397 Jurnal Info Kesehatan Vol 15. No. Desember 2017, pp. P-ISSN 0216-504X. E-ISSN 2620-536X Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/infokes The Influence of Socio-Cultural Factors. Community Participation, and Factors of Local Government Budget Policy Against Leap Decrease in the Death of Babies in Ngada and Kupang Districts Pengaruh Faktor Sosial Budaya. Partisipasi Masyarakat. Dan Faktor Kebijakan Anggaran Pemerintah Daerah Terhadap Lompatan Penurunan Kematian Bayi Di Kabupaten Ngada Dan Kupang Margaretha Maria Ulemadja Wedho Keperawatan Kupang. Poltekkes Kemenkes Kupang Email: margarethawedho@poltekkeskupang. ARTICLE INFO: Keywords: Maternal and child health Community participation Government budget Infant mortality ABSTARCT/ABSTRAK The infant mortality rate (IMR) in East Nusa Tenggara Province is still high, with the number of deaths from 20112014 fluctuating between 1219-1350 cases. The purpose of this study was to determine the influence of factors of community participation, socio-cultural, and regional government budget policies on reducing infant mortality rates in Ngada and Kupang districts. The type of research used is qualitative with the support of quantitative data. The population in the study were all managers of Maternal and Child Health from the district level . overnment, health offic. to the village level. Purposive non-random sampling is used to obtain a sample consisting of the district level: the head of the financial planner, the head of the maternal and child health department of the health department. The Puskemas is the head of the Puskemas and is in charge of Maternal and Child Health. The sub-district level is the head of the health affairs section. village level is the village head, 4 Neighborhood heads / Head of Hamlets / community leaders, and 4 cadres. In terms of recipients of health services are 4 mothers after childbirth and husband. The results showed that the socio-cultural factors of the community, both sex, occupation, and low level of education as well as customs in Kupang Regency greatly influenced the pattern of handling Plus the low participation of village government resulted in high mortality rates compared to other districts, especially Ngada. Community participation in this case during the pregnancy period in both districts was still low which affected delays in making decisions. Regional government budgetary independence in Ngada and Kupang districts is still lacking in accelerating the program to reduce infant mortality. The recommendations given are that the health department is expected to focus more on training to reduce the causes of newborn deaths such as the handling of infants with Asphyxia. Acute Respiratory Distress Syndrome. Infection for nurses / midwives. and cadres and community leaders. Kata Kunci: Kesehatan Ibu dan Anak Partisipasi masyarakat Anggaran pemerintah Kematian bayi Angka kematian bayi (AKB) di Provinsi Nusa Tenggara Timur masih termasuk tinggi dengan jumlah kasus kematian dari tahun 2011-2014 berfluktuasi antara 1219-1350 kasus. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh faktor partisipasi masyarakat, sosial budaya, dan kebijakan anggaran pemerintah daerah terhadap penurunan angka kematian bayi di Kabupaten Ngada dan Kabupaten Kupang. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan dukungan data kuantitatif. Populasi dalam penelitian adalah semua pengelola Kesehatan Ibu dan Anak dari tingkat kabupaten . emerintah, dinas kesehata. sampai pada tingkat desa. Purposif non-random sampling digunakan untuk mendapatkan sampel yang terdiri dari tingkat kabupaten: kepala perencana keuangan, kepala seksi Kesehatan Ibu dan Anak dinas kesehatan. Tingkat Puskemas adalah kepala Puskemas, dan penanggung jawab Kesehatan Ibu dan Anak. Tingkat kecamatan adalah kepala seksi urusan kesehatan. tingkat desa adalah kepala desa, 4 kepala RT/RW/tokoh masyarakat, dan 4 orang kader. Dari segi penerima pelayanan kesehatan adalah 4 orang ibu paska persalinan dan suami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor sosial budaya masyarakat baik jenis kelamin, pekerjaan, dan tingkat pendidikan yang rendah maupun adat kebiasaan di Kabupaten Kupang sangat mempengaruhi pola penanganan bayi baru lahir. Ditambah lagi partisipasi pemerintah desa yang rendah mengakibatkan tingkat kematian masih tinggi bila dibanding Kabupaten lainnya terutama Ngada. Partisipasi masyarakat dalam hal ini suami selama masa kehamilan di kedua Kabupaten masih rendah yang mempengaruhi keterlambatan dalam mengambil keputusan. Keberpihakkan anggaran pemerintah daerah di Kabupaten Ngada dan Kupang masih kurang dalam mempercepat program penurunan Kematian Bayi. Rekomendasi yang diberikan adalah diharapkan dinas kesehatan lebih memfokuskan pada pelatihan-pelatihan untuk menekan penyebab terjadinya kematian bayi baru lahir seperti penanganan bayi Asfiksia. Acute Respiratory Distress Syndrome. Infeksi bagi perawat/bidan. dan kader serta tokoh masyarakat. CopyrightA2017 Jurnal Info Kesehatan All rights reserved Corresponding Author: Margaretha Maria Ulemadja Wedho Keperawatan-Poltekkes Kemenkes Kupang - 85111 Email: margarethawedho@poltekkeskupang. PENDAHULUAN Pemerintah Indonesia (Profil Dinas Kesehatan Propinsi NTT, 2. Penyebab kematian neonatal 0Ae6 hari mereka adalah generasi penerus bangsa. Anak diharapkan memiliki fisik yang sehat, prematurias . %), sepsis . %), hipotermi . %), . %), ikterus . %) dan kelainan kongenital . %) (Riskesdas, 2. Mahmudah . mencapai usia 18 tahun. Pemeliharaan dalam Raharni . menyebutkan bahwa kesehatan anak ditujukan untuk menurunkan faktor risiko yang berhubungan dengan angka kematian yang masih tinggi. Angka kejadian kematian perinatal di Kabupaten kematian merupakan indikator terbaik untuk Batang adalah pendidikan, pengetahuan ibu, mengukur derajat kesehatan anak. Angka asfiksia dan kelainan kongenital. Damayanti Kematian Neonatal (AKN) . mengatakan bahwa faktor ibu . mur, kontribusi terbesar terhadap 59% kematian persalina. , faktor bidan . engetahuan bidan Angka kematian Neonatal di Indonesia dan keterampilan bida. , dan faktor bayi pada tahun 2012 sebesar 19 per 1. mur kehamilan, berat badan bayi waktu kelahiran hidup hanya menurun 1 poin dari lahir, dan penyulit lai. pada bayi sama-sama AKN pada tahun 2002-2003 yaitu 20 per 000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan kematian neonatal. Berat badan bayi waktu Indonesia, 2. Angka Kematian Bayi lahir memiliki pengaruh paling dominan (AKB) pada tahun 2015 (SUPAS) meningkat terhadap kematian Neonatal. 23 per 1. 000 kelahiran hidup. Rahani, . namun sebenarnya sudah mencapai target bahwa kematian neonatal sebagian besar MDG tahun 2015 yaitu 23 per 1. 000 kelahiran terjadi pada usia ibu saat melahirkan sudah hidup (Profil Kesehatan Indonesia, 2. cukup dewasa yaitu kelompok umur 18Ae34 Sayangnya Angka kematian Bayi tahun, tetapi sebagian besar dengan tingkat (AKB) di Provinsi NTT masih termasuk dalam pendidikan rendah dan sedang yaitu 53% kategori tinggi karena tidak menurun dari dan 43%. Kematian neonatal sebagian besar tahun ke tahun. Jumlah kasus kematian bayi terjadi pada jarak kelahiran dengan kelahiran dari tahun 2011-2014 berfluktuasi. Pada sebelumnya kurang dari 12 bulan sebanyak tahun 2011 jumlah kasus kematian 1. ,3%). meningkat menjadi 1. 350 pada tahun 2012 dan menurun lagi pada tahun 2013 dan 2014 Pemerintah menurunkan kematian ibu, bayi baru lahir, penurunan kematian Neonatal, bayi dan bayi dan balita yang mencakup: penempatan Balita menjadi AKN 14 per 1. 000 kelahiran bidan di desa. pemberdayaan keluarga dan hidup. AKB menjadi 23 per 1. 000 kelahiran masyarakat dengan menggunakan Buku hidup pada tahun 2015. AKB yang masih Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA) dan tinggi di Provinsi NTT adalah Kabupaten Program Kupang yaitu 43 kasus pada tahun 2014, (P4K). meningkat menjadi 63 kasus pada tahun menyediakan fasilitas kesehatan Pelayanan 2015 dan pada tahun 2016 sampai bulan Juli Obstetri Dasar 52 kasus. Sedangkan AKB pada Kabupaten (PONED) di Puskesmas perawatan dan Ngada masih tergolong rendah dengan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) di rumah sakit. meningkat menjadi 36 pada tahun 2015. Pemerintah Pada tahin 2016 sampai bulan Oktober kembali program KB dan peningkatan gizi, kasus kematian sebesar 23 (Laporan Dinas koordinasi tingkat kabupaten dankotaseperti Kesehatan Kabupaten Kupang dan Ngada, penyediaan tenaga kesehatan dan alat Perencanaan Pencegahan Komplikasi Neonatal Persalinan Emergensi Berdasarkan Pemerintah juga telah gencar telah dipaparkan maka penelitian dengan melakukan pemberdayaan masyarakat untuk judul: Pengaruh Faktor Sosial Budaya, promosi kesehatan, peningkatan komunikasi. Partisipasi informasi, dan edukasi di tingkat propinsi dan Anggaran Pemerintah Terhadap Tingkat kabupaten dan kota serta menguatkan kematian bayi di Kabupaten Ngada dan kebijakan lokal yang mendukung kesehatan Kabupaten Kupang Provinsi NTT perlu ibu dan anak, penguatan posyandu dan desa Intervensi siaga aktif. Namun hingga MDG berakhir pada 2015 Angka Kematian Bayi di Provisi NTT Kemungkinan METODE PENELITIAN Jenis dan rancangan Penelitian Jenis adalah kualitatif dengan dukungan data Pada kuantitatif, dengan melakukan pengukuran February 2015 Pemerintah dalam hal ini variabel independen dan variabel dependen pada satu waktu tanpa melihat huungan Petunjuk Teknis Lompatan Penurunan Kematian Bayi di Provinsi NTT. Tujuan ditetapkannya petunjuk teknis ini adalah untuk mencapai sebab akibat. Kegiatan penelitian dilakukan sejak tanggal Analisa statistik data kuantitatif tanggal 1 Mey 2016 sampai 30 Oktober dilakukan dua cara yaitu analisa univariat Populasi dan sampel bentuk diagram atau tabel. Analisa data Populasi menggunakan skema analisis dari Kelly & mencakup tingkat Kabupaten: kepala seksi Howie . 7, dalam Afiyanti & Rachmawati, keluarga, kepala seksi KIA, dan kepala seksi 2. yang digunakan pada penelitian Tingkat Puskesmas adalah Pada skema ini digunakan kriteria penanggung jawab KIA . idan dan perawa. Dollard untuk menganalisis kisah hidup Tingkat Kecamatan: kepala camat. seseorang yang mencakup fitur kontekstual seksi urusan kesehatan. Tingkat desa: yaitu nilai konteks budaya, aturan sosial dan kepala desa, dan kader. Dari segi penerima pelayanan kesehatan populasinya adalah ibu secara deskriptif. post melahirkan usia bayi 0-28 hari, suami Ethical Clearance dan, tokoh masyarakat. Pemilihan Data Proposal non-random Sampel dari Dinas Kesehatan Penelitian disetujui tim Pakar Poltekes Kementerian Kesehatan Kupang Nopember 2016 Kabupaten adalah Kepala Perencanaan Keuangan, dan kepala seksi KIA 1 orang dari masing-masing HASIL Kabupaten. Tingkat HASIL DAN PEMBAHASAN Puskesmas adalah kepala Puskesmas dan Penelitian ini dilakukan pada dua . penanggung jawab KIA . Tingkat Kabupaten yaitu Kabupaten Ngada dan Kecamatan:kepala seksi urusan kesehatan. Kabupaten Kupang. Kedua Kabupaten ini Tingkat desa adalah kepala desa, kepala dipilih sebagai area penelitian karena angka RT/RW, tokoh masyarakat, dan kader yang kematian neonatus pada Kabupaten Ngada berjumlah 4-5 orang. Dari segi penerima cukup rendah sedangkan Kabupaten Kupang pelayanan kesehatan adalah ibu paska tinggi dalam kurun waktu 3 tahun dari 2014 melahirkan bayi 0-28 hari, dan suami Empat Puskesmas dipilih sebanyak 4-5 orang. untuk dijadikan sampel dalam penelitian yaitu Pengolahan dan analisa data 2 Puskesmas dari Kabupaten Ngada yang Data memiliki kasus kematian terendah yaitu dikumpulkan diperiksa kembali kelengkapan Waepana Soa dan Aimere. Puskesmas pengisiannya, dan diberi kode. Selanjutnya Kabupaten Kupang yang memiliki kasus data tersebut ditabulasi dan disajikan secara Tarus menggambarkan faktor budaya mencakup Camplong. adat istiadat yang berkaitan dengan keyakinan dan nilai-nilai tentang kesehatan Faktor sosial dan budaya Pada faktor ini indikator utama yang diukur ibu dan bayi sejak saat kehamilan, adalah usia, jenis kelamin, tingkat kelahiran, persalinan, dan masa setelah pendidikan, dan pekerjaan. Indikator yang melahirkan sampai masa menyusui. Tabel. 1 Distribusi Responden Berdasarkan Usia. Jenis Kelamin. Pendidikan, dan Pekerjaan di Kabupaten Ngada Puskesmas Waepana dan Aimere T un 2016 Kategori Rentang Usia >65 Total Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan SMP SMA/SMK Pekerjaan Petani Ibu RT Wiraswasta Kepala Desa Staf desa PNS Pensiunan Jumlah (O. Persentasi (%) 29,62 62,96 29,62 18,51 22,22 14,81 14,81 14,81 14,81 Tabel 1 menunjukkan bawa rentang usia responden paling besar adalah berkisar antara 31-50 tahun. jenis kelamin ampir seimbang antara laki dan perempuan. Gambaran tingkat pendidikan yang paling besar di kabupaten Ngada adalah SMA dan pekerjaan paling banyak adalah PNS sebesar 33%. Tabel. 2 Distribusi Responden Berdasarkan Usia. Jenis Kelamin. Pendidikan, dan Pekerjaan di Kabupaten Kupang Puskesmas Tarus dan CamplongTahun 2016 Kategori Jumlah (O. Persentasi (%) Rentang Usia >65 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah SMP SMA/SMK Tidak Sekolah Pekerjaan Petani Ibu RT Penjahit PNS Petani Ibu RT Penjahit 55,55 18,51 Gambaran yang ditampilkan pada tabel 3 menunjukkan bahwa usia responden adalah usia 31-50 tahun . %) dengan jumlah perempuan 81%. Pendidikan terbanyak adalah SD sebesar 56% dan pekerjaan responden terbanyak 70% adalah IRT. Masyarakat Ngada Waepana Kabupaten dengan cara mengenakan benda-benda khusus yang disepakati. Berikut kutipan dikandung perlu dilindungi dari roh jahat salah seorang responden: Au. Saat hamil saya diwajibkan untuk memakai peniti di dada dengan menusukkan genoak pada peniti tersebut. Bila tidak tersedia saya menusukkan paku pada konde di kepala atau membawa gunting kecil dalam Ini tujuannya untuk mengusir roh jahat yang dapat mengganggu Ay Pada saat bayi akan dilahirkan tidak ada acara khusus. Keluarga dan suami memanggil kader dan bersama kader ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Berikut salah satu penjelasan dari responden: Au. Kami mewajibkan ibu hamil untuk melahirkan di fasilitas kesehatan karena berdasarkan aturan desa bila dilanggar akan membayar denda sebesar Rp 500. Demikian pula jika bidan melanggar aturan dengan menolong persalinan di rumah masyarakat akan dikenakan denda Rp1,000,000 juta. Dengan demikian tidak ada lagi ibu yang melahirkan di Ay Pada suku Timur ibu hamil dilarang makan ikan karena dapat mengakibatkan Air Susu Ibu (ASI) berbau amis, juga tidak boleh makan lawar dan pedis. Setelah melahirkan ibu diberi minum akar kulit kayu/ramuan untuk cuci perut. mandi air panas dengan daun lagundi. Pada masyarakat Camplong ibu tidak diperkenankan keluar rumah setelah melahirkan dan setelah 40 hari baru ke gereja. Tetapi saat diskusi grup ibu-ibu paska persalinan mengatakan mereka tetap ke Puskesmas untuk kunjungan pemeriksaan paska melahirkan terhadap ibu dan Berikut kutipan pernyataan seorang responden: Au. kalau dulu waktu melahirkan anak pertama saya tidak diperbolehkan keluar rumah sampai 40 hari. Tetapi sekarang sudah dilarang bidan, kami harus tetap memeriksakan diri ke Puskesmas. Ay 2 Faktor Partisipasi Masyarakat Masyarakat yang dimaksudkan disini adalah keterlibatan suami, kader, dan pemerintah desa dalam menurunkan kematian bayi. Dalam diskusi kelompok terfokus para suami di Puskesmas Soa. Aimere Kabupaten Ngada dan Camplong serta Tarus Kabupaten Kupang mengatakan bahwa mereka mengantarkan istri melakukan pemeriksaan ke Puskesmas. Pernyataan tersebut dibantah oleh responden kelompok kader dan kepala Puskesmas Soa dan Ibu-Ibu serta toma dari Camplong dan Tarus. Mereka mengatakan suami biasanya tidak mengantar istri pada kunjungan pemeriksaan kehamilan. Kemungkinan besar alasannya adalah malu atau tidak terbiasa. Kelompok kader dalam diskusi terfokus dari Soa dan Aimere AuA. para suami disini merasa malu untuk mengantarkan istrinya ke Puskesmas. Mereka biasanya membiarkan istrinya sendiri datang ke Puskesmas. Mungkin hanya satu dari 50 orang suami yang mengantarkan istrinya untuk pemeriksaan kehamilanA. Ay Berikut kutipan pernyataan kelompok Ibu-Ibu di Puskesmas Camplong dan Tarus: AuA. Tidak semua suami ikut mengantar kami melakukan pemeriksaan kehamilan mungkin sibuk bekerja ke kebun atau karena kami sudah terbiasa sendiri dengan jalan kaki atau naik ojek ke puskemas. Penyuluhan kesehatan yang diberikan kader atau bidan hanya kami sendiri yang mengetahui karena suami jarang sekali mengikuti penyuluhan tersebutA. Ay Partisipasi dana dan sumber daya untuk transfusi darah bila dibutuhkan. dan pembentukan jejaring menonjol pada kabupaten Ngada. Mereka ASI eksklusif. Peran desa ketiga adalah pembentukan Badan Penyantun Puskesmas posyandu sesuai dengan tupoksi yaitu (BPP) yang bersumber dari dana setiap desa sebesar Rp 1. atu juta rupia. dari bayi/balita. Dana sasaran (BUMIL. BUSUI, dan balit. untuk operasional rumah tunggu, yang dikelola mengunjungi Posyandu sehari sebelumnya sendiri untuk mendukung Puskesmas. Peran dan mencari ibu dan bayi/balita yang tidak keempat, melakukan sosialisasi/penyuluhan hadir posyandu. tentang kesehatan masyarakat termasuk Partisipasi Pemerintah kesehatan ibu dan anak. Alokasi dana untuk menurunkan kematian bayi yang paling mendukung kegiatan ini kurang lebih 20 juta. Kabupaten Dana ini bersumber dari Anggaran Dana Pemerintah Ngada. Desa (ADD). Pada Puskesmas Aimere pembentukan kader. membangun rumah pemerintah desa juga menyiapkan anggaran Posyandu. menyiapkan Sarpras Kesehatan yang dialokasikan lewat APB DES untuk Posyandu. memberikan insentif bagi kader. membiayai kesehatan ibu dan anak meliputi: menyiapkan dana untuk PMT . ayi/balita dan . Dana Insentif kader: Rp 6. ibu hami. Semua kegiatan tersebut didanai . PMT untuk ibu hamil dan dari Alokasi Dana Desa (ADD) sebesar 20- bayi/balita: Rp 8. 000 per 4 posyandu. 30 juta pertahun. Peran kedua adalah Pelatihan kader: Rp 7. pembentukan desa siaga yang meliputi Peran pemerintah desa di Kabupaten menyiapkan fasilitator. menyiapkan dasolin Kupang bertentangan dengan Kabupaten . ana untuk bersali. , yang merupakan dana Ngada. Menurut respoden dalam FGD murni swadaya masyarakat yang secara alokasi dana kelurahan untuk kesehatan ibu kolektif dikumpulkan oleh Gereja sebesar Rp dan anak biasanya langsung ditujukan ke 000 . epuluh ribu rupia. pertahun per Puskesmas. KK. Pemerintah desa juga membentuk jejaring darah dalam rangka menyiapkan Kelurahan/RW/RT. Pemerintah Sampai peraturan desa yang berkaitan dengan Salah satu contoh alokasi anggaran penurunan kematian bayi belum ada. pemerintah daerah kabupaten Ngada untuk kegiatan penurunan angka kematian ibu dan 3 Alokasi Anggaran anak pada tahun 2016 kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Table 3. Distribusi Anggaran Dana Pemerintah Kabupaten Ngada untuk kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan Ibu dan Anak (KIA) tahun 2016 Sumber APBD 11 Jumlah Kegiatan Jumlah 240,000. Refresing Stimulasi deteksi dan intervensi tumbuh kembang anak Monev kelas ibu balita Kegiatan Advokasi Pengembangan center 2H2 Pengembangan Center 2H2 Puskesmas Cetak kartu tafsiran persalinan Pelacakan kasus kematian ibu dan Monev kelas ibu hamil kegiatan orientasi IVA tes kegiatan AMP klinis kegiatan Kemitraan bidan dan Kegiatan berkala bidan Pekan Keselamatan ibu dan anak Sosialisasi kartu skror Poedji Rohjati Monev kepatuhan SOP ANC,INC dan PNC Supervisi Suportif Konsultasi Program KIA ke Provinsi DANA GIZI 655,000 12,600,000 70,300,000 20,640,000 5,480,000 10,240,000 15,215,000 14,800,000 15,920,000 12,840,000 5,600,000 18,830,000 21,820,000 10,630,000 12,300,000 272,820,000, Tabel 3 menunjukkan alokasi dana tahun anggaran 2016 belum terfokus pada penurunan kematian bayi atau tindakan-tindakan untuk penurunan kematian bayi. SUMBER APBD KEGIATAN Pelacakan kasus kematian Ibu dan Bayi Pertemuan Kajian Kasus Kematian Ibu dan Bayi (AMP) ALOKASI REALISASI 13,600,000 SISA DANA 8,000,000 22,680,000 21,230,000 1,450,000 Pertemuan evaluasi program kesehatan ibu dan anak Pelatihan PONED Pelatihan pertumbuhan dan BALITA Jumlah Kemitraan Pelayanan Kesehatan Program JKN JK3 (Dinke. JKN (DInke. 18,220,500 16,620,000 1,600,500 104,178,500 18,466,000 104,178,500 18,466,000 185,145,000. 9,575,815,000 155,628,500 29,516,500 12,723,135,120 Table 4. Distribusi Anggaran Dana Pemerintah Kabupaten Kupang untuk kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan Ibu dan Anak (KIA) tahun 2015 Alokasi dana pada table 4 belum ditujukan untuk menurunkan kematian bayi. PEMBAHASAN Suami tidak mengantar istrinya ke fasilitas kesehatan untuk diperiksa karena Faktor Sosial Budaya sudah terbiasa seperti itu AuIstri pergi sendiriAy. faktor Sosial Budaya sangat mempengaruhi Akibatnya penyuluhan tentang nutrisi, obat Sosial tambah darah, tanda bahaya kehamilan dan budaya sering kali dijadikan petunjuk dan nifas, perawatan bayi dan lainnya tidak tata cara berperilaku dalam bermasyarakat, diperoleh suami. Ketidaktahuan ini dapat hal ini dapat berdampak positif namun juga berdampak lambatnya mengambil tindakan. Notoatmodjo dapat berdampak negative. Masyarakat akan Contoh memegang aturan dan norma serta perilaku tindakan yang mereka lakukan ketika mereka walaupun memiliki dampak yang negatif bagi mengalami sakit, ini akan sangat dipengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Contohnya oleh budaya, tradisi, dan kepercayaan yang dalam penelitian ini cara suami menanggapi ada dan tumbuh dalam masyarakat tersebut. kehamilan sebagai suatu hal yang biasa dan Misalnya wajar sehingga istri tidak perlu diantar ke mempercayai dukun yang memiliki kekuatan Puskesmas. Hasil penelitian menunjukkan gaib sebagai penyembuh ketika mereka bahwa pernyataan responden kelompok istri sakit, dan bayi yang menderita demam atau dan kader mendukung teori ini. Bahwa dalam diare berarti pertanda bahwa bayi tersebut suatu masyarakat yang telah memiliki aturan, akan pintar berjalan. Jadi, dapat disimpulkan nilai-nilai yang diturunkan akan sulit untuk bahwa social budaya sangat mempengaruhi (Notoatmodjo, bayi kekurangan nutrisi karena Hasil kandungan ASI kurang protein, mineral dan zat lainnya yang dibutuhkan bayi. Hasil tentang sehat sakit di Kabupaten Ngada. penelitian menunjukkan bahwa responden Apabila bayi mengalami demam atau panas, istri mengatakan mereka sudah memberi maka ibu atau keluarga akan menggosokkan tambahan makanan pada usia 4 bulan bayi dengan minyak yang dicampur bawang karena bayinya menangis terus akibat lapar. merah dan genoak. atau dibawa ke dukun. Hasil ini menunjukkan bahwa ibu yang Jika Puskesmas. Kebiasaan ini membawa dampak ASI eksklusif selama 6 bulan dan pentingnya yang buruk karena dapat menyebabkn nutrisi bagi ibu hamil. keterlambatan dalam memberikan tindakan. Tingkat Sering anak diantar ke fasilitas kesehatan dalam kondisi kritis. Penyebab kematian penginternalisasian informasi atau ide-ide pada neonatus di Kabupaten Ngada terbesar yang diberikan seseorang (Notoatmodjo, adalah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Dalam rangka menurunkan kematian Aspyxia. Tetanus dan Infeksi. Penyebab ibu dan bayi penyuluhan telah diberikan kematian di Kabupaten Kupang juga sama kepada masyarakat. Tingkat pemahaman (Laporan KIA Provinsi NTT, 2. Contoh materi masyarakat yang berpendidikan SD lain dalam penelitian ini adalah larangan bagi akan sangat lamban dibanding seorang ibu hamil untuk makan ikan karena dapat mengakibatkan Air Susu Ibu (ASI) amis. Larangan ini berdampak negatif karena protein yang paling mudah diperoleh dan mendapatkan informasi dari media masa SLTA Tingkat penyuluhan-penyuluhan. kehamilan di Kabupaten Kupang adalah ikan. Kurang adanya pemahaman tentang cara- Bila ibu tidak makan ikan akibatnya nutrisi cara pencegahan terjadinya kematian bayi yang dibutuhkan akan tidak terpenuhi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab terutama suami bersikap apatis terhadap pertama kematian bayi adalah BBLR 30% di Kabupaten Kupang dan 8% di Kabupaten menurunkan kematian bayi. Suami kurang Ngada. termotivasi untuk memberikan dukungan Dampak yang kurang baik bagi bayi terhadap istri yang sedang hamil, saat bila ibu kurang makan protein dan sayuran melahirkan dan paska persalinan. Meraka lebih memilih sibuk dengan pekerjaan sawah seseorang untuk dapat bertukar informasi atau berkebun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa termasuk bagaimana merawat diri saat angka kematian Neonatal Kabupaten Ngada hamil, melahirkan, menyusui, merawat anak, di Puskesmas Aimere tahun 2014-2016 Puskesmas menghadapi istri yang hamil, melahirkan, dan Waepana Soa 5 kasus. Total kematian pada paska persalinan. Bekerja di luar rumah juga 2 Puskesmas dalam kurun waktu 3 tahun memberi kesempatan pada seseorang untuk adalah 5 kasus lebih rendah 2. 70 kali lipat lebih banyak mengakses informasi lewat dari Kabupaten Kupang. Kematian neonatal media koran, majalah. TV, atau seminar, pada tahun 2014-2016 di Pusksemas Tarus workshop, dan lainnya. Informasi yang dan Camplong adalah 27 kasus (Dinkes diperoleh dapat digunakan untuk mengelola Provinsi. NTT dan Laporan Kabupate. rumah tangga. Dan Gambaran Neonatus Faktor jenis kelamin juga berperanan percepatan penurunan kematian bayi baru Dengan Pada Kabupaten Ngada kehadiran demikian hasil ini mendukung teori dari responden perempuan dan laki-laki hampir Koentjaraningrat . yang mengatakan Sedangkan Kabupaten Kupang bahwa faktor usia, jenis kelamin, pekerjaan responden perempuan lebih besar 81% dari mempengaruhi status kesehatan dan Clyde Kluckhohm responden laki-lakinya hanya 1 orang atau menambahkan lagi wujud budaya yang Kondisi ini menggambarkan bahwa mempengaruhi kesehatan salah satunya menunjukkan perannya seperti yang tertuang Sudarma Bahkan Kabupaten Camplong Kupang dalam petunjuk teknis lompatan percepatan Tingkat pekerjaan dari responden laki-laki. masyarakat tentang informasi kesehatan penurunan kematian bayi di Provinsi NTT percepatan kematian bayi . yang diberikan dan perilaku kesehatan yang Dalam ditampilkan oleh masyarakat. Responden di penurunan kematian bayi . ditekankan Kabupaten Kupang hampir mendekati 100% peran serta masyarakat dan pemerintah . %) adalah IRT, sedangkan Kabupaten dalam menurunkan angka kematian bayi. Ngada 33% adalah PNS. Bekerja di luar Kelompok sasaran adalah Wanita Usia Subur Pasangan Usia Subur (WUS/PUS), ibu hamil, ibu intra natal, dan sesuai petunjuk teknis dalam kebijakan lompatan penurunan kematian bayi tidak . uami, ibu post partus, kader, dan tokoh sepernuhnya ditaati oleh masyarakat. Dalam masyaraka. dan peran pemerintah . epala desa/dusun. RW/RT, kepala lurah, kepala disebutkan suami dan keluarga berperan seksi perencanaan dan kepala seksi KIA) aktif dalam mendukung ibu hamil melakukan dalam menurunkan kematian bayi lewat keluarga juga harus memantau kepatuhan Dalam Partisipasi masyarakat yang dituntut melahirkan dan ibu paska persalinan. (Dinkes Provinsi. Suami ibu hamil mengkonsumsi makanan bergizi Peran suami dalam buku petunjuk dan minum obat tablet Fe secara teratur. Suami juga harus mengenal tanda dan memeriksa kehamilan, memonitor ketaatan bahaya kehamilan, melapor ke tenaga ibu hamil dalam minum tablet Fe secara rutin. kesehatan tentang adanya ibu hamil di Suami juga perlu mengenali tanda dan wilayah, dan harus ada kemitraan antara bahaya kehamilan sehingga dapat segera petugas, dukun, dan kader serta toga/toma. bertindak mengantar ibu hamil ke fasilitas pelayanan kesehatan. Ketidak Hasil Puskesmas/Desa Waepana Puskesmas/Desa Aimere Soa kurangnya dukungan suami menyebabkan informasi yang diberikan saat penyuluhan diskusi kelompok terfokus responden istri, tidak sampai kepada mereka. Didukung kader, dan kepala Puskesmas mengatakan dengan tingkat pendidikan yang rendah bahwa hampir 100% suami tidak mengantar maka keterlibatan masyarakat dan suami istrinya ke Posyandu atau Puskesmas. dalam kegiatan-kegiatan pemerintah dalam Demikian pula dengan hasil penelitian di menurunkan kematian bayi pun rendah. Kabupaten Kupang, responden kader dan Tingkat pendidikan responden di Kabupaten istri dalam diskusi kelompok terfokus juga Ngada terbesar adalah SMA 48%, tingkat mengatakan hal yang sama yaitu suami pendidikan tinggi (D3. S1, dan S. 45%, jarang mengantar istri ke posyandu atau Puskesmas, dan bahkan responden suami pendidikan responden di Kabupaten Kupang yang mengikuti diskusi kelompok terfokus di sebahagian besarnya adalah SD 56%. Camplong SMP. Kontras Partisipasi masyarakat Dalam Akibatnya tentang nutrisi ibu, tanda bahaya kehamilan maupun lainnya tidak diketahui suami. Dampak lanjutannya adalah bahwa suami Kelompok kader dalam penelitian ini tidak membantu mengontrol ketaatan istri minum obat Fe. mendukung kegiatan Pemerintah antara lain Hasil melakukan kunjungan rumah, memberikan Pemerintah penyuluhan di posyandu, mengantar ibu hamil ke puskesmas. memotivasi sasaran lompatan penuruna kematian bayi . 5 di (BUMIL. Provinsi NTT. Para suami tidak mengantar mengunjungi Posyandu. Pada hari Posyandu mereka ke fasilitas kesehatan baik saat hamil maupun paska persalinan. Suami juga tidak pemeriksaan, menimbang bayi/balita, dan mendukung dalam inisiasi menyusui dini, melayani pemberian makanan tambahan tidak terlibat dalam penyuluhan-penyuluhan (PMT) bagi sasaran, bila ada kasus gizi yang diberikan petugas kesehatan maupun buruk/kurang pada bayi/balita dirujuk ke Akibatnya suami tidak mengenali Puskesmas. Hasil penimbangan. dan hasil tanda dan bahaya kehamilan, melahirkan kegiatan posyandu dilaporkan ke kepala desa/lurah Hal ini sangat BUSUI. Hasil mendukung kenyataan bahwa penyebab penelitian ini sejalan dengan teori Wazier kematian ibu pertama adalah perdarahan, . dan kematian bayi pertama adalah BBRL dan Pemerintah Kabupaten Aspixia kedua. Kondisi tersebut terjadi Ngada menyiapkan dana untuk kegiatan karena keterlambatan mengambil keputusan yang bertujuan menurunkan kematian bayi untuk segera mencari pertolongan akibat dan menetapkan peraturan desa bagi ibu kurang pengetahuan. bersalin ke fasilitas kesehatan. Mereka Menurut Wazir . partisipasi masyarakat artinya masyarakat ikut serta, terlibat, ambil bagian, dalam memecahkan menyiapkan Sarpras Kesehatan Posyandu. suatu masalah yang dihadapai di area memberikan insentif bagi kader. dana untuk PMT . ayi/balita dan ibu hami. kegiatan bersama. Partisipasi dituntut suatu Alokasi Dana Desa (ADD) sebesar 20-30 juta kerelaan dan kesediaan untuk turut terlibat, sehingga segala bentuk keterpaksaan tidak Pemerintah desa juga bertanggung dirasakan oleh masyarakat. Keberhasilan jawab dalam pembentukan desa siaga yang meliputi menyiapkan fasilitator. masyarakat akan membuahkan hasil yang . ana sangat baik. Posyandu. Pemerintah Peran pemerintah desa di Kabupaten membentuk jejaring darah dalam rangka Kupang menyiapkan dana dan sumber daya untuk pemerintah desa di Kabupaten Ngada. Menurut respoden dalam diskusi kelompok terfokus pemerintah tidak memiliki peraturan Pembentukan Badan Penyantun Puskesmas desa tentang penurunan angka kematian (BPP) yang bersumber dari dana setiap desa bayi dan tidak pernah mengalokasikan dana sebesar Rp 1. atu juta rupia. dari 14 desa juga tanggung jawab Pemdes. Dana ini digunakan untuk operasional rumah Puskesmas. Pemerintah ASI Selama mendukung Puskesmas. Alokasi dana untuk masyarakat untuk menggunakan fasilitas mendukung kegiatan ini kurang lebih 20 juta. kesehatan yang ada diwilayahnya dengan Dana ini bersumber dari Anggaran Dana Hasil penelitian tentang dukungan Desa (ADD). Hasil penelitian ini mendukung pemerintah di Kabupaten Kupang sama kebijakan dalam petunjuk teknis lompatan penurunan kematian bayi di Provinsi NTT (Dinkes Prop NTT, 2. Provinsi NTT (Dinkes Provinsi NTT, 2. Hasil penelitian ini juga mendukung Kabupaten Kupang. bentuk-bentuk Akibatnya kematian bayi masih tetap tinggi di teorinya Holil. Soelaiman . 0: . yang Faktor Kebijakan Anggaran Menurut Holil. Sulaiman . Pemerintah partisipasi dapat berupa uang. harta benda. Sumber dana secara khusus untuk partisipasi ketrampilan. mendukung lompatan penurunan kematian buah pikiran. partisipasi sosial, partisipasi bayi di Provinsi NTT tidak dialokasikan tetapi dalam proses pengambilan keputusan. sudah terinklud dalam dana untuk pelayanan partisipasi representative. Semua bentuk pertolongan persalinan serta penanganan komplikasi obstetric dan neonatal serta dilaksanakan di Kabupaten Ngada sehingga Dana berasal dari beberapa sumber meliputi: dana Partisipasi ini berdampak pada menururnya APBN (Dekon. DAK. TP). APBD Provinsi. jumlah kematian bayi di kedua Puskesmas ini External Agency. Dana Masyarakat. Swasta yaitu rata-rata dalam 3 tahun terakhir 5 kasus kematian saja. Responsibilit. CSR (Corporate Askes. Social kerjasama dengan pihak lain resmi yang tidak mengikat (Pedoman Revolusi KIA PONED PONEK Provinsi NTT, 2. dialokasikan dari APBN . DAK, atau Dana yang ada dialokasikan untuk TP). Dana tersebut dialokasikan dari DAK beberapa kegiatan termasuk didalamnya ada non fisik termasuk pembelian bahan habis biaya untuk operasional dan manajemen Hasil penelitian tidak mendukung PONED. Alokasi dana tersebut ditetapkan kebijakan pemerintah tersebut karena yang dengan surat keputusan Bupati sesuai dengan kebutuhan Puskesmas dan Rumah kematian bayi hanya sedikit. Contoh pada Sakit Kabupaten Ngada pada anggaran tahun Pemerintah bertanggung jawab terhadap 2016 belum dianggarkan untuk kegiatan penurunan kematian bayi misalnya KNI. II, persalinan baik normal maupun komplikasi. dan KN i. kunjungan rumah neonatal/bayi rujukan kasus ibu hamil dari rumah ke resti dan lainnya. kegiatan lainnya yang Puskesmas PONED ataupun ke rumah sakit PONEK termasuk keluarga dan pengantar seperti: pemeriksaan neonatus. kesehatan neonatus termasuk neonatus risiko tinggi. kunjungan rumah tindak lanjut pengadaan, dan penyediaan fasilitas. Rumah Screening Hipothyroid Kongenital (SHK). tunggu berguna untuk tempat penginapan pemantauan Kesehatan Bayi . engukuran bagi ibu hamil normal yang jauh dari fasilitas Mereka dapat menginap di rumah tunggu bersama keluarga dan 1 bidan penganggung jawab. Lamanya tinggal di pendampingan tidak dialokasikan PONED Rumah Pemerintah rumah tunggu adalah 4 hari . ebelum Dana BOK 2016 untuk Kabupaten melahirkan 2 hari dan sesudah melahirkan 2 Kupang Akomodasi dan fasilitas ditanggung menunggu perubahan APBD 2016. Dana yang ada untuk 2016 adalah JK3 sebesar Apabila ibu hamil mengalami 7,630,660,279 . M) untuk 26 Kecamatan komplikasi dapat tinggal di rumah tunggu 2 dan 2 Rumah Sakit. Sedangkan dana JKN minggu sebelum melahirkan dan 1 minggu sebesar 13,830,250,179 . M) digunakan setelah melahirkan. Tanggungan pemerintah untk program JKN dana yang tersedia di atau pemerintah daerah juga termasuk biaya Kabupaten Kupang begitu besar namun yang transportasi donor darah. Dana untuk biaya tersedia untuk kegiatan penurunan kematian operasional dan manajemen Puskesmas bayi baru lahir dan neonatal tidak teralokasi DIPA dengan jelas. Dari dana APBD sebesar Rp Kupang. 185,145,000 hanya dialokaiskan 21,600,000 Dampak lanjut adalah masih tingginya angka untuk pelacakan kasus kematian ibu dan bayi kematian bayi di kabupaten kupang bila dan direalisasikan Rp 13,600,000. dibandingkan dengan Kabupaten Ngada dan PENUTUP Keberpihakan anggaran pemerintah daerah SIMPULAN di Kabupaten Ngada dan Kabupaten kupang Faktor sosial budaya masyarakat baik masih kurang dalam mempercepat program penurunan angka kematian bayi baru lahir. kebiasaan di Kabupaten Kupang sangat SARAN Keterlibatan mempengaruhi pola penanganan bayi baru menurunkan angka kematian bayi perlu lahir, yang mengakibatkan tingkat kematian tetap ditingkatkan dengan melakukan Faktor Kabupaten Ngada dalam penanganan bayi sakit yang masih dipegang teguh oleh semua kebijakan pemerintah Perlu adanya kebijakan yang jelas di masyarakat sangat mempengaruhi kematian tingkat desa tentang pengalokasian dana untuk kesehatan Ibu dan Anak Partisipasi disertai petunjuk penggunaannya kehamilan di kedua Kabupaten masih rendah Penyegaran kader Posyandu perlu sehingga upaya menekan angka kematian dilakukan setiap tahun agar kemampuan mereka dalam memberikan penyuluhan Partisipasi kader cukup baik pada kedua Kabupaten. Pemerintah di Kabupaten Ngada cukup baik REFERENCES