JURNAL TABGHA Volume 3 No. 1 April 2022 P-ISSN 2722-6190 PASTISIPASI SOSIOLOGIS GENERASI Z KRISTIANI DALAM PENINGKATAN KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA DI KOTA BATAM Gomgom Purba Prodi. Pendidikan Agama Kristen Sekolah Tinggi Teologi Tabgha Batam gomgom@st3b. Abstract Talking about religious harmony is an important basis in building diversity that must be maintained by generations of a nation. This article offers sociological participation as a new approach for Generation Z in building and preserving religious harmony in Batam City. This approach provides an understanding as well as demonstrates the tasks and challenges for Generation Z Christians that the sociological participation approach provides an impetus to explore roles in pluralism. By conducting a case study by surveying the sociological participation of Generation Z Christians and their implications for interreligious harmony, the author shows that new social integration can be built. Adaptation of sociological locality and Generation Z Safari in increasing inter-religious harmony in Batam city plays a relevant function in complementing the context, each of which has its own characteristics. In this case, generation Z Christians in the city of Batam are able to become figures who can spread the value of the teachings of Jesus Christ and can be an open letter of God's reconciliation that can be followed in the goodness of living together. Keywords: Sociological Participation. Generation Z. Plurality. Abstrak Membicarakan seputar kerukunan beragama merupakan dasar penting dalam bangunan keberagaman yang harus dijaga oleh generasi dari sebuah bangsa. Artikel ini menawarkan partisipasi sosiologis sebagai sebuah pendekatan baru bagi generasi Z dalam membangun dan melestarikan kerukunan umat beragama yang ada di Kota Batam. Pendekatan ini memberi pemahaman sekaligus menunjukkan tugas serta tantangan bagi generasi Z Kristiani bahwa pendekatan pastisipasi sosiologis memberi dorongan untuk mengeksplorasi peran dalam kemajemukan. Dengan melakukan studi kasus dengan mensurvei pastisipasi sosiologis generasi Z Kristiani serta implikasinya bagi kerukunan antar umat beragama, penulis memperlihatkan integrasi sosial baru yang dapat dibangun. Adaptasi lokalitas sosiologis dan Safari Generasi Z dalam peningkatan kerukunan antar umat beragama di kota Batam memainkan fungsi yang relevan dalam melengkapi pada konteksnya masing-masing memiliki Dalam hal ini generasi Z Kristiani di kota Batam mampu menjadi figur yang dapat menebarkan nilai ajaran Yesus Kristus dan dapat menjadi surat terbuka pendamaian Allah yang dapat diikuti dalam kebaikan hidup bersama. Kata Kunci: Partisipasi Sosiologis. Generasi Z. Pluralitas. PENDAHULUAN Kerukunan beragama merupakan satu unsur penting dalam perbedaan keyakinan dan tentunya prioritas yang harus dijaga di Indonesia yang hidup di dalamnya berbagai macam suku, adat-istiadat, agama, aliran bahkan ras. Keanekaragaman yang dimiliki oleh masyarakat merupakan ciri utama dari masyarakat majemuk yang ada. Menyoroti tujuan bersama dalam suatu bentuk sosialisasi yang damai dan tercipta berkat adanya toleransi agama. Memiliki rasa toleransi, adanya saling pengertian, saling menghormati, saling menghargai selalu harmonis, damai dan saling memaknai Tidak dapat dipungkiri bahwa keberagaman ini merupakan fenomena realitas sosial yang tidak dapat Dalam hal ini, patutlah untuk disyukuri sebagai rahmat, akan tetapi sekaligus juga merupakan suatu tantangan (Yewangoe 2. Indonesia sebuah bangsa dengan komposisi etnis yang sangat kaya dan beragam. Untuk itu, diperlukan sikap peneriman pada Auyang lainAy dalam menyikapi perbedaanperbedaan yang dijumpai, supaya kerukunan antar umat beragama dapat tetap terjaga, sebab perdamaian nasional hanya bisa dicapai kalau JURNAL TABGHA Volume 3 No. 1 April 2022 masing-masing golongan agama pandai menghormati identitas golongan lain (Natsir Batam adalah kota yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau. Daerah ini dikenal heterogen, yakni semua agama ada di kota ini. Kebersamaan dan kerukunan harus selalu ditingkatkan di Kota Batam. Di tengah kemajemukan masyarakat dalam perbedaan membangun sikap untuk saling menghormati antar pemeluk agama. Kegagalan dalam merealisasikan agenda kesatuan ini akan mengantarkan suatu keberagaman yang ada pada trauma terpecah belahnya sebagai anak bangsa. Konflik tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan antar umat beragama. Kehidupan beragama, sebagaimana juga kehidupan antar suku bangsa dan ras memang mengandung fanatisme dan pontensial Dalam konteks inilah, sebagai anak bangsa senantiasa berbicara mengenai kerukunan antar umat beragama. Dalam upaya untuk memantapkan kerukunan antar umat beragama, hal serius yang harus dipehatikan adalah fungsi generasi Z Kristiani. Dalam hal ini generasi Z Kristiani di kota Batam mampu menjadi figur yang dapat menebarkan nilai ajaran Yesus Kristus dan dapat menjadi surat terbuka pendamaian Allah, sehingga apa yang diperbuat akan dipercayai dan diikuti dalam kebaikan Artikel ini berusaha menawarkan sebuah alternatif paradigmatis kerukunan antar umat beragama di kota Batam, dari sebuah model pastisipasi sosiologis generasi Z Kristiani. Sebagaimana arti penting terhadap individu dalam mengidentifikasi diri dengan kelompok komunitas iman yang berbeda, yakni mengajukan peran sebagai salah salah satu cara untuk menemukan Identitas sosial keberagaman yang tepat adalah pemahaman partisipasi sosialnya. Partisipasi sosial adalah dasar nilai-nilai yang digunakan sebagai sumber motivasi bagi individu dalam interaktif bersosialisasi dengan sesamanya. Tanpa pemahaman dan partisipasi sosial yang baik, peran generasi Z Kristiani akan bisa menjadi kesulitan dalam menentukan jati dirinya. Sebaliknya tujuan untuk membuka dialog lintas-iman yang lebih konstruktif akan lebih P-ISSN 2722-6190 sulit tercapai. METODE PENELITIAN Dalam mempertimbangkan solusi yang akan didapatkan dari masalah yang diangkat dari penelitian ini pada ruang lingkup peningkatan kerukunan umat beragama di Kota Batam melalui bentuk partisipasi sosiologis generasi Z Kristiani. Hal itu yang membuat peneliti memilih metode kwalitatif dengan pendekatan yang digunakan adalah kajian kepustakaan untuk mensurvei pemikiran tokoh-tokoh sosiologis generasi Z Kristiani dan kerukunan antar umat beragama. HASIL DAN PEMBAHASAN Kerukunan Umat Beragama Dan Pluralitas Kerukunan umat beragama sering diperbincangkan diberbagai wilayah, baik didaerah kota maupun pedesaan, karena dapat diamati begitu besar pengaruh dari dampak isu hubungan keagamaan yang ada disekitar mereka. Kerukunan umat beragama merupakan kondisi suatu kesatuan yang terdiri dari berbagai unsur keyakinan, kultur, ras, yang mencerminkan hubungan timbal balik yang ditandai oleh sikap saling menerima, saling mempercayai, saling menghormati dan menghargai, serta sikap memaknai kebersamaan (Lubis Setiap unsur tersebut saling menguatkan yang dipelihara dalam pola-pola interaksi yang beragam dan berfungsi dalam mewujudkan keutuhan. Pemerintah Indonesia melalui Departemen Agama Republik Indonesia memberikan pemaknaan secara resmi perihal, konsep kerukunan hidup antar umat beragama yang dirumuskan dengan istilah AuTrilogi KerukunanAy yaitu: pertama, kerukunan intern masingmasing umat dalam satu agama. Yaitu kerukunan di antara aliran-aliran atau paham mazhab-mazhab yang ada JURNAL TABGHA Volume 3 No. 1 April 2022 dalam suatu umat atau komunitas agama. Kedua, kerukunan di antara umat atau komunitas agama berbeda-beda. Yaitu kerukunan di antara para pemeluk agamaagama yang berbeda yaitu di antara pemeluk Islam dengan pemeluk Kristen Protestan, katolik. Hindu, dan Budha. Dan yang ketiga, kerukunan antar umat atau komunitas agama dengan pemerintah. Yaitu supaya diupayakan keserasian dan keselarasan di antara para pemeluk atau pejabat agama dengan para pejabat pemerintah dengan saling memahami dan menghargai tugas masing-masing dalam rangka membangun masyarakat dan bangsa Indonesia yang beragama (Depag RI 1. Dengan merupakan jalan hidup manusia yang memiliki bagian-bagian dan tujuan tertentu yang harus dijaga bersama. Realitas akan pluralitas masyarakat Indonesia merupakan anugerah yang patut disyukuri, sejak awal sudah mentasbihkan diri sebagai bangsa yang majemuk dalam multi ras, multi etnik, multi agama, dan multi kebudayaan, karena hal ini adalah keunikan serta kekuatan besar bagi Setiap menentukan orientasi dan arah kebijakan keyakinan dan budaya yang diyakini, nilai-nilai yang diamalkan sebagai kebutuhan kolektif golongan dan bebas dari kepentingan individu atau golongan lainnya. Bentuk negara kepulauan, juga menyebabkan penghayatan dan pengamalan keagamaan bangsa ini unik dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Apabila tidak kelola dengan baik, keunikan serta kekuatan besar tersebut juga dapat melahirkan berbagai persoalan sosial. Apabila setiap pihak ingin mempertahankan eksistensi, berarti ikut memperjuangkan kepentingannya agar tetap eksis dan diakui Hal inilah yang dapat melahirkan kerawanan (Sumartana 2. Disisi lain, perbedaan etnik dan kepemelukan terhadap agama, sering dijadikan sebagai alat ampuh yang dapat memicu konflik dan perpecahan (Muchtar 2. Setiap agama mengajarkan jalan hidup yang berbeda-beda dan merupakan ekspresi dari pemeluknya untuk memahami ajaran Tuhan. Setiap manusia yang beragama sangat menyakini dalam menyikapi mentalitas dan konsep sistematika turunnya wahyu P-ISSN 2722-6190 sebagai pola pembinaan iman serta moral kehidupannya. Sikap pluralis diperlukan dalam mengakui ada hak orang lain untuk menganut agama yang berbeda dengan dirinya, akomodatif, menampung berbagai aspirasi dari berbagai pihak, intergratif, dalam proporsional, kooperatif, dalam arti kesediaan untuk hidup bersama dengan siapapun dan mau bekerja sama yang bersifat keduniaan (Musa 2. Kehidupan beragama haruslah dimaknai bersama dalam hubungan yang baik antara penganut agama yang satu dengan yang lainnya dalam satu pergaulan dan kehidupan beragama, dengan cara saling memelihara, saling menjaga serta saling menghindari halhal yang dapat menimbulkan kerugian (Jirhanuddin Suasana persaudaraan dan kebersamaan antara semua orang meskipun mereka kemauan untuk hidup bersama dengan damai dan tenteram adalah makna dari sebuah kerukunan (Munawar 2. Di dalam kerukunan, semua orang bisa hidup bersama tanpa ada kecurigaan, dimana tumbuh sikap saling kepentingan bersama. Mewarnai suatu sikap yang berasal dari lubuk hati yang paling dalam terpancar dari kemauan untuk berinteraksi satu sama lain sebagai manusia tanpa tekanan dari kedamaian bersama (Ismail 2. Berangkat adanya fenomena keanekaragaman agama, dan etnis yang merupakan fakta dan realitas yang dihadapi saat ini, maka harus ada kesadaran bahwa memang sungguh-sungguh anugerah dalam kehidupan manusia. Sehingga diharapkan manusia mampu untuk dapat menghargai keanekaragaman itu. Lingkup Partisipasi Sosiologis JURNAL TABGHA Volume 3 No. 1 April 2022 Dalam Meningkatkan Kerukunan Antar Umat Beragama Di Kota Batam Partisipasi dapat diartikan sebagai sekelompok masyarakat untuk berinteraksi karena adanya nilai-nilai, norma-norma, caracara, dan prosedur yang merupakan (Theresia Kontribusi yang diupayakan melalui proses pengidentifikasian masalah dan potensi yang pengambilan keputusan tentang alternatif pelaksanaan upaya menangani masalah, dan mengevaluasi perubahan yang terjadi (Adi Dalam keterlibatan sukarela, keaktifan orang atau kelompok yang terkait, mengambil inisiatif dan melakukan hal itu dengan melakukan persiapan, pelaksanaan, monitoring proyek, agar supaya memperoleh informasi mengenai konteks lokal, dan dampak-dampak sosial untuk sebuah perubahan yang lebih baik (Britha 1. Sedangkan, sosiologis dapat diartikan sebagai studi sistematik tentang interaksi sosial manusia dengan memiliki fokus perhatian pada hubungan-hubungan dan pola-pola interaksi, yaitu bagaimana pola-pola tersebut muncul dan berkembang, budaya manyarakat dan karakternya (Indrayani 2. Mempelajari sosiologis memberikan manfaat pengetahuan tentang individu, norma, agama, keberagaman, kelompok, dan masyarakat dan pola penguatan sosial keagamaan. Dengan mencondongkan suatu proses keterlibatan orang maupun kelompok secara sukarela dalam kegiatan kemasyarakatan dimana ia melibatkan dirinya dengan beberapa jenis individu dan kegiatan yang dilakukan secara Wujud mengembangkan demokrasi melalui proses desentralisasi dimana diupayakan antara lain perlunya perencanaan dari bawah dengan mengikutsertakan dirinya untuk keutuhan hidup bersama (Tilaar 2. Partisipasi sosiologis ini mendorong orang-orang untuk menerima tanggung jawab individu dalam aktivitas bersama. Proses sosial yang dilaluinya orang-orang menjadi terlibat sendiri dalam kegiatan kelompok. P-ISSN 2722-6190 mampu berkembang secara mandiri dalam kehidupan bersama (Davis Keterlibatan mental atau pikiran dan emosi atau perasaan dalam suatu kelompok yang mendorongnya untuk memberi sumbangan kepada kelompok dalam usaha untuk mencapai tujuan kerukunan antar agama yang dilakukan (Yusnedi 2. Tentunya,kerukunan senantiasa memiliki implikasi sosiologis. Yakni sebuah konstruksi sosiologis yang kehidupan antar umat beragama. Sehingga dapat diartikan bersama sebagai pemahaman keagamaan yang menghargai terhadap kemajemukan agama-agama mewujudkan kerukunan hidup dalam masyarakat majemuk. Lebih tegasnya, partisipasi sosiologis mengajak untuk meningkatkan keberimanan kepada Tuhan dan membangun kesadaran bersama untuk melakukan perbuatan baik kepada siapa saja sebagai masyarakat modern. Penginterpretasian dangkal terhadap agama penentu dinamika masyarakat terhadap basis dijabarkan dari berbagai pengaruh Kesempatan untuk ikut serta dalam mejaga kerukunan antar umat beragama merupakan peluang untuk menyumbangkan inisiatif dan kreatifitas dalam hal relasi antarstruktur daripada suatu esensi beserta ekspresinya. Semua agama mengajarkan nilai-nilai kerukunan dengan sesama mencapai harmonisasi kehidupan. Dengan harmonitas kehidupan menjadi bersifat lintas agama yang partisipatif. Akan tetapi, tidak serta merta hal berjalan harmonitas kehidupan yang beragam sering kali didasarkan pada ikatan primordial seperti politik, budaya, dan Perwujudan harmonitas yang ikatan-ikatan primordialitas-antrophosentris JURNAL TABGHA Volume 3 No. 1 April 2022 semacam itu ternyata sering kali bersifat semu dan amat sementara, sebab jika ada ketersinggungan antar kelompok segera mengakibatkan penganut agama menjadi kalut dan kemudian dihinggapi rasa permusuhan yang tidak jelas. Generasi Z Kristiani dan Peluang Partisipasi Sosiologis Generasi Z Kristiani dibesarkan di era serba digital dan teknologi canggih yang mendominasi dunia serta memengaruhi perilaku dan kepribadian orang di zaman ini. Generasi Z dikategorikan juga sebagai orangorang yang lahir pada tahun 1995 dan setelahnya, disebut juga disebut dengan nama iGeneration, generasi net, atau generasi internet (Santosa 2. Dalam perkembangan internet yang begitu pesat serta kecanggihan digitalisasi, generasi Z tumbuh dan berkembang dengan sebuah ketergantungan yang besar pada teknologi digital (Pratama 2. Tentunya, ini generasi ini sangat diuntungkan dengan kemajuan infrastruktur yang memungkinkan untuk mengakses internet dengan murah, mudah dan cepat dan dapat berhubungan dengan beragam aplikasi yang berbasis Sehingga, memudahkan generasi ini beradaptasi dengan teknologi komunikasi. Tantangan yang juga akan muncul pada generasi ini ialah minimnya intensitas untuk bertatap muka dengan orang lain, karena lebih memilih aktif berkomunikasi melalui dunia maya, media sosial. Maka tidak mengherankan, dalam generasi ini, pada usia muda telah terampil dalam penguasaan teknologi dan secara sosiologis dan keagamaan berkembang serta bertumbuh sejalan dengan perkembangan media digital muncul. Kedekatan generasi ini dengan teknologi sekaligus memberi peluang yang sangat besar masa depan untuk dapat Generasi Z juga sangat rentan terpengaruh dan meniru perilaku memecah belah sesama dari media sosial. Pengaruh negatif ini berpotensi memengaruhi pemuda untuk bertingkah di luar batasan orang normal, hingga menyebabkan dehumanisasi yang artinya lebih peduli pada dunia maya di internet daripada lingkungan nyata di P-ISSN 2722-6190 Tentunya, dampak negatif media sosial tidak akan terjadi apabila menggunakan media sosial tersebut dengan bijak. Pemanfaatan digitalisasi yang didalamnya termasuk media sosial, memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap peningkatan kerukunan antar umat beragama. Potensi kerusakan dan kemunduran kerukunan akan dapat terjadi bila pengaruh media sosial ini tidak di antisipasi dengan pengendalian yang maksimal. Tidak jarang media penyebaran informasi palsu atau hoax berkaitan dengan isu suku agama ras dan antar golongan atau SARA. Dimana mengubah fakta dengan menggunakan berita yang seolah-olah meyakinkan membuat, menggiring dan membentuk persepsi publik. Upaya penyelesaian persoalan radikalisasi di kalangan pemuda, tantangan ini masih perlu harus diamati dan diteliti. Generasi muda kini adalah generasi yang lebih self-expressive yang partisipatif. Mereka ingin suara mereka didengar dan mereka ingin tampil di komunitas mereka. Media sosial telah memberikan ruang bagi Mereka dapat menulis, memberikan komentar di media sosial, transparansi terhadap segala sesuatu adalah hal yang biasa. Mereka lebih siap dari dengan generasi tua untuk memperkenalkan profil dan perilaku mereka kepada banyak orang. Media pandangan, aktivitas dan perilaku Bagi mereka hal seperti ini adalah hal yang biasa. Mereka bisa memilih konten dan sekaligus memiliki (Hutahayan 2. Inilah saatnya generasi Z Kristiani perlu memikirkan strategi yang tepat untuk mengadopsi teknologi digital dan media sosial yang memberi peluang kontribusi dalam kerukunan antar umat beragama di masa kini dan di masa JURNAL TABGHA Volume 3 No. 1 April 2022 beragama di antara umat beragama berjalan secara rukun, wajar dan dan dialogis. Diperlukan sebuah perencanaan besar untuk menjadikan keberagaman sebagai wadah digital yang lebih bersahabat bagi para generasi muda dengan mengikuti undangundang yang berlaku di Indonesia. Berbicara sosiologis, berarti akan selalu berkait dengan upayaupaya keikutsertaan seluruh komponen masyarakat secara aktif dalam berbagaia kreativitas yang telah direncanakan. Dengan demikian masing-masing berfungsi sebagai penggerak dan pengarah proses perubahan sosial pada tujuan dalam keberagaman. Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri, mengingat pemuda berpotensi bersikap ambivalen dalam menghadapi peluang partisipasi yang terjadi. Di satu sisi berpartisipasi, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut (Fajar 2. Kerukunan Umat Beragama Sebagai Pusat Teologi Beragama Agama telah teruji menjadi sesuatu yang penting dalam tatarannya sebagai sumber moral maupun sebagai panduan kehidupan bagi penganutnya. Kompleksitas wajah agama tidak membuat keniscayaan agar penganutnya berangkat dari konteks individu kepada konteks komunitas yang lebih luas dalam sudut pandang serta pendekatan yang beragam pula. Kehidupan terhadap aspek kebudayaan yang lain, yang berpotensi mengikatkan manusia ke dalam perasaan emosional dan spiritual sesamanya. Semangat dari setiap ajaran mewujud agar terciptanya sebuah budaya berkorelasi sejajar dengan kehidupan manusia secara sosial (Koentjaraningrat 1. Pada titik kristal tertentu seluruh pemahaman teologis agama ter-internalisasikan dalam kerukunan yang hidup di tengah masyarakat beragam. Pola interaksi antara sesama umat beragama sering mendapat tantangan atas P-ISSN 2722-6190 mencampurkan unsur-unsur tertentu dari agama yang berbeda, sebab hal itu dianggap akan merusak nilai agama itu Sehingga dinamika pergaulan hidup bermasyarakat yang saling menguatkan yang di ikat oleh sikap pengendalian hidup dalam wujud sering Teologi dalam sebuah agama mencondongkan penganutnya masuk pada perenungan akan Tuhan yang diwujudkan pengembangan nilai-nilai dinamik yang direpresentasikan dengan partisipasi sosial, pergerakan kearifan, dan gairah dalam mengembalikan nilai kepedulian, kasih, dan kebajikan Walaupun, setiap agama tentu punya aturan masing-masing dalam ajaran. Perbedaan seperti ini bukanlah alasan untuk berpecah belah. Sebagai satu saudara dalam tanah air yang sama, maka harus menjaga kerukunan beragama di Indonesia agar negara ini tetap menjadi satu kesatuan yang utuh. Merayakan kehidupan dalam pergaulan kerukunan antar umat beragama bukan berarti merelatifkan agama-agama yang ada untuk melebur kepada satu totalitas keyakinan dan ajaran yang sama. Tujuan yang hendak dicapai adalah pemberian kebebasan kepada sesama manusia atau kepada sesama warga masyarakat untuk menjalankan keyakinan atau mengatur hidupnya dan menentukan nasibnya masing-masing, selama di dalam menjalankan dan menentukan sikap itu tidak bertentangan dengan syaratsyarat terciptanya ketertiban dan perdamaian masyarakat yang beragam agama (Hasyim 1. Lokalitas Pola Kerukunan Antarumat Beragama Di Kota Batam Secara administratif Kota Batam terdiri dari 74 kelurahan dan 12 kecamatan dan kota Batam yang juga adalah daerah pulau merupakan salah satu pulau terbesar dari 329 rangkaian pulau di sekitarnya di Kepulauan Riau, yang letaknya satu dengan yang lainnya dihubungkan dengan laut. Secara JURNAL TABGHA Volume 3 No. 1 April 2022 geografis Kota Batam mempunyai posisi strategis karena berada pada jalur pelayaran Internasional dan sangat berdekatan dengan negara Malaysia dan Singapura, sehingga dapat menempatkan Kota Batam sebagai pintu gerbang lokomotif pembangunan ekonomi juga keberagaman, baik Propinsi Kepulauan Riau Nasional (Batamkota. Kota Batam juga dikenal dengan penduduk yang menamakan diri sebagai Auorang pulauAy, yang keseharian bergantung dengan sarana air dan hasil yang didapat dari Laut atau air begitu akrab dengan kehidupan masyarakat tempatan atau orang pulau dan berbeda dengan masyarakat pendatang, yang menuju Batam untuk bekerja atau mencari pekerjaan. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat proyeksi pertumbuhan penduduk di Batam pada 2019 ini sebanyak 1. 009 jiwa (Pos. Gagasan mengenai lokalitas pola kerukunan memusatkan perhatian pada bagaimana masyarakat, yang terdiri dari kelompok-kelompok identitas yang berbeda dapat hidup bersama, khususnya dalam ikatan konteks suatu negara-bangsa yang mempersatukan kelompok-kelompok berbeda Walaupun ada titik isyarat bahwa potensi persoalan yang muncul karena ada keragaman klaim normatif diselesaikan secara beradab, tanpa niat untuk mengurangi atau memarjinalkan keragaman. Dalam beragama di kota Batam, dapat terlihat bahwa keberagaman agama, etnis, dan budaya sudah ada serta berkembang hingga saat ini. Hal itu terlihat dari hubungan baik yang terjalin dalam kehidupan bermasyarakat. Hubungan masyarakat yang terjalin tidak memandang identitas seseorang, sebaliknya bekerja sama antara satu dengan yang lain, saling toleransi, berdiskusi, memancarkan kebaikan, menjaga keharmonisan sehingga tercipta kerukunan antar umat beragama. Dalam perbedaan kehidupan sosial budaya sangat terlihat bahwa masyarakat tidak saling membeda-bedakan atau saling mendeskriminasi terhadap orang berbeda agama, dan juga tidak saling memprovokasi satu sama lain yang dapat memecah belah kerukunan umat beragama. Sebagaimana daerah kota Batam belum pernah terjadi P-ISSN 2722-6190 konflik yang berunsurkan agama sampai saat sekarang ini. Tentunya, hal ini disebabkan adanya lokalitas pola kerukunan antar umat beragama yang diterapkan selama ini. Kerukunan pada hakikatnya mental, berupa kesadaran manusia yang paling dalam mewujud pada Kesadaran ini memiliki makna penting dalam relasi dengan sesama yang beragam, lingkungan yang kemudian terlihat dalam tingkah laku sosial dalam menjaga kesatuan. Adaptasi Lokalitas Sosiologis Generasi Z Generasi Z merupakan individu dengan karakter yang dinamis dalam menghadapi masa perubahan fisik, psikis, sosial maupun perkembangan Generasi ini dipandang sebagai cikal bakal sumber daya manusia dalam menggantikan generasi sebelumnya. Mengenal lokalitas sosiologis berbasis kebudayaan Melayu yang mendominasi di kota Batam akan memandu untuk fenomena-fenomena natural sejarah Melayu dengan nilai-nilai membangun kebersamaan, moral, keagamaan dan etika yang telah Kearifan lokal kota Batam disiarkan melalui pesan Audi mana bumi dipijak di situ langit dijunjungAy. Dengan demikian, perenungan dan kontemplasi, kabut eksistensi pengasingan yang menyelimuti generasi dapat disingkirkan dan wujud kerukunan akan dapat di jumpai di kota Batam. Kegunaan atau faidah praktis dari pengenalan lokalitas sosiologis Melayu adalah memberikan peluang kemudahan adaptasi kepada generasi Z untuk lebih familiar terhadap nilai-nilai kebudayaan daerah yang sudah ada. Hal ini akan banyak membantu dalam membangun kerukunan yang semakin Karenanya, dalam kebudayaan Melayu, tua-tua Melayu menegaskan, apapun wujud dan jenis ilmu yang dianut wajiblah ditapis atau disaring dahulu dengan ukuran akidah JURNAL TABGHA Volume 3 No. 1 April 2022 agama dan diserasikan pula dengan nilai-nilai luhur budaya dan norma-norma sosial yang dianut masyarakat. Dalam ukuran minimal, ilmu yang diambil adalah ilmu yang tidak membawa kerugian bagi kehidupan di dunia dan kehidupan setelah kematian (Efendy Pesan yang memetafora atau simbolis berisi wejangan, konseling maupun nasehat yang sangat berguna dan bersifat universal bagi masyarakat, yang bermakna bahwa telaga budi itulah yang akan menuntun manusia dan menjadi penerang bagi kegelapan hati dan penenang bagi jiwa dalam menjalani kehidupan. Hal ini semakin menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang memiliki keseimbangan antara pengetahuan dengan keimanan. Manusia yang memiliki keseimbangan ini lazim disebut manusia sempurna atau orang bertuah yang menjadi idaman setiap orang Melayu. Untuk mewujudkan manusia bertuah itu, orang Melayu mewariskan Tunjuk Ajar yang sarat berisi nilai-nilai luhur agama, budaya, dan norma-norma sosial (Efendy 2. Tunjuk Ajar Melayu diartikan sebagai segala petuah, amanah, suri teladan dan nasehat yang membawa manusia ke jalan yang lurus dan agar setiap orang menuntut ilmu pengetahuan sebanyak mungkin bersifat komprehensif, menyeluruh dan holistik, asal tidak menyalahi aturan agama dan nilai-nilai luhur yang telah mereka warisi secara turun temurun, yang berkahnya menyelamatkan manusia dalam kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat (Efendy 2. Dalam lokalitas sosiologis ada juga yang dikenal dengan istilah Gurindam Dua Belas yang sangat menyatu dan dikenal luas oleh masyarakat Melayu di kota Batam. Gurindam Dua Belas yang terkenal merupakan puisi lama berasal dari naskah lama yang merupakan mahakarya karya Raja Ali Haji, dibuat di Pulau Penyengat. Riau pada tanggal 23 Rajab 1263 Hijriyah atau 1847 Masehi. Gurindam tersebut, terdiri dari 12 fasal atau dikenal dengan gurindam dua belas (Damariswara 2. Gurindam Dua Belas penuh perkataan yang bersajak berciri khas tuntunan yang berisikan ajakan-ajakan nasehat dan petuah Seperti ajakan atau nasehat mengarungi kehidupan keberagaman di dunia (Rampan 2. P-ISSN 2722-6190 Mengarungi kehidupan di sini bukan hanya sekadar dalam menjalani hidup, namun juga sekaligus memahami aturan-aturan yang ada di dalamnya untuk mendapat berkah dari ilahi. Gurindam secara umum, dipahami sebagai dua baris perkataan yang menjadi peribahasa atau pepatah. Mengingat pesan yang dikandungnya berisi nasihat atau peringatan, maka dalam masyarakat Melayu, gurindam dua belas sering dianggap sejenis dengan kata mutiara. Selain itu. Gurindam Dua Belas juga berisi ajakan untuk belajar mengenai agama dan memelihara nilai keagamaan, berisi nasihat kehidupan baik dalam kebiasaan sehari-hari, bertata krama, dan sebagainya. Yang dimaksud belajar adalah mempelajari nilai-nilai mempraktikkannya ke dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapai memberi contoh teladan hidup dan dapat djadikan pedoman dalam menjalani Adapun isi Gurindam. Dua Belas pada pasal kelima sangat menyuarakan kerukunan dalam sesama anak bangsa dan bersama membangun kedamaian dalam beragam perbedaan agama. Demikianlah isinya : Jika hendak mengenal orang berbangsa Lihat kepada budi dan bahasa Jika hendak mengenal orang yang Sangat memeliharakan yang sia-sia Jika hendak mengenal orang mulia Lihatlah kepada kelakuan dia Jika hendak mengenal orang yang Bertanya dan belajar tiadalah jemu Jika hendak mengenal orang yang Di dalam dunia mengambil bekal Jika hendak mengenal orang yang baik Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai (Http://w. Dari nasehat Raja Ali Haji dalam JURNAL TABGHA Volume 3 No. 1 April 2022 Gurindam Dua Belas pasal lima ini, seluruh masyarakat bersyukur atas keberagaman dari suku bangsa pada masyarakat Indonesia, yang tidak hanya terbatas pada suku dan bahasa saja. Sebagai sebuah negara yang majemuk, keberagaman lainnya yang dimiliki Sebagaimana yang diketahui adat istiadat merupakan nilai moral dan aturan interaksi yang dimiliki dan dipercayai oleh suatu suku bangsa yang tidak dapat dicampur-adukkan dengan adat istiadat suku bangsa lainnya, namun harus wajib dipelajari dan di hidupi apabila bermukim di wilayah kebudayaan itu. Dengan demikian, kesadaran akan pentingnya lokalitas sosiologis keberagaman antar umat kebudayaan dan agama dan adanya struktur sosial yang adil atau baik dalam mengekspresikan keyakinan baik antar mewujudkan agama sebagai salah satu pengikat kerukunan dalam arti yang luas. Sebagai generasi muda, sewajarnya mengganggap sang, agar menghindari kebudayaan juga pergeseran dan perubahan nilai dan pola pikir akibat deranya arus Oleh karena itu, perlunya dengan intens mengupayakan serta merespon kegiatan upacara adat dan tradisi, menjadi potensi besar untuk mewariskannya pada generasi berikutnya. Dalam konteks membagun kerukunan antar umat beragama dari kearifan lokal merupakan kajian yang bermuara kepada pendekatan budaya yang diyakini dapat menjelaskan akar konflik yang terjadi dalam Perwujudan kerukunan dengan alternatif lokalitas sosiologis seperti ini walaupun tidak berbentuk kegiatan agama, namun bernilai religius, karena melalui pembauran budaya dan pergaulan antar umat beragama berlangsung dengan baik, berarti setiap generasi muda telah memelihara eksistensi agama masing-masing melalui pembelajaran budaya. Melebur kepada satu totalitas nilai kebersamaan dalam lokalitas sosiologis dengan menjadikan nilai-nilai moral, etika, nasehat Melayu yang ada itu menjadi pertimbangan sekaligus panduan dari totalitas kerukunan, namun juga dapat P-ISSN 2722-6190 mempertemukan, mengatur hubungan luar antara orang yang tidak seagama atau antar golongan umat beragama Kota Batam (Munawar 2. Safari Generasi Z Dalam membangun kerukunan antar umat beragama diperlukan prinsip-prinsip mencapai hasil yang diinginkan. Kerukunan yang berpegang pada keterbukaan komunikasi dan dialog dengan setiap golongan antar umat beragama akan memudahkan untuk saling berhubungan dalam membagikan identitas agama masing- masing untuk menemukan pengikat yang mempererat Penguatan identitas keagamaan dan penguatan identitas kebangsaan dapat melahirkan moderasi beragama dan bernegara. Setiap umat beragama memiliki perilaku dalam kehidupannya, baik itu terhadap Tuhannya, terhadap sesama manusia yang ditunjukkan pada bentuk interaksi yang intens. Terjadinya pemicu keretakan pada bingkai kehidupan antar umat beragama tidak jarang disebabkan rapuhnya bangunan budaya toleransi dan tidak menghargai eksistensi agama Sehingga, rasa hormat pada keragaman dan perbedaan ajaranajaran yang terdapat pada setiap agama dan kepercayaan yang ada baik yang diakui negara maupun belum diakui oleh negara akan sulit terwujud (Ruslani Tentunya, hal mendasar yang membangun budaya toleransi adalah berdamai pada realitas perbedaan, sehingga perbedaan yang terpublikasi tidak harus memunculkan pertikaian Kerentanan keretakan antar umat beragama dapat terjadi dengan cepatnya perubahan sosiologi yang meresap di segala celah kehidupan kaum muda. Pada diri manusia ada dorongan naluri untuk bergaul atau berinteraksi sesama JURNAL TABGHA Volume 3 No. 1 April 2022 manusia dorongan ini memang merupakan landasan biologis dari kehidupan masyarakat (Koentjaraningrat 1. Setiap kaum muda dalam generasi Z diberi peluang terlibat untuk menggali potensi kebersamaan dalam keberagaman iman, baik melalui media digitalisasi maupun peran aktif pada budaya lokal di Kota Batam. Urgensi safari antar generasi Z ini dilakukan secara optimal yang dititikberatkan kepada aktivitas bersama guna memicu kesadaran bahwa perlunya upaya untuk menjaga kondisi keberagaman tetap Misalnya melakukan gotong royong membersihkan rumah ibadah yang berbeda agama secara bergantian. Diharapkan munculnya kemandirian kaum muda dalam berkontribusi untuk kerukunan antar umat beragama yang bersifat lanjutan dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Safari generasi ini bukan hanya preferensi pilihan sebagai alat pemantau yang dapat memberikan petunjuk arah kerukunan. Pengalaman efektif yang dirasakan oleh kegiatan ini sendiri diharapkan dapat merangsang perhatian terhadap pemahaman yang berbeda dari sesamanya. Sehingga, ada upaya dinamis untuk menemukan pola yang nantinya akan digunakan sebagai orientasi dalam menempelkan sebuah objek berdiskusi dan bekerjasama. KESIMPULAN Seiring dengan berkembangnya iklim partisipatif, penguatan peran partisipasi sosiologis generasi Z bukanlah sekedar memberikan kesempatan bagi kaum muda berperan serta bagi kerukunan antar umat beragama di kota Batam, akan tetapi adalah bagaimana terus menempatkan interaksi dan dialog secara bertahap terlibat pada proses pengambilan keputusan dalam pertimbangan kegiatan bertemakan keagamaan. Mengakhiri keseluruhan uraian di atas tulisan ini mengetengahkan pandangan bahwa kita perlu memahami polarisasi pastisipasi sosiologis generasi Z Kristiani yang bisa berkembang dalam peningkatan kerukunan antar umat beragama di kota Batam yang menjadi faktor esensial dan signifikansi bagi minimnya konflik sosial yang luar biasa implikasinya dalam gelombang kecanggihan P-ISSN 2722-6190 digitalisasi dan teknologi media yang Adaptasi lokalitas sosiologis dan Safari Generasi Z dalam peningkatan kerukunan antar umat beragama di kota Batam memainkan fungsi yang relevan dalam melengkapi pada konteksnya masingmasing Pemikiran dan praktik pastisipasi sosiologis generasi Z Kristiani patut dikembangkan di luar ruang sekolah, gereja, hingga di ruang publik. DAFTAR PUSTAKA