DEVOTE: Jurnal Pengabdian Masyarakat Global id/index. php/devote Vol. No. 4, 2024 e-ISSN: 2962-4029 HARI SANTRI NASIONAL: PELATIHAN SENI TEATER SEBAGAI UPAYA MEMPERKUAT KARAKTER SANTRI Rapi Renda. Nahdlatuzzainiyah . Galih Suryadmaja. Baiq Larre Ginggit Sekar Wangi. Taufik Mawardi. I Wayan Kusuma Di Biagi. Program Studi Seni Pertunjukan. Universitas Bumigora. Mataram. Indonesia *Corresponding Author: galihsuryadmaja@gmail. Article Info Article History: Received November 29, 2024 Revised December 5,2024 Accepted December 20, 2024 Keywords: Hari Santri. Pesantren. Teater. Karakter Santri. Pelatihan Seni ABSTRAK Hari Santri Nasional merupakan momentum untuk memperkuat dan menanamkan tradisi pesantren di Indonesia. Di dalam memperingati perayaan hari santri, pondok pesantren Jihadul Ummah melaksanakannya dengan menyelenggarakan pentas seni. Hal itu merupakan sebuah wacana yang coba digagas untuk menjaga tradisi Di mana pesantren tidak hanya sekedar menjadi Lembaga pendidikan, melainkan juga menjadi ruang untuk melestarikan kebudayaan. Teater dipilih sebagai media dalam proses pendidikan karakter yang dimaksud. Berdasarkan uraian di atas maka penting untuk melakukan pendampingan dalam pelatihan tetaer. Di dalam pelaksanaannya, kegiatan ini dilakukan dengan pendekatan Pelatihan dan Penguatan Kapasitas yang memiliki tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan komunitas, dalam hal ini adalah masyarakat para santri dari Pondok Pesantren Jihadul Ummah Puyung. Lombok Tengah. Di dalam pelaksanaannya, pembinaan dilakukan dengan menggunakan pendekatan personal yang meliputi demontrasi dan ceramah, latihan, dan pengembangan. Pelaksanaan dilakukan dengan operasionalisasi program yang terdiri dari dua tahapan, meliputi persiapan dan pelaksanaan. ABSTRACT Copyright A 2024. The Author. This is an open access article under the CCAeBY-SA license National Santri Day is a momentum to strengthen and instill Islamic boarding school traditions in Indonesia. In commemorating the celebration of Santri Day, the Jihadul Ummah Islamic boarding school carries it out by holding an art performance. This is a discourse that is trying to be initiated to maintain Islamic boarding school Where Islamic boarding schools are not just educational institutions, but also a space for preserving culture. Theater was chosen as a medium in the character education process in question. Based on the description above, it is important to provide assistance in educational training. In its implementation, this activity was carried out using a Training and Capacity Strengthening approach which aims to increase the knowledge and abilities of the community, in this case the community of students from the Jihadul Ummah Puyung Islamic Boarding School. Central Lombok. In its implementation, coaching is carried out using a personal approach which includes demonstrations and lectures, training and development. Implementation is carried out by operationalizing the program which consists of two stages, including preparation and implementation. How to cite: Renda. Nahdlatuzzainiyah. Suryadmaja. , & Wangi. Mawardi. Biagi. , . HARI SANTRI NASIONAL: PELATIHAN SENI TEATER SEBAGAI UPAYA MEMPERKUAT KARAKTER SANTRI. Devote : Jurnal Pengabdian Masyarakat Global, 3. , 165Ae173. https://doi. org/10. 55681/devote. PENDAHULUAN Hari Santri Nasional merupakan hari peringatan untuk santri di seluruh Indonesia. Hari santri mulai ditetapkan pada masa pemerintan presiden Ir. Jokowidodo. Hari Santri Nasional diperingati di Indonesia setiap tanggal 22 Oktober setiap tahunnya. Momentum Hari Santri diperingati untuk memperkuat dan menanamkan tradisi pesanteren di Indonesia. Santri memiliki kontribusi yang sangat luas ditengah-tengah Santri indentik dengan tradisi pesantren dimana nilai-nilai agama sebagai pembentuk karakter dan pengontrol kehidupan yang menekankan moral baik selalu dijunjung tinggi dan dilandaskan oleh nilainilai agama. Peringatan Hari Santri Nasional sesuai dengan Keputusan Presiden (Keppre. Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri. Adapun tujuan dari peringatan itu adalah memperingati peran org/10. 55681/devote. | 165 Renda et al org/10. 55681/devote. santri dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Digelarnya Hari Santri Nasional, diharapkan seluruh masyarakat Indonesia diharapkan mampu mengingat, meneladani serta melanjutkan peran para ulama dan santri dalam mempertahankan NKRI. Tahun 2023. Hari Santri Nasional diperingati dengan tema "Jihad Santri Jayakan Negeri" tema itu memberi pesan untuk merayakan semangat dan dedikasi santri sebagai pahlawan-pahlawan pendidikan dan perjuangan melawan kebodohan. Di zaman yang penuh tantangan seperti sekarang, jihad tidak lagi memiliki arti pertempuran secara fisik, tapi perjuangan intelektual dan sosial. Peringatan Hari Santri Nasional biasanya dilakukan di berbagai daerah dengan kegiatan zikir, shalawat, munajat, doa bersama, serta kegiatan lainnya (Tamaim, 2. Hari santri tidak hanya menjadi momentum seremonial, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat citra dan karakter santri dalam konteks Pembangunan bangsa. Karakter santri yang tidak hanya memiliki intelektualitas dan pengetahuan, akan tetapi juga memiliki akhlak yang baik (Hudayana, 2021. Ismail et al. , 2. Untuk tujuan itu, setiap pondok pesantren tentu memiliki strategi yang berbeda dalam perwujudannya dalam proses pendidikan karakter. Adapun pendidikan karakter dalam konteks ini ditujukan untuk menghadirkan santri sebagai sosok yang bijak dalam mengambil keputusan. Sosok yang senantiasa menjadikan pengetahuan dan akhlak sebagai pijakan dalam pengambilan keputusan. Pendidikan karakter tidak hanya dilakukan dalam proses pelaksanaan pembelajaran di ruang-ruang Pembelajaran ini dapat juga dilakukan melalui pealatihan keaktoran . (Zulianto et al. , 2. Sebagaimana yang dilakukan Yayasan pondok pesantren Jihadul Ummah yang terletak di desa Puyung, kabupaten Lombok Tengah. Di dalam memperingati perayaan hari santri, pondok pesantren ini mencooba untuk memanfaatkannya sebagai momentum untuk memperkuat karakter santri dengan melaksanakan pementasan seni. Di dalam memperingati perayaan hari santri, pondok pesantren Jihadul Ummah melaksanakannya dengan menyelenggarakan pentas seni. Hal itu merupakan sebuah wacana yang coba digagas untuk menjaga tradisi kepesantrenan. Di mana pesantren tidak hanya sekedar menjadi Lembaga pendidikan, melainkan juga menjadi ruang untuk melestarikan kebudayaan (Kuncoro et al. , 2. Santri-santri di yayasan itu menunjukan antusiasme yang sangat tinggi. Pada persiapan menyambut hari santri, seluruh santriwan dan santriwati bekerjasama dan gotong royong mempersiapkan acara pentas seni sebagai sarana untuk memperingati hari perayaan santri. Salah satu pentas yang dipersiapkan sebelum pentas seni itu diselenggarakan adalah pentas seni teater. Pentas seni teater dalam perayaan hari santri bukan tanpa alasan dibentuk tetapi untuk menumbuhkan sikap percaya diri dan berani tampil dihadapan orang Hal itu selaras dengan pendapat Hamdani bahwa Pelatihan seni teater . pada siswa ini diharapakan mampu membangkitkan minat siswa untuk berkesenian sekaligus menjadi pemicu dalam menumbuhkan rasa percaya diri dan berani tampil di depan kelas dan ruang publik (Alfirdaus et al. , 2. Seorang siswa tidak hanya dituntut untuk bisa memiliki kemampuan berfikir, tetapi juga harus memilik kepekaan rasa terhadap dirinya sendiri serta lingkungan sekitarnya. Maka dari itu, pada pelatihan seni teater . dengan menggunakan cerita atau naskah siswa dapat menggabungkan kemampuan akal dan budi. Pelatihan seni teater atau drama juga dapat membentuk karakter peseta didik. Untuk mengatasi kepercayaan diri remaja dapat dilakukan dengan latihan tampil di hadapan public (Gunawan et al. , 2. Salah satu solusi terbaik untuk mengatasi rasa tidak percaya diri, sekaligus mampu mengembangkan bakat adalah melalui seni peran . Hal ini dikarenakan seni teater merupakan seni yang menawarkan pengalaman berperan yang mampu mengasah kemapuan untuk lebih percaya diri. Seni drama atau teater merupakan metode pembelajaran karakter yang efektif dalam membentuk karakter karena drama memiliki keterkaitan yang erat dengan pembentukan karakter melalui tokoh dalam Manfaat drama tidak hanya terbatas pada pengembangan karakter, tetapi juga mampu membangun kepribadian siswa. Kegiatan apresiasi drama memiliki peran penting dalam proses pembelajaran karakter. Dua jenis apresiasi drama, yaitu reseptif dan produktif, memberikan kontribusi yang berbeda. Drama reseptif menekankan kehusyukan terhadap plot cerita, sedangkan apresiasi drama produktif lebih menitikberatkan pada memberikan tanggapan atau penilaian (Supriyanto, 2. Memahami drama DEVOTE: Jurnal Pengabdian Masyarakat Global | 166 Renda et al org/10. 55681/devote. secara lebih mendalam dapat memberikan sejumlah keuntungan bagi peserta didik. Melalui analisis drama, kita dapat mengeksplorasi nilai-nilai yang tersembunyi dalam sebuah naskah drama. Dalam naskah tersebut, terdapat manfaat yang mencakup aspek karakter, pendidikan, etika, estetika, dan hiburan. Pentingnya pemahaman apresitor dalam pembelajaran apresiasi drama dalam memberikan gambaran beberapa karakter terkait baik dan buruk terletak pada kemampuan tokoh-tokoh dalam naskah untuk memberikan contoh yang positif (Cahyani et al. , 2. Lebih lanjut pendidikan seni teater di sekolah adalah bentuk nyata dalam pembentukan karakter bangsa yang berbudaya, cinta tanah air, dan bangsa, disiplin, tanggung jawab dan masih banyak lagi nilai-nilai yang dapat digali dari seni budaya. Penjelasan tersebut mengungkapkan bahwa kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari pendidikan, karena kebudayaan merupakan alas atau dasar dari pendidikan itu sendiri (Pahan & Prasetya, 2. Pada pelatihan itu hasil akhirnya adalah pentas teater, melalui pementasan itu diharapkan seluruh penonton ataupun siswa yang terlibat dalam pertunjukan itu mampu memberikan semangat, motivasi, dan pembelajaran bagi seluruh santri ataupun masyarakat yang menyaksikan pertunjukan. Pertunjukan teater merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan masyarakat atau penonton untuk memberikan pembelajaran dengan menanamkan cita rasa dalam berkesenian. Dengan memiliki cita rasa dalam berkesenian akan mampu membentuk ketahanan budaya disaat arus globalisasi makin masif digemari generasi saat ini. Artana berpandangan jika anak-anak sering disentuh atau berinteraksi dengan kegiatankegiatan seni budaya, maka akan timbul sense of art. antara lain memiliki cita rasa dalam berkesenian, sehingga aktivitas tersebut mampu menunjang pembentukan jiwa atau mental generasi yang berbudaya (Zebua et al. , 2. Berdasarkan uraian di atas maka penting untuk melakukan pendampingan dalam pelatihan tetaer. Melalui teater kehidupan atau tradisi pesantren harus diperkenalkan agar menjadi tuntunan bagi santri ataupun masyarakart yang menyaksikan pertunjukan teater. Pertunjukan ini juga merupakan momentum yang tepat sebagai salah satu cara unik untuk memperingati hari santri. Mengihur sembari memberinkan tuntunan pada seluruh santri di Yayasan Pondok Pesantren Jihadul Ummah. Desa Puyung Kabupaten Lombok Tengah. Nusa Tenggara Barat. METODE PELAKSANAAN Pengabdian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan Pelatihan dan Penguatan Kapasitas yang memiliki tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan komunitas, dalam hal ini adalah masyarakat para santri dari Pondok Pesantren Jihadul Ummah Puyung. Lombok Tengah (Dhue & Tokan. Soeherlan S, 2019. Zunaidi, 2. Di dalam pelaksanaannya, kegiatan pelatihan mengacu pada proses penyampaian informasi, keterampilan, dan pengetahuan praktis kepada santri, sedangkan penguatan kapasitas senantiasa berpijak pada upaya memperkuat kemampuan, kepercayaan diri, dan kemandirian mereka dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh sebagai capaian dalam upaya memperkuat karakter (Irawati et al. , n. Di dalam pelaksanaannya, pembinaan dilakukan dengan menggunakan pendekatan personal yang meliputi demontrasi dan ceramah, latihan, dan pengembangan. Pelaksanaan dilakukan dengan operasionalisasi program yang terdiri dari dua tahapan, meliputi persiapan dan pelaksanaan. Pada tahap persiapan dilakukan dengan proses perencanaan dengan menentukan ide cerita, casting . emilihan pemai. , dan menentukan jadwal latihan dan pementasan. Pada tahap pelaksanaan dilakukan proses penyusunan naskah pertunjukan. Naskah atau ide cerita pertunjukan ditulis berdasarkan peristiwa yang sering dialami oleh santri di pondok pesantren seperti, mengaji bersama, sholat bersma-sama, dan makan bersama. Penulisan cerita dilakukan selama satu minggu terhitung sejak tanggal 1 oktober sampai dengan tanggal 7 oktober 2024. Proses penulisan menjadi lama karena harus menyesuaikan alur dan karakter tokoh karena menyesuaikan dengan karakter santri. Proses pelatihan dibagi ke dalam dua proses yang terdiri dari pelatihan dialog dan adegan. Pelatihan dialog dilakukan dengan ketentuan, pemain yang sudah mendapatkan atau dipilihkan peran selanjutnya menghafal dialog. Pada proses pelatian dialog pemain akan mendapatkan pengalaman latihan mengenai DEVOTE: Jurnal Pengabdian Masyarakat Global | 167 Renda et al org/10. 55681/devote. intonasi dan artikulasi. Proses ini penting untuk melatih pemain dalam keterampilan berbicara. Proses pelatihan dialog ini dilaksanakan selama 1 pekan sebelum kemudian dilaksanakan pelatihan adegan atau Proses pelatihan adegan atau pelatihan pemanggungan dilakukan kurang lebih selama 1 pekan pada tanggal 13 sampai tanggal 20 oktober 2024. Waktu latihan pemanggungan diambil mulai dari pukul 16:00 WITA sampai dengan pukul 10:00 dengan jeda istirahat dari pukul 18:30-19:07. Hasil dari proses pelatihan itu kemudian disajikan dalam pertunjukan. Pelaksanaan pertunjukan dilakukan untuk mengevaluasi proses pelatihan yang telah dilaksanakan. Penyajian atau produksi pertunjukan dipentaskan pada tanggal 22 HASIL DAN PEMBAHASAN Tahap Perencanaan Perencanaan pementasan dimulai dengan menentukan ide utama dari sajian. Ide utama pertunjukan ini adalah seputar kehidupan sehari-hari santri pada pesantren Jihadul Ummah yang terletak di desa Puyung, kabupaten Lombok Tengah. Nusa Tenggara Barat. Seluruh santri dalam hal ini secara bersama-sama diajak untuk menggali segala kebiasan yang melekat dalam keseharian mereka. Hal ini ditujukan untuk menstimulasi para santri di dalam membangun kesadaran, sekaligus menelaah setiap kejadian untuk menggali unsur nilai pada setiap fenomena dan peristiwa yang terjadi. Selain itu, setiap santri dalam konteks ini juga secara bersama-sama belajar untuk mengapresiasi perjalanan dan pengalaman orang lain. Di dalam proses perencanaan, seluruh santri dilibatkan untuk mengeksplorasi pengalaman. Setiap pengalaman yang muncul merupakan inspirasi yang dapat dijadikan rujukan dalam menyusun suatu naskah. Berdasar pada paparan pengalaman dan peristiwa yang disampaikan, semua elemen dalam prosesnya bersepakat untuk mengusung salah satu kisah yang dianggap menarik untuk ditransformasikan ke dalam Oleh karenanya, kisah Danu salah seorang santri Jihadul Ummah kemudian menjadi ide utama dalam penyusunan naskah. Pentas seni teater diikuti oleh 18 santri dengan tugas sesuai proporsi. Pada pentas itu. Membawakan lakon Danu dan Keheningan. Lakon itu mengangkat tentang kisah seorang santri bernama Danu yang baru pertama kali masuk ke pesantren dan dihadapkan pada kehidupan pesantren yang tentu sangat berbeda dengan kehidupan dia sebelum masuk pesantren. Banyak intrik yang dia temukan mulai dari, jam istirahat yang kurang karena waktu didominasi oleh pembelajaran pada jam sekolah dan di luar jam sekolah. Mandi yang harus antri, makan yang harus antri, dibantasi oleh aturan-aturan yang kebanyakan orang ketika baru masuk pesantren dianggap tidak normal. Tidak diperbolehkan memegang hp, bertemu orang tua harus Dengan aturan-aturan itu banyak dari santri memilih untuk pindah bahkan kabur dari pesantren. Tetapi mereka yang bertahan akan memiliki karakter santri yang kuat. Proses perencanaan tidak hanya ditujukan untuk mengusung ide menjadi sebuah naskah. Di dalam proses ini perencanaan juga ditujukan terkait dengan hal teknis pelaksanaan pementasan. Pada tahap ini, pertunjukan direncanakan untuk melaksanakan pertunjukan dalam waktu 3 pekan. Untuk melaksanakan pertunjukan itu, seluruh peserta bersepakat untuk melewati seluruh tahapan dan proses yang telah Pada tahap awal dilakukan proses penyusunan naskah yang diperkirakan akan berlangsung selama satu pekan. Kemudian proses dilanjutkan dengan melaksanakan pelatihan selama dua pekan. Pasca pelatihan seluruh santri diajak untuk mempresentasikan hasil dari proses tersebut pada akhir pekan ke-3 atau awal pekan ke-empat. Pelaksanaan Pelatihan Penyusunan Naskah Danu dan Keheningannya Teater sebagai sebuah seni pertunjukan tidak bisa lepas dari ide cerita, cerita itu kemudian menjadi acuan dalam proses penggarapan. Penyusunan naskah menjadi hal yang pertama kali dilakukan. Penyusunan naskah dilakukan dengan merujuk pada ide yang telah disepakati, yaitu Danu dan Keheningannya. Cerita itu mengisahkan tentang seorang bernama Danu yang baru masuk di sekolah Sekolah yang dia pilih adalah sekolah swasta . ondok pesantre. Pada saat pertama kali masuk Danu merasa asing di pondok pesantren itu karena semua aktivitas yang terjadi di pondok pesantren begitu asing baginya. Mulai dari jadwal ngaji rutin, mandi harus mengantri, makan harus mengantri, dan harus bertemu teman yang berbagai macam karakter. Hal itu kemudian membuat Danu merasa aneh dan depresi. DEVOTE: Jurnal Pengabdian Masyarakat Global | 168 Renda et al org/10. 55681/devote. Tetapi dengan berjalannya waktu Danu mampu beradaptasi dengan lingkungan, yang mulanya Danu tidak terbiasa dengan lingkungan di pondok pesantren itu akhirnya terbiasa. Gambar 1. Pembagian naskah Danu dan Keheningannya Cerita itu diambil berdasarkan peristiwa yang sebenarnya terjadi di Yayasan Pondok Pesantren Jihadul Ummah Puyung. Pada saat proses penulisan cerita dilakukan observasi dan menanyakan pertanyaan terkait. Hasil dari observasi menunjukkan banyak dari santri mengungkapkan demikian. Itulah dasar kemudian cerita itu diangkat menjadi ide penciptaan pertunjukan. Casting Pemain Casting merupakan tahap selanjutnya di dalam proses pertunjukan teater setelah pemilihan cerita. Proses casting dilakukan untuk mengetahui dan memilih pemain atau aktor dan aktris pertunjukan. Proses casting harus menyesuaikan dengan proporsi cerita. Karena baik atau buruknya sebuah pertunjukan teater tergantung pada kesesuaian antara karakter cerita dengan karakter yang memainkan cerita. Dalam cerita Danu menjadi tokoh sentral kemudian sahabat Danu dan teman-teman Danu juga pengasuh asrama. Pada proses ini, yang terlibat secara keseluruhan adalah santri-santri di Yayasan Pondok Pesantren Jihadul Ummah Puyung. Bahkan yang memerankan tokoh pengasuh asrama adalah santri. Gambar 2. Proses casting atau pemilihan pemain Pelatihan dialog dan Pengadeganan Setelah proses casting dilakukan selanjutnya adalah proses pemanggungan atau pengadeganan. Proses ini merupakan proses inti dari pertunjukan teater karena baik atau buruknya sebuah pertunjukan tergantung pada proses pemanggungan. Penting untuk melukan proses latihan sebelum penyajian pertunjukan, oleh karena proses ini selain untuk memberikan ruang bagi pelaku memperkaya pengetahuan dan pengalaman, juga merupakan sebuah proses untuk membangun koneksi terhadap orang lain (Suryadmaja et al. , 2. Di dalam konteks ini, koneksi yang dimaksud adalah keterhubungan antara aktor satu dengan yang lainnya. Pada proses pemanggungan dimulai dari babak 1. Pada babak itu seluruh pemain mengambil bagaian. Adegan yang ditampilkan pada babak itu adalah adegan teatrikal. Dimana Danu sebagai tokoh sentral berdiri dengan ekpresi penuh kebingungan. Adegan itu merepresentasikan seorang anak santri yang baru pertama masuk kelingkungan pondok dan bingung dengan seluruh aktivitas di pondok itu. Selanjutnya pemain lain membuat sebuah lingkaran dengan melantunkan kalimat tauhid, setelah itu melantunkan DEVOTE: Jurnal Pengabdian Masyarakat Global | 169 Renda et al org/10. 55681/devote. kalimat tasbih, tahmid, tahlil. Sedangkan pada babak 2, menampilkan adegan Danu mengantri mandi dan ikut mengaji bersama santri lainnya. Setelah aktivitas mengaji dilakukan selanjutnya teman-teman Danu Danu bergegas bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Danu yang saat itu masih menjadi santri baru hanya heran dan bingung melihat temantemannya. Pada babak 3, adegan menampilkan Dabu memanggil orang tua dengan kondisinya yang sangat depresi, bahkan membuatnya sakit. Karena peristiwa yang dialaminya seperti itu Danu memutuskan untuk kabur dari pondok pesantren. Pada saat Danu sakit sahabat dan pengasuh asrama menemani, merawat dan Tetapi meskipun demikian Danu tetap ingin kabur dari pondok itu. Pada babak 4. Danu tersadar dan sudah mulai terbiasa dan mengerti keadaan di pondok pesantren. Danu menjadi rajin dan taat untuk mengikuti seluruh aktivitas di pondok itu. Bahkan Danu terbiasa menjadi pemimpin atau imam sholat, membimbing teman-temannya mengaji, dan orang pertama yang melantunkan adzan pada setiap waktu sholat. Pada babak 5. Danu tersenyum dan mampu membuat orangtuanya bangga atas segala perubahan karakter anaknya. Gambar 3. Pelatihan pengadeganan dan pemanggungan Pada proses pemanggungan babak 1 sampai babak 5 dilakukan perbabak. Dalam proses ini membutuhkan waktu 4 hari. Hari pertama penyempurnaan babak 1, hari ke 2 penggarapan babak ke dua dan penyempurnaannya, hari ke 3 penggarapan babak 3 dan penyempurnaannya, pada hari ke 4 penggarapan babak 4 dan penyempurnaan semua babak dalam pertunjukan teater itu. Gladi Bersih Gambar 4. Gladi bersih pertunjukan Gladi dalam proses seni pertunjukan merupakan tahap yang wajib dilakukan. Tahap ini merupakan tahap akhir dalam proses pertunjukan teater. Hal itu untuk mengetahui atau mengukur sejauh mana persiapan pertunjukan dan memungkinkan untuk mengetahui letak kekurangan pertunjukan. Gladi dilakukan satu hari sebelum puncak acara hari santri nasional. Gladi dilakukan di yayasan pondok pesantren jihadul ummah. Diikuti oleh seluruh santri yang terlibat dan padaa saat keladi seluruh unsur pendukung dalam seni pertunjukan dimasukkan. Mulai dari property pentas, music pementasan, dan kostum Di bagian ini, tim penulis dianjurkan untuk melampirkan satu gambar terbaik saat melakukan DEVOTE: Jurnal Pengabdian Masyarakat Global | 170 Renda et al org/10. 55681/devote. pengabdian atau terjun ke lapangan. Jika tidak letakkan pada bagian ini, maka diharapkan diletakkan pada bagian akhir setelah Daftar Rujukan (Referens. minimal 2-4 foto pelaksanaan beserta deskripsi singkatnya. Pertunjukan Teater Sebagai Sarana Memperkuat Karakter Santri Pada pertujukan itu dimulai dari adegan opening atau pembuka. Danu berdiri ditengah teman-teman di pondok pesantren. Adegan itu merepresentasikan Danu baru pertamakali atau menjadi siswa baru di pondok Sebagai siswa baru Danu masih asing dengan lingkungan di pondok karena kali pertama Danu bersekolah dipondok pesantren. Danu mulai mencoba mengenali lingkungan pondok dan aktivitas di Mulai dari mengikuti kegitan mengaji bersama, menghafal hadist dan alquran, dan kitab kajian pondok lainnya. Danu masih mencoba beradaptasi dilingkungan pondok, teman-temnnya mulai mendekati Danu dan berteman dengan Danu. Ketika tiba waktu mengaji Danu diajak teman-temannya untuk pergi mengaji. Danu merasa aneh dengan seluruh aktivitas di pondok yang ketat dengan segala bentuk peraturannya. Danu tidak nyaman bahkan membuat dirinya sakit karena depresi. Gambar 5. Pertunjukan opening cerita Danu dan Keheningannya Gambar 6. Pertunjukan Klimaks Danu dan Keheningannya Pada pertunjukan itu adegan teatrikal di pertunjukkan Danu berada di tengah sementara teman-teman Danu membuat lingkaran membentuk rantai. Hal itu merepresentasikan kekuatan mental santriwansantriwan di pondok pesantren. Meski banyak aturan-aturan yang begitu ketat mereka harus kuat dan tetap saling support. Jika mereka bertahan dalam lingkaran itu sudah dipastingkan merekan akan menjadi orang yang mampu memberikan manfaat bagi orang lain, berkat ilmu dan pengalaman belajar yang mereka dapatkan dipondok. Selanjutnya, pada adegan klimaks, pertunjukan itu menampilkan adegan Danu tersungkur sakit. Saat Danu sakit, teman dan ustad atau pengasuh asramalah yang merawatnya. Pengasuh asrama dalam pondok itu menjadi pengganti atau orang tua kedua siswa didik di asrama yang bertanggung jawab sepenuhnya dalam merawat dan menjaga anak, teatpi perhatian teman dan pengasuh asrama Danu hiraukan karena cukup lelah dengan seluruh aktivitas yang dia ikuti dipondok bahkan dalam sebuah kesempatan. Danu berusaha kabur dari pondok dan ustad juga teman-temannya mencegah Danu. DEVOTE: Jurnal Pengabdian Masyarakat Global | 171 Renda et al org/10. 55681/devote. Perhatian dan juga solidaritas teman-teman Danu mampu menguatkan Danu. Danu mencoba kembali menumbuhkan semangat belajarnya hingga akhirnya Danu menjadi santri yang berprestasi di pondok itu, hafalannya baik, mampu menjadi pemimpin dalam sholat, mengumandangkan adzan dengan pelafan yang sangat bagus, turut gotong royong ketika ada pekerjaan di pondok. Danu menunjukkan sikap-sikap positif dalam kesehariannya. Gambar 7. Pertunjukan penutup Danu dan Keheningannya Pertunjukan diakhiri dengan kisah happy ending atau kisah yang membahagiakan. Danu dan temantemannya berjalan beriringan membawa kitb kajian dengan ekpresi wajah yang ceria dan tersenyum. Pertunjukan adegan akhir pada pertunjukan itu mendapatkan apresiasi yang baik dari penonton. Pertunjukan itu juga sebagai persembahan dalam peringatan hari santri yang dilaksanakan pada tanggal 22 Pertunjukan itu dibuat untuk memperingati dan menumbuhkan semangat sebagai seorang santri dalam menjalankan proses pembelajaran dipondok pesantren. KESIMPULAN DAN SARAN Artikel pengabdian yang berjudul pelatihan seni teater untuk memperkuat karakter santri merupakan pelatihan seni yang sangat baru diberikan kepada seluruh santri. Karena dalam dunia pesantren, seni merupakan ilmu yang belum diperhatikan atau masih sangat sedikit yang membelajarkan. Melalui pelatihan seni teater siswa mendapatkan pengalaman baru dalam proses pembelajaran. Teater bukan saja sebagai pertunjukan yang dapat memberikan tontonan saja melainkan menjadi tuntunan bagi siapa saja yang Danu dan keheninganya merupakan cerita yang merepresentasikan kehidupan pondok Dari anak yang tidak biasa menjadi anak yang luar biasa. Momentum peringatan hari santri merupakan tempat yang tempat untuk mensosialisasikan seni teater sebagai pembentuk karakter santri, pada proses kreatifnya anak di didik untuk melatih kemandirian dalam berlatih, gotong royong atau bekerjasama dalam mensukseskan pertunjukan, menanamkan sikap nasionalis melalui pertunjukan dengan menghargai seluruh tradisi kepesantrenan yang ada di indonesia, dan memperkuat rasa percaya diri seluruh santri. Pelatihan mengenai seni teater sebagai pembentuk karakter santri tentu bukan pelatihan yang sempurna, masih banyak kekurangan atau potensi-potensi yang belum dikaji dalam pelaksanaanya. Hal itu mengingat waktu pelaksanaan masih sangat kurang, persiapan yang belum maksimal, juga sarana pendukung yang belum terpenuhi. Maka besar harapan untuk penulis atau pengkaji selanjutnya untuk menyempurnakan artikel pengabdian ini. UCAPAN TERIMA KASIH Tim penulis mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat (LPPM) Universitas Bumigora Mataram yang telah memberikan suport sehingga kegiatan pengabdian ini terlaksana dengan baik. Tim penulis juga menyampaikan terima kasih kepada lembaga Yayasan Pondok Pesantren Jihadul Ummah yang bertempat di desa Puyung yang telah memberikan ruang untuk pelaksanaan Juga terimakasih kepada guru seni budaya dan bahasa indonesia Hirdiyantara yang telah memfasilitasi selama kegiatan. DEVOTE: Jurnal Pengabdian Masyarakat Global | 172 Renda et al org/10. 55681/devote. DAFTAR PUSTAKA