ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 Dinamika Konflik Dalam Kesepakatan Bunuh Diri William Traynor Kuswatul Masfufah Zain1 1PKBM Khairunnas Madura Lillahfillah17@gmail. Abstract Suicide is common among Japanese people and is seen as a morally responsible act. Suicide also exists in religious traditions, while in the medical world the term euthanasia . he right to die with the help of another perso. is known. This research uses a qualitative method with a case study approach using literature study as a data collection technique. Meanwhile, data analysis techniques and using Triangulation as a technique for checking the validity of research data. The research results show that the conflict dynamics faced by William Traynor are divided into four stages, namely: Pre-Conflict. Confrontation. Climax and Post-Conflict. The pre-conflict started when William had an accident, he felt exhausted from the recovery process, this made William The confrontation began when William spoke frankly to his mother about his desire to end his life. This made his mother angry, but she could not refuse or accept his request. It was felt that the climax of William's conflict emerged and broke out when Louisa tried to convince William to abandon his desire to carry out euthanasia in Switzerland. Post-Conflict closes with William's death and several facts discovered by the Crown Prosecution Service behind William's decision to end his life. Meanwhile, there are two types of conflict, namely Internal and External conflict, with the type of suicide committed by William Traynor classified as egoistic suicide which arises because of low social integration. Keywords: Suicide. Conflict Dynamics. Euthanasia. Mercy Killing. Abstrak Bunuh diri merupakan hal biasa di kalangan orang-orang Jepang yang dipandang sebagai tindakan bertanggungjawab secara moral. Bunuh diri, juga ada dalam tradisi agama sedangkan di dunia kedokteran dikenal istilah euthanasia . ak untuk mati dengan bantuan orang lai. Penelitian ini menggunakan metode kualititatif dengan pendekatan case study dengan menggunakan studi literatur sebagai teknik pengumpulan data. Sedangkan, teknik analisis data serta menggunakan Triangulasi sebagai teknik pemeriksaan keabsahan data penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika konflik yang dihadapi William Traynor terbagi menjadi empat tahapan yaitu: Pra-Konflik. Konfrontasi. Klimaks dan Pasca-Konflik. Pra-konflik dimulai ketika William mengalami kecelakaan, ia merasa kelelahan karena proses pemulihannya, hal itu membuat William putus asa. Konfrontasi dimulai ketika William berbicara terus terang kepada ibunya tentang keinginannya untuk mengakhiri hidupnya. Hal itu membuat ibunya marah, tetapi ia tidak bisa menolak atau menerima permintaannya. Klimaks konflik William dirasakan muncul dan pecah ketika Louisa mencoba meyakinkan William untuk membatalkan keinginannya melakukan eutanasia di Swiss. Pasca-Konflik ditutup dengan kematian William dan beberapa Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 fakta yang ditemukan oleh Crown Prosecution Service di balik keputusan William untuk mengakhiri hidupnya. Sedangkan tipe konflik, ada dua yaitu konflik Internal dan Eksternal dengan jenis bunuh diri yang dilakukan William Traynor tergolong bunuh diri egoistik yang muncul karena integrasi sosial yang rendah. Kata Kunci : Bunuh diri. Dinamika Konflik. Euthanasia. Mercy Killing. PENDAHULUAN Dalam buku Why People Die by Suicide . Thomas Joiner mengklaim bahwa bunuh diri adalah hasil dari keinginan dan kemampuan. Keinginan muncul dari beban dan keputusasaan, sedangkan kemampuan mengacu pada naluri bertahan hidup yang berkaitan dengan kondisi psikis seseorang. Namun, ia bersikeras bahwa faktor terkuat yang memicu tindakan bunuh diri adalah isolasi sosial. Hal tersebut lantas diamini oleh Canadian Armed Force (CAF) dalam laporan tahunan pencegahan bunuh diri yang dilansir oleh Elizabeth Rolland-Harris Hal ini harus ditangani sebagai masalah yang berbeda dengan kesehatan mental. Pasien dengan intensi bunuh diri harus menerima psikoterapi berdasarkan bukti masalah interpersonal yang menyertainya. Dengan demikian, bunuh diri tidak melulu berkaitan dengan gangguan psikologis, namun juga terjadi karena faktor sosial yang mampu dipelajari secara empiris. Untuk membuktikan hal tersebut, kita perlu menilik fenomena bunuh diri secara global. Di India, kaum Brahmana menoleransi bunuh diri melalui upacara Sati yang di Jawa dikenal dengan Pati Obong, sebuah praktik pengorbanan diri seorang janda dengan membakar tubuhnya di atas tumpukan kayu api saat upacara kremasi suaminya. Praktik suci ini telah dilarang di India sejak tahun 1829. Di Yunani kuno, para kriminal yang mendapat hukuman diizinkan untuk melakukan bunuh diri. Di akhir kekaisaran Romawi terjadi insiden yang merugikan karena banyaknya budak yang bunuh diri, yang demikian berarti merekaAibudak yang dianggap sebagai propertiAijuga telah merampas hak milik tuannya. Di Vietnam, sejumlah biksu dan biarawati Buddha membakar diri sebagai protes atas penganiayaan umat Buddha di bawah administrasi Presiden Katolik Roma Ngo Dinh Diem. Hingga pada perang dunia ke-2, praktik Kamikaze ala Jepang dilakukan yang lantas menjadi rahim dari maraknya bunuh diri menggunakan bom, mulai dari kasus terorisme 9/11 hingga kasus lainnya yang mengatasnamakan Jihad. Melihat begitu banyaknya bukti insiden yang tidak bisa lepas kaitannya dengan hubungan interpersonal tersebut, apa kita masih bisa menyebutkan bahwa bunuh diri adalah gangguan mental. Bunuh diri berbicara tanpa suara, namun bapak sosiologi. Emile Durkheim lewat magnum opus-nya Suicide: A Study in Sociology . mampu membuat kita mendengar Ia melakukan analisis statistik pada berbagai penduduk dengan ragam faktor sosial . filiasi agama, status perkawinan, sosial-ekonomi, dl. Tazid . menjelaskan Studi empiris ini memunculkan empat tipologi faktor sosial bunuh diri: Egoistik. Altruistik. Anomik, dan Fatalistik. Tipologi ini dapat dibagi menjadi dua Sumbu vertikal mewakili tingkat integrasi sosial dan sumbu horizontal mewakili tingkat Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 regulasi sosial. Hasil bunuh diri egoistik muncul dari rendahnya integrasi sosial, bunuh diri altruistik muncul dari tingginya integrasi sosial, bunuh diri anomik muncul dari rendahnya tingkat regulasi sosial, dan bunuh diri fatalistik adalah hasil dari tingginya regulasi sosial. Tingkat bunuh diri yang tinggi, menurut Durkheim, adalah hasil dari ketidakseimbangan ke-4 faktor yang telah disebutkan di atas dengan detail sebagai berikut: Egoistik, suatu bentuk bunuh diri yang terjadi ketika individu gagal berasosiasi dengan kelompok masyarakat yang lebih luas. Dengan kecenderungan interaksi sosial yang rendah, mereka jadi kurang memperhatikan kepentingan komunal. Hal ini dapat diawali dari isolasi dan diskriminasi social. Durkheim menjelaskan bahwa integrasi sosial dapat ditingkatkan melalui lingkungan domestik atas dasar matrimoni maupun hubungan darah. Oleh karena itu, kehidupan keluarga yang sehat dapat mencegah bunuh diri pada tipe ini. Altruistik, berkebalikan dengan bunuh diri egoistik yang terjadi saat integrasi sosial terlalu lemah, hal ini justru terjadi saat integrasi sosial terlalu kuat, dengan kata lain, seseorang secara terpaksa melakukan bunuh diri karena masyarakat. Durkheim menyatakan. AuBunuh diri jenis ini muncul dari harapan atas adanya kehidupan yang lebih baik setelah kematianAy. Dalam keadaan ini, seseorang melakukannya bukan atas kehendak pribadi, tetapi lebih banyak karena adanya AutugasAy sosial yang apabila tidak dilaksanakan dapat membuahkan Namun, saat tugas tersebut berhasil dilaksanakan, mereka mendapat penghargaan sosialAiwalaupun bersifat utopis. Tipe ini menekankan bahwa konsensus berperan besar dalam mengendalikan individu. Sehingga bunuh diri ini bersifat eksternal dan jauh dari tujuan pribadi. Anomik, bunuh diri jenis ini terkait dengan rendahnya regulasi sosial. Durkheim berpendapat bahwa negara atau suatu institusi bertanggung jawab untuk mengatur keseimbangan sosial. Arus anomie dapat terjadi ketika kekuatan regulatif masyarakat terganggu sehingga membuat masyarakat tidak memiliki keberpihakan, dasar dan otoritas sebagai individu. Kekosongan ini bermuara pada tindakan bunuh diri anomik. Sebagai contoh, seorang kehilangan pekerjaannya, dengan demikian, ia akan kehilangan efek regulatif yang disediakan oleh pekerjaan tersebut. Fatalistik, kategori bunuh diri terakhir yang dibahas oleh Durkheim ini terjadi ketika tingkat kontrol sosial berlebihan. Ia mencontohkan dari seorang budak. budak akan bunuh diri sebagai akibat tidak adanya alternatif selain hidup di bawah seorang majikan. Hal ini lantas berpotensi dalam terciptanya bunuh diri. Kasus bunuh diri rawan terjadi saat individu berhadapan dengan kenjomplangan di ruang lingkup sosialnya. Kematian sosial adalah sarat terjadinya kematian biologis, tragisnya hanya sedikit yang menyadari hal tersebut. Jadi, mungkin benar jika bunuh diri adalah jalan tercepat menuju Tuhan, namun jalan itu rupanya tidak tercipta dari gangguan mental, melainkan kita, sebagai makhluk sosial yang dengan candang menciptanya dan lantas berteriak. AuIa telah sakit!Ay. Bunuh diri merupakan tindakan kompleks yang memiliki keterkaitan erat antara lain dengan problem psikologis, faktor sosial, biologis, budaya dan peran lingkungan. Depresi, beban mental, dan gangguan penggunaan alkohol disinyalir oleh WHO sebagai penyebab utama orang melakukan tindakan bunuh diri. Meskipun demikian, penting digaris bawahi bahwa tindakan Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 bunuh diri merupakan hal yang kompleks sehingga perlu dilihat dari berbagai perspektif dan sisi. Hal tersebut dikarenakan terdapat beragam pendapat tentang tindakan bunuh diri yang mewarnai perjalanannya. Di Jepang, misalnya, bunuh diri dianggap sebagai cara terhormat mengakhiri hidup. Dalam masyarakat Jepang dikenal istilah seperti 1Angka tersebut merupakan data lama yang memungkinkan bertambah pada tahun- tahun berikutnya. harakiri atau seppuku . erobek perut sendiri dengan pisau taja. di kalangan para samurai, dan kamikaze . enabrakkan pesawat terbang yang penuh berisi bom ke musu. di kalangan tentara Jepang pada Perang Dunia II. Bunuh diri telah menjadi hal biasa di kalangan orang-orang Jepang bahkan ia dipandang sebagai tindakan bertanggungjawab secara moral. Bunuh diri, ternyata juga ditemukan dalam tradisi agama. institusi yang dikenal dengan salah satu doktrinnya untuk menghargai hidup . anctity of lif. Agama Hindu yang memiliki tradisi bunuh diri yang dinamakan sati. Sati adalah tindakan bunuh diri seorang perempuan sebagai istri yang suaminya meninggal dunia. Tindakan tersebut dilakukan pada saat upacara pembakaran suaminya di mana si istri juga ikut terbakar bersama jasad suaminya. Hal tersebut bahkan diyakini sebagai bentuk bakti seorang istri kepada suami. Meskipun tindakan bunuh diri melalui tradisi sati sudah dilarang di India sejak 1829 oleh pemerintah Inggris, tradisi ini masih saja ada yang melakukan dalam intensitas yang sangat Di dunia kedokteran dikenal istilah euthanasia . ak untuk mati dengan bantuan orang Akan tetapi euthanasia yang juga kerap disebut mercy killing . embunuh dengan AykasihA. Ae karena diklaim tidak menimbulkan rasa sakit Ae sudah banyak ditentang dan bahkan dilarang oleh banyak negara di seluruh dunia. Istilah lain dalam tindakan bunuh diri, selain berbagai istilah di atas, yaitu altruistic suicide . unuh diri demi kepentingan orang lai. Contoh dari bunuh diri altruisik adalah seorang tentara dalam peperangan ketika ada sebuah granat yang dilempar oleh musuh lalu tentara itu menutup granat tersebut dengan perutnya agar efek ledakannya tidak melukai atau mematikan tentara lain, melainkan cukup untuk dirinya sendiri. 2Tindakan bunuh diri sebagai bentuk AutanggungjawabAy moral telah dilakukan oleh beberapa mantan orang penting di Jepang, seperti: . Toshikatsu Matsuoka, mantan Menteri Pertanian Jepang, yang menggantung dirinya sampai mati pada 28 Mei 2007 karena ia dituduh melakukan korupsi sebesar 28 juta yen. Shinichi Yamazaki, mantan Kepala Korporasi Publik Bidang Kehutanan Jepang, yang melompat dari apartemennya hingga tewas pada 29 Mei 2007 karena terlibat kasus yang sama dengan Matsuoka. Hisayasu Nagata, mantan politisi dari Partai Demokrat Liberal, yang juga mati bunuh diri terjun dari apartemennya pada 3 Januari 2009 karena dituduh menerima suap dari Takafumi Horie. CEO perusahaan internet terkemuka. Livedoor. Sebagian besar tindakan bunuh diri dilakukan oleh orang dewasa disusul kemudian kaum remaja dengan kasus yang lebih sedikit. Hal ini erat kaitannya dengan status orang dewasa itu Banyak penelitian yang menemukan bahwa sebagian besar tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh orang dewasa dilatarbelakangi oleh faktor himpitan ekonomi, penyakit fisik yang tidak kunjung sembuh dan broken home . ehidupan keluarga yang berantaka. Sementara itu, di kalangan remaja kasus bunuh diri dipicu oleh bad mood . uasana hati yang buru. seperti Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 yang belum lama ini ditemukan oleh Dr. Ghanshyam Pandey dan timnya dari University of Illinois. Chicago dalam penelitian mereka. Pandey menemukan bahwa aktivitas enzim, yang disebut protein kinase C, di dalam pikiran manusia bisa mempengaruhi mood yang memicu keinginan mengakhiri nyawa sendiri. Penelitian tersebut mengungkap bahwa pelaku bunuh diri memiliki tingkat aktfitas protein kinase C lebih rendah pada otaknya daripada mereka yang mati bukan karena bunuh diri. Terlepas dari berbagai alasan seseorang melakukan tindakan bunuh diri, seperti diuraikan di atas, tetap saja secara umum Ae berdasarkan nilai dan norma sosial yang diakui oleh mayoritas masyarakat Ae tindakan tersebut merupakan bentuk tindakan yang tidak menghargai Pertanyaan paling pertama dan utama yang muncul kemudian adalah Auapa sesungguhnya yang menjadi pemicu keinginan seseorang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri?Ay Melalui perspektif Psikologi Sosial penelitian ini, selain bertujuan menjawab pertanyaan di atas, juga ingin menegaskan adanya suatu anomali jiwa pada diri suicidal person . elaku bunuh dir. Anomali sendiri didefinisikan dengan ketidaknormalan atau penyimpangan dari normal atau kelainan. 3 Dengan demikian, anomali jiwa merupakan suatu kondisi kejiwaan yang mengalami ketidaknormalan, penyimpangan dan kelainan. Fenomena bunuh diri, dengan demikian, merupakan salah satu bentuk ekspresi dari terjadinya anomali dalam kejiwaan seseorang, sehingga yang butuh ditelusuri mengenai berbagai dinamika konflik yang mengakibatkan seseorang melakukan tindakan bunuh diri yang disepakati oleh berbagai pihak keluarga, medis maupun pihak lain yang ikut serta dalam perjanjian euthanasia tersebut. METODE Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian studi kasus, dimana pengertian penelitian studi kasus adalah sebuah metode penelitian yang secara khusus menyelidiki fenomena kontemporer . byek sedang berlangsung atau telah berlangsung tetapi masih menyisakan dampak dan pengaruh yang luas, kuat atau khusus pada saat penelitian dilakukan yang terdapat dalam konteks kehidupan nyata, dengan menggunakan berbagai sumber data. Pemilihan penelitian studi kasus dikarenakan obyek penelitiannya hanya di satu tempat dan kegiatannya masih berlangsung serta bersifat mendalam mengenai tindakan yang dilakukan William Traynor dengan fokus penelitian literatur pada Novel Jojo Moyes terjadi berdasarkan beberapa prosedur yang sesuai dan dilakukan di beberapa kasus. Adapun prosedur atau tahap-tahap penelitian studi kasus adalah sebagai berikut : . menentukan isu permasalahan, . menentukan atau mencari landasan teori yang mendukung, . menentukan metodologi penelitian, . melakukan analisis data, dan . membuat Adapun teknik pengumpulan data menggunakan observasi non partisipan melalui kajian dan analisis literature dan dokumentasi yang dilakukan dengan sumber data yang relevan dengan permasalahan tersebut. Setelah itu dilakukan reduksi data, penyajian Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 data, verifikasi, kesimpulan serta analisis. Selain itu, pemeriksaan keabsahan data dilakukan transeferabilitas, depandebilitas serta Audit trail dapat dilakukan dengan cara peneliti mengkonsultasikan hasil temuan penelitian dengan pihak eksternal untuk menilai kredibilitas metode pengumpulan data, temuan dan interpretasi yang dibuat. Pihak eksternal yang dipilih adalah orang yang memahami fenomena dan independent. Pelaksanaan audit trail dilengkapi dengan catatan-catatan pelaksanaan keseluruhan proses dan hasil penelitian. PEMBAHASAN Berdasarkan pembacaan literatur memaparkan pernyataan-pernyataan yang menjelaskan tentang dinamika konflik yang dihadapi William Traynor dan membuatnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Peneliti ingin menjawab permasalahan penelitian yang telah dikemukakan pada bab I dengan menyajikan data dan menganalisisnya menggunakan teori konflik internal dan eksternal oleh Ralf Dahrendorf, teori dinamika konflik oleh Simon Fisher dan teori tipe bunuh diri oleh Emile Durkeim. Alasan Bunuh Diri Dalam novel ini peneliti menjelaskan tentang alasan tokoh utama melakukan bunuh diri yaitu masalah kesehatan dan mentalnya, kehidupan yang bergantung, gagal move on dari masa lalunya, masalah keluarga dan kehilangan eksistensi. Masalah Kesehatan dan Mental Masalah Kesehatan William mengalami cedera tulang belakang dalam sebuah kecelakaan lalu lintas pada tahun 2007 dan telah didiagnosis menderita quadriplegic C5/6 dengan gerakan yang sangat terbatas pada satu lengan saja dan memerlukan perawatan 24 jam. William pulih selama dua tahun, tetapi selama perawatan tidak ada peningkatan yang signifikan pada tubuhnya. Dia masih kesakitan, tiba-tiba kesulitan bernapas, masih menggunakan kateter, harus terus mengontrol rumah sakit dan harus ditemani selama 24 jam, karena tanpa pendamping William berusaha melukai dirinya sendiri. Tanggungan William membuatnya semakin sakit secara fisik dan mental. Will berkata, "Hidupku tidak akan membaik secara signifikan hanya dengan berkendara di jalanjalan pedesaan Storfold". Perawat pribadi William berkata jika pemulihan dan pemeriksaan rutin yang dilakukannya sejauh ini hanya untuk mencoba menjaga kondisi fisiknya tetap stabil, menjaga fungsi organ William agar tetap normal, dan mempertahankan gerakan apa pun yang dimilikinya saat ini. Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 Tahun pertama William menjalani perawatan ia sangat bersemangat untuk sembuh dan bertekad untuk kembali ke kondisi normal, namun mengetahui kenyataan kondisinya yang tidak ada perbaikan William merasa semua usahanya sia-sia. Nathan menjelaskan kepada Louisa mengenai kondisi William dan kecilnya kemungkinan William untuk bisa sembuh dari lumpuh karena kondisinya yang hampir lumpuh seperti orang yang terkena stroke total, padahal bagi seorang penderita stroke dengan latihan rutin bisa saja perlahan kembali ke kondisi yang lebih baik atau kembali Berdasarkan penjelasan Nathan, berbeda dengan kondisi William pasca kecelakaan yang menyebabkan cedera tulang belakang, kondisi tersebut membuatnya tidak bisa berjalan atau kembali normal karena tidak ada dokter yang bisa menyembuhkannya. Masalah Mental Masalah mental William disebabkan oleh ketidaktahuan orang lain terhadap apa yang dialami William selama 2 tahun yaitu rasa takut dan sakit, hal tersebut menyebabkan William berpikir tidak ada yang dapat ia lakukan karena hidupnya selalu berkutat dengan penyakit dan pemeriksaan rutin ke dokter, hal tersebut membuatnya putus asa untuk pulih ke kondisi normal. William mulai menerima bahwa kondisi terburuk yang dialaminya saat ini bisa jadi lebih buruk dari yang dibayangkannya, ia menyadari bahwa hidupnya akan terus seperti itu namun rasa takut akan kemungkinan buruk yang dapat terjadi kapan saja Perasaan takut dan sakit sepanjang waktu tanpa ada seorang pun yang dapat mendengarkan atau berbagi, membuat William tidak ingin pulih dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya untuk mengakhiri penderitaannya. Kapan pun dan di mana pun. William bisa tiba-tiba jatuh sakit. Ketika William pergi keluar bersama Louisa. William tiba-tiba jatuh sakit dan harus dilarikan ke Rumah Sakit. Penyakit William termasuk penyakit yang cukup menakutkan karena rasa sakit yang luar biasa yang disebabkan oleh kateter yang tidak kosong. Kondisi ini sangat mengganggu dan membuat William sangat lemah. William merasa frustasi dengan kondisi kesehatannya karena tidak ada kemajuan, sehingga ia ingin segera mengakhiri kondisinya yang menyedihkan itu. Setiap terbangun dari tidurnya William berharap semuanya telah berakhir. Keputusan William sudah bulat. Louisa harus menerima keputusan William yang lebih memilih untuk meneruskan keinginannya untuk mengakhiri hidupnya di Swiss, karena William tahu tidak ada kesempatan baginya untuk kembali menjadi orang normal secara fisik dan mental seperti Salah satu faktor pemicu William mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri adalah masalah kesehatan yang dialaminya selama dua tahun terakhir. William Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 menganggap segala upaya yang dilakukan untuk memulihkan kondisinya terasa sia-sia karena tidak ada kemajuan. Kondisi William sangat mengejutkannya karena tidak ada kemajuan yang berarti dari tubuhnya, hal itu menimbulkan penyakit mental baru akibat depresi yang berkepanjangan. Depresi yang dialaminya muncul dari pikirannya, ia menganggap perjuangannya hanya sia-sia, oleh karena itu masalah kesehatan ini menjadi salah satu alasan kuat William untuk bunuh diri. Hidup Bergantung Kemandirian merupakan modal dasar manusia dalam melakukan segala aktivitas yang disukai, diinginkan dan kegiatan sehari-hari. Kemandirian membuat setiap orang bebas menentukan berbagai hal yang penting dalam kehidupan pribadi dan sosial, karena ketika seseorang bergantung pada orang lain membuatnya tertekan oleh kemauan, keinginan dan harapan orang lain. Ketergantungan William karena kondisinya pasca kecelakaan membuatnya merasa tidak berguna, hal itu membuat aktivitasnya terbatas karena diatur oleh protokol kesehatan yang membuatnya harus menerima bantuan orang lain dalam semua aktivitas William merasa hidupnya hanya untuk mengganggu orang lain karena William adalah seorang quadriplegia yang berarti dia tidak dapat hidup mandiri karena keterbatasannya. William membutuhkan perawatan dan pengawasan penuh selama 24 jam, dia membutuhkan orang lain setiap saat untuk menemani, mengawasi, menggendong dan membantunya melakukan hal-hal sederhana. Keengganan William terhadap kondisinya yang selalu bergantung pada orang lain, ia tunjukkan saat melihat foto perjalanannya, ia meminta Louisa untuk membuang foto tersebut karena mengingatkannya pada kehidupannya yang sempurna dan membuatnya sedih karena kondisinya saat ini yang tidak berdaya, tanpa seorang pun ia tidak akan bisa bangun dari tempat tidurnya. Camilla merasa hidupnya tidak adil, ia merasa iba dengan kondisi William yang selalu bergantung pada orang lain, saat William harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain. William membutuhkan Nathan untuk membantunya pindah dari rumah tambahan ke rumah utama. Louisa berusaha memberikan waktu pribadi bagi William agar merasa bebas saat William juga membutuhkan lebih banyak waktu untuk menikmati liburan agar ia merasa lebih mandiri dan memberikan waktu bagi Louisa dan Nathan untuk beristirahat dari tugas mereka menemani William. Dari beberapa data yang telah diuraikan di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa karena kondisinya hingga akhir hayatnya William Traynor akan selalu bergantung Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 kepada orang lain, hal tersebut menyebabkan dirinya tidak berguna dan kehilangan tujuan Gagal Move On dari Masa Lalu William selalu teringat masa lalunya yang menyenangkan, penuh dengan kegiatan yang produktif dan sesuai dengan cita-citanya. Aktif bekerja dan menekuni hobi sebelum kecelakaan membuat William sedih dan kacau mental. Ketidakmampuannya untuk melakukan berbagai kegiatan yang disukainya membuat William tidak bisa menerima keadaannya saat ini dan merindukan masa lalunya, sehingga membuatnya trauma dan semakin tertekan. Ketika Louisa melihat foto William. William mencoba menebak-nebak pikiran Louisa, bagi orang yang mengetahui masa lalu William dan membandingkannya dengan kondisi William saat ini, pasti kasihan dengan kondisi William. Camilla Traynor terkadang membandingkan kondisi William di masa lalu yang hidupnya sempurna sebelum kecelakaan dan kini ia tidak bisa berbuat apa-apa. William teringat kembali kenangannya saat pergi ke luar negeri. William menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Perancis dan menyarankan Louisa untuk mengunjunginya. Louisa menawarkan William untuk jalan-jalan bersama namun William menolaknya karena ia tidak ingin merusak kenangan indahnya dengan kondisinya yang mengenaskan. Bahkan Kenangan masa lalu selalu membayangi William dalam mimpinya, hal itu membuat William frustasi dan terkadang berteriak karena tidak sanggup lagi melakukan apa yang dicintainya. Tuntutan pikirannya untuk menjadi sempurna membuat William harus pasrah dengan kenyataan, ia harus menutup mimpinya dan kembali pada kehidupan normalnya, namun pada kenyataannya hal itu membuat William menjadi serakah dan menganggap apa yang dimilikinya tidak cukup untuk mempertahankan hidupnya, karena ia tidak William terus membandingkan kehidupan masa lalunya dengan kehidupan sekarang, hal itu membuatnya tidak bersyukur kepada Tuhan. William mengakui bahwa Louisa . erawat Willia. berhasil mengubah hidup William, ia juga menganggap itu bisa menjadi kehidupan yang sangat baik untuk melanjutkan hidupnya bersama Louisa yang mencintainya, tetapi itu bukanlah kehidupan yang William inginkan. Ia ingin mempersembahkan tubuh, pikiran, dan jiwanya sebagai pria yang sempurna di hadapan Louisa, itulah sebabnya ia tidak bisa lepas dari kehidupan masa lalunya. Masalah Keluarga Keluarga merupakan kelompok primer yang mengenalkan dan mengajarkan banyak hal terutama tentang pentingnya kehidupan. Keluarga memiliki beberapa fungsi penting, yaitu fungsi biologis, pemeliharaan, rumah, sosialisasi, ekonomi dan pendidikan. Keluarga juga memiliki peran penting dalam pembentukan karakter pribadi dan sosial. Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 seperti peran menanamkan nilai-nilai, sosial budaya, kasih sayang, perlindungan, reproduksi, sosialisasi, ekonomi, filantropi, motivasi, kebutuhan fisik dan emosional. William merasakan masalah dalam keluarganya menjadi salah satu faktor yang memperkuat tekadnya untuk bunuh diri. Ketika ibunya sama sekali tidak mengizinkan William untuk bunuh diri, tetapi ayahnya berubah pikiran dan mengizinkan William untuk mengakhiri hidupnya, hal itu bisa terjadi karena ada hubungan yang renggang antara ayah dan ibunya, karena ayah William memiliki wanita lain dalam hidupnya. Atau ketika saudara perempuannya tidak mengizinkan William untuk bunuh diri, tetapi dia tidak mau ikut serta dalam proses penyembuhan William itu menunjukkan adanya kontradiksi bahwa dia mencintai dan membencinya dalam waktu yang bersamaan. Bagi William, masalah keluarga menjadi salah satu alasan untuk bunuh diri, karena dengan mengakhiri hidupnya, hal tersebut dapat melepaskan mereka dari tanggung jawab dalam mengasuh William. Kehilangan Eksistensi Subjek eksistensi merupakan seseorang yang berusaha untuk mencapai eksistensinya secara total, karena eksistensi setiap orang menjadi sangat penting, terutama terkait dengan eksistensinya sebagai makhluk sosial. William merasakan berbagai kerugian dalam mencapai eksistensinya, terutama terkait dengan aktivitas Ketidakberdayaan William terlihat dalam pola pikir keluarga, tempat kerja dan teman-temannya karena rasa sakit yang dialaminya membuatnya tidak dapat menunjukkan eksistensinya, hal ini membuat William semakin bertekad untuk mengakhiri Perasaan tidak berguna, menyusahkan dan tergantung menjadi beban pikiran William karena ia merasa kehilangan eksistensinya sebagai manusia. Keterbatasan William membuat ia merasa seperti pecundang karena ia hanya akan menjadi parasit bagi setiap orang, terutama bagi keluarganya. Pada bagian 3 William mengemukakan permasalahannya adalah tentang adanya ketidakmampuannya dalam melakukan apapun. William benci ketidakmampuannya menjadi dirinya sendiri, sosok yang ia inginkan bersama Louisa adalah menjadi William yang benar-benar sempurna dalam segala hal. Ketidakmampuannya mengingatkan William bahwa keterbatasannya akan selalu menghantui William karena ia tidak bisa melakukan apa pun. William menggambarkan keinginannya untuk menjadi William yang sebenarnya. William di masa lalu. William dua tahun lalu. William yang secara fisik sempurna, memiliki impian besar, dapat melakukan banyak hal, menikmati hobinya, berhubungan dengan orang lain di luar keluarganya, menyalurkan hasrat seksual dan gairahnya sebagai seorang Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 William menolak kenyataan kondisinya saat ini, kondisi yang mendefinisikan Dari beberapa data yang telah dipaparkan diatas, dapat disimpulkan bahwa William sebagai manusia tidak memiliki eksistensi karena tidak mampu untuk hidup dan tidak memiliki harapan lagi, sehingga William tidak memiliki tujuan dalam melanjutkan hidupnya dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dinamika Konflik Berdasarkan kemampuan dan kelebihan tersebut, peneliti menemukan bahwa perkembangan konflik berkaitan dengan peran yang terjadi pada tokoh dengan berbagai hal, seperti: Personal Conflict. Inter Role Conflict, dan Intraceder Conflict. Sementara itu, peneliti menemukan bahwa berdasarkan novel, tokoh utama mengalami konflik perantara. Konflik perantara adalah ketika seseorang harus memenuhi harapan beberapa orang yang memiliki pandangan berbeda. William sebagai tokoh utama harus memenuhi harapan ibunya, ayahnya, saudara perempuannya, teman bayarannya, dan perawat pribadinya yang memiliki pandangan berbeda. Mereka ingin William tetap hidup tetapi William ingin mengakhiri hidupnya, sehingga mereka menyalahkan keinginan William sebagai Harapan seperti utopis bagi William untuk menghadapinya, karena datangnya dari sebagian orang yang memiliki pandangan berbeda, mereka berharap William terus berjuang dan tidak menyerah dengan hidupnya yang menyedihkan, sedangkan William ingin menuju martabat karena sudah bosan dengan campur tangan orang lain. William sudah lelah dengan hidupnya, ia muak dengan tuntutan orang-orang di sekitarnya karena mereka menuntutnya untuk bertahan hidup seolah-olah itu adalah jalan terbaik untuk William padahal itu bukan keinginannya. Tahapan Konflik Dinamika konflik yang dihadapi William Traynor sebagai tokoh utama mengalami banyak perkembangan, hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor baik faktor internal maupun eksternal. Salah satu faktor yang paling kuat, yaitu faktor internal dalam munculnya konflik internal dalam diri William disebabkan oleh perasaan tertekan sejak tragedi kecelakaan yang menimpanya dua tahun lalu. Menurut Simon Fisher . dinamika konflik merupakan perkembangan dari adanya konflik itu sendiri sebagai realitas sosial. Dinamika konflik memiliki beberapa tahapan yang menjelaskan proses perubahan konflik William Traynor yaitu prakonflik, konfrontasi, krisis atau klimaks dan pascakonflik. Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 Prakonflik Prakonflik merupakan masa yang terjadi ketika terjadi ketidaksesuaian tujuan antara dua pihak atau lebih, hingga menimbulkan pertentangan dan konflik. Dalam hal ini konflik disembunyikan dari pandangan umum, meskipun satu pihak atau lebih mungkin mengetahui adanya potensi konfrontasi. Mungkin terjadi hubungan yang menegangkan antara beberapa pihak untuk menghindari kontak satu sama lain (Fisher, 2001 : . Prakonflik yang terjadi dalam benak Williams bermula saat ia mengalami kecelakaan. Pasca kecelakaannya. William merasa kelelahan karena proses pemulihannya yang panjang tanpa ada perbaikan, hal itu membuat William putus asa dan ragu untuk bisa kembali ke kondisi normal. Will berkata. AoHidupku tidak akan membaik secara signifikan hanya dengan berkendara di jalan-jalan pedesaan StorfoldAo. Menurut Louisa. William merasa tertekan karena pandangan publik. Berita kecelakaannya menyebar ke seluruh negeri. Orang-orang menaruh simpati kepadanya atas kecelakaan itu, meskipun sebagian orang tidak menyampaikan belas kasihannya secara langsung kepada William, tetapi melalui tatapan orang-orang yang berpapasan dengannya. William mengerti di mana pun ia berada, ia akan selalu menjadi pusat perhatian saat ia harus mengunjungi tempat-tempat umum. Kecelakaannya membuat William tidak percaya diri dengan kondisinya yang terlihat menyedihkan. Seperti respon Katrina, adik Louisa saat mendengar kondisi Williams menyiratkan rasa jijik, iba dan kasihan terhadap pemuda berusia 35 tahun yang seharusnya menikmati kehidupan mewah hasil jerih payahnya sebagai pengusaha muda, tetapi ia malah terjebak dalam kondisi yang tidak diinginkan, tidak bisa berbuat apa-apa dan terpaksa duduk di kursi Prakonflik merupakan kondisi awal munculnya konflik, yaitu konflik yang disembunyikan dari pandangan umum. Prakonflik merupakan situasi yang tidak tepat antara dua pihak, karena pada tahap konflik ini kebutuhan kedua belah pihak tidak terpenuhi tetapi tidak menyadari adanya hubungan di antara mereka. Prakonflik yang terjadi pada William Traynor yang selama ini ia sembunyikan dapat berujung pada konfrontasi antara kedua belah pihak, yaitu antara William dengan orang-orang terdekatnya di lingkungannya. William tidak setuju dengan rencana ibunya dan hal tersebut menimbulkan konfrontasi kecil, hal ini terlihat ketika Camilla memperkenalkan Louisa Clark sebagai pengasuh baru William. Kesan pertama pertemuan William dan Louisa. William bertingkah aneh untuk mengejutkan Louisa dan membuat ibunya marah agar Louisa tidak merasa nyaman menjadi teman kencan Williams. Pada tahap ini, kondisi prakonflik menunjukkan adanya ketegangan di antara para tokoh dengan menghindari kontak satu sama lain, hal ini menjelaskan bahwa William dan ibunya tidak memiliki hubungan yang baik. Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 Kondisi sebelum konflik diperparah dengan munculnya ketegangan hubungan antara William dan ibunya. Camilla Traynor. Camilla menjauhi William karena sikapnya yang berlebihan di hadapan Louisa. Camilla menjauh beberapa langkah dari William dan tidak mengatakan beberapa hal secara langsung kepada William tetapi ia lebih suka berbicara dengan Louisa dan Nathan. Namun ketika William menyela pembicaraannya dengan mengatakan Aootakku belum lumpuhAo. Camilla menanggapinya dengan menjauh sambil berbicara dengan William dan menjaga jarak sekitar sepuluh langkah dari William. Konfrontasi Konfrontasi merupakan kondisi ketika konflik mulai terbuka, jika hanya satu pihak yang merasa ada masalah, mungkin para pendukung mulai melakukan tindakan dan konfrontasi, hingga muncul pertikaian dan kekerasan di beberapa pihak (Fisher, 2001 : . Konfrontasi merupakan suatu kondisi rumit yang mempertemukan kejadian-kejadian yang saling bertentangan antara individu, antara kelompok, antara individu dengan kelompok yang dihadapkan pada berbagai bentuk konflik, seperti adanya perbedaan pendapat, adanya perdebatan, adanya pertikaian, pertengkaran, adanya permusuhan, pertikaian yang membuat hubungan menjadi renggang (Sukardi, 2016 : . Konfrontasi dengan berbagai bentuk tersebut terjadi karena berbagai faktor, seperti faktor sosial, ekonomi, politik, budaya dan berbagai faktor lainnya dengan intensitas yang semakin meningkat dan pertentangan tersebut tidak dapat diterima secara bersama-sama karena masing-masing pihak memiliki pendapat, pemahaman dan pendirian yang subjektif terhadap kebenaran (Sukardi, 2001 : . Konflik yang mulai muncul ditunjukkan melalui konfrontasi yang terbuka. Hal tersebut berawal dari kepura-puraan William. Ia menyampaikan kepada ibunya bahwa keinginan terpendamnya adalah untuk berbuat baik. Georgina tampak tidak setuju dengan keinginan William sebagai solusi atas konflik internalnya, namun ketidaksetujuannya bukan karena ia akan kehilangan sosok seorang kakak melainkan lebih kepada hal lain. Kekhawatiran Georgina lebih kepada perasaan orang tuanya, pandangan publik, dan reputasi orang tuanya. Menurut Georgina, keputusan William tersebut merupakan keegoisan dirinya tanpa memikirkan dampaknya terhadap Krisis atau Klimaks Krisis atau Klimaks adalah ketika konflik meletus menjadi kekerasan yang dilakukan secara intensif dan melibatkan berbagai pihak (Fisher, 2001: . Klimaks menurut Fisher diartikan sebagai serangkaian konflik, yang di dalamnya merupakan puncak konflik dan merupakan bagian penting dari konteks dan substansi Klimaks merupakan eskalasi konflik, tingkatan-tingkatan konflik dengan titik Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 intensitas yang terus menanjak, meningkat, membesar dan merupakan puncak konflik (Sukardi, 2016: . Klimaks tidak lagi dikaitkan dengan dua kutub kepentingan sebagai konfrontasi, tetapi klimaks merupakan situasi peningkatan suatu konflik secara perlahan atau radikal, sehingga permasalahan yang terjadi tidak diminimalkan tetapi dimaksimalkan (Sukardi, 2016: . Klimaks juga berkaitan dengan kondisi tertentu sebagai puncak dari suatu permasalahan yang terus menerus diperdebatkan karena kedua belah pihak saling menjaga egosentrisme dan harga diri kelompok sebagai suatu hal yang harus dipertahankan sebagai suatu kebenaran untuk mempertahankan prinsip yang dianggapnya sebagai suatu kebaikan (Sukardi, 2016 : . Setelah konflik mulai terbuka, terlalu banyak konflik muncul di sekitar William dan membuatnya merasakan klimaks dari setiap konflik. William menceritakan kepada Louisa tentang kondisi keluarganya meskipun tidak ada kekerasan dalam konflik ini, tetapi itu menunjukkan bahwa mereka sengaja membuat konflik karena kebutuhan mereka. Ada beberapa tujuan seperti mereka membutuhkan sisi terang untuk membuat orang percaya bahwa mereka berada di posisi yang benar, sehingga mereka tidak akan pernah disalahkan oleh publik karena keputusan William dan mereka telah membujuk William untuk tetap hidup. Melihat kondisi William yang lumpuh total, yakni tidak dapat menggunakan kedua kakinya sama sekali, dan sangat terbatasnya penggunaan tangan dan lengan, yakni lumpuh total, membuat tindakan kekerasan tidak mungkin dilakukan dalam konflik yang Puncak konflik William terasa muncul dan pecah saat Louisa berusaha meyakinkan William untuk membatalkan keinginannya melakukan eutanasia di Swiss. Obrolan-obrolan penuh kekerasan yang seolah-olah hanya mementingkan ego masing-masing menunjukkan klimaks yang sesungguhnya. Louisa sebagai orang luar yang mendampingi William dan menjadi satu-satunya orang yang dipercaya dan nyaman untuk dibicarakan William tentang privasinya. Louisa berusaha mati-matian meyakinkan William tentang rencananya untuk hidup bersama. William ingin menampilkan dirinya sebagai William yang sebenarnya, pria berusia 35 tahun yang sempurna dengan karir dan tubuh yang sempurna, bukan William yang terjebak di kursi roda dan merasa tidak mampu menjadi pria sejati. William ingin mengakhiri penderitaannya, ia tidak ingin terus menerus merasakan sakit, atau terjebak di kursi roda atau bergantung pada orang lain, atau takut karena ia tahu kondisinya tidak akan membaik. Tidak ada yang dapat mengubah keputusan William, ia telah mengikuti permintaan orang tuanya dengan menerima dan menjalani perjanjian untuk bertahan hidup selama enam bulan. William berterima kasih kepada Louisa karena telah membuat kontrak enam bulannya terasa lebih berwarna. Ketika masalah William Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 mencapai klimaks, tidak ada seorang pun yang dapat membujuknya untuk mengubur keputusannya untuk bunuh diri di Swiss menggunakan teknik suntik mati atau euthanasia. Pasca Konflik Pasca Konflik merupakan situasi yang terjadi setelah konflik diselesaikan dengan cara mengakhiri berbagai konfrontasi, meredam situasi yang tegang, hingga situasi kembali normal dengan berbagai akibat akhir dari konflik itu sendiri (Fisher, 2001: . Pasca konflik merupakan serangkaian konflik menurut Simon Fisher yang memberikan penjelasan dan pengertian bahwa konflik setelah masa antiklimaks akan terus terjadi dengan intensitas yang berbeda-beda, bisa saja mereda, atau intensitasnya sedang dan konfliknya masih bersifat kontradiktif meskipun dapat diselesaikan dan akhirnya intensitasnya semakin tinggi dengan melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan dalam konflik yang terjadi (Sukardi, 2016: . Setelah kasus William menjadi konsumsi publik. Camilla Traynor sebagai salah satu anggota kehormatan JP (Justice of Peac. merasa malu setelah putranya meninggal karena bunuh diri. Camilla merasa tidak mampu menjadi panutan bagi Inggris dan Wales, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dan berpisah dari suaminya setelah kematian William. PENUTUP Pada tahapan konflik, dinamika konflik yang dihadapi William Traynor terbagi menjadi empat tahapan yaitu: Pra-Konflik. Konfrontasi. Klimaks dan Pasca-Konflik. Prakonflik dimulai ketika William mengalami kecelakaan, ia merasa kelelahan karena proses pemulihannya yang lama tanpa ada kemajuan, hal itu membuat William putus asa dan ragu untuk bisa kembali ke kondisi normal. Konfrontasi dimulai ketika William berbicara terus terang kepada ibunya tentang keinginannya untuk mengakhiri hidupnya karena tidak ada prospek untuk kesembuhannya. Hal itu membuat ibunya marah, tetapi ia tidak bisa menolak atau menerima Klimaks konflik William dirasakan muncul dan pecah ketika Louisa mencoba meyakinkan William untuk membatalkan keinginannya melakukan eutanasia di Swiss. Pasca-Konflik ditutup dengan kematian William dan beberapa fakta yang ditemukan oleh Crown Prosecution Service di balik keputusan William untuk mengakhiri Dalam tipe konflik, ada dua tipe konflik yang terjadi yaitu konflik Internal dan Eksternal. Konflik internal dalam diri William Traynor ditunjukkan dari berbagai ekspresi yang muncul akibat konflik berdasarkan dialog dalam novel, seperti ekspresi marah yang aneh, heran, jengkel, muram, pesimis dan senang. Konflik eksternal yang dihadapi William Traynor adalah konfliknya dengan orang-orang di sekitarnya seperti: Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 konflik yang terjadi antara William dengan ayahnya, ibunya, saudara perempuannya, perawat pribadinya, pendamping bayaran dan teman-teman dekatnya. Melihat kurangnya interaksi sosial antara William dengan keluarganya, rekan kerja, tetangga dan lingkungan menjadi salah satu faktor yang membuat William mempertimbangkan untuk bunuh diri, jenis bunuh diri yang dilakukan William Traynor tergolong bunuh diri egoistik, karena bunuh diri egoistik muncul karena integrasi sosial yang rendah. DAFTAR PUSTAKA