KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 124-136 Kepemimpinan Inovatif dan Implikasinya terhadap Pencapaian SDGs Ekonomi Berkelanjutan: Studi Langkah Strategik Ekonomi Kreatif Era Presiden Joko Widodo Muhammad Alfarizi1* dan Rafialdo Arifian2 1 Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya. Jawa Timur. Indonesia 2 Universitas Sangga Buana YPKP. Bandung. Jawa Barat. Indonesia * Correspondence: 6031241004@student. Article Info Abstract Article history: Submitted : 07-01-2025 Accepted : 11-04-2025 Published : 19-04-2025 The 2030 Agenda for Sustainable Development aims to promote sustainable development through seventeen Sustainable Development Goals (SDG. In response to global economic dynamics. Indonesia has developed the creative economy as a key pillar of development, with subsectors such as culinary, fashion, and crafts making significant contributions to GDP. Under the leadership of President Joko Widodo, this sector has been prioritized through innovation, digitalization, and the strengthening of MSMEs. This study aims to analyze the impact of innovative leadership determinants on the economic performance of the SDGs, utilizing a quantitative approach with primary data collected via a 5-point Likert questionnaire from 200 MSME actors within the creative economy subsector during the period of SeptemberAeOctober The analysis is conducted using a PLS-SEM model with the assistance of SmartPLS 4 software. The findings indicate that leadership styles such as empowerment, inspirational learning, transformational, and resilient visionary leadership have a positive influence on the economic SDG performance, with a significant moderating role of democratic culture on certain leadership dimensions. This study recommends that the next national leaders continue the empowerment strategy for MSMEs through innovative, digital-based policies, enhance public participation, and foster synergy among stakeholders to accelerate the achievement of sustainable economic SDGs. Keywords: Creative Economy. Democratic Culture. Empowerment Leadership. Sustainable Development Goals (SDG. Transformational Leadership Copyright & License: How to cite this article: Alfarizi M. , &. Arifian R. , . Kepemimpinan Inovatif dan Implikasinya terhadap Pencapaian SDGs Ekonomi Berkelanjutan: Studi Langkah Strategik Ekonomi Kreatif Era Presiden Joko Widodo. KAMBOTI: Jurnal Sosial Humaniora. https://doi. org/10. 51135/kambotivol5issue2p PENDAHULUAN Mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang tercantum dalam dokumen kebijakan "Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development," yang disahkan pada 1 Januari 2016, bertujuan untuk mentransformasi dunia melalui implementasi yang hati-hati dari tujuh belas Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. di tingkat negara. Tujuan utama dari mandat ini adalah mendorong negara-negara untuk bersatu dan merumuskan strategi bagi praktik industri yang berkelanjutan serta menciptakan kondisi kehidupan yang layak (Miola & Schiltz, 2. Seiring dengan perubahan struktur ekonomi global, paradigma pembangunan berkelanjutan juga perlu mengalami perkembangan. Perspektif ekonomi berkelanjutan kini lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan manusia secara langsung, sembari mempertimbangkan dampak lingkungan dan ekologi dari pembangunan (Morell. Espelt, & Cano, 2. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 124-136 Perkembangan ekonomi kreatif menjadi isu yang sangat penting dalam konteks pembangunan berkelanjutan, karena PBB telah mengakui peran strategis industri kreatif dalam pencapaian SDGs (Voitko. Sektor-sektor seperti kuliner, budaya, desain, dan hiburan, yang merupakan elemen-elemen tidak berwujud, memainkan peran yang sangat penting (Prajanti. Daud. Amin, & Adzim, 2. Dalam beberapa dekade terakhir, kebutuhan masyarakat, terutama di negara maju dan kalangan berpenghasilan menengah, mengalami perubahan signifikan (Raza. Ali. Tursoy. Seraj, & Habeeb, 2. Kebutuhan yang lebih tinggi ini kemudian dipenuhi melalui berbagai produk dan layanan yang ditawarkan oleh industri kreatif. Perkembangan industri seperti periklanan, seni, permainan, seni visual, dan film menjadikan sektor ini sebagai fokus penting dalam studi ekonomi, termasuk dalam pengembangan ekonomi regional (Boa & Topcu, 2020. Budhisulistyawati. Budi Kharisma, & Ciptorukmi Nugraheni, 2020. Fahmi. McCann, & Koster. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan adanya hubungan positif antara perkembangan ekonomi kreatif dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Misalnya, studi oleh FazlagiN & Skikiewicz, . menyoroti peran penting inovasi kreatif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, sementara Ramli. Mayana, dan Santika, . menunjukkan kontribusi sektor kreatif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di tingkat lokal. Namun, hingga saat ini, masih sedikit penelitian regional yang secara khusus mengkaji hubungan antara ekonomi kreatif dan pembangunan berkelanjutan (FazlagiN & Skikiewicz, 2019. Ramli. Mayana, & Santika, 2. Di Indonesia, sektor ekonomi kreatif telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi salah satu pilar penting dalam perekonomian nasional. Berbagai subsektor seperti kuliner, fashion, film, musik, dan seni rupa terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Berdasarkan data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekra. , pada tahun 2024 sektor ekonomi kreatif di Indonesia diperkirakan akan menyumbang sekitar 7% dari total PDB nasional, dengan nilai tambah mencapai Rp1. 347 triliun dan tingkat pertumbuhan sebesar 5,76%. Hingga triwulan I 2024, capaian nilai tambah telah mencapai Rp749,58 triliun atau 55,65% dari target tahunan. Subsektor utama yang mendorong pertumbuhan ini meliputi kuliner, fesyen, dan kerajinan tangan (Aziz. Roziqin. Loilatu. Sulistyaningsih, & Hijri, 2. Indonesia memiliki potensi besar di sektor ekonomi kreatif, berkat jumlah penduduk yang besar dan budaya yang kaya. Namun demikian, pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan akses pembiayaan, infrastruktur yang kurang memadai, rendahnya tingkat inovasi, serta ketidakmerataan dukungan kebijakan daerah. Masalah-masalah ini menghambat kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap pembangunan berkelanjutan, sehingga perlu dilakukan kajian lebih lanjut untuk merumuskan strategi yang sejalan dengan SDGs, terutama dalam hal pemerataan pembangunan, penciptaan lapangan kerja, dan pelestarian budaya lokal. Pemerintah Indonesia telah mengambil langkahlangkah strategis untuk mengembangkan sektor ini, antara lain dengan mengeluarkan Peraturan Presiden No. 6 tahun 2018 tentang Pembiayaan untuk Pengusaha Industri Kreatif (Fahmi. McCann, & Koster, 2017. Selain itu, pemerintah juga mendorong pengembangan ekonomi kreatif melalui kebijakan yang mendukung inovasi, digitalisasi, serta perlindungan kekayaan intelektual. Inisiatif seperti "Indonesia Kreatif" dan "Indonesian Creative Cities Network" bertujuan untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di seluruh Indonesia (Rosyadi. Kusuma. Fitrah. Zayzda, & Pimoljinda, 2. Di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia mengalami lonjakan yang signifikan. Presiden Jokowi menekankan pentingnya sektor ini sebagai salah satu pilar utama perekonomian nasional, dengan fokus pada inovasi, kreativitas, dan digitalisasi. Pada tahun 2015, pemerintah membentuk Badan Ekonomi Kreatif (Bekra. untuk mengelola potensi besar subsektor-sektor seperti seni, musik, kuliner, film, dan fesyen (Harikesa, 2. Selain itu. Jokowi juga mendorong kolaborasi dengan platform digital serta memberikan dukungan kepada pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) agar mereka dapat beradaptasi dengan era industri 4. 0 (Ghufron & Rahmadtullah, 2. Ambisi Jokowi terlihat dalam target untuk menjadikan ekonomi kreatif sebagai salah satu sumber devisa terbesar, dengan meningkatkan nilai ekspor produk-produk kreatif (Astuti & Fathun, 2. Ia juga menekankan pentingnya kreativitas lokal dalam mendukung pariwisata dan budaya. Upaya Presiden Jokowi dalam mendorong ekonomi kreatif sangat erat kaitannya dengan kepemimpinan inovatif. Jokowi menunjukkan visi kepemimpinan yang berani dalam menghadapi tantangan globalisasi dan digitalisasi, dengan mengintegrasikan inovasi dalam sektor ekonomi. https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 124-136 Kepemimpinan inovatif adalah pendekatan yang mendorong kreativitas dan inovasi dalam organisasi (Viktora, 2. Menurut Senge, . , pemimpin inovatif adalah mereka yang dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran dan kolaborasi, sehingga anggota tim merasa dihargai untuk menyampaikan ide-ide baru (Senge, 1. Teori kepemimpinan inovatif menekankan pentingnya kreativitas, adaptabilitas, dan kolaborasi dalam memimpin organisasi (Johannessen & Skaalsvik, 2. Pemimpin inovatif berperan dalam menciptakan lingkungan yang mendorong pemikiran baru dan mendorong tim untuk mengeksplorasi ide-ide yang belum teruji. Menurut Karimi, et al. , . kepemimpinan inovatif melibatkan kemampuan untuk mengidentifikasi peluang dan memanfaatkan sumber daya secara efektif (Karimi. Ahmadi Malek. Yaghoubi Farani, & Liobikien, 2. Pemimpin semacam ini juga harus mampu mengelola perubahan dan menavigasi ketidakpastian baik di dalam maupun luar organisasi. Kepemimpinan inovatif sangat penting untuk pencapaian SDGs karena dapat mendorong kolaborasi antar sektor dan menciptakan solusi yang berkelanjutan (Aman-Ullah. Aziz. Mehmood. Vafin, & Hassan, 2. Dengan memfasilitasi inovasi dan pemikiran kreatif, pemimpin dapat mengatasi tantangan kompleks seperti perubahan iklim dan ketidaksetaraan sosial. Kepemimpinan inovatif menjadi fokus utama dalam berbagai studi terkini, khususnya dalam konteks organisasi dan sektor publik. Menurut Mutmainnah et al. , . , pemimpin yang mengadopsi pendekatan inovatif dapat meningkatkan kinerja tim dengan memfasilitasi kolaborasi dan kreativitas (Mutmainnah. Yuniarsih. Sojanah. Rahayu, & Nusannas, 2. Sementara itu, penelitian oleh Mamula, et al. , . menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional, yang mencakup elemen-elemen inovatif, dapat meningkatkan kepuasan kerja dan keterlibatan karyawan Mamula, et al. , . Lebih lanjut, penelitian oleh Erhan. Uzunbacak, & Aydin, . menekankan pentingnya budaya organisasi yang mendukung ideide baru sebagai bagian dari kepemimpinan inovatif (Erhan. Uzunbacak, & Aydin, 2. Dalam konteks sektor publik, kepemimpinan inovatif juga terkait dengan kemampuan untuk menghadapi perubahan dan tantangan yang kompleks (Nusair. Ababneh, & Bae, 2. Namun, masih terdapat celah besar dalam penelitian mengenai bagaimana pemimpin negara menggunakan kepemimpinan inovatif untuk mendorong pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. Kekosongan ini menandakan perlunya eksplorasi lebih lanjut mengenai bagaimana kebijakan inovatif dan strategi kepemimpinan dapat diimplementasikan di tingkat nasional untuk mencapai target-target SDGs. Studi ini bertujuan untuk menganalisis determinan kepemimpinan transformasional yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo dalam pengembangan ekonomi kreatif terhadap kinerja SDGs ekonomi Indonesia. Kontribusi teoritis dari studi ini diharapkan dapat memperkaya literatur mengenai kepemimpinan transformasional dan ekonomi kreatif, khususnya dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia. Secara praktis, temuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi strategis bagi para pemimpin dan pembuat kebijakan, terutama presiden berikutnya, untuk mengoptimalkan potensi ekonomi kreatif dalam mencapai SDGs serta menciptakan lingkungan yang mendukung inovasi dan kolaborasi di berbagai sektor. Delapan hipotesis untuk penelitian ini disajikan dalam model penelitian pada gambar berikut ini. Gambar 1. Model Penelitian https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 124-136 II. METODE Penelitian ini menggunakan metode survei kuantitatif, yang didefinisikan sebagai pengumpulan informasi dari sampel orang melalui tanggapan mereka terhadap pertanyaan-pertanyaan (Nardi, 2. Metode ini melibatkan pengumpulan dan analisis data kuantitatif untuk menguji hipotesis serta memahami dampak gaya kepemimpinan inovatif Presiden Joko Widodo terhadap SDGs Ekonomi. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner untuk menilai aspek kepemimpinan pemberdayaan . ima ite. (Khalili, 2017. Ogbari. Chima. Olarewaju. Arasomwan, & Nwunde, 2022. Viktora, 2022. Zhu. Yang. Yang, & Sosik, 2. , inspirasi pembelajar . ima ite. (Khalili, 2017. Ogbari. Chima. Olarewaju. Arasomwan, & Nwunde, 2022. Viktora, 2022. Zhu. Yang. Yang, & Sosik, 2. , kepemimpinan transformasional . ima ite. (Khalili. Ogbari et al. , 2022. Viktora, 2022. Zhu et al. , 2. , kepemimpinan visioner tangguh . ima ite. (Khalili, 2017. Ogbari et al. , 2022. Viktora, 2022. Zhu et al. , 2. , kinerja SDGs ekonomi . ujuh ite. (Barbiroli, 2011. Betz, 2013. Lorek & Spangenberg, 2. , dan kultur demokrasi . ima ite. (Lim. Im, & Lee, 2019. Muttakin. Rana, & Mihret, 2. Semua item tersebut diambil dari variabel-variabel yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Responden penelitian adalah pemilik UMKM di bidang kuliner, pakaian, dan kriya kerajinan dengan kriteria memiliki bisnis minimal tiga tahun dan aktif membayar pajak. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, dan penentuan sampel minimum dilakukan dengan aplikasi G*Power 3. menghasilkan sampel minimal sebanyak 89 responden, menggunakan model regresi linier dengan effect size 0,15 . , alpha error probability 0,05, dan power 0,8. Pengumpulan data dilakukan dengan distribusi kuesioner melalui Google Form, media sosial, serta kunjungan lapangan oleh peneliti ke lokasi Pengumpulan data berlangsung dari September hingga Oktober 2024. Penelitian ini menggunakan teknik analisis Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan SmartPLS versi 4, karena kemampuannya dalam menangani model struktural kompleks dan cocok untuk ukuran sampel kecil hingga sedang (J F Hair et al. , 2. Proses analisis dimulai dengan evaluasi model pengukuran . uter mode. untuk memeriksa validitas dan reliabilitas indikator-indikator pada variabel laten, yang mencakup analisis convergent validity dan discriminant validity (Joseph F Hair. Risher. Sarstedt, & Ringle, 2. Selanjutnya, model struktural . nner mode. dievaluasi untuk melihat hubungan antar variabel laten, termasuk kekuatan jalur . ath coefficient. dan nilai R-squared, yang menggambarkan seberapa besar variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen (J. Hair. Hollingsworth. Randolph, & Chong, 2. Dengan metode bootstrap 10. 000 subsampel. SmartPLS 4 memungkinkan peneliti untuk menguji signifikansi statistik dari jalur dalam model dengan hasil yang lebih akurat dan i. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Karakteristik Responden Studi ini berhasil memperoleh 200 responden pemilik UMKM kreatif di Indonesia melalui penyebaran kuisioner hibrida. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah perempuan, dengan mayoritas berada pada kelompok usia 31-40 tahun, diikuti oleh usia 20-30 tahun, dan beberapa lainnya berusia lebih dari 50 tahun. Responden sebagian besar berasal dari Pulau Jawa, meskipun terdapat juga yang berasal dari Sumatera. Bali-Nusa Tenggara. Kalimantan. Sulawesi, serta Maluku-Papua. Dalam hal pendidikan, sebagian besar responden memiliki pendidikan Sarjana atau Diploma, diikuti oleh yang berpendidikan SMA, dan sebagian lainnya memiliki gelar pascasarjana. Sebagian besar responden menjalankan bisnis di sektor kuliner . %), diikuti oleh kriya . %) dan busana . %). Usaha mereka mayoritas telah beroperasi antara 5 hingga 7 tahun . %), dan pendapatan bulanan terbesar berkisar antara 3 hingga 6 juta rupiah . %), dengan sebagian kecil memperoleh pendapatan lebih dari 10 juta rupiah per bulan . %). Temuan ini mencerminkan bahwa UMKM kreatif di Indonesia banyak dijalankan oleh perempuan dengan usia produktif dan pendidikan yang relatif tinggi, serta terfokus pada sektor kuliner. https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 124-136 Pengujian Validitas dan Reliabilitas Tahap awal analisis PLS-SEM difokuskan pada evaluasi validitas dan reliabilitas konstruk laten reflektif. Validitas diuji menggunakan dua kriteria utama: Loading Factor dan Average Variance Extracted (AVE). Loading factor diharapkan memiliki nilai minimum 0. 7, sementara AVE harus memiliki nilai minimum 0. sesuai dengan pedoman dalam literatur sebelumnya (Joseph F Hair et al. , 2. Sementara itu, reliabilitas diuji menggunakan dua metode, yaitu Cronbach Alpha (CA) dan Composite Reliability (CR), dengan ambang batas minimum 0. 7 (Afthanorhan. Awang, & Aimran, 2. Hasil pengujian validitas dan reliabilitas konstruk laten reflektif menunjukkan temuan yang memadai. Dari segi validitas, sebagian besar outer loadings variabel berada di atas nilai minimum 0. 7, meskipun beberapa indikator berada mendekati batas tersebut, namun tetap dianggap valid. Semua variabel memiliki nilai AVE di atas 0. 5, yang menunjukkan bahwa konstruk tersebut mampu menjelaskan lebih dari setengah varians dari indikator-indikatornya. Dalam hal reliabilitas, hasil pengujian CA dan CR menunjukkan nilai yang melebihi ambang batas 0. 7, mengindikasikan bahwa semua konstruk memiliki konsistensi internal yang Konstruk yang menunjukkan performa terbaik adalah "Kultur Demokrasi" dan "Kinerja SDGs Ekonomi Indonesia", yang mencatat nilai CA dan CR yang sangat tinggi, menguatkan reliabilitasnya. Secara keseluruhan, hasil analisis ini mendukung validitas dan reliabilitas model PLS-SEM yang digunakan dalam penelitian ini. Tabel 1. Hasil Pengujian Validitas dan Reliabilitas Variabel Outer Loadings AVE Kepemimpinan Pemberdayaan . item pernyataa. Inspirasi Pembelajar . item pernyataa. Kepemimpinan Transformasional . item pernyataa. Kepemimpinan Visioner Tangguh . item pernyataa. Kultur Demokrasi . item pernyataa. Kinerja SDGs Ekonomi Indonesia . item pernyataa. 713 Ae 0. 723 Ae 0. 713 Ae 0. 799 Ae 0. 811 Ae 0. 797 Ae 0. Pengujian Hipotesis Proses pengujian model struktural dilakukan dengan menggunakan prosedur bootstrapping dengan resampling sebanyak 5. 000 kali, sesuai dengan rekomendasi dalam penelitian sebelumnya (Streukens & Leroi-Werelds, 2. Berdasarkan pedoman yang diberikan oleh Hair et al. , jalur hipotesis yang memiliki nilai path coefficient lebih dari 0,1 dan t-value di atas 1,96 dianggap signifikan (J F Hair et al. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa semua hubungan antara variabel independen dan Kinerja SDGs Ekonomi Indonesia adalah signifikan. Kepemimpinan Pemberdayaan. Inspirasi Pembelajar. Kepemimpinan Transformasional, dan Kepemimpinan Visioner Tangguh semuanya memiliki koefisien jalur positif dengan nilai t-test yang lebih besar dari 1,96, serta p-value di bawah 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa keempat faktor tersebut berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja SDGs ekonomi Indonesia. Kepemimpinan Visioner Tangguh memiliki pengaruh paling kuat, diikuti oleh Inspirasi Pembelajar. Kepemimpinan Pemberdayaan, dan Kepemimpinan Transformasional. Pengujian hipotesis moderasi mengungkapkan bahwa Kultur Demokrasi memoderasi secara signifikan hubungan antara Kepemimpinan Pemberdayaan dan Kinerja SDGs Ekonomi Indonesia, serta hubungan antara Kepemimpinan Transformasional dan Kinerja SDGs. Kedua hipotesis ini diterima karena memiliki koefisien jalur positif, t-test di atas 1,96, dan p-value di bawah 0,05. Namun. Kultur Demokrasi tidak memoderasi hubungan antara Inspirasi Pembelajar maupun Kepemimpinan Visioner Tangguh dengan Kinerja SDGs, yang ditunjukkan dengan p-value di atas 0,05. Oleh karena itu, dua hipotesis moderasi ini Koefisien determinasi (RA) digunakan untuk mengukur seberapa baik model regresi dapat menjelaskan variasi data. Nilai RA berkisar antara 0 hingga 1, dengan nilai 1 menunjukkan model yang dapat menjelaskan seluruh variasi, sedangkan nilai 0 menunjukkan model yang tidak efektif dalam menjelaskan variasi (Shmueli et al. , 2. Hasil pengujian koefisien determinasi menunjukkan nilai RA sebesar 0,804, https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 124-136 yang berarti 80,4% variasi Kinerja SDGs Ekonomi Indonesia dapat dijelaskan oleh variabel-variabel Kepemimpinan Pemberdayaan. Inspirasi Pembelajar. Kepemimpinan Transformasional, dan Kepemimpinan Visioner Tangguh. Sisanya, 19,6%, dipengaruhi oleh faktor lain di luar model. Tabel 2. Hasil Pengujian Hipotesis dan Koefisien Determinasi Hipotesis Kepemimpinan Pemberdayaan Ie Kinerja SDGs Ekonomi Indonesia Inspirasi Pembelajar Ie Kinerja SDGs Ekonomi Indonesia Kepemimpinan Transformasional Ie Kinerja SDGs Ekonomi Indonesia Kepemimpinan Visioner Tangguh Ie Kinerja SDGs Ekonomi Indonesia Kultur Demokrasi X Kepemimpinan Pemberdayaan Ie Kinerja SDGs Ekonomi Indonesia Kultur Demokrasi X Inspirasi Pembelajar Ie Kinerja SDGs Ekonomi Indonesia Kultur Demokrasi X Kepemimpinan Transformasional Ie Kinerja SDGs Ekonomi Indonesia Kultur Demokrasi X Kepemimpinan Visioner Tangguh Ie Kinerja SDGs Ekonomi Indonesia Path Coefficient T-Test PValue Keputusan Diterima Diterima Diterima Diterima Diterima Ditolak Diterima Ditolak RA Pembahasan Pengaruh Kepemimpinan Pemberdayaan terhadap Kinerja SDGs Ekonomi Indonesia Pengujian hipotesis pertama menunjukkan bahwa kepemimpinan pemberdayaan yang diterapkan oleh Presiden Republik Indonesia. Ir. Joko Widodo, berpengaruh signifikan terhadap kinerja SDGs ekonomi Indonesia. Hasil ini sejalan dengan temuan dari penelitian Ogbari et al. , . , yang menyatakan bahwa kepemimpinan pemberdayaan dapat meningkatkan kinerja ekonomi melalui pengembangan kapasitas individu, inovasi, dan keterlibatan kolektif, serta mempercepat pencapaian tujuan SDGs ekonomi (Ogbari et al. , 2. Temuan ini menegaskan pentingnya model kepemimpinan pemberdayaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Kepemimpinan pemberdayaan yang diterapkan oleh Presiden Jokowi berfokus pada pemberian otonomi, dukungan, dan sumber daya kepada pelaku ekonomi kreatif, sehingga mereka dapat berinovasi dan menciptakan solusi ekonomi yang berkelanjutan. Presiden Jokowi dikenal dengan pendekatan kepemimpinan yang mendorong partisipasi aktif dan pemberdayaan masyarakat, termasuk pelaku ekonomi kreatif. Kebijakan seperti pembentukan Badan Ekonomi Kreatif (Bekra. , program Go Digital untuk UMKM, dan pengembangan infrastruktur digital, mencerminkan fokus pada inklusi ekonomi dan Kebijakan-kebijakan ini telah mendorong inklusivitas dan pertumbuhan sektor ekonomi kreatif, yang menjadi salah satu pilar utama dalam pencapaian target SDGs, terutama dalam menciptakan lapangan kerja yang layak, mengurangi kesenjangan, dan mendorong inovasi serta penguatan infrastruktur industri. Signifikansi hipotesis ini juga menunjukkan bahwa pemberdayaan dalam konteks ekonomi kreatif tidak hanya meningkatkan kinerja ekonomi nasional, tetapi juga memperkuat daya saing global Indonesia. Ini sangat penting karena sektor ekonomi kreatif memberikan kontribusi langsung terhadap pencapaian SDGs melalui inovasi, kreativitas, dan diversifikasi ekonomi. Dengan demikian, penerimaan hipotesis ini menggarisbawahi bahwa gaya kepemimpinan yang memberdayakan memainkan peran kunci dalam menciptakan perubahan sistemik yang berkontribusi signifikan terhadap pencapaian target SDGs, khususnya dalam aspek pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, pengurangan ketimpangan, dan https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 124-136 pembangunan inklusif. Peran Inspirasi Pembelajar dalam Meningkatkan Kinerja SDGs Ekonomi Indonesia Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa inspirasi pembelajar dalam kepemimpinan Presiden Republik Indonesia. Ir. Joko Widodo, memiliki pengaruh signifikan positif terhadap kinerja SDGs ekonomi Indonesia. Temuan ini sejalan dengan literatur terdahulu, seperti penelitian Tian et al. , . dan Nan et , . , yang menunjukkan bahwa inspirasi pembelajar meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan kolaborasi dalam pencapaian tujuan ekonomi berkelanjutan, yang juga relevan dengan kinerja SDGs ekonomi di Indonesia (Nan & Chaiprasit, 2023. Tian & Wang, 2. Sebagai seorang pemimpin. Presiden Jokowi dikenal dengan pendekatan learning leadership, yang mencerminkan kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan menerapkan wawasan baru dalam menghadapi tantangan. Dalam konteks ekonomi kreatif, inspirasi pembelajar ini terlihat jelas melalui upayanya untuk mengintegrasikan inovasi dan teknologi sebagai faktor kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan Salah satu bentuk konkret dari kepemimpinan inspiratif ini adalah keterbukaan Presiden Jokowi terhadap perubahan dan gagasan baru, khususnya terkait dengan perkembangan teknologi digital dan industri 4. Beliau mendorong integrasi teknologi dalam sektor ekonomi kreatif melalui kebijakan seperti pengembangan ekosistem startup digital, e-commerce, dan dukungan terhadap UMKM berbasis digital. Kebijakan ini tidak hanya meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global, tetapi juga membantu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, yang relevan dengan beberapa target SDGs, seperti pengentasan kemiskinan, penciptaan pekerjaan layak, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Inspirasi pembelajar dalam kepemimpinan Presiden Jokowi juga terlihat dalam pendekatannya yang Beliau sering terlibat dalam diskusi dan konsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pengusaha, akademisi, dan komunitas kreatif, untuk lebih memahami kebutuhan dan tantangan yang mereka hadapi. Dengan gaya kepemimpinan yang terbuka dan siap belajar ini. Presiden Jokowi dapat merespons dengan cepat terhadap dinamika ekonomi kreatif yang terus berkembang. Penerimaan hipotesis ini memiliki nilai penting karena menunjukkan bahwa kepemimpinan yang berlandaskan inspirasi pembelajar tidak hanya mendorong inovasi dalam sektor ekonomi kreatif, tetapi juga memfasilitasi pencapaian tujuan-tujuan SDGs. Hal ini menciptakan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan inklusif, seiring dengan pengembangan potensi individu dan komunitas. Presiden Jokowi membuktikan bahwa pemimpin yang terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan zaman memiliki kemampuan yang lebih besar untuk menciptakan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, yang pada akhirnya memperkuat kinerja ekonomi SDGs Indonesia. Kepemimpinan Transformasional dan Implikasinya terhadap Kinerja SDGs Ekonomi Indonesia Hasil pengujian jalur hipotesis berikutnya mendukung pernyataan bahwa kepemimpinan transformasional Presiden Republik Indonesia. Ir. Joko Widodo, berpengaruh signifikan terhadap kinerja SDGs ekonomi Indonesia. Temuan ini sejalan dengan studi terdahulu yang menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional dapat meningkatkan kinerja ekonomi melalui inovasi, partisipasi aktif, dan pengembangan individu, seperti yang ditemukan oleh Zhu et al. , . dan Brink . , terutama dalam konteks pembangunan berkelanjutan (Brink, 2023. Zhu & Huang, 2. Diterimanya hipotesis ini mencerminkan kekuatan perubahan yang dibawa melalui visi kepemimpinan yang inspiratif dan inovatif. Kepemimpinan transformasional Presiden Jokowi melibatkan kemampuan untuk mendorong perubahan besar, memotivasi masyarakat, dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan sektor ekonomi kreatif yang selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG. Jokowi berhasil mengintegrasikan prinsip-prinsip transformasional melalui visi dan misinya yang berfokus pada pembangunan infrastruktur digital dan inovasi teknologi. Dalam sektor ekonomi kreatif, transformasi ini terlihat jelas melalui berbagai kebijakan yang memfasilitasi pertumbuhan UMKM, pengembangan ekosistem startup, dan akselerasi digitalisasi. Salah satu contoh konkret adalah inisiatif Gerakan Nasional 1000 Startup dan dukungan pemerintah terhadap perkembangan e-commerce dan ekonomi digital. Dengan kebijakan ini. Presiden Jokowi membuka ruang bagi pelaku ekonomi kreatif untuk beradaptasi dengan era digital dan menciptakan inovasi yang mempercepat pertumbuhan ekonomi. https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 124-136 Penerimaan hipotesis ini menunjukkan nilai penting bahwa kepemimpinan transformasional tidak hanya mendorong perubahan struktural, tetapi juga memberikan motivasi dan inspirasi kepada masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan ekonomi kreatif. Transformasi ini sangat penting dalam pencapaian SDGs, terutama dalam menciptakan lapangan kerja yang layak, mengurangi ketimpangan, dan mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Presiden Jokowi berperan dalam menciptakan lingkungan di mana individu dan komunitas dapat berkembang, berinovasi, dan berkontribusi pada ekonomi nasional secara berkelanjutan. Lebih lanjut, kepemimpinan transformasional Presiden Jokowi juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, baik antara pemerintah, swasta, maupun Dengan mengedepankan visi yang kuat dan menggerakkan perubahan sistemik. Presiden Jokowi membuktikan bahwa gaya kepemimpinan transformasional tidak hanya mempercepat pertumbuhan sektor ekonomi kreatif, tetapi juga secara signifikan meningkatkan kinerja SDGs ekonomi Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa transformasi kepemimpinan berperan sentral dalam mewujudkan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan inovatif. Kepemimpinan Visioner Tangguh sebagai Faktor Pendorong Kinerja SDGs Ekonomi Indonesia Hasil pengujian hipotesis berikutnya menunjukkan bahwa kepemimpinan visioner tangguh Presiden Republik Indonesia. Ir. Joko Widodo, berpengaruh positif terhadap kinerja SDGs ekonomi Indonesia. Temuan ini sejalan dengan literatur sebelumnya, seperti yang dijelaskan oleh Brink, . dan Sutarmin et al. , . , yang menyatakan bahwa kepemimpinan visioner tangguh dapat memotivasi tim, mengatasi tantangan, dan menciptakan inovasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan ekonomi berkelanjutan dalam konteks SDGs (Brink, 2023. Sutarmin. Yulianeu. Darmawan, & Kurniawan, 2. Temuan ini menyoroti pentingnya visi jangka panjang dan ketahanan dalam menghadapi tantangan global. Kepemimpinan visioner Presiden Jokowi berfokus pada penciptaan masa depan yang lebih baik melalui pemanfaatan potensi ekonomi kreatif, yang diharapkan dapat berkontribusi terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG. Sebagai pemimpin. Presiden Jokowi memiliki visi yang jelas tentang bagaimana ekonomi kreatif dapat menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Untuk mencapai visi ini, ia mendorong investasi di sektor teknologi dan inovasi, yang terbukti menjadi fondasi penting bagi pengembangan industri kreatif. Kebijakan yang mendukung pembangunan infrastruktur digital, akses ke pasar internasional, serta pelatihan dan pengembangan keterampilan menjadi bagian integral dari upayanya untuk menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pertumbuhan sektor ini. Penerimaan hipotesis ini memiliki nilai penting karena menggambarkan kemampuan Presiden Jokowi untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi sektor ekonomi kreatif, seperti kompetisi global dan perubahan teknologi yang cepat. Dengan sikap tangguh dan adaptif. Jokowi berhasil mendorong sektor ekonomi kreatif agar tetap relevan dan kompetitif. Salah satu contohnya adalah dukungan terhadap pelaku UMKM dalam mengakses teknologi digital, yang membantu mereka untuk berinovasi dan meningkatkan daya saing. Lebih jauh lagi, kepemimpinan visioner tangguh Presiden Jokowi juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat-daerah, sektor swasta, dan masyarakat. Dalam konteks ini, beliau mengajak semua pihak untuk bersama-sama berkontribusi pada pembangunan ekonomi yang inklusif dan Dengan menciptakan sinergi antara berbagai pemangku kepentingan. Presiden Jokowi membuktikan bahwa visi dan ketahanan dalam kepemimpinan dapat mengarah pada pencapaian SDGs, memperkuat kinerja ekonomi Indonesia secara keseluruhan, dan meningkatkan kesejahteraan Interaksi Moderasi Kultur Demokrasi dan Determinan Kepemimpinan Inovatif dalam Meningkatkan Kinerja SDGs Ekonomi Indonesia Studi ini melakukan pengujian moderasi untuk mengeksplorasi bagaimana kultur demokrasi memperkuat pengaruh determinan kepemimpinan inovatif terhadap pencapaian target SDGs. Hasil pengujian hipotesis moderasi menunjukkan bahwa kultur demokrasi memoderasi hubungan antara kepemimpinan pemberdayaan dan kepemimpinan transformasional dengan kinerja SDGs Ekonomi Indonesia. Secara konseptual, hal ini mengonfirmasi bahwa kultur demokrasi yang mencakup partisipasi, kebebasan berpendapat, dan akuntabilitas dapat memperkuat peran kepemimpinan inovatif dalam mencapai tujuan ekonomi yang berkelanjutan. Kepemimpinan pemberdayaan dan transformasional, dalam konteks Presiden Joko Widodo, mencerminkan upaya untuk mendorong inovasi, memberikan ruang bagi https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 124-136 partisipasi masyarakat, serta menciptakan kebijakan yang lebih inklusif. Kepemimpinan pemberdayaan menekankan pada penguatan kapasitas masyarakat dan institusi agar dapat berkontribusi secara aktif dalam proses pembangunan. Sedangkan kepemimpinan transformasional berfokus pada perubahan struktural dan sistemik yang diperlukan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Kedua tipe kepemimpinan ini terbukti memiliki pengaruh yang lebih besar dalam mencapai SDGs ketika dipadukan dengan kultur demokrasi yang kuat. Kultur demokrasi di Indonesia, yang memungkinkan keterlibatan banyak aktor dan memberi ruang untuk inovasi kebijakan yang berbasis kebutuhan rakyat, memperkuat efektivitas kepemimpinan. Dengan demikian, pengujian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat penerapan prinsip-prinsip demokrasi, semakin efektif pula kepemimpinan dalam mencapai target ekonomi SDGs, seperti pengurangan kemiskinan, peningkatan kesejahteraan, dan pertumbuhan ekonomi inklusif. Nilai penerimaan hipotesis ini sangat penting karena memberikan bukti empiris bahwa keberhasilan Indonesia dalam mencapai target SDGs ekonomi tidak hanya bergantung pada gaya kepemimpinan, tetapi juga pada kondisi demokrasi yang mendukung. Hal ini memberikan dasar bagi rekomendasi kebijakan yang mendorong penguatan kultur demokrasi untuk mempercepat pencapaian SDGs ekonomi. Namun, kultur demokrasi tidak berhasil memoderasi hubungan antara inspirasi pembelajar dan kepemimpinan visioner tangguh Presiden Joko Widodo dengan kinerja SDGs ekonomi Indonesia. Penolakan hipotesis ini menunjukkan bahwa meskipun kultur demokrasi penting dalam berbagai aspek kepemimpinan, ada faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi efektivitas inspirasi pembelajar dan kepemimpinan visioner dalam konteks ekonomi yang berkelanjutan. Inspirasi pembelajar menekankan pada proses belajar dan pertumbuhan individu melalui keterlibatan yang mendalam dalam proses pembelajaran dan pengembangan kemampuan. Kepemimpinan visioner tangguh, di sisi lain, berfokus pada penyampaian visi jangka panjang yang jelas dan ketahanan dalam menghadapi tantangan untuk mencapai visi tersebut. Meskipun keduanya merupakan elemen penting dalam kepemimpinan, mereka mungkin memerlukan lebih dari sekadar konteks demokrasi yang kuat untuk berdampak pada kinerja SDGs Ada kemungkinan bahwa dimensi-dimensi lain, seperti infrastruktur kebijakan, kapasitas birokrasi, atau dukungan kelembagaan yang kuat, lebih menentukan keberhasilan implementasi visi dan strategi pembelajaran di bidang ekonomi. Kepemimpinan visioner memerlukan eksekusi yang disiplin terhadap visi jangka panjang. Dalam demokrasi yang kuat, proses pengambilan keputusan sering kali terfragmentasi dan rentan terhadap pengaruh politik yang luas. Meskipun demokrasi mendukung partisipasi yang inklusif, hal ini dapat memperlambat proses implementasi kebijakan karena adanya tekanan politik yang bersaing, tarik ulur kebijakan, dan kebutuhan untuk menyeimbangkan berbagai kepentingan. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa inspirasi pembelajar dan visi tangguh Presiden Jokowi tidak dapat termoderasi secara efektif oleh kultur demokrasi, karena dalam demokrasi, sering kali prioritas jangka pendek mengalahkan visi jangka panjang. IV. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa berbagai gaya kepemimpinan Presiden Joko Widodo memiliki pengaruh signifikan terhadap pencapaian SDGs ekonomi Indonesia. Kepemimpinan pemberdayaan, inspirasi pembelajar, transformasional, dan visioner tangguh terbukti mendorong pencapaian SDGs ekonomi Indonesia. Pendekatan kepemimpinan pemberdayaan dan transformasional secara efektif didukung oleh kultur demokrasi, yang meningkatkan partisipasi publik dan mempercepat pembangunan berkelanjutan. Namun, kepemimpinan inspirasi pembelajar dan visioner tangguh kurang termoderasi oleh kultur demokrasi, kemungkinan besar akibat dinamika politik yang kompleks. Penelitian ini menegaskan pentingnya adanya sinergi antara gaya kepemimpinan dan kultur demokrasi dalam memperkuat daya saing global, mendukung pertumbuhan inklusif, dan meningkatkan kinerja SDGs ekonomi Indonesia. Saran Rekomendasi akademik strategis untuk Presiden Republik Indonesia berikutnya. Jenderal TNI (HOR) (Purn. ) H. Prabowo Subianto, berfokus pada keberlanjutan pencapaian SDGs ekonomi Indonesia. Pertama, penting untuk memperkuat kepemimpinan pemberdayaan dengan memberikan otonomi dan dukungan https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 124-136 yang lebih besar bagi UMKM dan pelaku ekonomi kreatif, khususnya melalui akselerasi digitalisasi dan inovasi teknologi. Presiden yang terpilih dapat melanjutkan kebijakan pro-ekonomi kreatif dengan memperluas infrastruktur digital, memperbaiki akses modal, dan memperkuat ekosistem startup. Transformasi digital juga perlu didorong di tingkat pedesaan dengan memperluas infrastruktur internet dan menyediakan pelatihan digital bagi UMKM, terutama di sektor pertanian dan maritim, untuk meningkatkan daya saing global. Kedua, kepemimpinan transformasional harus ditekankan dengan fokus pada visi pembangunan jangka panjang yang memprioritaskan pengurangan ketimpangan ekonomi, khususnya di daerah-daerah Presiden yang terpilih dapat mendorong pembangunan infrastruktur ekonomi inklusif yang memperkuat konektivitas antarwilayah. Ketiga, memperkuat kultur demokrasi menjadi hal penting untuk meningkatkan kolaborasi lintas sektor. Presiden yang terpilih diharapkan menciptakan ruang lebih besar bagi dialog antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk menghasilkan kebijakan inovatif yang berkelanjutan, serta memastikan partisipasi aktif dalam pencapaian target SDGs ekonomi. Presiden yang terpilih juga perlu fokus pada pengembangan industri hijau dengan mempercepat transisi energi bersih melalui pemberian insentif bagi investasi di sektor energi terbarukan dan teknologi ramah Kebijakan inklusifitas ekonomi harus diterapkan dengan memastikan akses kredit dan dukungan teknologi bagi kelompok marjinal. Terakhir, penguatan birokrasi harus didorong melalui reformasi regulasi untuk mempercepat eksekusi kebijakan ekonomi, memastikan transparansi, dan mengurangi hambatan administratif. Keterbatasan dan Rekomendasi bagi Penelitian Selanjutnya Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dicermati. Pertama, pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan data sekunder yang berfokus pada sektor ekonomi kreatif, sehingga tidak mencakup sektor lain yang juga berkontribusi signifikan terhadap pencapaian SDGs ekonomi, seperti pertanian, industri manufaktur, dan jasa. Selain itu, penelitian ini tidak melibatkan analisis kuantitatif atau longitudinal, yang dapat memberikan gambaran lebih holistik tentang perubahan indikator SDGs dari waktu ke waktu. Kedua, lingkup kepemimpinan yang dikaji terbatas pada beberapa tipe kepemimpinan dalam konteks Presiden Joko Widodo, tanpa mengeksplorasi kebijakan ekonomi makro yang berperan penting dalam mendukung pencapaian SDGs, seperti kebijakan fiskal ekspansif, insentif investasi, atau reformasi sistem pajak dan belanja negara. Penelitian lanjutan dapat memperluas ruang lingkup dengan memasukkan analisis terhadap kebijakan fiskal, seperti pengaruh subsidi energi berkelanjutan atau belanja infrastruktur hijau terhadap SDGs Selain itu, penelitian juga bisa mengkaji kontribusi investasi asing langsung (FDI) dalam sektor manufaktur terhadap pertumbuhan inklusif dan penciptaan lapangan kerja. Pendekatan komparatif antarnegara, seperti membandingkan strategi Indonesia dengan negara-negara ASEAN, akan memberikan wawasan yang lebih luas tentang kebijakan pembangunan berkelanjutan. Penelitian mendatang juga dapat meneliti variasi gaya kepemimpinan di tingkat daerah, terutama di provinsi yang menunjukkan pencapaian SDGs ekonomi yang tinggi, untuk memahami lebih lanjut bagaimana kepemimpinan subnasional dapat mendukung pembangunan berkelanjutan secara lebih terukur dan kontekstual. DAFTAR PUSTAKA