JURNAL AWILARAS ISSN: 2407-6627 E-ISSN 2988-4098 Beranda Jurnal: https://jurnal. id/index. php/awilaras/index Desember 2023 Volume 10 Nomor 2 PEMBELAJARAN TEMBANG Sunda CIANJURAN GAYA ELIS ROSLIANI DI SMKN 10 BANDUNG Rizvi Ayazi Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya E-mail: Ayazi. rzv@gmail. ABSTRAK Penelitian berjudul AuPembelajaran Tembang Sunda Cianjuran Gaya Elis Rosliani Di SMKN 10 BandungAy dimaksudkan untuk mengetahui tentang tahapan pembelajaran yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi Penelitian ini dilaksanakan di Jurusan Karawitan SMKN 10 Bandung yang didasarkan kepada alasan bahwa SMKN 10 Bandung sebagai sekolah dalam bidang seni banyak menghasilkan lulusan profesional dalam bidang karawitan termasuk Tembang Sunda Cianjuran. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Adapun berdasarkan hasil temuan selama proses pembelajaran di SMKN 10 Bandung, pembelajaran yang dilakukan oleh Elis Rosliani sebagai pengajar Tembang Sunda Cianjuran pada dasarnya menitikberatkan pada pembelajaran secara oral sesuai dengan bahan ajar yang didalamnya membahas soal berbagai teknik dalam Tembang Sunda Cianjuran khususnya Dongkari. Proses pembelajaran setiap lagu Tembang Sunda Cianjuran dilakukan Elis Rosliani secara perlahan pada setiap baris dan terus berulang hingga para siswa memahami dan dapat mengikutinya. Hal ini lah yang membuat proses pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran oleh Elis Rosliani berjalan dengan efektif dan sesuai dengan capaian ataupun tujuan Namun demikian, keberhasilan pengajaran Tembang Sunda Cianjuran di SMKN 10 Bandung juga ditunjang oleh potensi mumpuni para siswa sehingga para peserta didik di SMKN 10 Bandung dapat menjadi lulusan yang memiliki keterampilan dan berkualitas. Kata kunci: Elis Rosliani. Pembelajaran. Tembang Sunda Cianjuran. SMKN 10 Bandung. ABSTRACT The research entitled AuLearningCianjuran Sundanese songGaya Elis Rosliani Di SMKN 10 Bandung" is meant to know about the stages of learning that include planning. Jurnal Awilaras | 112 implementation, and evaluation of learning. This research was conducted in the Karawitan Department of SMKN 10 Bandung which is based on the reason that SMKN 10 Bandung as a school in the field of art produces many professional graduates in the field of karatin including Cianjuran Sundanese song. The data collection process was carried out using observation, interviews and documentation studies. Based on the findings during the learning process at SMKN 10 Bandung, the learning carried out by Elis Rosliani as a teacher of Sunda Cianjuran Tembang basically focuses on oral learning in accordance with the teaching materials which discuss various techniques in Cianjuran Sunda Tembang, especially Dongkari. Elis Rosliani carried out the learning process for each song of the Sundanese Tembang Cianjuran slowly for each line and kept repeating it until the students understood and could follow it. This is what makes the learning process of the Sundanese song Cianjuran by Elis Rosliani run effectively and in accordance with the learning achievements or objectives. However, the success of teaching Sundanese Tembang Cianjuran at SMKN 10 Bandung is also supported by the potential of the students so that students at SMKN 10 Bandung can become graduates who have skills and quality. Keywords : Elis Rosliani. Learning. Cianjuran Sundanese Song. SMKN 10 Bandung. PENDAHULUAN Kesenian daerah adalah unsur kesenian yang menjadi bagian hidup masyarakat dalam suatu kaum/suku/bangsa tertentu. Sehingga seni yang dilahirkan akan mencerminkan kondisi suatu daerah berdasarkan dari kebiasaan hidup masyarakat daerah tersebut. Seperti halnya kesenian karawitan Sunda banyak memiliki keberagaman. Faktor lingkungan masyarakat di daerah Sunda yang berbeda-beda, menjadikan karawitan Sunda memiliki banyak sekali keragaman, baik secara penyajian, isi materi, fungsi, dan lain sebagainya. Jika dilihat dari segi pertunjukannya, karawitan Sunda dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu karawitan sekar, karawitan gending, karawitan sekar gending. Tembang Sunda Cianjuran adalah salah satu seni vokal tradisi yang terlahir di Cianjur. Generasi muda saat ini kurang memperhatikan budaya lokal sendiri terutama pada mamaos yaitu tembang Sunda Cianjuran. Generasi muda saat ini lebih gemar lagu-lagu popular sedangkan lagu-lagu Tembang Sunda Cianjuran ini sudah jarang dikenal. Dalam perkembangannya seni Tembang Sunda Cianjuran tidak dilalui dengan mulus, dalam prosesnya banyak sekali dinamika yang harus Jurnal Awilaras | 113 dihadapi. Gempuran budaya asing yang tak terbendung berpengaruh terhadap kurangnya minat dan ketertarikan dikalangan remaja sehingga semakin kurang dalam perkembangan dan pelestarian seni tersebut. Walaupun begitu eksistensi Tembang Sunda Cianjuran ini masih bisa dipertahankan. Efektivitas pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran di SMKN 10 Bandung pada dasarnya siswa/I kurang dalam pemahaman Tembang Sunda Cianjuran, akan tetapi dalam pengelolaan pembelajaran dibagi beberapa kejuruan bisa disebut dengan spesialisasi mata pelajaran. Disini peneliti melakukan penelitian khusus pada spesialisasi mata pelajaran Tembang Sunda Cianjuran. Pendidik atau pengajar vokal Tembang Sunda Cianjuran di SMKN 10 Bandung yaitu Elis Rosliani. Elis Rosliani merupakan sosok yang kukuh dan konsisten menekuni Tembang Sunda Cianjuran sekaligus pendidik di SMKN 10 Bandung. Adapun efektivitas pembelajaran yang dilakukan oleh Elis Rosliani dalam pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran. Di SMKN 10 Bandung Elis Rosliani memiliki kreativitas dengan kontribusi penemuan dongkari yang mempermudah dalam pembelajaran untuk menambah wawasan dan pengetahuan siswa/I di SMKN 10 Bandung. Pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran gaya Elis Rosliani belum banyak Maka dari itu peneliti tertarik akan penelitian ini. Faktor keturunan bukanlah hal utama bagi Elis Rosliani dalam menekuni Tembang Sunda Cianjuran, melainkan lingkungan dan ketekunan Elis sendiri. Kiprah Elis sebagai penembang yang tekun dan menonjol telah membawa Elis pada kiprah yang lebih luas dalam kesenian Sunda, seperti menjadi pemain peran dalam drama swara, guru dan pelatih tembang, menjadi juri, masuk dunia rekaman, dan lain-lain. Kreativitas Elis Rosliani dalam dunia Tembang Sunda Cianjuran adalah penemuan sistem dongkari yang memberi kontribusi penting dalam pengajaran Tembang Sunda Cianjuran sehingga membuatnya lebih mudah dipelajari. (Sumarni, 2018 ). Objek yang akan diteliti mengenai Tembang Sunda Cianjuran gaya Elis Rosliani karena ada ketertarikan khusus dalam mengulas pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran gaya Elis Rosliani di SMKN 10 Bandung. Jurnal Awilaras | 114 Ketertarikan dalam mengangkat sosok Elis Rosliani dalam tulisan ini karena sosoknya yang memang kukuh dan konsisten dalam menggeluti Tembang Sunda Cianjuran sejak beliau kanak-kanak hingga sekarang. Gaya vokal Elis Rosliani dalam Tembang Sunda Cianjuran menjadi fenomena yang menarik untuk digali lebih dalam. Selain itu. Elis Rosliani juga berkontribusi dalam bidang Pendidikan yaitu perihal penemuan dongkari untuk pembelajaran vokal Tembang Sunda Cianjuran di SMKN 10 Bandung. Hasil dari penelitian Pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran Gaya Elis Rosliani di SMKN 10 Bandung ini dapat dijadikan sebagai media pembelajaran, manuskrip dan pengembangan ilmu pengetahuan mengenai Tembang Sunda Cianjuran. METODE Menurut Sugiyono . 8, . metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat yang digunakan untuk meneliti pada kondisi ilmiah . dimana peneliti sebagai instrumen, teknik pengumpulan data dan dianalisis yang bersifat kualitatif lebih menekan pada Proses penelitian kualitatif ini melibatkan upaya-upaya penting seperti: mengajukan pertanyaan, menyusun prosedur, mengumpulkan data yang spesifik dari para informan atau partisipan. Menganalisis data secara induktif, mereduksi, memverifikasi, dan menafsirkan atau menangkap makna dari konteks masalah yang diteliti. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk memahami kondisi suatu konteks dengan mengarahkan pada pendeskripsian secara rinci dan mendalam mengenai potret kondisi dalam suatu konteks yang alami . atural settin. , tentang apa yang sebenarnya terjadi menurut apa adanya di lapangan studi. Jenis dan Desain Penelitian Sebuah penelitian memiliki sejumlah kegunaan tergantung pada tujuan mengapa penelitian dilakukan, serta bagaimana peneliti dalam mengumpulkan Jurnal Awilaras | 115 dan menganalisis informasi data logis. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Penelitian ini juga dapat disebut penelitian alamiah karena dalam bentuk penelitian, peneliti tidak memanipulasi parameter, kondisi, dan subjek penelitian berdasarkan fakta ilmiah, komunitas, dan interaksi. Peneliti merupakan instrumen utama dalam penelitian, karena peneliti tidak hanya melakukan penelitian, tetapi juga secara langsung ikut serta pada penelitian, mengamati dan menganalisis fenomena yang terjadi, kemudian menyelesaikan kesimpulan dalam penelitian tersebut. Moleong . menyatakan bahwa: Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena tentang apa yang dilakukan subjek penelitian, misalnya perilaku, pengamatan, motivasi, tindakan, dan sebagainya secara komprehensif dan deskriptif dari segi kata dan bahasa dalam konteks ilmiah tertentu dengan menggunakan metode ilmiah. Metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif digunakan untuk menggambarkan keadaan sementara pada saat penelitian berlangsung kemudian dianalisis. Analisis yaitu menafsirkan berbagai gejala yang terjadi pada saat penelitian atau menyusun fakta untuk kemudian dapat menarik Dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis, peneliti terjun langsung ke lapangan dengan maksud untuk mendeskripsikan berbagai masalah yang ditemui dilapangan menggunakan data-data yang diperoleh dan sedang terjadi pada masa sekarang, untuk kemudian menyusun hasil penelitian dan mengambil kesimpulan. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Studi dokumen/teks . ocument studie. Jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia berarti teknik studi dokumentasi adalah suatu metode pengumpulan data dimana si peneliti mengumpulkan dan mempelajari data atau informasi yang diperlukan melalui dokumen-dokumen penting yang tersimpan, (Zaldafrial 2012, . Peneliti akan terjun langsung kelapangan melihat objek Jurnal Awilaras | 116 secara nyata. Melalui pendekatan metode kualitatif ini, peneliti berusaha mendeskripsikan pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran yang ada di SMKN 10 Bandung. HASIL DAN PEMBAHASAN Lokasi Penelitian SMK Negeri 10 Bandung merupakan Sekolah menengah kejuruan negeri rumpun Seni pertunjukan pertama di Jawa Barat. Saat ini menjadi Sekolah menengah kejuruan Bidang Seni dan Industri kreatif yang terletak di Kota Bandung. SMK Negeri 10 Bandung berdiri diatas lahan tanah seluas 50. 000 mA. Yang dijadikan sebagai titimangsa pendirian KOKAR Bandung, adalah tanggal 1 Oktober 1958, saat untuk pertama kalinya pemindahan jurusan Sunda pada KOKAR Surakarta ke Bandung. Selama lima tahun KOKAR Bandung masih merupakan cabang dari KOKAR Surakarta. Ide pemisahan dikemukakan pada Konferensi Cipayung tahun 1962 dan setelah Rapat Kerja antar KOKAR di Surakarta tahun 1963 secara resmi KOKAR Bandung mulai mandiri. Pada saat-saat masih merupakan cabang KOKAR Surakarta. Kurikulum yang digunakan adalah sebagaimana yang ditetapkan dalam SK Menteri pK tanggal 21 Desember 1956 No: 99883/S adalah penekanan pada pendalaman Karawitan Sunda dan Bahasa Sunda. Pimpinan pada periode ini adalah Daeng Sutigna yang pada akhirnya terkenal dengan Bapak Angklung Indonesia Tahun 1964 pergantian pimpinan dari Daeng Sutigna kepada R. Tatang Sastrahadiprawira sampai dengan tahun 1965 dan mulai tahun 1966 bersamaan dengan lahirnya Orde baru pucuk pimpinan dipegang oleh Mang Koko. Tahun 1964/1965 digunakan Kurikulum yang telah diperbaiki, kurikulum ini berisi 29 mata pelajaran yang terbagi atas kelompok pokok, penting, pelengkap dan fakultatif, adapun mata pelajarannya adalah : Teori Karawitan. Teori Menabuh. Titi Laras. Rebab. Gambang. Kacapi. Suling. Gender. Gamelan Sunda. Gamelan Degung. Gamelan Jawa. Gamelan Bali. Tembang. Kawih. Tari. Jurnal Awilaras | 117 Padalangan. Ilmu Akustik. Pengetahuan Alat Bahan. Musik. Ilmu Pendidikan. Bahasa Indonesia. Bahasa Sunda. Bahasa Kawi. Bahasa Inggris. Sejarah Kesusastraan. Sejarah Kebudayaan. Tata Negara. Agama. Olah Raga. Lama pendidikan adalah tiga tahun dan para siswanya dipersiapkan menjadi Guru Karawitan. Musik Angklung KOKAR Bandung ikut pula mengharumkan nama KOKAR, karyanya masuk dunia rekaman di Jakarta, dilibatkan dalam pembuatan film History of Angklung yang diproduksi oleh pemerintah Australia Akhir tahun 1972. Koko Koswara pensiun, kemudian H. Yaya Sukarya menggantikannya. Seiring dengan pergantian pimpinan, maka nama KOKAR berubah menjadi SMKI sesuai dengan SK Menteri PDK No:005/O/1974 dan diikuti dengan perubahan Kurikulum yang ditetapkan dengan SK Menteri PDK No: 0294/U/1976 tanggal 9 Desember 1976 dan lama pendidikan menjadi 4 tahun. SMKI yang pada mulanya hanya satu jurusan mulai bertahap membuka jurusan Tari pada tahun 1975 dan jurusan Padalangan pada tahun 1977. Tanggal 8 Juni 1987. SMKI harus menempati bangunan di Komplek Sekolah Menengah Kesenian dan Industri Kerajinan, yang pada saat itu belum selesai, beralamat di Kampung Beberut Cijawura. Desa/Kecamatan Buahbatu. Kabupaten Bandung. Sekarang SMKI berubah menjadi SMKN 10 Bandung. Sistem Pembelajaran yang digunakan di SMK Negeri 10 Bandung adalah Sistem Moving Class, yaitu sistem dimana siswa tidak berada di dalam satu kelas yang sama ketika pembelajaran, tetapi berpindah-pindah sesuai Mata Pelajaran yang diikuti siswa seperti halnya mahasiswa di Perguruan Tinggi termasuk untuk Mata Pelajaran Normatif dan Adaptif. Dalam jurusan seni karawitan pada pembelajarannya berjenjang, di kelas X mempelajari semua dasar Ae dasar pembelajaran instrumen/vokal seperti alat petik, alat gesek, alat pukul, vokal, gamelan . husus dalam seni karawitan. Selanjutnya di kelas XI peserta didik lebih fokus dan diwajibkan memilih salah satu yang diminati oleh peserta didik yang dinamakan spesialisasi contohnya Jurnal Awilaras | 118 peserta didik memilih spesialisasi Vokal tembang Sunda cianjuran, pada saat itu juga setelah memilih spesialisasi setiap peserta didik lebih mempelajari spesialisasi tersebut dan tidak mempelajari lagi semua instrumen/vokal sera tentunya ada ujian praktik setiap semester yang dinamakan UJI LEVELING. Pada saat kelas XII juga masih sama lebih fokus ke spesialisasi sampai ujian yang dinamakan UJI KOMPETENSI. Saat ini Guru Vokal Seni Karawitan SMKN 10 Bandung terdapat tiga orang yaitu Elis Rosliani . Asep Supriadi . Sony Riza Windyagiri . Pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran di SMKN 10 Bandung dipelajari dalam mata pelajaran Seni Karawitan dimana pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran ini diajarkan pada kelas XI dan kelas XII. Pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran ini dirancang dan disusun oleh Guru Seni Karawitan yaitu Ibu Elis Rosliani yang menjadi salah satu materi dari pelajaran Seni karawitan yang disesuaikan berdasarkan dengan kurikulum yang digunakan di SMKN 10 Bandung yang berlangsung selama empat kali pertemuan dan setiap minggu hanya dengan waktu enam jam pelajaran. Menurut pandangan peneliti, pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran dalam mata pelajaran Seni Karawitan ini sangat menarik. Dalam pelaksanaanya materi yang diajarkan dalam pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran ini yaitu mempelajari ornamentasi Tembang Sunda Cianjuran yang dibuat sendiri oleh guru Seni Karawitan yakni Elis Rosliani dengan disesuaikan dengan kemampuan siswa tanpa mengurangi kualitas pembelajaran dengan metode tersendiri dan dibuat menjadi metode pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran di SMKN 10 Bandung. Pada umumnya, kurikulum yang digunakan di SMKN 10 Bandung ini adalah kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka. Pada kurikulum tentunya ini memiliki tiga aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, dan aspek sikap serta perilaku. Pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran ini pada dasarnya merupakan interpretasi guru dalam menerapkan kurikulum Jurnal Awilaras | 119 karena dalam kurikulum ini siswa harus mencapai kompetensi inti yang menjadi tolak ukur kelulusan setiap jenjang. Seperti yang dikatakan oleh Ibu Elis Rosliani : AuPembelajaran Tembang Sunda Cianjuran dengan menggunakan ornamentasi dengan bentuk dongkari ini sejak awal dirancang memang untuk menciptakan sistem belajar yang aktif, memudahkan dimana para siswa aktif mencoba dan berlatih untuk mencapai kompetensi, kan itu sudah sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Au. awancara Agustus Terdapat beberapa komponen dalam modul ini diantaranya Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, dimana dengan begitu peserta didik memiliki acuan dan mengerti dengan apa yang akan dilakukan dalam pembelajaran, selanjutnya Tujuan Pembelajaran, dengan dijelaskan tujuan pembelajaran dalam modul peserta didik menjadi tahu dengan lebih jelas tentang hasil dari pembelajaran vokal Tembang Sunda Cianjuran, kemudian Materi Pembelajaran dan Uraian Materi. Materi yang ditulis dalam modul ini berupa materi-materi tentang pembelajaran vokal Tembang Sunda Cianjuran yang akan membantu peserta didik dalam pembelajaran di mana materi ini mengacu pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang ada pada modul seperti pengertian Tembang Sunda Cianjuran, fungsi tembang Sunda cianjuran, serta teknik mempraktikan bernyanyi tembang Sunda cianjuran dan ornamentasi bentuk dongkari yang memudahkan peserta didik mudah Dibawah ini adalah komponen yang disusun dalam modul pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran : Kompetensi Dasar . Memahami pengertian dan alat musik dalam Tembang Sunda Cianjuran. Mempraktikan bernyanyi Tembang Sunda Cianjuran. Tujuan Pembelajaran Jurnal Awilaras | 120 . Siswa mampu menerapkan ornamentasi ke dalam lagu . Siswa mampu menyanyikan Tembang Sunda Cianjuran dengan baik dan proporsional Materi Pembelajaran Adapun materi pokok yang memuat pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran ini adalah sebagai berikut : Menentukan jenis dan fungsi vokal non ritmis dalam karawitan . Menganalisis struktur vokal non ritmis dalam karawitan . Menganalisis laras/nada dan titi nada pada lagu . Memodifikasi dan membuat motif lagu vokal non ritmis . Mengadaptasi dan merumuskan tata irama sajian vokal non ritmis Uraian Materi Uraian materi dalam modul pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran ini meliputi penjelasan dari poin-poin yang ada dalam materi pembelajaran yang berfungsi sebagai acuan materi bagi peserta didik dalam pembelajaran tembang Sunda cianjuran sehingga para peserta didik bisa belajar dan mengamati secara mandiri dari modul ini. Ada beberapa materi yang disusun dan dirancang oleh Ibu Elis Rosliani yakni pengetahuan tentang vokal tembang Sunda cianjuran, pengetahuan tentang vokal Tembang Sunda Cianjuran, fungsi Tembang Sunda Cianjuran, serta teknik mempraktikan bernyanyi lagu Ae lagu Tembang Sunda Cianjuran dan ornamentasi dalam bentuk dongkari yang memudahkan peserta didik mudah mempelajarinya yang dibuat sendiri oleh Ibu Elis Rosliani yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan peserta Wawancara dengan Ibu Elis Rosliani ini mengungkapkan bahwa ornamentasi dalam bentuk dongkari yang dibuat ini merupakan hasil penemuan penting dengan kontribusi yang mana dongkari ini kemudian diadaptasi sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik Jurnal Awilaras | 121 Sekolah Menengah Atas non kejuruan seni untuk mempermudah proses latihan dalam pembelajaran. Biografi Elis Rosliani Gambar 2. Elis Rosliani (Sumber: Dok. Rizvi Ayaz. Elis Rosliani dilahirkan pada tanggal 29 September 1967 di Tasikmalaya. Sekarang ia tinggal di Komplek Bumi Langgeng Blok 49 No. 07 RT 02 RW 22. Desa Cimekar. Kec. Cileunyi Bandung. Pada waktu Elis Rosliani duduk di bangku SD Pengadilan 6 Tasikmalaya. Pada masa itulah beliau pertama belajar Tembang Sunda Cianjuran dalam ajang perlombaan pupuh. Setelah mengetahui Elis mempunyai bakat murni dalam dunia Tembang Sunda Cianjuran, beliau konsisten dan menekuni Tembang Sunda Cianjuran. Elis Rosliani menjuarai Pasanggiri Tembang Sunda DAMAS (Daya Mahasiswa Sund. yang merupakan ajang paling bergengsi di dunia Tembang Sunda Cianjuran. Elis Rosliani memenangkan berturut-turut dari mulai juara 2, harapan 2 sampai juara 1. Tertanamnya kecintaan Elis terhadap Tembang Sunda Cianjuran, dapat dipastikan karena situasi kondisi dalam lingkungan masyarakat yang sangat Ketika Elis Rosliani menginjak di usia remaja, timbul suatu keinginan dalam dirinya untuk menjadi seorang ahli dalam Tembang Sunda Jurnal Awilaras | 122 Cianjuran, khususnya dalam bidang vokal Tembang Sunda Cianjuran. Keinginan tersebut timbul disebabkan oleh beberapa faktor seperti dorongan dari Guru vokal beliau, dan hasil finansial yang diperoleh sebagai panembang. Pada awalnya, beliau belum memperhatikan mengenai masalah finansial karena merasa masih dalam proses belajar dan kesenangan semata terhadap Tembang Sunda Cianjuran. Sikap memperhatikan jumlah uang yang diperolehnya melainkan segala yang diterimanya ia syukuri. Akan tetapi, di setiap acara manggung. Elis pasti mendapatkan uang yang membuat beliau termotivasi untuk meningkatkan kemampuannya dengan terus belajar Tembang Sunda Cianjuran. Seiring dengan bertambahnya keterampilan Elis Rosliani dalam bernyanyi, maka orang lain pun memberikan penghargaan lebih terhadap keterampilannya tersebut. Penghargaan yang didapat oleh Elis Rosliani tidak hanya berbentuk uang saja, akan tetapi, iapun sering mendapatkan penghargaan yang berbentuk piagam. Elis Rosliani sejak kecilnya dapat dikatakan telah memiliki kepekaan musikal yang cukup kuat. Hal tersebut dapat disebabkan karena stimulasi eksternal dari lingkungannya yang sering berkecimpung dalam bidang Hal tersebut terlihat ketika Elis Rosliani mempelajari sendiri dalam mengolah vokal dan teknik vokal dari hasil latihan rutin dengan banyak guru, beliau dapat menemukan teknik dongkari serta dapat menyanyikannya dengan Riwayat Pendidikan beliau di SD Pengadilan 6 Tasikmalaya. SMPN 2 Tasikmalaya. SMAN 1 Tasikmalaya. ASTI (Akademi Sekolah Tari Indonesi. STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesi. Beliau sangat menekuni bidang seni karawitan Tembang Sunda Cianjuran yang mana beliau mulai menekuni bidang ini dari mulai SD sampai sekarang. Faktor yang mendorong Elis dalam menekuni Tembang Sunda Cianjuran, faktor keturunan bukanlah hal utama, melainkan lingkungan dan ketekunan Elis sendiri. Kiprah Elis sebagai penembang yang tekun dan menonjol telah membawa Elis pada kiprah yang lebih luas dalam Jurnal Awilaras | 123 kesenian Sunda, seperti menjadi pemain peran dalam drama swara, guru dan pelatih tembang, menjadi juri, masuk dunia rekaman, dan lain-lain. Dalam dunia Tembang Sunda Cianjuran Elis Rosliani dikatakan sebagai maestro, kontribusi Elis yang paling menonjol adalah penemuan sistem dongkari yang memberi kontribusi peran penting dalam pembelajaran vokal tembang Sunda cianjuran sehingga membuat lebih mudah dipelajari. Pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran Gaya Elis Rosliani Di SMKN 10 Bandung Pembelajaran Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Di dalam interaksi inilah terjadi serangkaian pengalaman Ae pengalaman belajar. (Oemar Hamalik, 2001: . Pembelajaran menurut Agus Suprijono . 1: . diartikan sebagai upaya guru mengorganisir lingkungan dan menyediakan fasilitas belajar bagi peserta didik untuk mempelajarinya. Sedangkan pembelajaran menurut Martinis Yamin dan Bansu I. Ansari . yaitu kemampuan dalam mengelola secara operasional dan efisien terhadap komponenkomponen yang berkaitan dengan pembelajaran, komponen Ae komponen tersebut antara lain guru, siswa, pembina sekolah, sarana prasarana dan proses pembelajaran. Di dalam pembelajaran terjadi proses interaksi antara pendidik dengan peserta didik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Berdasarkan berbagai pendapat di atas yang dimaksud pembelajaran adalah upaya guru dalam mengorganisir komponen Ae komponen pembelajaran bagi peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran sehingga dapat membantu peserta didik belajar dengan baik dan efektif. Jurnal Awilaras | 124 Kegiatan belajar mengajar di SMKN 10 Bandung sangat baik karena didukung dengan sarana prasarana yang menunjang terhadap proses Sehingga pendidik dapat menyampaikan pembelajaran dengan efektif dan peserta didik mampu memahami pembelajaran dengan Saat ini Guru vokal Tembang Sunda Cianjuran di SMKN 10 Bandung adalah Elis Rosliani. Pembelajaran vokal Tembang Sunda Cianjuran di SMKN 10 Bandung dipelajari dalam mata pelajaran Seni Karawitan dimana pembelajaran vokal Tembang Sunda Cianjuran diajarkan pada kelas XI dan XII. Di kelas XI Elis Rosliani memberikan materi tentang dasar vokal Tembang Sunda Cianjuran, sedangkan di kelas XII tentang bagaimana mengimplementasikan dongkari terhadap sebuah lagu. Materi dari pelajaran vokal Tembang Sunda Cianjuran yang disesuaikan berdasarkan dengan kurikulum yang digunakan di SMKN 10 Bandung yang berlangsung selama empat kali pertemuan dan setiap minggu hanya dengan waktu enam jam pelajaran. Berdasarkan penelitian, pembelajaran vokal Tembang Sunda Cianjuran di SMKN 10 Bandung, dalam kegiatan pembelajarannya menggunakan media alat atau instrumen yaitu kacapi, suling dan rebab. Pada pembelajarannya saling berkaitan antara spesialisasi vokal Tembang dan spesialisasi suling dan kacapi tembang. Sehingga materi dasar pembelajaran sudah tersampaikan dan peserta didik sudah mampu dan memahami materi tersebut, maka antara peserta didik vokal tembang dan spesialisasi kacapi maupun suling disatukan. Pada akhir pembelajaran diadakan evaluasi pada ujian akhir semester yang mana ujian tersebut dikemas yang dinamakan ujian levelling. Ujian levelling merupakan sebuah pementasan ketika peserta didik diujikan dalam bentuk pertunjukan dan diberikan sebuah penilaian setiap semester. Dengan alokasi waktu pelajaran yang sangat efisien di SMKN 10 Bandung yaitu enam jam pelajaran dalam satu minggu. Dalam Jurnal Awilaras | 125 pelaksanaannya materi yang diajarkan dalam pembelajaran vokal Tembang Sunda Cianjuran ini yaitu mempelajari dongkari yang dibuat sendiri oleh guru Seni Karawitan dalam bidang Tembang Sunda Cianjuran yaitu Ibu Elis Rosliani dengan disesuaikan dengan kemampuan siswa tanpa mengurangi kualitas pembelajaran dengan metode tersendiri dan dibuat menjadi metode pembelajaran bahan ajar pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran. Gambar 3. Kegiatan belajar mengajar di SMKN 10 Bandung ( Sumber: Dok. Rizvi Ayazi ) Tujuan Pembelajaran Pada tujuan pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran di SMKN 10 Bandung yaitu : Jurnal Awilaras | 126 a. Peserta didik mendapatkan wawasan dan materi mengenai Tembang Sunda Cianjuran. Peserta didik mempelajari materi vokal Tembang Sunda Cianjuran dengan menggunakan dongkari. Peserta didik mampu mengeksplorasi dongkari ke dalam lagu. Peserta didik mampu dengan baik menyanyi tembang Sunda Cianjuran sesuai ketentuannya. Seperti halnya tujuan pembelajaran merupakan upaya perubahan tingkah laku peserta didik yang berlangsung sebagai akibat dari keterlibatannya dalam sebuah pengalaman Pendidikan menurut Chris Kyriacou . 1, . Materi Pembelajaran Materi pembelajaran merupakan salah satu unsur untuk menunjang dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam Tembang Sunda Cianjuran di SMKN 10 Bandung juga tentunya terdapat materi pembelajaran yang sudah ditentukan oleh Ibu Elis Rosliani. Ada beberapa lagu yang diberikan kepada siswa yaitu Bubuka Lagu Wanda Papantunan. Mupu Kembang. Raja Mantri. Bubuka lagu Wanda Jejemplangan. Jemplang Panganten. Jemplang Pamiring. Dangdanggula Degung. Rakitan Degung. Bayubud. Liwung. Udan Mas. Embat-embat. Lampuyangan. Rengganis. Kayu agung. Pada pembelajaran di kelas Ibu Elis Rosliani selalu mengulas materi tentang pengetahuan tembang Sunda cianjuran dan dongkari yang sudah Sebelum mempelajari pada lagu yang diberikan siswa juga diperintahkan untuk menulis lirik atau rumpaka serta notasi lagu yang akan Setelah itu Ibu Elis Rosliani menjelaskan materi yang diberikan secara tersusun, pertama menjelaskan lirik atau rumpaka mulai dari arti kata dan sejarah lagu tersebut. Setelah mempelajari lirik langsung mempelajari notasi lagu dengan metode oral atau ngabeo, setelah siswa Jurnal Awilaras | 127 memahami lirik dan notasi lagu lalu Ibu Elis Rosliani menerapkan dongkari pada lagu tersebut secara bertahap per baris. Di bawah ini contoh dongkari ke dalam lagu : Materi : Lagu Mupu Kembang . anda papantuna. Laras : Degung, surupan 1=T Kelas : XI/3 Alokasi Waktu : 2x Pertemuan Sumber : Dokumen Elis Rosliani Jurnal Awilaras | 128 Jurnal Awilaras | 129 Media Pembelajaran Dalam proses pembelajaran ini media yang digunakan adalah alat musik kacapi indung, kacapi rincik, suling atau rebab. Metode Pembelajaran Metode pembelajaran yang diterapkan Ibu Elis Rosliani Di SMKN 10 Bandung dalam pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran yaitu memakai metode oral transmission/ngabeo. Yang mana siswa-siswi diberikan materi Tembang Sunda Cianjuran khususnya dalam mempelajari dongkari Ibu Elis Rosliani memberikan contoh cara menyuarakan dongkari dengan baik sesuai aturannya. Evaluasi Pembelajaran Dalam evaluasi pembelajaran ini dilaksanakan secara ujian praktik yang dinamakan uji levelling serta uji kompetensi. Dilihat dari indikator kemampuan siswa/I yang mampu melakukan atau layak mengikuti ujian tersebut dengan mampu menguasai dongkari. Gambar 4. Ujian Leveling Tembang Sunda Cianjuran di SMKN 10 Bandung (Sumber: Dok. SMKN 10 Bandun. Jurnal Awilaras | 130 Gambar 5. Uji Kompetensi Tembang Sunda Cianjuran di SMKN 10 Bandung (Sumber: Dok. SMKN 10 Bandun. Kreativitas Elis Rosliani Dalam Tembang Sunda Cianjuran Kreativitas adalah berpikir divergen yang terbagi menjadi 4 hal yakni (Schlichter dalam Starko, 2010: . : . memikirkan banyak ide, . memikirkan berbagai ide, . memikirkan ide-ide yang tidak biasa, . menambah ide-ide mereka untuk menjadikan lebih baik. Self-efficacy dalam pemikiran kreatif mengacu pada kondisi mental internal yang diwakili oleh keterampilan kelancaran, fleksibilitas, elaborasi, dan orisinalitas (Alzoubi et al, 2016, . Dari ciri-ciri yang telah dijelaskan di atas, akan dapat membantu kita selaku orang tua atau pendidik untuk mengidentifikasi anak. Sehingga kreativitas yang terdapat didalam dirinya dapat dikembangkan secara optimal. Sebab jika hal ini terabaikan oleh lingkungan sekitarnya, maka mereka akan mengalami hambatan dalam mengembangkan diri/potensinya di kemudian Seorang anak kreatif tidak hanya memiliki satu ciri-ciri, bahkan anak-anak yang memiliki kreativitas tinggi akan berbeda satu sama lain ciri-ciri yang Dibidang apapun kreativitas yang dimiliki oleh anak, akan lebih baik Jurnal Awilaras | 131 jika sedari dini kreativitas itu dikembangkan agar anak memiliki bekal untuk kehidupan selanjutnya. Kesenian Tembang Sunda Cianjuran lahir sebagai sebuah genre musik Janaswara . dengan jenis anggana sekar (Natapraja, 2003, p. , diadopsi dari berbagai kesenian vokal yang berkembang sebelumnya di Tatar Pasundan. Tembang Sunda Cianjuran lahir pada masa Pemerintahan R. A Kusumaningrat atau biasa dikenal sebagai Dalem Pancaniti pada pertengahan abad 19 (Sukanda, 1983, pp. 24Ae. Kebanyakan orang menyebut genre musik ini Cianjuran mengacu pada tempat asalnya. Cianjuran yang melibatkan vokalis solo, baik laki Ae laki maupun perempuan melantunkan lagu dengan diiringi suling dan petikan . Pada perkembangannya Cianjuran atau mamaos juga biasa disebut sebagai Tembang Sunda oleh karena kelahirannya yang dibentuk oleh beberapa kesenian di Jawa Barat (Spiller, 2004, p. Ditinjau dari struktur pertunjukannya, bentuk pertunjukan seni mamaos (Tembang Cianjura. sampai pada tahun 1920-an, menyajikan beberapa wanda . diantaranya papantunan, jejemplangan, rarancagan, serta lagu ekstra dalam bentuk instrumentalia. Wanda rarancagan sebelumnya menggunakan laras pelog, sorog, salendro, berkembang dengan penggunaan laras mandalungan. Pada zaman dulu pertunjukan mamaos merupakan pertunjukan kalangenan . biasa digelar di pendapa atau di rumah, namun sekarang menjadi pertunjukan di atas panggung. Mamaos muncul dalam acara resepsi pernikahan, sunatan, radio. TV, dan sebagainya (Wiradiredja, 2005, p. AuBahan-bahan dasar pembentuk Cianjuran tersebut antara lain seni Beluk. Pantun. Degung. Wayang Golek Purwa. Ronggeng, dan lain Karena pandainya pencipta seni Mamaos, bahan-bahan dasar tersebut diolah sedemikian rupa, dipadukan menjadi karya seni baru yang kita kenal sekarang seni Tembang Sunda CianjuranAy (Sukanda, 1983, p. Jurnal Awilaras | 132 Bahan-bahan dasar pembentuk yang dipaparkan di atas bisa ditelusuri dengan melihat seluruh aspek pembentuk Tembang Sunda Cianjuran. Tembang Sunda muncul pada masa Pemerintahan Belanda dan Pencak Silat telah ada Kehidupan Pencak Silat pada awalnya dalam masa penjajahan, pemerintah Belanda tidak memberi kesempatan Pencak Silat/Beladiri Kehidupan Pencak Silat dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Kehidupan Pencak Silat diizinkan berupa pengembangan seni atau kesenian yang menjurus pada suatu upacara atau pertunjukan semata (Saleh, 1986, pp. 14Ae. Sebuah sumber literatur menyebutkan bahwa khususnya di Cianjur dalam periode pemerintahan regent R. A Kusumaningrat, seni Tembang Cianjuran, model pakaian, dan Pencak Silat yang berkembang sangat pesat. Maenpo merupakan rangkaian gerak untuk beladiri, kemudian disusun menjadi seni beladiri semacam pertunjukan bernama penca ibing (Suwondo, 1979, p. Pencak Ibing sendiri terbagi ke dalam beberapa jenis sajian diantaranya. Tepak Dua. Paleredan. Tepak Tilu, dan Padungdung. Bahan dasar pembentuk estetika vokal dalam Tembang Sunda Cianjuran disebut sebagai Penulis mencoba untuk melihat bagaimana konsep dongkari menurut kacamata seniman Tembang Sunda Cianjuran. Persoalan dongkari di atas akan penulis deskripsikan berdasarkan pemahaman native sebagai pemilik kesenian Tembang Sunda Cianjuran. Dongkari sebagai konsep berarti sesuatu menurut pemahaman pemiliknya. Untuk itu dalam mendeskripsikannya penulis menggunakan fenomenologi sebagai sebuah konsep sekaligus metode yang relevan. Fenomenologi pada dasarnya merupakan jalan untuk melihat gejala secara mutlak dan mendasar dalam aktivitas ilmiah. Ia bukanlah ilmu melainkan cara pandang . way of looking at thin. untuk meyakinkan orang atas suatu fenomena. Untuk memahami sebuah gejala metode ini mensyaratkan penggunanya untuk Jurnal Awilaras | 133 bersabar menyaksikan, mendengarkan, hingga menyelami bahasa yang diungkapkan (Brouwer, 1983, p. Melalui pendekatan ini penulis mencoba melihat sebuah gejala untuk menghasilkan pengetahuan yang murni (Hardiman & Sitorus, 2009, p. Secara Etimologis. Fenomenologi adalah terusan dari kata fenomenon dan logos yakni ilmu tentang fenomena (Sobur, 2013, p. Secara umum fenomenologi dimaknai seperti pada kutipan di bawah ini, dalam pengertian yang paling inti, istilah fenomenologi menunjuk pada suatu teori spekulatif tentang penampilan pengalaman. dan dalam penggunaan awal, pengertian fenomenologi dikaitkan dengan dikotomi Auphenomenon-noumenonAy, suatu perbedaan yang tampak . dan yang tidak tampak . Fenomenologi Husserl merupakan usaha spekulatif untuk menentukan hakikat yang seluruhnya didasarkan atas pengujian dan penganalisisan terhadap sesuatu yang tampak (Sobur, 2013. Awalnya Fenomenologi merupakan pendekatan filsafat yang fokus terhadap analisis kesadaran manusia (Bagus, 2005, p. Fenomenologi adalah sebuah upaya pengungkapan sebuah makna dari pengalaman individu maupun masyarakat. Makna yang dialami seseorang berkaitan dengan sesuatu yang dialaminya (Edgar & Sedgwick, 2005, p. Kemudian fenomenologi berfokus pada pengalaman personal termasuk bagaimana para individu mengalami sesuatu satu sama lain (Littlejohn, 2002, p. Sejalan dengan itu fenomenologi berkaitan pula dengan penampakan suatu objek, peristiwa, atau suatu kondisi dalam persepsi (Littlejohn & Foss, 2005, p. Kemudian Fenomenologi juga mengajarkan bahwa realitas itu akan muncul melalui sebuah proses aktif yang tidak terlepas dari kesadaran, tidak sama seperti idealism yang menafikan suatu realitas objektif (Delfgaauw, 2001, p. Filsafat Edmund Husserl meskipun tidak secara spesifik membahas studi seni, tetapi dua konsep yang mendasari karyanya menjadi suatu titik tolak metodologis yang bernilai bagi studi Fenomenologi yakni: epoche. terdiri dari Jurnal Awilaras | 134 pengendalian atau kecurigaan dalam mengambil keputusan. Ini menunjukkan tentang tidak adanya prasangka yang akan mempengaruhi hasil pemahaman. Metode ini menjadi penting untuk memahami Tembang Sunda Cianjuran dari sudut pandang orang yang seniman ataupun praktisi cianjuran. Kita bisa masuk ke wilayah pengalaman dari pelaku seni untuk mencapai pemahaman yang Selanjutnya konsep Edmund Husserl tentang eidetik: yang memberi kemampuan melihat esensi fenomena secara objektif bahkan juga membahas persoalan subjektivitas persepsi dan refleksi. Eidetik mengandaikan adanya kemampuan mencapai pemahaman intuitif tentang fenomena yang juga dapat dipertahankan sebagai pengetahuan AyobjektifAy (Sobur, 2013, p. Objek yang muncul dalam kesadaran akan berbaur dengan objek lainnya secara alamiah, itulah yang menyebabkan makna diciptakan dan pengetahuan kemudian juga dikembangkan (Moustakas, 1994, p. Manusia kemudian melibatkan kesadarannya, dan kesadaran akan selalu berarti kesadaran akan sesuatu atau realitas (Bertens, 1981, p. Jadi dalam studi fenomenologi tidak tertarik mengkaji aspek kausalitas di dalam sebuah peristiwa, melainkan upaya melakukan suatu pengalaman beserta makna pengalamannya (Watt & den Berg, 1995, p. Hal-hal tersebut di ataslah yang penulis coba lakukan dalam menggali pengetahuan tentang dongkari melalui pengalaman para Perbedaan yang pertama ialah ragam pemahaman atau pandangan mengenai pendefinisian dongkari. Setelah melakukan studi lapangan dan menemui beberapa praktisi Tembang Sunda, kaitannya dalam mencari informasi terkait apa sebenarnya definisi dongkari, di temukanlah beberapa ragam pemahaman dalam mengartikan konsep dongkari. Dalam tataran pendefinisian saja, perbedaan pemahaman sudah terjadi. Beberapa penembang ada yang menganut definisi dari pernyataan seniman senior, yakni berpengaruh dalam Karawitan Sunda ataupun guru yang memberikan Jurnal Awilaras | 135 pengajaran Tembang, ada pula yang mencoba menginterpretasi sendiri definisi dongkari yang diperoleh berdasarkan pengalamannya selama bergelut dengan dunia vokal Tembang Sunda Cianjuran. Elis Rosliani memiliki pandangan mengenai dongkari seperti di bawah. AuDongkari adalah peristilahan yang khususnya di masyarakat Tembang Sunda Cianjuran itu sudah familiar istilah dongkari biasanya digunakan oleh penembang saja. dongkari itu sama dengan aturan atau hiasan lagu tetapi lebih spesifik pada unsur terkecil saja, hanya serpihanserpihan dari hiasan lagu. Kalau dongkari-dongkari itu digabungkan maka itu istilahnya menjadi ornamen, ornamentasiAy. Elis memandang bahwa dongkari merupakan partikel musikal pembentuk ornamen vokal. Pemahaman mengenai dongkari sebagai unsur terkecil dari hiasan lagu ini diperoleh dari seorang tokoh Karawitan Sunda yakni Koko Koswara atau yang terkenal dengan sebutan Mang Koko. Neneng Dinar dan Heri Herdini juga menganut definisi dongkari tersebut. Pernyataan di atas adalah salah satu sudut pandang praktisi Tembang Sunda dalam mengartikan Partikel musikal yang dimaksud di atas mirip dengan istilah motif. Motif dalam kamus musik artinya melodi khas yang sangat singkat. Pada prinsipnya setiap dongkari memiliki bentuk musikal yang khas, yang akhirnya akan digunakan secara tunggal maupun berangkai. Rangkaian motif tersebut yang nantinya menjadi ornamen. Semisal dongkari a dan b, keduanya merupakan motif . artikel musika. , apabila dongkari a dan b dijadikan satu rangkaian maka disebut sebagai ornamen dengan komposisi motif dongkari a dan b. Sedikit berbeda dengan pernyataan di atas. Yus Wiradireja sebagai praktisi Tembang memberikan definisi dongkari sebagai berikut. AuSampai sekarang saya masih melacak apa itu dongkari, sebab dalam kamus Bahasa Sunda belum ada apa itu dongkari. Tapi yang pasti bahwa secara praksis, dongkari itu adalah sebuah kata yang menunjukan pada sebuah teknik-teknik baik cara menembang maupun bagian-bagian musikalAy. Jurnal Awilaras | 136 Pernyataan di atas memberikan informasi bahwa kata dongkari itu sendiri tidak ada di dalam kamus Bahasa Sunda, sedangkan peristilahan dongkari sendiri telah ada sejak pertengahan abad 19, ini menjadi persoalan tersendiri terhadap istilah dongkari. Kemudian dongkari tidak terbatas pada unsur-unsur terkecil pembentuk ornamen atau suatu bagian-bagian musikal, akan tetapi merujuk pula terhadap persoalan teknik atau cara menembang. Yus menambahkan cara menembang yang dimaksud ialah teknik penyuaraan dan teknik pedotan dalam menggunakan dongkari pada sebuah lagu. Pernyataan Yus di atas telah memposisikan dongkari sebagai sebuah teknik vokal Tembang. Pada tahun 1998 Elis Rosliani melakukan penelitian di dalam dua jenis wanda Tembang yakni papantunan dan jejemplangan dengan objek dua orang penembang A. Tjitjah dan Euis Komariah. Hasilnya Elis menemukan sejumlah istilah dongkari sebagai suatu teknik penyuaraan tertentu. Simbol-simbol yang digunakan untuk mendeskripsikan dongkari dibuat dan disesuaikan dengan imajinasi dari bentuk istilah dongkari tersebut. Riak . Menurut Kamus Umum Basa Sunda, riak artinya nimbulkeun cahaya nu siga ombak-ombakan . enimbulkan cahaya seperti gelomban. Sedangkan menurut Bakang Abubakar, istilah riak sama dengan istilah ombak banyu yang artinya gelombang air (Sarinah, 1994:. Adapun teknik penyuaraan dongkari riak yaitu mengeluarkan getaran suara pada nada yang tetap yang menyerupai gelombang air. Getaran suara dikeluarkan tanpa tekanan, tetapi secara halus tanpa terputus. Contoh, nada 5 . yang menggunakan dongkari riak artinya nada 5 . dibunyikan dengan halus tanpa terputus menyerupai gelombang air. Simbol dongkari riak dibuat berupa ombak kecil, hal ini disebabkan suara yang dikeluarkan oleh teknik dongkari riak menyerupai gelombang kecil yang sifatnya transversal. Dongkari reureueus dibuat menyerupai huruf /m/ . , hal ini disebabkan suara yang dihasilkan oleh teknik Jurnal Awilaras | 137 dongkari reureueus mempunyai kesan tegas dan tajam. Simbol dongkari kait dibuat berupa kail berfungsi untuk mengait sesuatu. Reureueus . Reureueus pada umumnya digunakan oleh para penembang untuk menamakan semua jenis dongkari dalam tembang Sunda cianjuran. Meskipun demikian, dalam tulisan ini reureueus memiliki pengertian yang berbeda. Reureueus adalah salah satu macam dongkari yang pada prinsipnya sama dengan riak. Sedikit yang membedakannya yaitu teknik penyuaraan pada dongkari riak tidak mendapat tekanan, sedangkan teknik penyuaraan reureueus yaitu getaran suara yang dikeluarkan pada nada yang tetap mendapat tekanan. Gibeg () Gibeg menurut Kamus Umum Basa Sunda artinya yaitu ngobahkeun awak ka gigir make tanaga sarta rikat . enggerakan badan ke samping dengan gerak cepa. Teknik penyuaraan dongkari gibeg yaitu mengeluarkan suara pada nada yang tetap disertai tekanan, dan dilakukan dengan gerak cepat seolah-olah digibegkeun. Kait . Kait artinya sama dengan nyangkol yaitu menempel keras karena lilitan tali. Dalam istilah dongkari tembang Sunda Cianjuran, istilah kait mengandung pengertian gabungan dua buah nada dari nada tinggi ke nada rendah dimana nada pertama dongkari kait menempel/sama dengan nada sebelumnya, kemudian diikuti oleh satu nada yang lebih rendah. Teknik penyuaraannya yaitu bunyi terakhir dari suku kata yang akan diikuti oleh dongkari kait, dibunyikan kembali sebagai jembatan untuk membunyikan suku kata berikutnya. Inghak () Istilah inghak diambil dari peristiwa menangis yang diterapkan pada dongkari tembang Sunda cianjuran. Teknik penyuaraannya yaitu pada Jurnal Awilaras | 138 waktu membunyikan suku kata yang mengandung vocal huruf hidup . I, u, e, . udara sedikit dikeluarkan dengan diberi tekanan sehingga menghasilkan suara yang bunyinya seperti konsonan /h/. Diusahakan posisi bibir tidak bergerak saat mengeluarkan udara. Dongkari inghak dibuat menyerupai huruf /h/, karena teknik penyuaraan dongkari inghak yaitu sedikit mengeluarkan udara seolah-olah mengeluarkan bunyi seperti /h/. Jekluk (O. Dongkari jekluk yaitu gabungan dua buah nada dari nada rendah ke nada tinggi. Misalnya dari nada 1 . ke nada 5 . , nada 4 . ke nada 3 . Untuk membunyikan dongkari jekluk harus diawali dengan nada yang lebih rendah. Misalnya dari nada 1 . ke nada 5 . , senantiasa diawali dengan nada 2 . Dari nada 4 . ke nada 3 . , senantiasa diawali dengan nada 5 . Teknik penyuaraan dongkari jekluk harus menggunakan tenaga perut. Dongkari jekluk dibuat seperti huruf /v/, karena teknik penyuaraan dongkari jekluk menggunakan nada yang lebih tinggi daripada nada sebelumnya dan menggunakan tenaga perut. Rante . E) Dongkari rante yaitu gabungan dua buah nada atau lebih yang disuarakan dengan cara mengulang nada-nada tersebut sehingga menghasilkan suara yang bila digambarkan menyerupai bentuk spiral atau Dongkari rantai dibuat seperti spiral, karena teknik penyuaraannya dibeulit . seperti rantai. Lapis (OO) Dongkari lapis yaitu penyuaraan satu buah nada yang mengikuti nada Dongkari lapis ini seolah-olah mengulang lagi nada yang sudah dibunyikan oleh dongkari lain. Dongkari lapis dibuat menyerupai tanda Ausama denganAy (=), hal ini disebabkan istilah lapis itu sendiri menghasilkan suara yang zigzag. Jurnal Awilaras | 139 Gedag . Dongkari gedag yaitu menyuarakan satu nada yang tetap dengan mendapat tekanan. Nada tersebut seolah-olah disuarakan dua kali . Penempatan ornamen gedag senantiasa di awal kata. Leot ( A)A Dongkari leot yaitu gabungan dua buah nada, dari nada tinggi ke nada rendah, misalnya dari nada 5 . ke nada 1 . , nada 2 . ke 3 . , dan Dongkari leot dibuat seperti tanda legato, karena suara yang dihasilkannya persis seperti suara legato. Buntut ( ) Dongkari buntut pada prinsipnya sama dengan dongkari lapis. Perbedaannya terletak pada penempatannya. Kalau dongkari lapis diletakkan di tengah kata dan senantiasa diikuti lagi dengan dongkari lainnya, sedangkan buntut ditempatkan di akhir kata atau kalimat lagu . rase lag. dan diikuti oleh satu nada yang lebih tinggi. Dongkari buntut dibuat seperti garis lengkung ke bawah, karena pada umumnya bentuk ekor . senantiasa menurun. Dongkari cacag dibuat berupa dua buah garis vertical sekitar 30 derajat, karena teknik penyuaraan dongkari cacag memiliki kesan tersendat-sendat. Cacag . Dongkari cacag yaitu penyuaraan satu buah nada dengan teknik memberikan tekanan pada nada tersebut secara berulang-ulang dan tidak terputus-putus. Baledog ( ) Dongkari baledog yaitu gabungan dua buah nada yang disuarakan tanpa tekanan. Dongkari ini senantiasa ditempatkan mengikuti ornamen lainnya seperti gibeg dan gedag. Dongkari baledog dibuat dengan simbol anak panah menuju ke atas miring ke sebelah kanan, karena pada dasarnya Jurnal Awilaras | 140 mengerjakan baledog dan melepas anak panah sama-sama dilepas dan Kedet . Dongkari kedet senantiasa ditempatkan di akhir kalimat lagu yang berfungsi untuk madakeun . Dongkari ini biasa digunakan dalam lagu wanda jejemplangan. Dongkari kedet dibuat seperti tanda luncur, karena suara yang dihasilkannya mempunyai kesan ditarik ke nada yang lebih rendah. Dongkari dorong dibuat dengan simbol anak panah 90 derajat, karena suara yang dihasilkan oleh dongkari dorong seolah-olah melebar akibat adanya dinamika. Dongkari galasar dibuat berupa garis turun ke bawah, karena asosiasi dari kata galasar biasanya bergerak dari atas ke bawah. Dorong (I. Dongkari dorong pada dasarnya merupakan dinamika dari suara yang tidakmendapat tekanan menuju nada berikutnya dengan mendapat Biasanya dongkari dorong selalu diikuti oleh reureueus. Galasar () Dongkari galasar yaitu gabungan dua atau tiga buah nada yang disuarakan seperti diayun, tanpa terputus, dan mendapat tekanan. Golosor () Dongkari golosor yaitu gabungan beberapa nada dengan teknik penyuaraan tanpa tekanan. Wilayah nadanya yaitu dari nada tinggi menuju ke nada rendah. Dongkari golosor dibuat seperti tali yang bergelombang, karena suara yang dihasilkan oleh teknik golosor mengandung gelombang dari nada tinggi ke nada rendah. Pada penelitian pertama. Elis mengungkapkan penemuan sejumlah dongkari di atas masih terbatas terhadap dua jenis wanda dalam Tembang yakni papantunan dan jejemplangan. Masih ada beberapa wanda Tembang Sunda Cianjuran seperti rarancagan, dedegungan, kakawen dan sekar panambih yang Jurnal Awilaras | 141 kemudian dikaji sebagai bahan tesisnya. Hal tersebut menjelaskan bahwa tidak menutup kemungkinan masih terdapat dongkari jenis lainnya apabila memperluas kajian wanda Tembang. Seperti itulah keadaannya yang terjadi di antara penembang, namun kecenderungan perbedaan secara signifikan, terjadi di lingkungan seni yang nonformal seperti sanggar-sanggar atau paguyuban Tembang. Penembang yang mengenyam pendidikan formal di SMKN 10 Bandung maupun ISBI Bandung dewasa ini memang telah menggunakan konsep dongkari yang dibakukan sebagai metode pembelajaran di atas. Pada akhirnya lulusan-lulusan sekolah formal tersebut terutama yang mengambil spesialisasi Tembang Sunda Cianjuran cenderung lebih seragam pemahamannya mengenai konsepsi dongkari. Selain istilah, simbolisasi teknik dalam dongkari sebelum adanya metode baku, secara umum penembang menggunakan simbol yang disebut notasi Cacing. Disebut notasi Cacing karena penembang hanya membuat garis-garis horizontal, vertikal, maupun lengkungan untuk keperluan simbolisasi sebuah teknik. Notasi Cacing ini digunakan oleh penembang untuk menandai teknik dongkari tertentu yang nantinya dibubuhkan di atas rumpaka atau teks tembang dalam kegiatan menembang terutama pada saat latihan. Uniknya setiap penembang mempunyai cara masing-masing pula dalam membuat notasi Cacing. Artinya notasi Cacing yang dibuat dan digunakan oleh si penembang A belum tentu bahkan tidak akan dimengerti oleh si penembang B, seperti yang dikemukakan oleh Elis Rosliani di bawah ini. AuOrnamenna atanapi reureueus na dikieukeun tanpa menyebut istilah dongkari sehingga penembang itu dapat memberikan tanda masing-masing terhadap lagu menurut simbol masing-masing, misalna ceuk guru teh tah lebah dieuna direureueusan ah kira-kirana nadana ka luhur kita buat Cacing ka luhur jadi membuat simbol sendiri, itu rata-rata penembang yang belajar secara oral ka guruna. Simbolna teh aya anu lempeng siga Cacing, aya nu mudun lamun nadana turun, nu Cacingna ka luhur. Dengan kondisi seperti ini hanya bisa dimengerti oleh person masing-masingAy. Jurnal Awilaras | 142 D. KESIMPULAN Berdasarkan hasil temuan dan pembahasan oleh peneliti, peneliti memperoleh kesimpulan tentang pentingnya kedudukan metode pembelajaran dalam pembelajaran karena metode pembelajaran mempunyai fungsi sebagai cara dalam pembelajaran sehingga membantu guru dan peserta didik dalam memudahkan proses pembelajaran dimana dengan dicantumkanya kompetensi dasar dalam metode pembelajaran, peserta didik menjadi paham akan apa tujuan dari pembelajaran sehingga dengan begitu peserta didik bisa belajar secara mandiri dengan acuan kompetensi dasar yang ada. Dapat disimpulkan bahwa kreativitas memiliki sifat keluwesan dan fleksibel dimana kreativitas tidak bersifat kaku yang artinya dalam implementasinya dapat dikembangkan berdasarkan kreativitas guru, kompetensi, dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekolah. Hal ini terlihat dari adanya pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran pada mata pelajaran seni karawitan di SMKN 10 Bandung yang dilandasi oleh kompetensi guru dan tenaga pendidik serta ketersediaan sarana dan prasarana di sekolah. Dilihat dari pemilihan materi dalam pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran di SMKN 10 Bandung yaitu tentang bagaimana menggunakan ornamentasi dengan menggunakan dongkari ke dalam sebuah lagu dimana materi tersebut disusun dan dibuat oleh guru Seni Karawitan di SMKN 10 Bandung serta ornamentasi yang sangat sederhana sehingga bisa memudahkan para peserta didik dalam mempelajari Tembang Sunda Cianjuran dan mencapai kompetensi dasar yang ditentukan. Dari keterpakaian metode pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran ini terlihat para peserta didik mampu mempraktekkan bernyanyi Tembang Sunda Cianjuran dengan baik dan proporsional sesuai dengan ornamentasi yang diterapkan. Jurnal Awilaras | 143 DAFTAR PUSTAKA M Djelantik. Estetika Sebuah Pengantar. Bandung: Masyarakat Seni Indonesia. Alwasilah. Chaedar. Pokoknya Kualitatif: Dasar-dasar Merancang dan Melakukan Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya. Bogdan. Taylor. Metode Penelitian Kualitatif. Moleong . Bogdan dan Taylor. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remadja Karya. Bungin. Burhan. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group Bagus. Kamus Filsafat, cet ke-4. Jakarta: Gramedia. Bertens. Filsafat Barat dalam Abad XX. Jakarta: Gramedia. Brouwer. Psikologi Fenomenologis. Jakarta: Gramedia. Dayu. Akbar Destian Dicky. Tembang Sunda Cianjuran. Bandung Ekadjati. Edi S. Masyarakat Sunda dan Kebudayaannya. Jakarta: Girimukti Fitrah. Belajar dan Pembelajaran. Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Keislaman Vol 333 Ae 351. Hasibuan. Malayu S. Dasar. Pengertian dan Masalah. Jakarta: Bumi Aksara Hermawan. Gender Dalam Tembang Sunda Cianjuran. Bandung: Sunan Ambu Press. STSI Hermawan. Deni. Gender dalam Tembang Sunda Cianjuran. Bandung: Sunan Ambu Press. Ischak. Aah. Mengenal Tembang Sunda Cianjuran. Cianjur: Liebe Book Press dan Cabang Paguyuban PaSundan Kabupaten Cianjur. Ibrahim. Nana Syaodin S. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta Jurnal Awilaras | 144 Jalaludin. Abdullah Idi. Filsafat Pendidikan: Manusia. Filsafat dan Pendidikan Edisi Revisi. Depok: PT Rajagrapindo Persada Julia. Pendidikan Musik: Permasalahan dan Pembelajarannya. Sumedang :UPI Sumedang Press Komalasari. Heni. Pembelajaran Seni Berbasis Kearifan Lokal di Era Disrupsi. Jurnal Seminar Pendidikan. Majid. Perencanaan Pembelajaran . Bandung: Remaja Rosdakarya. Milyartini. Belajar Dan Pembelajaran Seni Musik. Bandung: Pendidikan Seni Musik. Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni. Universitas Pendidikan Indonesia. Mengenal Tembang Sunda Cianjuran (Liebe Book Press, 2. Munandar. Utami. Kreativitas dan Keberbakatan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Majid. Abdul. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Makmun. Abin Syamsudin. Psikologi Kependidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Moleong. Lexi J. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya. Moustakas. Phenomenological Research Methods. Sage Publications. Natapraja. Iwan. Sekar Gending: Bahasan Karawitan Sunda. Bandung: PT Putra Galuh Pakuah Putri. Dwi Lestari Gisni. Pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran Di Institut Seni Budaya Indonesia. Bandung. Pustaka. Kebudayaan Sunda. Jakarta: Yayasan Pembangunan Jawa Barat. Riwayat Pembentukan dan Perkembangan Cianjuran (Disparbud Jabar dengan Yayasan Pancaniti, 2016 Jurnal Awilaras | 145 Rooljakers. Ad. Mengajar Dengan Sukses. Jakarta: PT Gramedia Widiasara Indonesia. Rusdiana. Yeti Heryati. Pendidikan Profesi Keguruan. Bandung: CV Pustaka