Vol. No. November 2025, hal, 141-151 https://doi. org/10. 54214/efada. Vol2. Iss02. Pelatihan Pemilihan Alat Permainan Edukatif untuk Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini Indah Setianingrum. Maria Ulfa. Sekolah Tinggi Agama Islam MaAoarif Magetan. Indonesia E-mail: . indahsetianingrum008@gmail. com, . ismafa92@gmail. Info Artikel Kata kunci : Pelatihan Pemilihan Alat Permainan Edukatif Perkembangan Kognitif Penulis Koresponden : Indah Setianingrum E-mail : indahsetianingrum008@gmail. ABSTRAK Kegiatan pelatihan pemilihan alat permainan edukatif untuk perkembangan kognitif anak usia dini di RA Muslimat NU Karangrejo Magetan betujuan untuk meningkatkan kesadaran guru dalam pemilihan alat permainan edukatif khususnya untuk perkembangan kognitif anak. Minimnya kesadaran guru dalam pemilihan APE khususnya dalam perkembangan kognitif yang akan berpengaruh ke perkembangan anak serta kesehatan anak. Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan metode edukatif berupa observasi awal, wawancara, ceramah, demonstrasi pemilihan APE, dan sesi tanya jawab. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman guru dalam prinsip pemilihan APE. Materi yang disajikan berisi tentang manfaat APE, karakteristik APE yang sesuai tahapan anak, dan cara-cara yang tepat untuk memilih. Kegiatan ini mendorong guru untuk tumbuh kesadaran terhadap pentingnya pemilihan APE yang sesuai untuk anak dari segi perkembangan dan kesehatan anak PENDAHULUAN Metode Pembelajaran yang cocok untuk anak usia dini adalah Metode permainan. Permainan merupakan aktivitas yang dilaksanakan oleh individu yang sifatnya menggembirakan menyenangkan, serta menimbulkan kenikmatan untuk mencapai perkembangan yang baik untuk fisik, sosial, intelektual, moral serta emosional (Purnama Sigit, 2. Melalui permainan anak akan merasa gembira dan senang. Permainan yang dilakukan tanpa paksaan akan menimbulkan rasa senang, sehingga semua aspek perkembangan dapat dikembangkan. Aspek perkembangan harus dikembangkan sesuai dengan usianya. Pada saat anak merasa senang, pertumbuhan otak anak akan tumbuh dengan maksimal, sehingga pembelajaran dapat dilakukan dengan mudah pada saat itu. Aktivitas bermain yang dilakukan anak bisa menggunakan alat dan tanpa alat. Salah satu contoh jenis permainan tanpa alat yaitu permainan dalam lingkaran yang dilakukan oleh (Pahrul & Amalia, 2. , permainan ini dapat mengembangkan aspek perkembangan kognitif anak, selain itu, permainan tersebut juga dapat dilakukan di lapangan terbuka atau outdoor. Melalui hasil observasi dari pelaksanaan permainan tersebut, terdapat adanya peningkatan kognitif anak secara signifikan. Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Pelatihan Pemilihan Alat Permainan Edukatif untuka Perkembangan kognitif yang berfokus pada kemampuan daya ingat anak dalam mengenali gaya dan bentuk binatang merupakan salah satu aspek penting dalam masa pertumbuhan. Hasil penelitian sebelumnya menyatakan bahwa permainan tanpa alat pun dapat mengembangkan kemampuan kognitif anak. Dengan demikian, meskipun tanpa menggunakan media atau alat khusus, perkembangan kognitif anak tetap dapat ditingkatkan selama pendidik mampu menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan melalui aktivitas bermain. Aktivitas bermain dengan menggunakan alat biasanya dikemas dengan alat permainan edukatif (APE). Alat Permainan Edukatif (APE) adalah alat yang dibuat sebagai media pembelajaran yang dirancang secara khusus untuk membantu kegiatan pembelajaran khususnya dalam memudahkan pendidik untuk menyampaikan materi yang berkaitan dengan pendidikan. Selain itu, alat permainan ini juga dapat membantu peserta didik dalam mengembangkan aspek perkembangan yang ada (Astini et al. , 2. Tercapainya perkembangan anak secara optimal tidak terlepas dari kemampuan guru dalam mengelola alat permainan yang digunakan, khususnya Alat Permainan Edukatif (APE). Guru perlu memahami fungsi setiap APE serta kontribusinya terhadap aspek-aspek perkembangan anak. Berbagai jenis APE digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran, baik yang dibuat sendiri oleh pendidik maupun yang dibeli di toko (Mirawati, 2. Namun demikian, masih terdapat sebagian APE yang penggunaannya belum tepat sasaran sesuai tujuan perkembangan anak. RA Muslimat NU Karangrejo masih menghadapi sejumlah tantangan berkaitan dengan pemilihan dan pemanfaatan Alat Permainan Edukatif (APE) yang sesuai untuk perkembangan anak usia dini. Salah satu tantangan utama adalah minimnya pemahaman guru dalam memilih APE yang sesuai, aman, dan sejalan dengan tingkat perkembangan anak. Banyak guru belum memiliki pengetahuan yang memadai mengenai kriteria APE yang edukatif, seperti kesesuaian dengan aspek perkembangan, nilai pedagogis, keamanan bahan, dan metode penggunaan yang efektif dalam proses pembelajaran. Minimnya pemahaman ini memengaruhi penggunaan APE yang kurang maksimal di ruang kelas. Beberapa APE yang ada tidak digunakan secara optimal, sedangkan APE yang digunakan sering kali tidak sejalan dengan tujuan pembelajaran. Sebagai akibatnya, stimulasi untuk perkembangan anak Ai baik motorik, bahasa, kognitif, sosial emosional, maupun seni Ai belum berjalan dengan baik. Di samping itu, kurangnya pelatihan dan sosialisasi mengenai pemilihan APE dari pihak sekolah dan lembaga terkait membuat guru merasa kurang percaya diri dalam merencanakan kegiatan bermain yang bervariasi. Para guru lebih cenderung menggunakan APE yang sudah umum dipakai tanpa mempertimbangkan kesesuaian dengan tema dan kompetensi yang ingin dicapai. Permasalahan ini menegaskan pentingnya memperbaiki pemahaman guru tentang pemilihan APE Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Indah Setianingrum. Maria Ulfa agar proses pembelajaran di RA Muslimat NU Karangrejo dapat berjalan dengan lebih terstruktur, menarik, dan sesuai dengan perkembangan anak. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman guru RA Muslimat NU Karangrejo mengenai prinsip pemilihan dan penggunaan Alat Permainan Edukatif (APE). Fokus penelitian mencakup ketepatan pemilihan APE bagi anak usia 4 tahun, seperti puzzle berbahan balok yang aman dan sesuai kebutuhan perkembangan anak, serta memastikan bahwa bahan APE yang telah dibeli layak dan aman digunakan. Pemilihan mainan tidak harus mewah atau mahal, namun harus tepat guna, bermanfaat, serta mampu menstimulasi berbagai aspek perkembangan anak (Wahyuni et al. , 2. Secara khusus, penggunaan APE perlu mendukung perkembangan kognitif anak usia dini, yang berkembang melalui tahapan tertentu untuk membantu mereka berpikir, menyimpan informasi, dan beradaptasi dengan lingkungannya. Dari berbagai media yang tersedia, baik yang dibeli maupun yang dibuat sendiri oleh guru, diperlukan pertimbangan dalam memilih Alat Permainan Edukatif (APE) yang sesuai untuk anak. Pemilihan tersebut bertujuan untuk memastikan keamanan dan kesesuaian alat permainan bagi anak usia dini. Oleh karena itu, pendampingan dalam pemilihan APE yang mendukung perkembangan kognitif anak diberikan kepada guru-guru di RA Muslimat NU Karangrejo. METODE PENGABDIAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di RA Muslimat NU Karangrejo. Kecamatan Kawedanan. Kabupaten Magetan. Lokasi ini dipilih karena sesuai dengan observasi awal yang dilakukan bahwa lembaga tersebut masih menghadapi permasalahan terkait kurangnya pemahaman guru dalam memilih dan memanfaatkan APE yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Sasaran kegiatan ini adalah guru-guru yang terdiri dari 8 guru. Peserta hadir dan menunjukkan minat yang tinggi untuk memperbaiki pemahaman mereka tentang pemilihan APE yang sesuai. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 6 Oktober 2025, pukul 09. 00 WIB Ae 00 WIB. Pemateri sekaligus fasilitator dalam kegiatan ini adalah tim pelaksana pengabdian, yaitu Ibu Indah Setianingrum. Pd. dan Ibu Maria Ulfa. Pd. Metode yang digunakan dalam kegiatan dalam kegiatan ini bersifat edukatif dan partisipatif, yang terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut: Observasi Awal Peneliti melakukan pengamatan mengenai APE yang tersedia di RA Muslimat NU Karangrejo untuk mengidentifikasi apakah sesuai APE yang digunakan selama pembelajaran untuk anak usia dini. Misalnya balok-balok menggunakan warna, tingkat kesulitan puzzle yang belum sesuai usia anak, dll. Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Pelatihan Pemilihan Alat Permainan Edukatif untuka Wawancara dengan Kepala Sekolah Wawancara dilakukan dengan Kepala Sekolah untuk mengetahui sejauh mana sekolah telah menetapkan pedoman atau standar dalam pemilihan dan penggunaan APE khususnya untuk perkembangan kognitif, bagaimana proses pembinaan, supervisi, atau pelatihan terkait penggunaan APE selama ini dilakukan. Selain itu juga dibutuhkan informasi untuk memahami kendala yang dialami guru, seperti kurangnya pelatihan, minimnya referensi, atau kurang tepatnya pemanfaatan APE. Pelatihan dan Penyampaian Materi seputar Pemilihan APE Kegiatan utama berupa pelatihan dan penyampaian materi tentang pemilihan APE. Dimulai dari pemaparan materi mengenai manfaat APE, karakteristik APE yang sesuai tahapan anak, dan cara-cara yang tepat untuk memilih APE. Sesi Tanya Jawab dan Refleksi Pada akhir kegiatan dilaksanakan sesi tanya jawab untuk menjawab ketidakpahaman atau kebingungan peserta terkait materi yang dijelaskan. Selain itu, refleksi terbuka juga dilakukan terhadap pelatihan pemilihan APE khususnya perkembangan kognitif. Sebagai bentuk evaluasi, fasilitator memberikan contoh-contoh APE yang sesuai serta tidak Setelah itu, peserta mendeskripsikan apakah APE yang dicontohkan sesuai atau tidak untuk anak. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif berbasis praktik sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman guru mengenai pemilihan APE untuk perkembangan kognitif. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum melaksanakan kegiatan pelatihan, peneliti melakukan identifikasi APE yang digunakan dalam perkembangan kognitif. Peneliti melakukan pengamatan terhadap APE yang tersedia di RA Muslimat NU Karangrejo untuk mengidentifikasi kesesuaian alat permainan yang digunakan selama kegiatan pembelajaran anak usia dini. Pengamatan ini dilakukan untuk menilai apakah APE tersebut telah memenuhi standar perkembangan, sesuai dengan tahap usia anak, serta mendukung tujuan pembelajaran yang diharapkan. Selain itu, peneliti juga meninjau aspek keamanan, kelayakan bahan, serta kesesuaian fungsi APE dalam memberikan rangsangan yang tepat bagi perkembangan kognitif, motorik, dan sosial-emosional anak. Melalui pengamatan ini, peneliti dapat memperoleh gambaran menyeluruh terkait kualitas dan pemanfaatan APE di lingkungan RA Muslimat NU Karangrejo. Hasil identifikasi awal sebagai berikut : APE tidak menantang kemampuan berpikir anak. Jumlah kepingan puzzle yang digunakan belum sesuai dengan usia anak. Puzzle yang digunakan memiliki potongan Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Indah Setianingrum. Maria Ulfa terlalu sedikit atau gambar terlalu sederhana, sehingga tidak mendorong anak untuk berpikir, mencocokkan bentuk, atau menyelesaikan masalah. APE masih abstrak untuk tahap perkembangan anak usia dini. Penggunaan kartu angka atau huruf tanpa media konkret sehingga anak kesulitan memahami konsep karena masih berada pada tahap berpikir konkret, bukan simbolik. Tidak mendukung kemampuan klasifikasi dan pengelompokan. Beberapa APE tidak memungkinkan anak untuk mengelompokkan berdasarkan warna, bentuk, atau ukuran, sehingga tidak membantu perkembangan logika dasar. Tingkat kesulitan tidak sesuai usia. Misalnya penggunaan balok konstruksi berukuran kecil dan kompleks untuk anak usia 3 tahun, sehingga anak tidak mampu menggunakannya untuk menyusun bentuk sederhana. Tidak mendukung pengembangan konsep dasar matematika dan sains. APE seperti manik-manik atau benda berhitung tidak tersedia atau tidak lengkap, sehingga anak tidak bisa berlatih menghitung, memperkirakan jumlah, atau mengenal pola dan urutan. Setelah melakukan pengawasan dan identifikasi awal, peneliti melakukan wawancara bersama kepala sekolah. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan Kepala RA Muslimat NU Karangrejo, diperoleh informasi bahwa beberapa APE yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran memang belum sepenuhnya mendukung perkembangan kognitif anak usia dini. Kepala sekolah menjelaskan bahwa sebagian APE yang tersedia masih bersifat sederhana dan kurang variatif, sehingga belum mampu memberikan rangsangan berpikir yang optimal, seperti kemampuan mengamati, mencocokkan, mengelompokkan, serta memecahkan masalah. Beliau juga menyampaikan bahwa terdapat APE yang tingkat kesulitannya tidak sesuai dengan tahapan usia anak, misalnya puzzle dengan potongan terlalu mudah atau sebaliknya terlalu kompleks untuk usia Selain itu, kepala sekolah menegaskan bahwa beberapa APE belum memenuhi aspek keamanan dan kelayakan penggunaan. Ada mainan yang bahan pembuatannya mulai hangus, memiliki bagian kecil yang berisiko tertelan, atau struktur yang kurang kuat sehingga perlu diganti. Beliau mengakui bahwa keterbatasan anggaran menjadi salah satu hambatan untuk melakukan pengadaan APE baru yang lebih sesuai dengan standar perkembangan kognitif anak usia dini. Kepala sekolah berharap melalui kegiatan ini, sekolah dapat memperoleh masukan dan pendampingan untuk meningkatkan kualitas APE sehingga lebih efektif dalam mendukung proses Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di RA Muslimat NU Karangrejo pada tanggal 6 Oktober 2025, menunjukkan hasil yang positif dalam peningkatan pemahaman pemilihan Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Pelatihan Pemilihan Alat Permainan Edukatif untuka APE khususnya perkembangan kognitif. Pelatihan dilakukan pukul 08. 00 WIB Ae 12. 00 WIB dengan durasi 180 menit. Pelatihan diikuti oleh guru-guru dari RA Muslimat NU Karangrejo dengan jumlah 8 guru. Materi yang disajikan berisi tentang manfaat APE, karakteristik APE yang sesuai tahapan anak, dan cara-cara yang tepat untuk memilih. Berdasarkan pengamatan selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusias yang baik dan tinggi dalam mengikuti setiap Materi-materi yang disajikan sebagai berikut : Manfaat APE bagi anak usia dini (Wahyuni et al. , 2. sebagai berikut: meningkatkan kecerdasan anak dan memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak dengan berbagai alat permainan yang menarik, membantu mengembangkan Indra/sensori dan keterampilan motorik anak, meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah yang dimiliki oleh anak, menstimulasi kreativitas anak. Anak dapat melakukan eksplorasi dan menggunakan imajinasi mereka ketika bermain dengan APE, meningkatkan daya konsentrasi anak. APE dapat menciptakan kegiatan yang menyenangkan bagi anak. Saat anak merasa senang, anak akan cenderung lebih aktif dalam melakukan kegiatan tersebut dan biasanya konsentrasi anak akan terlatih dengan baik, meningkatkan daya konsentrasi anak. APE dapat menciptakan kegiatan yang menyenangkan bagi anak. Saat anak merasa senang, anak akan cenderung lebih aktif dalam melakukan kegiatan tersebut dan biasanya konsentrasi anak akan terlatih dengan baik, menstimulasi aspek perkembangan sosial emosi anak. APE ini dapat melibatkan anak-anak untuk secara fisik dan bermain bersama teman yang lain. APE juga dapat menjadi media yang dapat mengurangi stress pada anak. Karakteristik APE yang sesuai dengan tahapan anak (Badruzman & Eliyawati, 2. sebagai berikut: Penyusunan APE ditujukan untuk anak usia dini dan difungsikan untuk mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak meliputi aspek perkembangan moral dan nilai-nilai keagamaan, fisik-motorik, kognitif, bahasa, dan sosial-emosi. APE bagi anak usia dini bersifat multiguna atau dapat digunakan dengan berbagai cara, bentuk, dan untuk bermacam tujuan aspek pengembangan. APE bagi anak usia dini harus aman atau tidak berbahaya bagi anak usia dini, misalnya dibuat dari bahan-bahan yang ramah untuk anak, tidak mengandung racun dan lain sebagainya. APE hendaknya dapat mendorong aktivitas, kreatifitas anak dan menstimulasi daya cipta yang dimiliki anak. APE bersifat konstruktif atau memiliki sesuatu yang dihasilkan berdasarkan ide dan kreativitas anak. APE harus mengandung nilai pendidikan bagi anak usia dini. Artinya ada nilai-nilai yang dapat didapatkan oleh anak ketika memainkan APE tersebut. Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Indah Setianingrum. Maria Ulfa Pemilihan APE harus sesuai dengan karakteristik anak dan sesuai dengan usianya. Guru harus paham dan mengerti pemilihan APE ini, karena APE yang berpengaruh dengan aspek perkembangan anak. Ketika anak usia 4 tahun diberikan APE untuk anak usia 6 tahun, maka anak akan frustasi dan trauma dengan APE tersebut. Anak merasa belum mampu mengerjakan APE tersebut. Anak merasa kecewa bahwa ia merasa tidak bisa mengerjakan APE tersebut. Dari sini guru-guru harus paham dengan pemilihan APE untuk anak usia dini. Cara-cara yang tepat untuk memilih Alat Permainan Edukatif (Wahyuni et al. , 2. sebagai berikut: Sesuaikan APE dengan usia anak. Kita dapat mempelajari terlebih dahulu kebutuhan anak pada masing-masing usia. Pemilihan APE yang tidak sesuai dengan usia anak dapat membuat anak frustasi karena terlalu sulit atau merasa jenuh karena terlalu mudah memainkannya, pertimbangkan berbagai manfaat APE untuk anak (Pusari, 2. Misalnya dengan memilih APE yang mendorong kreativitas atau disesuaikan dengan kebutuhan stimulasi aspek perkembangan anak tertentu, pilihlah APE yang sesuai dengan minat anak. Namun demikian kita dapat memperkenalkan juga alat dan bahan main yang baru agar kegiatan main lebih beragam, pilihlah APE yang terjamin keamanan dan keselamatannya. Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman guru tentang pemilihan APE untuk anak guna perkembangan anak, khususnya untuk perkembangan kognitif anak usia dini. Setelah melakukan penyampaian materi, tahap selanjutnya yaitu sesi tanya jawab dan Pada akhir kegiatan pelatihan, fasilitator membuka sesi tanya jawab untuk memberikan kesempatan kepada para guru RA Muslimat NU Karangrejo menyampaikan hal-hal yang belum dipahami terkait pemilihan dan penggunaan APE yang sesuai standar perkembangan anak usia dini. Beberapa guru menanyakan cara menyesuaikan tingkat kesulitan APE dengan usia anak, bagaimana membedakan APE yang mendukung perkembangan kognitif dengan APE yang hanya bersifat hiburan, serta cara mengevaluasi keamanan APE sebelum digunakan di kelas. Fasilitator memberikan penjelasan rinci, termasuk contoh APE yang tepat untuk berbagai usia dan indikator sederhana untuk menilai kelayakan serta fungsi edukatif APE. Setelah sesi tanya jawab, kegiatan dilanjutkan dengan sesi refleksi. Para peserta diminta menyampaikan pemahaman yang mereka peroleh selama pelatihan serta menguraikan perubahan yang akan diterapkan dalam pembelajaran. Banyak guru mengakui bahwa sebelumnya mereka belum sepenuhnya memahami standar APE, terutama dalam aspek perkembangan kognitif dan Melalui pelatihan ini, mereka merasa lebih mampu memilih APE yang sesuai usia, lebih sadar akan pentingnya tujuan pembelajaran, serta lebih teliti dalam memperhatikan bahan, bentuk, dan fungsi mainan. Guru juga menyatakan komitmen untuk melakukan evaluasi rutin terhadap APE Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Pelatihan Pemilihan Alat Permainan Edukatif untuka yang ada dan meningkatkan kreativitas dalam membuat APE sederhana yang aman dan mendukung perkembangan anak. Sesi refleksi ini menjadi momen penting untuk memperkuat kesadaran dan motivasi guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di RA Muslimat NU Karangrejo. Sebagai bentuk evaluasi, fasilitator memberikan contoh-contoh APE yang sesuai serta tidak sesuai dan peserta mendeskripsikan apakah APE yang dicontohkan sesuai atau tidak untuk anak. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif berbasis praktik sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman guru mengenai pemilihan APE untuk perkembangan kognitif. Melalui kegiatan ini, guru dapat secara langsung mengidentifikasi karakteristik APE yang tepat dan memahami kesalahan yang sering terjadi dalam pemilihannya. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif berbasis praktik ini sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman guru mengenai pemilihan APE yang mendukung perkembangan kognitif anak. Pendekatan tersebut juga mendorong guru untuk lebih kritis, teliti, dan reflektif dalam menentukan APE yang akan digunakan di kelas. Guru harus bisa memanfaatkan bahan yang ada dilingkungan sekitar menjadi APE. Guru dapat memanfaatkan berbagai media, sumber belajar atau alat dan bahan main yang ada di lingkungan sekitar untuk APE. Berbagai bahan yang dapat dimanfaatkan misalnya bahan alam, bahan bekas dan peralatan rumah tangga. Berikut pertimbangan pemanfaatan alat dan bahan main yang tersedia di lingkungan sekitar (Wahyuni et al. , 2. : identifikasi alat dan bahan mainan yang ada di sekitar dengan membuat daftar perlengkapan atau alat dan bahan main yang tersedia, identifikasi sumber daya yang tersedia di lingkungan tempat tinggal baik pegunungan, pesisir pantai, pedesaan dan perkotaan, pilihlah peralatan yang aman, ujung tidak tajam/runcing, kokoh dan tidak mudah pecah, pastikan kebersihan alat dan bahan main agar terbebas dari kotoran dan bakteri, hindari alat dan bahan main yang mengandung zat kimia berbahaya, lakukan perawatan berkala terhadap alat dan bahan mainan, perlengkapan atau bahan yang sudah tidak layak sebaiknya tidak digunakan kembali. Dari beberapa cara pemanfaatan bahan di lingkungan sekitar, guru dapat membuat APE sendiri dengan kreatifitas dan imajinasi yang guru miliki. Pembuatan APE dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan di lingkungan sekitar. Keunggulan pembuatan APE secara mandiri. Keunggulan pembuatan APE secara mandiri (Pusari, 2. antara lain: . biaya lebih murah atau bahkan tanpa biaya sama sekali karena memanfaatkan alat dan bahan dari lingkungan sekitar seperti peralatan rumah tangga, bahan bekas, dan bahan alam. bertambahnya jumlah ketersediaan alat dan bahan main yang beragam bagi anak. APE yang dibuat dapat disesuaikan dengan kebutuhan stimulasi perkembangan anak sehingga dapat lebih tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan. lebih fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta ketersediaan alat dan bahan. proses Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Indah Setianingrum. Maria Ulfa pembuatan dan pemanfaatan APE dengan melibatkan anak dapat meningkatkan antusias kegiatan main bagi mereka. pembuatan APE mendorong kreativitas orang tua dan guru dalam kegiatan mengidentifikasi, memilih dan memanfaatkan bahan di lingkungan sekitar sebagai bahan main bagi APE yang dapat digunakan dalam aktivitas bermain anak seyogianya tidak hanya berorientasi pada hasil produksi pabrik semata, namun justru dapat diperoleh dengan memanfaatkan alat dan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Guru dan orang tua dapat memanfaatkan berbagai sumber daya berupa bahan alam, bahan bekas, alat rumah tangga, maupun bahan lainnya di lingkungan sekitar sebagai APE mandiri. Secara teoretis, keberhasilan kegiatan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Setianingrum & Hidayana, n. ) yang meneliti tentang Pemilihan APE dalam perkembangan Penelitian menjelaskan bahwa guru harus memiliki pemahaman mengenai pemilihan APE guna untuk perkembangan anak dan kesehatan anak. Selain itu, guru juga bisa mendapatkan pelatihan pembuatan APE, seperti pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh (Hardianti et al. , penelitian menjelaskan bahwa guru paud dapat memahami konsep penerapan penggunaan APE dalam kelas. Para guru juga mampu menciptakan APE sederhana namun inovatif dari berbagai bahan dan mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Sehingga para guru dapat belajar membuat APE dengan memanfaatkan barang-barang yang ada di sekitarnya. Selama pelaksanaan kegiatan, terdapat beberapa kendala. Salah satunya beberapa peserta memiliki pandangan berbeda mengenai keamanan, tingkat kesulitan, atau nilai edukatif suatu APE, sehingga perlu klarifikasi dari fasilitator. Dari hasil kegiatan ini, dapat disimpulkan bahwa pendekatan edukatif-partisipatif pelatihan sangat efektif dalam meningkatkan prinsip pemilihan APE khususnya perkembangan kognitif anak. Model ini tidak hanya memberikan pemahaman konseptual, tetapi menghasilkan pemahaman guru juga dengan media yang aman dan sesuai untuk usia anak. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kegiatan pelatihan pemilihan APE untuk perkembangan kognitif anak yang dilaksanakan di RA Muslimat NU Karangrejo terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman guru tentang pemilihan APE. Melalui pendekatan edukatif-partisipatif berupa ceramah, demonstrasi, dan praktik langsung, peserta memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai pemilihan APE. Pelatihan ini juga berhasil membangun semangat guru dalam memberikan APE untuk anak usia dini yang sesuai dengan usia anak dan memperhatikan kesehatan dan keselamatan Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Pelatihan Pemilihan Alat Permainan Edukatif untuka Berdasarkan hasil yang dicapai, disarankan agar kegiatan pelatihan dijadikan program rutinan dan bisa merambat ke sekolah lain untuk memberikan pemahaman guru tentang pemilihan APE. Selain itu, diperlukan pedoman pemilihan APE yang sesuai dengan usia anak, agar mereka dapat belajar secara mandiri setelah pelatihan berlangsung. Kegiatan ini juga dapat menjadi model pengabdian masyarakat berbasis kebutuhan nyata, yang dapat direplikasikan oleh lembaga pendidikan tinggi lainnya sebagai bentuk kontribusi secara langsung terhadap peningkatan prinsip pemilihan APE untuk anak. Penulis mengucapkan terima kasih kepada RA Muslimat NU Karangrejo atas izin, dukungan, dan fasilitas yang diberikan selama pelaksanaan kegiatan. Penulis juga berterima kasih kepada seluruh peserta dan pihak-pihak yang telah berpartisipasi dan memberikan kontribusi dalam kesuksesan pelatihan ini. DAFTAR PUSTAKA