Vol. 3 No. 2 (Maret 2. 34 - 46 ISSN 2808-1587 Pena Jangkar http://jurnal. amnus-bjm. id/index. php/pena-jangkar MODEL PROBLEM BASED LEARNING BERBASIS BUDAYA LITERASI DIGITAL LAHAN BANTARAN SUNGAI PADA KONSEP SISTEM KOORDINASI MANUSIA TERHADAP KETERAMPILAN MEMECAHKAN MASALAH DAN HASIL BELAJAR PSIKOMOTORIK Khairunisa A 1. Amalia Rezeki 2. Firdaus Suwestian 3. David Bastian Sihombing4. Veby Senopati Silam 5. Fathulliansyah 6 Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin 1,2. Akademi Maritim Nusantara Banjarmasin 3,4,5,6 Info Artikel ________________ Sejarah Artikel: Diterima 08/08/2023 Disetujui 26/02/2024 Dipublikasikan 04/03/2024 ________________ Keywords: PBL. CLDW, Konsep sistem koordinasi Keterampilan memecahkan masalah. Hasil belajar psikomotorik _____________ ___ Abstrak Problem Based Learning adalah model pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Penelitian ini menggunakan eksperimen semu dengan desain penelitian Pre-Test and Post-Test with Non-Equivalent Control-Group Design. Penelitian ini bertujuan yaitu untuk mendeskripsikan apakah terdapat pengaruh model PBL berbasis CLDW pada konsep sistem koordinasi dapat meningkatkan keterampilan memecahkan masalah dan hasil belajar psikomotorik. Culture Literacy Digital Wetland merupakan salah satu media aplikasi dalam pembelajaran dengan mengakses perangkat pembelajaran pada E-learning. Teknik analisis data menggunakan SPSS yang diperoleh dari hasil pre-test, post-test dan video wawancara peserta didik. Berdasarkan hasil analisis data keterampilan memecahkan masalah peserta didik mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 23,04% dengan nilai terkoreksi sebesar 42,28 pada kelas kontrol dan peningkatan sebesar 32,72% dengan nilai terkoreksi sebesar 66,07 pada kelas Hasil belajar psikomotorik mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 22,29% dengan nilai terkoreksi sebesar 89,19 pada kelas kontrol dan peningkatan sebesar 24,32% dengan nilai terkoreksi sebesar 97,29 pada kelas Abstract Problem Based Learning is a learning model that presents contextual problems so as to stimulate learners to learn. This study used pseudo-experiments with Pre-Test and Post-Test research design with Non-Equivalent Control-Group Design. This study aims to describe whether the influence of CLDW-based PBL models on the concept of coordination systems can improve problem-solving skills and psychomotor learning outcomesCulture Literacy Digital Wetland is one of the application media in learning by accessing learning devices on E-learning. Data analysis techniques using SPSS obtained from pre-test, post-test and video interviews of students. Based on the results of data analysis, students' problem-solving skills experienced a significant increase of 23. 04% with a corrected value of 42. 28 in the control class and an increase of 32. with a corrected value of 66. 07 in the experimental class. Psychomotor learning outcomes experienced a significant increase of 22. 29% with a corrected value of 89. 19 in the control class and an increase of 24. 32% with a corrected value of 97. 29 in the experimental class. A 2024 Akademi Maritim Nusantara Banjarmasin Alamat korespondensi: E-mail: khairunisakhairunisa935@gmail. Khairunisa. Amalia Rezeki . Firdaus Suwestian . David Bastian Sihombing. Veby Senopati Silam/ Pena Jangkar PENDAHULUAN Pendidikan adalah kunci kemajuan negara. Meskipun zaman berbeda, guru harus mampu menunjukkan bahwa perbedaan zaman tidak menjadi tantangan bagi pengembangan keterampilan dan potensi siswa di era globalisasi. Pendidikan abad 21 menuntut pengembangan bakat yang sangat tinggi dan guru harus berinovasi dalam pembelajaran. Perubahan model pendidikan abad 21 yang dialami merupakan ciri era globalisasi yang tercermin dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Hasibuan & Prastowo. Berdasarkan observasi ke sekolah kurikulum yang digunakan untuk kelas XI ialah Kondisi nyata di lapangan masih ditemukan adanya tenaga pendidik yang menggunakan model konvensional belum sesuai dengan acuan kurikulum 2013, dimana tenaga pendidik bukan lagi sebagai teacher centered, melainkan sebagai fasilitator, motivator dan peserta didik berperan sebagai student centered. Kurikulum 2013 menggantikan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidika. atau kurikulum 2006 (Nurhasanah et al. , 2. Hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada pendidik biologi di teruna-taruni Amnus, yaitu pendidik masih dominan menggunakan model konvensional yaitu model direct instruction . embelajaran langsun. dengan ceramah dan diskusi kelompok serta pengerjaan tugas di LKS tanpa ada kegiatan praktikum. Media pembelajaran yang digunakan berupa LKS atau buku paket dan tidak menggunakan media pembelajaran berbasis teknologi. Kegiatan pembelajaran cenderung berpusat pada pendidik . eacher centere. , kurang bervariasi dan terkesan monoton. Peningkatan hasil belajar peserta didik dalam memecahkan masalah memerlukan penerapan situasi belajar yang menyenangkan, kegiatan yang merangsang berpikir kritis dan Salah satu solusi yang ditawarkan adalah pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning. Menurut Nuramin . , hasil belajar merupakan nilai yang dicapai peserta didik dalam proses pembelajaran berupa angka atau kalimat yang menunjukkan tingkat penguasaan mata pelajaran. Model PBL bertujuan yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh dan membentuk pengetahuan dengan cara yang efektif, terkait konteks dan terpadu. Pembelajaran model PBL memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempelajari materi akademik dan keterampilan pemecahan masalah dengan melibatkan mereka dalam dunia nyata. Model PBL memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memecahkan masalah, sehingga berpikir kritis peserta didik juga (Lutfiah, et al. , 2. Culture Literacy Digital Wetland (Budaya Literasi Digital Lahan Basa. sebagai sarana media pembelajaran yang digunakan peneliti agar memudahkan akses peserta didik untuk mencoba hal baru dalam menggunakan e-learning, berupa absensi, bahan ajar. Lembar Kerja Peserta Didik. Soal Pretest dan Postest. Culture Literasi Digital Wetland (CLDW) merupakan salah satu sarana pembelajaran yang berupa e-learning yang berisi bahan ajar, foto/video pembelajaran. LKPD, materi pembelajaran dan soal-soal yang berkaitan dengan potensi lingkungan lokal yaitu lingkungan lahan basah. CLDW diharapkan dapat memfasilitasi pembelajaran peserta didik dan dapat membantu peserta didik mempelajari potensi lokal lahan basah (Putra et al. , 2. Menurut (Putra & Utami, 2. , penggunaan CLDW menawarkan keunggulan seperti penyajian yang lebih interaktif dan dinamis serta penyajian elemen visual seperti gambar dan video. Khairunisa. Amalia Rezeki . Firdaus Suwestian . David Bastian Sihombing. Veby Senopati Silam/ Pena Jangkar Lahan basah bagi masyarakat di bantaran sungai perbandingannya orang yang tinggal di daratan dimana banyak faktor yang bisa dilihat dan berkaitan dengan sistem koordinasi, contohnya pada saat orang bisa atau tidak bisa berenang walaupun sama-sama menggunakan ban safety dengan terlihat orang yang tidak bisa berenang karena faktor kurangnya keseimbangan tubuh saat berada di sungai. Selain itu juga pada saat berbicara orang dipinggir sungai mempunyai nada yang khas yaitu keras dan lantang karena keseringan memanggil orang di seberang sungai dan di Banjarmasin juga adanya pasar terapung dimana kegiatan orang berdagang yang membiasakan mereka harus berbicara dengan keras. Hal ini dapat menambahkan kearifan lokal dengan kaitan pada materi sistem koordinasi manusia terkait lahan basah khususnya di daerah banjarmasin. Berdasarkan observasi ternyata pada pembelajaran biologi hasil belajar yang didapat masih belum optimal karena materi yang diberikan masih belum dipahami oleh peserta didik dengan baik. Menurut pendidik biologi bahwa materi sistem koordinasi manusia pada saat beliau mengajarkan terdapat kesulitan karena materi tersebut bersifat abstrak dan terkendala dalam menggunakan teknologi. Menurut Raida . , menyatakan bahwa topik biologi yang sulit untuk dipahami dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah sistem koordinasi Peserta didik juga kurang memahaminya, karena ketika pembelajaran kurang aktif dan kritis maka hasil belajar yang dicapai tidak maksimal. Tujuan pembelajaran adalah meningkatkan keterampilan peserta didik secara optimal, yang dilaksanakan sesuai dengan sintak model PBL (Setiawan & Koimah, 2. Menurut Setiawan . , salah satu cara untuk menyusun pembelajaran di sekitar prinsip-prinsip ini adalah dengan menggunakan pembelajaran ilmiah. Pendekatan saintifik berdasarkan kurikulum 2013 digunakan pada kelas biologi yang memperkuat sikap peserta didik terhadap sikap ilmiah. Sikap ilmiah merupakan kecenderungan untuk merespon dengan cara tertentu terhadap suatu masalah atau situasi tertentu secara konsisten, rasional dan objektif (Amintarti et al. , 2. Keterampilan yang harus dimiliki peserta didik setelah mempelajari materi sistem koordinasi manusia adalah keterampilan pemecahan masalah. Hasil belajar yang dicapai dalam penelitian ini adalah hasil belajar psikomotorik. Hal ini dikarenakan pembelajaran berbasis masalah lebih membutuhkan aktivitas motorik dari peserta didik dibandingkan dengan model pembelajaran lainnya, sehingga diharapkan hasil belajar psikomotorik akan meningkat dengan proses pembelajaran berbasis masalah. Dalam penelitian ini dirumuskan masalah apakah model PBL berbasis CLDW berpengaruh pada keterampilan pemecahan masalah dan hasil belajar psikomotorik peserta didik kelas XI. Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti, siswa, guru dan sekolah. METODE PENELITIAN Metode penelitian menggunakan rancangan ekperimen semu yang terdiri dari kelas eksperimen dan kontrol. Pada penelitian ini kelas eksperimen yaitu XI MIPA 3 . embelajaran dengan model PBL) sedangkan untuk kelas kontrol ada kelas XI MIPA 1 . embelajaran dengan model Direct Instructio. Desain rancangan yang digunakan adalah Pre-Test and Post-Test with non-equivalent control group design yaitu desain penelitian yang hanya terdapat dua kelompok yaitu kelompok eksperimen kontrol. Sebelum memberi perlakuan, kedua kelas terlebih dahulu diberi soal pre-test untuk mengetahui kemampuan awal kedua kelompok terhadap materi yang akan diajarkan, setelah diberi perlakuan, dilakukan tes akhir Khairunisa. Amalia Rezeki . Firdaus Suwestian . David Bastian Sihombing. Veby Senopati Silam/ Pena Jangkar berupa post-test untuk mengetahui hasil belajar peserta didik. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik SMAN 11 Banjarmasin. Sampel penelitian ditetapkan sebanyak dua kelas, pada kelas XI MIPA 1 berjumlah 35 orang dan kelas XI MIPA 3 berjumlah 37 orang dengan teknik purposive sampling, pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu. Rancangan penelitian kuasi eksperimen menggunakan Pre-Test and Post-Test with NonEquivalent Control-Group Design digambarkan pada tabel 1 sebagai berikut: Tabel 1. Model Rancangan Penelitian Kelas Eksperimen Kontrol Pretest Posttest Keterangan: : Pre-test Kelas Experimen : Pre-test Kelas Kontrol : Post-test Kelas Experimen : Post-test Kelas Kontrol : Pembelajaran dengan menggunakan model PBL (X. dan model DI (Pembelajaran langsun. (X. Gambar 1. Tampilan Menu Awal Culture Literacy Digital Wetland Variabel bebas meliputi model PBL dan variabel terikat dalam penelitian ini adalah keterampilan memecahkan masalah dan hasil belajar psikomotorik peserta didik yang diperoleh dari pre-test, post-test dan hasil pengamatan pendidik selama proses pembelajaran. Media pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran yaitu menggunakan elearning sesuai dengan kecakapan abad 21, e-learning yang digunakan yaitu Culture Literasi Digital Wetland (CLDW). Berikut langkah-langkah penggunaan Culture Literasi Digital Wetland (CLDW) pada saat pembelajaran yaitu : Pendidik mengarahkan peserta didik untuk login google, mengetik CLDW dan pilihlah bagian paling atas. Khairunisa. Amalia Rezeki . Firdaus Suwestian . David Bastian Sihombing. Veby Senopati Silam/ Pena Jangkar Peserta didik memilih pojok kanan atas untuk login Peserta didik diharapkan mengisi ussername dan password yang sudah dibagikan berupa file excel di Grup Whatsapp. Peserta didik memilih kursus yang tersedia sesuai dengan kelas dan sekolahnya Peserta didik dapat mengunduh Bahan Ajar serta perangkat pembelajaran lainnya. Peserta didik mengerjakan soal pre-test dan post-test di CLDW. Pendidik dapat mengecek hasil pre-test dan post-test di CLDW. Peserta didik dapat mengunduh dan mengumpulkan tugas LKPD pertemuan 1 dan 2 di CLDW. Peserta didik mengumpulkan Infografis melalui CLDW berupa file jpeg. Pendidik memberikan langsung penilaian LKPD dan infografis di CLDW. Peserta didik mengumpulkan link video wawancara di room CLDW yang sudah Keterampilan memecahkan masalah peserta didik ditentukan oleh hasil pre-test di awal pembelajaran dan hasil post-test di akhir pembelajaran. Hasil belajar psikomotorik peserta didik ditentukan berdasarkan pengamatan pendidik terhadap kinerja peserta didik selama proses pembelajaran. Kemudian, hasil evaluasi kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar psikomotorik siswa menggunakan SPSS 25 dianalisis untuk mendeskripsikan apakah model PBL berbasis CLDW yang digunakan berpengaruh pada kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar psikomotorik peserta didik HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis terhadap pre-test dan post-test keterampilan memecahkan masalah peserta didik menggunakan SPSS versi 25 diperoleh ada pengaruh PBL terhadap keterampilan memecahkan masalah yang dikemudian dilaksanakan uji lanjut untuk mengetahui berapa besar persentase peningkatan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Adapun grafik hasil pre-test dan post-test keterampilan memecahkan masalah siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontol tersaji pada Gambar 2. Data hasil keterampilan memecahkan masalah peserta didik Kontrol Pre-test Eksperimen Post-test Gambar 2. Grafik Data Hasil Keterampilan Memecahkan Masalah Peserta Didik Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, diperoleh hasil peserta didik pada kelas kontrol untuk nilai pre-test sebesar 31,42 dengan nilai post-test sebesar 53,14. Sedangkan pada Khairunisa. Amalia Rezeki . Firdaus Suwestian . David Bastian Sihombing. Veby Senopati Silam/ Pena Jangkar kelas eksperimen nilai pre-test siswa sebesar 44,32 dengan nilai post-test sebesar 87,83. Analisis juga dilakukan pada setiap indikator penilaian keterampilan memecahkan masalah. Keterampilan memecahkan masalah peserta didik terdiri dari tiga indikator yaitu merumuskan masalah, hipotesis dan kesimpulan. Adapun ringkasan hasil analisis keterampilan memecahkan masalah siswa pada setiap indikator tersaji dalam Tabel 2. Tabel 2. Hasil Analisis Keterampilan Memecahkan Masalah Pada Setiap Indikator Pre-test 55,67 51,43 62,09 Kontrol Post-test Peningkatan (%) 60,19 8,11 53,33 3,69 65,33 5,21 Pre-test 85,46 81,25 88,47 Eksperimen Post-test Peningkatan (%) 95,67 11,94 89,50 10,15 75,42 17,25 Berdasarkan analisis yang tersaji pada Tabel 2 menunjukkan bahwa peningkatan pada setiap indikator penilaian terjadi baik pada kelas kontrol maupun pada kelas eksperimen, tetapi peningkatan pada kelas eksperimen lebih besar daripada kelas kontrol. Adapun ringkasan peningkatan keterampilan memecahkan masalah pada setiap indikator tersaji pada Gambar 3. Persentase peningkatan keterampilan memecahkan masalah pada setiap 17,25 10,15 11,94 3,69 8,11 5,21 Kontrol Series1 Eksperimen 2Series2 3 Series3 Gambar 3. Grafik Peningkatan Keterampilan Memecahkan Masalah Pada Setiap Indikator Berdasarkan Gambar 3 dapat dilihat peningkatan terbesar terjadi pada kelas eksperimen setiap indikatornya. Pada indikator pertama yaitu merumuskan masalah, peningkatan di kelas kontrol sebesar 8,11%, sedangkan pada kelas eksperimen sebesar 11,94%. Pada indikator kedua yaitu merumuskan hipotesis terjadi peningkatan sebesar 3,69% pada kelas kontrol dan peningkatan sebesar 10,15% pada kelas eksperimen. Sementara itu, pada indikator ketiga yaitu merumuskan kesimpulan, peningkatan sebesar 5,21% terjadi pada kelas kontrol dan peningkatan sebesar 17,25% pada kelas eksperimen. Berdasarkan hasil analisis data, model PBL berbasis CLDW yang digunakan dalam penelitian secara signifikan meningkatkan keterampilan pemecahan masalah peserta didik dengan nilai terkoreksi sebesar 42,28 pada kelas kontrol dan 66,07 kelas eksperimen. Peningkatan keterampilan memecahkan masalah peserta didik pada kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol yaitu sebesar 32,72% kelas eksperimen dan 23,04% kelas Hasil ini diperoleh dari pre-test dan post-test yang dilakukan peserta didik di awal Khairunisa. Amalia Rezeki . Firdaus Suwestian . David Bastian Sihombing. Veby Senopati Silam/ Pena Jangkar dan akhir proses pembelajaran. Peningkatan yang signifikan ini juga didukung oleh beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Supiandi & Julung . menunjukkan bahwa hasil penelitian pada penggunaan model Problem Based Learning (PBL) secara konsisten karena telah terbukti keberhasilannya terhadap kemampuan memecahkan masalah dan hasil belajar kognitif Penelitian yang dilakukan oleh menerapkan pembelajaran dengan model PBL peningkatan kemampuan pemecahan masalah secara signifikan lebih baik dibandingkan dengan menggunakan model konvensional. Pada kelas eksperimen menggunakan model PBL terjadi peningkatan keterampilan memecahkan masalah peserta didik disebabkan karena salah satu ciri PBL adalah melatih peserta didik memecahkan masalah yang dihadapinya melalui langkah-langkah pembelajaran PBL (Arends, 2. Tahapan model PBL yang dilakukan pada penelitian ini terdiri dari mengorientasikan peserta didik terhadap masalah, mengorganisasikan peserta didik untuk belajar, membimbing penyelidikan individu maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Kelas eksperimen menggunakan model PBL dimana terdapat tahapan yaitu, pada sintak 1 PBL yaitu mengorientasikan peserta didik pada masalah dengan menyajikan sebuah video dari youtube terkait dengan kearifan lokal wisata siring menara pandang melalui penggunaan klotok yang masih sebagai transportasi di kawasan banjarmasin yang terkenal dengan daerah seribu sungai, peserta didik disini diberi apersepsi dan motivasi sehingga peserta didik dapat mengetahui materi yang akan diajarkan. Pada sintak 2 PBL yaitu mengorganisasikan peserta didik untuk belajar, dalam penelitian ini tidak hanya berfokus dengan pembelajaran dan model namun ingin memberikan pengalaman baru terhadap peserta didik mengenai penggunaan e-learning dalam bentuk CLDW dan kearifan lokal yang ada di banjamasin terkait lahan basah. Pada penelitian ini penggunaan aplikasi CLDW untuk memudahkan pemberian tugas dan materi berbasis teknologi kepada peserta didik dan pendidik serta untuk memecahkan masalah pembelajaran sejalan dengan penelitian Shute & Rahmi . bahwa motivasi penggunaan teknologi oleh pendidik di kelasnya sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar, meskipun sebenarnya penggunaan teknologi di kelas masih dipengaruhi oleh faktor. Pada sintak 3 PBL yaitu membimbing penyelidikan individu maupun kelompok, dalam tahap ini peserta didik membagi kelompok dan mencari pemecahan masalah dalam tugas yang diberikan berupa LKPD di CLDW, peserta didik harus mengunduh dan mengumpulkan kembali tugas pada room yang sudah disediakan. Hal ini sejalan dengan menurut Aziz . Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pembelajaran dengan cara dihadapkan pada satu masalah yang harus dipecahkan atau diselesaikan, baik secara individual maupun kelompok. Pada sintak 4 PBL yaitu mengembangkan dan menyajikan hasil karya peserta didik mempresentasikan hasil LKPD yang sudah di kerjakan dengan saling memberi masukan dan sarannya antar kelompok sehingga mendapatkan pengetahuan yang lebih luas dan diskusi berjalan dengan lancar. Pada sintak 5 PBL yaitu menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah tahap ini peserta didik dapat menyimpulkan apa saja yang dibahas dalam materi tersebut dan memberi kebermaknaan dalam pembelajaran serta mengerjakan tugas tambahan yang diberikan berupa membuat hasil karya/ produk berupa video wawancara terkait penyakit/ kelainan sistem saraf manusia dengan mencari narasumber yang bisa dipercaya dan hanya di dekat rumah secara Khairunisa. Amalia Rezeki . Firdaus Suwestian . David Bastian Sihombing. Veby Senopati Silam/ Pena Jangkar Pada kelas kontrol, pembelajaran berlangsung melalui ceramah dan diskusi. Pada awal proses pembelajaran, peserta didik diberikan pertanyaan tentang materi yang Kemudian pendidik menunjukkan materi berupa Power Point (PPT) tentang mata pelajaran tersebut dan peserta didik memperhatikan materi yang disampaikan oleh Di akhir pemaparan materi, peserta didik diberi kesempatan untuk bertanya tentang topik tersebut. Tahap selanjutnya, peserta didik diberikan tugas untuk mengerjakan soal yang terdapat dalam LKPD secara berkelompok. Pada pertemuan selanjutnya, peserta didik secara bergiliran mempresentasikan hasil diskusi terkait permasalahan yang teridentifikasi di LKPD, sedangkan peserta didik lainnya mengajukan pertanyaan kepada kelompok yang melakukan presentasi. Di akhir setiap presentasi, pendidik memberi siswa pengakuan atas topik yang disajikan. Pada kelas kontrol peserta didik tidak diberikan pelatihan dalam memecahkan masalah melalui proses pemecahan masalah secara runtun dan sesuai dengan indikator penilaian pemecahan masalah yaitu membuat rumusan masalah, merumuskan hipotesis, dan merumuskan kesimpulan. Hal ini menyebabkan keterampilan memecahkan peserta didik tidak terlatih, selain itu peserta didik hanya diberikan waktu sedikit dan tanpa melakukan investigasi yang mendalam berkaitan dengan permasalahan yang mereka dapatkan untuk dipecahkan dalam kelompok. Pemecahan masalah diperoleh dari sumber berupa buku dan penjelasan dari pendidik. Perbedaan proses pembelajaran yang digunakan inilah yang menyebabkan keterampilan memecahkan masalah peserta didik pada kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Adapun grafik hasil belajar psikomotorik dari data video wawancara pada kelas eksperimen dan kelas kontol tersaji pada Gambar 4. Hasil Belajar Psikomotorik Peserta Didik (Video Wawancar. Series1 Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Gambar 4. Grafik hasil belajar psikomotorik peserta didik . ideo wawancar. Berdasarkan gambar 4 hasil belajar psikomotorik yang didapat dari data video wawancara di kelas eksperimen nilai sebesar 97,29 dan kontrol 89,18. Analisis juga dilakukan pada setiap indikator penilaian video wawancara ada 4 yaitu keterampilan peserta didik menyajikan sistematika video . embukaan, isi konten dan penutu. , keterampilan peserta didik menyajikan kejelasan isi dan keruntutan isi video, kemampuan peserta didik melakukan wawancara dan keterampilan peserta didik mengatur kualitas video . ambar, suara, edito. Adapun ringkasan hasil analisis hasil belajar psikomotorik pada setiap indikator tersaji dalam Tabel 3. Khairunisa. Amalia Rezeki . Firdaus Suwestian . David Bastian Sihombing. Veby Senopati Silam/ Pena Jangkar Tabel 3. Hasil analisis hasil belajar psikomotorik Peserta didik pada setiap indikator Nilai Video Wawancara 89,18 Kontrol Jumlah Peningkatan (%) 21,05 89,18 10,53 89,18 7,02 89,18 5,73 Nilai Video Wawancara Eksperimen Jumlah Peningkatan (%) 97,29 8,27 7,75 97,29 97,29 97,29 Berdasarkan analisis yang disajikan pada tabel 3 dapat diketahui bahwa peningkatan pada setiap indikator meningkat baik pada kelas kontrol maupun kelas eksperimen, namun peningkatan pada kelas eksperimen lebih besar dibandingkan dengan kelas kontrol. Adapun ringkasan peningkatan keterampilan memecahkan masalah pada setiap indikator tersaji pada Gambar 5. Persentase Peningkatan Hasil Belajar Psikomotorik setiap Eksperimen 1 Series12 Kontrol 3Series2 4 Gambar 5. Grafik Peningkatan Hasil Belajar Psikomotorik pada Setiap Indikator Berdasarkan Gambar 5 di sajikan bahwa peningkatan terbesar terjadi pada kelas Pada indikator pertama yaitu keterampilan sistematika video, peningkatan di kelas kontrol sebesar 21,05%, sedangkan pada kelas eksperimen sebesar 24,8%. Pada indikator kedua yaitu keterampilan menyajikan kejelasan isi dan keruntutan isi video terjadi peningkatan sebesar 10. 53% pada kelas kontrol dan peningkatan sebesar 12,4% pada kelas Pada indikator ketiga yaitu kemampuan wawancara, peningkatan sebesar 7,02% terjadi pada kelas kontrol dan peningkatan sebesar 8,27% pada kelas eksperimen. Kemudian, pada indikator keempat yaitu keterampilan mengatur kualitas video peningkatan sebesar 5,73% kelas kontrol dan peningkatan sebesar 7,75% pada kelas Data tersebut kemudian SPSS 25 yaitu dengan uji normalitas yang digunakan untuk mengetahui bahwa data berdistribusi normal atau tidak. uji normalitas hasil belajar psikomotorik dapat dilihat pada tabel 4. Khairunisa. Amalia Rezeki . Firdaus Suwestian . David Bastian Sihombing. Veby Senopati Silam/ Pena Jangkar Tabel 4. Uji Normalitas Hasil Belajar Psikomotorik Indikator Hasil Belajar Psikomotorik Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Statistic Sig. ,208 ,000 Video Eksperimen Video ,290 ,000 Kontrol Lilliefors Significance Correction Shapiro-Wilk Statistic Sig. ,854 ,000 ,792 ,000 Berdasarkan tabel 4 menunjukkan nilai Asymp. Sig. -taile. < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, karena data tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Hasil uji homogenitas digunakan untuk mengetahui bahwa data homogen atau tidak. Uji homogenitas hasil belajar psikomotorik dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5. Uji Homogenitas Hasil Belajar Psikomotorik Hasil Belajar Psikomotorik Test of Homogeneity of Variances Levene Statistic Based on Mean 8,018 Based on Median 1,876 Based on Median and 1,876 with adjusted df Based on trimmed 8,018 Sig. 64,359 ,006 ,175 ,176 ,006 Berdasarkan tabel 5 hasil belajar psikomotorik didapatkan hasil uji homogenitas yaitu. Sig. < 0,05 . ,006 < 0,. , maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, karena varian kelompok populasi data adalah tidak sama. Uji hipotesis dilaksanakan setelah uji normalitas dan uji homogenitas. Langkah selanjutnya adalah uji T Non-Parametrik, yaitu Wilcoxon Signed Ranks Test. Ringkasan uji hipotesis hasil belajar psikomotorik dapat dilihat pada tabel 6. Tabel 6. Uji Hipotesis Hasil Belajar Psikomotorik Test Statisticsa Kelas - Hasil Belajar Psikomotor Asymp. Sig. -taile. Wilcoxon Signed Ranks Test Based on positive ranks. -7,513b ,000 Berdasarkan tabel 6 terlihat bahwa nilai Asymp. Sig. -taile. < 0,05 yaitu 0,000 < 0,05 maka H1 diterima dan Ho ditolak. Kesimpulan dari hasil belajar psikomotorik menunjukkan bahwa terdapat pengaruh penggunaan model pembelajaran PBL berbasis CLDW pada konsep sistem koordinasi manusia. Khairunisa. Amalia Rezeki . Firdaus Suwestian . David Bastian Sihombing. Veby Senopati Silam/ Pena Jangkar Hasil belajar psikomotorik peserta didik dilakukan dengan cara observasi pendidik terhadap kinerja peserta didik selama proses pembelajaran dengan menggunakan lembar Peningkatan hasil belajar psikomotorik peserta didik secara signifikan dengan nilai terkoreksi sebesar 89,19 pada kelas kontrol dan 97,29 kelas eksperimen. Peningkatan hasil belajar psikomotorik peserta didik pada kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol yaitu sebesar 24,32% kelas eksperimen dan 22,29% kelas kontrol. Berdasarkan analisis tersebut diketahui bahwa pada kelas kontrol dan kelas eksperimen terjadi peningkatan hasil belajar psikomotorik, hanya saja peningkatan di kelas eksperimen lebih besar jika dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal ini terjadi karena model pembelajaran yang digunakan di kelas eksperimen dan kelas kontrol berbeda. Pada kelas eksperimen digunakan model PBL yang menuntut peserta didik berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran yang digunakan pada kelas kontrol yaitu Direct Instruction . embelajaran Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Priadi . menjelaskan bahwa model PBL dapat meningkatkan rerata prestasi psikomotorik siswa. Peningkatan hasil belajar psikomotorik terdapat di sintak PBL 3 dan 4 (Membimbing penyelidikan kelompok dan mengembangkan hasil kary. , karena pada sintak tersebut peserta didik harus memecahkan masalah yaitu solusi dari penyakit/ kelainan pada subkonsep sistem saraf manusia dengan peserta didik mengembangkan atau membuat video wawancara, peserta didik secara mandiri yang masih dipantau atau diarahkan oleh pendidik untuk menyelesaikannya bisa membuka bahan ajar digital di CLDW atau literatur lainnya, pada proses ini pengerjaannya lebih cepat dan antar anggota kelompok peserta didik bekerjasama dengan baik dalam pembuatan video wawancara. Rerata kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas eksperimen karena terpengaruh juga penggunaan CLDW, kelas eksperimen terdapat bahan ajar digital yang disediakan di CLDW, yang didalamnya terdapat permasalahan di lahan basah daerah banjarmasin Kalimantan selatan. Pada tahap orientasi peserta didik diberi sebuah penayangan video tentang wisata kelotok yang ada di banjarmasin terkait dengan materi sistem saraf manusia hal ini lah berhubungan dengan CLDW dalam hal lahan basah yang membahas juga tentang kearifan lokal yang menjadi ciri khas kota banjarmasin yaitu kota seribu sungai. Menurut Putra, et, al. , . , sungai merupakan jantung kehidupan masyarakat di berbagai negara, berbagai aktivitas kehidupan sosial secara langsung maupun tidak langsung membentuk kearifan lokal dalam masyarakat. Kearifan lokal menjadi sarana penanaman budaya dan membela diri dari budaya asing yang negatif dan kearifan lokal yang diajarkan secara turun temurun akan diwariskan ke keturunan Culture Literacy Digital Wetland merupakan salah satu media penunjang dalam pembelajaran dengan meakses perangkat pembelajaran materi konsep sistem koordinasi manusia berupa bahan ajar, video pembelajaran, power point dan presensi kehadiran melalui CLDW. Website dapat diakses melalui internet dengan jaringan akses yang sangat luas. Website menjadi salah satu pilihan yang menarik dan menyenangkan untuk digunakan dalam Penggunaan website dapat menguntungkan pendidik maupun siswa untuk memperoleh informasi sebanyak-banyaknya secara cepat tanpa dibatasi ruang dan waktu. Peserta didik dapat mengakses bahan ajar tersebut dan membukanya untuk menemukan solusi dari permasalahan pada proses pembelajaran . ubkonsep sistem saraf manusi. dengan membuat video wawancara dan tempat pengumpulannya di CLDW sehingga lebih cepat selesai dan menghemat waktu pembelajaran juga. Menurut Hartono . , kelebihan e44 Khairunisa. Amalia Rezeki . Firdaus Suwestian . David Bastian Sihombing. Veby Senopati Silam/ Pena Jangkar learning adalah dapat meningkatkan proses belajar mengajar karena membutuhkan waktu dan biaya yang lebih sedikit. Selain itu, e-learning juga memudahkan peserta didik dalam mengakses materi pembelajaran dengan menggunakan sumber belajar. Sesuai juga dengan penelitian Putra, et, al. , . , bahwa penggunaan CLDW berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar. Penilaian hasil belajar psikomotor peserta didik dilakukan melalui lembar observasi pendidik selama proses pembelajaran dengan menunjukkan bahwa pada kelas eksperimen menunjukkan peningkatan lebih besar dari kelas kontrol karena peserta didik dituntut aktif dan kritis dalam pembelajaran dengan menggunakan model PBL. Sementara itu, peserta didik pada kelas kontrol dengan proses pembelajaran diskusi-presentasi kurang melakukan aktivitas fisik sehingga hasil belajar psikomotorik lebih rendah. Pendidik memberikan kritik dan saran dari hasil belajar psikomotorik pada tahap evaluasi. Tahap evaluasi ini peserta didik diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar psikomotorik pada proses pembelajaran Oleh karena itu, hasil belajar psikomotorik peserta didik kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Hairunnisa . menunjukkan bahwa model PBL dapat meningkatkan hasil belajar psikomotorik peserta didik pada konsep sistem koordinasi manusia. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka dapat diambil simpulan bahwa terdapat pengaruh model PBL berbasis CLDW terhadap keterampilan memecahkan masalah dan hasil belajar psikomotorik peserta didik. Saran dalam penelitian ini yaitu pada proses pembelajaran agar pendidik memperhatikan dan memanfaatkan waktu yang sudah ditentukan dengan baik sesuai KBM yang direncanakan serta perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan penggunaan model PBL pada konsep biologi lainnya. DAFTAR PUSTAKA