Persepsi individu dengan Perilaku Merokok Remaja Usia SMA di Kabupaten (EX) Provinsi Lampung Individual Perception of Smoking Behavior Among High School Students in (EX) Regency. Lampung Province Bagus Perdana Kusuma Zain1. Sudjarwo2. Dhiny Easter Yanti2 Lolita Sary2. Christin Angelina Febriani2. Prodi Pascasarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati. Lampung. Indonesia Fakultas Imu Kesehatan Universitas Malahayati. Lampung. Indonesia Korespondensi Penulis : angelina@malahayati. ABSTRACT There has been an increase in the number of cigarettes smoked per day among Indonesian residents aged 10-18 years, from 8. 6 to 8. 7 cigarettes. This study aimed to determine the perception of individuals with adolescent smoking behavior in high schools in (EX) Regency. Lampung Province. This was a quantitative study with a cross-sectional design. The population was high school students aged 10-18 years in (EX) Regency. Lampung Province, grades 10-11, totaling 301 students. A sample of 92 students from grades 10 and 11 was selected using purposive sampling. Data was collected using a questionnaire and analyzed using chi-square and logistic regression. The results showed that there was a relationship between the perception of susceptibility . -value=0. OR=0. , severity of illness . value=0. OR=8. , perceived barriers . -value=0. OR=14. , and perceived self-efficacy . -value=0. OR=5. with smoking behavior. There was no relationship with perceived benefits . -value=0. It is recommended that schools, in collaboration with health centers, conduct screening using CO detectors. Increase the implementation of smoke-free areas, provide counseling for smokers to quit, and add extracurricular activities for students. Educate the school committee so that parents provide adequate pocket money to inhibit students' smoking behavior. Keywords : Health Belief Model. Individual student perception. Smoking behavior ABSTRAK Terjadi peningkatan jumlah batang rokok yang dihisap per hari pada penduduk Indonesia usia 10-18 tahun dari semula 8,6 batang per hari menjadi 8,7 batang. Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya persepsi individu dengan perilaku merokok remaja usia SMA di Kabupaten (EX) di Provinsi Lampung. Jenis penelitian kuantatif dengan rancangan potong lintang. Populasi remaja usia SMA di SMA (EX) Kabupaten (EX) provinsi Lampung kelas X-XI sebanyak 301 siswa. Sampel penelitian sebanyak 92 siswa Kelas X dan XI SMA (EX). Sampel diambil dengan metode purposive sampling, alat ukur kuesioner dan data dianalisis menggunakan chi square dan regresi logistik. Hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat hubungan persepsi kerentanan . value=0,09 OR=0,. , keparahan penyakit . value=0,019 OR=8,. , persepsi hambatan . value=0,003 OR=14. , persepsi keyakinan diri . value=0,005 OR=5. dengan perilaku merokok. Tidak terdapat hubungan manfaat . value=0. Hendaknya Sekolah bersama dengan puskesmas melakukan skrining menggunakan CO detector. Meningkatkan Implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR), konseling upaya berhenti merokok kepada perokok aktif dan menambah kegiatan ekstrakulikuler siswa. Edukasi kepada Komite Sekolah agar orangtua siswa memberikan uang saku secukupnya sebagai penghambat perilaku merokok siswa. Kata Kunci : Health Belief Model. Persepsi individu siswa. Perilaku merokok Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 219-228 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Persepsi Individu dengan PerilakuA. (Bagus Perdana Kusuma Zain. Lolita Sary, dk. PENDAHULUAN Merokok penggunaan tembakau yang paling umum di seluruh dunia. Produk tembakau lainnya antara lain tembakau pipa, cerutu, tembakau panas, tembakau linting sendiri, bidis . okok ukuran kecil dan tipi. dan kreteks, serta produk tembakau tanpa asap. Sekitar 80% dari 1,3 miliar pengguna tembakau di seluruh negara-negara berpendapatan rendah dan menengah (WHO, 2023. Rata-rata jumlah batang rokok yang dihisap per hari pada penduduk usia >10 tahun berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2019 dibandingkan data Survey Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, dari semula jumlah batang per hari 12,8 batang menjadi 12,11 batang. Ratarata jumlah batang rokok pada kelompok umur khusus 10-18 tahun semula 8,6 batang per hari meningkat menjadi 8,7 (Kemenkes RI, 2019. (Kemenkes RI, 2024. Proporsi pertama kali merokok pada penduduk umur >10 tahun di Indonesia data 2018 dibandingkan data 2023 pada umur 4-9 tahun semula 0,9% meningkat menjadi 1,5%, umur 1014 tahun semula 10,6% meningkat menjadi 18,4%, pada umur 15-19 tahun semula 48,2% meningkat menjadi 56,5% (Kemenkes RI, 2019. (Kemenkes RI. Proporsi pertama kali merokok di Indonesia pada umur >10 tahun berjenis kelamin laki-laki usia 4-9 tahun data 2018 dibandingkan data 2023 naik dari semula 0,9% menjadi 1,5%, pada umur 10-14 tahun semula 10,7% meningkat menjadi 18,5%, pada umur 15-19 tahun semula 48,7 menjadi 57,1%. Proporsi umur pertama kali merokok pada umur >10 tahun berjenis kelamin perempuan usia 4-9 tahun data 2018 dibandingkan data 2023 tetap dari semula 1,3% menjadi 1,3%, pada umur 10-14 tahun semula 8% meningkat menjadi 11,7%, pada umur 15-19 tahun semula 28,5 menjadi 35,7% (Kemenkes RI, 2019. (Kemenkes RI, 2024. Proporsi pertama kali merokok pada penduduk di Indonesia umur >10 tahun berdasarkan tempat dibandingkan di perkotaan. Lokasi tinggal perdesaan data 2018 dibandingkan data 2023 pada umur 5-9 tahun semula 1% menjadi 1,3%, pada umur 10-14 tahun semula 11,6% menjadi 18,5%, pada umur 15-19 tahun semula 48,1% menjadi 56,8% (Kemenkes RI, 2019. (Kemenkes RI, 2024. Proporsi menjadi objek penelitian karena secara nasional, merupakan proporsi umur dibandingkan kelompok umur lainnya . tahun, 10-14 tahun, 20-24 tahun,25-29 tahun, >30 tahu. dan diasumsikan objek penelitian berada dalam usia sekolah SMA dan berada di perdesan. Remaja SMA AuEXAy Kabupaten (EX) Provinsi Lampung berlokasi di perdesaan, merupakan SMA favorit, memiliki jumlah siswa terbanyak di wilayah sekitar, dan belum pernah dilakukan penelitian terkait persepsi individu dengan perilaku merokok pada siswa SMA AuEXAy. Peneliti melakukan upaya prasurvey pada 10 orang siswa kelas X1 mendapatkan hasil 50% siswa menyatakan seorang perokok, dan 70% kerentanan terkena penyakit tinggi . enyadari menimbulkan risiko terkena penyakit memiliki persepsi keparahan penyakit tinggi . enyadari jika merokok akan menimbulkan risiko terkena penyakit kronis dan komplikas. , sebanyak 50% memiliki persepsi manfaat berhenti merokok tinggi . enyadari ada dampak positif jika berhenti meroko. , sebanyak 70% menyatakan memiliki persepsi hambatan tinggi . enyadari akan adanya hambatan untuk berhenti meroko. , dan 30% memiliki persepsi kemampuan diri tinggi untuk berhenti merokok. Penelitian dilakukan (Ghanbarnejad et al, 2. tentang perilaku merokok pada siswa HBM pengetahuan, susceptibility, severity, barrier, benefit, self efficacy, cues to Penelitian (Guncan et al, 2. berjudul evaluasi perilaku menghisap rokok Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 219-228 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Persepsi Individu dengan PerilakuA. (Bagus Perdana Kusuma Zain. Lolita Sary, dk. menggunakan HBM mendapatkan hasil dirasakan, persepsi keparahan. Perceived benefit, cues to action dan self efficacy dengan perilaku berhenti merokok. Penelitian (Herlambang et al. , 2. Faktor Berhubungan dengan Perilaku Pencegahan Merokok Remaja di SMA mendapatkan hasil kerentanan, keparahan, isyarat untuk bertindak, efikasi diri, manfaat yang dirasakan dengan perilaku pencegahan Berdasarkan uraian diatas oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Aupersepsi individu dengan perilaku merokok usia remaja di Kabupaten (E. Provinsi LampungAy METODE Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan Cross Subjek penelitian ini adalah adalah seluruh remaja usia SMA di SMA (EX) Kabupaten (EX) provinsi Lampung kelas X-XI sebanyak 301 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah ini adalah remaja usia SMA di Kabupaten (EX) provinsi Lampung kelas X-XI yang merokok sebanyak 92 orang. Peneliti mengambil responden kelas X dan XI sampel dengan menggunakan teknik kriteria inklusi seperti remaja usia SMA Kelas X dan XI SMA (EX), merokok aktif. Kriteria Eksklusi: tidak merokok. Alat ukur kuesioner dan data dianalisis menggunakan chi square dan regresi HASIL Tabel 1 Distribusi Frekuensi univariat Variabel Jenis kelamin Kategori Laki-laki Umur pertama kali merokok 10-14 tahun 15-19 tahun Kretek batang/hari >11 batang/hari < Rp 10. >Rp 10. Negatif/ Positif/tinggi Negatif/ Positif/tinggi Negatif/ Positif/tinggi Negatif/ Positif/tinggi Negatif/ Positif/tinggi Jenis rokok yang biasa dihisap Prilaku Merokok. Rata-rata batang rokok yang dihisap / hari Biaya yang diperlukan untuk membeli rokok Persepsi kerentanan . erceived susceptibilit. akibat rokok Persepsi keparahan penyakit (Perceived severit. akibat Persepsi Manfaat merokok Persepsi Hambatan (Perceived barrie. untuk merokok Persepsi keyakinan diri (Perceived self efficac. untuk Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 219-228 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Persepsi Individu dengan PerilakuA. (Bagus Perdana Kusuma Zain. Lolita Sary, dk. Berdasarkan tabel 1 Responden penelitian menyatakan umur pertama kali merokok 10-14 tahun sebanyak 42 orang . ,7%) dan umur 15-19 tahun sebanyak 50 . ,3%). Responden menyatakan jenis rokok yang dihisap. umur pertama kali merokok 10-14 tahun sebanyak 42 orang . ,7%) dan umur 15-19 tahun sebanyak 50 . ,3%). Diantara yang merokok, umur pertama kali merokok adalah 15-19 tahun sebaynak 50 orang . ,3%) dan umur 10-14 tahun 42 . ,7%). Jenis rokok yang terbanak dihisap adalah rokok putih 37 . ,2%), rokok elektrik 34 . %) dan rokok kretek 21 . ,8%). rata-rata rokok yang dihisap per hari adalah 1-10 btang sebanyak 72 . ,3%) dan Ou11 batang sebanyak 20 orang . ,7%). Terbanyak biaya yang dikeluarkan untuk membeli rokok per hari adalah < Rp 10. 000 sebanyak 72 orang . ,6%) dan > Rp 10. 000 sebanyak 20 . ,7%). Responden yang berpartisipasi negatif/persepsi sebanyak 54 orang . ,4%) dan positif/persepsi sebanyak 38 . ,6%). Responden yang berpartisipasi dalam penelitian kategori negatiF/persepsi merokok rendah sebanyak 51 orang . ,4%) dan positif/persepsi keparahan penyakit tinggi akibat merokok sebanyak . ,6%). Responden berpartisipasi dalam penelitian kategori persepsi manfaat gaya hidup merokok negatif/persepsi manfaat gaya hidup merokok tinggi sebanyak 50 orang . ,4%) dan persepsi positif/persepsi manfaat merokok rendah sebanyak 42 . ,6%). Responden yang berpartisipasi negatif/persepsi merokok rendah sebanyak 48 orang . ,1%) dan persepsi positif/persepsi hambatan merokok tinggi sebanyak 44 . ,9%). Responden yang berpartisipasi negatif/keyakinan diri untuk berperilaku merokok sebanyak 29 orang . ,5%) dan positif/ berkeyakinan diri merokok rendah sebanyak 63 . ,5%). Tabel 2 Distribusi Frekuensi Bivariat Variabel Persepsi Persepsi Keparahan Persepsi Manfaat Persepsi Persepsi Keyakinan Diri Perilaku Merokok Ou 11 batang/hari batang/hari Negatif/ Rendah Positif/ Tinggi Negatif/ Rendah Positif/ Tinggi Negatif/ Rendah Positif/ Tinggi Negatif/ Rendah Positif/ Tinggi Negatif/ Rendah Positif/ Tinggi Kategori Berdasarkan tabel 3 Terdapat . erceived susceptibilit. dengan perilaku AuPATUHAy value=0,031 OR=2,1. Terdapat hubungan persepsi keparahan penyakit . erceived severit. dengan perilaku AuPATUHAy p value=0,001 OR=3,5. Terdapat hubungan persepsi manfaat Jumlah p-value . erceived benefi. dengan perilaku AuPATUHAy p value=0,000 OR=3,9. Tidak terdapat hubungan persepsi hambatan . erceived barrie. dengan perilaku AuPATUHAy value=0,068. Terdapat hubungan keyakinan diri (Per Perceived self efficac. dengan perilaku AuPATUHAy p value=0,006 OR=2,9. PEMBAHASAN Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 219-228 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Persepsi Individu dengan PerilakuA. (Bagus Perdana Kusuma Zain. Lolita Sary, dk. Hubungan Persepsi Kerentanan Dengan Perilaku Merokok Berdasarkan pengujian bivariat terkena penyakit memiliki hubungan signifikan terhadap perilaku merokok. Teori yang terkait hipotesa ini merokok adalah salah satu penyebab penumpukan plak dalam arteri. Plak tersebut terbuat dari kolesterol dan jaringan parut, kemudian menyumbat dan menyempitkan pembuluh darah. Hal ini memicu nyeri dada, kelemahan dan serangan jantung atau stroke. Plak dapat pecah daln menyebabkan bekuan yang menghalangi Selain menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan merokok dengan kejadian Tuberkulosis paru-paru. agi bukan perokok, hal yang harus dilakukan untuk menghindari dampak asap rokok adalah jangan pernah mendekati orang yang sedang merokok sehingga turut menghisap asapnya. Ketika seseorang menghirup asap rokok, maka trombosit akan lengket dan membentuk gumpalan, seperti orang yang merokok. Menghabiskan waktu di ruang yang penuh asap rokok akan memicu Teori yang terkait hipotesa ini merokok adalah salah satu penyebab penumpukan plak dalam Plak tersebut terbuat dari kolesterol dan jaringan parut, kemudian menyumbat dan menyempitkan pembuluh darah. Hal ini memicu nyeri dada, kelemahan dan serangan jantung atau stroke. Plak dapat pecah daln menyebabkan bekuan yang Selain tersebut, menyebutkan bahw terdapat kebiasaan merokok dengan kejadian Tuberkulosis paru-paru. perokok, hal yang harus dilakukan untuk menghindari dampak asap rokok adalah merokok atau mendekati orang yang menghisap asapnya. Ketika seseorang menghirup asap rokok, maka trombosit akan lengket dan membentuk gumpalan. Menghabiskan waktu di ruang yang penuh asap rokok akan memicu serangan Merokok bukanlah satu-satunya penyebab masalah ini, namun dengan merokok masalah akan menjadi lebih Merokok bukanlah satu-satunya penyebab masalah ini, namun dengan merokok masalah akan menjadi lebih buruk. Sedangkan bagi perokok aktif, yang harus dilakukan adalah segera berhenti merokok untuk Sudah tertera dalam setiap iklan maupun bungkus rokok bahwa merokok dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan, seperti kanker dan impotensi, namun masih banyak penggemar dari rokok ini. Berbagai alasan dikemukakan merokok, seperti dampak buruk dari merokok tidak dirasakan. Para perokok kesehatannya karena tidak merasakan apa- apa, yang tidak diketahui para perokok adalah organ di dalam tubuh mereka lah yang mengalami pernurunan fungsi akibat merokok, seperti paru-paru dan kerja jantung (Wibowo, 2. Hasil penelitian ini serupa dengan hasil penelitian adalah (Ghanbarnejad et al. (Gyncan (Herlambang et al. , 2. , (Aly, 2. Analisa peneliti berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan penggunaan tembakau/merokok sebagai salah satu factor risiko utama PTM dengan risiko kematian tinggi. P value 0,0003 OR 2,1 dengan perilaku merokok remaja usia SMA dikarenakan sebagai remaja yang mulai merokok pada usia dini cenderung mengembangkan kecanduan nikotin yang lebih parah, daripada dengan orang yang Jika sudah kecanduan, akan sangat sulit untuk menghentikannya, dan akibatnya bisa mengalami mood swing apabila tidak Prokok lebih sering terserang penyakit pernapasan seperti pilek, flu, bronkitis, dan pneumonia, lama-kelamaan penyakit tersebut dapat mengarah pada Remaja yang sudah kecanduan rokok biasanya cenderung mengabaikan waktu makan dan lebih memilih merokok. Alhasil mereka bisa kekurangan nutrisi untuk tumbuh, berkembang, dan melawan penyakit dengan baik. Semakin dini remaja menjadi perokok aktif, dan hingga dewasa, maka semakin besar pula Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 219-228 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Persepsi Individu dengan PerilakuA. (Bagus Perdana Kusuma Zain. Lolita Sary, dk. risiko mereka terkena penyakit paru obstruktif kronik. Solusi yang dapat peneliti tawarkan kesehatan, deteksi dini faktor risiko disekolah dan menganjurkan remaja untuk memanfaatkan posbindu PTM harapannya sesuai hasil analisa statistik di lokasi penelitian remaja yang merasa rentan akan dampak bahaya rokok berpeluang untuk tidak merokok sebanyak 2 kali dibandingkan remaja yang tidak merasa rentan. Hubungan Persepsi Keparahan Penyakit Akibat Tetap Merokok Terhadap Perilaku Merokok Berdasarkan pengujian bivariat penyakit akibat tetap merokok memiliki hubungan signifikan terhadap perilaku Teori yang terkait hipotesa ini adalah persepsi keparahan terhadap penyakit sering didasarkan pada informasi atau pengetahuan pengobatan, mungkin juga berasal dari kepercayaan terhadap orang yang memiliki kesulitan tentang penyakit yang diderita atau dampak dari penyakit terhadap kehidupannya (McC ormickBrown, (Rachmawati, 2. , (Priyoto, 2. Hasil penelitian ini serupa dengan hasil penelitian (Ghanbarnejad et al. , 2. (Gyncan et al. , 2. , (Herlambang et al. , (Aly, 2. Analisa peneliti berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan, efek pajanan rokok pada remaja yang mungkin muncul gangguan kecerdasan dan kemampuan paru-paru mudah terinfeksi penyakit . eningitis, pneumonia, bronchitis, asm. , sulit kekebalan tubuh menurun. gangguan kulit dan plak gigi, tampak lebih kecanduan hingga timbul perilaku negatif, seperti perilaku agresif. Remaja yang mulai merokok di bawah usia 15 tahun memiliki kemungkinan 4 kali lebih besar untuk mengembangkan kanker paru-paru dibandingkan mereka yang mulai pada usia 25 atau lebih. Hubungan Persepsi Manfaat Merokok Terhadap Perilaku Merokok Berdasarkan pengujian bivariat menunjukkan persepsi manfaat merokok memiliki hubungan signifikan terhadap perilaku merokok. Teori yang terkait hipotesa ini adalah Perceived benefit terdiri dari manfaat medis dan psikososial kesehatan (Abraham & Sheere. dalam (Conner & Norman, 2. Persepsi yang tidak terkait kesehatan lainnya, seperti tabungan finansial yang akan didapat jika dengan berhenti merokok atau berhenti merokok akan meningkatkan derajat kesehatan keluarga sehingga dapat juga merokok (Glanz et al, 2. Hasil penelitian ini serupa dengan hasil penelitian(Ghanbarnejad et al. , 2. (Gyncan et al. , 2. , (Herlambang et al. , (Aly, 2. Analisa peneliti berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan manfaat berhenti merokok antara lain remaja terhindar dari faktor risiko penyakit, hemat karena pembelian rokok dapat membeli kebutuhan akademis siswa seperti membayar biaya les, eskul atau mengikuti klub olahraga. Solusi yang peneliti tawarkan adalah mengedukasi siswa melalui media visual, audio, audio visual sebelum memulai pelajaran tentang manfaat berhenti merokok ada 20 menit pertama, manfaatnya adalah tekanan darah, denyut jantung dan aliran darah tepi pada seseorang akan membaik. Untuk 12 jam berikutnya, hampir semua nikotin dalam tubuh sudah dimetabolisme dan tingkat CO di dalam darah kembali normal. Sampai 48 jam nikotin mulai tereliminasi dari tubuh. tidak hanya itu. Fungsi pengecap dan penciuman mulai membaik serta sistem kardiovaskular meningkat. Pada sebagian besar metabolit nikotin dalam tubuh sudah hilang. Selain itu, fungsi pengecap dan pembau jauh lebih baik serta sistem kardiovaskular juga terus mengalami peningkatan yang baik. Periode dua sampai dengan enam minggu setelahnya, pembedahan berkurang secara bermakna. Fungsi silia saluran nafas dan fungsi paru pun akan membaik, serta nafas pendek Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 219-228 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Persepsi Individu dengan PerilakuA. (Bagus Perdana Kusuma Zain. Lolita Sary, dk. dan batuk-batuk akan berkurang. Periode tahun setelah berhenti merokok, risiko setengahnya dibandingkan orang yang tetap merokok. Setelah lima berhenti merokok, risiko stroke menurun pada level yang sama seperti orang yang tidak pernah merokok. Jika sepuluh tahun berhenti merokok semua penyebab mortalitas dan risiko penyakit jantung koroner menurun pada level yang sama seperti orang yang tidak pernah merokok. Berhenti merokok menurunkan risiko remaja glowing tanpa rokok, membuat lebih produktif dan dapat mengurangi kemiskinan pada keluarga pra-sejahtera. Hubungan Persepsi Hambatan Merokok Terhadap Perilaku Merokok Berdasarkan pengujian bivariat merokok memiliki hubungan signifikan terhadap perilaku merokok. Teori yang terkait hipotesa ini adalah komponen hambatan terdiri atas hambatan praktis untuk melakukan perilaku . isal waktu, biaya, ketersediaan, transportasi, waktu tunggu, biaya psikologis terkait untuk melakukan perilaku tersebut, rasa sakit, rasa malu yang ditimbulkan, ancaman terhadap kesejahteraan hidup, gaya hidup dan mata pencaharian (Abraham & Sheeren dalam Conner & Norman, 2. Analisis biaya-manfaat dilakukan individu dalam menimbang manfaat tindakan yang diharapkan dengan hambatan yang Misalnya dilakukan individu adalah melakukan upaya mengelola penyakit bisa membantu saya untuk hidup lebih sehat, tapi mungkin saja mahal . arena melakukan anjura. , memiliki efek samping negatif . arena harus berhenti merokok dianggap dapat menyebabkan kegemuka. , tidak menyenangkan, tidak nyaman,. Dengan demikian, gabungan tingkat kerentanan dan tingkat keparahan menyediakan energi atau kekuatan untuk bertindak dan persepsi manfaat . inus hambata. memberikan jalan tindakan yang disukai (Glanz et al, 2. Hasil penelitian ini (Ghanbarnejad et al. , 2. , (Herlambang et al. , 2. , (Aly, 2. Analisa peneliti berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan adanya hambatan anak remaja untuk membeli rokok adalah uang jajan tidak mencukupi, merasa belum cukup dewasa, merasa adanya larangan merokok di sekolah, adanya hukuman jika ketauan dan sering ada razia. Solusi yang peneliti tawarkan adalah hendaknya sekolah mengadakan razia secara periodic dan rahasia, dilanjutkan dengan dibantu oleh membimbing anaknya ketika dirumah. Melakukan branding sekolah/deklarasi sekolah tanpa asap rokok dan sekolah ramah anak dan terus melakukan edukasi ke siswa bahwa siswa lulus dan dan memasuki dunia kampus/dunia kerja, mereka akan terkendala dengan hasil Universitas/perusahaan akan mencari karyawan dengan hasil medical chek-up Bagi siswa yang merokok, mereka tidak memenuhi syarat kesehatan sesuai kriteria perusahaan. Pencegahan dapat dilakukan dengan pendekatan terhadap siswa secara perlahan-lahan. Secara tidak langsung hal ini akan membuat ikatan emosional antara siswa, keluarga, dan Mengenali pertemanan anak juga menjadi salah satu faktor utama untuk memperhatikan tingkah laku siswa. Siswa yang tidak dekat secara emosional dengan keluarga akan dengan teman-teman sebaya dan teman satu tongkrongan. Apabila terdapat siswa yang melakukan pelanggaran ketentuan larangan merokok, pencatatan poin pelanggaran siswa dan sanksi akan diberikan sehingga membuat siswa jera. Orang tua atau wali akan dipanggil untuk memberikan peringatan kepada siswa. Terjalinya kerja sama antara guru dan orang tua untuk membina siswa agar lebih terarah dan mengurangi pelanggaran larangan merokok di kalangan siswa. Peraturan larangan merokok tentu tidak hanya untuk siswa, tetapi berlaku untuk semua yang ada di lingkungan sekolah, menciptakan sosok role model perilaku Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 219-228 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Persepsi Individu dengan PerilakuA. (Bagus Perdana Kusuma Zain. Lolita Sary, dk. Hubungan Persepsi Keyakinan Diri untuk Merokok (Self Efficac. Terkait Budaya Terhadap Perilaku Merokok Berdasarkan pengujian bivariat menunjukkan persepsi keyakinan diri untuk merokok . elf efficac. terkait budaya memiliki hubungan signifikan terhadap perilaku merokok. Teori yang terkait hipotesa ini adalah keyakinan seseorang akan kemampuannya yang akan memengaruhinya dalam bereaksi terhadap situasi dan kondisi tertentu. Schultz . dalam (Lianto, 2. kemampuan dalam mengatasi berbagai masalah kehidupan. Self-efficacy merujuk kemampuannya dalam melaksanakan suatu tugas secara berhasil (Ivancevich. Konopaske, dan Matteson, 2007. McShane dan Von Glinow, 2. dalam (Lianto. Efikasi diri sebagai kepercayaan akan kemampuan diri. Individu yang mengenai kemampuannya akan lebih optimis dan berupaya keras melibatkan diri dengan organisasi daripada individu Lebih jauh, individu yang memiliki self-efficacy Sementara individu dengan self-efficacy rendah cenderung mengurangi upaya ketika mendapat umpan balik negative (Bandura dan Cervone, 1. dalam (Lianto, 2. Hasil penelitian ini serupa dengan hasil penelitian (Ghanbarnejad et , 2. , (Gyncan et al. , 2. (Herlambang et al. , 2. , (Aly, 2. Analisa peneliti berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan self-efficacy pada remaja adalah bergantung pada situasi/pengalaman terkait dengan rokok, khususnya keluarga inti yang perokok, sejak dini dikenalkan dengan rokok, sehingga secara tidak sadar menganggap rokok bukan barang berbahaya. menormalisasi merokok di tempat umum. Solusi yang peneliti tawarkan adalah melakukan komitmen pada keluarga untuk tidak menormalisasi rokok di rumah, menyuruh anak membeli rokok ataupun memberikan kemudahan akses anak terhadap rokok misalnya membeli dengan satuan. Perlunya penggerakan masyarakat untuk mencegah perokok pemula karena semakin muda seseorang merokok, tingkat adiksi rokok akan semakin tinggi, sehingga sulit bagi anak berhenti merokok. Kecanduan ini akan kehidupan sosial ekonomi, salah satunya keluarga, pengeluaran yang terbesar mengalahkan makanan bernutrisi. Variabel yang paling berhubungan dengan perilaku merokok Berdasarkan pengujian multivariat menunjukkan bahwa variabel persepsi hambatan merokok memiliki hubungan signifikan terhadap perilaku merokok. Berdasarkan independen urutan pertama yang memiliki hubungan dominan terhadap perilaku merokok dengan nilai Exp(B)/Odd Ratio paling tinggi yaitu sebesar 14. Variabel persepsi keparahan penyakit jika tetap merokok berdasarkan pengujian hubungan signifikan terhadap perilaku Variabel ini merupakan variabel independen kedua memiliki hubungan paling dominan terhadap peilaku merokok dengan nilai Exp(B)/Odd Ratio sebesar Variabel persepsi keyakinan diri untuk merokok . elf efficac. terkait budaya merokok berdasarkan pengujian hubungan signifikan terhadap perilaku Variabel ini merupakan variabel hubungan paling dominan terhadap peilaku merokok dengan nilai Exp(B)/Odd Ratio sebesar 5. Variabel persepsi kerentanan terkena penyakit akibat Variabel dengan nilai Exp(B)/Odd Ratio sebesar Sedangkan, variabel persepsi manfaat merokok berdasarkan pengujian multivariat tidak memiliki hubungan terhadap perilaku merokok. Analisa peneliti berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan HBM adalah perubahan dan pemeliharaan perilaku Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 219-228 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Persepsi Individu dengan PerilakuA. (Bagus Perdana Kusuma Zain. Lolita Sary, dk. yang berhubungan dengan kesehatan serta kerangka kerja untuk intervensi perilaku kesehatan. Unsur lain dari HBM adalah masalah hambatan yang dirasakan untuk melakukan perubahan. Hal ini berhubungan dengan proses evaluasi individu sendiri atas hambatan yang dihadapi untuk mengadopsi perilaku baru. Persepsi tentang hambatan yang akan dirasakan merupakan unsur yang sangat signifikan dalam menentukan apakah terjadi perubahan perilaku atau tidak. Berkaitan dengan perilaku baru yang akan diadopsi, seseorang harus percaya bahwa manfaat dari perilaku baru harus lebih besar daripada konsekuensi melanjutkan perilaku lama. Solusi yang peneliti tawarkan mengingat remaja yang mulai merokok di kemungkinan 4 kali lebih besar untuk paru-paru dibandingkan mereka yang mulai pada usia 25 atau lebih hendaknya sekolah bekerja sama dengan Puskesmas wilayah kerja untuk melaksanakan pemeriksaan kadar Co pada siswa secara periodic. Mengingat salah satu kelemahan CO Analyzer memang demikian, apabila merokok terakhir dilakukan > 24 jam, maka tidak akan didapatkan kadar CO yang tinggi. Alat tersebut hanya dapat mendeteksi bagi yang merokok < 24 jam skrining kadar dilakukan secara mendadak dan rahasia Bagi yang ditemukan kadar CO tinggi, dirujuk ke Unit Berhenti Merokok di Puskesmas terdekat. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian tentang remaja usia SMA di Kabupaten (EX) Provinsi Lampung dapat disimpulkan value=0,09 OR=0,. , penyakit . value=0,019 OR=8,. , . value=0,003 OR=14. , persepsi keyakinan diri . value=0,005 OR=5. dengan perilaku Tidak manfaat . value=0. SARAN