Journal of Pharmaceutical and Sciences Electronic ISSN: 2656-3088 DOI: https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Homepage: https://journal-jps. ORIGINAL ARTICLE JPS. 2025, 8. , 51-66 Determination of minimum inhibitory concentration and minimum bactericidal concentration of papaya leaf extract (Carica papaya L. ) and its nanoparticles against Cutibacterium acnes bacteria Penentuan konsentrasi hambat minimum dan konsentrasi bunuh minimum ekstrak dan nanopartikel ekstrak daun pepaya (Carica Papaya L. ) terhadap Bakteri Cutibacterium acnes Nur Khofifah a. Yayuk Putri Rahayu a*. Haris Munandar Nasution a. Dikki Miswanda a Program Studi Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah. Medan. Sumatera Utara. Indonesia. *Corresponding Authors: yayukputri@umnaw. Abstract One of the skin diseases that often occurs is acne (Acne vulgari. The activity of the Cutibacterium acnes bacteria causes acne. Current acne treatment still depends on the use of antibiotics, but long-term use of antibiotics can cause bacterial resistance. Therefore, it is necessary to develop alternative acne treatments that are effective and safe, one of which is by using medicinal plants. One plant that has potential is papaya leaves (Carica papaya L. This research aims to determine the minimum inhibitory concentration (MIC) and minimum killing concentration (KBM) of ethanol extract and papaya leaf extract nanoparticles and test antibacterial activity against Cutibacterium acnes bacteria. The research was carried out experimentally. The independent variables are the concentration of papaya leaf extract . 25% concentration, 12. 5% concentration, 25% concentration, and 50% concentratio. and the concentration of papaya leaf extract nanoparticles . concentration, 1. 25% concentration, 2. 5% concentration, % and Concentration 5%). The dependent variable is the antibacterial activity of papaya leaf ethanol extract and nanoparticle extract against Cutibacterium acnes. Characterization of the size of the extracted nanoparticles using a particle size analyzer (PSA). The characteristic results for the extract size were 2,203. 45 nm, while the size of the extract nanoparticles was 330. The minimum inhibitory concentration (MIC) value of 1. 25% papaya leaf ethanol extract nanoparticles is better than 12. 5% papaya leaf ethanol extract, and the minimum lethal concentration (MLC) value of 5% papaya leaf ethanol extract nanoparticles is better than papaya leaf ethanol extract 50% against Cutibacterium acnes bacteria. 5% papaya leaf ethanol extract nanoparticles have the same antibacterial ability as 50% papaya leaf ethanol extract and are sensitive to Cutibacterium acnes bacteria, so it can be said that 5% papaya leaf ethanol extract nanoparticles can reduce the dose concentration of antibacterial compounds up to one-tenth of the time compared to ethanol extract. papaya leaves 50% . Keywords: Carica papaya L. Cutibacterium acnes, minimum inhibitory concentration, minimum kill concentration. Nanoparticles. Abstrak Salah satu penyakit kulit yang sering terjadi adalah jerawat . cne vulgari. Jerawat disebabkan oleh aktivitas bakteri Cutibacterium acnes. Pengobatan jerawat saat ini masih tergantung pada penggunaan antibiotik, namun penggunaan antibiotik dalam jangka panjang dapat menimbulkan resistensi bakteri. Oleh karena itu, perlu dikembangkan alternatif pengobatan jerawat yang efektif dan aman, salah satunya dengan memanfaatkan tanaman obat. Salah satu tanaman yang berpotensi adalah daun pepaya (Carica papaya L. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi hambat minimum (KHM) dan konsentrasi bunuh minimum (KBM) Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. ekstrak etanol dan nanopartikel ekstrak daun pepaya serta Pengujian aktivitas antibakteri terhadap bakteri Cutibacterium acnes. Penelitian dilakukan secara eksperimental. Variabel bebas yaitu konsentrasi ekstrak daun pepaya (Konsentrasi 6,25%. Konsentrasi 12,5%. Konsentrasi 25% dan Konsentrasi 50%), dan konsentrasi nanopartikel ekstrak daun pepaya (Konsentrasi 0,625%. Konsentrasi 1,25%. Konsentrasi 2,5% dan Konsentrasi 5%). Variabel terikat yaitu aktivitas antibakteri ekstrak dan nanopartikel ekstrak etanol daun pepaya terhadap Cutibacterium acnes. Karakterisasi ukuran nanopartikel ekstrak menggunakan Particle Size Analyzer (PSA). Hasil karakteristik ukuran ekstrak 2203,45 nm sedangkan ukuran nanopartikel ekstrak yaitu 330,27 nm. Nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) nanopartikel ekstrak etanol daun pepaya 1,25% lebih baik dibandingkan ekstrak etanol daun pepaya 12,5%, dan nilai konsentrasi bunuh minimum (KBM) nanopartikel ekstrak etanol daun pepaya 5% lebih baik daripada ekstrak etanol daun pepaya 50% terhadap bakteri Cutibacterium acnes. Nanopartikel ekstrak etanol daun pepaya 5% memiliki kemampuan antibakteri yang sama dengan ekstrak etanol daun pepaya 50% dengan kategori sensitif terhadap bakteri Cutibacterium acnes, sehingga dapat dikatakan nanopartikel ekstrak etanol daun pepaya 5% dapat menurunkan konsentrasi dosis senyawa antibakteri hingga sepersepuluh kali lipat dibandingkan ekstrak etanol daun pepaya 50% . Kata Kunci: : Carica papaya L. Cutibacterium acnes, konsentrasi hambat minimum, konsentrasi bunuh minimum. Nanopartikel. Copyright A 2020 The author. You are free to : Share . opy and redistribute the material in any medium or forma. and Adapt . emix, transform, and build upon the materia. under the following terms: Attribution Ai You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use. NonCommercial Ai You may not use the material for commercial ShareAlike Ai If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. Content from this work may be used under the terms of the a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-NCSA 4. License Article History: Received: 02/11/2024. Revised: 06/01/2025 Accepted: 06/01/2025 Available Online: 13/01/2025 QR access this Article https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pendahuluan Dalam beberapa tahun terakhir, nanoteknologi telah berkembang menjadi salah satu bidang teknik yang paling penting dan menarik dalam fisika, kimia, dan biologi. Beberapa bentuk nanoteknologi yang berkembang pesat termasuk nanomedis, an emulsi, dan nanopartikel. Nanoteknologi sangat menarik karena memiliki cakupan aplikasi yang luas di bidang biomedis. Nanopartikel merupakan partikel koloid berbentuk padat dengan diameter berkisar antara 1 hingga 1000 nm. Parameter bentuk dan ukuran nanopartikel memiliki peran krusial dalam menentukan efektivitas obat, karena keduanya secara signifikan memengaruhi proses disolusi, penyerapan, serta distribusi obat di dalam tubuh . Cutibacterium acnes merupakan bakteri anaerob gram positif yang menyebabkan peradangan jerawat. Bakteri ini menghasilkan enzim hidrolitik yang dapat merusak folikel rambut kelenjar sebaceous dan menghasilkan lipase, hyaluronidase, lecithinase, neuraminidase, dan protease yang berperan penting dalam proses inflamasi. Populasi Cutibacterium acnes ini dapat dikurangi dengan pemberian antibiotik . Pengobatan jerawat di klinik dermatologi, biasanya digunakan antibiotik untuk mengurangi peradangan dan membunuh bakteri, seperti tetrasiklin, eritromisin, doksisiklin, dan klindamisin. Selain itu, benzoil peroksida, asam azelaic, dan retinoid juga umum digunakan, namun obat ini mempunyai efek samping seperti iritasi kulit wajah jika digunakan sebagai obat anti jerawat, dan juga memerlukan penggunaan antibiotik dalam jangka panjang. Mendorong toleransi juga dapat menyebabkan kerusakan organ dan hipersensitivitas imun . Salah satu tanaman dan herbal yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit kulit . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. adalah pemanfaatan daun pepaya (Carica papaya L. ) dengan harga murah dan mudah didapat. dapat digunakan untuk mengobati jerawat. Calpain yang terkandung dalam daun pepaya (Carica papaya L. mempunyai efek antibakteri . Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fitri pada tahun 2015 dengan judul Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun pepaya (Carica papaya L. ) terhadap Cutibacterium acnes. Hasil penelitian menunjukkan pada konsentrasi ekstrak 20%, dan diameter penghambatan optimal adalah 19 mm . Dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun pepaya (Carica papaya L. ) mampu menghambat pertumbuhan bakteri Cutibacterium acnes . Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut mengenai pengembangan dan pengujian aktivitas nanopartikel ekstrak etanol daun pepaya (Carica papaya L. ) menjadi sangat penting untuk dilakukan. Studi ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi hambat minimum (KHM) dan konsentrasi bunuh minimum (KBM) dari ekstrak etanol dan nanopartikel ekstrak daun pepaya serta Pengujian aktivitas antibakteri terhadap bakteri Cutibacterium acnes. Mengingat potensi antibakteri yang telah ditunjukkan oleh ekstrak etanol daun pepaya dalam penelitian-penelitian sebelumnya, pengembangan nanopartikel diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dan stabilitas senyawa aktif, serta memberikan alternatif terapi yang lebih aman dan efisien untuk pengobatan jerawat, sekaligus meminimalkan efek samping penggunaan antibiotik jangka panjang. Metode Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Penelitian ini meliputi pengumpulan bahan tumbuhan, pengolahan sampel, karakterisasi simplisia, pembuatan ekstrak,skrining fitokimia, pembuatan nanopartikel ekstrak daun pepaya ( Carica papaya L. ), karakterisasi nanopartikel menggunakan Particle Size Analyzer (PSA), serta uji aktivitas antibakteri terhadap Cutibacterium acnes. Lokasi dan Waktu Penelitian Pembuatan simplisia, ekstrak, dan karakterisasi simplisia dilakukan di Laboratorium Botani Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah. Uji skrining fitokimia dan pembuatan nanopartikel dilakukan di Laboratorium Penelitian Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah. Uji antibakteri dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah. Pengujian Particle Size Analyzer (PSA) dilakukan di Laboratorium Nanomedisin Universitas Sumatera Utara. Peralatan dan bahan Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah rotary evaporator (DLAB), kertas saring, neraca analitik (Vibr. , cawan porselin, kurs porselin, seperangkat alat penetapan kadar air, alat-alat gelas laboratorium, magnetic stirrer, homogenizer (IKA RW 20 digita. , jangka sorong digital, alumunium foil, jarum ose, inkubator, autoklaf, oven, pipet tetes, blender, ayakan, toples kedap udara. Particle Size Analyzer (Fritsc. , tabung reaksi, cawan petri, lampu spiritus. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun pepaya, etanol 96%. HCL 2N. FeCl3 1%. Kloralhidrat. Bouchardat. Dragendorff. Mayer. Kloroform, media Nutrient Agar (NA), media Mueller Hinton Agar (MHA). Mueller hinton broth (MHB), kertas cakram. DMSO (Dimetil Sulfoksid. , larutan standard Mcfarland 0,5. NaCl steril 0,9%. H 2SO4 1%, aquadest, bakteri Cutibacterium acnes. Sampel, metode pengumpulan dan determinasi sampel Sampel berupa isolat bakteri Curibacterium acne yang diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi USU. Sedangkan sampel daun pepaya (Carica papaya L. ) yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari kawasan Medan Amplas Kota Medan. Metode pengambilan sampel daun pepaya menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria inklusi daun yang masih segar dan daunnya berwarna hijau cerah. Yaitu mengambil tanaman dengan sengaja dari suatu tempat tanpa membandingkan dengan hasil dari daerah yang Sampel daun pepaya yang digunakan pada penelitian ini dilakukan determinasi di Herbarium Medanense (MEDA) Laboratorium terpadu Universitas Sumatera Utara (USU). Penyiapan Sampel Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Bahan baku yang digunakan sebagai sampel adalah lembar daun pepaya. Daun pepaya dicuci dengan air mengalir hingga bersih dan dipisahkan dari tangkai daun serta sisa kotoran atau benda asing. Lembar daun pepaya yang sudah disortir basah dan dibersihkan, dipotong kecil-kecil untuk memudahkan proses pengeringan. Daun pepaya kering. Proses pengeringan berlangsung beberapa hari hingga kadar air berkurang . Pembuatan ekstrak daun pepaya (Carica papaya L. Pada penelitian ini sampel ekstraksi daun pepaya (Carica papaya L. ) yang dilakukan sebanyak 500 gram, dimaserasi dengan 5000 mL pelarut etanol 96% dan dimaserasi selama 5x24 jam,perendaman pertama 75 Bagian . 0 mL simplisia yang sudah larut disaring kemudian filtrat ditampung sebagai maserat I. Proses perendaman dilakukan kembali dengan etanol 96% sebanyak 1250 mL hingga diperoleh maserat II. Maserat I dan maserat II digabungkan, lalu diuapkan menggunakan rotary evaporator untuk memisahkan ekstrak dari pelarutnya maka diperoleh ekstrak pekat daun pepaya . Pembuatan nanopartikel dari ekstrak daun pepaya (Carica papaya L. Ambuatan nanopartikel ekstrak daun pepaya dibuat dengan teknik homogenizer tekanan tinggi atau High-Pressure Homogenizer(HSH) dengan metode top down. Dengan menimbang 35 g ekstrak kental daun pepaya, lalu dimasukkan dalam beaker 250 ml, kemudian di homogenizer 2000 rpm selama 2 jam. Setelah di homogenizer kemudian di ultrasonic cleaner selama 1 jam . Ae. Pengukuran ukuran partikel Nanopartikel ekstrak dikarakterisasi menggunakan Particle Size Analyzer (PSA) untuk mengetahui ukuran partikel yang dihasilkan . Pada karakterisasi ukuran partikel dengan PSA, specimen dilarutkan dalam 3 ml etanol. Kemudian larutan tersebut dimasukkan ke dalam tabung dengan ketinggian larutan maksimum 15 mm. Kemudian distribusi diameter spesimen diukur menggunakan VASCO Nano Particle Analyzer. Pemeriksaan ini dilakukan berdasarkan metode Dynamic Light Scattering (DLS) menggunakan Zetasizer Nano ZS (Malvern Instrument. Pengujian skrining fitokimia Pengujian skrining fitokimia meliputi uji alkaloida, flavonoida, saponin, tanin, steroid/triterpenoid serta uji glikosida. Pengujian Aktivitas Antibakteri Metode Difusi Cakram Uji aktivitas antibakteri yang dilakukan menggunakan metode cakram. Suspensi bakteri Cutibacterium acnes diambil menggunakan cotton bud steril. Cotton bud steril dimasukkan kedalam suspensi bakteri dengan diperas di pinggir tabung. Kemudian cotton bud di goreskan ke media Mueller Hinton Agar (MHA). Lalu letakkan kertas cakram menggunakan pinset, dan teteskan zat uji keatas kertas cakram menggunakan Dan letakkan juga kontrol positif . menggunakan pinset. Kontrol negatif yang digunakan aquades steril. Lalu masukkan cawan petri ke dalam inkubator dan inkubasi selama 1x24 jam dengan suhu 370C. lalu amati zona beningnya dan diukur menggunakan jangka sorong . Metode Dilusi Cair Konsentrasi Hambat Minimum Penelitian ini menggunakan metode serial dilusi atau pengenceran bertingkat dengan teknik pengujian turbidimetri. Sebanyak 10 tabung reaksi steril disiapkan, di mana masing-masing tabung diisi dengan 3,5 mL media Mueller Hinton Broth (MHB) dan 0,5 mL suspensi bakteri Cutibacterium acnes ATCC 11827 yang disesuaikan dengan standar McFarland 0,5. Tabung uji diberi label berturut-turut dari 1 hingga 8, sementara tabung ke-9 dilabeli sebagai kontrol positif (K ), berisi media dan ekstrak uji. Tabung ke-10 dilabeli sebagai kontrol negatif (K-), berisi media dan suspensi bakteri tanpa ekstrak uji. Tabung 1-8 dimasukkan ekstrak daun pepaya (Carica papaya L. ) dengan konsentrasi 100%, 50%, 25%, 12,5% dan 6,25%, 3,125%, 1,56%, 0,78% dan nanopartikel ekstrak daun pepaya 10%, 5%, 2,5%, 1,25% dan 0,625%, 0,3125%, 0,156%, 0,078% masing masing sebanyak 1 mL dan diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometri uv-vis. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Media dalam tabung perlakuan kemudian diinkubasi selama 24 jam. Setelah itu, pengukuran absorbansi dilakukan kembali menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Kekeruhan media di setiap tabung diamati secara visual. Jika kekeruhan dalam tabung perlakuan setara atau lebih keruh dibandingkan dengan kontrol positif (K ), yang berisi media dan suspensi Cutibacterium acnes, maka bakteri masih dapat tumbuh. Sebaliknya, jika larutan dalam tabung terlihat lebih jernih dibandingkan kontrol negatif (K-), hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan bakteri mulai terhambat. Konsentrasi hambat minimum (KHM) ditentukan berdasarkan konsentrasi ekstrak terkecil dalam tabung perlakuan yang menunjukkan penghambatan terhadap pertumbuhan bakteri. Konsentrasi Bunuh Minimum Sebanyak 15 mL Mueller Hinton Agar Mueller Hinton Agar (MHA) dituangkan ke dalam cawan petri steril dan dibiarkan selama beberapa menit sehingga menjadi padat. Kemudian dipipet sejumlah 0,1 mL dari tiap -tiap pengenceran kemudian disebarkan di atas media Mueller Hinton Agar (MHA) steril. Selanjutnya dilakukan inkubasi selama 18-24 jam pada suhu 37 oC. Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) ditentukan melalui pengamatan keberadaan pertumbuhan bakteri pada media agar setelah proses inkubasi. Konsentrasi ekstrak terendah yang menunjukkan tidak adanya pertumbuhan bakteri menandakan nilai KBM. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk mengidentifikasi konsentrasi minimum ekstrak yang mampu menghambat dan membunuh Cutibacterium acnes. Pengukuran Diameter Zona Hambat Setelah diinkubasi selama 24 jam, diameter zona hambat diukur menggunakan penggaris dengan satuan milimeter . Pengukuran dilakukan dengan menentukan jarak antara tepi zona bening pada satu sisi hingga tepi lainnya, melalui titik pusat kertas cakram . Kertas cakram termasuk dalam perhitungan untuk mendapatkan nilai zone of inhibition (ZOI) atau diameter zona hambat yang terbentuk . Analisa Data Data hasil pengujian aktivitas antibakteri dianalisis secara statistik menggunakan metode analisis variansi satu arah (One-Way ANOVA) untuk mengevaluasi perbedaan yang signifikan antar kelompok Analisis dilakukan pada tingkat kepercayaan 95% ( = 0,. dengan memanfaatkan perangkat lunak statistik SPSS. Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan validitas hasil dan mengidentifikasi pola hubungan antar variabel yang diuji. Hasil Dan Diskusi Hasil Identifikasi Sampel Daun Pepaya Hasil identifikasi sampel yang dilakukan di Herbarium Medanense (MEDA) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara menunjukkan bahwa sampel yang digunakan merupakan daun pepaya yang termasuk dalam famili Caricaceae. Proses identifikasi ini bertujuan untuk memastikan keakuratan spesies tumbuhan yang digunakan sebagai bahan uji. Hasil Pembuatan Simplisia Daun Pepaya Hasil pembuatan simplisia dari 7000 g berat basah daun pepaya segar diperoleh 3600 g berat simplisia dan diperoleh 720 g serbuk simplisia. Hasil Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Pepaya Hasil pembuatan ekstrak etanol daun pepaya dengan metode maserasi diperoleh ekstrak sebanyak 187 g. Hasil Pembuatan Nanopartikel Ekstrak Daun Pepaya Hasil pembuatan nanopartikel ekstrak etanol daun pepaya dapat dilihat pada lampiran 14. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, pembuatan koloid nanopartikel ekstrak etanol daun pepaya menghasilkan warna hijau kecoklatan. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Metode dalam penelitian ini menggunakan homogenizer kecepatan tinggi atau High Speed Homogenization (HSH) dengan teknik top down. Prinsip High Speed Homogenization (HSH) yaitu peningkatan kecepatan high speed homogenizer diketahui dapat menurunkan ukuran partikel melalui pengaruh energy dan shear stress yang diberikan kepada emulsi . Sedangkan Prinsip ultrasonikasi yakni iradiasikan gelombang ultrasonik berfrekuensi sangat tinggi kedalam larutan sampel, sehingga pembentukan maghemit (-Fe2O. berukuran nano partikel dapat terjadi dengan baik. Terjadi tumbukan antarpartikelbertekanan tinggi dalam larutan yang mempengaruhi partikel itu sendiri, ketika suatu larutan diiradiasi dengan gelombang ultrasonic . Hasil pengukuran distribusi ukuran partikel Tabel 4. 1 Distribusi Ukuran Partikel Ekstrak Nanopartikel Nilai PSA 2,20345 0,33027 2203,45 303,27 Standar Nilai PSA Nanopartikel Hasil warna ekstrak dengan nanopartikel tidak jauh berbeda, dimana warnanya sama saja hijau kehitaman dan bentuknya sendiri ekstrak lebih kental dan pekat dibandingkan ekstrak nanopartikel. Ini dikarenakan ekstrak nanopartikel telah melalui proses homogenizer dan ultrasonik. Pengukuran nanopartikel ekstrak etanol daun pepaya dilakukan di laboratorium nanomedisin Universitas Sumatera Utara menggunakan alat particle size analyzer (PSA) dengan merk Fritsch. maka disimpulkan uji nanopartikel berhasil di dapatkan karena syarat Ukuran nanopartikel sekitar 1-1000 nm . Material berukuran nano memiliki keunggulan dibandingkan material yang sama dalam ukuran yang lebih besar. Ukuran yang sangat kecil ini memungkinkan pemberian sifat dan fungsi baru pada material, dan untuk mengontrol materi pada tingkat atom. Semakin kecil suatu partikel, semakin besar luas permukaannya. Luas permukaan yang besar ini meningkatkan reaktivitas material. Karena keunggulan bahan ini pada skala nanometer, bahan nanopartikel telah banyak ditemukan penerapannya di berbagai bidang seperti fisika, mekanik, elektrik, kimia, biologi, dan akhir-akhir ini khususnya di bidang farmasi. Karena ukurannya yang kecil, bahan ini dapat menembus ruang antar sel dan meningkatkan kompatibilitas sistem karena meningkatnya luas permukaan kontak . Hasil Pemeriksaan Makroskopik Hasil pemeriksaan makroskopik daun pepaya bentuk daun pepaya berwarna hijau tua, memiliki struktur daun berlobus palmate dibagi oleh celah, menyirip dan memiliki bentuk seperti telapak tangan, memiliki rasa yang sedikit pahit, memiliki bau yang khas dan uraian serbuk simplisia memiliki warna yang hijau tua. Hasil Pemeriksaan Mikroskopik Hasil pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia daun pepaya yang dijumpai epidermis atas dan epidermis bawah, fragmen pembuluh kayu,dan fragmen mesofil. Hasil Karakterisasi Simplisia Daun Pepaya Dari hasil uji yang dilakukan pada pemeriksaam Karakteristik simplisia maka diperoleh hasil berikut dengan acuan Syarat MMI. Persyaratan karakteristik daun pepaya (Carica papaya L. ) dapat dilihat dari buku materia medika indonesia (MMI, jilid V 1. Hasil karakterisasi simplisia daun pepaya pada tabel 4. 1 menunjukkan kadar air simplisia daun pepaya sebesar 3% yang berarti memenuhi syarat yaitu O 10%. Kadar air ditetapkan untuk menjaga kualitas ekstrak dan menghindari cepatnya pertumbuhan bakteri. Semakin tinggi kadar air maka semakin mudah untuk ditumbuhi bakteri atau kualitas ekstrak dan menghindari cepatnya pertumbuhan Semakin tinggi kadar air maka semakin mudah untuk ditumbuhi bakteri sehingga dapat menurunkan aktivitas biologi simplisia dalam masa penyimpanan . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Tabel 2. Hasil karakterisasi simplisia daun pepaya Karakteristik simplisia Kadar air Kadar sari larut dalam air Kadar sari larut dalam etanol Kadar abu total Kadar abu tidak larut asam (Kadar %) 19,295% 26,6% 4,35% 6,2% Syarat MMI O10% O30% Ou15% O12% O1% Keterangan : Ou : Lebih dari O : Tidak kurang dari Pada penelitian ini, kadar sari larut dalam air yang ditentukan adalah sebesar 19,297%, yang memenuhi syarat maksimal O30%. Sementara itu, kadar sari larut dalam etanol mencapai 26,6%, sesuai dengan persyaratan minimal Ou15%. Penetapan kadar senyawa yang larut dalam air dan etanol bertujuan untuk mengetahui jumlah senyawa yang dapat larut dalam air . maupun dalam etanol . emi-polar hingga Senyawa-senyawa yang diperkirakan larut dalam air meliputi karbohidrat, saponin, tanin, alkaloid kuartener, gula, asam amino, serta beberapa jenis vitamin. Adapun senyawa yang diduga larut dalam etanol mencakup terpenoid, alkaloid, fenol, glikosida, lilin, lipid, dan minyak atsiri . Penetapan kadar abu total yang diperoleh sebesar 4,35% yang berarti memenuhi syarat yaitu O 12%. Penetapan kadar abu total tersebut menunjukkan senyawa organik yang terdapat pada simplisia daun pepaya, semakin tinggi kadar abu total pada suatu sampel maka semakin buruk kualitas sampel. Penetapan kadar abu tidak larut asam sebesar 6,2% yang berarti tidak memenuhi syarat karena lebih dari persyaratan yang ditentukan yaitu O 1%. Penetapan kadar abu tidak larut asam menunjukkan adanya senyawa anorganik tidak larut asam seperti tanah atau pasir yang masih melekat pada simplisia daun pepaya. Hal itu dapat disebabkan oleh adanya kontaminasi yang terjadi melalui udara atau tempat perlakuan sampel selama proses pengambilan daun hingga menjadi serbuk . Hasil Skrining Fitokimia Serbuk dan Ekstrak Daun Pepaya Skrining fitokimia dilakukan untuk memberikan gambaran awal mengenai komposisi kandungan kimia yang terdapat dalam sampel. Berdasarkan hasil skrining fitokimia, serbuk simplisia dan ekstrak daun pepaya diketahui mengandung golongan senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, serta steroid/triterpenoid. Detail hasil analisis senyawa kimia pada serbuk dan ekstrak daun pepaya disajikan pada Tabel 2. Tabel 3 Hasil skrining fitokimia serbuk dan ekstrak daun pepaya No. Pemeriksaan Alkaloid Flavonoid Saponin Tannin Steroid / Triterpenoid Glikosida Keterangan : Hasil Serbuk Ekstrak ( ) : Mengandung senyawa (-) : Tidak mengandung senyawa Hasil yang diperoleh serbuk simplisia dan ekstrak daun pepaya dari analisis senyawa alkaloid pada pereaksi Dragendorff yaitu terbentuk endapan merah jingga, hasil yang diperoleh dari pereaksi Mayer yaitu terbentuk endapan putih sedangkan hasil yang diperoleh dari pereaksi Wagner yaitu terbentuk endapan merah kecoklatan. Sehingga diketahui bahwa daun pepaya (Carica papaya L. ) positif mengandung alkaloid. Metode ini didasarkan pada prinsip reaksi pengendapan yang terjadi akibat adanya pergantian ligan. Namun, menurut Sastroamidjojo . , metode ini memiliki kelemahan karena pereaksi yang digunakan tidak hanya Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. mampu mengendapkan alkaloid, tetapi juga dapat mengendapkan senyawa lain seperti protein, kumarin, piron, hidroksiflavon, dan tanin. Fenomena ini dikenal sebagai "false positive". Pengujian senyawa alkaloid pada ekstrak daun pepaya (Carica papaya L. ) dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan alkaloid dalam sampel . Hasil analisis terhadap serbuk simplisia dan ekstrak daun pepaya (Carica papaya L. ) menunjukkan bahwa sampel positif mengandung senyawa flavonoid. Daun pepaya dilarutkan menggunakan pelarut etanol, kemudian dilakukan proses pemanasan. Pemanasan diperlukan karena sebagian besar flavonoid cenderung larut dalam air panas. Analisis flavonoid menghasilkan perubahan warna menjadi merah tua setelah sampel ditetesi HCl pekat dan serbuk magnesium. Menurut Robinson . , warna merah tersebut mengindikasikan keberadaan flavonoid, yang dihasilkan melalui reaksi reduksi oleh asam klorida pekat dan Pengujian ini membuktikan adanya flavonoid dalam ekstrak daun pepaya . Analisis terhadap senyawa tanin pada serbuk simplisia dan ekstrak daun pepaya (Carica papaya L. menunjukkan bahwa kedua sampel tersebut positif mengandung tanin. Tanin diklasifikasikan menjadi dua golongan, yaitu tanin hidrolisis dan tanin kondensasi, yang masing-masing menghasilkan reaksi warna berbeda terhadap larutan FeClCE 1%. Tanin hidrolisis menghasilkan warna biru kehitaman, sedangkan tanin kondensasi menghasilkan warna hijau kehitaman. Reaksi ini diduga terjadi karena FeClCE 1% berinteraksi dengan gugus hidroksil pada senyawa tanin, menghasilkan perubahan warna yang khas. Reagen FeClCE 1% secara luas digunakan untuk mengidentifikasi senyawa fenol, termasuk tanin. Pada pengujian daun pepaya, hasil pengamatan menunjukkan adanya tanin kondensasi, ditandai dengan warna hijau kehitaman. Selain itu, hasil analisis terhadap serbuk simplisia dan ekstrak daun pepaya juga menunjukkan bahwa daun pepaya positif mengandung senyawa steroid dan triterpenoid. Pengujian ini didasarkan pada kemampuan steroid dan triterpenoid untuk membentuk warna tertentu ketika bereaksi dengan HCCSOCE dalam pelarut asam asetat glasial. Pada analisis triterpenoid, terbentuk warna kecokelatan, sedangkan pada analisis steroid, terbentuk warna biru kehijauan. Temuan ini mengonfirmasi keberadaan kedua senyawa tersebut dalam ekstrak daun pepaya. Analisis senyawa saponin pada serbuk simplisia dan ekstrak daun pepaya (Carica papaya L. menunjukkan bahwa sampel tersebut positif mengandung saponin. Saponin terdiri dari gugus glikosil yang bersifat polar dan gugus steroid serta triterpenoid yang bersifat nonpolar. Kombinasi gugus polar dan nonpolar ini memberikan sifat aktif permukaan pada saponin, sehingga ketika dikocok dengan air, senyawa ini mampu membentuk misel. Pada struktur misel, gugus polar mengarah ke luar, sedangkan gugus nonpolar mengarah ke dalam, menghasilkan tampilan berbusa. Oleh karena itu, pengamatan dalam analisis ini berfokus pada kemampuan sampel membentuk busa sebagai indikasi keberadaan saponin. Hasil pengujian terhadap steroid/triterpenoid menunjukkan perubahan warna menjadi hijau kecokelatan pada serbuk simplisia daun pepaya dan cokelat kehijauan pada ekstrak daun pepaya setelah ditambahkan reagen Lieberman-Burchard. Perubahan warna ini mengindikasikan keberadaan senyawa steroid pada kedua sampel, yaitu serbuk simplisia dan ekstrak daun pepaya. Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum dan Konsentrasi Bunuh Minimum Pengukuran Kadar Hambat Minimum (KHM) dilakukan dengan cara mengamati kekeruhan tabung yang berisi bakteri yang sudah diinkubasi. Pengukuran visual subjektif dan dapat menyebabkan kesalahan, oleh karena itu pengukuran dilakukan dengan spektrofotometer UV-Vis untuk mendapatkan hasil yang lebih Dalam uji spektofotometer UV-Vis. Konsentrasi yang menunjukkan penurunan nilai absorbansi menandakan kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri, yang diidentifikasi sebagai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM). Semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan, aktivitas pertumbuhan bakteri cenderung semakin berkurang karena peningkatan jumlah senyawa antibakteri dalam ekstrak. Namun, peningkatan nilai absorbansi pada konsentrasi tinggi tidak sepenuhnya disebabkan oleh pertumbuhan bakteri, melainkan juga dapat dipengaruhi oleh kepekatan ekstrak. Kepekatan ini dapat memengaruhi penyerapan cahaya, termasuk oleh sel-sel bakteri yang telah mati dalam larutan, sehingga memengaruhi hasil pengukuran . Hasil pengujian konsentrasi hambat minimum pada tabel 4, dengan pengujian spektrofotometri uvvis menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya terhadap Cutibacterium acnes memiliki nilai absorban yang meningkat dari sebelum inkubasi dan sesudah inkubasi pada konsentrasi 0,78% sampai 6,25%. Sedangkan pada konsentrasi 12,5% sampai 100% memiliki nilai absorban menurun dari sebelum dan sesudah inkubasi. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Konsentrasi terendah yang tidak mengalami peningkatan nilai absorban setelah diinkubasi ditetapkan sebagai nilai KHM. Sehingga nilai KHM pada ekstrak daun pepaya pada konsentrasi 12,5%. Berdasarkan gambar 1, pada grafik menunjukkan hasil diperoleh bahwa ekstrak 0,78% sampai 6,25% memiliki nilai absorbansi yang meningkat dari sebelum dan sesudah inkubasi sedangkan absorbansi pada konsentrasi 12,5% sampai 100% memiliki nilai absorbansi menurun dari sebelum dan sesudah inkubasi. Konsentrasi terendah yang tidak mengalami peningkatan nilai absorbansi setelah inkubasi ditetapkan sebagai nilai KHM. Sehingga nilai KHM terdapat pada konsentrasi 12,5% pada ekstrak daun pepaya. Tabel 4 Nilai Absorbansi KHM Ekstrak Daun Pepaya Terhadap Cutibacterium acnes Konsentrasi Ekstrak Daun Pepaya K (-) 0,78% 1,56% 3,12% 6,25% 12,50% K ( ) Keterangan : K( ) K(-) Perlakuan I 0,132 0,132 0,111 0,17 0,159 0,247 0,261 0,346 0,585 0,657 0,87 0,873 0,946 0,904 1,244 1,213 1,311 1,321 0,223 0,352 Hasil Perlakuan II 0,132 0,132 0,107 0,161 0,152 0,296 0,238 0,362 0,557 0,623 0,93 0,761 0,901 0,848 1,224 1,17 1,246 1,201 0,223 0,352 Rata-rata Perlakuan i 0,132 0,132 0,096 0,186 0,126 0,298 0,224 0,299 0,526 0,596 0,838 0,761 1,135 0,998 1,167 1,126 1,283 1,264 0,223 0,352 0,132 0,104 0,145 0,241 0,556 0,879 0,994 1,211 1,28 0,223 0,132 0,172 0,28 0,335 0,625 0,798 0,916 1,169 1,262 0,352 Ket KHM Tetap Naik Naik Naik Naik Turun Turun Turun Turun Naik KHM = Media Bakteri = Media Ekstrak = Sebelum Inkubasi = Sesudah Inkubasi KHM Gambar 1. Grafik nilai absorbansi KHM ekstrak daun pepaya terhadap Cutibacterium acnes. Tabel 5. Konsetrasi Bunuh Minimum Ekstrak Terhadap Cutibacterium acnes. Konsentrasi 6,25% 12,5% Pertumbuhan Koloni Tumbuh Tumbuh Tumbuh Tidak Tumbuh Keterangan KBM Hasil pengujian konsentrasi bunuh minimum pada tabel 4, menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya pada konsentrasi 6,25% sampai 25% masih memiliki aktivitas antibakteri yang dikategori belum dimana jumlah koloni yang terdapat lebih dari 10 koloni. Sedangkan pada konsentrasi 50% sudah Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. bisa dinyatakan KBM karena pada konsentrasi tersebut sudah tidak ditumbuhi oleh bakteri. Konsentrasi terendah yang sudah tidak tumbuh bakteri setelah inkubasi pada media MHA selama 24 jam ditetapkan sebagai nilai KBM. Sehingga nilai KBM terdapat pada konsentrasi 50% pada ekstrak daun pepaya. Pengamatan dilakukan dengan melihat pertumbuhan koloni bakteri pada media, dan pertumbuhan dinyatakan: (KBM) jika tidak terdapat koloni bakteri dalam petri. ( ) Terdapat pertumbuhan koloni bakteri dalam petri . Tabel 6. Nilai absorbansi KHM nanopartikel daun pepaya terhadap Konsentrasi Nanopartikel Daun pepaya K (-) 0,078% 0,156% 0,312% 0,62% 1,25% 2,5% K ( ) Keterangan : K( ) K(-) Perlakuan I 0,132 0,132 0,099 0,123 0,126 0,179 0,19 0,212 0,326 0,414 0,527 0,523 0,745 0,726 1,14 1,123 1,271 1,223 0,221 0,254 Hasil Perlakuan II 0,132 0,132 0,115 0,135 0,112 0,138 0,199 0,215 0,317 0,46 0,646 0,599 0,918 0,87 1,037 1,024 1,197 1,128 0,221 0,254 Rata-rata Perlakuan i 0,132 0,132 0,087 0,099 0,134 0,157 0,178 0,198 0,35 0,392 0,518 0,503 0,846 0,822 1,138 1,022 1,335 1,287 0,221 0,254 0,132 0,124 0,189 0,331 0,563 0,836 1,105 1,267 0,221 0,132 0,119 0,158 0,208 0,422 0,541 0,806 1,056 1,212 0,254 Ket Tetap Naik Naik Naik Naik Turun Turun Turun Turun Naik KHM = Media Bakteri = Media Ekstrak = Sebelum Inkubasi = Sesudah Inkubasi Nanopartikel ekstrak daun pepaya terhadap Cutibacterium acnes diperoleh bahwa ekstrak 0,078% sampai 0,625% memiliki nilai absorbansi yang meningkat dari sebelum dan sesudah inkubasi sedangkan absorbansi pada konsentrasi 1,25% sampai 10% memiliki nilai absorbansi menurun dari sebelum dan sesudah Konsentrasi terendah yang tidak mengalami peningkatan nilai absorbansi setelah inkubasi. Larutan uji senyawa antibakteri pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya pertumbuhan bakteri uji, ditetapkan sebagai kadar hambat minimal (KHM) . KHM Gambar 2 Grafik nilai absorbansi khm ekstrak daun pepaya terhadap Cutibacterium acnes Berdasarkan gambar 2, pada grafik menunjukkan hasil diperoleh bahwa nanopartikel ekstrak 0,078% sampai 0,625% memiliki nilai absorbansi yang meningkat dari sebelum dan sesudah inkubasi sedangkan absorbansi pada konsentrasi 1,25% sampai 10% memiliki nilai absorbansi menurun dari sebelum dan sesudah Konsentrasi terendah yang tidak mengalami peningkatan nilai absorbansi setelah inkubasi Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. ditetapkan sebagai nilai KHM. Sehingga nilai KHM terdapat pada konsentrasi 1,25% pada nanopartikel ekstrak daun pepaya. Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) perlu diketahui pada suatu ekstrak tanaman obat karena konsentrasi antibiotik terendah yang masih dapat menghambat pertumbuhan organisme tertentu . Tabel 7. Konsetrasi bunuh minimum nanopartikel ekstrak daun pepaya Terhadap Cutibacterium acnes Konsentrasi 0,625% 1,25% 2,5% Pertumbuhan Koloni Tumbuh Tumbuh Tumbuh Tidak Tumbuh Keterangan KBM Hasil pengujian konsentrasi bunuh minimum pada tabel 7, menunjukkan bahwa nanopartikel ekstrak daun pepaya pada konsentrasi 0,625% sampai 2,5% masih memiliki aktivitas antibakteri yang dikategori belum membunuh. Sedangkan pada konsentrasi 5% sudah bisa dinyatakan KBM karena pada konsentrasi tersebut sudah tidak ditumbuhi oleh bakteri. Konsentrasi terendah yang sudah tidak tumbuh bakteri setelah inkubasi pada media MHB selama 24 jam ditetapkan sebagai nilai KBM. Sehingga nilai KBM terdapat pada konsentrasi 5% pada nanopartikel ekstrak daun pepaya. (KBM) jika tidak terdapat koloni bakteri dalam petri. ( ) Terdapat pertumbuhan koloni bakteri dalam petri . Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun pepaya dan nanopartikel ekstrak etanol daun pepaya terhadap bakteri Cutibacterium acnes Tabel 8. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol dan nanopartikel ekstrak etanol daun pepaya terhadap Cutibacterium acnes. Konsentrasi (%) EDP NEDP KK6,25% 0,625% 12,5% 1,25% 2,5% Keterangan : EDP NEDP ZOI Rata-Rata ZOI . EDP NEDP Interpretasi EDP NEDP = Ekstrak Daun Pepaya = Nanopartikel Ekstrak Daun Pepaya = Resisten = Sensitif = Zone Of Inhibition Hasil pengujian aktivitas antibakteri pada tabel 8, menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya dan nanopartikel ekstrak daun pepaya dapat menghambat pertumbuhan Cutibacterium acnes. Hasil pengujian aktivitas antibakteri ekstrak daun pepaya terhadap Cutibacterium acnes diperoleh nilai Zone of Inhibition (ZOI) sebesar 23,4 mm . onsentrasi 6,25%), 25,7 mm . onsentrasi 12,5%), 26,3 mm . onsentrasi 25%) dan 28,3 mm . onsentrasi 50%). Sedangkan Hasil pengujian aktivitas antibakteri nanopartikel ekstrak daun pepaya terhadap Cutibacterium acnes diperoleh nilai Zone of Inhibition (ZOI) sebesar 23,9 mm . onsentrasi 0,625%), 25,9 mm . onsentrasi 1,25%), 26,5 mm . onsentrasi 2,5%) dan 28,7 mm . onsentrasi 5%). Hasil antibakteri ekstrak dan nanopartikel ekstrak menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasinya maka daya hambat yang diperoleh akan semakin besar seperti pada penelitian yang telah dilakukan Zanuary . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Gambar 3 Grafik zona hambat ekstrak dan nanopartikel ekstrak daun pepaya terhadap Cutibacterium acnes Pada gambar 3 pada grafik menunjukkan hasil diperoleh bahwa ekstrak dan nanopartikel ekstrak pada konsentrasi 50% dan 5% memiliki zona hambat yang berbeda. Dari grafik dapat dilihat pada konsentrasi ekstrak 50% zona hambat yang didapatkan 28,3 mm, sedangkan zona hambat yang didapatkan pada konsentrasi nanopartikel ekstrak 28,7 mm. Konsentrasi ekstrak 50% memiliki kemampuan aktivitas antibakteri yang sama dengan konsentrasi nanopartikel ekstrak 5% dengan kategori sama-sama sensitif. Menurut Europe Comitte on Antimicrobial Susceptibility Testing (EUCAST) tahun 2022, zona hambat Clindamicyn terhadap Cutibacterium acnes dikatakan Susceptible atau sensitive apabila zona hambat yang diperoleh Ou26mm dan dikatakan Resistent atau tahan apabila zona hambat yang diperoleh O26 mm. Rata-rata zona hambat yang dihasilkan dari pengujian ini pada kontrol positif Clindamycin dan pada konsentrasi 50 % dan 25% untuk ekstrak pada konsentrasi 5% dan 25% untuk nanopartikel menunjukkan kategori Susceptible atau sensitive Sedangkan pada konsentrasi 12,5%, 6,25% pada ekstrak dan Nanopartikel 1,25%, 0,625% diperoleh nilai rata-rata zona hambat O26 mm menunjukkan kategori resistent atau tahan. Ekstrak daun pepaya dapat dijadikan nanopartikel ekstrak, dimana dengan konsentrasi nanopartikel ekstrak 5% sudah memiliki kemampuan aktivitas antibakteri yang lebih tinggi daripada konsentrasi ekstrak etanol 50%, sehingga dapat dikatakan bahwa sediaan nanopartikel ekstrak dapat memperkecil dosis suatu Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diketahui daya hambat antibakteri ekstrak daun pepaya dan nanopartikel ekstrak daun pepaya efektif terhadap Cutibacterium acnes dengan terbentuknya zona Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi yang digunakan maka luas zona hambatnya semakin luas. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun pepaya dan nanopartikel ekstrak daun pepaya maka semakin banyak kandungan antibakteri yang terkandung didalamnya dan akan memiliki kemampuan lebih besar dalam menghambat Cutibacterium acnes. Perbedaan diameter zona hambat antara ekstrak daun pepaya dengan antibiotik yang digunakan karena ekstrak masih merupakan ekstrak kasar yang memiliki banyak senyawa lain sehingga memengaruhi kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan bakteri . Nanopartikel ekstrak dapat memperkecil dosis suatu obat karena pada konsentrasi yang kecil hampir setara zona hambatnya dengan ekstrak yang konsentrasinya lebih besar. Penyebab terjadinya hal tersebut dikarenakan adanya perbedaan ukuran partikel. Nanopartikel memiliki ukuran yang sangat kecil, biasanya dalam rentang 1-100 nm, sehingga lebih efektif menembus dinding sel bakteri dan juga memberikan mereka sifat unik dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Semakin kecil ukuran nanopartikel, semakin besar luas permukaan spesifiknya dibandingkan dengan massa total, sehingga meningkatkan kontak dengan sel bakteri dan efisiensi penghantaran agen antibakteri . Hal ini memungkinkan nanopartikel untuk menembus membran sel bakteri dengan lebih efisien, menghasilkan spesies oksigen reaktif (Reactive Oxygen Species. ROS), serta menyebabkan kerusakan struktural dan gangguan fungsi metabolisme sel bakteri . Mekanisme penghambatan bakteri oleh nanopartikel meliputi penetrasi yang lebih efektif pada dinding sel bakteri, yang terdiri dari lapisan lipid dan protein, sehingga menyebabkan kebocoran isi sitoplasma dan kematian sel . Selain itu, nanopartikel dapat berinteraksi dengan protein atau enzim esensial dalam bakteri, menghambat aktivitas enzimatik yang vital untuk metabolisme dan kelangsungan hidup bakteri . Produksi ROS, seperti superoksida, peroksida, dan radikal hidroksil, juga merupakan mekanisme utama yang merusak lipid, protein, dan DNA bakteri, mengakibatkan disfungsi seluler . Nanopartikel juga dapat meningkatkan permeabilitas membran sel, menyebabkan gangguan keseimbangan ionik yang diperlukan untuk proses fisiologis bakteri . Dengan afinitas yang lebih tinggi terhadap target spesifik pada bakteri, nanopartikel menawarkan mekanisme multifaktorial yang sulit diatasi oleh bakteri, sehingga mengurangi risiko resistensi . Oleh karena itu, semakin kecil ukuran nanopartikel, semakin efektif pula daya Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. hambatnya terhadap bakteri, dengan keunggulan tambahan berupa kebutuhan dosis yang lebih rendah untuk mencapai efek antibakteri yang optimal. Kontrol negatif dalam penelitian ini menggunakan dimetil sulfoksida (DMSO). DMSO dipilih karena kemampuannya sebagai pelarut yang efektif untuk melarutkan berbagai jenis senyawa, baik yang bersifat polar maupun non-polar. Selain itu. DMSO tidak menghasilkan zona hambat terhadap pertumbuhan bakteri, sehingga tidak memengaruhi atau mengganggu hasil pengamatan . Kontrol positif . sebagai pembanding menghasilkan zona hambat paling besar karena clindamycin merupakan antibiotik spektrum luas yang dapat menghambat bakteri gram positif dan negatif. Mekanisme clindamycin dalam menghambat bakteri dengan bergabung pada subunit ribosom, sehingga mencegah bergabungnya asam amino menjadi protein sehingga sintesis protein terganggu bahkan tidak berlangsung. Hal tersebut mengakibatkan kematian sel bakteri. Antibiotik dengan mekanisme mengganggu sintesis protein memiliki aktivitas antibakteri yang tinggi . Senyawa metabolit sekunder memiliki mekanisme antibakteri yang bervariasi, terutama dengan merusak dinding dan membran sel bakteri. Flavonoid yang bersifat polar menembus peptidoglikan melalui kesamaan polaritas, sedangkan fenol memutus ikatan peptidoglikan dan mengganggu struktur penyusunnya. Alkaloid menghambat sintesis dinding sel, yang menyebabkan ketidakstabilan fungsi permeabilitas dan pengangkutan aktif bakteri, berujung pada lisis sel . Kerusakan dinding sel memungkinkan senyawa lain seperti fenol dan flavonoid untuk merusak membran dengan membentuk kompleks protein yang mengganggu integritasnya. Saponin, sebagai senyawa seperti detergen, merusak struktur membran dengan berinteraksi dengan sterol dan fosfolipid, menyebabkan membran menjadi rapuh dan pecah . Tanin bekerja dengan mengasamkan lingkungan melalui pengikatan protein, menyebabkan denaturasi dan menghambat enzim bakteri. Selain itu, tanin mengganggu proses pembentukan DNA dan RNA bakteri. Fenol, pada konsentrasi rendah, merusak protein melalui kompleks lemah, sedangkan pada konsentrasi tinggi menyebabkan koagulasi protein dan lisis membran . Senyawa-senyawa ini bekerja secara sinergis untuk meningkatkan efektivitasnya dalam menghambat pertumbuhan dan mematikan bakteri . Dalam Gunawan & Rahayu . menyatakan bahwa semakin besar konsentrasi ekstrak tumbuhan yang memiliki senyawa antibakteri, maka daya hambat aktivitas antibakteri yang diperoleh semakin besar . Demikian juga dalam Rahayu et al. menyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak tanaman yang diuji maka diameter daya hambat aktivitas antibakteri yang diperoleh akan semakin besar . Menurut Rahayu et al. , . kemampuan antibakteri dari suatu ekstrak tanaman bergantung pada jenis tanaman dan kandungan senyawa metabolit yang terdapat pada tanaman tersebut dan jenis bakteri yang akan diuji . Menurut Fahira et al. , . sediaan dalam bentuk nanopartikel ekstrak tanaman dapat memperkecil dosis suatu obat. Nanopartikel ekstrak dapat memperkecil dosis suatu obat karena pada konsentrasi yang kecil hampir hampir setara zona hambat aktivitas antibakterinya dengan ekstrak yang konsentrasinya lebih besar . Penyebab terjadinya hal tersebut dikarenakan adanya perbedaan ukuran partikel. Nanopartikel memiliki ukuran yang sangat kecil sehingga lebih efektif menembus dinding sel bakteri dan menghambat pertumbuhan bakteri . Hasil uji normalitas pada ekstrak daun pepaya terhadap Cutibacterium acnes diketahui nilai p (Sig. 637 > 0. 05 maka H0 diterima data berdistribusi normal. Sehingga data dalam penelitian ini berasal dari populasi dalam sebaran yang normal dan dapat dilakukan pengujian statistic parametik one way anova. Hasil homogenitas ekstrak etanol daun pepaya memiliki nilai Sig. 014 Ou 0. 05, maka berdasarkan kriteria pengambilan keputusan dalam uji homogenitas di atas H0 diterima yang berarti varians kelompok tidak berbeda secara signifikan sehingga bermakna varians kelompok data yang dibandingkan adalah homogen. Data ANOVA diameter zona hambat ekstrak etanol daun pepaya terhadap Cutibacterium acnes menunjukkan nilai Sig. Sebesar 0,000 < 0,05 yang berarti bahwa terdapat perbedaan signifikan pemberian varian konsentrasi ekstrak etanol daun pepaya terhadap aktivitas antibakteri Cutibacterium acnes. Selanjutnya, untuk melihat kesamaan rata-rata varian konsentrasi ekstrak etanol terhadap aktivitas antibakteri Cutibacterium acnes digunakan uji lanjut (Post-Ho. Duncan. Hasil yang didapatkan konsentrasi ekstrak 6,25%, 12,5% dan 25% dan 50% berada pada kolom yang berbeda maka tiap perlakuan memiliki efek yang berbeda . terhadap variabel dependen. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Hasil uji normalitas pada nanopartikel ekstrak etanol daun pepaya terhadap Cutibacterium acnes diketahui nilai p (Sig. ) 0. 672 > 0. maka H0 diterima data berdistribusi normal. Sehingga data dalam penelitian ini berasal dari populasi dalam sebaran yang normal dan dapat dilakukan pengujian statistik one way anova. Hasil homogenitas nanopartikel ekstrak etanol daun pepaya memiliki nilai Sig. 005 O 0. 05, maka berdasarkan kriteria pengambilan keputusan dalam uji homogenitas di atas H0 diterima yang berarti varians kelompok tidak berbeda secara signifikan sehingga bermakna varians kelompok data yang dibandingkan adalah homogen. Data ANOVA diameter zona hambat nanopartikel ekstrak etanol daun pepaya terhadap bakteri Cutibacterium acnes menunjukkan nilai Sig. Sebesar 0,000 < 0,05 yang dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan pemberian varian konsentrasi nanopartikel ekstrak etanol daun pepaya terhadap aktivitas antibakteri Cutibacterium acnes. Selanjutnya, untuk melihat kesamaan rata-rata varian konsentrasi nanopartikel ekstrak etanol terhadap aktivitas antibakteri Cutibacterium acnes digunakan uji lanjut (Post-Ho. Duncan. Hasil yang didapat dari kontrol positif, kontrol negatif, konsentrasi nanopartikel ekstrak 0,625%, 1,25% dan 2,5% dan 5% berada pada kolom yang berbeda maka tiap perlakuan memiliki efek yang berbeda . terhadap variabel dependen. Kesimpulan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) nanopartikel ekstrak etanol daun pepaya sebesar 1,25% menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan ekstrak etanol daun pepaya tanpa nanopartikel sebesar 12,5%. Sementara itu. Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) nanopartikel ekstrak etanol daun pepaya sebesar 5% terbukti lebih efektif dibandingkan ekstrak etanol daun pepaya tanpa nanopartikel sebesar 50% terhadap bakteri Cutibacterium acnes. Selain itu, nanopartikel ekstrak etanol daun pepaya 5% menunjukkan kemampuan antibakteri yang setara dengan ekstrak etanol daun pepaya 50% dalam kategori sensitif terhadap Cutibacterium acnes. Hasil ini mengindikasikan bahwa nanopartikel ekstrak etanol daun pepaya pada konsentrasi 5% mampu mengurangi dosis senyawa antibakteri hingga sepuluh kali lipat dibandingkan ekstrak etanol daun pepaya tanpa nanopartikel pada konsentrasi 50% . Conflict of Interest Para penulis dengan tegas menyatakan bahwa penelitian ini sepenuhnya dilaksanakan secara independen, tanpa adanya campur tangan pihak luar maupun keterkaitan dengan kepentingan pribadi, finansial, atau profesional. Komitmen ini dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada konflik kepentingan yang dapat memengaruhi proses penelitian, interpretasi data, maupun kesimpulan yang dihasilkan. Dengan demikian, objektivitas dan integritas hasil penelitian tetap terjaga sesuai dengan standar etika ilmiah yang Acknowledgment Penulis menyampaikan apresiasi kepada Fakultas Farmasi Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah Medan atas dukungan fasilitas yang telah disediakan untuk mendukung pelaksanaan penelitian ini. Supplementary Materials Referensi