Al-Liqo: JURNAL PENDIDIKAN ISLAM P-ISSN: 2461-033X | E-ISSN: 2715-4556 Model Pengembangan Pendidikan Karakter Religius Berbasis Tarbiyah: Studi Kasus Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Intan Sari. Mahbub Djunaidi. Lailatul Maghfiroh. Email: intantn009@gmail. com1, mahbubjunaidi@unisda. id2, l_vrah1187@yahoo. 1,2,. Universitas Islam Darul `Ulum Lamongan. Jawa Timur. Indonesia Abstract This study develops a model of religious character education for students of Islamic Religious Education Universitas Islam Darul Ulum Lamongan. Using a grounded theory approach, this model was constructed through qualitative data analysis from 50 students in semesters 4 and 6. Data was collected through an open survey and analyzed by open coding, axial coding, and selective coding. The results identified eight key elements in the Tarbiyah model: Example. Worship Activities. SelfReflection. Social Development. Value Integration. Belief & Love of Kindness. Real Action, and Habituation. The example of lecturers, campus religious activities, and self-reflection are the main supporting factors in the formation of religious character. The influence of social media and promiscuity is a major challenge. The TARBIYAH model is relevant to foster the religious character of Generation Z students who are multitasking but prone to disorientation of values. Keywords: Religious Character. PAI Students. Grounded Theory. Tarbiyah Model Abstrak Penelitian ini mengembangkan model pendidikan karakter religius mahasiswa Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Darul Ulum Lamongan. Menggunakan pendekatan grounded theory, yang dikonstruksi melalui analisis data kualitatif dari 50 mahasiswa semester 4 dan 6. Data dikumpulkan melalui survei terbuka dan dianalisis dengan open coding, axial coding, dan selective coding. Hasilnya mengidentifikasi delapan elemen kunci dalam model Tarbiyah: Teladan. Aktivitas Ibadah. Refleksi Diri. Bina Sosial. Integrasi Nilai. Yakin & Cintai Kebaikan. Aksi Nyata, dan Habituasi. Keteladanan dosen, kegiatan keagamaan kampus, serta refleksi diri menjadi faktor pendukung utama pembentukan karakter religius. Pengaruh media sosial dan pergaulan bebas menjadi tantangan Model TARBIYAH ini relevan untuk membina karakter religius mahasiswa generasi Z yang multitasking namun rentan disorientasi nilai. Kata Kunci: Karakter Religius. Mahasiswa PAI. Grounded Theory. Model Tarbiyah Cara Mensitasi Artikel: Sari. Djunaidi. , & Maghfiroh. Model pengembangan pendidikan karakter religius berbasis tarbiyah: Studi kasus mahasiswa program studi pendidikan agama Islam. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam, 10. , 1-18. https://doi. org/10. 46963/alliqo. *Corresponding Author: nmaftukhatun211@gmail. Histori Artikel: Diterima Direvisi Diterbitkan Editorial Address: Kampus Parit Enam. STAI Auliaurrasyidin Tembilahan. Jl. Gerilya No. Tembilahan Barat. Riau Indonesia 29213. : 02/06/2025 : 12/06/2025 : 30/06/2025 DOI: https://doi. org/10. 46963/alliqo. PENDAHULUAN Pendidikan adalah usaha kebudayaan yang bertujuan memberikan bimbingan dalam tumbuh kembang jiwa raga tiap individu (Suparlan H, 2015: . Pendidikan AAuthors . Licensed under (CC-BY-SA) Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Intan Sari. Mahbub Djunaidi. Lailatul Maghfiroh Model Pengembangan Pendidikan Karakter Religius Berbasis Tarbiyah: Studi Kasus Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam juga diartikan sebagai seluruh pengetahuan yang terjadi sepanjang hayat dalam semua tempat serta situasi yang memberikan pengaruh positif (Zaini dkk, 2024: . , (Assa dkk, 2022: . Adapun tujuan dari pendidikan yaitu menciptakan manusia yang berakhlak mulia, cerdas, mampu berkarya, berkepribadian, berbudaya dan bermasyarakat yang berimplikasi bahwa dalam pengembangan potensi peserta didik melihat dimensi keberagaman, moralitas, sosialitas dan kebudayaan secara menyeluruh (Ulfa. , & Hamami. 2020: . Oleh karena itu mahasiswa diharapkan memiliki kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual yang kuat agar karakter positif mahasiswa dapat berkembang secara seimbang. Di Indonesia, karakter yang harus ditanamkan oleh pendidik kepada peserta didik berjumlah delapan belas, yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Dalam penelitian ini peneliti akan berfokus pada penanaman karakter religius, sebab itulah maka diperlukan pendekatan yang holistik, salah satunya melalui pendidikan karakter religius. Karakter religius tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses berulang hingga menjadi kebiasaan yang mendarah daging. Keberhasilan belajar dapat dilihat dari perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman belajarnya (Dirgantara & Iswan, 2019: . Hasil belajar dalam konteks ini adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajarmengajar yang sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Hal tersebut harus dikuasai oleh mahasiswa, khususnya program studi pendidikan agama Islam sebab ia akan dicetak menjadi seorang pendidik. Melalui pendidikan karakter religius, mahasiswa dibimbing untuk menjadi individu yang berakhlak mulia, yang mampu menghadapi tantangan modernitas dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip keimanan. Pendidikan karakter tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan agama mahasiswa, tetapi juga untuk membentuk sikap dan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam. Pendidikan karakter religius memegang peran dalam membentuk mahasiswa yang berkembang Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Intan Sari. Mahbub Djunaidi. Lailatul Maghfiroh Model Pengembangan Pendidikan Karakter Religius Berbasis Tarbiyah: Studi Kasus Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam menciptakan mahasiwa ber-intelektualitas emosionalitas stabil, dan adanya spiritualitas dalam dirinya. Pendidikan karakter religius juga berperan penting dalam mendorong semangat kebangsaan dan kepedulian sosial. Sebab pendidikan mempunyai peranan-peran penting dalam mewujudkan cita-cita pembangunan nasional agar generasi muda tidak kehilangan identitas ditengah arus globalisasi (Homaedi dkk, 2022:. , (Fadhila dkk, 2024: . Dengan adanya pendidikan karakter yang terintegrasi dalam sistem pendidikan yang diharapkan mampu membentuk mahasiswa islam yang tidak hanya cerdas dalam intelektual tapi juga memiliki integritas moral yang tinggi, salah satu pendekatannya melalui pendidikan agama. Pendidikan agama diharapkan mampu menghasilkan pribadi yang selalu berupaya menyempurnakan iman, takwa, dan akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan. Mempelajari pendidikan agama juga memeliki fungsi menjamin keselamatan hidup manusia di dunia dan akhirat, selama ia beriman dan senantiasa menjalankan ajaran, ketentuan agama secara konsisten dan penuh kesadaran (Salsabila, 2022: . Agar dapat mencapai tujuan akhir pendidikan agama Islam, maka suatu permasalahan pokok yang sangat perlu mendapat perhatian adalah penyusunan rancangan program pendidikan yang dijabarkan dalam kurikulum sesuai dengan Undang-Undang SISDIKNAS No. Tahun 2003 pasal 1 ayat 23 (Rizki, 2024: . Kegiatan dan pengalaman pendidikan agama dirancang dan diselenggarakan baik didalam maupun diluar kampus dengan maksud untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Berpedoman ruang lingkup pendidikan Islam yang ingin dicapai, maka kurikulum pendidikan Islam itu berorientasi kepada tiga hal, yaitu Tercapainya tujuan hablum minallah . ubungan dengan Allah SWT) Tercapainya tujuan hablum minannas . ubungan dengan manusi. Tercapainya tujuan hablum minal" alam . ubungan dengan ala. (Abdul Muid, 2021: . Dalam penelitian (Saputra, 2024: . menyatakan pendidikan religius di Perguruan Tinggi tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi juga diterapkan melalui pembiasaan nilai-nilai Islami dalam kegiatan sehari-hari mahasiswa. Dalam penelitian lain (Siti Muhibah, 2020: . menunjukkan bahwa pendidikan karakter Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2021 Intan Sari. Mahbub Djunaidi. Lailatul Maghfiroh Model Pengembangan Pendidikan Karakter Religius Berbasis Tarbiyah: Studi Kasus Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam juga diintegrasikan dalam aktivitas kemahasiswaan seperti diskusi, keteladanan, dan kedisiplinan. Sesuai dengan pendapat lain (Achmad Karunia Al-Kaafi, 2020: yakni menegaskan pentingnya lingkungan religius, keteladanan, dan kegiatan seperti halaqoh diniyah dalam menanamkan nilai moral dan spiritual, membentuk mahasiswa yang jujur, toleran, serta siap berkontribusi positif di masyarakat. Hasil penelitian serupa oleh (Amriani, 2021: . menyoroti peran metode religius Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dalam membentuk pribadi muslim ideal melalui pendekatan holistik. Berdasarkan hasil keempat penelitian tentang penerapan pendidikan karakter religius, peneliti sebelumnya telah berupaya mengembangkan karakter religius mahasiswa melalui pendekatan akademik dan non-akademik. Namun, pendekatan yang digunakan masih terkesan parsial dan belum sepenuhnya mengintegrasikan kedua aspek tersebut secara menyeluruh. Pendidikan karakter cenderung dilaksanakan secara paralel antara ruang kelas dan aktivitas di luar kelas, tanpa model yang menggabungkan keduanya dalam satu sistem pembelajaran yang utuh. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk mengembangkan model pendidikan karakter religius yang lebih komprehensif dan holistik. Permasalahan utama dalam penelitian ini dapat disimpulkan belum adanya model pendidikan karakter religius yang terintegrasi secara utuh di lingkungan mahasiswa pendidikan agama Islam. Hal ini menjadi gap penelitian yang perlu dijawab, mengingat pentingnya pembentukan karakter religius sebagai fondasi kepribadian mahasiswa pendidikan agama Islam. Dengan demikian, penelitian ini penting dilakukan untuk mengembangkan model pendidikan karakter religius yang holistik dan terintegrasi, yang tidak hanya menyentuh aspek pengetahuan agama, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai religius dalam perilaku keseharian Penelitian ini juga sejalan dengan visi dan misi Universitas Islam Darul Ulum Lamongan dalam mencetak lulusan yang islami dan berkontribusi positif bagi masyarakat untuk kedepannya. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Grounded Theory yang berangkat dari data lapangan dan berkembang secara induktif hingga Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Intan Sari. Mahbub Djunaidi. Lailatul Maghfiroh Model Pengembangan Pendidikan Karakter Religius Berbasis Tarbiyah: Studi Kasus Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam mencapai titik jenuh. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan pengembangan teori secara induktif berdasarkan data yang dikumpulkan dari lapangan, sehingga menghasilkan teori yang berakar pada data empiris. Hal ini relevan untuk memahami secara mendalam pengembangan karakter religius mahasiswa berdasarkan model tarbiyah. Proses analisis data dilakukan secara interatif dan sistematis, dimulai dari open coding, axial coding, hingga selective coding untuk membangun teori yang utuh dan koheren. Open coding dilakukan untuk mengidentifikasi konsep awal dari Axial coding mengelompokkan kode ke dalam kategori tematik. Selective coding mengintegrasikan kategori untuk membangun teori yang utuh. Penelitian ini dilakukan di Universitas Islam Darul `Ulum (UNISDA) Lamongan. Jawa Timur, berfokus pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam. Pengumpulan data dilakukan selama 3 bulan yakni pada bulan AprilJuni 2025. Subjek penelitian terdiri dari 50 mahasiswa PAI UNISDA Lamongan, terdiri dari 25 mahasiswa semester 4 dan 25 mahasiswa semester 6. Sampel dipilih mempertimbangkan keragaman karakteristik dan perspektif yang terungkap dari survei daring. Survei daring disebarluaskan kepada seluruh subjek penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik triangulasi: survei daring menggunakan Google Formulir, wawancara mendalam semi-terstruktur, dan analisis dokumen. Survei daring menggunakan pertanyaan terbuka untuk menggali pemahaman mahasiswa tentang karakter religius berdasarkan model tarbiyah. Wawancara mendalam dilakukan untuk menggali pemahaman yang lebih dalam. Analisis dokumen meliputi macam kegiatan keagamaan kampus. Validitas dan reliabilitas penelitian dijamin melalui triangulasi data dari tiga sumber . urvei daring, wawancara mendalam, dan analisis dokume. , serta melalui proses analisis data yang interaktif dan sistematis. Member check dan refleksi diri juga dilakukan untuk memastikan keakuratan interpretasi data dan untuk meminimalkan bias dan memastikan konsistensi interpretasi. Model tarbiyah digunakan sebagai kerangka awal, namun tetap fleksibel dan disesuaikan berdasarkan temuan di lapangan. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2021 Intan Sari. Mahbub Djunaidi. Lailatul Maghfiroh Model Pengembangan Pendidikan Karakter Religius Berbasis Tarbiyah: Studi Kasus Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian berdasarkan Tema-tema Utama: Teladan Hasil penelitian menunjukkan bahwa keteladanan menjadi faktor dominan dalam pembentukan karakter mahasiswa di lingkungan kampus. Hampir seluruh responden sepakat bahwa figur-figur seperti dosen dan pembina yang menunjukkan perilaku religius, disiplin, dan penuh integritas memberikan pengaruh besar terhadap sikap dan perilaku mereka. Sosok-sosok tersebut tidak hanya mengajarkan nilai secara teoritis, tetapi juga mencontohkan secara nyata dalam keseharian. Sebagaimana diungkapkan oleh Responden 4. AuPak Mahbub itu nyantai tapi tegas, suka memberi nasihat dan istiqomah dalam ibadahAy. Adapun ungkapn dari Responden 3 "Bapak Ali Musyafa, sikap rendah hati dan selalu teladan waktu mengajar. Keteladanan atau uswah hasanah merupakan metode pendidikan karakter yang sangat efektif karena proses internalisasi nilai terjadi melalui pengamatan dan peniruan perilaku nyata. Keteladanan sebagai metode pendidikan karakter dapat digunakan untuk mengidentifikasi faktor penyebab baik-buruknya karakter seseorang . Dengan demikian, keteladanan dapat menjadi salah satu metode yang efektif dalam pendidikan karakter, tetapi perlu dikombinasikan dengan analisis yang lebih mendalam untuk mengidentifikasi penyebab baik buruknya karakter seseorang. Penelitian ini juga menemukan bahwa aktivitas ibadah berjamaah, kajian keagamaan, tadarus, dan dzikir menjadi sarana efektif dalam membentuk spiritualitas mahasiswa. Kegiatan kolektif semacam ini menciptakan lingkungan yang kondusif untuk menumbuhkan kesadaran religius dan pengendalian diri. Responden 11 menyampaikan. AuDengan ikut kajian dan sholat berjamaah, saya merasa lebih tenang dan sadar pentingnya menjaga akhlak. Ay Didukung oleh pendapat lain "Kegiatan ini membantu saya dalam meningkatkan iman dan taqwa, serta membentuk karakter saya menjadi lebih baikAy (Responden . Adapun yang menyatakan AuDengan adanya kajian bersama kita lebih sering Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Intan Sari. Mahbub Djunaidi. Lailatul Maghfiroh Model Pengembangan Pendidikan Karakter Religius Berbasis Tarbiyah: Studi Kasus Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam mengingat dan menerapkan nilai-nilai agama. Ay (Responden . "Karena dapat meningkatkan kesadaran dan meningkatkan nilai-nilai agama. Ay (Responden . Refleksi Diri (Muhasaba. Refleksi atau muhasabah menjadi tema penting yang diungkapkan para responden sebagai bagian dari proses pembentukan karakter. Praktik ini dilakukan secara rutin, terutama sebelum tidur, untuk mengevaluasi diri terkait sikap, perilaku, dan interaksi sosial sepanjang hari. (Responden . AuSaya mengevaluasi diri malam hari. Apa hari ini sudah baik atau belum, apakah saya menyakiti orang lain. Ay Sedangkan responden lain menyatakan AuSaya biasanya kalau mengevaluasi diri dengan cara merenung dengan berpikir hal apa saja yang saya lakukan pada hari itu, kalau ada kesalahan berarti hari berikutnya jangan seperti itu. Ay (Responden . Refleksi diri merupakan proses penting dalam internalisasi nilai karena mendorong individu untuk secara sadar mengevaluasi pengalaman dan memperbaiki diri. Bina Sosial Aktivitas sosial seperti bakti sosial, pengabdian masyarakat, dan kolaborasi dalam organisasi mahasiswa terbukti menjadi media efektif untuk melatih empati, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. (Responden . AuKegiatan sosial membuat saya sadar kita tidak bisa hidup sendiri. Ay Responden lain juga ber-argumen hal yang sama AuTerlibat dalam kegiatan sosial seperti bakti sosial membantu meningkatkan empati dan kepedulian terhadap masyarakat, serta membangun karakter yang peduli dan bertanggung jawab. Ay (Responden . Integrasi Nilai Mayoritas mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam mata kuliah umum. Hal ini dinilai efektif karena membantu mahasiswa memahami bahwa ajaran Islam relevan dalam berbagai aspek kehidupan, tidak terbatas pada mata kuliah agama. Seperti disampaikan oleh Responden 14. AuEfektif. Dosen menjelaskan materi dengan contoh keislaman. Ay Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2021 Intan Sari. Mahbub Djunaidi. Lailatul Maghfiroh Model Pengembangan Pendidikan Karakter Religius Berbasis Tarbiyah: Studi Kasus Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Integrasi nilai dalam proses pembelajaran lintas disiplin memperkuat pemahaman holistik tentang karakter, karena mahasiswa mampu mengaitkan konsep akademis dengan nilai-nilai moral dan spiritual. Dengan integrasi nilai dalam proses pembelajaran lintas disiplin, mahasiswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang karakter dan bagaimana mengaplikasikan nilai-nilai moral dan spritual dalam kehidupan sehari-hari. Yakini dan Cintai Kebaikan Temuan penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya memahami konsep kebaikan, tetapi juga mencintai dan meyakini nilai tersebut sebagai bagian dari identitas diri. Nilai seperti kejujuran, rendah hati, dan rasa syukur menjadi prinsip yang dipegang teguh dan diupayakan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut hasil survey AuNilai-nilai tersebut sangat penting untuk membangun karakter yang baik, meningkatkan kualitas hidup, dan menciptakan masyarakat yang lebih baik. Ay (Responden . Didukung oleh pendapat lain AuNilai-nilai tersebut penting banget bagi kita karena hal tersebut bisa melatih kita untuk bersikap jujur, tanggung jawab dll. Ay (Responden . Pembentukan karakter yang efektif melibatkan dimensi afektif, yaitu saat individu tidak hanya mengetahui dan melakukan kebaikan, tetapi juga mencintai dan merasa bangga dengan nilai tersebut, sehingga membentuk motivasi intrinsik untuk terus mengawalnya. Dengan menerapkan prinsip Auyakini dan cintai kebaikanAy, mahasiswa dapat menciptakan lingkungan yang lebih positif dan mendukung, serta meningkatkan kualitas hidup mahasiswa itu sendiri dan orang lain. Aksi Nyata Sebagian responden menekankan pentingnya mewujudkan nilai religius dalam bentuk tindakan nyata, baik dalam lingkungan kampus, organisasi, maupun masyarakat. Mereka memandang bahwa karakter sejati tidak cukup hanya dipahami, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku seharihari. Responden 17 menegaskan. AuBerbuat baik itu bukan cuma niat, tapi tindakan nyata, sekecil Ay Pembentukan karakter sejati hanya bisa dicapai melalui praktik langsung dalam aktivitas sosial dan profesional Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Intan Sari. Mahbub Djunaidi. Lailatul Maghfiroh Model Pengembangan Pendidikan Karakter Religius Berbasis Tarbiyah: Studi Kasus Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Habituasi Habituasi menurut responden menyebut bahwa nilai-nilai religius seperti menjaga lisan, berkata baik, dan menolong sesama telah menjadi kebiasaan yang tertanam dalam kehidupan sehari-hari termasuk didalam bagiannya. Lebih tepatnya Habituasi dalam lingkungan kampus merujuk pada proses pembiasaan perilaku positif dan nilai-nilai religius yang dilakukan secara terus-menerus oleh mahasiswa, dosen, dan civitas akademika, hingga menjadi bagian dari karakter dan budaya kampus itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa internalisasi nilai telah mencapai tahap habituasi. Dari hasil survey ada contoh sederhana cara merealisasikan habituasi di lingkungan kampus AuDisiplin terhadap waktu, bersikap tanggung jawab, jujur kepada sesama, kepedulian tinggi terhadap Ay (Responden . Manfaatnya dilengkapi oleh (Responden . AuSaya membiasakan berkata baik, itu membuat saya lebih tenang dan dihargai. Ay Hasil analisis pada tahap open coding menunjukkan bahwa mahasiswa PAI memaknai karakter religius sebagai kepatuhan terhadap ajaran agama, pengamalan nilai-nilai moral dan spiritual, serta sebagai ekspresi iman dan identitas diri sebagai calon pendidik agama. Karakter ini dipandang tidak sekadar sebagai atribut personal, melainkan sebagai modal utama dalam menjalankan peran sosial, profesional, dan dakwah. Hal ini selaras dengan pandangan bahwa karakter religius merupakan landasan etika yang mengarahkan perilaku mahasiswa baik dalam kehidupan akademik maupun sosial. Urgensi karakter religius secara konsisten muncul dalam narasi responden, yang memandangnya sebagai bekal menjadi figur pendidik yang berintegritas, mampu menghadapi tantangan moral di masyarakat, serta sebagai instrumen penguatan integrasi antara ilmu dan iman. Karakter religius menjadi identitas normatif yang seharusnya melekat dalam diri mahasiswa PAI, mengingat peran strategis mereka sebagai agen perubahan dalam sistem pendidikan dan masyarakat. Temuan pada tahap axial coding mengelompokkan berbagai konsep menjadi beberapa kategori utama (Teladan. Aktivitas ibadah. Refleksi diri. Bina sosial. Ibadah. Yaqin dan cintai. Aksi nyata. Habituis. Berikut kategori utama yang Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2021 Intan Sari. Mahbub Djunaidi. Lailatul Maghfiroh Model Pengembangan Pendidikan Karakter Religius Berbasis Tarbiyah: Studi Kasus Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam paling berpengaruh menurut data yang diperoleh dari hasil wawancara: Pertama, keteladanan menjadi faktor dominan dalam proses internalisasi nilai religius. Figur dosen yang religius, teman sebaya yang berakhlak baik, serta lingkungan organisasi keislaman kampus berperan sebagai model perilaku yang ditiru dan diteladani Keteladanan ini menjadi media efektif dalam mentransmisikan nilai secara afektif dan sosial. Kedua, ibadah rutin, pembentuk karakter yang bersifat rutin dan insidental, seperti kajian keislaman, sholat berjamaah, kegiatan sosial . eperti berbagi takjil saat Ramada. Ketiga, muhasabah diri dinilai berkontribusi dalam memperkuat habitus religius mahasiswa. Aktivitas tersebut berfungsi sebagai medium transformasi nilai menjadi kebiasaan yang mengakar, baik dalam dimensi spiritualitas personal maupun solidaritas sosial. Namun, mahasiswa juga menghadapi tantangan internal dan eksternal dalam mempertahankan karakter Tantangan mempertahankan karakter religius tersebut meliputi pengaruh negatif media sosial, budaya pergaulan bebas, serta sikap acuh dari lingkungan Fenomena ini menegaskan bahwa karakter religius tidak dapat dibentuk secara parsial, tetapi membutuhkan dukungan sistemik dari institusi pendidikan. Dengan dukungan sistemik ini, institusi pendidikan dapat membantu membentuk karakter religius yang kuat dan menyeluruh pada mahasiswa. Pada tahap selective coding, peneliti mensintesiskan keseluruhan kategori menjadi teori substantif mengenai konstruksi karakter religius mahasiswa PAI. Proses pembentukan karakter ini berlangsung melalui interaksi antara pemahaman nilai keislaman . asil pendidikan forma. , pengalaman spiritual sehari-hari, serta pengaruh lingkungan sosial di kampus. Pemahaman yang baik tentang nilai-nilai keislamaan dapat membantu membentuk karakter yang kuat dan positif. Pengalaman spritual yang dialami sehari-hari dapat membantu meningkatkan kesadaran dan komitmen terhadap nilai-nilai keislaman. Lingkungan sosial di kampus dapat mempengaruhi pembentukan karakter melalui interaksi dengan teman-teman, dosen, dan kegiatan kampus lainnya. Keteladanan dosen, interaksi dalam komunitas religius, serta keterlibatan dalam aktivitas ibadah dan sosial menjadi faktor-faktor yang mempercepat Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Intan Sari. Mahbub Djunaidi. Lailatul Maghfiroh Model Pengembangan Pendidikan Karakter Religius Berbasis Tarbiyah: Studi Kasus Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam internalisasi nilai. Dalam konteks ini, refleksi diri atau muhasabah juga berfungsi sebagai strategi internal mahasiswa untuk mempertahankan nilai dan mengevaluasi Dengan melakukan refleksi diri secara teratur, mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan untuk belajar dari pengalaman, meningkatkan diri, dan menjadi individu yang lebih baik. Model teoretis yang dihasilkan menunjukkan bahwa pembentukan karakter religius merupakan hasil sinergi antara pemahaman individu, pengaruh lingkungan kampus, serta strategi pembiasaan yang dilakukan secara konsisten. Kampus memegang peran strategis sebagai fasilitator nilai, dengan cara mengintegrasikan nilai religius ke dalam kurikulum, memperkuat program kajian keislaman, dan menciptakan budaya akademik yang kondusif bagi pengamalan nilai-nilai Islam. Secara konseptual, temuan ini memperkuat pentingnya integrasi antara pendekatan kognitif, afektif, dan sosial dalam pendidikan karakter. Pembentukan karakter religius tidak bisa dilepaskan dari konstruksi sosial dan budaya akademik yang mendukung serta kontinuitas dalam aktivitas yang bersifat spiritual dan Oleh karena itu, upaya institusional perlu diperkuat agar nilai-nilai religius tidak hanya menjadi wacana normatif, tetapi juga menjadi praksis hidup mahasiswa dalam menghadapi dinamika zaman yang semakin kompleks. Sesuai hasil survei, wawancara, dan telaah dokumen kampus, diketahui bahwa sebagian besar mahasiswa memandang karakter religius sebagai integrasi harmonis antara ketaatan dalam beribadah dan pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mengartikan ibadah bukan semata kewajiban formal, tetapi sebagai manifestasi komitmen spiritual yang diwujudkan dalam bentuk sikap, perilaku, dan etika. Namun, tidak semua mahasiswa memiliki pemahaman yang komprehensif. Masih terdapat kelompok yang memusatkan perhatian hanya pada aspek ritualistik semata, seperti shalat dan puasa, tanpa memperhatikan dimensi sosial dan moral dari nilai-nilai Islam. Hasil wawancara mendalam mengungkap bahwa latar belakang keluarga, pengalaman pribadi, serta lingkungan sosial sangat mempengaruhi cara pandang mahasiswa terhadap karakter religius. Mahasiswa yang tumbuh dalam keluarga dengan tradisi keagamaan yang kuat cenderung lebih konsisten dalam Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2021 Intan Sari. Mahbub Djunaidi. Lailatul Maghfiroh Model Pengembangan Pendidikan Karakter Religius Berbasis Tarbiyah: Studi Kasus Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam mengamalkan nilai-nilai religius. Sebaliknya, mahasiswa yang kurang mendapat dukungan dari lingkungan keluarga atau sosial menunjukkan keterbatasan dalam internalisasi nilai tersebut. Dokumen kampus menunjukkan bahwa keberadaan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seperti Al-Khidmah dan berbagai kajian keislaman turut berkontribusi dalam membangun pemahaman dan praktik karakter religius Triangulasi dilakukan untuk memastikan validitas dan reliabilitas data yang Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data dari mahasiswa semester 4 dan 6, serta dari kelas pagi dan sore. Triangulasi metode dilakukan melalui analisis data dari survei terbuka, wawancara mendalam, dan telaah dokumen kampus. Member check atau konfirmasi hasil kepada responden juga dilakukan untuk memastikan bahwa interpretasi peneliti sesuai dengan pengalaman mereka. Hasil triangulasi menunjukkan konsistensi antara data yang diperoleh melalui berbagai metode dan sumber. Mahasiswa yang aktif dalam kegiatan keagamaan, memiliki lingkungan sosial yang mendukung, dan mendapatkan keteladanan dari dosen, secara konsisten menunjukkan pemahaman dan praktik karakter religius yang lebih kuat. Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki akses atau partisipasi dalam lingkungan yang kondusif menunjukkan kesulitan dalam menginternalisasi dan mempertahankan nilai-nilai religius. Dengan demikian, triangulasi membantu memberikan gambaran yang lebih utuh dan mendalam mengenai faktor-faktor pembentuk karakter religius mahasiswa. Pembahasan Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter religius tidak dapat dilepaskan dari peran aktif institusi pendidikan, lingkungan sosial, dan upaya internal individu. Dosen sebagai figur teladan memainkan peran sentral, tidak hanya dalam menyampaikan materi akademik, tetapi juga sebagai model perilaku religius yang nyata. Pengaruh teman sebaya, organisasi keislaman, dan kegiatan sosial keagamaan turut memperkuat pembiasaan nilai-nilai religius di lingkungan kampus. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Intan Sari. Mahbub Djunaidi. Lailatul Maghfiroh Model Pengembangan Pendidikan Karakter Religius Berbasis Tarbiyah: Studi Kasus Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Namun demikian, tantangan yang dihadapi mahasiswa tidaklah kecil. Pengaruh negatif dari media sosial, gaya hidup permisif, serta lemahnya budaya religius di sebagian lingkungan sosial menjadi kendala serius dalam mempertahankan karakter religius. Beberapa mahasiswa menyatakan bahwa meskipun mereka memahami pentingnya nilai-nilai religius, mereka merasa kesulitan dalam menerapkannya secara konsisten karena tidak adanya dukungan dari lingkungan sekitar. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman teoritis dan praktik nyata dalam kehidupan mahasiswa. Oleh karena itu, pendidikan karakter religius di perguruan tinggi harus diarahkan pada penciptaan ekosistem yang mendukung pembentukan karakter secara menyeluruh. Diperlukan integrasi nilai-nilai Islam dalam seluruh aspek kurikulum, tidak hanya terbatas pada mata kuliah agama. Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler dan program pembinaan karakter harus dirancang secara kontekstual dan menarik, agar mampu menjangkau mahasiswa secara emosional dan spiritual. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah perlunya peningkatan peran dosen dalam menjadi role model religius, penguatan program-program keagamaan yang bersifat partisipatif, serta pengembangan layanan bimbingan dan konseling berbasis nilai keislaman. Selain itu, kampus perlu bertransformasi menjadi ekosistem religius yang menumbuhkan budaya akademik berbasis nilai. Hal ini meliputi kebijakan yang mendukung pelaksanaan ibadah, penghargaan terhadap perilaku baik, serta pembiasaan nilai-nilai religius dalam kehidupan sehari-hari civitas Rekomendasi dari penelitian ini antara lain: pertama, perlunya pelatihan berkelanjutan bagi dosen dan tenaga kependidikan untuk memperkuat peran mereka sebagai pendidik karakter religius. Kedua, penguatan kurikulum yang kontekstual dan berbasis nilai, agar mahasiswa dapat mengaitkan ilmu pengetahuan dengan ajaran Islam secara aplikatif. Ketiga, penyediaan ruang refleksi dan bimbingan spiritual bagi mahasiswa, agar mereka mampu mengelola tantangan internal dan eksternal secara bijak. Keempat, pentingnya kolaborasi antar lembaga Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2021 Intan Sari. Mahbub Djunaidi. Lailatul Maghfiroh Model Pengembangan Pendidikan Karakter Religius Berbasis Tarbiyah: Studi Kasus Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam kemahasiswaan dalam menyelenggarakan kegiatan keagamaan yang variatif dan Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya pengembangan teori pembentukan karakter religius, tetapi juga memberikan landasan praktis bagi perbaikan sistem pendidikan Islam di perguruan tinggi, khususnya dalam menjawab tantangan pembinaan mahasiswa generasi Z untuk mengembangkan identitas yang kuat, meningkatkan kemampuan yang multitasking namun rentan disorientasi nilai. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembentukan karakter religius mahasiswa PAI di Universitas Islam Darul 'Ulum (UNISDA) Lamongan merupakan proses dinamis yang berlangsung secara sistematis melalui interaksi antara nilai-nilai keagamaan, keteladanan lingkungan, serta internalisasi yang Karakter religius dimaknai oleh mahasiswa tidak hanya sebagai manifestasi ibadah ritual, tetapi juga sebagai landasan moral dalam bersikap, berpikir, dan berperilaku dalam kehidupan sosial maupun akademik. Temuan penelitian mengidentifikasi delapan elemen pembentuk karakter religius, yakni keteladanan, aktivitas ibadah, refleksi diri . , bina sosial, integrasi nilai, keyakinan dan kecintaan terhadap ajaran Islam, aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari, serta habituasi berkelanjutan. Model tarbiyah yang dikembangkan menunjukkan bahwa proses pembentukan karakter religius bersifat holistik dan integratif, melibatkan dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik Oleh karena itu, diperlukan desain strategis pendidikan karakter berbasis tarbiyah yang tidak hanya terintegrasi dalam kurikulum, tetapi juga diwujudkan dalam budaya kampus yang mendukung terbentuknya habitus religius. Implikasi praktis dari temuan ini mengisyaratkan perlunya penguatan keteladanan dosen, revitalisasi kegiatan keagamaan, pengembangan layanan reflektif berbasis spiritualitas, serta penciptaan ekosistem kampus yang konsisten dengan nilai-nilai Islam sebagai upaya konkret dalam membina karakter religius mahasiswa secara disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk mengembangkan dan Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Intan Sari. Mahbub Djunaidi. Lailatul Maghfiroh Model Pengembangan Pendidikan Karakter Religius Berbasis Tarbiyah: Studi Kasus Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam menguji model TARBIYAH di lingkungan atau program studi yang berbeda agar memperoleh gambaran yang lebih luas. Selain itu, peran media digital dalam pembentukan karakter religius juga perlu dikaji lebih mendalam, mengingat pengaruhnya yang semakin besar terhadap kehidupan mahasiswa. REFERENSI