CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat https://journal. com/index. php/caradde Volume 7 | Nomor 3 | April . 5 e-ISSN: 2621-7910 dan p-ISSN: 2621-7961 DOI: https://doi. org/10. 31960/caradde. Optimalisasi Penggunaan Obat yang Rasional: Implementasi DAGUSIBU Yulius Evan Christian1. Sherly Tandi Arrang2 Kata Kunci: Pengelolaan Obat. Literasi Kesehatan. Edukasi Masyarakat. Keywords : Medication Management. Health Literacy. Community Education. Corespondensi Author Program Studi Farmasi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Jakarta. Indonesia Email: christian@atmajaya. Article History Received: 07-12-2024. Reviewed: 10-02-2025. Accepted: 22-03-2025. Available Online: 20-04-2025. Published: 29-04-2025 Abstrak. Program ini penting dilakukan karena banyak masyarakat belum memahami cara mendapatkan obat secara legal, menggunakan sesuai dosis, menyimpan untuk menjaga kualitas, dan membuangnya dengan aman. Kegiatan melibatkan 44 peserta, mayoritas perempuan berusia di atas 45 tahun, dengan sebagian besar berpendidikan rendah. Metode yang digunakan meliputi ceramah, simulasi praktis, diskusi, serta evaluasi melalui pretest dan posttest. Hasil pengetahuan peserta. Sebelum kegiatan, hanya 15,91 persen peserta berada dalam kategori baik, meningkat menjadi 38,64 persen setelah kegiatan. Peserta dalam kategori cukup juga mengalami peningkatan, sementara kategori kurang menurun dari 27,27 persen menjadi 18,18 persen. Kegiatan ini terbukti efektif dalam membantu peserta memahami pengelolaan obat, mulai dari membaca label, penyimpanan yang benar, hingga pembuangan yang aman. Kegiatan ini menunjukkan bahwa metode edukasi berbasis ceramah dan simulasi praktis mampu meningkatkan pemahaman literasi kesehatan masyarakat, dengan hasil yang menunjukkan perubahan positif, dengan adanya peningkatan hasil sebelum dan sesudah kegiatan. Abstract. This program is crucial as many people lack knowledge about legally obtaining medications, using them correctly, storing them to maintain quality, and disposing of them safely. The activity involved 44 participants, predominantly women over 45 years, with most having low educational backgrounds. Methods included lectures, practical simulations, group discussions, and evaluations through pretest and posttest. The results demonstrated a significant improvement in participants' knowledge. Before the program, only 15. 91 percent of participants were in the good category, increasing to 38. 64 percent after the program. Those with sufficient knowledge also increased, while the poor category decreased from 27. 27 percent to 18. 18 percent. In conclusion, the program significantly enhanced participants' knowledge, showing that lecture and practical simulation methods significantly improved public health This work is licensed under a Creative Commons Attribution 0 International License. @2025 by Author Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 3. April 2025 pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan obat yang baik dan DAGUSIBU mendorong masyarakat untuk mendapatkan obat dari sumber terpercaya, menggunakan obat sesuai dosis dan anjuran, menyimpannya dengan benar, serta membuang obat kadaluwarsa secara aman (Mewer et al. , 2. (Truly Anggraini, 2. (Avrila et al. , 2. Program ini juga mendukung Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (GeMa CerMa. yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan untuk meningkatkan penggunaan obat secara rasional (Elvira et al. , 2. (Prasetyawan et , 2. Implementasi DAGUSIBU menunjukkan hasil positif di berbagai wilayah Indonesia. Penelitian di Kabupaten Bantul masyarakat dari 27,5% menjadi 52,5% setelah diberikan edukasi (Al. Fildzah. Rheza, 2. Di Kampung Margoyudan, 68% masyarakat memiliki pemahaman baik tentang prinsip DAGUSIBU setelah program ini diterapkan, meskipun 23,9% lainnya masih dalam kategori cukup (Avrila et al. , 2. Selain itu, penelitian di Desa Salubomba menunjukkan DAGUSIBU masyarakat yang sebelumnya mayoritas berada pada kategori kurang (Hi et al. , 2. Namun, tantangan tetap ada, terutama di daerah terpencil di mana akses informasi Studi di Kabupaten Tangerang mengungkapkan bahwa 72% masyarakat masih salah dalam menggunakan obat, menyimpannya dengan benar (Sagala, 2. (Avrila et al. , 2. Selain itu, kurangnya perhatian masyarakat terhadap edukasi kesehatan juga menjadi kendala. Oleh karena itu, berbagai metode inovatif seperti penyuluhan daring dan media sosial telah diterapkan untuk meningkatkan jangkauan dan partisipasi masyarakat dan menjadi salah satu solusi yang baik untuk diterapkan (Al et , 2. (Verawaty et al. , 2. Keberhasilan program DAGUSIBU tidak hanya berdampak pada peningkatan kesehatan individu, tetapi juga pada Pengelolaan limbah obat yang benar dapat mencegah pencemaran air dan tanah serta melindungi Limbah obat yang dibuang secara PENDAHULUAN Obat adalah elemen penting dalam sistem mendiagnosis, mengobati, maupun mencegah Namun, pengelolaan obat yang tidak tepat, mulai dari cara mendapatkan, membuang, masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Praktik pengobatan sendiri atau swamedikasi, yang sering dilakukan tanpa pengetahuan yang memadai, menjadi salah satu penyebab utama permasalahan ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, sekitar 79,74% masyarakat Indonesia melakukan swamedikasi, dengan wilayah Kalimantan Selatan mencatat angka tertinggi, yakni 89% (Mewer. Mahulauw, et al. , 2. (Prasetyawan et al. , 2. Praktik swamedikasi yang tidak diiringi edukasi yang memadai meningkatkan risiko efek samping obat, interaksi obat yang berbahaya, serta resistensi antimikroba, terutama antibiotik. Laporan World Health Organization (WHO) pada 2024 menunjukkan bahwa tingkat resistensi bakteri terhadap antibiotik di Indonesia meningkat dari 40% pada 2013 menjadi 60,4% pada 2023 (Truly Anggraini, 2. Selain itu, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penyimpanan obat yang tepat menjadi penyebab lain dari masalah ini. Penelitian menunjukkan bahwa 25% masyarakat tidak menyimpan obat sesuai aturan, seperti di tempat yang tidak lembap dan jauh dari sinar matahari langsung. Kesalahan ini dapat menurunkan kualitas obat dan membahayakan pengguna (Sagala, 2. (Hi. Sene, & Nurfadilah, 2. (Truly Anggraini, 2. Masalah lainnya adalah pembuangan limbah obat yang sembarangan. Banyak masyarakat membuang obat ke tempat sampah umum atau saluran air tanpa menyadari dampaknya. Limbah obat dapat mencemari tanah dan air, mengganggu keseimbangan ekosistem, dan meningkatkan risiko paparan bahan kimia berbahaya pada lingkungan dan manusia (Prasetyawan et al. (Truly Anggraini, 2. Usaha dalam menjawab tantangan ini. Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) "Dapatkan. Gunakan. Simpan. Buang" (DAGUSIBU). Program Christian & Arrang . Optimalisasi Penggunaan Obat yang Rasional. tidak hanya mencemari menimbulkan resistensi antimikroba yang (Prasetyawan et al. , 2. (Truly Anggraini. Kegiatan pengabdian masyarakat berbasis DAGUSIBU bertujuan untuk tentang pengelolaan obat yang benar. Selain mengurangi risiko kesalahan penggunaan obat serta mendorong perilaku bertanggung jawab dalam pengelolaan limbah obat. Dengan pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan, diharapkan program ini mampu menciptakan perubahan perilaku kolektif yang mendukung kesehatan individu dan lingkungan. Melalui partisipasi aktif berbagai pihak, termasuk tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat, program DAGUSIBU dapat menjadi solusi efektif untuk mengatasi tantangan pengelolaan obat di Indonesia. Evaluasi berkelanjutan akan memastikan keberlanjutan program ini dalam memberikan dampak positif bagi masyarakat (Verawaty 2. (Sagala, 2. pelaksanaan kegiatan dapat dilihat pada bagan dibawah ini. Gambar 1 Tahapan pelaksanaan kegiatan edukasi kepada warga Tahap 1 yaitu tahap perencanaan dan persiapan terdiri atas penyusunan proposal kegiatan, pengurusan perizinan dan survey lokasi kegiatan, serta diskusi dengan perangkat desa terkait rencana pelaksanaan Pada tahap ini juga dilakukan persiapan-persiapan, berupa persiapan sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan, menyebarkan pamflet dan undangan kepada warga, serta penyusunan kuesioner. Tahap 2 yaitu pelaksanaan kegiatan, diawali dengan penyampaian materi . haring sessio. , sesi tanya jawab. Tahap 3 yaitu tindak lanjut kegiatan berupa pemberian kuesioner pada peserta untuk menilai apakah ada perubahan rata-rata skor pada kegiatan sebelum dan sesudah pelaksanaan kegiatan. Kuesioner terdiri atas 15 pertanyaan pengetahuan terkait DAGUSIBU, masing-masing pertanyaan memiliki pilihan jawaban AuyaAy dan AutidakAy. Pengukuran penggunaan kuesioner yang mencakup pertanyaan terkait materi yang ingin diuji. Setiap nilai peserta untuk mengukur tingkat Dari nilai yang didapatkan peserta, kemudian dikategori menurut tingkatannya. Tingkat pengetahuan, dibagi menjadi 3 yaitu O60% 61Ae79% pengetahuan cukup, dan nilai Ou80% berarti pengetahuan baik. METODE Edukasi DAGUSIBU ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2024 di desa Banjarsari. Kecamatan Pangalengan. Kabupaten Bandung. Jawa Barat. Metode edukasi Nama Usia (Tahu. Beri tanda centang (O. Laki-laki Jenis Kelamin Perempuan SMP SMA Pendidikan Tabel 1. Kuisioner DAGUSIBU (Dapatkan. Gunakan. Simpan. Buang Oba. Perguruan tinggi Lainnya dengan ceramah dan diskusi. Kegiatan ini dihadiri 44 orang. Kegiatan ini diawali dengan pengisian daftar kehadiran peserta, kemudian diberikan waktu untuk mengisi pemahaman awal peserta sebelum dilakukan kegiatan edukasi dan diakhiri dengan Adapun Pernyataan Cara mendapatkan obat Golongan obat keras dengan logo boleh dibeli tanpa resep dokter Obat bebas . erlogo hija. dapat dibeli di apotek atau toko obat berizin Cara Menggunakan Obat Parasetamol hanya dapat digunakan sebagai obat penurun panas Oo/x Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 3. April 2025 Pernyataan Oo/x Obat pengencer dahak . ontoh: OBH) dapat mengatasi batuk kering Tablet obat maagh . ontoh: promag, mylanta, polysilan. harus dikunyah saat perut kosong. Aturan pakai obat 3 kali sehari artinya obat wajib diminum setiap 8 jam Aturan pakai obat 2 kali sehari artinya obat wajib diminum setiap12 jam Cara Menyimpan Obat Obat yang sudah dibuka kemasannya harus disimpan di lemari pendingin atau Obat tetes mata yang sudah dibuka dapat disimpan dan digunakan kembali sampai batas expired date pada kemasan Obat salep mata dapat disimpan ditempat kering dan sejuk pada suhu 15-25 AC Obat dapat disimpan dimobil dalam jangka waktu yang lama Cara membuang obat Obat yang mengalami perubahan warna, bau, bentuk dan rasa harus segera dibuang walaupun belum kadaluwarsa Obat dapat langsung dibuang pada tempat pembuangan sampah Obat bentuk tablet dibuang dengan cara dikeluarkan dari kemasannya lalu Obat dapat langsung dibuang bersama kemasan/wadah aslinya bebas, dengan logo lingkaran hijau, dapat dibeli tanpa resep dokter di apotek atau toko (Annisa Kunci, 2. (Wulandari, 2. (Pitasari, 2. Penggunaan obat juga menjadi salah satu fokus penting dalam program ini. Peserta diedukasi untuk menggunakan obat sesuai aturan, baik dari segi dosis maupun frekuensi. Contohnya, aturan pakai "3 kali sehari" berarti obat harus diminum setiap 8 jam, sedangkan aturan "2 kali sehari" mengacu pada konsumsi setiap 12 jam. Pemahaman ini efektivitas obat tanpa risiko overdosis atau efek samping yang merugikan. Selain itu, peserta juga diajarkan bahwa penggunaan obat tertentu harus disesuaikan dengan indikasi yang dianjurkan untuk menghindari pemakaian obat yang tidak tepat (Candra. Oktaviani, et al. , 2. (Amalin. Maharani, 2. (Pitasari, 2. Aspek ditekankan untuk menjaga kualitas obat hingga masa penggunaannya. Obat yang sudah dibuka kemasannya, seperti obat cair atau sirup, harus disimpan di lemari pendingin untuk menjaga stabilitasnya. Obat tetes mata yang sudah dibuka dapat digunakan hingga batas waktu kedaluwarsa asalkan disimpan sesuai petunjuk, sementara salep mata perlu disimpan di tempat yang kering dan sejuk pada suhu 15Ae25 AC. Peserta diingatkan untuk tidak menyimpan obat dalam kendaraan dalam waktu lama karena suhu yang tidak stabil dapat merusak kualitas (Wulandari,2. (Pitasari, 2. (Ramadhani. Erlianti,et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Program DAGUSIBU (Dapatkan. Gunakan. Simpan, dan Buang Obat dengan Bena. bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengelolaan obat yang aman dan tepat guna, meningkatkan penggunaan obat. Aspek cara mendapatkan obat, masyarakat diajarkan mengenali jenis obat berdasarkan logonya. Obat keras, yang ditandai dengan logo lingkaran merah dengan garis tepi hitam serta terdapat huruf K di bagian tengahnya, hanya boleh diperoleh dengan resep dokter karena membutuhkan pengawasan medis. Sementara itu, obat Gambar 2. Penyampaian materi DAGUSIBU Pada aspek pembuangan obat, peserta diajarkan pentingnya membuang obat secara aman untuk mencegah dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan. Obat Christian & Arrang . Optimalisasi Penggunaan Obat yang Rasional. yang mengalami perubahan warna, bau, bentuk, atau rasa harus segera dibuang. Obat berbentuk tablet sebaiknya dibuang, sedangkan obat cair dapat dibuang bersama kemasan aslinya asalkan dilakukan dengan cara yang aman. Obat yang dibuang sembarangan dapat mencemari lingkungan atau berisiko disalahgunakan, sehingga langkah ini menjadi bagian penting dari edukasi (Ris. Ahmad,et al. , 2. (Noviani. Rachmawati, et al. , 2. (Pitasari, 2. Kemampaun DAGUSIBU ini, masyarakat diharapkan mampu mengelola obat dengan bijak. Hal ini tidak hanya memastikan penggunaan obat yang aman dan efektif, tetapi juga menjaga lingkungan dan kesehatan masyarakat secara Program ini menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kesadaran kesehatan dalam masyarakat (Ramadhani et , 2. (Nurmalik, et al. , 2. (Ayu. Maharani,et al. , 2. Program DAGUSIBU (Dapatkan. Gunakan. Simpan, dan Buan. berhasil dilaksanakan dengan melibatkan 44 peserta, terdiri dari 4 laki-laki . ,09%) dan 40 perempuan . ,09%). Dominasi peserta perempuan menunjukkan keterkaitan yang kuat dengan peran mereka dalam pengelolaan obat di rumah tangga, namun minimnya keterlibatan laki-laki menjadi perhatian penting, karena tanggung jawab kesehatan keluarga semestinya melibatkan seluruh anggota (Oktaviani, 2. (Fatimah,et al. Partisipasi laki-laki yang rendah ini dapat diatasi dengan melibatkan tokoh masyarakat laki-laki dalam sosialisasi di masa Berdasarkan dari sisi usia, mayoritas peserta berusia 21-35 tahun berjumlah 11 orang . %), 36-45 tahun berjumlah 8 orang . ,18%) dan di atas 45 tahun berjumlah 25 orang . ,82%). Mayoritas peserta berada diusia lebih dari 45 tahun, yang cenderung memiliki daya tangkap lebih lambat dibandingkan usia yang lebih muda. Hal ini ditunjang dengan tingkat pendidikan peserta yang mayoritas tamatan SD dan SMP . ,55%), sehingga memerlukan metode edukasi yang lebih sederhana dan mudah (Purwanto Cakrawati, 2. (Urfiyya et al. , 2. Faktor usia dan pendidikan berkontribusi pada hasil pretest yang diperoleh, menunjukkan 15,91% peserta memiliki pengetahuan baik, sementara sebagian besar berada di kategori cukup . ,82%) dan kurang . ,27%) (Lutsina. Kristyanti,et al. , 2. (Christian. Panjaitan, & Tiana, 2. Tabel 2. Karakterisik Responden Jumlah . Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Pendidikan SMP SMA Tidak Usia 21Ae35 36Ae45 >45 Karakteristik Persentase (%) 90,91 9,09 40,91 38,64 18,18 2,27 18,18 56,82 Metode ceramah yang digunakan memiliki keunggulan dalam menyampaikan materi kepada kelompok besar dalam waktu Metode ini efektif untuk memberikan DAGUSIBU, terutama bagi peserta yang memiliki literasi rendah. Namun, sifat ceramah yang cenderung pasif dapat mengurangi interaktivitas dan retensi materi. Mengatasi hal ini, diperlukan inovasi dalam penyampaian materi, seperti menggunakan media visual berupa video, gambar ilustratif, atau simulasi langsung (Urfiyya et al. , 2. (Christian. , et al. , 2. Adanya metode ini, peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung tentang cara membaca label obat, menyimpan obat dengan benar, atau membuang obat secara aman (Journal. Christian. Panjaitan. Ramadhan, & Hardianti, 2. (Christian. Luvita. , & Miranda. Interaktivitas juga dapat ditingkatkan melalui sesi tanya jawab dan diskusi kelompok kecil untuk memberikan ruang kepada peserta bertanya dan berbagi pengalaman (Anugerah, 2. (Christian,Panjaitan,Wibowo, 2. Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 3. April 2025 Tabel 3 Tingkat Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Edukasi DAGUSIBU Pretest Tingkat Pengetahuan Posttest % Rendah Cukup 27,27 8 56,82 19 18,18 43,18 Baik 15,91 17 38,64 Tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah kegiatan Gambar 4. Foto Bersama peserta dan panitia DAGUSIBU 18,18 27,27 Kurang 43,18 Agar meningkatkan efektivitas program di masa depan, disarankan agar pendekatan berbasis komunitas lebih diutamakan, seperti melibatkan tokoh masyarakat atau kader kesehatan yang dapat menyampaikan materi dengan cara yang lebih personal dan relevan bagi peserta (Lutsina et al. , 2. (Christian, , et al. , 2. Penggunaan bahasa lokal juga dapat membantu menyederhanakan konsep yang disampaikan (Urfiyya et al. (Christian. Luvita. , & Miranda. Selain itu, simulasi praktis tentang pengelolaan obat, seperti cara menyimpan obat sesuai jenisnya atau cara menghancurkan obat sebelum dibuang, dapat memberikan pengalaman langsung kepada peserta dan memperkuat pemahaman mereka (Journal et al. , 2. (Christian. , & Sari, . Program ini juga perlu dipadukan dengan sesi diskusi kelompok untuk meningkatkan keterlibatan peserta dan memberikan kesempatan mereka bertanya mendalam(Anugerah, 2. (Christian et al. , 2. Pendekatan yang lebih inklusif dan beragam, program DAGUSIBU diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan peserta tetapi juga mendorong perubahan perilaku dalam pengelolaan obat yang lebih baik. Hal ini pada akhirnya dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan (Dagusibu et al. , 2. (Christian. Luvita. , & Miranda. 56,82 Cukup 38,64 Baik 0,00 15,91 10,00 20,00 30,00 %Postest 40,00 50,00 60,00 % Pretest Gambar 3. Grafik tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah kegiatan Hasil posttest menunjukkan adanya peningkatan, dengan persentase kategori baik meningkat dari 7 orang . ,91%) menjadi 17 orang . ,64%), kategori cukup menjadi 19 orang . ,18%), dan kategori kurang dari 12 orang . ,27%) menjadi 8 orang . ,18%). Meski demikian, angka peserta dengan pengetahuan baik masih tergolong rendah, menandakan perlunya perbaikan pada metode edukasi (Purwanto & Cakrawati, 2. (Christian et al. , 2. Durasi kegiatan yang singkat menjadi salah satu kendala penambahan durasi atau sesi edukasi lanjutan (Dagusibu et al. , 2. (Christian. , et , 2. Selain itu, pemberian materi tambahan seperti leaflet atau panduan sederhana yang disertai ilustrasi menarik dapat membantu peserta mengingat kembali materi setelah pelatihan. Evaluasi lanjutan melalui survei atau kunjungan rumah juga penting untuk memastikan penerapan konsep DAGUSIBU di kehidupan sehari-hari (Anugerah, 2. (Journal et al. , 2. Christian & Arrang . Optimalisasi Penggunaan Obat yang Rasional. 3059 Krepa : Kreativitas Pada Abdimas. Jurnal Krepa : Kreativitas Pada Pengabdian, 02. , 90Ae104. SIMPULAN DAN SARAN Program DAGUSIBU meningkatkan pengetahuan peserta tentang pengelolaan obat, dengan hasil posttest menunjukkan peningkatan kategori baik dari 15,91% menjadi 38,64%. Edukasi ini efektif dalam memperkenalkan cara mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat secara aman, serta relevan bagi masyarakat, terutama dalam peran keluarga. Evaluasi untuk pengembangan ke depan, disarankan penggunaan media visual, simulasi praktis, dan diskusi kelompok untuk meningkatkan interaktivitas. Pendekatan berbasis komunitas dengan melibatkan tokoh lokal dan sesi tindak lanjut juga penting untuk memperkuat penerapan konsep DAGUSIBU dalam kehidupan sehari-hari. Strategi ini diharapkan dapat semakin meningkatkan literasi kesehatan masyarakat dan mendorong perubahan perilaku yang lebih baik. Avrila. Mursiany. Umboro. Tinggi. Kesehatan. Qamarul. & Badaruddin. Gambaran Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Dagusibu Obat Di Kampung Margoyudan Kota Surakarta. Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia, 6. Ayu. Maharani. , & Agustina. Penyuluhan Dagusibu Dan Skrining Penyakit Hipertensi Dan Diabetes Melitus Pada Siswa Man 1 Kukar . Desa Kota Bangun Ulu . Kutai Kartanegara . Kalimantan Timur. Journal Of Human And Education, 4. , 391Ae397. Candra. Oktaviani. Muliana. Elfasyari. , & Nursyidah. Edukasi Dagusibu Pada AnakAnak Panti Asuhan Istana Yatim AlJufri. Journal Of Human And Education (Jah. , 4. , 179Ae184. Https://Doi. Org/10. 31004/Jh. V4i1. DAFTAR PUSTAKA