Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 Pendampingan Membaca Al-QurAoan melalui Metode IqraAo dalam Meningkatkan Akurasi Tajwid Remaja di Lingkungan Masjid Asra AlBakrie Olo Ladang Muhammad Roihan. Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, mhdroihan28@gmai. Martin Kustati. Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, martinkustati@uinib. Gusmirawati. Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, gusmirawati27@gmail. Keywords: Pendampingan. Membaca Al-QurAoan. Metode IqraAo. Remaja. Abstrak: Pendampingan ini bertujuan membantu remaja agar meningkatkan kemampuan bacaan Al-QurAoan dengan kaidah tajwid yang benar, meliputi pengenalan huruf hijaiyah, penggunaan harakat, serta pelafalan yang benar sesuai makharijul huruf. Permasalahan yang melatarbelakangi pendampingan ini yaitu, masih ditemukan kemampuan bacaan Al-QurAoan sebagian remaja, seperti kurang tepat dalam mengenali huruf hijaiyah, kesulitan membedakan panjang dan pendek, serta kurang lancarnya membaca sesuai tajwid. Metode yang dipakai yaitu. Participatory Action Research (PAR) dengan tahapan diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Tahap persiapan diawali dengan perkenalan antara pendamping dan remaja untuk membangun kedekatan, rasa nyaman, serta motivasi ketika belajar membaca Al-QurAoan. Tahap pelaksanaan berlangsung selama 45 hari dengan menggunakan metode IqraAo yang disesuaikan dari kemampuan setiap individu remaja. Evaluasi dilakukan melalui tes bacaan untuk melihat perkembangan kelancaran Hasil pendampingan memperlihatkan adanya peningkatan kemampuan membaca Al-QurAoan pada sebagian remaja, ditandai dengan meningkatnya kelancaran membaca ayat-ayat Al-QurAoan, ketepatan mengenali huruf hijaiyah, serta penerapan kaidah tajwid yang lebih baik. Pendahuluan Islam dengan jelas menunjukkan perhatian yang mendalam terhadap peningkatan kecerdasan dan kualitas intelektual umatnya. Dakwah Islam bertujuan untuk membimbing manusia keluar dari kebodohan yang dapat menyesatkan, menuju pencerahan ajaran Islam yang membawa kebaikan (Ainusyamsi, 2021. Hardianto & Fata, 2. Islam merupakan pelengkap dari semua agama, dalam istilah islam agama yang sempurna, islam meberi juga dasar-dasar kokoh tentang apa tujuan serta esensi sebuah pendidikan, yaitu bahwa berkembangnya fitrah serta potensi yang ada pada manusia senantiasa mengarah ke nilai kebenaran. Dengan demikian, diharapkan manusia dapat menjalankan perannya sebagai hamba Allah serta melaksanakan amanah sebagai khalifah di bumi. Al-QurAoan mengandung banyak pesan yang mengingatkan dan mengarahkan manusia untuk memperhatikan berbagai aspek pendidikan, terutama dalam pembentukan akhlak, peningkatan pengetahuan, serta pengembangan kemampuan intelektual dan pemikiran. Kitab suci Al-QurAoan, yang diturunkan oleh Allah SWT, memuat pokok ajaran syariat yang juga p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 terdapat dalam kitab-kitab suci sebelumnya. Oleh karena itu. Al-QurAoan berfungsi sebagai panduan hidup, sumber pencerahan, dan pedoman utama bagi umat manusia (Hakim et al. & Syukran, 2. Semua hal yang diperlukan manusia untuk menjalani hidupnya telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-QurAoan. Sumber hukum serta pedoman yang dipegang teguh oleh umat Islam merupakan AlQurAoan dan Hadis. Pada dasarnya seluruh panduan manusia, guna menjalani kehidupan di dunia tidak lain bersumber dari Al-QurAoan, di dalamnya terkandung norma-norma serta aturan yang menuntun umat manusia agar senantiasa berada pada jalan kebenaran. Al-QuraAoan tentu mengajarkan agar manusia menjadi pribadi yang ber-akidah yang kokoh, serta mampu menguasai aspek kehidupan dengan memegang hokum keadilan, serta membina akhlak yang mulia yang nanti menjadi kebahagiaan di dunia dan akhirat (Efendi & Iskandar, 2. Al-QurAoan adalah anjuran bagi umat islam agar senantiasa membacanya siang dan Allah SWT dan Rasul-Nya yang memerintahkan agar senantiasa melantunkan ayat-ayat suci Al-QurAoan, yang di setiap hurufnya terdapat sepuluh kebaikan sebagai balasannya (Gumati. Karomah, 2023. Sidik & Setiawan, 2. Rasulullah SAW bersabda: e a a e AaNA AacIA AaEA a Aa OA AeIA a AECA AacIA AaEA AIIA AaIA AaEA AeA AaOA Artinya: AySebaik-baik manusia diantara kalian adalah yang belajar Al-QurAoan dan Ay (Hadis Riwayat Al-Bukhari No. 5027, dari sahabat Utsman bin AoAffan r. Dengan melantunkan Al-QurAoan, seseorang tidak hanya memenuhi tuntunan Ilahi dan ajaran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga merasakan ketenangan dalam batin dan jiwanya. Aktivitas ini memberikan energi positif yang dibutuhkan untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Namun, manfaat tersebut sangat bergantung pada pemahaman yang tepat terhadap metode pembacaan yang sejalan dengan prinsip fonetik dan aturan tajwid. Oleh karena itu, penting untuk memberikan pendampingan bagi anak-anak dalam mempelajari huruf hijaiyah, memastikan mereka memahami posisi artikulasi suara dengan benar, serta membimbing mereka dalam pengucapan Al-QurAoan yang benar disertai kaidah tajwid (Elfina et al. , 2. Dalam realitasnya, masih ditemukan banyak remaja yang belum memiliki kemampuan membaca Al-QurAoan secara optimal. Mulai dari peserta didik yang belum memahami kapan harus dibaca panjang dan pendek, bacaan yang terlalu cepat sampai melupakan kaidah hukumhukum dasar dalam membaca Al-QurAoan, seperti ikhfa haqiqi yang tidak didengungkan secara benar serta sering menyamakan ikhfa dengan hukum bacaan izhar. Kondisi ini tentu dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kurangnya pendampingan yang intensif, pemilihan metode pembelajaran yang kurang sesuai dengan keperluan, serta rendahnya motivasi dalam mempelajari Al-QurAoan. Situasi yang terjadi demikian memeprlihatkan masih terapat kesenjangan kondisi yang diharapkan dengan harpan di lapangan dalam pembelajaran AlQurAoan. Sebenarnya, kemampuan serta pemahamn dalam membaca Al-QurAoan itu suatu fondasi penting dalam membentuk pemahaman agama yang kuat (Noterisa et al. , 2. Masa remaja menandai periode esensial dalam pembentukan identitas pribadi serta pematangan cara berpikir yang luas dan mendalam. Pada fase ini, individu mulai mampu mencari dan mempertanyakan berbagai situasi, serta memahami berbagai hal dengan lebih Dalam konteks ini, pendidikan memiliki peran krusial dalam membantu remaja memahami potensi diri serta lingkungan sosial mereka. Oleh karena itu, dampak bagi dunia p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 pendidikan meliputi pelaksanaan pembelajaran yang hendak mengasah kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah, penyediaan layanan bimbingan dan konseling upaya dukungan psikologis, pengembangan bakat serta minat peserta didik, dan penanaman nilai moral serta tanggung jawab sosial sebagai bekal untuk kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut sependapat Menurut John W. Santrock, masa remaja ditandai dengan perkembangan kemampuan berpikir formal dan pencarian identitas diri, sehingga pembelajaran perlu mendorong berpikir kritis dan pengambilan keputusan (Santrock, 2. Pada usia remaja ini merupakan peralihan masa dari kanak-kanak kepada dewasa yang artinya, masa dimana perubahan-perubahan perkembangan segi pengetahuan, soial serta Dalam masa remaja juga tentu memiliki tahapan-tahapan perkembangan yaitu terbagi dari tiga tahap yaitu, early . , middle . , dan late . Kemudian dari ketiga tahapan tersebut remaja tentu memliki sifat dan tugas-tugas yang diperlukan dalam perkembangan nya, baik itu fisik dan psikis. Dengan kata lain masa remaja ini menjadi masa krusial jika dakaitkan dengan pembelajaran, karena setiap karakteristik remaja tentu memiliki tuntutan pendekatan pembelajaran yang sesuai dan lebih terbuka. Remaja sekarang tidak lagi cocok dalam pembelajaran yang bernuansa terlalu terkesannya kaku. Dengan demikian, pemilihan metode dan pendekatan sangat menjadi hal yang penting guna menopang semangat remaja di era saat ini. Metode iqraAo bisa disebut dengan metode membaca, yaitu membaca dalam artian bukan hanya membaca tulisan, melainkan iqraAo bertujuan memahami makna yang dibaca. Dalam konteks pembelajaran Al-QurAoan metode iqraAo dikatakan metode membaca Al-QurAoan yang memfokuskan pada latihan. Metode iqroAo ini memiliki keunggulan yang penyusunan media atau buku iqroAo ini dibuat secara sistematis. Dalam artian Metode iqroAo ini bersifat dari yang termudah kepada yang sulit, serta sesuai dengan tahapan pembelajaran. Kemudian, metode ini cocok digunakan secara berkelanjutan dengan penilaian di akhir pembelajaran, guna melihat sejauh mana peserta didik benar-benar paham materi yang telah diajarkan (Putri et al. , 2. Dalam konteks ini, bisa atau tidaknya membaca Al-QurAoan memegang peran sangat signifikan, yaitu tidak hanya memperkaya daya kognitif, tetapi juga membentuk dimensi spiritual serta sifat para remaja. Pembelajaran Al-QurAoan dengan memanfaatkan metode IqraAo adalah salah satu pendekatan yang tepat, karena metode ini dirancang dengan runtutan yang sistematis, bertahap, dan disesuaikan dengan tingkat kemampuan setiap individu peserta didik. Metode IqroAo mengedepankan latihan membaca secara langsung, yang ikut serta langsung melihat pada peningkatan ketelitian, konsentrasi, serta akurasi dalam penerapan kaidah tajwid. Oleh sebab itu, penggunaan metode IqraAo dalam pembelajaran Al-QurAoan dapat menjadi alat yang efektif untuk mendukung perkembangan remaja secara menyeluruh, baik dari segi intelektual, keterampilan membaca, maupun pembentukan karakter serta kecerdasan jiwa dalam kehidupan sehari-hari. Usaha yang perlu dilakukan guna mencegah serta mengatasi permasalahanpermasalahan tersebut yaitu, melalui kegiatan pendampingan pembelajaran Al-QurAoan. Dalam pendampingan nantinya secara tidak sengaja melbatkan partisipasi antara pendamping degan peserta didik, melahirkan dialog yang lebih dekat diantara keduanya. Sehiungga proses kegiatan pembelajaran berjalan efektif serta menyesuaikan dengan kebutuhan setiap individu peserta Selain itu, penerapan metode pembelajaran yang tepat, seperti metode IqraAo, dapat membantu peserta didik dalam mengenal huruf hijaiyah, memahami harakat, serta p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 meningkatkan kelancaran membaca secara bertahap dan sistematis. Berdasarkan uraian tersebut, permasalahan utama dalam kegiatan ini yaitu, masih kurangnya kemampuan membaca Al-QurAoan peserta didik terkhsusus remaja, yang ditandai dengan kurangnya kelancaran membaca serta belum optimalnya penerapan kaidah tajwid. Dengan demikian, kita pendamping memerlukan hendaknya suatu upaya pendampingan yang tersusun dan berkelanjutan guna meningkatkan kemampuan tersebut. Adapun tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini untuk memberi kesan betapa pentingnya tajwid yang baik dan benar dalam membaca Al-QurAoan guna tidak merubah makna arti dalam Al-QurAoan itu sendiri, dan juga upaya dalam meningkatkan kelancaran dalam Semuanya dilakukan dengan penggunaan metode yakni, metode IqraAo yang dipadukan dengan pendekatan Participatory Action Reasearch (PAR), dengan nantinya remaja dalam membaca Al-QurAoan lebih lancar dan paham sesuai kaidah tajwid. Pelaksanaan dan Metode Pengumpulan data serta pendampingan dalam pengabdian ini menggunakan pendekatan Participatory Action Reasearch (PAR). Pendekatan ini menjadi sekaligus model dalam penelitian yang bertujuan mencari fakta sesuatu serta solusi guna menghubungkan proses penelitian ke dalam proses perubahan sosial. Terkait tujuan dari penelitiannya mendefenisikan serta merumuskan temuan masalah, baik itu informasi ke dalam bentuk nyata sebagai solusi ataas permasalahan yang diteliti. PAR merupakan Aupenelitian oleh siapa, dengan siapa, dan untuk orangAy bukan hanya penelitian Auterhadap orangAy (Kamaroellah et al. , 2025. Umam et , 2. Metode PAR digunakan untuk melihat tindakan yang sedang dilaksanakan untuk melakukan perbaikan melalui perubahan. Ini dilakukan secara intens dan nyata di kalangan warga serta masyarkat atau komunitas dalam upaya mendorong tindakan transformatif untuk meningkatkan kondisi hidup (Intyaswati et al. , 2. Dengan demikian metode PAR tidak hanya juga menhasilkan dari segi pengetahuan saja, tetapi juga dapat bekontribusi langsung terhadap perbaikan kemampuan bacaam Al-QurAoan remaja di lingkungan Masjid Asra Al-Bakrie. Program ini berlangsung selama 45 hari, mulai 11 Agustus hingga 25 September 2025, dengan pelaksanaan pembelajaran sebanyak 3 kali dalam seminggu. Subjek penelitian ini berjumlah remaja sebagai peserta pendampingan serta pengurus masjid sebagai fasilitator yang berlokasi di Masjid Asra Al-Bakrie Olo Ladang. Proses penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu, perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi (Sari et al. , 2. Pada tahap perencanaan, peneliti bersama fasilitator mengidentifikasi tantangan yang dialami remaja dalam membaca Al-QurAoan, seperti kurangnya ketepatan dalam penggunaan hukum tajwid dan kesalahan dalam pelafalan huruf hijaiyah. Tindakan dilakukan melalui kegiatan pendampingan membaca Al-QurAoan menggunakan metode IqraAo secara bertahap dan berkelanjutan, dengan fokus pada peningkatan akurasi bacaan sesuai kaidah tajwid. Observasi digunakan untuk melihat sejauh mana perkembangan kemampuan membaca Al-QurAoan remaja selama proses pendampingan berlangsung, sedangkan refleksi dilakukan bersama pihak masjid guna mengevaluasi efektivitas pelaksanaan program serta merumuskan perbaikan pada kegiatan pendampingan berikutnya. Dalam pendekatan PAR terdapat tahapan-tahapan diantarnya sebagai berikut (Putri et , 2025. Rahmat & Mirnawati, 2. p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 Analisis, tahap identifikasi permasalahan yang terlihat di masyarakat. Perencanaan, merumuskan langkah tepat yang harus diambil guna mencari solusi atas permasalahan tersebut. Tindakan, menggunakan solusi yang dibentuk setelah perencanaan selesai. Penilaian, meninjau kemabali terhadap kegiatan yang dilakukan. Kebutuhan, tahap mengumpulkan dokumentasi kegiatan yang telah dilakukan Pengumpulan data dilakukan melihat dari pengamatan serta pemahaman situasi di lapangan secara mendalam, dan nanti dipaparkan serta dijelaskan secara luas (Waruwu, 2. Validitas data dijaga dengan tringulasi sumber dan teknik. Dengan demikian. PAR tidak hanya berfugsi sebagai pendekatan atau metode saja, melainkan juga sebagai sarana pemberdayaan peserta didik di Masjid Asra Al-Bakrie guna untuk meningkatkan akurasi bacaan Al-QurAoan sesuai kaidah tajwid yang dilakukan secara berkelanjutan. Hasil dan Pembahasan Pendampingan remaja dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-QurAoan melalui metode IqraAo ini dilaksanakan di Masjid Asra Al-Bakrie Olo Ladang. Proses pelaksanaan pendampingan dilakukan selama 45 hari, mulai 11 Agustus hingga 25 September 2025, dengan jadwal kegiatan sebanyak tiga kali dalam satu minggu yaitu, senin, rabu, serta kamis. Proses pelaksanaannya menggunakan lima langkah metode PAR yaitu analisis, perencanaan, tindakan, penilaian serta kebutuhan. Selain itu, pendampingan ini dilakukan dengan melibatkan partisipasi aktif remaja sebagai peserta, pengurus masjid sebagai pendamping, serta peneliti yang berperan sebagai fasilitator dalam mendampingi kegiatan membaca Al-QurAoan dengan perhatian pada peningkatan akurasi tajwid. Dalam pendampingan ini, istilah membaca tidak hanya diartikan sebagai kemampuan mengenali huruf dan kata seperti pada literasi umum, tetapi merujuk secara khusus pada keterampilan membaca Al-QurAoan pada remaja. Membaca Al-QurAoan merupakan kegiatan melafalkan ayat-ayat suci secara tepat sesuai dengan makhraj huruf, panjang pendek bacaan, serta penerapan aturan dasar tajwid. Oleh karena itu, konteks membaca dalam pendampingan ini mencakup beberapa aspek, yaitu ketepatan dalam melafalkan huruf-huruf hijaiyah, kelancaran dalam membaca rangkaian ayat, ketelitian dalam memperhatikan tanda baca, serta kemampuan menerapkan hukum tajwid secara benar. Membaca Al-QurAoan tidak hanya dipahami sebagai keterampilan teknis semata, tetapi juga memiliki makna spiritual karena termasuk bentuk ibadah yang dapat mendekatkan seorang muslim kepada Allah SWT. Oleh karena itu, pendampingan membaca Al-QurAoan melalui metode IqraAo di Masjid Asra Al-Bakrie Olo Ladang tidak hanya bertujuan meningkatkan ketepatan dan akurasi bacaan tajwid remaja, tetapi juga menumbuhkan minat dan kecintaan mereka terhadap Al-QurAoan serta membiasakan remaja menjadikan Al-QurAoan sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Pada tahap pertama relevan dengan tahap diagnostik, di mana pengamatan langsung terhadap kemampuan remaja dalam melafalkan Al-Qur'an di Masjid Asra Al-Bakrie Olo Ladang. Temuan dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian besar remaja masih menghadapi tantangan di berbagai bidang ketika membaca Al-Qur'an. Kesalahan yang ditemukan adalah pembacaan mad . dan pendek yang tidak tepat, tanda waqaf dan tasydid yang tidak mereka pahami, hingga makhrajul huruf yang kurang dikuasai. Akibatnya, bacaan para remaja ini kurang lancar dan belum sepenuhnya sesuai dengan kaidah tajwid yang telah ditentukan. p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 Sama halnya pendapat Putri et al. , . dalam jurnal penelitiannya, mengenai kelemahan umum ini juga sering tampak pada santri-santri pembelajar Al-QurAoan pada tahap pertama. Dengan demikian, hasil diagnostik awal ini menjadi dasar untuk menyusun rencana pendampingan membaca Al-QurAoan yang sesuai dengan kebutuhan remaja. Lebih lanjut, meskipun sebagian besar pendampingan sedang dilaksanakan, terdapat ketentuan bahwa seseorang tidak dapat melanjutkan ke tingkat atau halaman berikutnya kecuali mereka mampu membaca dengan lancar dan akurat pada bagian sebelumnya. Aturan ini digunakan dalam aplikasi ini agar setiap remaja memiliki landasan yang kuat dengan membaca lantunan bacaan . pada langkah sebelumnya sebelum melanjutkan ke tahap-tahap berikutnya dalam pendampingan membaca Al-QurAoan menggunakan metode IqraAo. Gambar 1. Pengamatan Tes Pemahaman Awal Ditinjau dari hasil diagnosis yang sudah dilakukan, langkah kedua dalam proses ini adalah perencanaan tindakan, di mana disusun strategi yang dianggap efektif untuk menuntaskan tantangan yang dihadapi remaja dalam membaca Al-Qur'an. Pendampingan ini menerapkan metode IqraAo sebagai pendekatan utama dalam aktivitas pembelajaran Al-Qur'an. Metode ini dikenal dengan sifatnya yang praktis, bertahap, dan mudah dicerna oleh para peserta, baik mereka yang berada di tingkat pemula maupun remaja. Pendekatan ini menitikberatkan pada latihan membaca secara langsung dan berulang-ulang, yang bertujuan untuk meningkatkan akurasi pelafalan huruf serta penerapan aturan tajwid secara progresif. Penerapan metode ini tidak memerlukan berbagai media pembelajaran, melainkan menekankan pada ketepatan pengucapan bacaan Al-Qur'an sesuai dengan makhraj huruf serta kelancaran dan kefasihan dalam membaca. Rencana ini akan direalisasikan pada tahap ketiga, yaitu tahap pelaksanaan. Pendampingan dalam tilawah Al-QurAoan dijadwalkan berlangsung pada sore atau malam hari setelah salat Maghrib, dengan frekuensi sebanyak tiga kali setiap minggu, mengikuti rangkaian kegiatan yang telah disusun sebelumnya. Kegiatan diawali dengan pembacaan doa bersama untuk menciptakan suasana khusyuk dan kesiapan mental dalam proses pembelajaran, dilanjutkan dengan sesi membaca Al-QurAoan menggunakan metode IqraAo dengan pendekatan sorogan atau bergilir. Dalam tahap sorogan ini, para remaja bergiliran membaca, sementara pendamping memberikan koreksi langsung terhadap kesalahan dalam pelafalan peserta didik dalam pengucapan huruf, durasi mad . anjang-pendek bacaa. , penempatan waqaf, serta penerapan tasydid. Bagi remaja yang belum mahir, mereka akan dibimbing untuk mengulang p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 bagian yang sama hingga mencapai tingkat keakuratan dan kelancaran sesuai kaidah tajwid. Gambar 2. Sesi Membaca Al-QurAoan menggunakan metode IqraAo dengan pendekatan sorogan/bergilir. Setelah serangkaian pendampingan membaca Al-QurAoan yang telah dilakukan, kini dilanjutkan kepada tahap evaluasi untuk menilai tingkat keberhasilan program tersebut di kalangan remaja. Hasil evaluasi memperlihatkan adanya perkembangan yang menggembirakan, meskipun tingkat kemajuan berbeda-beda di antara peserta. Beberapa remaja menunjukkan perbaikan dalam ketelitian pada panjang dan pendek bacaan . , serta pemahaman yang lebih baik terhadap tanda waqaf dan tasydid, di samping peningkatan ketepatan pelafalan makhraj huruf. Kepercayaan diri remaja saat membaca Al-QurAoan di depan pendamping meskipun teman sebaya juga mengalami peningkatan yang signifikan. Latihan membaca yang dilakukan secara terus-menerus secara konsisten ternyata efektif dalam meningkatkan ketepatan bacaan serta membangun keyakin diri dalam melafalkan ayat-ayat suci Al-QurAoan. Namun, terdapat beberapa remaja yang masih memerlukan pendampingan lebih intensif, terutama dalam menjaga konsistensi bacaan agar tetap stabil dan sesuai kaidah tajwid. Oleh karena itu, hasil evaluasi ini menjadi landasan dalam merancang langkah-langkah lanjutan, agar kemampuan membaca Al-QurAoan remaja dapat berprogres secara maskimal dan berkelanjutan. Gambar 3. Pendampingan intensif kepada remaja yang masih memerlukan p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 Langkah terakhir dalam kegiatan ini adalah tahap refleksi, yang menjadi cakupan dalam proses kegiatan ini yaitu, refleksi menyeluruh terhadap proses pendampingan, guna menemukan makna yang lebih dalam dari kegiatan yang telah dilakukan. Dari aktivitas pendampingan membaca Al-Qur'an pada remaja ini, dapat dipahami bahwa pencapaian pembelajaran sangat dipengaruhi oleh disiplin peserta, kesabaran pendamping, serta ketekunan dalam membimbing setiap bacaan dengan pengulangan dan ketelitian. Metode IqraAo terbukti berguna dalam mendukung remaja mempelajari bacaan Al-Qur'an secara perlahan sesuai tahapan dan berkat penyusunannya yang sistematis serta mudah diikut (Husna et al. , 2024. Noterisa et al. , 2025. Sari et al. , 2. Meskipun, tentu dalam latihan sangat diperlukannya konsistensi agar hasil yang didapati agar bertahan dalam jangka yang lama. Sejalan dengan itu, rutinitas membaca secara teratur dalam setiap pertemuan sangat berkontribusi dalam meningkatkan kelancaran serta memperdalam pemahaman mengenai aturan tajwid. Keunggulan dari metode IqraAo terlihat pada penyusunan materi yang disajikan secara sistematis dalam buku, dimulai dari konsep yang paling dasar hingga yang lebih kompleks, menyesuaikan dengan tahap kemampuan belajar peserta didik. Metode ini diterapkan secara bertahap, dengan evaluasi di setiap kenaikan tingkat atau halaman berikutnya (Masrikah & Rusdiana, 2021. Pratama et al. , 2. Evaluasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap remaja benar-benar memahami dan mampu membaca dengan tepat sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya. Dengan demikian, refleksi ini menunjukkan bahwa pendampingan dalam membaca Al-QurAoan melalui metode IqraAo dapat menjadi pendekatan yang berdampak guna meningkatkan akurasi tajwid di kalangan remaja, asalkan dilaksanakan secara terencana, konsisten, dan berkelanjutan. Melihat pada siklus pertama ketika penadmpingan yang terfokus pada memperbaiki bacaan dasar, lalu menekankan bahwa fokus serta konsisten adalah kunci utama, melalui metode bergilir ini. Hasil dari siklus pertama bahwa terdapat 13 dari 20 remaja atau peserta didik yang mampu membaca Al-QurAoan dengan benar. Situasi ini menjadi peningkatan yang di mana pada kondisi awal remaja tersebut yang benar paham dalam membaca Al-QurAoan dengan bagus berjumlah 6 dari 20 remaja atau peserta didik, atau hitungannya hanya 30% saja yang Dapat dipahami pencapaian 65% ini menjadikan bukti bahwa pendekatan PAR dengan metode iqroAo yang dilakukan bertahap mampu memberi dampak signifikan. Meskipun, masih terdapat 7 remaja lagi yang benar-benar membutuhkan bimbingan yang rutin agar mampu menguasai baik itu dasar-dasar membaca Al-QurAoan dari segi tajwid, pelafalan dan kelancarannya sehingga memerlukan pendampingan berkelanjutan yaitu pada siklus kedua. Kemudian, merujuk pada hasil penilaian akhir yang dilakukan pada tahap awal strategi diperkuat dengan menekankan pada pengulangan strategi . serta memberi motivasi Pada tahapan siklus kedua, keterampilan membaca Al-QurAoan mengalami peningkatan yang lebih besar yaitu terdapat 17 remaja atau peserta didik yaitu, bisa dikatakan 85% yang bisa membaca Al-QurAoan dengan lancar. Hal tersebut menjadi kriteria ketuntasan kalsikal yang menjadi acuan yaitu, 80% dari jumlah keselurhan remaja atau peserta didik. Dengan demikian, sebagian besar dari beberapa santri, benar-benar sudah mampu membaca yang memadai, baik itu lancer, mengetahui makhraj dan tajwid dasar. p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 Tabel 1. Capaian Remaja Membaca Al-QurAoan per-Siklus Tahapan Jumlah Remaja yang lancar Total Keseluruhan Remaja Persentase PraPendampingan Siklus I Siklus II Peningkatan yang terlihat dari 30% 85% menggambarkan bahwa proses pendampingan bersifat progresif dan efektif. Hal ini sejalan dengan prinsip iteratif dalam metode PAR, yaitu setiap siklus memberikan kesempatan untuk memperbaiki strategi pembelajaran berdasarkan hasil evaluasi sebelumnya (Putri et al. , 2. Oleh karena itu, capaian tersebut menunjukkan bahwa penerapan PAR dengan metode iqroAo melalui siklus pendampingan menjadi pemecah masalah yang berdampak pada kelancaran membaca AlQurAoan secara bertahap, berkelanjutan dan tepat. Penutup Pendampingan yang dilakukan di Masjid Asra Al-Bakrie Olo Ladang bertujuan untuk meningkatkan akurasi tajwid kemampuan membaca Al-QurAoan dengan memanfaatkan metode IqraAo, telah menunjukkan efektivitasnya dalam menguji keterampilan membaca serta menumbuhkan minat terhadap Al-QurAoan di kalangan remaja. Melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR), pendampingan ini diselenggarakan dengan cara yang sistematis, meliputi tahap diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan refleksi. Prosedur ini mendukung perbaikan yang berkesinambungan, sehingga setiap kendala yang dialami oleh remaja dalam membaca Al-QurAoan dapat diidentifikasi dan diatasi dengan strategi yang lebih akurat. Dengan pendekatan yang terfokus dan konsisten, pendampingan ini tidak hanya meningkatkan akurasi membaca sesuai dengan kaidah tajwid, tetapi juga membangun kebiasaan membaca Al-QurAoan secara rutin dalam kehidupan sehari-hari. Hasil pendampingan ini membuahkan hasil perkembangan mulai dari prapendampingan hingga tahap siklus kedua. Pada tahap awalnya yang hanya 30% remaja yang mampu membaca Al-QurAoan sesuai dengan kaidah tajwid yang baik dan benar. Setelah melewati tahap siklus awal ini maka meningkat menjadi 65%, dan terakhir pada tahap siklus kedua barulah mencapai 85%. Tentu peningkatan ini memberi penekanan bahwasanya metode iqraAo yang dilakukan secara konsisten dan intensif memberi dampak terhadap bacaan Al-QurAoan remaja baik itu dari segi kelancaran, ketepatan makhraj dan tajwidnya. Kemudian, metode sorogan atau bergilir juga turut memberi peran guna memberi tempat bagi remaja mampu belajar secara individu dan bisa memahami langsung kesalahan yang dikoreksi oleh Oleh karena itu, pendampingan remaja di lingkungan Masjid Asra Al-Bakrie yang menggunakan metode iqraAo tidak hanya membaca memberikan hasil nyata dalam meningkatkan bacaan Al-QurAoan sesuai tajwid, namun juga memberikan dampak nilai-nilai positif kedisiplinan, ketelitian, kesabaran dan kebersamaan dalam proses pembelajaran. Kegiatan ini turut membuktikan bahwa keterkaitan remaja dengan pendidik, serta pendamping mampu p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 membentuk suasana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Keberhasilan yang didapat menjadi buah pikiran sekaligus metode yang pantas digunakan dalam lembaga pendidikan Islam lainnya guna menjadi upaya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Al-QurAoan. References