K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2023 ISSN 2808-4667 PENGARUH CELEBRITY WORSHIP PADA PENGGEMAR KPOP GENERASI Z TERHADAP ONLINE COMPULSIVE BUYING DENGAN MATERIALISM SEBAGAI VARIABEL MEDIASI Athiyah Dwi Pasya Fakultas Bisnis dan Akutansi Universitas Katolik Musi Charitas Email: Athiiyahpasya@gmail. ABSTRAKSI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Materialism dalam memediasi pengaruh antara Celebrity worship dari penggemar Kpop yang merupakan Generasi Z terhadap Online Compulsive buying. Populasi dalam penelitian ini adalah semua orang yang merupakan penggemar Kpop, sedangkan sampel pada penelitian ini adalah 90 orang responden yang telah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dengan menggunakan purposive sampling. Penelitian ini menggunakan dua cara dalam pengujian hipotesisnya, yaitu dengan menggunakan Uji t dan Path Analysis. Hasil uji t menunjukkan bahwa, terdapat pengaruh antara Celebrity worship dan materialism pada penggemar Kpop generasi Z terhadap Online compulsive buying, sehingga H1 dan H3 diterima. Lalu, terdapat pengaruh antara Celebrity worship pada penggemar Kpop generasi Z terhadap Materialism, sehingga H2 diterima. Selanjutnya, pada pengujian menggunakan analisis jalur, hasil menunjukkan bahwa terdapat pengaruh tidak langsung Celebrity worship terhadap online compulsive buying melalui Materialism. Kata Kunci: Celebrity worship, online compulsive buying, materialism. Generasi Z. Kpop. Penggemar ABSTRACT This study aims to determine the role of Materialism in mediating the influence of Celebrity worship from Kpop fans from Generation Z on their Online Compulsive The population in this study are all people who is a Kpop fans, while the sample in this study are 90 respondents who had met the predetermined criteria using purposive sampling. This study uses two methods in testing the hypothesis, namely by using the t test and Path Analysis. The results of the t test show that there is an influence between Celebrity worship and Materialism on Kpop fans from Generation Z on Online compulsive buying, so the first and third hypothesis is Then, the test results show that there is an influence between Celebrity UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2023 ISSN 2808-4667 worship on Kpop fans from generation Z on Materialism, so that the second hypothesis is accepted. Furthermore, in the test using path analysis, the results show that there is an indirect effect of Celebrity worship toward online compulsive buying through Materialism. Keyword: Celebrity worship, online compulsive buying, materialism. Generation Z. Kpop. Fans PENDAHULUAN Berdasarkan riset dan analisis tahunan yang dilakukan oleh Hootsuite dan we are social per Januari 2020, pengguna internet di Indonesia adalah sebanyak 175,4 juta jiwa (Kamp & Moey, 2. dengan pengguna internet terbanyak terdapat pada rentang umur 15-24 tahun yang termasuk dalam generasi Z. Generasi Z adalah generasi yang lahir pada tahun 1995-2010 yang biasa disebut I Generation karena generasi ini lahir pada era di mana masyarakat telah menggunakan internet dan gadget sebagai kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Walia dan Chetty . tentang perilaku Generasi Z sebagai konsumen, kebutuhan dan nilai personal adalah faktor kunci yang menarik minat generasi Z terhadap sebuah produk dan akan meningkatkan keterlibatan mereka dalam berbelanja online. Generasi Z mencari produk yang membantu mereka melarikan diri dari realita sehari-hari seperti musik, film, dan games (Walia & Chetty, 2. Kesulitan yang dialami generasi Z dalam pekerjaan, belajar dan aspek sosial lain juga akan membuat mereka cenderung memuja selebriti (Sansone & Sansone, 2. Ketika berbicara mengenai selebriti dan bintang idola serta keterkaitan mereka dengan penggemar. Idola Kpop menjadi hal yang paling menarik untuk dibahas. Menurut data yang dirilis Twitter pada akhir tahun 2020. Indonesia berada di peringkat keempat sebagai negara dengan jumlah penggemar K-Pop terbanyak dan menempati peringkat ketiga pada daftar negara dengan jumlah cuitan K-Pop terbanyak di Twitter (Febriastuti, 2. Kemudian hasil survei yang dilakukan IDN Times pada 2018 lalu menunjukkan bahwa penggemar Kpop di Indonesia didominasi oleh generasi Z (Febriastuti, 2. Internet telah meningkatkan keintiman antara idola dan penggemar di seluruh dunia, membuat idola menjadi seseorang yang sangat dekat walau belum pernah ditemui di dunia nyata. Hal ini dikarenakan penggemar dapat berkomunikasi dan melihat keseharian serta sifat dari sang idola melalui berbagai media. Menurut survei yang dilakukan oleh Kumparan, 56 persen UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2023 fans K-Pop menghabiskan waktu satu hingga lima jam di media sosial untuk mencari tahu informasi tentang idola Bahkan 26 persen fans menghabiskan 6 jam lebih di dunia maya untuk melihat aktifitas sang idola (KumparanKpop. Ketika intesitas keterikatan dengan selebriti meningkat maka penggemar akan beranggapan bahwa selebriti tersebut adalah seseorang yang dekat dengannya dan ia akan mengembangkan hubungan prasosial. Hubungan parasolsial adalah hubungan khayalan antara penggemar dan figur idola dimana hubungan ini satu arah, antara penggemar dan idola (Darfiyanti & Putra. Namun, terkadang keterikatan ini bisa menjadi sangat ekstrem, dan peneliti mulai berfokus pada konsep AoPenyembahan selebritiAo, suatu bentuk keterlibatan yang hampir obsesif di mana individu mengidolakan selebriti favorit mereka sampai pada titik 'menyembah' (Brooks, 2. Menurut Redmond . , seseorang yang menyembah selebriti digambarkan sebagai individu yang rela menginvestasikan waktu, tenaga dan uangnya untuk selebriti favoritnya. Kpop berkembang pesat dalam hal Aupenyembahan idolaAy atau celebrity worship dari ratusan ribu grup anak muda yang rela menghabiskan banyak uang untuk tiket konser, tiket pesawat, album dan merchandise idola mereka (Soh, 2. ISSN 2808-4667 Para penggemar ini rela membeli seluruh versi album dalam satu kali comeback idola mereka untuk melengkapi koleksi, atau bahkan membeli ratusan hingga ribuan album agar mereka bisa memenangkan fansign, acara di mana mereka bisa berbicara langsung dengan idola mereka. Tidak hanya mengoleksi album dan merchandise, kegiatan mengoleksi photocard sudah menjadi hal yang lumrah di kalangan para penggemar Kpop. Di sisi lain, harga barang-barang tersebut tidak bisa dikatakan murah. Satu photocard bisa bernilai lima puluh ribu hingga 10 juta rupiah tergantung dari jenis, jumlah barang yang beredar dan juga peminat dari photocard tersebut. Nominal yang tak masuk akal bagi orang awam untuk selembar kertas, tetapi para penggemar tetap mau membelinya untuk melengkapi koleksi mereka dan merasakan kepuasan setelahnya. Rasa puas yang didapatkan setelah membeli barang yang berhubungan dengan idola mereka membuat candu bagi penggemar Kpop untuk terus membeli barang yang berkaitan dengan idola mereka. Candu dalam membeli produk-produk dari sang idola dapat mengindikasi seseorang memiliki perilaku kompulsif. Perilaku kompulsif mengacu pada pengulangan terus-menerus dari suatu perilaku meskipun ada konsekuensi yang merugikan. Dan kompulsi dipicu oleh obsesi (He, et al. , 2. di mana UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2023 yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah celebrity worship atau obsesi fans terhadap selebriti. Penulis memprediksi bahwa semakin tinggi celebrity worship fans Kpop maka akan berpengaruh pada intensitas pembelian kompulsif yang akan ia lakukan. Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan Reeves, et al. Bahwa pemujaan selebriti dapat berujung pada manifestasi kecenderungan tidak sehat seperti pembelian kompulsif. Namun terdapat hal lain yang menarik untuk dibahas terkait perilaku pembelian penggemar Kpop yang memiliki keinginan begitu kuat untuk membeli semua produk dari sang idola dan rasa iri terhadap penggemar lain yang memiliki koleksi yang lebih banyak dari yang mereka miliki. Pada penelitian yang sama. Reeves, et al. menemukan bahwa seseorang dengan celebrity worship juga cenderung berujung pada materialism. Menurut Richins & Dawson . dalam Moulding, et al. , materialism mengacu pada sekumpulan keyakinan yang dipegang tentang pentingnya barang materi dalam kehidupan seseorang, nilai-nilai yang ditempatkan pada harta benda sebagai sarana untuk meningkatkan diri, dan penggunaan harta benda untuk menilai keberhasilan orang tersebut dan keberhasilan orang lain. Penulis beranggapan bahwa terdapat kepercayaan pada setiap penggemar bahwa sema286 ISSN 2808-4667 kin banyak koleksi dari idola mereka yang mereka miliki akan meningkatkan status mereka sebagai penggemar, dan membuat mereka merasakan kesuksesan serta kebahagiaan. Hal tersebut merupakan ciri dari Hal ini didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Green, et al. , . dan Chia & Poo . , bahwa total skor celebrity attitude scale memiliki keterikatan yang erat dengan materialism. Di sisi lain, materialism adalah prediktor tetap dari compulsive buying behavior . 'Astous, 1990. Mowen & Spears. Yurchisin & Johnson, 2. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Islam, et al. , dewasa muda yang yang lebih materialistis lebih cenderung terlibat dalam pembelian kompulsif dibanding yang tidak. Meskipun demikian, penelitian yang mengkaitkan ketiga variabel tersebut masih sangat jarang ditemukan dan perlu dilakukan peninjauan agar pemasar dapat mengetahui perilaku pembelian konsumen yang merupakan penggemar dari seorang selebriti dan apakah perilaku pemujaan selebriti dapat membuat seorang konsumen yang merupakan penggemar Kpop rela mengeluarkan uang lebih untuk produk yang diendorse oleh idola mereka untuk memenuhi kebutuhan emosional mereka. Lalu, sampel generasi Z yang menganut materialism serta compulsive buying UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2023 juga belum sering ditinjau mengingat kedua variabel tersebut biasa dimiliki oleh seseorang yang telah mencapai kestabilan finansial. LANDASAN TEORI Karakteristik Generasi Z Sebagai Konsumen Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa 74% anggota Gen Z menghabiskan lima jam atau lebih setiap hari untuk mengakses internet (Netzer, 2. Menurut Walia dan Chetty . Waktu yang dihabiskan untuk online berdampak relevan pada perilaku belanja online, semakin banyak Generasi Z menghabiskan waktu di internet, semakin sering kemungkinan mereka membuat keputusan pembelian yang impulsif. Sehingga, pemasar yang sedang mencoba untuk menarik perhatian generasi ini perlu mencari cara untuk terhubung dengan mereka secara online (Netzer, 2. Generasi Z bahkan tak akan mencari diskon dan kupon jika kebutuhan mereka dipenuhi secara memadai. Kebutuhan dan nilai personal adalah faktor kunci yang menarik minat generasi Z terhadap sebuah produk dan akan meningkatkan keterlibatan mereka dalam berbelanja online Kebutuhan ini termasuk produk yang mencerminkan kepribadian dan produk mereka yang memenuhi kebu- ISSN 2808-4667 tuhan logistik dan emosional mereka (Walia & Chetty, 2. Celebrity Worship Menurut Griffths . , sindrom penyembahan selebriti digambarkan sebagai gangguan obsesifadiktif di mana seseorang menjadi terlalu terlibat dan tertarik . aitu, sangat terobses. dengan detail kehidupan pribadi seorang selebriti. Maltby, et al. , . mengusulkan sebuah model untuk memahami celebrity worship berdasarkan penyerapan psikologis dan juga unsur adiktif. Model ini dinamakan Aoabsorptionaddiction modelAo yang menjelaskan bahwa orang-orang dengan struktur identitas yang lemah dan kurangnya hubungan yang bermakna berusaha untuk membangun identitas yang solid dan mendapatkan rasa kepuasan dengan menjadi 'terserap' secara psikologis dengan selebriti favorit mereka (McCutheon, et al. , 2. Maltby, et al. , . membagi celebrity worship menjadi tiga dimensi. Entertainment-social, ini merupakan dimensi celebrity worship yang menggambarkan perilaku normal pemujaan selebriti dimana seseorang hanya memuja selebriti favorit mereka untuk sekedar kebutuhan hiburan dan interaksi sosial dengan sesama penggemar lainnya. UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2023 Intense-personal. Dimensi ini menggambarkan bahwa seseorang yang menyebambah selebriti memiliki perasaan yang lebih intensif dan kompulsif terhadap selebriti favorit mereka dan meningkatan penyerapan dalam kehidupan pribadi mereka, dimana penggemar mulai berpikir bahwa mereka Aoada karena dan untuk selebriti yang mereka kagumiAo (Redmond. Borderline-Pathological, dimensi ini menggambarkan identifikasi berlebihan dengan selebriti, ini mencerminkan sikap dan perilaku ekstrem terhadap seorang selebriti yang dianggap sebagai bentuk kekaguman yang maladaptif (Zsila, et , 2018. McCutcheon, et al. Materialism Richins & Dawson, 1992 dalam (Moulding, et al. , 2. menjelaskan bahwa Materialism mengacu pada sekumpulan keyakinan yang dipegang secara terpusat tentang pentingnya barang materi dalam kehidupan seseorang, nilai-nilai yang ditempatkan pada harta sebagai sarana untuk meningkatkan diri, dan penggunaan harta benda untuk menilai keberhasilan orang tersebut dan keberhasilan orang lain. Richins ISSN 2808-4667 dan Dawson . membagi Materialism menjadi tiga dimensi, yaitu: Material Centrality, dimensi ini mengacu pada kepemilikan yang memainkan peran penting dalam kehidupan materialis (Islam, et , 2. dan menjelaskan sejauh mana kepemilikan dan perolehan suatu materi menjadi bagian bagian sentral dari kehidupan (Green, et al. , 2. Material Happiness, ini adalah keyakinan bahwa seseorang lebih bahagia jika individu tersebut memiliki banyak barang mahal (Islam, et al. , 2. dan menggambarkan bagaimana memperoleh harta benda dan materi sangat penting bagi kebahagiaan seorang materialis (Green, et al. Material Success, dimensi ini menggambarkan bagaimana materialis menilai kesuksesan diri mereka sendiri dan orang lain berdasarkan kepemilikan materi serta kuantitas dan kualitas materi yang mereka miliki (Green, et al. Online Compulsive Buying McElroy, et al. dalam Muller, et al. Mendefinisikan compulsive buying sebagai keasyikan membeli dan berbelanja, dengan episode pembelian yang sering, atau UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2023 dorongan kuat untuk membeli yang dialami sebagai hal yang tak tertahankan dan tidak masuk akal. Episode berbelanja dan membeli disertai dengan kelegaan dan kesenangan, tetapi diikuti oleh penyesalan dan rasa bersalah karena ketidaksesuaian perilaku belanja dan konsekuensi Pembelian kompulsif yang terjadi secara online maupun offline memiliki karakteristik yang sama seperti yang telah disebutkan di atas, tetapi keduanya memiliki konteks yang berbeda. Pembelian kompusif online terjadi dengan konteks internet, yang memberikan sangat banyak manfaat kepada pembeli (Dittmar, et al. , 2. Pertama, konsumen dapat membeli barang secara online 24 jam sehari. Kedua, mereka bisa memilih dan membeli barang tanpa diobservasi. Ketiga, toko online menyediakan barang dalam jumlah banyak, dan masyarakat bisa melakukan pembelian dengan lebih Faktor-faktor inilah yang telah dipastikan memfasilitasi kecenderungan kompulsif konsumen (Zheng, et al. , 2. Valence dan dAoAstous . mengungkapkan bahwa compulsive buying memiliki tiga dimensi, yaitu: Tendency to spend, adalah kecenderungan seseorang untuk menghabiskan lebih dari separuh bahkan seluruh uangnya ISSN 2808-4667 untuk berbelanja barang-barang secara spontan dan tanpa perencanaan, sedangkan barangbarang yang ia beli bukanlah barang yang ia butuhkan. Urge to buy or shop, adalah dorongan kuat yang dirasakan seseorang untuk membeli atau berbelanja, hal ini biasanya dilakukan untuk mengurangi perasaan negatif dan untuk mendapatkan kesenangan. Post-purchase guilt, adalah perasaan bersalah yang timbul akibat pola belanja yang berlebihan, diiringi dengan rasa malu untuk memperlihatkan produk dan pengeluaran untuk berbelanja kepada orang lain karena tampaknya bodoh dan tak masuk akal. Pengembangan Hipotesis Pengaruh celebrity worship terhadap compulsive buying Seseorang yang menyembah selebriti digambarkan sebagai individu yang rela menginvestasikan waktu, tenaga dan uangnya untuk selebriti favorit mereka (Redmond. Reeves, et al. dalam penelitiannya menemukan bahwa celebrity worship berhubungan positif dengan pembelian kompulsif. Menurut Heshmat . , tidak seperti kecanduan lainnya, yang terjadi pada remaja, compulsive buying sebagian UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2023 besar berkembang di usia 30-an ketika seseorang mencapai kemandirian finansial. Tetapi menurut (Walia & Chetty, 2. , generasi Z bahkan tidak mencari diskon dan kupon jika kebutuhan mereka ditangani secara memadai. Kebutuhan ini termasuk produk yang mencerminkan kepribadian dan produk yang memenuhi kebutuhan logistik dan emosional mereka. : Celebrity Worship pada penggemar Kpop generasi Z berpengaruh positif dan signifikan terhadap online compulsive buying. Pengaruh celebrity worship terhadap materialism Teori Aoabsorption-addiction modelAo yang dikembangkan oleh Mc Cutheon, et al. , . menjelaskan penggemar adalah mereka yang berusaha untuk membangun identitas yang solid dan mendapatkan rasa kepuasan dengan menjadi 'terserap' dan terlibat dengan selebriti favorit Mereka berusaha menjadi terikat dengan selebriti favorit mereka dengan terus mengikuti berita terkini, hingga terobsesi untuk mengumpulkan materi yang berhubungan dengan selebriti favorit mereka. Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian terdahulu (Green, et al. , 2. bahwa total skor pada celebrity attitude scale berhubungan erat dengan nilai-nilai materialistis. Chia & ISSN 2808-4667 Poo . menemukan bahwa aspek intens-personal dari celebrity worship berhubungan paling kuat dengan nilai-nilai materialistis. : Celebrity worship pada penggemar Kpop Generasi Z berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pengaruh materialism terhadap com-pulsive buying behavior Tiga dimensi utama Materialism . entrality, success, dan happines. oleh Richins & Dawson . mempengaruhi kesediaan konsumen untuk membeli lebih banyak barang untuk untuk memproyeksikan kekayaan, status, keunikan, dan menghasilkan apresiasi sosial. Dittmar H. menegaskan bahwa pembelian kompulsif adalah hasil dari perilaku yang sangat Nilai-nilai materialistik memprediksi upaya individu untuk meningkatkan emosi dan identitas mereka ketika mereka membeli barang, yang pada gilirannya, memprediksi kecenderungan ke arah pembelian kompulsif (Dittmar. Long, & Bond, 2. : Materialism pada penggemar Kpop generasi Z berpengaruh positif dan signifikan terhadap online compulsive buying behavior. UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2023 ISSN 2808-4667 sampel yang akan diteliti. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu porposive sampling dengan kriteria sebagai berikut: Berusia 14-26 tahun Menyatakan diri masuk dalam satu atau lebih fandom (Kelompok penggema. Bergabung dalam Grup Order sesuai fandom (Kelompok penggema. Telah melakukan pembelian merchandise secara online minimal tiga kali dalam satu bulan Peran materialism sebagai variabel mediasi celebrity worship dan compulsive buying Seseorang yang memiliki celebrity worship cenderung ingin selalu terikat dengan selebriti idola Keterikatan ini mereka dapatkan dari memiliki materi yang berhubungan dengan selebriti favorit mereka, baik itu official merchandise maupun produk yang selebriti mereka iklankan. Penelitian terdahulu telah membuktikan bagaimana materialism berkaitan erat dengan celebrity worship dan compulsive buying (Reeves. Baker, & Truluck, 2. , total skor dari celebrity attitude scale berhubungan erat dengan nilai-nilai materialistis (Green, et al. , 2014 & Chia & Poo, 2. dan bagaimana Materialism memediasi hubungan antara faktor sosiologis dengan pembelian kompulsif (K. Nga, & Yong, 2. : Materialism memediasi pengaruh celebrity worship pada penggemar Kpop generasi Z terhadap online compulsive buying. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah teknik survei dengan menggunakan angket atau kuisioner. Kuisioner akan dibuat menggunakan Google Form dan akan disebarkan oleh peneliti di sejumlah social media fanbase dan group order fandom. Skala pengukuran yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah skala likert. METODE PENELITIAN Ukuran Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel Populasi yang dituju dalam penelitian ini adalah seluruh penggemar KPop. Tidak semua populasi akan dijadikan objek dalam penelitian ini sehingga perlu ditetapkan Instrument Penelitian Celebrity Attitude Scale Alat yang akan digunakan untuk mengukur tingkat penyembahan selebriti seseorang dalam penelitian ini adalah Celebrity Attitude Scale yang dikembangkan oleh McCutheon . dan direvisi UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2023 menjadi bentuk yang lebih valid dan reliabel oleh Maltby, et al. Celebrity Attitude Scale adalah seperangkat pertanyaan yang dikembangkan untuk mengukur kekuatan ketertarikan seseorang dengan selebriti favoritnya (McCutheon, et al. , 2. Saat ini ada lebih dari 40 studi yang diterbitkan dalam literatur psikologi di mana CAS digunakan, hal ini telah meningkatkan pemahaman tentang seseorang yang sangat mengagumi selebriti dalam berbagai aspek (McCutheon, et al. , 2. Skala ini terdiri dari 19 pertanyan yang mewakili tiga aspek/dimensi dan telah terbukti memiliki reliabilitas dan validitas internal yang sangat baik di beberapa penelitian (Griffth, et al. , 2. Compulsive Buying Scale Terdapat tiga dimensi dari skala pembelian kompulsif yang dikembangkan oleh Valence dan dAoAstous. , yaitu: tendency to spend, urge to buy or shop, dan postpurchase guilt. Skala ini terdiri dari 11 pertanyaan dan telah terbukti memiliki tingkat reliabilitas dan validitas yang memuaskan. Oleh Dittmar, et al. , . pertanyaan pada skala ini telah dimodifikasi agar sesuai dengan pembelanjaan online. Peneliti memutuskan untuk menggunakan skala pembelian kompulsif buying dari Va292 ISSN 2808-4667 lence dan dAoAstous. yang telah dimodifikasi oleh Dittmar, et al. agar sesuai dengan skema pembelian online, dan penulis akan memodifikasi sedikit pertanyaan agar sesuai dengan pembelian merchandise Kpop. Material Value Scale Skala Materialism dari Richin dan Dawson mengungkapkan Materialism datang dari perasaan seseorang akan tiga hal, yaitu sentralitas, kebahagiaan dan kesuksesan yang akan didapatkan dari kepemilikan materi. Pada tahun 2004. Richins mengembangkan lagi Material Value Scale yang merupakan versi pendek dari Compulsive Buying Scale berjumlah 15 item yang ia kembangkan pada Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah seseorang penggemar Kpop akan menumbuhkan Materialism, di mana mereka akan merasakan kebahagiaan dan kesuksesan serta merasakan pengakuan diri sebagai penggemar ketika mereka memiliki barang-barang atau materi yang berhubungan dengan idolanya. sisi lain hal tersebutlah yang akan mengarahkan mereka untuk melakukan pembelian secara kompulsif. Sejalan dengan tujuan tersebut. Instrumen yang akan peneliti gunakan pada penelitian ini adalah Material Value Scale versi pendek UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2023 yang dikembangkan oleh Richins . yang peneliti sesuaikan ISSN 2808-4667 dengan topik tentang merchandise penggemar Kpop. Model Penelitian Materialism(Z) Celebrity Worship(X) Teknik Analisa Data Uji Validitas dan Reabilitas Kedua pengujian ini dilakukan untuk memastikan instrument penelitian yang telah disebarkan telah layak untuk digunakan dalam penelitian. Menurut Kuncoro . 3: . hasil uji validitas data diperoleh menggunakan perhitungan r tabel dengan r hitung. Jika r hitung > r tabel dengan tingkat signifikasi 5% maka butir atau variabel tersebut valid. Sedangkan. Uji reliabilitas dilihat dari nilai CronbachAos Alpha. mana jika nilai CronbachAos Alpha > 0,60 maka pernyataan pada variabel dinyatakan reliabel (Gho-zali, 2011: . Uji Asumsi Klasik Pada uji Asumsi klasik, peneliti menggunakan pengujian Normalitas. Linearitas dan Heteroskeda- Online Compulsive Buying(Y) Pengujian normalitas menggunakan uji statistik nonparametrik Kolmogorov Smirnov dengan dasar penentuan data terdistribusi normal atau tidak dilihat dari nilai pada pendekatan Exact, yaitu data terdistribusi normal jika nilai Exact Sig. > 0. Dasar pengambilan keputusan dari uji linearitas adalah apabila nilai Linearity bernilai Sig. <0. 05 yang berarti bahwa terdapat hubungan yang linear antara variabel dan nilai Deviation of Linearity bernilai Sig. >0,05 yang berarti tidak ada lagi pola linear pada deviasi atau error pada data. Sedangkan, dasar pengambilan keputusan dalam uji heteroskedastisitas dengan menggunakan uji glejser adalah, jika nilai Sig. > 0,05 maka tidak UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2023 terjadi gejala heteroskedastisitas dalam model regresi. Regresi Linear Analisis regresi linear pada penelitian ini digunakan untuk melihat pengaruh variabel bebas secara simultan terhadap variabel terikat dan menguji hipotesis tentang pengaruh antar variabel secara parsial. Penelitian ini menggunakan empat model persamaan regresi linear yang terdiri dari tiga persamaan regresi linear sederhana dan satu model persamaan regresi linear berganda. Pengujian Hipotesis Uji Parsial . Dasar pengambilan keputusan uji parsial . pada penelitian ini dilihat dari nilai signifikansi. Jika nilai Sig. < probabilitas 0,05 maka terdapat pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat atau hipotesis diterima dan juga berlaku sebaliknya. Uji Simultan (F) Dasar pengambilan keputusan Uji simultan F pada penelitian ini dilihat dari output ANOVA. Jika nilai Sig. < 5% maka hipotesis Uji Koefisien Determinasi () Menurut (Ghozali, 2011: 147. , uji koefisien determinasi (R. digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model ISSN 2808-4667 dalam menerangkan variasi dari variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen. Analisis Jalur Menurut Streiner . dalam Sarwono . 2: . Analisis jalur merupakan perluasan dari regresi linier berganda yang memungkinkan analisis model-model yang lebih kompleks. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum menyebarkan kuisioner secara lebih luas, peneliti melakukan Pretest terhadap 30 responden yang datanya akan digunakan untuk pengujian validitas dan reabilitas terhadap kuisioner yang akan disebarkan. Hasil tak terduga dari penelitian ini adalah beberapa item pernyataan di kuisioner celebrity worship yang telah terbukti memiliki reliabilitas dan validitas internal yang sangat baik di beberapa penelitian (Griffth, et ,2. memiliki hasil yang tidak valid, yaitu, pada pernyataan: AuSaya suka menonton, membaca, atau mendengarkan idola saya karena itu menyenangkan. Ay. AuMempelajari kisah hidup idola saya sangatlah menyenangkan. Ay. AuBerita dan konten tentang idola saya adalah istirahat yang menyenangkan dari dunia yang keras. Ay Dan yang terakhir adalah. AuBerkumpul bersama orang-orang yang juga menyukai idola adalah hal yang sangat UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2023 Ay. Ketidakvalidan terjadi karena respons ekstrim responden terhadap item-item kuisioner tersebut. Hasil ini tentu akan berpengaruh pada penelitian dengan variabel celebrity worship di masa depan ketika peneliti hanya memilih responden yang merupakan penggemar sebagai sampel penelitian, hasil serupa berupa item penyataan tidak valid kemungkinan besar juga akan terjadi. Sehingga peneliti memutuskan untuk membuang butir kuisioner yang tidak valid dan hanya menyertakan item pernyataan yang valid pada pretest pertama, dan hasil yang didapatkan adalah semua item kuisioner memiliki nilai r hitung yang lebih besar dari nilai r tabel yaitu 0,361 sehingga semua item kuisioner pada variabel di penelitian ini dikatakan valid. Semua item kuisioner pada penelitian ini juga mempunyai nilai CronbachAo Alpha > 0,60 yang berarti bahwa semua item kuisioner sudah reliabel. Peneliti melakukan analisis statistik deskriptif untuk meninjau respon responden terhadap pernyataan di kuisioner, dan didapatkan hasil pada variabel celebrity worship yaitu, responden paling banyak setuju bahwa mereka memiliki foto dan merchandise idola mereka yang mereka tempatkan di tempat yang sama. Lalu pada variabel Compulsive buying, responden paling banyak setuju bahwa mereka sering merasakan ISSN 2808-4667 keinginan yang tiba-tiba dan tak tertahankan untuk memiliki dan membeli produk idola mereka. Kemudian pada variabel Materialism, responden paling banyak setuju bahwa mereka mengagumi penggemar lain yang memiliki merchandise langka dan mahal dari idola mereka yang tidak mereka miliki sehingga responden merasa bahwa mereka akan lebih bahagia jika mereka mampu untuk membeli produk serupa. Pada uji asumsi klasik, peneliti melakukan pengujian normalitas, linearitas dan heteroskedastisitas. Hasil pengujian menunjukkan bahwa data terdistribusi dengan normal karena nilai signifikansi > 0. 05 yaitu sebesat 0,318. Dalam pengujian linearitas, nilai significant of linearity yang didapatkan antara variabel Celebrity worship dan Materialism terhadap Online compulsive buying adalah sebesar 0,000 < 0. 05, sehingga disimpulkan setiap variabel dalam penelitian ini memiliki hubungan yang linear. Lalu, nilai signifikan dari deviation of linearity yang didapatkan masing-masing sebesar 0,51 dan 0,766 > nilai probabilitas 0. 05, yang berarti bahwa tidak lagi terdapat pola linear pada deviasi atau error pada variabel di penelitian ini. Kemudian, hasil pengujian heteroskedastisitas menunjukkan bahwa nilai signifikansi variabel Celebrity worship dan Materialism > 0. 05 yaitu sebesar UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2023 0,210 dan 0,562. Hal ini berarti bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas dalam model regresi. Setelah uji asumsi klasik, peneliti melakukan pengujian regresi linear dan mendapatkan empat persamaan, yaitu: 1 = 692,015 20,041X 2 = 12,127 0,272X 3 = 540,710 47,498X 4 = 231,134 9,6881 38,0032 Dari keempat persamaan tersebut dapat dilihat bahwa nilai koefisien setiap persamaan bernilai positif, hal ini berarti bahwa terdapat pengaruh (Celebrity worship dan Materialis. terhadap variabel terikat (Online compulsive buyin. dan setiap penambahan tingkat celebrity worship dan materialism akan meningkatkan online compulsive buying yang akan dilakukan oleh penggemar Kpop yang berasal dari generasi Z. Dalam pengujian simultan F, nilai signifikansi regresi yang didapatkan adalah sebesar 0,000 < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Celebrity worship (X) dan Materialism (Z) secara simultan atau bersama-sama mempengaruhi Online compulsive buying (Y). Berikut adalah hasil uji t dan path analysis yang telah dilakukan: ISSN 2808-4667 Celebrity worship pada penggemar Kpop generasi Z berpengaruh positif dan signifikan terhadap Online ompulsive buying. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Reeves, et al. bahwa celebrity worship memiliki hubungan yang erat dengan compulsive buying. Kemudian, menurut Heshmat . , compulsive buying berkembang pada usia 30-an saat seseorang mencapai kematangan finansial, tetapi penelitian ini berhasil membuktikan bahwa generasi Z juga berpeluang untuk melakukan compulsive buying. Hal ini didasari dengan pernyataan Walia dan Chetty . , generasi Z bahkan tidak akan mencari diskon saat kebutuhan mereka terpenuhi, dimana kebutuhan ini termasuk produk yang mencerminkan kepribadian dan produk yang memenuhi kebutuhan logistik dan emosional mereka, dan produk yang berkaitan dengan idola mereka adalah produk yang membuat kebutuhan emosional para penggemar Kpop yang berasal dari generasi Z terpenuhi. Celebrity worship pada penggemar Kpop generasi Z berpengaruh positif dan signifikan terhadap Materialism. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Chia dan Poo . Revees, et al. dan Green et a. UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2023 bahwa total skor pada Celebrity attitude scale berhubungan kuat dengan nilai-nilai materialistis. Materialism pada penggemar Kpop generasi Z berpengaruh positif dan signifikan terhadap Online compulsive buying. Hasil ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Bhatia . Islam, et al. Moulding, et al. & Reeves, et al. bahwa nilai Materialism berkaitan erat dengan perilaku pembelian kompulsif dan individu yang materialis lebih cenderung untuk melakukan pembelian kompulsif dibandingkan konsumen rata-rata lainnya. Menurut Dittmar, et al. nilai-nilai materialistik memprediksi upaya individu untuk meningkatkan emosi dan identitas mereka ketika mereka membeli barang, yang pada gilirannya, memprediksi kecenderungan ke arah pembelian kompulsif, yang pada penelitian ini adalah penggemar Kpop yang ingin meningkatkan emosi dan identitas mereka sebagai penggemar dengan membeli barang yang berkaitan dengan idolanya. Peran materialism dalam memediasi celebrity worship dan compulsive buying Berdasarkan pengujian hipotesis menggunakan analisis jalur yang telah dilakukan, nilai pengaruh lang- ISSN 2808-4667 sung dari Celebrity worship terhadap online compulsive buying behavior yang didapatkan adalah sebesar 0,226. Sedangkan nilai pengaruh tidak langsung Celebrity worship melalui Materialism terhadap online compulsive buying adalah sebesar 0,240. Angka ini didapatkan dengan mengalikan nilai Beta X terhadap Z dan Beta Z terhadap Y. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dilihat bahwa nilai pengaruh tidak langsung yang didapatkan lebih besar daripada nilai pengaruh Hasil ini menunjukkan bahwa secara tidak langsung Celebrity worship memiliki pengaruh terhadap online compulsive buying melalui Materialism. Kemudian, nilai pengaruh total X terhadap Z didapatkan dengan menambahkan nilai Beta pengaruh langsung dan tidak langsung: 0,226 0,240 = 0,466. Sehingga, nilai pengaruh Celebrity worship terhadap online compulsive buying adalah sebesar 0,466. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa hipotesis (H. diterima: Materialism memediasi pengaruh dari Celebrity worship pada penggemar Kpop generasi Z terhadap Online compulsive Hal ini menunjukkan bahwa dugaan peneliti berdasarkan teori yang dikembangkan McCutheon . adalah benar bahwa mereka yang memiliki celebrity worship selalu berusaha terikat dengan selebriti UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2023 favorit mereka dengan mengikuti berita dan konten terbaru hingga mengumpulkan barang-barang yang berhubungan dengan selebriti favorit mereka, dan fakta bahwa mereka menyimpan barang-barang tersebut di suatu tempat khusus seperti pernyataan dalam kuisioner membuktikan bahwa mereka menganggap barang-barang yang berkaitan dengan idola mereka tersebut adalah barang berharga, hal ini membuat mereka menumbuhkan nilai-nilai materialistis terhadap produk yang berkaitan dengan idola mereka. PENUTUP Simpulan Tiga dimensi utama Materialism . entrality, success, dan happines. oleh Richins & Dawson . mempengaruhi kesediaan konsumen untuk membeli lebih banyak barang untuk untuk memproyeksikan kekayaan, status, keunikan, dan menghasilkan apresiasi sosial. Sesuai dengan respon pada kuisioner, penggemar menyimpan kekaguman pada penggemar lain yang memiliki koleksi yang langka dan mahal milik idola mereka, hal ini membuat bahwa penggemar merasa bahwa mereka akan lebih bahagia jika mereka memiliki barang serupa, dan status mereka sebagai penggemar akan meningkat karena kepemilikkan barang-berang tersebut yang sulit dimiliki oleh penggemar lainnya, hal tersebutlah yang ISSN 2808-4667 menimbulkan keinginan dalam diri mereka untuk terus membeli produk idola mereka dan membuat mereka melakukan online compulsive buying. Tetapi, walau didapatkan pengaruh positif antara variabel Celebrity worship dan Materialism terhadap online compulsive buying, sumbangan pengaruh yang diberikan oleh setiap variabel cukup kecil . ibawah 50%), yaitu sebesar 37,7%, sedangkan sisanya sebanyak 62,3% dipengaruhi oleh variabel yang tidak dibahas di penelitian ini. Banyaknya kemungkinan produk yang bisa dijadikan contoh dari online compulsive buying pada penelitian ini mungkin membuat kebingungan pada responden ketika Misalnya, responden mungkin saja membeli photocard atau trading card sebanyak lebih dari 10 kali dalam sebulan, tetapi hal tersebut mungkin tidak akan terjadi pada produk yang diendorse atau album yang dirilis oleh idola karena harganya yang jauh lebih mahal. Implikasi penelitian Temuan dari penelitian ini adalah bahwa generasi Z yang memiliki Celebrity worship cenderung melakukan online compulsive buying dalam pembelian produkproduk yang berkaitan dengan idola mereka. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh Materialism yang dimiliki oleh penggemar Kpop yang merupakan responden UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2023 penelitian ini. Oleh karena itu, sebaiknya pemasar tidak hanya mencari selebriti atau idol dengan penggemar terbanyak untuk menjadikan mereka bintang iklan maupun brand ambassador, tetapi juga menyertakan produk yang berkaitan dengan selebriti tersebut, misalnya adalah photocard atau tanda tangan selebriti tersebut di produk yang pemasar jual untuk menarik perhatian penggemar Kpop yang merupakan generasi Z. Kemudian, pemasar harus memastikan kualitas serta pelayanan dari produk mereka, sehingga walaupun bintang idola tak lagi menjadi brand ambassador dari produk mereka, penggemar yang sudah mencoba produk dapat kembali lagi karena kualitas yang diberikan oleh produk tersebut. Keterbatasan Beberapa pernyataan pada kuisioner celebrity worship yang tidak valid karena responden memberikan respon serupa pada pernyataan tersebut. Hal ini akan mempengaruhi penelitian di masa depan yang juga menggunakan celebrity worship sebagai variabel ketika mereka hanya menyertakan responden yang menggemari selebriti sebagai responden Kemudian, walau didapatkan pengaruh positif antara variabel Celebrity worship dan Materia- ISSN 2808-4667 lism terhadap online compulsive buying, sumbangan pengaruh yang diberikan oleh setiap variabel cukup kecil . Saran Dari keterbatasan yang ada, didaparkan saran sebagai berikut: Penelitian selanjutnya bisa mengangkat topik tetang bagaimana perilaku online compulsive buying antara seseorang yang memiliki celebrity worship dengan yang tidak memilikinya. Penelitian selanjutnya sebaiknya memilih salah satu produk saja untuk diteliti agar tidak terjadi kebingungan pada responden, karena pada dasarnya perilaku pembelian responden penggemar Kpop agar berbeda tergantung dengan produknya. Pemasar sebaiknya tidak hanya menjadikan idola Kpop sebagai bintang iklan atau brand ambassador, tetapi juga memasukkan materi yang berhubungan dengan idola tersebut ke dalam produk yang mereka jual. Perusahaan harus memastikan produk yang dijual berkualitas baik dari segi manfaat maupun pelayanan yang diberikan sehingga penggemar Kpop Generasi Z yang awalnya hanya membeli produk tersebut karena idola mereka berpeluang untuk mela- UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2023 kukan pembelian ulang bahkan ketika idola mereka tak lagi menjadi Brand Ambassador dari produk tersebut. DAFTAR PUSTAKA