PENELITIAN ASLI EDUKASI PENCEGAHAN TUBERKULOSIS PADA ANAK SEKOLAH DASAR MELALUI METODE STORYTELLING: KISAH SI UCOK MENGUSIR SI TBC Vierto Irennius Girsang1. Laura Mariati Siregar1. Asima Sirait1. Yunita Purba1. Ramanda Aprilyani Br Tarigan1 Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan. Universitas Sari Mutiara Indonesia. Medan. Sumatera Utara, 20123. Indonesia Info Artikel Riwayat Artikel: Diterima: 13 Juni 2025 Direvisi: 18 Juni 2025 Diterima: 27 Juni 2025 Diterbitkan: 09 Juli 2025 Kata kunci: edukasi. storytelling, pencegahan. Penulis Korespondensi: Vierto Irennius Girsang Email: viertogirsang@gmail. Abstrak Latar belakang: Anak-anak termasuk kelompok rentan karena sistem imunnya yang belum berkembang sempurna. Paparan dari lingkungan tempat tinggal atau kontak erat dengan penderita TBC dewasa menjadi faktor utama penularan. Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa sekitar 10Ae15% dari total kasus TBC di Indonesia merupakan kasus pada anak, sebagian besar berasal dari transmisi di rumah atau sekolah. Tujuan: utama pengabdian masyarakat ini tujuan memberikan edukasi pencegahan TBC melalui metode storytelling berjudul AuPetualangan Si Ucok Mengusir Si TBCAy. Metode: pengabdian masyarakat ini adalah Kegiatan tuberkulosis dilaksanakan selama satu bulan pada Mei 2025. Hasil: pengabdian masyarakat ini diikuti oleh seluruh siswa kelas V dan VI, dengan total peserta sebanyak 95 anak. Kegiatan dilakukan di dalam kelas masing-masing untuk menjaga suasana pembelajaran yang kondusif. Cerita berjudul AuPetualangan Si Ucok Mengusir Si TBCAy disampaikan secara naratif, disertai media visual seperti gambar karakter dan poster ilustratif untuk membantu siswa memahami alur cerita dan pesan Kesimpulan: Kegiatan edukasi pencegahan tuberkulosis (TBC) melalui metode storytelling terbukti efektif meningkatkan pengetahuan siswa sekolah dasar tentang gejala, penularan, dan pencegahan TBC. Metode ini mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, meningkatkan keterlibatan siswa, serta didukung secara aktif oleh guru dan pihak sekolah. Jurnal ABDIMAS Mutiara (JAM) e-ISSN: 2722-7758 Vol. 06 No. 02 Juli, 2025 (P83-. Homepage: https://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JAM DOI: https://10. 51544/jam. Copyright A 2025 by the Authors. Published by Program Studi: Sistem Informasi Fakultas Sain dan Teknologi Informasi Universitas Sari Mutiara Indonesia. This is an open access article under the CC BY-SA Licence (Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International Licens. Pendahuluan Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian di Indonesia. Berdasarkan Global Tuberculosis Report. Indonesia menempati peringkat kedua dengan jumlah kasus TBC terbanyak di dunia, setelah India. Pada tahun 2023, diperkirakan terdapat lebih dari 800. 000 kasus TBC di Indonesia, dengan peningkatan signifikan pada kelompok anak dan remaja . Anak-anak termasuk kelompok rentan karena sistem imunnya yang belum berkembang Paparan dari lingkungan tempat tinggal atau kontak erat dengan penderita TBC dewasa menjadi faktor utama penularan. Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa sekitar 10Ae15% dari total kasus TBC di Indonesia merupakan kasus pada anak, sebagian besar berasal dari transmisi di rumah atau sekolah . Diagnosis TBC pada anak lebih sulit dibandingkan orang dewasa karena gejala klinisnya tidak spesifik dan anak-anak sering tidak dapat menghasilkan sputum . untuk pemeriksaan laboratorium. Hal ini menyebabkan banyak kasus yang tidak terdiagnosis secara tepat waktu dan berisiko mengalami komplikasi serius . Pemerintah telah menetapkan target eliminasi TBC pada tahun 2030 melalui Peraturan Presiden No. 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis. Strategi yang diutamakan antara lain perluasan skrining aktif, pelacakan kontak erat, serta edukasi kesehatan masyarakat secara massif, termasuk kepada anak-anak usia sekolah dasar . Dalam konteks ini, sekolah menjadi lingkungan strategis untuk intervensi edukatif. Anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah, dan pembelajaran tentang kesehatan dapat dibawakan dengan pendekatan yang sesuai dengan usia dan tingkat pemahaman mereka. Pedoman "Sekolah Peduli TBC" yang diterbitkan oleh Kemenkes dan Kemendikbud mendorong keterlibatan aktif sekolah dalam upaya promotif dan preventif TBC . Edukasi kesehatan pada anak SD perlu menggunakan pendekatan yang kreatif dan menyenangkan agar mudah dipahami dan diingat. Salah satu pendekatan yang terbukti efektif adalah metode storytelling, yaitu penyampaian pesan kesehatan melalui cerita yang disesuaikan dengan dunia anak-anak. Cerita dengan karakter yang menarik dan konflik yang relevan dapat menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat secara lebih mendalam . Sebuah studi yang dilakukan oleh Penyami dan rekan . menunjukkan bahwa intervensi edukasi tentang TBC melalui media sederhana di sekolah dasar mampu meningkatkan pengetahuan anak-anak tentang gejala, penularan, dan pencegahan TBC secara signifikan. Selain itu, edukasi ini juga membantu mengurangi stigma terhadap teman yang menderita TBC, yang selama ini menjadi tantangan besar dalam pengobatan . Kementerian Kesehatan sendiri telah mengembangkan media edukasi berbasis cerita, seperti buku AuHore. Tibi Sembuh!Ay, sebagai sarana mengenalkan bahaya TBC dan langkah pencegahannya secara ringan dan mudah dicerna. Metode ini efektif karena anak dapat mengenali diri mereka dalam tokoh cerita dan belajar dari pengalaman tokoh tersebut . Namun, penerapan metode storytelling di sekolah-sekolah masih terbatas dan belum menjadi bagian dari strategi edukasi rutin di lingkungan sekolah dasar. Diperlukan kegiatan pengabdian masyarakat yang mengintegrasikan media cerita dengan pendekatan langsung kepada siswa, didukung oleh guru dan petugas kesehatan sekolah agar pesan kesehatan dapat tersampaikan secara komprehensif dan berkelanjutan. Berdasarkan latar belakang tersebut, kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan memberikan edukasi pencegahan TBC melalui metode storytelling berjudul AuPetualangan Si Ucok Mengusir Si TBCAy. Melalui cerita interaktif ini, siswa diharapkan dapat memahami gejala awal TBC, cara penularan, serta langkah-langkah pencegahan dasar yang dapat mereka lakukan di lingkungan rumah dan sekolah. Edukasi ini juga diharapkan menumbuhkan sikap empati terhadap penderita TBC dan mendukung terciptanya sekolah yang peduli terhadap kesehatan paru-paru. Metode Kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan metode storytelling sebagai pendekatan edukatif untuk meningkatkan pemahaman siswa sekolah dasar mengenai pencegahan penyakit tuberkulosis (TBC). Sasaran kegiatan ini adalah siswa kelas V dan VI di salah satu Sekolah Dasar Negeri, dengan jumlah peserta sebanyak 95 siswa . siswa kelas V dan 53 siswa kelas VI). Metode storytelling dipilih karena sesuai dengan karakteristik anak usia sekolah dasar yang cenderung lebih responsif terhadap pembelajaran melalui cerita, terutama yang mengandung tokoh, konflik, dan nilai-nilai Cerita yang digunakan dalam kegiatan ini berjudul AuPetualangan Si Ucok Mengusir Si TBCAy, yang dikembangkan secara khusus untuk menggambarkan gejala, cara penularan, dan langkah-langkah pencegahan TBC dalam bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Proses pelaksanaan pengabdian berlangsung selama satu bulan, yaitu pada bulan Mei Kegiatan dimulai dengan pengurusan izin resmi ke pihak sekolah dan koordinasi dengan guru wali kelas. Selanjutnya dilakukan perencanaan materi edukasi, penyiapan media visual pendukung cerita, serta simulasi penyampaian cerita secara interaktif. Tahap pelaksanaan terdiri dari penyampaian cerita di dalam kelas, diskusi bersama siswa, serta penyisipan aktivitas reflektif seperti tanya jawab dan kuis ringan. Setelah kegiatan edukasi berlangsung, dilakukan evaluasi melalui pre-test dan post-test sederhana untuk mengukur peningkatan pengetahuan siswa. Evaluasi juga mencakup observasi terhadap keterlibatan siswa dalam diskusi dan kemampuan mereka mengulang kembali pesan utama cerita. Hasil evaluasi menjadi dasar untuk menilai efektivitas metode storytelling sebagai media edukasi kesehatan tentang TBC. Hasil Kegiatan edukasi pencegahan tuberkulosis (TBC) melalui metode storytelling dilaksanakan selama satu hari di bulan Mei 2025 dan diikuti oleh seluruh siswa kelas V dan VI, dengan total peserta sebanyak 95 anak. Kegiatan dilakukan di dalam kelas masing-masing untuk menjaga suasana pembelajaran yang kondusif. Cerita berjudul AuPetualangan Si Ucok Mengusir Si TBCAy disampaikan secara naratif, disertai media visual seperti gambar karakter dan poster ilustratif untuk membantu siswa memahami alur cerita dan pesan kesehatan yang disampaikan. Selama kegiatan berlangsung, siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka menyimak dengan serius, tertawa, dan bereaksi terhadap jalannya cerita, terutama saat karakter utama menghadapi konflik atau ketika si TBC digambarkan sebagai sosok yang harus dihindari. Ketika sesi tanya jawab dibuka, banyak siswa yang dengan percaya diri mengangkat tangan untuk menjawab atau bertanya. Hal ini menunjukkan keterlibatan aktif mereka dalam memahami isi cerita dan kaitannya dengan kesehatan mereka seharihari. Bahkan, beberapa siswa secara sukarela maju ke depan untuk menceritakan ulang kisah Si Ucok dengan versi mereka sendiri. Gambar 1. Pelaksanaan Pengabdian Masyarakat oleh Tim Didampingi Guru Dukungan dari pihak sekolah sangat positif. Guru kelas turut serta dalam kegiatan dengan membantu menjaga ketertiban siswa, membagi kelompok saat diskusi, dan ikut memberikan penguatan terhadap pesan edukasi yang disampaikan. Kehadiran guru tidak hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai fasilitator yang ikut memotivasi siswa agar memahami pentingnya menjaga kesehatan pernapasan dan menghindari kebiasaan buruk seperti tidak menutup mulut saat batuk. Pihak sekolah juga menyampaikan bahwa metode seperti ini sangat relevan untuk memperkuat program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Gambar 2. Kegiatan pengabdian Masyarakat dengan Metode Storytelling Sebagai bagian dari evaluasi, siswa mengerjakan pre-test dan post-test sederhana berisi 10 soal pilihan ganda. Hasil pre-test menunjukkan bahwa hanya sekitar 31% siswa yang menjawab lebih dari 60% soal dengan benar, menandakan bahwa pengetahuan dasar mereka tentang TBC masih terbatas. Setelah sesi storytelling, hasil post-test menunjukkan peningkatan yang signifikan, dengan 83% siswa menjawab lebih dari 70% soal dengan benar. Selain itu, saat sesi diskusi akhir, sebagian besar siswa mampu menyebutkan tiga hingga lima langkah pencegahan TBC secara mandiri, seperti menutup mulut saat batuk, menjaga kebersihan rumah, dan berobat ke puskesmas jika batuk tidak sembuh. Gambar 3. Kegiatan Pengabdian Masyarakat dengan Metode Storytelling Dilakukkan Di Luar Kelas. Secara umum, kegiatan ini berjalan dengan lancar dan menunjukkan bahwa metode storytelling sangat efektif dalam menyampaikan pesan kesehatan pada anak sekolah Selain meningkatkan pengetahuan, metode ini juga menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan membangun kedekatan antara fasilitator, guru, dan siswa. Kegiatan ini juga membuka ruang untuk kolaborasi antara sekolah dan tenaga kesehatan dalam menyusun program edukasi serupa yang lebih berkelanjutan di masa depan. Pembahasan Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan storytelling merupakan metode edukatif yang efektif dan menarik bagi siswa sekolah dasar dalam memahami isu kesehatan, khususnya pencegahan tuberkulosis (TBC). Keterlibatan siswa yang tinggi selama sesi cerita dan diskusi menandakan bahwa metode ini sesuai dengan karakteristik perkembangan kognitif dan emosional anak usia 10Ae12 tahun. Storytelling mampu menjembatani pesan-pesan kesehatan yang kompleks menjadi sesuatu yang konkret, akrab, dan mudah dipahami melalui alur cerita dan tokoh yang mereka sukai . Peningkatan hasil post-test dibandingkan pre-test menunjukkan bahwa storytelling bukan hanya menarik secara emosional, tetapi juga mampu meningkatkan pengetahuan siswa secara signifikan. Hal ini sejalan dengan temuan dalam penelitian oleh Sabneno et yang menyatakan bahwa penggunaan cerita dan media visual dalam edukasi kesehatan dapat meningkatkan retensi informasi serta mengubah persepsi siswa terhadap isu kesehatan tertentu, termasuk pengurangan stigma terhadap penderita TBC . Penguatan informasi melalui metode naratif terbukti mampu memicu pemahaman jangka panjang dan keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar . Dukungan guru dalam proses edukasi juga menjadi faktor penting keberhasilan kegiatan Guru yang terlibat aktif mampu memperkuat pesan-pesan utama yang disampaikan melalui cerita, baik dengan menjelaskan kembali isi cerita, maupun memberikan contoh nyata di kehidupan sekolah sehari-hari. Peran guru sebagai model dan penguat informasi sangat penting dalam membentuk kebiasaan positif siswa, seperti etika batuk dan menjaga kebersihan lingkungan kelas. Hal ini sesuai dengan pendekatan sekolah sebagai agen promosi kesehatan dalam Pedoman Sekolah Peduli TBC yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan . Dari sisi psikososial, metode ini juga berkontribusi pada pembentukan sikap empati siswa terhadap teman yang sakit. Dengan menampilkan karakter TBC sebagai tokoh antagonis yang harus dihadapi bersama, siswa tidak diarahkan untuk menyalahkan individu yang sakit, melainkan fokus pada perilaku pencegahan. Ini penting dalam membentuk lingkungan sekolah yang tidak diskriminatif terhadap penderita penyakit menular dan mendukung proses pemulihan mereka secara sosial. Buku cerita Hore. Tibi Sembuh! juga mengusung pendekatan serupa dengan hasil yang positif dalam menurunkan stigma di kalangan anak dan keluarga . Secara keseluruhan, hasil kegiatan ini memperkuat gagasan bahwa edukasi kesehatan berbasis pendekatan naratif dapat menjadi bagian integral dari program UKS dan promosi kesehatan di sekolah dasar. Selain mudah diterima siswa, metode ini juga mendorong interaksi dua arah antara fasilitator, guru, dan murid. Oleh karena itu, storytelling dapat direkomendasikan sebagai metode alternatif dalam pelaksanaan edukasi pencegahan penyakit di lingkungan sekolah, khususnya yang berkaitan dengan penyakit menular seperti TBC . Kesimpulan Kegiatan edukasi pencegahan tuberkulosis (TBC) melalui metode storytelling terbukti efektif meningkatkan pengetahuan siswa sekolah dasar tentang gejala, penularan, dan pencegahan TBC. Metode ini mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, meningkatkan keterlibatan siswa, serta didukung secara aktif oleh guru dan pihak sekolah. Storytelling dapat dijadikan strategi edukasi alternatif yang relevan untuk diterapkan dalam program promosi kesehatan di lingkungan sekolah dasar. Ucapan Terimakasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang membantu dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat. Referensi