Jurnal Cakrawala Keperawatan Vol. 01 No. 02 Juli 2024. Hal. 92 - 100 Jurnal Cakrawala Keperawatan e-ISSN: 3046-4536 http://ejurnal. id/index. php/jck https://doi. org/10. 35872/ /jck. ORIGINAL RESEARCH HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PARITAS DENGAN PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI BAWAH KULIT PADA PASANGAN USIA SUBUR DI DESA SUKABUMI Hana Rosiana Ulfah1*. Ravika Putri Kusuma Wardani2. Emy Kurniawati3 1 Program Studi Sarjana Keperawatan. STIKES Estu Utomo. Indonesia 2 Mahasiswa Program Sarjana Keperawatan. STIKES Estu Utomo. Indonesia 3 Program Studi Sarjana Keperawatan. STIKES Estu Utomo. Indonesia Article Info Article History: Received: 04 Juli 2024 Accepted: 31 Juli 2024 Online: 31 Juli 2024 Keywords: AKBK. Tingkat Pendidikan. Paritas Corresponding Author: Hana Rosiana Ulfah. hanarosi@stikeseub. How to cite: Abstract The abstract should be clear, concise and descriptive. It is written in 12 pts Times New Roman . ingle spacin. and preferably not more than 300 words. Abstract consists of: Background: Alat kontrasepsi bawah kulit (AKBK) merupakan alat kontrasepsi hormonal yang efektif dan efisien berbentuk batang yang ditanamkan di bawah kulit yaitu bagian lengan atas dan jangka waktu perlindungan dapat mencapai lima tahun. Tingkat Pendidikan dan Paritas merupakan faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan alat kontrasepsi bawah kulit. Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan pengetahuan dan kesadaran seseorang akan pentingnya suatu hal, termasuk pentingnya ikut serta dalam keluarga berencana yang efektif seperti alat kontrasepsi bawah Paritas yang tinggi pada pasangan usia subur memiliki kecenderungan untuk menggunakan alat kontrasepsi bawah kulit. Purpose: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat pendidikan dan paritas dengan pemilihan alat kontrasepsi bawah kulit pada pasangan usia subur di desa Sukabumi. Methods: Penelitian ini dilakukan dengan metode Cross Sectional dengan populasi pasangan usia subur yang menggunakan alat kontrasepsi di Desa Sukabumi berjumlah 627 jiwa per tahun 2023 dengan sampel 86 jiwa melalui purposive sampling. Uji analisis menggunakan uji statistik Chi-Square dengan derajat kepercayaan 95% ( < 0,. Results: Dari hasil uji Chi - Square di dapatkan tingkat pendidikan p-value 0,009 < 0,05 dan paritas p-value 0,000 < 0,05. Conclusion: Ada hubungan antara tingkat pendidikan dan paritas dengan pemilihan alat kontrasepsi bawah kulit pada pasangan usia subur di desa sukabumi. Pendahuluan / Introduction Penggunaan kontrasepsi meningkat di banyak wilayah di dunia, khususnya Asia dan Amerika Latin, namun Afrika Sub-Sahara memiliki penggunaan kontrasepsi Penggunaan alat kontrasepsi modern meningkat global dari 54% pada 1990 ke 57,4% pada 2014. Secara regional, proporsi WUS usia 15-49 tahun melaporkan peningkatan penggunaan metode kontrasepsi modern minimal 6 tahun. Di Afrika metode kontrasepsi modern meningkat dari 23,6% menjadi 27,6%. Asia dari 60,9% menjadi 61,6%, dan Amerika Latin yaitu Karibia sedikit meningkat dari 66,7% menjadi 67,0%. Diperkirakan 225 juta perempuan di negara berkembang ingin menunda atau Copyright A 2024. JCK, e-ISSN 3046-4536. Jurnal Cakrawala Keperawatan Vol. 01 No. 02 Juli 2024. Hal. 92 - 100 menghentikan kesuburan mereka tetapi tidak menggunakan kontrasepsi karena terbatasnya pilihan, efek samping, kebutuhan alat kontrasepsi yang tidak terpenuhi, dan ketimpangan yang disebabkan oleh pertumbuhan penduduk (WHO, 2. Di Indonesia penggunaan metode kontrasepsi modern . odern Contraceptive Prevalence Rate/mCRP) diproyeksi 59,7% pada 2022. Angkanya pun terus tumbuh hingga mencapai 61,9% pada 2030. Kemudian untuk Provinsi Jawa Tengah sendiri angka prevalensi kontrasepsi modern mencapai < 90% (BKKBN,2. Jumlah penduduk yang terus meningkat merupakan masalah besar bagi negara-negara di dunia, khususnya negara berkembang. Menurut data World Population Review, per 24 Oktober 2023, jumlah penduduk Indonesia mencapai 278,25 juta jiwa. Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di antara negara-negara anggota G20 (Mutia, 2. Berdasarkan temuan Badan Pusat Statistik pada tahun 2020, angka kesuburan total sebesar 2,10. Artinya, rata-rata perempuan Indonesia melahirkan dua orang anak dalam masa reproduksinya. Selama 10 tahun terakhir, angka kesuburan total . otal fertility rat. mengalami penurunan sebesar 0,39. Penurunan ini berkaitan dengan program KB (Keluarga Berencan. yang resmi dicanangkan BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasiona. sejak tahun 1970 (BPS, 2. Keluarga berencana merupakan salah satu cara untuk mengekang laju pertumbuhan penduduk di Indonesia. Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2009, keluarga berencana adalah suatu bentuk upaya untuk mengatur jarak dan jumlah kelahiran anak, usia ideal untuk melahirkan, dan waktu terjadinya kehamilan , melindungi dan mendukung penghormatan terhadap hak-hak reproduksi untuk membangun keluarga yang berkualitas. Pemerintah menerapkan kebijakan Keluarga Berencana (KB) untuk menciptakan pertumbuhan penduduk yang seimbang dan keluarga berkualitas (BKKBN, 2. Kontrasepsi berasal dari kata kontra, berarti AumencegahAy atau AumelawanAy dan konsepsi yang berarti pertemuan sel telur yang matang dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan. Kontrasepsi adalah menghindari terjadinya kehamilan akibat pertemuan sel telur matang dengan sel sperma (BKKBN,2. Alat kontrasepsi secara garis besar dibedakan menjadi alat kontrasepsi jangka pendek . ondom, pil, suntika. , alat kontrasepsi jangka panjang . IUD . ntra uterine devic. ), dan alat kontrasepsi permanen (Metode Operasi Wanita (MOW). Metode Operasi Pria (MOP)). Dari segi kelebihan dan manfaatnya, penggunaan jangka panjang lebih menguntungkan, karena metode KB ini tidak memerlukan pemeriksaan rutin oleh dokter profesional (BKKBN,2. MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjan. merupakan metode kontrasepsi yang dapat digunakan lebih dari dua tahun serta efektif dan efisien untuk keperluan memberikan jarak kelahiran yang lebih dari tiga tahun atau untuk mengakhiri kehamilan, dan jika tidak ingin memiliki anak lagi. MKJP mempunyai kelebihan yaitu sangat efektif dan preventif terhadap tingginya angka kehamilan dan angka kejadian drop out atau putus pakai dari keikutsertaan KB rendah (Hargiani, 2. Salah satu jenis metode kontrasepsi jangka panjang adalah implan. Implan merupakan metode kontrasepsi berupa implan karet silikon yang mengandung hormon progesteron dan digunakan selama tiga hingga lima tahun. Metode KB ini mengandung hormon progesteron yang dimaksudkan untuk mencegah pertemuan sel telur dan sperma. Cara kerja implan adalah implan yang ditempatkan di bawah kulit mulai melepaskan progesteron (Hartanto, 2. Copyright A 2024. JCK, e-ISSN 3046-4536. Jurnal Cakrawala Keperawatan Vol. 01 No. 02 Juli 2024. Hal. 92 - 100 Menurut BKKBN, peserta KB aktif di antara Pasangan Usia Subur (PUS) tahun 2020 sebesar 67,6%. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2019 sebesar 63,31% berdasarkan data Profil Keluarga Indonesia,Tahun 2019. Pada tahun 2020, tingkat kesertaan ber-KB Provinsi Bengkulu memiliki persentase tertinggi sebesar 71,3% sedangkan Jawa Tengah memiliki presentase 67,6% (KEMENKES, 2. Di Jawa Tengah, menurut data dari BKKBN tahun 2021 jumlah PUS 6. 024 jiwa dan jumlah KB aktif 4. 188 jiwa dengan rincian antara lain IUD 419. ,3%). MOW 222. ,5%). MOP 22. ,48%). Kondom 146. ,2%). Implant 617. ,6%). Suntik 427 . ,6%). Pil 480. ,6%) (BKKBN Jawa Tengah. , 2. Di Boyolali menurut data dari BKKBN tahun 2021 jumlah PUS 172. 389 jiwa dan jumlah KB aktif 691 jiwa dengan rincian sebagai berikut IUD 12. ,6%). MOW 6. ,1%), MOP 777 . ,71%). Kondom 1. ,7%). Implan 11. ,3%). Suntik 70. ,7%), Pil 5. ,6%) (BKKBN Jawa Tengah. , 2. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Boyolali pada 2021 di Cepogo jumlah PUS 13. 701 jiwa dan jumlah KB aktif 12. 929 jiwa dengan rincian sebagai berikut IUD 931 . ,2%). MOW 477 . ,69%). MOP 99 . ,77%). Kondom 149 . ,15%). Implan 2. ,5%). Suntik 8. ,54%). Pil 302 . ,34%) (DINKES, 2. Di desa Sukabumi jumlah PUS 601 jiwa dan jumlah KB aktif 419 jiwa dengan rincian sebagai berikut IUD 98 . %). MOW 13 . %). MOP 3 . ,7%). Kondom 9 . ,1%). Implant 51 . %). Suntik 219 . %). Pil 22 . ,2%) (PLKB, 2. Berdasarkan Teori Green dan Kreuter (Green, 2. , bahwa pemakaian alat kontrasepsi dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni umur, pendidikan,pengetahuan, jumlah anak hidup, ketersediaan alat kontrasepsi, dukungan petugas kesehatan, kesepakatan suami dan istri dan efek samping. Penelitian ini di lakukan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dan paritas dengan pemilihan alat kontrasepsi bawah kulit pada pasangan usia subur. Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, sangat diperlukan dan berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berpikir. Dengan kata lain, masyarakat yang berpendidikan tinggi akan mampu mengambil keputusan lebih rasional dan umumnya lebih terbuka terhadap perubahan dan menerima hal-hal baru dibandingkan masyarakat yang berpendidikan lebih rendah. Paritas merupakan jumlah kelahiran hidup dan mati yang dimiliki dari suatu kehamilan dari usia 28 minggu ke atas yang pernah dialami oleh ibu. Paritas sebanyak 2-3 kali adalah paritas yang paling aman ditinjau dari sudut pandang kematian maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi . ebih dari . adalah paritas yang memiliki angka kematian maternal yang lebih tinggi dimana lebih tinggi paritas, maka lebih tinggi kematian maternal. Untuk resiko pada paritas satu dapat ditangani dengan asuhan obstetrik lebih baik sedangkan untuk paritas tinggi ditangani dengan dikurangi atau dicegah dengan keluarga berencana, kemudian sebagian kehamilan pada paritas tinggi adalah tidak direncanakan (Wiknjosastro. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan paritas dengan pemilihan alat kontrasepsi bawah kulit pada pasangan usia subur di Desa Sukabumi. Objective Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat pendidikan dan paritas dengan pemilihan alat kontrasepsi bawah kulit pada pasangan usia subur di desa Sukabumi. Copyright A 2024. JCK, e-ISSN 3046-4536. Jurnal Cakrawala Keperawatan Vol. 01 No. 02 Juli 2024. Hal. 92 - 100 Metode / Methods Desain Penelitian /Research design Jenis penelitian ini adalah penelitian Kuantitatif dengan desain penelitian Cross Sectional. Tempat dan sampel/Setting and samples Penelitian ini dilakukan di Desa Sukabumi pada bulan April Ae Mei 2024 dengan populasi Pasangan Usia Subur yang menggunakan alat kontrasepsi di Desa Sukabumi sebanyak 627 jiwa per tahun 2023. Pengukuran dan pengumpulan data / Measurement and data collection Penentuan besar sampel menggunakan Teknik Purposive Sampling dan untuk menentukan besar sempel menggunakan rumus Slovin didapatkan 86 sampel Pasangan usia Subur yang menggunakan alat kontrasepsi di Desa Sukabumi. Variabel dalam penelitian ini adalah variabel bebas . ingkat pendidikan dan parita. kemudian untuk variabel terikat . emilihan alat kontrasepsi bawah kuli. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan lembar checklist yang terdiri dari umur, pendidikan,paritas atau jumlah anak dan pemilihan alat kontrasepsi bawah kulit. Analisis Data / Data analysis Pengolahan data dalam penelitian ini dengan cara editing, coding, entry data, dan Analisa data menggunakan aplikasi SPSS dengan Teknik Analisa Chi-Square dengan derajat kepercayaan 95% ( = 0,. Hasil / Results Dsitribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Responden berdasarkan Usia. Tingkat Pendidikan. Pekerjaan Analisis univariat digunakan untuk mendapatkan distribusi frekuensi variabel independen (Tingkat Pendidikan dan Parita. dan dependen (Pemilihan AKBK). Adapun hasil analisisnya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 1. Distribusi Frekuensi Variabel Frekuensi Persentase (%) Tingkat Pendidikan Dasar (SD . SMP) Menengah (SMA) Tinggi (PT) Paritas O2 Pemilihan AKBK Tidak Nilai N Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan . untuk membuktikan adanya hubungan signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen di gunakan uji chi-square. Copyright A 2024. JCK, e-ISSN 3046-4536. Jurnal Cakrawala Keperawatan Vol. 01 No. 02 Juli 2024. Hal. 92 - 100 Tabel 2 Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Pemilihan Alat Kontrasepsi Bawah Kulit di Desa Sukabumi. Pemilihan_AKBK Tingkat_Pendidikan TIDAK Total p-value Dasar (SD. SMP) 28 100,0 0,009 Menengah (SMA) Tinggi (PT) Total n Analisis Uji Paired T Test Kuesioner Pengetahuan tentang PHBS Tabel 3. Hasil Uji Paired T Test Sebelum & Sesudah diberikan Intervensi Video Pendidikan Kesehatan Tentang PHBS di Kelurahan Metuk. Mojosongo 2020 Mean Pair PreTest Ae PostTest Paired Differences 95% Confidence Std. Interval of the Std. Error Difference Deviation Mean Lower Upper Sig. Tabel 3 menunjukan hasil uji Paired T Test dengan nilai yang signifikan ( p value hasil tersebut menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna pada tingkat pengetahuan responden pre test dan post test, dari data di atas dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh terhadap tingkat pengetahuan responden sebelum dan sesudah diberikan intervensi pendidikan kesehatan tentang PHBS pada warga dusun Karangandong desa Metuk Mojosongo Boyolali Pembahasan / Discussion Karakteristik tingkat pengetahuan responden pre test berdasarkan usia 12-25 tahun sebanyak 10 responden 100% yang mendapat berkategori baik sebanyak 9 responden 90% dan 1 responden 10% berkategori cukup, usia 26-45 th sebanyak 12 responden 100% yang mendapat kategori baik sebanyak 11 responden 91,6% dan 1 responden 8,3% berkategori cukup, usia 46-60 th sebanyak 14 responden 100% berkategori baik, usia 61-80 th 4 responden 100% berkategori baik. Sedangkan dari hasil post test didapatkan hasil responden yang mendapat hasil nilai berkategori baik sebanyak 100%. Menurut Elizabeth dalam Wawan dan Dewi . , usia adalah umur individu yang terhitung mulai dari saat dilahirkan sampai berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suwaryo P. Yuwono P. , menyatakan bahwa umur memiliki hubungan terhadap tingkat pengetahuan warga tentang mitigasi bencana alam tanah longsor. Karakteristik tingkat pengetahuan responden pre test berdasarkan pendidikan SD sebanyak 2 responden 100% yang mendapat berkategori baik. SMP sebanyak 2 responden 66,6% yang mendapat kategori baik dan 1 responden 33% berkategori cukup. SMA sebanyak 26 responden 96,29% berkategori baik dan 1 responden 3,70% berkategori cukup. D3 sebanyak 2 responden 100% berkategori baik. S1 sebanyak 6 responden 100% berkategori baik. Sedangkan dari hasil post test semua responden Copyright A 2024. JCK, e-ISSN 3046-4536. Jurnal Cakrawala Keperawatan Vol. 01 No. 02 Juli 2024. Hal. 92 - 100 nilai kategori baik sebanyak 100%. Menurut Mubarak . , pendidikan merupakan suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan seseorang agar dapat memahami suatu hal. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah orang tersebut menerima informasi. Hal tersebut juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suwaryo P. & Yuwono . , menyatakan bahwa pendidikan memiliki hubungan dengan tingkat pengetahuan warga tentang mitigasi bencana alam tanah longsor. Karakteristik tingkat pengetahuan responden berdasarkan pekerjaan IRT sebanyak 12 responden 100% yang mendapat berkategori baik. Swasta sebanyak 12 responden 100% yang mendapat kategori baik. Buruh sebanyak 5 responden 83% berkategori baik dan 1 responden 16% berkategori cukup. PNS sebanyak 4 responden 100% berkategori baik. Pelajar sebanyak 4 responden 80% berkategori baik, dan 1 responden 20% berkategori cukup. Pendeta 1 responden 100% berkategori baik. Menurut Mubarak . , pekerjaan adalah suatu kegiatan yang harus dilakukan terutama untuk memenuhi kebutuhan setiap hari, lingkungan pekerjaan dapat membuat seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal tersebut juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suwaryo P. & Yuwono P. , menyatakan bahwa pekerjaan memiliki pengaruh terhadap tingkat pengetahuan warga tentang mitigasi bencana. Pengetahuan responden tentang PHBS pre test atau sebelum diberikan pendidikan kesehatan kategori baik . -100%) sebanyak 38 orang . %) dan yang berkategori cukup . -75%) sebanyak 2 responden . %). Sedangkan pada hasil post test setelah diberikan video pendidikan kesehatan di dapatkan hasil jawaban 40 responden . %) kategori baik . -100%). Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rofidatul dkk . , bahwa ada perbedaan yang signifikan pada tingkat pengetahuan sebelum dan setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang PHBS. Peningkatan pengetahuan dipengaruhi oleh pemberian edukasi yang terstruktur pada Dalam penelitian ini responden memiliki nilai rata-rata pre test dan post test kategori nilai responden saat pre test 95% responden masuk dalam kategori baik, sedangkan hasil post test responden dengan kategori baik meningkat sebesar 5% yaitu menjadi 100%. Menurut Sukamto, . Seseorang dengan sumber informasi yang banyak dan beragam akan menjadikan orang tersebut memiliki pengetahuan yang luas. Dengan demikian, pendidikan kesehatan tentang pentingnya penerapan PHBS dalam rumah tangga sangat penting dilakukan karena sesuai dengan tujuannya dapat mempengaruhi pengetahuan, sikap dan kebiasaan sasaran pendidikan. Pendidikan kesehatan tidak dapat secara mudah diberikan oleh seseorang kepada oranglain, karena pada akhirnya sasaran pendidikan itu sendiri yang dapat mengubah kebiasaan dan tingkah lakunya sendiri. Bahwa yang harus dilakukan oleh pendidik adalah menciptakan sasaran agar individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dapat mengubah sikap dan tingkah lakunya sendiri (Setyabudi, 2. Pada responden yang memiliki tingkat pengetahuannya diatas rata-rata, ditunjukan dengan responden mampu manjawab pertanyaan kuesioner dengan benar. Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Notoatmodjo . , pengetahuan merupakan kognitif, afektif dan psikomotorik. Setelah dilakukan penelitian di warga Dusun Karangandong desa Metuk Mojosongo Boyolali, terdapat perbedaan tingkat pengetahuan pada responden dengan skor pre test dan post test terdapat perbedaan yang bermakna dengan perbedaan nilai Copyright A 2024. JCK, e-ISSN 3046-4536. Jurnal Cakrawala Keperawatan Vol. 01 No. 02 Juli 2024. Hal. 92 - 100 rata-ratapre test dan post testdengan tingkat Sig . -taile. p value 0. 000 nilai p < 0,05. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rofidatul dkk . , bahwa ada perbedaan yang signifikan pada tingkat pengetahuan sebelum dan setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang PHBS. Peningkatan pengetahuan dipengaruhi oleh pemberian edukasi yang terstruktur pada responden. Hasil uji Paired sampel test tingkat pengetahuan pre test dan post test pada responden menujukkan bahwa adanya perbedaan tingkat pengetahuan, responden memiliki nilai rata-rata pre test dan post test kategori nilai responden saat pre test sebelum diberikan pendidikan kesehatan 95% responden masuk dalam kategori baik, sedangkan hasil post test setelah diberikan pendidikan kesehatan responden dengan kategori baik meningkat sebesar 5% yaitu menjadi 100%. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan memberikan penambahan pengetahuan serta kemampuan seseorang dengan cara praktik belajar yang bertujuan untuk mengubah individu maupun masyarakat untuk lebih mandiri dalam mencapai tujuan hidup sehat (Depkes RI, 2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rofidatul dkk . , menyatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada tingkat pengetahuan sebelum dan setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang PHBS. Peningkatan pengetahuan dipengaruhi oleh pemberian edukasi yang terstruktur pada Materi yang telah disampaikan akan menjadi sebuah aplikasi yang diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Pendidikan kesehatan merupakan suatu faktor penguat agar dapat memberdayakan masyarakat dan mampu mengadakan sarana informasi kesehatan (Shuliha, 2. Hasil uji Paired sampel test pada responden saatpre test dan post test menunjukkan bahwa ada perbedaan tingkat pengetahuan yang bermakna dengan nilai Sig . -taile. p value 0. 000 nilai p < 0,05, hal ini dipengaruhi oleh pendidikan kesehatan yang sudah dilaksanakan oleh peneliti. Notoatmodjo . , menyatakan bahwa dalam penyampaian pendidikan menggunakan alat bantu tujuannya menimbulkann minat, mencapai sasaran yang banyak, merangsang sasaran pendidikan untuk meneruskan pesan-pesan yang diterima kepada orang lain, untuk mempermudah penyampaian, penerimaan informasi oleh sasaran pendidikan, mendorong keinginan orang untuk mengetahui dan menegakkan pengertian yang Penggunaan alat bantu yang sesuai seperti alat bantu visual lebih mempermudah cara penyampaian dan penerimaan informasi. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan media video pendidikan kesehatan dengan bahasa yang mudah dipahami dan tulisan yang menarik, materi yang disampaikan sesuai dangan tujuan peneliti, diadakan sesi tanya jawab, serta durasi video pendidikan kesehatan yang cukup sehingga responden mudah untuk Penelitian ini sejalan dengan Aeni . , menyatakan bahwa penyampaian pendidikan kesehatan harus menggunakan cara tertentu, materi disesuaikan dengan sasaran, alat bantu pendidikan kesehatan disesuaikan agar tercapai hasil yang maksimal. Dengan menggunakan video di masa pandemi covid-19 ini, selain menjadi pilihan lebih menarik juga mengurangi risiko penularan covid-19 yang bisa terjadi karena kontak langsung antara peneliti dan responden. Responden yang telah diberikan intervensi video pendidikan kesehatan tentang PHBS post testmemiliki pengetahuanyang lebih tinggi dalam menjawab pertanyaan kuesioner dan mampu menyebutkan komponen indikator PHBS, akibat tidak Copyright A 2024. JCK, e-ISSN 3046-4536. Jurnal Cakrawala Keperawatan Vol. 01 No. 02 Juli 2024. Hal. 92 - 100 menerapkan PHBS rumah tangga. Hasil pre test responden dengan kategori baik . 00%) sebanyak 38 orang . %) dan yang berkategori cukup . -75%) sebanyak 2 responden . %). Sedangkan pada hasil post test setelah diberikan video pendidikan kesehatan di dapatkan hasil jawaban 40 responden . %) kategori baik . -100%). Hal ini mendukung penelitian yang telah dilakukan oleh Suastina I dkk . , menyatakan adanya pengaruh pendidikan kesehatan yang bermakna antara pre test dan post test. Hal serupa juga didukung oleh peneliti Mulyadi dkk . , menyatakan adanya pengaruh yang signifikan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan dengan media video terhadap tingkat pengetahuan mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Kesimpulan/Conclusion Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut : Hasil uji statistik dengan menggunakan uji Chi- Square didapatkan nilai p-value 0,009 yang disimpulkan terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan pemilihan alat kontrasepsi bawah kulit pada pasangan usia subur di desa Sukabumi. Hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Square di dapatkan nilai p-value 0,000 yang disimpulkan terdapat hubungan antara paritas dengan pemilihan alat kontrasepsi bawah kulit pada pasangan usia subur di desa Sukabumi. Daftar Pustaka / Referens BKKBN. Akseptor KB dan pencegahan Kehamilan. Jakarta: BKKBN. BKKBN. Profil Keluarga Indonesia. Jakarta: BKKBN. BKKBN. Jawa Tengah. Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) dan Peserta KB Aktif Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah (Jiw. Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) dan Peserta KB Aktif Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah (Jiw. BKKBN. Pemantauan Pasangan Usia Subur Melalui Mini Survei Indonesia. Pemantauan Pasangan Usia Subur Melalui Mini Survei Indonesia. BKKBN. Buku saku bagi petugas lapangan program KB Nasional. Jakarta: BKKBN. BKKBN. Rencana Strategis Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Tahun 2015-2019. Jakarta: BKKBN. BKKBN. Profil Keluarga Indonesia. Profil Keluarga Indonesia. BKKBN. Jurnal Keluarga Informasi Kependudukan. KB. Dan Pembangunan Keluarga. Jurnal Keluarga, 1-3. BPS. Data kepadatan penduduk. Jakarta: bps. DINKES,Boyolali. Peserta KB aktif menurut Jenis Kontrasepsi. Kecamatan. Dan Puslkesmas Kabupaten Boyolali. Peserta KB aktif menurut Jenis Kontrasepsi. Kecamatan. Dan Puslkesmas Kabupaten Boyolali Dewi. , & Notobroto. Rendahnya Keikutsertaan Pengguna Metode Kontrasepsi Jangka Panjang Pada Pasangan Usia Subur Di Polindes Tebalo Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik. Biometrika Dan Kependudukan, 3, 66Ae Dr. Ai Yeyeh Rukiyah. SiT. MKM. CHE. Desi Trisiani. AM. Keb. Kes. CPHCT. Cht. DR. BD. Nur Handayani. SiT. Kes Dan Armiyanti. SST. Tr. Keb. Program Keluarga Berencana Bagi Pasangan Usia Subur. Jakarta: Trans Info Media. Copyright A 2024. JCK, e-ISSN 3046-4536. Jurnal Cakrawala Keperawatan Vol. 01 No. 02 Juli 2024. Hal. 92 - 100 Green. Health Program Planning an Educational and Ecological Approach. New York :Mc Graw Hill: Fourth Edition. Hartanto. Keluarga berencana dan kontrasepsi. Jakarta: Sinar Harapan. Hartini. Pendidikan dan Paritas terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK). Jurnal Kesmas Asclepius, 2. , 105Ae112. https://doi. org/10. 31539/jka. Kurniawan. , & Dewi Pertiwi. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemilihan Metode Kontrasepsi Implant Pada Wanita Usia Subur Di Kelurahan Katulampa Kota Bogor Tahun 2019. Promotor, 4. , 199Ae207. https://doi. org/10. 32832/pro. Mutia. Daftar Jumlah Penduduk di Negara G20. Indonesia Peringkat Berapa? Jakarta: Katadata Media Network. PLKB. Laporan Rekapitulasi Pemutakhiran data PUS dan peserta KB aktif. Laporan Rekapitulasi Pemutakhiran data PUS dan peserta KB aktif. Rahayu. Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI. Rismawati. Asriwati. Tarigan Sibero. , & J. Hadi. Faktor Yang Mempengaruhi Wanita PUS Terhadap Pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) Di Puskesmas Mayor Umar Damanik Kecamatan Tanjungbalai Selatan Kota Tanjungbalai. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI), https://doi. org/10. 56338/mppki. , 100Ae105. Sartika Ayu. Munawar. Ilham. Khairi. , & Silitonga. Analisis Program Bangga Kencana: Studi Tingginya Angka Unmet Need Di Provinsi Aceh. JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga Dan Pendidika. , 10. , 161Ae172. https://doi. org/10. 21009/jkkp. Saskara. Hubungan Pendidikan Dengan Rendahnya Minat Ibu Terhadap Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang. Hubungan Pendidikan Dengan Rendahnya Minat Ibu Terhadap Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang, 1-12. Tambun. Faktor Ae Faktor Yang Memengaruhi Akseptor Kb Dalam Memilih Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (Akb. Di Wilayah Kerja Kampung Kb Medan Johor Tahun 2020. Excellent Midwifery Journal, 3. , 91Ae101. https://doi. org/10. 55541/emj. WHO. Medical Eligibility Criteria For Contraceptive Use. Gevena: Departement of Reproduction and Research World Health Organization. WHO. Family planning/contraception methods. World Health Organization The Global Health. Wiknjosastro. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. Wiknjosastro. Ilmu Kebidanan Cetakan ke-5. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Yulviana. Faktor - Faktor Yang Berhubungan Dengan Penggunaan Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK) di Kecamatan Payung Sekaki Kota Pekanbaru Tahun 2015. MENARA Ilmu, 11. , 149Ae154. Copyright A 2024. JCK, e-ISSN 3046-4536.