Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 51-60 Available at http://jurnal. id/jpterpadu Jurnal Perikanan Terpadu P-ISSN : 2599-154X E-ISSN : 2745-6587 Keanekaragaman dan Status Konservasi Hiu yang Berbasis di Pelabuhan Perikanan Samudera Kutaraja. Banda Aceh Diversity and Conservation Status of Sharks Based on Samudera Kutaraja Fishery Port. Banda Aceh Zulhaikal Hikmal1. Salmarika1*. Imamshadiqin1. Muliari1. Renggalyta Rusman2. Muhammad Farhan1. Bagas Arie Maulana Valintinoo1 Program Studi Ilmu Kelautan. Universitas Malikussaleh. Aceh Utara. Indonesia Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Padang Wilayah Kerja Aceh. Banda Aceh. Indonesia *koresponden : salmarika@unimal. Article Information Submitted Revised Accepted Published Keywords 05/05/2025 02/06/2025 27/06/2025 17/07/2025 Sharks. Species identification. CITES. IUCN. Shark populations Abstract Sharks are a group of cartilaginous fish that are vulnerable to the impacts of overfishing due to their slow growth and limited reproductive ability. Therefore, it is important to periodically collect data on shark species to update population information and identify endangered species. This study used a direct observation method with data collection based on morphological characters to identify the shark species found. Data analysis was carried out descriptively qualitatively. The results of the study recorded 44 individual sharks from various species. Chiloscyllium punctatum was recorded as the most commonly found species with 14 individuals, while Chiloscyllium hasselti was only recorded as 5 Based on conservation status, 5 shark species were found that were included in Appendix II of CITES and there were 3 non-Appendix species. These findings indicate the importance of conservation efforts to prevent future declines in shark populations. Hikmal. Salmarika. Imamshadiqin. Muliari. Rusman. Farhan. , & Valintinoo. Keanekaragaman dan status konservasi hiu yang berbasis di pelabuhan perikanan samudera Kutaraja. Banda. Jurnal Perikanan Terpadu 6. : 51-60 PENDAHULUAN Hiu adalah bagian dari subkelas Elasmobranchii (Dharmadi & Satria, 2015. SEAFDEC, Hara et al. , 2018. DAoAlberto et al. , 2019. Bernardo et al. , 2. , yang mencakup berbagai ikan karnivora dan detritivora yang tersebar di berbagai perairan dari dangkal hingga dasar laut abisal di seluruh dunia (Tuya et al. , 2. Hiu merupakan kelompok ikan bertulang rawan yang sangat rentan terhadap dampak penangkapan berlebihan karena pertumbuhannya lambat dan memiliki keterbatasan dalam berkembangbiak, hiu memiliki peran penting dalam struktur jaring-jaring makanan di laut. Namun, perdagangan sirip hiu dan penangkapannya telah menyebabkan penurunan signifikan dalam populasi mereka (Dent & Clark, 2. Permintaan terhadap sirip 51 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 51-60 hiu meningkat dalam beberapa tahun terakhir yang dapat mengancam populasi hiu di habitatnya (Griffin et al. , 2. Maudy & Crook . , juga menambahkan bahwa diperkirakan antara 26 hingga 73 juta ekor hiu dipanen setiap tahun diperdagangkan secara ilegal, dimana setelah sirip dipotong, tubuh hiu biasanya dibuang ke laut untuk menghindari identifikasi spesies berdasarkan Upaya pemberantasan kegiatan IUU Fishing, memerlukan peningkatan dalam pelacakan hasil tangkapan ikan yang didaratkan oleh kapal penangkap ikan melalui verifikasi data sesuai dengan Pasal 11 dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Nomor PER. 12/MEN/2012 Tahun 2012 tentang Usaha Perikanan Tangkap di Laut Lepas, merupakan tujuan dari Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 yang mengubah Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang perikanan. Hal ini bertujuan untuk mengelola sumber daya ikan seefisien mungkin demi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia. Di provinsi Aceh terdapat Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kutaraja yang merupakan pelabuhan perikanan terbesar di Provinsi Aceh dan memiliki potensi untuk dikembangkan karena memiliki aktivitas dan produktivitas yang cukup tinggi. Salmarika et al. menyatakan bahwa PPS Kutaraja atau yang sebelumnya bernama PPS Lampulo. Kota Banda Aceh adalah pelabuhan perikanan terbesar di Provinsi Aceh dengan karakteristik hasil tangkapannya yang sangat beragam, salah satunya adalah hiu dan pari. Produksi ikan yang didaratkan di PPS Kutaraja setiap tahunnya terus meningkat sehingga membuat PPS Kutaraja menjadi salah satu sentra perekonomian masyarakat khususnya di Provinsi Aceh. Berdasarkan hal tersebut mendukung PPS Kutaraja menjadi lokasi yang strategis untuk proses pengumpulan data penelitian terkait keanekaragaman dan status konservasi hiu di PPS Kutaraja. Kota Banda Aceh. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui keanekaragaman spesies, jumlah individu, data distribusi frekuensi panjang tubuh, nisbah kelamin dan Tingkat Kematangan Gonad (TKG) dan status konservasi setiap spesies yang ditemukan menurut IUCN dan CITES berdasarkan pendaratan ikan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kutaraja. Banda Aceh. METODOLOGI PENELITIAN Figure 1. Research location map Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2024 hingga Agustus 2024, kegiatan penelitian dilakukan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kutaraja. Banda Aceh (Gambar . Penelitian 52 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 51-60 ini menggunakan metode observasi langsung. Metode observasi langsung merupakan teknik pengumpulan data penelitian yang dilakukan dengan mengamati objek secara langsung untuk memahami lebih dekat kegiatan dan masalah yang sedang terjadi serta mencari solusi atas permasalahan tersebut (Rahardja et al. , 2. Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada penelitian ini yaitu meteran, alat tulis, kamera, laptop dan buku Sedangkan bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu ikan hiu sebanyak 44 Tahapan Penelitian Sampel hiu yang digunakan dalam penelitian ini merupakan hasil tangkapan nelayan yang beroperasi di wilayah penangkapan ikan WPP 571 dan WPP 572. Hiu-hiu yang berhasil didaratkan kemudian didata dan diukur morfometriknya untuk mendapatkan data distribusi frekuensi panjang tubuh, nisbah kelamin dan Tingkat Kematangan Gonat (TKG). Proses identifikasi spesies dilakukan dengan mengacu pada buku panduan "Elasmobranchii Prioritas," yang berfungsi sebagai referensi utama dalam mengenali karakteristik morfologi spesifik dari berbagai jenis hiu. Identifikasi ini bertujuan untuk mengetahui komposisi hasil tangkapan di kedua wilayah tersebut. Selanjutnya, status konservasi setiap spesies yang teridentifikasi dianalisis dengan mengacu pada standar internasional, yaitu daftar yang diterbitkan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) serta Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). Pendekatan ini tidak hanya memungkinkan untuk mengkaji keberagaman spesies yang tertangkap, tetapi juga memberikan gambaran mengenai tingkat keterancaman masing-masing spesies. Prosedur Penelitian Prosedur pengujian morfometrik dan tingkat kematangan gonad pada hiu atau pari yang memiliki tubuh menyerupai hiu . amili Rhinobatidae. Rhinidae. Glaucostegidae, dan Pristida. dilakukan sebagai berikut. Pertama, siapkan alat ukur seperti meteran, serta form pencatatan data. Pengukuran panjang tubuh dilakukan dengan meletakkan ikan di atas permukaan datar, kemudian mengukur tiga jenis panjang, yaitu: Total Length (TL), yaitu panjang dari bagian terdepan moncong mulut hingga ujung atas ekor. Fork Length (FL), yaitu panjang dari bagian terdepan moncong mulut hingga pangkal percabangan ekor. dan Precaudal Length (PCL), yaitu panjang dari bagian terdepan moncong mulut hingga ujung gurat sisi. Setelah itu, identifikasi jenis kelamin individu dengan memeriksa keberadaan klasper sebagai ciri jantan. Untuk individu jantan, lakukan pengukuran klasper dengan mengukur dari pangkal lekukan bagian luar hingga ujung klasper. Selanjutnya, lakukan penilaian Tingkat Kematangan Gonad (TKG) berdasarkan kondisi klasper. Tingkat I menunjukkan klasper dalam kondisi lunak, kecil, dan belum atau hanya sedikit mengandung zat kapur . idak mengalami pengapura. Tingkat II menunjukkan klasper berukuran sedang, agak keras, dan sebagian telah mengalami pengapuran. Tingkat i menunjukkan klasper berukuran besar, keras, dan mengalami pengapuran penuh. Semua hasil pengukuran dan penilaian dikumpulkan dan dicatat dengan rapi pada form data lapangan untuk keperluan analisis selanjutnya. 53 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 51-60 Analisis Data Tahapan analisis data yang dilakukan melalui pendekatan analisis deskriptif kualitatif. Proses ini diawali dengan penginputan data hasil pengamatan ke dalam aplikasi Microsoft Excel, yang digunakan untuk menyusun tabulasi data dalam bentuk matriks atau tabel yang sistematis. Tabulasi ini memuat berbagai parameter morfologi yang diamati dari setiap sampel hiu yang diperoleh di lapangan. Selanjutnya, dilakukan proses identifikasi spesies berdasarkan karakteristik morfologis spesifik untuk memastikan keakuratan dalam penentuan jenis. Setelah identifikasi, data yang terkumpul kemudian diklasifikasikan lebih lanjut berdasarkan kategori spesies dan status konservasinya, baik yang tercantum dalam daftar CITES maupun IUCN. Langkah ini bertujuan untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai komposisi spesies serta tingkat keterancaman hiu yang diamati. Analisis distribusi frekuensi panjang Analisis distribusi frekuensi panjang tubuh dilakukan untuk mengetahui proporsi tertangkapnya hiu yang telah matang gonad. Ukuran hiu matang gonad didapatkan pada buku Elasmobranchii Prioritas. Data ini juga disajikan dalam bentuk grafik histogram, dimana kelompok kelas panjang ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Walpole, 1. K = 1 3,32 x log n R = Data tertinggi Oe Data terendah P= K Keterangan: K = Kelas interval n = Jumlah data R = Rentang data P = Panjang kelas interval Analisis nisbah kelamin Analisis nisbah kelamin merupakan perbandingan antara jenis jantan dan betina. Rumus untuk menentukan nisbah kelamin hiu yang di daratkan di Pangkalan pendaratan ikan Rigaih. Aceh Jaya sebagai berikut (Effendie, 2. yaycycoycoycaEa ycycaycuycycaycu Rasio jenis kelamin = yaycycoycoycaEa ycayceycycnycuyca HASIL DAN PEMBAHASAN Komposisi Hasil Tangkapan Berdasarkan hasil penelitian dari 44 ekor sampel ikan Hiu yang ditemukan menunjukan bahwa spesies Hiu yang didaratkan di PPS Kutaraja terdiri dari 8 spesies yaitu Alopias pelagicus. Carcharhinus leucas. Carcharhinus tjutjot. Chiloscyllium hasselti. Chiloscyllium punctatum. Galeocerdo cuvier. Rhizoprionodon acutus, dan Sphyrna lewini (Gambar . Berdasarkan Gambar 2, jumlah individu hiu yang dominan ditemukan di PPS Kutaraja yaitu spesies Chiloscyllium punctatum dengan jumlah 14 individu. Hal ini juga menunjukkan bahwa populasi Chiloscyllium punctatum lebih besar atau preferensi terhadap area tangkapan di kawasan tersebut. Sementara spesies Chiloscyllium hasselti 54 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 51-60 memiliki jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan Chiloscyllium punctatum. meskipun keduanya termasuk dalam genus yang sama, namun diindikasikan terjadi perbedaan dalam pola migrasi antara spesies serupa. Alopias Pelagicus Carcharhinus Leucas Carcharhinus Tjutjot Chiloscyllium Hasselti Chiloscyllium Punctatum Galeocerdo Cuvier Rhizoprionodon Acutus Sphyrna Lewini Figure 2. Composition precentage of Shark catches landed at PPS Kutaraja Status Konservasi Spesies Hiu Status konservasi spesies Hiu dapat diidentifikasi berdasarkan Lembaga IUCN dan CITES. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status konservasi Hiu di PPS Kutaraja menurut Lembaga IUCN menunjukan bahwa Alopias pelagicus (EV). Carcharhinus leucas (VU). Carcharhinus tjutjot (VU). Rhizoprionodon acutus (VU). Sphyrna lewin (CR). Chiloscyllium hasselti (EN). Chiloscyllium punctatum (NT), dan Galeocerdo cuvier (NT). Sementara menurut Lembaga CITES terdapat 5 spesies hiu Appendix II (Alopias pelagicus. Carcharhinus leucas. Carcharhinus tjutjot. Rhizoprionodon acutus, dan Sphyrna lewi. dan 3 spesies hiu Non-Appendix (Chiloscyllium hasselti. Chiloscyllium punctatum, dan Galeocerdo cuvie. Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan tabel 1, dapat diindikasikan bahwa status konservasi hiu yang didaratkan di PPS Kutaraja. Lampulo. Kota Banda Aceh telah terancam keberdaannya dan memerlukan pengelolaan yang baik untuk mencegah penurunan populasi dan tetap terjamin keberlanjutannya. Menurut Heithaus et al. dan Ferretti et al. , hiu memiliki peran penting dalam struktur jaring-jaring makanan di laut. Namun, tingginya minat pembeli terhadap sirip hiu mendorong peningkatan perdagangan maupun penangkapannya sehingga dapat menyebabkan penurunan populasi hiu secara signifikan (Dent & Clark, 2. Hal ini juga berakibat pada status konservasi hiu yang ikut memprihatinkan (Fowler & Seret, 2010. Heithaus et al. , 2. Table 1. Conservation status of Shark species Family Alopiidae Carcharhinidae Carcharhinidae Hemiscylliidae Hemiscylliidae Carcharhinidae Carcharhinidae Sphyrnidae Species Alopias pelagicus Carcharhinus leucas Carcharhinus tjutjot Chiloscyllium hasselti Chiloscyllium punctatum Galeocerdo cuvier Rhizoprionodon acutus Sphyrna lewini Local name Conservation Status based Conversation Status based on IUCN on CITES Yee Tikoh Yee Gapih Yee Kareung Yee Uret Yee Gantup Yee Amin Yee Minyek Yee Rimba Endangered (EN) Vulnerable (VU) Vulnerable (VU) Endangered (EN) Near Threatened (NT) Near Threatened (NT) Vulnerable (VU) Critically Endangered (CR) Appendix II Appendix II Appendix II Non Appendix Non Appendix Non Appendix Appendix II Appendix II 55 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 51-60 Distribusi Panjang Tubuh Hiu Hasil dari pengukuran morfometrik tubuh Hiu yang didaratkan di PPS Kutaraja, menghasilkan bahwa frekuensi rata-rata panjang tubuh hiu bervariasi yang diukur dari rata-rata panjang total (TL), rata-rata panjang cagak (FL) dan rata-rata panjang standar (PCL), masingmasing antara lain Alopias pelagicus . ,4 cm, 127,4 cm, dan 114,4 c. Carcharhinus leucas . ,2 cm, 90,8 cm, dan 85,7 c. Carcharhinus tjutjot . ,5 cm, 106,8 cm, 98,9 c. Chiloscyllium hasselti . cm, 120 cm, dan 110 c. Chiloscyllium punctatum . ,4 cm, 71,7 cm, dan 66,2 c. Galeocerdo cuvier . ,5 cm, 173,5 cm, dan 161,3 c. Rhizoprionodon acutus . cm, 49 cm, dan 45 c. dan Sphyrna lewin . cm, 90,1 cm, dan 85 c. (Tabel . Data ini menunjukkan variasi yang signifikan dalam ukuran tubuh antar spesies hiu. Hiu seperti Alopias pelagicus dan Galeocerdo cuvier cenderung memiliki ukuran tubuh yang lebih besar, sedangkan spesies seperti Rhizoprionodon acutus dan Chiloscyllium punctatum memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil. Table 2. Distribution of shark body length Family Alopiidae Carcharhinidae Carcharhinidae Hemiscylliidae Hemiscylliidae Carcharhinidae Carcharhinidae Sphyrnidae Average Total Average Range of Average Standard total length length fork length fork length standard length range . Alopias pelagicus 160,6-262 80,4-154 70,4-137 Carcharhinus leucas 86,5-128 71,5-101 Carcharhinus tjutjot 107,5-167 Chiloscyllium hasselti Chiloscyllium punctatum 52,3-77 Galeocerdo cuvier Rhizoprionodon acutus Sphyrna lewini 50,1-130 Species Nisbah Kelamin Berdasarkan total individu spesies menunjukkan bahwa presentase nisbah kelamin hiu yang didaratkan di PPS Kutaraja pada bulan Juli hingga Agustus yaitu 57% hiu jantan dan 43% hiu betina (Gambar . Sehingga dapat diartikan bahwa hiu yang tertangkap didominasi oleh hiu Meskipun demikian, hasil tangkapan hiu tersebut termasuk kategori ideal dalam mempertahankan kelestarian hiu karena perbedaan hasil tangkapannya tidak terlalu signifikan. Menurut Thanh . perbedaan nisbah kelamin ikan betina dan jantan yang tertangkap oleh nelayan dipengaruhi oleh pola kebiasaan ruaya ikan, seperti pada saat ikan akan memijah ataupun pada saat mencari makan. Sejalan dengan pernyataan Sentosa et al. yang menyatakan bahwa perbandingan nisbah kelamin disebabkan oleh perbedaan pada kondisi oceanografi, lokasi penangkapan, alat tangkap yang digunakan dan waktu penangkapan. Male Famale Figure 3. Sex percentage of Shark species in PPS Kutaraja 56 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 51-60 Tingkat Kematangan Gonad Tingkat Kematangan Gonad (TKG) suatu spesies ikan dapat memberikan informasi terkait keberdaan pematangan gonad berdasarkan ciri-ciri gonad yang dapat dikenali, seperti ikan yang belum matang, setengah matang, matang, produktif atau tidak aktif (Yunita et al. , 2. Sampel pengamatan hiu untuk mengukur TKG yaitu hiu jantan sejumlah 20 ekor, sedangkan hiu betina berjumlah 24 ekor. Hasil analisis TKG menunjukan bahwa 50% hiu memiliki tingkat kematangan gonad i atau FC (Full calcificatio. seperti spesies Chiloscyllium hasselti dan Chiloscyllium punctatum, 45% hiu dengan tingkat kematangan gonad II (Non-Full calcification/NFC) seperti Rhizoprionodon acutus dan Sphyrna lewini, dan sisanya sebanyak 5% hiu memiliki tingkat kematangan gonad I (Non-calcification/NC) seperti Alopias pelagicus (Gambar . NFC Figure 4. Maturity level gonad percentage of Shark species at PPS Kutaraja KESIMPULAN Komposisi tangkapan hiu yang didaratkan di PPS Kutaraja terdiri dari 8 spesies yaitu Alopias pelagicus. Carcharhinus leucas. Carcharhinus tjutjot. Chiloscyllium hasselti. Chiloscyllium punctatum. Galeocerdo cuvier. Rhizoprionodon acutus dan Sphyrna lewini. Distribusi panjang hiu bervariasi, panjang tertinggi dimiiliki oleh spesies Alopias pelagicus dengan rata-rata panjang total 231,4 cm, sementara panjang terendah yaitu spesies Rhizoprionodon acutus dengan rata-rata panjang 61 cm. Persentase nisbah kelamin didominasi oleh hiu jantan sebesar 57% dan 43% hiu betina. TKG hiu menunjukan bahwa 50% hiu memiliki tingkat kematangan gonad i (Full calcificatio. , 45% hiu dengan tingkat kematangan gonad II (Non-Full calcificatio. , dan sisanya sebanyak 5% hiu memiliki tingkat kematangan gonad I (Non-calcificatio. Status konservasi hiu yang didaratkan di PPS Kutaraja berdasarkan Lembaga CITES yaitu 5 spesies hiu termasuk dalam kategori Appendix II, yaitu Alopias pelagicus. Carcharhinus leucas. Carcharhinus tjutjot. Rhizoprionodon acutus, dan Sphyrna lewini serta 3 spesies termasuk dalam kategori non-appendix yaitu Chiloscyllium hasselti. Chiloscyllium punctatum, dan Galeocerdo cuvier. Sementara berdasarkan Lembaga IUCN, 3 spesies termasuk ke dalam kategori VU (Vulnerabl. yaitu Carcharhinus leucas. Carcharhinus tjutjot. Rhizoprionodon acutus, 2 spesies termasuk dalam kategori EN (Endangere. yaitu Alopias pelagicus dan Chiloscyllium hasselti, 2 spesies dalam kategori NT (Near Threatene. yaitu Chiloscyllium punctatum, dan Galeocerdo cuvier serta Sphyrna lewini yang termasuk dalam kategori CR (Critically Endangere. Status tersebut mengindikasikan bahwa spesies hiu yang didaratkan di PPS Kutaraja memerlukan pengelolaan dan upaya konservasi yang lebih intensif. 57 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 51-60 IMPLIKASI KEBIJAKAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar spesies hiu yang didaratkan di PPS Kutaraja termasuk dalam daftar Appendix II CITES dan memiliki status konservasi yang memerlukan perhatian serius. Oleh karena itu, implikasi kebijakan yang dapat diusulkan adalah perlunya penguatan upaya konservasi melalui penerapan regulasi yang lebih ketat terhadap penangkapan hiu, khususnya terhadap spesies yang terancam. Pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu meningkatkan pengawasan dan pengendalian terhadap kegiatan penangkapan dan pendaratan hiu, serta menerapkan sistem pelaporan yang lebih akurat dan Selain itu, perlu dilakukan pembatasan kuota tangkapan untuk spesies yang rentan dan mendorong penerapan praktik perikanan berkelanjutan di kalangan nelayan. Program edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat pesisir juga menjadi langkah penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian spesies hiu. Penelitian lebih lanjut mengenai aspek biologi reproduksi, struktur populasi, dan dinamika stok hiu di wilayah ini sangat diperlukan sebagai dasar dalam penyusunan kebijakan pengelolaan yang berbasis ilmiah. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan keberlanjutan populasi hiu dapat terjaga sekaligus mendukung keberlangsungan ekosistem laut dan ekonomi masyarakat pesisir. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis berterimakasih atas segala kontribusi terutama dalam pelaksanaan penelitian kepada nelayan yang berbasis di PPS Kutaraja. Banda Aceh. Lembaga Adat Panglima Laot Lhok Krueng Aceh. Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Padang Wilayah Kerja Aceh yang telah membantu dalam menyediakan, menfasilitasi dan memberikan informasi terkait data yang dibutuhkan untuk penelitian. DAFTAR PUSTAKA