28 ___ Hubungan Pengetahuan Dengan Tingkat Kecemasan. Muh. Arif Mansyur HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN KELUARGA PASIEN GANGGUAN JIWA DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN Oleh: Muh. Arif Mansyur STIKES YAPIKA Makassar ABSTRAK: Gangguan jiwa merupakan suatu penyakit yang disebabkan karena adanya kekacauan pikiran, persepsi dan tingkah laku di mana individu tidak mampu menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain, masyarakat dan lingkungan. Keluarga yang salah satu anggota keluarganya mengalami gangguan jiwa perlu mempunyai pengetahuan tentang gangguan jiwa. Oleh karena itu keluarga sering merasakan kecemasan dalam menghadapi anggota keluarganya yang menderita gangguan jiwa. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui Hubungan Pengetahuan Dengan Tingkat Kecemasan Keluarga Pasien Gangguan Jiwa. Instrumen dibuat dalam bentuk kuesioner dan dibagi dalam 2 bagian yaitu kuesioner untuk mengukur pengetahuan keluarga tentang gangguan jiwa dan kuesioner untuk mengukur tingkat kecemasan keluarga. Jumlah sampel yang diteliti sebanyak 40 keluarga pasiendengan menggunakan teknik accidental sampling. Berdasarkan hasil analisa data dengan menggunakan uji statistic Chi Square, diperoleh nilai dari FisherAos Exact Test yaitup=0,003 . <0,. ini berarti bahwa uji hipotesis H0 ditolak, dengan demikian dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang positif Pengetahuan dengan Tingkat Kecemasan Keluarga Pasien Gangguan Jiwa. Dapat disimpulkan bahwa perlu adanya peningkatan dan pengembangan asuhan keperawatan dalam pemberian pendidikan kesehatan kepada keluarga khususnya dalam keperawatan jiwa dan keperawatan komunitas. Kata kunci : Hubungan Pengetahuan Dengan Tingkat Kecemasan. PENDAHULUAN Berdasarkan data World Health Organization (WHO), masalah gangguan kesehatan jiwa di seluruh dunia sudah menjadi masalah yang sangat serius, dimana WHO memperkirakan ada sekitar 450 juta orang di dunia yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Juga WHO melaporkan bahwa 5-15% dari anak-anak 3-15 tahun mengalami gangguan jiwa yang persistent dan hubungan sosial itu merupakan masalah yang sangat penting ditanggulangi sedini mungkin (Iyus,2. Kasus gangguan jiwa menurut Depkes RI . , banyak terjadi pada penduduk yang berumur Ou 15 tahun yaitu sebesar 11,4%. Adapun kelompok yang rentan mengalami gangguan mental emosional adalah kelompok yang jenis kelamin perempuan . ,0%), kelompok yang tidak bersekolah . ,4% ), kelompok yang tidak bekerja . ,7%), dan yang tinggal di kota perkotaan . ,6%). Angka kelainan jiwa di Indonesia diperkirakan 1:3/1000 penduduk mengalami gangguan jiwa berat, sedangkan gangguan jiwa ringan berkisar antara 20-60/1000 Sementara itu survei epidemologi gangguan jiwa yang dilakukan di beberapa tempat di Indonesia didapat angka morbiditas gangguan jiwa yakni: prevalensi psikosa1, 44/1000 penduduk di perkotaan dan 4,6 per 1000 penduduk di pedesaan dan prevelansi neurosisadalah 98 per 1000 penduduk (Maramis, 2. Kecemasan adalah gejala yang tidak merupakan suatu emosiyang normal. Menurut Minister Supply And SeviceCanada, . mengungkapkan sebagian besar penyakit mental yang lain yang seringkali merasacemas dan resah adalah keluarga dekatnya,karenapenderita bahkan tidak mengetahui kalau dirinyasedang sakit. Kekambuhan setelahpesien kembali dari Rumah Sakit Jiwa ke keluarganya. Hal ini disebabkan karena keluarga tidak siap dan tidakmemiliki anggotakeluarga yang menderita gangguan jiwa (Martingsih. Pengetahuan keluarga mengenai kesehatan mental merupakan awal usaha dalam memberikan iklim yang kondusif bagi anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan mental. Keluarga selain dapat kesehatan mental anggota keluarga, juga dapat menjadi sumber problem bagi anggota keluarga yang mengalami persoalan kejiwaan keluarganya sebagai akibat minimnya pengetahuan keluarga tentang gangguan jiwa (Notosoedirdjo dan Latipun. Ada beberapa masalah yang teridentifikasi yang dialami oleh keluarga yaitu meningkatnya stress dan kecemasan . urangnya pengetahuan keluarg. dalam menerima sakit yang diderita oleh anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa dan pengaturan sejumlah waktu dan energi keluarga dalam menjaga serta merawat penderita gangguan jiwa dan keuangan yang akan dihabiskan pada penderita gangguan Metode dan Bahan Berdasarkan tujuan penelitian, rancangan penelitian ini menggunakan hubungan variabel yang satu dengan variabel yang lain. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan belah lintang (Cross Sectiona. , dimana variabel sebab dan variabel akibat . ariabel terikat dan beba. diukur dalam waktu yang bersamaan dan sesaat. Tempat dan Waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi (RSKD) Sulawesi Selatan. Alasan peneliti memilih Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Sulawesi Selatan sebagai tempat penelitian karena merupakan Rumah Sakit Jiwa Pusat di Makassar dan memiliki jumlah penderita gangguan jiwa dengan anggota keluarganya relatif banyak sehingga dapat memenuhi kriteria sampel yang di inginkan. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 05 Juni 2013 sampai dengan tanggal 05 juli 2013. Populasi dan Sampel Populasi Populasi adalah keseluruhan dari suatu variabel yang menyangkut masalah yang diteliti (Nursalam, 2. Pada penelitian ini populasinya adalah keluarga yang salah satu anggota keluarganya mengalami gangguan jiwa di Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Sampel Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan AusamplingAy tertentu untuk bisa memenuhi/mewakili populasi (Nursalam. Pada penelitian ini tekhnik sampling yang digunakan adalah Accidental Sampling yaitu cara pengambilan sampel dengan cara berlangsung di Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Sulawesi Selatan yang memenuhi kriteria sebagai berikut: Kriteria Inklusi Keluarga yang memiliki pasien gangguan jiwa Keluarga yang bersedia menjadi . Berada di tempat pada saat penelitian Kriteria Eksklusi Jurnal Mitrasehat. Volume Vi Nomor 1. Mei 2018 ISSN 2089-2551 30 ___ Hubungan Pengetahuan Dengan Tingkat Kecemasan. Keluarga yang tidak bersedia menjadi . Tidak berada di tempat pada saat Instrumen Penelitian Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa pertanyaan yang mengacu pada kerangka Kuesioner terdiri dari 3 bagian yaitu data demografi yang berisi identitas keluarga penderita gangguan jiwa, kuesioner pengetahuan disusun oleh peneliti sendiri berdasarkan tinjauan pustaka, serta kuesioner kecemasan. Kuesioner Data Demografi Kuesioner data demografi responden meliputi usia, jenis kelamin, agama, pendidikan, dan pekerjaan. Data demografi responden tidak akan dianalisis hanya untuk mengetahui karateristik responden. Kuesioner Pengetahuan Untuk menggunakan Skala Guttman dengan jumlah pernyataan 20 item. Untuk setiap jawaban AuYaAy diberi skor 1 dan jawaban AuTidakAy diberi Skala pengukuran yang digunakan adalah skala ordinal. Kuesioner Kecemasan Kuesioner Kecemasan merupakan kuesioner yang berisikan bagaimana gambaran kecemasan keluarga penderita gangguan jiwa. Kuesioner ini menggunakan alat ukur Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Skala pengukuran yang digunakan adalah skala ordinal. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Karateristik Keluarga Pasien Dari tabel 1 menunjukkan bahwa dari 40 responden didapatkan 8 keluarga pasien dengan AuUsia 20-25 tahunAy . ,0%), 17 keluarga pasien dengan AuUsia 26-30 tahunAy . ,5%), dan 15 keluarga pasien dengan AuUsia 31-35 tahunAy . ,0%). Jadi sebagian besar keluarga pasien AuBerusia 2630 tahunAy . ,5%). Muh. Arif Mansyur Dari tabel 2 menunjukkan bahwa dari 40 keluarga pasien didapatkan 22 keluarga pasien dengan jenis kelamin AuLakiLakiAy . ,0%), dan 18 keluarga pasien dengan jenis kelamin AuPerempuanAy . ,0%). Jadi sebagian besar keluarga pasien berjenis kelamin AuLaki-LakiAy . ,0%). Dari tabel 3 menunjukkan bahwa dari 40 keluarga pasien didapatkan 33 keluarga pasien beragama AuIslamAy . ,5%), dan 7 keluarga pasien dengan beragama AuKristenAy . ,5%). Jadi sebagian besar keluarga pasien beragama AuIslamAy . ,5%). Dari tabel 4 menunjukkan bahwa dari 40 keluarga pasien didapatkan 6 keluarga pasien dengan AuPendidikan SDAy . ,0%), 10 keluarga pasien dengan AuPendidikan SLTPAy . ,0%), 16 keluarga pasien dengan AuPendidikan SMAAy . ,0%), dan 9 keluarga pasien dengan AuPendidikan Perguruan TinggiAy . ,5%). Jadi sebagian besar keluarga pasien memiliki jenjang AuPendidikan SMAAy . ,0%). Dari tabel 5 menunjukkan bahwa dari 40 keluarga pasien didapatkan 8 keluarga pasien sebagai AuPNSAy . ,0%), 16 keluarga pasien sebagai AuPegawai SwastaAy . ,0%), dan 16 keluarga pasien sebagai AuWiraswastaAy . ,0%). Jadi sebagian besar keluarga pasien memiliki pekerjaan sebagai AuPegawai SwastaAy dan AuWiraswastaAy . ,0%). Hasil Analisa Univariat Dari tabel 6 menunjukkan bahwa dari 40 keluarga pasien didapatkan 25 keluarga pasien dengan AuPengetahuan BaikAy . ,5%), dan 15 keluarga pasien dengan AuPengetahuan KurangAy . ,5%). Jadi sebagian besar keluarga pasien memiliki AuPengetahun BaikAy . ,5%). Dari tabel 7 menunjukkan bahwa tidak terdapat keluarga pasien dengan kategori AuTidak Ada KecemasanAy dan AuKecemasan BeratAy, akan tetapi dari 40 keluarga pasien yang diteliti didapatkan 21 . ,5%) keluarga pasien yang mengalami AuKecemasan RinganAy, kemudian 19 keluarga pasien yang mengalami AuKecemasan PEMBAHASAN Hubungan Pengetahuan Dengan Tingkat Kecemasan Keluarga Pasien Gangguan Jiwa di Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Dari hasil analisa Univariat pada pengetahuan, menunjukkan bahwa dari 40 keluarga pasien ada 25 keluarga pasien yang memiliki AuPengetahuan BaikAy dan 15 keluarga pasien yang memiliki AuPengetahuan KurangAy. Sedangkan kecemasan menunjukkan bahwa dari 40 keluarga pasien didapatkan 21 keluarga pasien mengalami AuKecemasan RinganAy , 19 AuKecemasan SedangAy dan tidak didapatkan keluarga pasien dengan kategori AuTidak Ada Kecemasan dan AuKecemasan BeratAy. Dari Analisa Bivariat menunjukkan bahwa dari 40 keluarga pasien ada 25 keluarga pasien memiliki AuPengetahuan BaikAy, yang mengalami AyKecemasan RinganAy sebanyak 18 orang . ,0%), kemudian yang mengalami AuKecemasan SedangAy sebanyak 7 orang . ,0%), serta 15 keluarga pasien memiliki AuPengetahuan KurangAy, yang mengalami AuKecemasan RinganAy sebanyak 3 orang . ,0%) dan yang mengalami AuKecemasan SedangAy sebanyak 12 orang . ,0%). Sesuai hasil analisa data dengan menggunakan uji statistic Chi Squere, diperoleh nilai dari FisherAos Exact Test yaitu p=0,003 . <0,. Ini berarti bahwa uji hipotesis H0 ditolak, dengan demikian dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara Pengetahuan dengan Tingkat Kecemasan Keluarga Pasien Gangguan Jiwa di RSKD Prov. Sul-Sel. Odd ratio menunjukkan bahwa responden dengan Pengetahuan Baik 10,286 kali mengalami Kecemasan Ringan dibandingkan dengan Pengetahuan Kurang. Hasil penelitian ini juga didukung oleh Laharti . dengan judul AuHubungan Tingkat Pengetahuan dengan Tingkat Kecemasan Orang Tua Terhadap Persiapan Operasi Anak Umur 0-12 Tahun di Rs Prikasih. Jakarta SelatanAy. Hasil penelitian dari 35 responden, sebanyak 13 responden yang memiliki pengetahuan yang rendah, 2 responden . ,4%) memiliki tingkat kecemasan rendah dan sebanyak 11 responden . ,6%) memiliki tingkat kecemasan tinggi. Sedangkan dari 22 responden yang memiliki pengetahuan tinggi 17 . ,3%) memiliki tingkat kecemasan rendah dan sebanyak 5 . ,7%) responden memiliki tingkat kecemasan tinggi. Hasil uji statistic Chi Square didapatkan P value sebesar 0,001 berarti P value < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat Jurnal Mitrasehat. Volume Vi Nomor 1. Mei 2018 ISSN 2089-2551 SedangAy . , . Jadi sebagian besar keluarga pasien mengalami AuKecemasan RinganAy . ,5%). Hasil Analisa Bivariat Hasil Analisa Bivariat menunjukkan bahwa 25 keluarga pasien memiliki AuPengetahuan BaikAy, yang mengalami AyKecemasan RinganAy sebanyak 18 orang . ,0%), kemudian yang mengalami AuKecemasan SedangAy sebanyak 7 orang . ,0%), serta 15 keluarga pasien memiliki AuPengetahuan KurangAy, yang mengalami AuKecemasan RinganAy sebanyak 3 orang . ,0%) dan yang mengalami AuKecemasan SedangAy sebanyak 12 orang . ,0%). Dari 21 . ,5%) keluarga pasien memiliki AuTingkat Kecemasan RinganAy, berasal dari keluarga pasien dengan tingkat pengetahuan baik. Sesuai hasil analisa data dengan menggunakan uji statistic Chi Square, diperoleh nilai dari FisherAos Exact Test yaitu p=0,003 . <0,. ini berarti bahwa uji hipotesis H0 ditolak, dengan demikian dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang positif Pengetahuan dengan Tingkat Kecemasan Keluarga Pasien Gangguan Jiwa di RSKD Prov. Sul-Sel. Odd ratio menunjukkan bahwa responden dengan Pengetahuan Baik 10,286 kali mengalami Kecemasan Ringan dibandingkan dengan Pengetahuan Kurang. 32 ___ Hubungan Pengetahuan Dengan Tingkat Kecemasan. pengetahuan dengan tingkat kecemasan orang tua di Rs. Prikasih. Jakarta Selatan. Pengetahuan keluarga mengenai kesehatan mental merupakan awal usaha dalam memberikan iklim yang kondusif bagi anggota keluarganya. Keluarga selain dapat kesehatan mental anggota keluarganya, juga dapat menjadi sumber masalah bagi anggota keluarga yang mengalami ketidakstabilan pengetahuan mengenai persoalan kejiwaan keluarganya (Notosoedirdjo & Latipun, 2. Pengetahuan yang baik dapat dipengaruhi dari tingkat pendidikan keluarga pasien yang sebagian besar adalah SMA. Tingkat pendidikan keluarga pasien merupakan salah satu faktor yang pengetahuan karena dengan pendidikan yang baik maka keluarga pasien dapat menerima segala informasi terutama tentang gangguan jiwa. Dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik dari orang lain maupun dari media massa, semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang didapat terutama tentang Ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo . , terkait dengan pendidikan, secara umum, seseorang yang berpendidikan tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan pendidikannya lebih rendah. Pendidikan memotivasi seseorang untuk menerima informasi kesehatan dan berbuat sesuai dengan informasi tersebut agar mereka menjadi lebih tahu dan sehat. Dari hasil data didapatkan paling banyak keluarga pasien mengalami AuKecemasan RinganAy. Dimana Kecemasan Ringan menurut Dalami dkk . yaitu berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa kehidupan sehari-hari. Pada tingkat ini lapangan persepsi melebar dan individu akan berhati-hati dan waspada. Individu Muh. Arif Mansyur terdorong untuk belajar yang akan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas. Kecemasan yang dialami keluarga dapat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, dimana tingkat pendidikan rendah akan menyebabkan seseorang mudah mengalami kecemasan karena memiliki pengetahuan yang kurang terutama tentang kesehatan khususnya kesehatan jiwa. Informasi juga dibutuhkan keluarga dari petugas kesehatan mengenai gangguan jiwa, informasi yang diberikan dapat menggunakan metode pendidikan kesehatan, khususnya pemberian pengetahuan tentang gangguan jiwa, tanda dan gejala serta peran dan tugas keluarga dalam merawat keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Kehadiran penyakit gangguan jiwa dalam keluarga merupakan stressor yang sangat berat bagi keluarga yang harus ditanggung oleh keluarga, dimana seluruh anggota dalam keluarga terhubung satu sama lain dan akan terkena dampak yang besar. Keluarga yang tidak psikologis dapat mempengaruhi kecemasan keluarga karena tidak membantunya dalam memaknai peristiwa serta menghadapi kenyataan. Bahkan tidak sedikit keluarga yang sama sekali tidak mengetahui rencana apa yang harus mereka lakukan untuk menghadapi masalah gangguan jiwa salah satu anggota Kecemasan akan semakin meningkat tanpa pemahaman yang jernih mengenai masalah besar yang dihadapi Terkadang masalah ini tidak dapat dihadapi dan semakin membuat konflik di dalam keluarga sehingga sering terjadi penolakan terhadap penderita gangguan Berdasarkan penelitian dari badan National Mental Health Association/ NMHA . dikutip dalam M. Simatupang . , diperoleh bahwa banyak ketidakmengertian menganggap bahwa seseorang yang mengalami gangguan jiwa tidak akan pernah sembuh kembali. Namun faktanya. NMHA mengemukakan bahwa orang yang mengalami gangguan jiwa dapat sembuh dan dapat mulai kembali melakukan Tanpa adanya pemahaman yang jernih mengenai masalah gangguan jiwa yang dihadapi keluarga akan dapat menimbulkan kecemasan dan hal ini didukung oleh adanya penelitian yang dilakukan oleh Brown & Bradley . pada keluarga yang memiliki anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa dan didapatkan bahwa kecemasan keluarga akan semakin meningkat tanpa pengetahuan yang baik mengenai masalah gangguan jiwa yang dihadapi keluarga. Dari didapatkan, maka peneliti berasumsi bahwa semakin baik pengetahuan keluarga pasien maka semakin rendah tingkat kecemasan yang dialami, karena sebagian besar keluarga pasien memiliki pengetahuan baik dan paling banyak mengalami kecemasan ringan, dimana pengetahuan baik yang dimiliki keluarga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang sebagian besar memiliki tingkat pendidikan SMA. Dengan pendidikan yang baik maka keluarga pasien dapat dengan mudah menerima informasi, terutama tentang informasi kesehatan khususya kesehatan jiwa. Kecemasan yang dialami keluarga pasien dapat dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan keluarga tentang gangguan jiwa, tanda dan gejala serta peran dan tugas keluarga dalam merawat keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Jadi dibutuhkan peran dan serta petugas kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan keluarga pasien sehingga bisa mengurangi kecemasan keluarga pasien melalui penyuluhan kesehatan tentang kesehatan jiwa. KESIMPULAN Ada Hubungan Pengetahuan Dengan Tingkat Kecemasan Keluarga Pasien Gangguan Jiwa Di Rumah Sakit Khusus Daerah Privinsi Sulawesi SelatanAy. Jurnal Mitrasehat. Volume Vi Nomor 1. Mei 2018 SARAN Bagi Profesi Keperawatan Dalam keperawatan kepada anggota keluarga yang salah satu anggota keluarganya mengalami gangguan jiwa, hendaknya perawat memperhatikan masalah pengetahuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa dengan memberikan pendidikan kesehatan yang dapat dimengerti oleh keluarga. Perawat juga komprehensif faktorAefaktor dominan yang mendukung timbulnya kecemasan keluarga dalam menghadapi anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Bagi Instansi Terkait Pada seluruh unsur tenaga kesehatan khususnya bagian perawatan kejiwaan dan komunitas yang ada di Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Sulawesi Selatan diharapkan peningkatan dan pengembangan asuhan keperawatan dalam pemberian pendidikan kesehatan khususnya dalam Keperawatan Jiwa dan Keperawatan Komunitas. Bagi Masyarakat Pengetahuan tentang gangguan jiwa pada keluarga pasien yang termasuk kriteria baik perlu untuk dipertahankan sedangkan untuk pengetahuan yang termasuk kategori kurang perlu untuk menambah pengetahuan dan dapat mengetahui permasalahan yang ditimbulkan akibat gangguan jiwa. Bagi Peneliti Perlu meningkatkan kemampuan dan pengetahuan tentang gangguan jiwa yang ditimbulkan apabila mengabaikan informasi-informasi tentang kesehatan jiwa dalam hal ini gangguan jiwa serta perlu mendapatkan perbaikan dan melakukan penelitian lebih lanjut agar lebih sempurna. DAFTAR PUSTAKA