap 120 – 130 π‘š2 dari Metode SNI menghasilkan 3 sumur resapan sedangkan pada Metode Sunjoto menghasilkan 2 sumur resapan, juga terdapat perbedaan jumlah sumur pada luas atap 170 – 180 π‘š2 , dari perhitungan metode SNI 8456:2017 menghasilkan 4 sumur resapan sedangkan dari perhitngan metode sunjoto menghasilkan 3 sumur resapan. Jadi dari perhitungan Metode Sunjoto menghasilkan jumlah sumur resapan yang lebih sedikit. 25 Received: 25 September 2023, Accepted: 13 Oktober 2023 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: xxxx-xxxx Vol. 1 No. 1, Oktober 2023 Tabel 6. Contoh Perhitungan Efektivitas Sumur Resapan pada rumah dengan luas atap 60 π‘š2 Q sumur Q teresap Efektivitas SNI 8456:2017 = 0.278 x C x I x A = 0.278 x 0.95 x 0.02111 x (Ο€π‘Ÿ 2 + 2 Ο€rxt) = 0.278 x 0.95 x 0.02111 x 10.71 = 0.059709867 π‘š3 / jam = Q limpasan – Q sumur = 1.21 – 0.059709867 = 1.16 π‘š3 / jam 𝑄 π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘ π‘Žπ‘ = x 100% Metode Sunjoto =FxKxH = 2.75 x 0.0244 x 2.84 = 0.190564 π‘š3 / jam = Q limpasan – Q sumur = 1.21 – 0.190564 = 1.02 π‘š3 / jam 𝑄 π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘ π‘Žπ‘ = x 100% Q sumur Q teresap Efektivitas = 𝑄 π‘™π‘–π‘šπ‘π‘Žπ‘ π‘Žπ‘› 1.16 𝑄 π‘™π‘–π‘šπ‘π‘Žπ‘ π‘Žπ‘› 1.02 1.21 x 100% = 84.3 % = x 100% 1.21 = 95.87 % Sumber : Perhitungan (2023). Tabel 7. Efektivitas Sumur Resapan SNI 8456:2017 dan Metode Sunjoto Efektivitas SNI 8456:2017 Luas Atap (m2) Q limp (m3 /jam) H (m) A (m2) Q sumur (m3/jam) Q resap (m3 /jam) Efektivitas Metode Sunjoto Eff (%) H (m) Q Sumur (m3/jam) Q resap (m3/jam) Eff (%) 60 1.21 3.16 10.71 0.05971 1.16 95.87 % 2.84 0.190564 1.02 84.3 % 70 1.41 3.68 12.35 0.06885 1.35 % 3.31 0.222101 1.19 84.4 % 80 1.61 4.2 13.98 0.077941 1.54 95.75 95.66 % 3.78 0.253638 1.36 84.48 % 90 1.81 4.72 15.61 0.08702 1.73 95.59 % 4.24 0.284504 1.53 84.54 % 100 2.01 5.25 17.27 0.09628 1.92 95.53 % 4.71 0.316041 1.7 84.58 % 110 2.21 5.77 18.91 0.105426 2.11 95.48 % 5.18 0.347578 1.87 84.62 % 120 2.41 6.29 20.54 0.114514 2.3 95.44 % 5.65 0.379115 2.04 84.65 % 130 2.61 6.81 22.17 0.123601 2.49 95.41 % 6.12 0.410652 2.2 84.3 % 140 2.81 7.34 23.84 0.132912 2.68 95.38 % 6.59 0.442189 2.37 84.35 % 150 3.01 7.86 25.47 0.141999 2.87 95.35 % 7.05 0.473055 2.54 84.39 % 160 3.21 8.38 27.1 0.151087 3.06 95.33 % 7.52 0.504592 2.71 84.43 % 170 3.41 8.9 28.74 0.16023 3.25 95.31 % 7.99 0.536129 2.88 84.46 % 180 3.61 9.42 30.37 0.169317 3.45 95.57 % 8.46 0.567666 3.05 84.49 % 190 3.82 9.97 32.1 0.178962 3.65 95.55 % 8.95 0.600545 3.22 84.3 % 200 4.02 10.49 33.73 0.18805 3.84 95.53 % 9.42 0.632082 3.39 84.33 % Rata - rata 95.52 % Rata - rata 84.45 % Sumber : Perhitungan (2023). Sumur resapan dikatakan efektif apabila terdapat perubahan pada debit yang mengalir, karena debit limpasan dari atap rumah mengalir masuk kedalam sumur resapan (Sadhwasadhuhitanigrahawijaya, 2023). Dari tabel 7 perhitungan efektivitas sumur resapan diatas, dalam menghitung efektivitas langkah pertama dicari presentase efektivitas sumur resapan dari setiap masing – masing luas atap rumah sesuai dengan contoh perhitungan, 26 Received: 25 September 2023, Accepted: 13 Oktober 2023 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: xxxx-xxxx Vol. 1 No. 1, Oktober 2023 kemudian dicari nilai rata – rata nya untuk mengetahui perbandingan presentase dari kedua metode. Luas sumur (A) yang digunakan pada SNI 8456:2017 berasal dari perhitungan luas dinding ditambah dengan luas alas sumur (Yudistirawan & Saves, 2019). 4. KESIMPULAN Berdasarkan hasil perhitungan perecanaan sumur resapan diperoleh hasil kedalaman total (H total) dan jumlah sumur yang berbeda, sesuai dengan luas atap dari setiap rumah, semakin luas atap rumah maka kedalaman sumur resapan yang dibutuhkan juga semakin dalam. Dengan kedalaman rencana (H rencana) 2,5 meter dan diameter 1 meter pada luas atap 60 – 200 π‘š2 dari perhitungan metode sunjoto (1988) dibutuhkan kedalaman total (H Total) sumur resapan 2,82 – 9,4 m dengan jumlah 1 – 4 unit sumur resapan. Sedangkan dari perhitungan SNI 8456:2017 dibutuhkan kedalaman total (H Total) sumur resapan 3,16 – 10,49 meter dengan jumlah 1 – 4 unit sumur resapan. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan hasil efektivitas dari SNI 8456:2017 sebesar 95.52% sedangkan metode sunjoto 84.45%, jadi dari perhitungan SNI 8456:2017 menghasilkan nilai efektivitas yang lebih besar daripada Metode Sunjoto. Sedangkan berdasarkan jumlah sumur resapan Metode Sunjoto menghasilkan jumlah yang lebih sedikit sehingga lebih efisien bila dibandingkan dengan SNI 8456:2017. Jika menghasilkan jumlah sumur resapan yang sama maka efektif dan efisien menggunakan metode perhitungan SNI 8456:2017. 5. DAFTAR PUSTAKA SNI 8456:2017. (2017). Sumur dan Parit Resapan Air Hujan. Sni 8456:2017, 1–18. www.bsn.go.id Soil Survey Staff. (2014). Keys to soil Taxonomy (11 ed.). USDA, NRCS, Washington DC. Sunjoto. (2011). Teknik Drainase PRO-AIR (hal. 1–70). FT UGM. Bahunta, L., & Waspodo, R. S. B. (2019). Rancangan Sumur Resapan Air Hujan sebagai Upaya Pengurangan Limpasan di Kampung Babakan, Cibinong, Kabupaten Bogor. Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan, 4(1), 37–48. https://doi.org/10.29244/jsil.4.1.37-48. Firmansyah, Permana, S., & Fathir, M. (2022). Analisis Sumur Resapan untuk Mencegah Banjir dan Limpasan di Wilayah Tarogong Kidul. Jurnal Konstruksi, 20(1), 18–29. https://doi.org/10.33364/konstruksi/v.20-1.925. Putri, M. A. (2019). Perbandingan Biaya pembuatan Sumur Resapan Air Hujan dengan Metode Sunjoto dan SNI 03-2453-2002 di Perumahan Griya Citra Agung Mataram. Carbohydrate Polymers, 6(1), 1–16. Sadhwasadhuhitanigrahawijaya, N. (2023). Efektivitas bangunan sumur resapan terhadap drainase kampung timuran dan prawirotaman ( The Effectiveness of Infiltration Wells on Drainage System in Timuran and Prawirotaman District). Universitas Islam Indonesia. Sulaiman, A., Sutirto, & Lembang, Y. R. (2017). Pemetaan Potensi Air Tanah Menggunakan Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis di Kota Kupang. Politeknik Negeri Kupang. https://doi.org/9786024502119. Tjandra, A. A. (2019). Penerapan Sumur Resapan pada Perencanaan Drainase Wilayah di Desa Ngampel-Bojonegoro. 1–8. https://ojs.ejournalunigoro.com. 27 Received: 25 September 2023, Accepted: 13 Oktober 2023 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: xxxx-xxxx Vol. 1 No. 1, Oktober 2023 Wulandari, A. (2021). Pengaruh Pupuk Kandang Kotoran Ayam Terhadap Kemantapan Agregat Inceptisol dan Hasil Kacang Tanah (Arachis hypogea L.) [Universitas Jambi]. https://repository.unja.ac.id/24256/. Yudistirawan, D., & Saves, F. (2019). Analisis Kebutuhan Sumur Resapan Dalam Rangka Konservasi Air di Wilayah Perumahan Margorejo Indah Kota Surabaya. 1–10. http://repository.untag-sby.ac.id/3669/. 28 Received: 25 September 2023, Accepted: 13 Oktober 2023