Al-Liqo: JURNAL PENDIDIKAN ISLAM P-ISSN: 2461-033X | E-ISSN: 2715-4556 Strategi Kepala Madrasah dalam Menanamkan Nilai Humanis Religius kepada Siswa Madrasah Aliyah Lia Dwi Utami. Iis Siti Khoiriyah. Email: liadwiutami01@gmail. com1, iissitikhoiriyyah23@gmail. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Indonesia Abstract The aim of the research is to explain the strategy related to the headmaster of the madrasa in instilling religious humanist values in Madrasah Aliyah Ibnul Qoyyim Yogyakarta students. The cultivation of religious humanist values is carried out to form students who have good morals and noble When morals and morals are instilled in students, it becomes an important first step towards a smarter future for Indonesia. This research uses field research with a descriptive approach. The results of the research strategy in an effort to instill religious humanist values at the Ibnul Qoyyim Yogyakarta Madrasah have been maximized, starting with giving an example by having joint prayers, attendance/fingerprints, and dress codes, then the habituation is carried out, namely starting from apples every week, activities garbage banks, congregational midday prayers, dhuha prayers, recitations of the Koran. Infaq, then the correction of supervision and the existence of punishments are able to create school areas that are able to create religious humanism values, because every policy made certainly does not escape from the principles of the Qur'an an and Hadith. Keywords: Strategy. Values. Religious Humanist Abstrak Penelitian bertujuan untuk memaparkan terkait strategi kepala madrasah dalam menanamkan nilai humanis religius kepada siswa Madrasah Aliyah Ibnul Qoyyim Yogyakarta. Penanaman nilai humanis religus dilakukan membentuk pribadi siswa yang memiliki moral baik dan berakhlak mulia. Ketika moral dan akhlak sudah tertanam dalam diri siswa, itu menjadi langkah awal yang penting menuju masa depan lebih cerdas bagi Indonesia. Penelitian menggunakan jenis penelitian field research dengan pendekatan deskriftif. Hasil penelitian Strategi dalam upaya penanaman nilai-nilai humanis religious di Madrasah Ibnul Qoyyim Yogyakarta sudah sangat dimaksimalkan, mulai dengan pemberian keteladanan dengan adanya doa bersama, absensi/finger print, serta aturan berpakaian, kemudian pembiasaan yang dilakukan yakni mulai dari apel tiap pekan, kegiatan bank sampah, sholat dzuhur berjamaah, sholat dhuha, tilawah Al Quran. Infaq, adanya koreksi pengawasan dan adanya hukuman mampu menciptakan kawasan sekolah yang mampu menciptakan nilai-nilai humanism religious, karena dalam setiap kebijakan yang dibuat tentunya tidak luput dari asas Al QurAoan dan Hadist. Kata Kunci: Strategi. Nilai. Humanis Religius Cara Mensitasi Artikel: Author. , &Author. Strategi kepala madrasah dalam menanamkan nilai humanis religius kepada siswa madrasah aliyah. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam, 9. , 88-104. https://doi. org/10. 46963/alliqo. *Corresponding Author: liadwiutami01@gmail. Histori Artikel: Diterima Direvisi Diterbitkan Editorial Address: Kampus Parit Enam. STAI Auliaurrasyidin Tembilahan. Jl. Gerilya No. Tembilahan Barat. Riau Indonesia 29213. : 23/06/2023 : 29/06/2024 : 30/06/2024 DOI:https://doi. org/10. 46963/alliqo. AAuthors . Licensed under (CC-BY-SA) Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Lia Dwi Utami & Iis Siti Khoiriyah Strategi Kepala Madrasah Dalam Menanamkan Nilai Humanis Religius Kepada Siswa Madrasah Aliyah Ibnul Qoyyim Yogyakarta PENDAHULUAN Penelitian Tri Huda Munawar, yang berjudul Strategi Kepala Madrasah dalam Menanamkan Nilai Humanis Religius Kepada Siswa MAN 2 Magetan Di Era Revolusi Industri 4. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa strategi yang dilakukan Kepala Madrasah dalam menanamkan nilai humanis religius adalah . strategi habituasi . , . strategi integrasi ke dalam kegiatan ekstrakurikuler . strategi keteladanan. Hasil penanaman nilai humanis religius yaitu terciptanya suasana yang humanis dan religius di madrasah, terciptanya lingkungan pembelajaran yang membuat anak-anak terbebas dari persaingan intens, disiplin kaku, dan rasa takut akan kegagalan. Hubungan antara peserta didik dan pendidik dapat menciptakan hubungan persaudaraan dan rasa keamanan, sehingga muncul kreativitas positif siswa. (Tri Huda Munawar, 2019: v. Dalam mengikuti perkembangan zaman, dapat dilihat bahwa tantangan dan hambatan dalam pendidikan Islam terus berkembang dan mengalami perubahan. masa lalu, percakapan yang akrab antara peserta didik dan guru dianggap sebagai sesuatu yang dihindari, namun saat ini justru dianggap sebagai hal yang umum. (Priatmoko, 2018:. Bahkan menurut teori pendidikan modern, interaksi semacam itu dianggap sebagai suatu keharusan. Nyatanya, interaksi tersebut menjadi petunjuk keberhasilan dalam proses pendidikan. Selain itu, terdapat pergeseran paradigmalain dalam pendekatan pembelajaran. Pada zaman pendidikan Islam tradisional, peran guru memiliki peran yang sangat penting dalam kegiatan (Amirudin, 2019:. Guru dahulu dianggap sebagai sumber utama pengetahuan di dalam kelas, bahkan bisa dikatakan sebagai satu-satunya. Namun, dalam konteks pendidikan Islam modern, paradigma ini telah berubah. Peran guru telah mengalami pergeseran menjadi seorang fasilitator yang membantu peserta didik. Perkembangan teknologi yang terus meningkat telah menjauhkan manusia dari peradaban yang lebih maju. Perubahan ini secara fundamental telah mengubah individu dalam gaya hidup, pekerjaan, dan interaksi sosial. Transformasi yang kompleks ini membawa manusia ke era yang sangat berbeda dari sebelumnya. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Lia Dwi Utami &Iis Siti Khoiriyah Strategi Kepala Madrasah Dalam Menanamkan Nilai Humanis Religius Kepada Siswa Madrasah Aliyah Dalam era digital dan segala aspeknya, kehidupan manusia menjadi lebih mudah. Namun, penting untuk tidak mengabaikan fakta bahwa di balik kemajuan teknologi ini terdapat aspek-aspek yang negatif yang secara diam-diam mempengaruhi sikap, perilaku, dan nilai-nilai kehidupan manusia. Hal ini menjadi harapan dan peringatan bagi generasi muda di masa depan (Cholil, 2019:117-. Pendidikan memiliki peran yang sangat penting sebagai penghubung dalam meningkatkan kecerdasan generasi bangsa dan memiliki kontribusi krusial dalam kemajuan negara. Ketika masyarakat memiliki pendidikan yang lebih baik, mereka akan mendapatkan penghormatan tidak hanya dari sesama warga negara, tetapi juga dari negara-negara lain. Pendidikan menjadi dasar utama dalam kehidupan (Suprapmanto, 2015:. Dengan pendidikan, kita dapat membedakan antara perilaku yang positif dan negatif, serta memahami batasan-batasan yang harus diikuti. Namun, saat ini situasi pendidikan mengkhawatirkan, terutama dalam hal moral dan perilaku santun siswa. Banyak pelajar terlibat dalam tawuran, kekerasan, bahkan kehilangan rasa malu dalam melakukan kontak fisik dengan lawan jenis di tempat umum. Permasalahan ini timbul karena kurangnya nilai moral dan pemahaman agama di kalangan pelajar (Bahri, 2015:57-. Dalam melihat situasi tersebut, sangat penting untuk mendukung upaya pengembangan pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai humanis dan religius. Tujuannya adalah membentuk pribadi siswa yang memiliki moral yang baik dan berakhlak mulia. Ketika moral dan akhlak sudah tertanam dalam diri siswa, itu menjadi langkah awal yang penting menuju masa depan yang lebih cerdas bagi Indonesia. Pendidikan humanis religius adalah sebuah konsep keagamaan yang menekankan pentingnya menghargai martabat manusia dan menerapkan nilai-nilai humanisme dalam konteks ilmu agama dengan penuh tanggung jawab. Pendidikan humanis religius melibatkan proses pembelajaran yang mengajarkan bahwa tindakan yang membutuhkan campur tangan Tuhan untuk dilakukan adalah tindakan yang tidak bermoral. Manusia diharapkan selalu berusaha untuk Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Lia Dwi Utami & Iis Siti Khoiriyah Strategi Kepala Madrasah Dalam Menanamkan Nilai Humanis Religius Kepada Siswa Madrasah Aliyah Ibnul Qoyyim Yogyakarta menghentikan perang, kejahatan, dan kekejaman yang terjadi baik pada masa sekarang maupun yang akan datang (Herti, 2019:158-. Inilah pentingnya peran pendidikan yang menggabungkan nilai-nilai humanis dan religius. Kombinasi kedua aspek ini sangat relevan dalam sistem pembelajaran. Melalui pendidikan humanis, tujuan utamanya adalah agar para pelajar dapat menerapkan prinsip memperlakukan manusia dengan martabat yang sama. Tidak ada lagi pemikiran bahwa seseorang lebih benar atau lebih kuat karena di mata Tuhan semua manusia setara. Manusia harus saling menghormati dan menghargai Di sisi lain, pendidikan religius bertujuan untuk membantu pelajar membangun kehidupan individu dan sosial dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Agama memberikan pedoman bagi seseorang dalam menjalani hidupnya. Berangkat dari uraian di atas, mendorong kepada penulis untuk mengetahui lebih dalam tentang proses penanaman nilai-nilai humanis religius di madrasah kepada siswa-siswanya. Maka dari itu penulis membuat rumusan masalah berupa: Pertama, bagaimana strategi Kepala Madrasah dalam menanamkan nilai-nilai humanis religius kepada siswa Madrasah Aliyah Ibnul Qoyyim di Yogyakarta?. Kedua, bagaimana implikasi strategi Kepala Madrasah dalam menanamkan nilainilai humanis religius kepada siswa Madrasah Aliyah Ibnul Qoyyim di Yogyakarta? Adanya penelitian ini diharapkan untuk menggali secara komprehensif terkait dengan pelaksanaan dan hasil strategi kepala madrasah dalam menanamkan nilai humanis religius kepada siswa Madrasah Aliyah Ibnul Qoyyim Yogyakarta. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan yang berdasarkan kejadian yang terjadi dilapangan yang relevan dengan strategi kepala madrasah dalam menanamkan nilai humanis religius kepada siswa di Madrasah Aliyah Ibnul Qoyyim Yogyakarta. Penelitian ini adalah jenis penelitian field research dengan pendekatan deskriftif yang berlokasi di Madrasah Aliyah Ibnul Qoyyim Yogyakarta. Adapun sumber data dalam penelitian ini ada 2 sumber yang pertama sumber data primer yang bersumber dari hasil wawancara dan yang kedua sumber data sekunder adalah jurnal atau karya ilmiah yang berkaitan dengan nilai humanis Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Lia Dwi Utami &Iis Siti Khoiriyah Strategi Kepala Madrasah Dalam Menanamkan Nilai Humanis Religius Kepada Siswa Madrasah Aliyah Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Strategi dan Hasil Penanaman Nilai Humanis Religius di Madrasah Aliyah Ibnul Qoyyim Yogyakarta Saat ini, dunia secara umum dan Indonesia secara khusus sedang memasuki era baru dalam industri yang ditandai oleh adanya digitalisasi di berbagai sektor Perubahan dalam dinamika pergerakan yang sebelumnya didominasi oleh peran manusia sebagai subjek utama dalam pertumbuhan dan perkembangan ekonomi telah mengalami pergeseran bertahap. Mekanisasi otomatis dan digitalisasi teknologi telah menggantikan peran manusia dalam menggerakkan (Suwardana, 2018:109-. Kemajuan dalam inovasi otomasi, termasuk perkembangan superkomputer, kecerdasan buatan robotik, dan modifikasi genetik, telah mengubah dunia menjadi sesuatu yang sangat berbeda dari sebelumnya. Konsekuensi yang logis dari hal ini, yang perlu kita hadapi bersama, adalah perubahan dan pergeseran dalam jenis tenaga kerja pada era saat ini dan masa depan. Kita sudah mulai melihat banyak perubahan dalam sektor pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga kerja, di mana otomatisasi dan digitalisasi mesin hadir di sekitar kita dan bahkan telah mencapai daerah terpencil sebagai sumber tenaga kerja komunal. Dampak dari revolusi industri ini dapat dilihat sebagai dua sisi mata uang. satu sisi, terdapat manfaat positif dalam meningkatkan produktivitas kerja dan efisiensi proses produksi. Namun, di sisi lain, persaingan dalam dunia kerja yang mengakibatkan banyaknya tenaga kerja yang tidak terpakai dapat menjadi masalah sosial serius yang mengancam stabilitas politik dan ekonomi suatu negara. Menerima perubahan sebagai bagian yang tak terelakkan dari kehidupan harus diimbangi dengan persiapan untuk menghadapi perubahan tersebut. Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensi melalui sinergi antara revolusi industri dengan inovasi dalam dunia pendidikan, terutama dalam mengintegrasikan nilai-nilai humanis dan religius kepada siswa (Suwardana, 2. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Lia Dwi Utami & Iis Siti Khoiriyah Strategi Kepala Madrasah Dalam Menanamkan Nilai Humanis Religius Kepada Siswa Madrasah Aliyah Ibnul Qoyyim Yogyakarta Secara umum, strategi adalah panduan untuk mengarahkan tindakan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Strategi juga mencakup pola kegiatan umum yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan (Djamar dan Zain, 2006:. Dalam konteks pendidikan, strategi dapat dijelaskan sebagai perencanaan yang mengandung serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mencapai tujuan pendidikan yang Definisi ini meliputi rencana tindakan yang melibatkan penggunaan metode dan sumber daya yang ada, seperti guru dan siswa, untuk menerapkan strategi dengan maksud mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan (Ansori, 2016:14-. Pendekatan yang diterapkan oleh guru dalam mengajarkan nilai-nilai humanis religius melibatkan rangkaian langkah yang terencana dan terstruktur untuk mengkomunikasikan, mengubah, dan menanamkan nilai-nilai humanis religius dengan tujuan membentuk pribadi Muslim yang lengkap dan utuh(Tim Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Wali Songo Semaran, 1999:. Berikut ini adalah beberapa pendekatan yang dapat digunakan oleh guru untuk menginternalisasikan nilai-nilai keagamaan: (Syafri, 2014:. Keteladanan Allah SWT menggunakan teladan atau contoh sebagai metode yang paling efektif dalam mendidik manusia agar dapat dengan mudah dipahami dan Para Nabi dan Rasul menjadi teladan yang dijadikan sebagai model Peran keteladanan memiliki kepentingan yang besar sehingga Tuhan memilih pendekatan ini dalam mendidik umat manusia dengan menggunakan metode yang pantas dan patut ditiru. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa keteladanan adalah pendekatan pendidikan yang sangat efektif. Keteladanan tidak hanya berarti memberikan contoh dalam tindakan, tetapi juga melibatkan berbagai aspek yang dapat dijadikan sebagai teladan, termasuk kebiasaan-kebiasaan baik sebagai contoh konkret dari keteladanan. (Hidayatullah, 2010:. Iswah, qudwah, atau qidwah adalah istilah dalam bahasa Arab yang mengacu pada keteladanan atau contoh yang baik yang dapat dijadikan teladan oleh orang lain, terutama oleh anak didik (Arief, 2002:. Dalam rangka membentuk akhlak Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Lia Dwi Utami &Iis Siti Khoiriyah Strategi Kepala Madrasah Dalam Menanamkan Nilai Humanis Religius Kepada Siswa Madrasah Aliyah yang baik, tidak hanya cukup dengan memberikan pelajaran, instruksi, dan larangan, tetapi juga melalui contoh yang baik dan nyata. Ketika orang tua dan guru menunjukkan perilaku yang baik, biasanya anak-anak dan murid-murid akan meniru dan mengembangkan pola perilaku yang serupa. Imam Al Ghazali menggambarkan bahwa orang tua merupakan cermin bagi anak-anak mereka, yang berarti perilaku orang tua cenderung ditiru oleh anak-anak karena adanya kecenderungan alami anak-anak untuk meniru (Mustaqim, 2001:. Guru memegang peran yang sangat penting sebagai contoh bagi anak didiknya di sekolah, sejajar dengan peran orang tua di rumah. Guru harus memperhatikan tindakan dan kata-katanya dengan baik, karena naluri anak yang cenderung meniru dan mengambil contoh dari orang-orang di sekitarnya akan mendorong mereka untuk mengikuti apa yang diperlihatkan, baik itu oleh orang tua maupun guru. Seperti yang dikatakan oleh seorang tokoh dalam bidang psikologi terapi yang sejalan dengan ajaran Islam, jika seorang anak mendengar orang tuanya mengucapkan asma Allah dan secara rutin melihat mereka atau orang-orang yang mereka kenal menjalankan ibadah, hal tersebut akan menjadi dasar dalam membentuk karakter anak (Daradjat, 1996:. Pembiasaan Pembiasaan adalah pendekatan yang digunakan untuk mengenalkan dan mengajarkan kepada anak didik cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran agama Islam(Arief, 2002:. Membentuk akhlak melalui pembiasaan adalah suatu proses yang dilakukan dengan mengulang-ulang perbuatan yang memiliki nilai edukatif oleh anak sejak usia dini. Proses ini memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan pribadi anak. Seperti yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali, manusia secara alami mampu menerima pengaruh pembentukan melalui pembiasaan. Tujuan dari pembiasaan adalah mengkultivasi kegiatan tertentu agar menjadi rutin dan terstruktur. (Hidayatullah, 2010:. Strategi ini memiliki peran yang penting dalam membentuk dan mengembangkan Akhlakul Karimah yang baik. Dalam proses pembiasaan ini, terjadi pertumbuhan dan kemajuan yang positif melalui rangkaian kegiatan yang Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Lia Dwi Utami & Iis Siti Khoiriyah Strategi Kepala Madrasah Dalam Menanamkan Nilai Humanis Religius Kepada Siswa Madrasah Aliyah Ibnul Qoyyim Yogyakarta harus dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Ini menghasilkan kebiasaan yang baik dan sesuai dengan ajaran Islam, yang membentuk pola hidup yang sesuai dan tidak menyimpang. Koreksi dan Pengawasan Tujuan dari strategi ini adalah untuk mencegah dan menjaga agar terhindar dari situasi yang tidak diinginkan. Mengingat manusia memiliki sifat yang tidak sempurna, ada kemungkinan terjadinya kesalahan dan penyimpangan. Oleh karena itu, penting untuk selalu melakukan tindakan koreksi dan pengawasan agar kesalahan tersebut tidak berlanjut atau memperburuk keadaan. Hukuman Hukuman dalam konteks ini merujuk pada langkah yang disengaja diberikan kepada peserta didik dengan maksud menghasilkan rasa penyesalan. Melalui rasa penyesalan tersebut, siswa akan menyadari kesalahan yang dilakukannya dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya. Hukuman ini diterapkan ketika larangan yang telah ditetapkan masih dilanggar oleh siswa. Namun, hukuman tersebut tidak harus berupa hukuman fisik, melainkan dapat berupa tindakan, kata-kata, atau persyaratan yang membuat siswa tidak ingin melakukan tindakan tersebut dan benar-benar menyesali perbuatannya. Pendidikan nilai bertujuan untuk memungkinkan siswa memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai sesuai dengan keyakinan agama mereka, kesepakatan masyarakat, dan nilai moral universal yang mereka anut, sehingga nilai-nilai tersebut menjadi bagian integral dari karakter mereka. Secara ringkas, pendidikan nilai bertujuan untuk membentuk individu yang berperilaku baik dan memiliki integritas moral yang baik (Sumarno dan Septina Alrianingrum, 2020:1. Pendidikan yang menggabungkan nilai-nilai humanis dan religius memiliki kemampuan untuk membentuk karakter peserta didik menjadi individu yang memiliki esensi "keberperikemanusiaan" dan menghasilkan pribadi yang utuh, yang mencakup: . Individu dengan kecerdasan intelektual yang tinggi, memiliki kecenderungan untuk melakukan amal kebajikan, dan memiliki moralitas yang baik sebagai ekspresi dari potensi alami yang dimiliki. Individu yang memiliki Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Lia Dwi Utami &Iis Siti Khoiriyah Strategi Kepala Madrasah Dalam Menanamkan Nilai Humanis Religius Kepada Siswa Madrasah Aliyah pemahaman yang mendalam tentang hakikat diri mereka sendiri. Individu yang memahami tugas dan tanggung jawab mereka sebagai hamba dan khalifah Allah di dunia ini. Individu yang menghargai dan menghormati diri mereka sebagai . Individu yang menghargai orang lain sebagaimana mereka menghargai diri mereka sendiri. Individu yang memahami dan bersedia melaksanakan kewajiban dan hak-hak mereka sebagai manusia. Individu yang mampu mengoptimalkan potensi diri mereka sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Individu yang menyadari adanya kekuatan yang mengatur seluruh kehidupan (Haryanto, 2011:196-. Dengan demikian, pendidikan humanis religius memiliki peran penting dalam membentuk karakter yang utuh dan menyeluruh pada peserta. Orientasi religius memiliki tujuan untuk membentuk individu dalam konteks pendidikan yang mampu menjalin hubungan vertikal dengan Allah sebagai hambaNya, serta menjalin hubungan horizontal dengan sesama manusia dan makhluk lainnya dengan keseimbangan yang tepat. Sebagai hamba Allah, peserta didik diharapkan mampu menjalankan tugas dan kewajiban mereka dengan baik dan benar, sambil tetap menyadari bahwa mereka juga merupakan bagian dari masyarakat dalam aspek sosial. Oleh karena itu, penting bagi peserta didik untuk menunjukkan kesalehan sosial mereka (Arief, n. :145-. Pendidikan humanis religius berperan sebagai sarana untuk membentuk manusia secara menyeluruh, yang dalam konteks pendidikan Islam dikenal sebagai muslim paripurna atau insan kamil. Paradigma pendidikan humanis religius melihat manusia dalam segala aspeknya. Aktivitas pendidikan humanis religius tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga mengejar nilai-nilai lainnya. Dalam usaha mencapai kehidupan manusiawi yang berarti, pendidikan humanis religius berusaha memperkuat potensi iman dengan memenuhi hati individu. Ajaran Islam yang komprehensif mencakup akidah . , syariah . badah dan muamala. , dan akhlak . Dengan memiliki keyakinan yang benar, manusia akan diberi petunjuk menuju perilaku yang baik dan moralitas yang mulia. Dengan memiliki akhlak yang baik, manusia akan berupaya memahami esensi dan menerapkan Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Lia Dwi Utami & Iis Siti Khoiriyah Strategi Kepala Madrasah Dalam Menanamkan Nilai Humanis Religius Kepada Siswa Madrasah Aliyah Ibnul Qoyyim Yogyakarta pengetahuan dengan benar. Dengan memiliki pengetahuan yang benar, manusia akan mengarahkan dirinya pada perbuatan baik (Arief, n. :147-. Menurut Fangerlind & Saha, terdapat minimal dua argumen yang menggarisbawahi pentingnya mewujudkan pendidikan humanis religius. Pertama, masyarakat Indonesia menghadapi kenyataan bahwa perilaku mereka, sebagai hasil dari pendidikan yang diterima selama ini, semakin menjauh dari nilai-nilai budaya Indonesia (Pancasil. Alasan kedua adalah bahwa landasan filosofis pendidikan nasional Indonesia, yaitu Pancasila yang mencakup dimensi humanis religius atau humanis theologis, belum sepenuhnya tercermin dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia (Achmad, 2010:. Pentingnya pendidikan saat ini, yang tentunya tidak lepas dari pendidikan karakter untuk generasi saat ini. Maka Madrasah Aliyah Ibnul Qoyyim Yogyakarta berusaha menanamkan nilai- nilai huumanis religious kepada seluruh warga sekolah, agar terciptanya kawasan yang memiliki solidaritas, empati, toleransi, gotong royong, saling menghargai hingga memotivasi seluruh warga sekolah untuk berusaha menjdi manusia yang lebih baik lagi yang mana tentunya semua upaya yang dilakukan tidaklah lepas dari pendekatan religious ataupun pendekatan spiritual yang berasaskan pada Al QurAoan dan Hadist. Oleh karena itu, dalam mewujudkan tertanamnya nilai humanis religious di Madrasah Aliyah Ibnul Qoyyim Yogyakarta, maka kepala madrasah mempunyai andil yang besar dalam pelaksanaannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Andil kepala madrasah secara langsung yakni dengan adanya beberapa Stategi program kerja: Dalam menciptakan keteladanan Dalam terciptanya akhlak peserta didik yang baik, maka seorang kepala, pendidik hingga tenaga kependidikan bisa memberikan keteladanan kepada peserta didik. Karena pengajaran yang baik yakni sebuah uswah atau Dalam hal ini kepala madrasah MA Ibnul Qoyyim Yogyakarta memiliki banyak upaya, yakni: Absensi Finger Kegiatan ini mejadi tolak ukur ketertiban bagi kepala madrasah, pendidik serta tenaga kependidikan untuk dapat tertib hadir di sekolah pada waktu Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Lia Dwi Utami &Iis Siti Khoiriyah Strategi Kepala Madrasah Dalam Menanamkan Nilai Humanis Religius Kepada Siswa Madrasah Aliyah yang telah ditentukan. Sehingga dalam hal ini tercapainya nilai keteladanan, siswa akan meniru ketertiban masuk kelas jika guru juga tertib dalam memasuki kelas. DoAoa bersama Kegiatan ini dilakukan setiap hari sebelum mulainya kegiatan belajar Kegiatan ini dilakukan oleh kepala madrasah, guru dan tenaga kependidikan 15 menit sebelum bel masuk kelas berbunyi. Dalam kegiatan ini, maka ada nilai keteladanan yang diharapkan siswa mampu meniru bahwa sebelum kegiatan belajar mengajar kita harus melibatkan Allah. Siswa juga akan terbiasa memulai segala aktifitas yang kita lakukan dengan Budaya 5 S ini sangat penting diterapkan dan dibiasakan di lingkungan sekolah untuk dapat menciptakan lingkungan yang humanis. Senyum, salam, sapa, sopan, santun adalah slogan seluruh madrasah. Dalam terciptanya budaya 5 S ini di lingkungan sekolah, maka salam terhadap yang lebih tua diwajibkan. Denagn kewajiban salam sapa siswa akan terbiasa memberi salam kepada yang lebih tua, serta menyayangi yang lebih muda. Sehingga terciptanya saling menyayangi, melindungi serta menghormati. Aturan berpakaian Dalam hal ini kepala madrasah memiliki kebijakan peraturan dalam berpakaian, missal: ketentuan panjang jilbab pendidik dan tenaga kependidikan yakni minimal dengan lebar ukuran 135 cm, serta wajib menggunakannya minimal pada siku. Dalam aturan berpakaian ini, maka siswa akan lebih mudah diatur dalam ketertiban berpakaian atau seragam karena seorang pendidik dan tenaga kependidikan sudah memberikan Sangan berbeda keadaanya jika pendidik meminta siswa membesarkan jilbabnya, namun pendidik masih menggunakan jilbab yang Maka pasti aka nada timpang tindih dalam terciptanya atau terlaksanakanya peraturan tersebut. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Lia Dwi Utami & Iis Siti Khoiriyah Strategi Kepala Madrasah Dalam Menanamkan Nilai Humanis Religius Kepada Siswa Madrasah Aliyah Ibnul Qoyyim Yogyakarta Dalam Pembiasaan Tolak ukur sebuah tujuan pendidikan atau kebijakan yakni sebuah Sehingga tujuan akhir dari segala keteladanan yang diciptakan di lingkungan sekolah yakni sebuah pembiasaan baik oleh Kepala Madrasah. Pendidik, peserta didik hingga tenaga kependidikan. Karena jika siswa sudah sampai pada tahap pembiasaan, artinya hal itu sudah masuk dalam hati siswa. Sehingga tanpa disuruh siswa akan melakukan dengan sendirinya. Terciptalah sebuah disiplin, tanpa adanya paksaan. Hingga dapat mengubah watak atau kepribadian peserta didik kea rah yang lebih baik. Dalam hal ini maka kepala madrasah memiliki beberapa kebijakan dalam rangka menciptakan pembiasaan yang baik di lingkungan sekolah. Diantaranya: Apel setiap sabtu pagi Kegiatan ini merupakan program yang dibuat oleh kepala madrasah dalam memotivasi peserta didik serta menanamkan nilai Ae nilai humanis religious. Adapun yang terlibat dalam kegiatan ini yakni seluruh warga sekolah, termasuk kepala madrasah, pendidik, peserta didik serta tenaga Adapun pengisi apel dibuat jadwal bergilir yang melibatkan seluruh guru akan mendapatkan jadwal mengisi apel. Kegiatan ini sekaligus dalam menjadi moment seorang guru untuk bisa berinteraksi kepada seluruh siswa, karena tidak seluruh guru mengajar di seluruh kelas, missal guru pengajar sosiologi, maka tidak ada intensitas masuk kelas kepasa siswa kls MIPA, sehingga dengan adanya apel ini, semua guru bisa berinterasi serta membangun bonding kepada seluruh peserta didik. Dengan adanya motivasi yang selalu diulang ulang tiap minggunya, maka diharapkan mampu menciptakan pembiasaan yang baik bagi peserta didik. Kegiatan Bank Sampah Kegiatan ini dilakukan dibawah pengawasan Kepala Madrasah dan dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah. Adapun kepengurusan secara structural dari kegiatan bank sampah ini, namun tentunya peran seluruh warga sekolah tidaklah bisa lepas. Dari Kepala Madrasah, pendidik, peserta didik, hingga tenaga kependidikan turut berpartisipasi. Pemilahan bank Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Lia Dwi Utami &Iis Siti Khoiriyah Strategi Kepala Madrasah Dalam Menanamkan Nilai Humanis Religius Kepada Siswa Madrasah Aliyah sampah dilkukan tiap dua pekan sekali. Dalam prosesnya dilakukan dua tahap pemilahan. Yakni pembedaan tempat sampah, antara sampah residu dengan sampah kertas serta sampah botol, tiga tempat sampah semua ada di depan ruangan di kawasan Madrsasah Aliyah Ibnul Qoyyim Yogyakarta. Mulai dari kelas, koperasi hingga tiap kantor guru dan karyawan. Dan disetiap tempat sampah di seluruh lokasi yang ada, ada penanggung jawabnya, untuk nantinya membawa sampah pilah ke gudang bank sampah jika samph sudah penuh. Kemudian nanti setiap dua pekan sekali dilakukan pemilahan sampah di gudang bank sampah yang selanjutnya akan dilakukan penjualan sampah. Dalam kegiatan ini, tentunya membutuhkan peran seluruh warga sekolah, sehingga secara tidak langsung menumbuhkan siswa yang cinta kebersihan, peduli sesame, peduli sekitar hingga mencipkatan suatu habbit atau pembiasaan yang baik. Yang tentunya tertuang dalam slogan sekolah, yakni kebersihan sebagian dari iman. Tujuan akhir dalam kegiatan ini yakni, mampu terciptanya seluruh warga sekolah untuk bisa sadar dan terbiasa memisahkan tiap sampah pada jenisnya masing-masing. Sholat Dzuhur berjamaah Seluruh warga sekolah diwajibkan untuk sholat dzuhur berjamaah. Dalam hal ini diharapkan siswa terbiasa untuk mengutamakan sholat berjamaah disamping sholat munfarid atau sendiri. Diharapkan siswa paham akan keutamaan sholat berjamaah. Untuk menertibkan sholat berjamaah ini, dibuatlah absensi sholat bagi seluruh siswa. Sehingga siswa akan terpantau untuk mengikuti sholat berjamaah. Secara tidak langsung menciptakan hubungan humanis religious. Sholat Dhuha Sholat dhuha juga dibiasakan di Madrasah Aliyah Ibnul Qoyyim Putri dengan diadakannya absensi sholat dhuha. Agar anak terpantau dalam pelaksanaannya, karena sholat tidak dilakukan secara berjamaah maka memantaunya dengan laporan sholat yang dilakukan oleh siswa di jam Hal ini juga bertujuan untuk membiasakan anak untuk tidak berat Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Lia Dwi Utami & Iis Siti Khoiriyah Strategi Kepala Madrasah Dalam Menanamkan Nilai Humanis Religius Kepada Siswa Madrasah Aliyah Ibnul Qoyyim Yogyakarta melakukan sholat ditengah kegiatan yang sedang dilakukan. Karena waktu istirahat adalah waktu ditengah pergantian belajar mengajar. Tilawah Al Quran Seluruh siswa wajib tilawah Al QurAoan sepuluh menit sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Tilawah Al QurAoan ini dilakukan pada tiap kelas. Hal ini dilakukan agar anak terbiasa untuk membaca Al QurAoan, serta agar siswa paham bahwa kita harus melibatkan Allah dalam setiap urusannya, serta siswa terbiasa dengan memulai segala Sesutu dengan berdoa. Infaq Kegiatan ini dilaksanakan rutin tiap minggu. Kegiatan infaq ini dilakukan dalam rangka mengajari anak untuk belajar mengorbankan sedikit dengan menyisihkan uang jajannya dalam rangka untuk mendapat pahala dari Allah SWT. Hal ini perlu dibiasan dari sedini mungkin agar anak tidak berat nantinya untuk berbagi, serta secara tidak langsung anak akan memahami bahwa di dalam harta yang dimilikinya, terdapat harta otrang lain yang perlu kita bagi. Dengan infaq anak akan terbiasa dengan tolong menolong. Koreksi dan Pengawasan Dalam melaksanakan koreksi dan pengawasan di lingkungan sekolah. Maka kepala madrasah membuat jadwal penilaian ataupun evaluasi bersama pendidik dan tenaga kependidikan tiap dua pekan sekali pada hari kamis. Adapun jadwal wali kelas bincang dengan anak kelasnya juga tiap satu bulan sekali pada hari kamis. Dua kegiatan ini dilakukan dalam rangka mengoreksi atau mengevaluasi jika ada hal yang tidak berjalan dengan baik. Dalam hal ini menjadi wadah untuk bisa meningkatkan mutu kinerja pendidik dan tenaga kependidikan, serta dapat menjadi wadah meningkatkan motivasi dan meningkatkan bonding antara pendidik dan peserta didik. Serta terciptanya hubungan yang humanais antar warga sekolah. Hukuman Hukuman atau punnishmen sangat penting dilakukan dalam upaya mewujudkan ketertiban. Hukuman pun tidak akan lepas dari rewerd atau Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Lia Dwi Utami &Iis Siti Khoiriyah Strategi Kepala Madrasah Dalam Menanamkan Nilai Humanis Religius Kepada Siswa Madrasah Aliyah Dengan adanay hukuman, seluruh warga sekolah diharapkan mampu lebih bertanggungjawab atasa segala sesuatu yang diwajibkan atasnya. Maka dalam hal ini. Madrasah Aliyah Ibnul Qoyyim Putri memiliki buku panduan siswa, yang didalamnya terdapat semua peraturan siswa. Semua kewajiban, larangan dan hukuman sudah tertulis didalamnya. Hal ini akan menjadiakn siswa memahami dan mengerti apa yg boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, serta apa akibat yang akan didapatkan jika melanggar peraturan yang ada. Selain kewajiban dan larangan peserta didik, tentu seorang pendidik serta tenaga kependidikan pun memiliki tugas dan tanggung jawabnya yang selalu disampaikan tiap semester dalam SK . urat keputusa. kerja yang ditandatangani sebagai akad atau kontrak, serta adanya sosialisasi yang selalu diingatkan tiap semesternya. Dalam lingkungan sekolah, papan peraturan juga tak luput ditempel untuk mengingatkan warga sekolah, seperti: tata tertib UKS. Tata tertib Lab. Komputer, tata tertib Lab. IPA dll. Harapannya dengan adanya tata tertib serta penjelasan tata tertib yang ada, bisa menekan angka pelanggaran warga sekolah sehingga menekan pula hukuman yang harus diberikan. KESIMPULAN Strategi yang dilaksanakan oleh Kepala madrasah dalam menanamkan nilainilai humanis religius kepada siswa telah membawa dampak atau hasil yang positif, yaitu terciptanya suasana dan iklim madrasah yang humanis dan religius, nyaman, terbebas dari AukekakuanAy dan suasana belajar yang menyenangkan. Sehingga hal itu mendukung siswa dan siswi dalam belajar dan mengembangkan potensi yang dimiliki melalui kegiatan-kegiatan di madrasah. Strategi dalam upaya penanaman nilai-nilai humanis religious di Madrasah Ibnul Qoyyim Yogyakarta sudah sangat dimaksimalkan, mulai dengan pemberian keteladanan dengan adanya doa bersama, absensi/finger print, serta aturan berpakaian, kemudian pembiasaan yang dilakukan yakni mulai dari apel tiap pekan, kegiatan bank sampah, sholat dzuhur berjamaah, sholat dhuha, tilawah Al Quran. Infaq, kemudian adanya koreksi pengawasan serta adanya hukuman mampu Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Lia Dwi Utami & Iis Siti Khoiriyah Strategi Kepala Madrasah Dalam Menanamkan Nilai Humanis Religius Kepada Siswa Madrasah Aliyah Ibnul Qoyyim Yogyakarta menciptakan kawasan sekolah yang mampu menciptakan nilai-nilai humanism religious, karena dalam setiap kebijakan yang dibuat tentunya tidak luput dari asas Al QurAoan dan Hadist. REFERENSI