a Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Juliana et al, 2026 ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS USAHA TANI JAGUNG DI DESA UJUNG TANAH KECAMATAN MARE KABUPATEN BONE Andi Juliana1*. Adam Rahman Suradi1. Hasriliandi Halim1 . Fakultas Pertanian dan Peternakan. Jurusan Agribisnis. Universitas Muhammadiyah Bone. Jl. Abu Dg. PasolongNo. *corresponding author:andijuliana061@gmail. *Received for review December 9, 2025 Accepted for publication December 26, 2025 Abstract This study aims to determine the factors that influence corn farming productivity in Ujung Tanah Village Mare Sub-district Bone Regency. The variables examined in this study include labor, seeds, fertilizers, pesticides, capital, and land area. The research was conducted from March to April 2025 in Ujung Tanah. Mare Sub-district. Bone Regency. The factor used was a quantitative factor with a survey technique. Respondents were selected using Simple Random Sampling, with a total of 35 corn farmers. Data were collected through questionnaires and analyzed using multiple linear regression. The results showed that simultaneously, labor, seeds, fertilizers, pesticides, capital, and land area significantly affect corn farming Partially, seeds and fertilizers have a significant influence, while labor, pesticides, capital and land area do not significantly affect productivity. This means that the better the use of seeds and fertilizers by farmers, the higher the productivity of corn farming will be. Keywords: corn, factors production, farming, productivity Abstrak Studi ini dijalankan guna mengidentifikasi faktor yang memdampaki produktivitas usahatani jagung di Desa Ujung Tanah Kecamatan Mare Kabupaten Bone. Variabel dalam studi ini meliputi Tenaga kerja. Benih. Pupuk. Pestisida. Modal serta Luas lahan. Studi ini dijalankan pada periode Maret-April 2025 Desa Ujung Tanah Kecamatan Mare Kabupaten Bone. Metode yang digunakan ialah metode kuantitatif denganmenggunkan metode survey. Penentuan responden dijalankan dengan cara simple random sampling dengan jumlah responden sebanyak 35 orang petani jagung. Data dikumpulkan melalui kuesioner serta analisis menggunakan regresi linear Berganda. Hasil studi memperlihatkan bahwasanya dengan cara simultan variabel tenaga kerja, benih, pupuk, pestisida, modal serta luas lahan berdampak signifikan kepada produktivitas usahatani Jagung. Dengan cara parsial variabel benih serta pupuk berdampak signifikan, sedangkan tenaga kerja, pestisida, modal serta Luas lahan tidak berdampak signifikan kepada produktivitas Artinya semakin baik penggunaan benih serta pupuk oleh petani, maka semakin tinggi pula produktivitas usahatani jagung yang dihasilkan. Kata Kunci: faktor produksi, jagung, produktivitas, usahatani. Copyright A 2026 The Author. This is an open access article under the CC BY-SA license PENDAHULUAN Komoditas strategis yang membutuhkan peningkatan produktivitas ialah tanaman jagung. Tanaman jagung menempati posisi penting sebagai hasil pertanian strategis di Indonesia sebab kontribusinya yang besar kepada kestabilan pangan serta penguatan kondisi ekonomi, baik pada Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Juliana et al, 2026 skala daerah maupun dengan cara nasional. Jagung memiliki potensi besar guna dikembangkan sebab bisa dijadikan sebagai bahan utama dalam industri seperti bahan makanan, minuman, bioenergi serta pakan ternak. Sehingga memungkinkan guna mengoptimalkan nilai jual yang berdampak kepada penbisaan lokal maupun nasional. Sebagai daerah yang memiliki peluang besar dalam budidaya jagung. Provinsi Sulawesi Selatan saat ini ditetapkan sebagai kawasan fokus perluasan jagung di wilayah Indonesia Timur. Dari luasan pengembangan yang mencapai sekitar 000 hektare serta tersebar di sembilan wilayah kabupaten, tingkat hasil panen yang dicapai masih berkisar rata-rata 1,8 ton per hektare. Mengingat kebijakan pemerintah menargetkan ratarata hasil jagung nasional mencapai 5 ton per hektare, capaian yang diraih Sulawesi Selatan sebagai kawasan pengembangan masih berada jauh di bawah standar tersebut sehingga memerlukan upaya peningkatan. Kondisi ini mengindikasikan bahwasanya laju pertumbuhan serta tingkat produksi jagung di wilayah Sulawesi Selatan tergolong belum optimal serta cenderung berjalan Lambatnya peningkatan hasil tersebut didampaki oleh berbagai kendala, antara lain keterbatasan akses permodalan bagi petani, distribusi serta pemanfaatan benih jagung berkualitas yang belum merata, serta rendahnya pemahaman petani kepada teknik budidaya maupun pengelolaan hasil pascapanen (Jusniar et al. , 2. Sebagai wilayah yang berlokasi di bagian timur Provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten Bone ditetapkan sebagai kawasan utama pengembangan jagung hibrida dengan target hasil yang optimal. Keberadaan wilayah ini tidak hanya diarahkan guna mencukupi kebutuhan benih jagung di Kabupaten Bone serta daerah-daerah sekitarnya, tetapi juga diproyeksikan bisa memasok kebutuhan budidaya jagung di seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan mengenai produktivitas usahatani jagung di kabupaten Bone pada 3 tahun Terakhir. Pada tahun 2021 dengan produktivitas jagung 60,75 ton/ha, tahun 2022 sebanyak 58,00 ton/ha, serta pada tahun 2023 sebanyak 57,67 ton/ha(BPS, 2. Masyarakat kini mulai mengintegrasikan jagung ke dalam pola tanaman mereka sebagai diversifikasi komoditas dengan memanfaatkan lahan yang kosong guna jagung. Perubahan ini memperlihatkan adaptasi petani kepada kondisi pasar serta lingkungan serta upaya guna mengoptimalkan kesejahteraan ekonomi Namun ada beberapa kendala dalam menghadapi peralihan dari tanaman padi ke Salah satu kendala utama ialah kurangnya pengetahuan serta pengalaman tentang teknik budidaya jagung. Banyak petani yang terbiasa mempraktikkan pertanian padi serta belum terbiasa dengan cara penanaman, perawatan, serta pengendalian hama serta penyakit pada jagung. Kendala lain ialah akses kepada benih berkualitas serta pupuk yang tidak tepat. Fitrawati. S et al. , 2. mengatakan bahwasanya rata-rata tanaman jagung per hektar ialah 5,7 ton/ha. Rendahnya produktivitas tersebut disebabkan oleh penggunaan faktor-faktor produksi yang belum dijalankan dengan cara optimal. Penggunaan benih di Desa Ujung Tanah penggunaan benih jagung tercatat sebanyak 5 kg/ha serta pupuk yang digunakan sebanyak 300 kg/ha, yang belum sepuhnya sesuai dengan rekomendasi teknis. Menurut Dewi serta rekan-rekan . , tingkat kinerja produksi di bidang pertanian ditentukan oleh keseimbangan antara faktor masukan serta hasil yang dihasilkan. Unsur masukan dalam aktivitas pertanian mencakup sumber daya manusia, ketersediaan benih, penggunaan pupuk, bahan pengendali hama, dukungan permodalan, serta luasan area tanam. Sementara itu, komponen keluaran diwujudkan dalam produk pertanian yang dihasilkan serta dikelola, seperti Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Juliana et al, 2026 komoditas jagung. Kinerja hasil pertanian tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, tetapi juga sangat didampaki oleh kondisi sosial serta ekonomi yang melingkupinya. Wangi serta Ardiansyah . menjelaskan bahwasanya jika dilihat dengan cara bersamaan, faktor luas area tanam, jenis varietas yang digunakan, pemakaian pupuk, serta keterlibatan tenaga kerja memberikan dampak signifikan kepada tingkat produksi jagung. Namun, ketika dianalisis dengan cara terpisah, pengeluaran guna pupuk memperlihatkan dampak paling dominan kepada hasil jagung, sementara variabel luas lahan, varietas, serta tenaga kerja tetap berkontribusi nyata meskipun intensitas dampaknya lebih rendah dibandingkan biaya pemupukan. Berdasarkan temuan studi yang dijalankan oleh Triyasari serta kolega . , hasil pengolahan data memperlihatkan bahwasanya tingkat produksi jagung di Desa Keleyan didampaki dengan cara nyata oleh sejumlah variabel utama, yakni besarnya area tanam, kualitas bahan tanam, serta penggunaan pupuk. Bertolak dari pemaparan permasalahan serta tinjauan yang telah dikemukakan sebelumnya, studi ini diarahkan guna mengkaji berbagai determinan yang berperan kepada tingkat produktivitas usaha tani jagung di Desa Ujung Tanah. Melalui pelaksanaan studi ini, diharapkan hasil yang diperoleh bisa dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam merumuskan upaya peningkatan kinerja produksi usaha tani jagung. BAHAN DAN METODE Studi ini menerapkan metode deskriptif yang didukung oleh pendekatan kuantitatif sebagai dasar analisis. Lokasi studi ditetapkan di Desa Ujung Tanah dengan fokus kajian pada pelaku usaha tani jagung. Pemilihan wilayah tersebut dilandasi oleh kondisi mayoritas petani yang masih mengelola lahan dengan cara konvensional serta dihadapkan pada keterbatasan akses kepada modal, pemanfaatan teknologi, serta ketersediaan sarana penunjang produksi pertanian. Kegiatan studi ini dilaksanakan selama rentang waktu dua bulan, ialah sejak Maret hingga April 2025. Subjek studi mencakup seluruh petani jagung yang berada di Desa Ujung Tanah dengan jumlah keseluruhan sebanyak 175 orang. Pemilihan responden dijalankan melalui teknik pengambilan sampel acak sederhana . imple random samplin. , di mana jumlah sampel ditetapkan senilai 20 persen dari populasi, sehingga diperoleh 35 orang petani jagung yang dianggap telah merepresentasikan kondisi populasi dengan cara menyeluruh (Arikunto. , 2. Informasi studi diperoleh dengan cara langsung melalui pengumpulan data di lokasi studi, selanjutnya dijalankan pengolahan serta analisis dengan cara deskriptif dengan penyajian hasil dalam bentuk penjelasan yang tersusun dengan cara sistematis. guna memperoleh gambaran yang komprehensif serta rinci, data ditampilkan melalui tabel distribusi frekuensi yang bersumber dari data nominal hasil wawancara responden. Dalam rangka menjawab sasaran studi, teknik analisis yang digunakan ialah regresi linier berganda. Menurut (Sugiyono, 2. Berikut ini persamaan regresi linear berganda ialah sebagai berikut: Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Juliana et al, 2026 Y = b0 b1X1 b2X2 b3 X3 b4X4 b5X5 b6X6 e Dimana: Y = Produktivitas X1 = Tenaga kerja X2 = Benih X3 = Pupuk X4 = Pestisida X5 = Modal X6 = Luas lahan e = standard error HASIL serta PEMBAHASAN 1 Karakteristik Responden Karakteristik responden mencerminkan kondisi sosial, ekonomi, serta demografis individu yang dijadikan sebagai objek studi. Gambaran umum petani jagung yang menjadi sampel dalam studi ini ialah sebanyak 35 orang petani jagung kriteria analisis karakteristik responden dijalankan guna mengetahui perbedaan serta keragaman latar belakang responden . Karakteristik yang dianaliss meliputi usia tingkat pendidikan, pengalaman usia, tingkat pendidikan, pengalaman usahatani serta jummlah tanggungan keluarga. Mayoritas responden berada pada kelompok usia 39-56 tahun, ialah sebanyak 18 orang atau senilai 51,43 %. Tingkat pendidikan responden sebagian besar didominasi lulusan sekolah dasar (SD) 65,71%. guna tanggungan keluarga jumlah tanggungan tertinggi sebanyak 3 sampai 4 orang dengan jumlah responden 16 atau senilai 45,71% sedangkan pengalaman usahatani responden yang paling dominan berada pada kisaran 1-7 tahun ialah sebanyak 33 orang atau 94,28%. Dengan demikian Karakteristik responden yang berbeda tersebut dengan cara tidak langsung bisa berdampak kepada kegiatan usahatani jagung. 2 Uji Asumsi Klasik Hasi uji normalitas nilai Asymp. Sig. yang mengindikasikan bahwasanya data studi berditribusi normal sebab nilai Asymp. Sig. > 0,05. Dengan demikian, data tersebut lolos dalam uji normalitas serta bisa dijalankan uji prasyarat selanjutnya. Uji multikolinearitas semua variabel bebas dalam studi ini memiliki nilai Tolerance di atas 0,10dan nilai VIF dibawah 10. Adapun nilai tolerance serta VIF guna masing-masing variabel ialah tenaga kerja . ,896 serta 1,. serta benih . ,563 serta 1,. , pupuk . ,807 serta 1. , pestisida . ,796 serta 1,. , modal . ,788 serta 1,. serta luas lahan . ,737 serta 1,. Nilai tersebut memperlihatkan bahwasanya tidak terjadi korelasi yang tinggi antar variabel bebas yang digunakan dalam studi ini. Maka dinyatakan bahwasanya model regresi yang digunakan bebas dari gejala multikolinearitas serta layak guna digunakan dalam pengujian selanjutnya,untuk uji signifikan parsial maupun simultan. Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Juliana et al, 2026 Uji heteroskedastisitas Semua variabel dalam studi memiliki nilai signifikansi di atas 0,05. Variabel tenaga kerja memiliki nilai signifikansi senilai 0,190. Variabel benih memiliki nilai signifikansi senilai 0,563. Variabel pupuk memiliki nilai sig 0,057 dianggap tidak mengalami Variabel pestisida serta modal, masing-masing memiliki nilai signifikan senilai 0,688 serta 0,611, yang juga memperlihatkan tidak adanya gangguan heteroskedastisitas. Variabel luas lahan memiliki nilai signifikan tertinggi ialah 0,928, yang menandakan bahwasanya variabel ini sangat stabil serta tidak mengandung gejala heteroskedastisitas. 3 Hasil Uji Regresi Linear Berganda Analisis ini dijalankan guna mengetahui hubungan serta dampak variabel bebas kepada variabel terkait. Pengujian bertujuan guna mengetahui seberapa besar sejauh dampak masingmasing faktor produksi kepada tingkat produktivitas dengan cara . Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda pada tabel 5, diperoleh persamaan regresi linear berganda sebagai Y= -0,055 -0,040 X1 0,323 X2 0,489 X3 -0,106 X4 0,208 X5 0,052 X6 e Dari persamaan regresi diatas bisa diartikan serta diambil kesimpulan sebagai berikut: Nilai Konstanta . senilai -0,055 yang berarti bahwasanya apabila variabel tenaga kerja (X. , benih (X. , pupuk (X. , pestisida (X. , modal (X. , tenaga kerja . tetap atau konstan, maka produktivitas usahatani jagung akan bernilai negatif senilai 0,055 satuan. Hal ini memperlihatkan bahwasanya tanpa dukungan faktor-faktor tersebut tingkat produktivitas usahtani jagung tidak bisa dicapai dengan cara optimal. Koefisien regresi variabel tenaga kerja X1 senilai 0,040 hal ini memperlihatkan bahwasanya tanpa dukungan faktor-faktor produksi tersebut, tingkat produktivitas usahatani jagung tidak bisa dicapai yang artinya setiap penambahan satu satuan tenaga kerja justru akan menurunkan produktivitas usahatani jagung senilai 0,040 satuan. Hal ini disebabkan oleh penggunaan tenaga kerja yang tidak efektif atau pembagian kerja yang tidak optimal di Koefisien regresi variabel benih (X. senilai 0,323 yang artinya bahwasanya setiap penambahan satu satuan benih akan mengoptimalkan produktivitas usahatani jagung senilai 0,323 satuan. Hal ini memperlihatkan bahwasanya pemilihan benih yang baik serta berkualitas memberikan kontribusi positif kepada hasil produksi. Koefisien regresi variabel pupuk (X. senilai 0,489 yang artinya bahwasanya setiap penambahan satu satuan penggunaan pupuk akan akan mengoptimalkan produktivitas usahatani jagung senilai 0,489 satuan. Semakin optimal pemberian pupuk, maka produktivitas jagung juga cenderung meningkat. Koefisien regresi variabel pestisida (X. senilai 0,106 yang artinya bahwasanya setiap penambahan satu satuan Pestisida justru akan menurunkan produktivitas usahatani jagung senilai 0,106 satuan. Hal ini terjadi apabila penggunaan pestisida dijalankan dengan cara berlebihan atau tidak sesuai dosis yang seharusnya, sehingga malah berdampak negatif kepada tanaman. Koefisien regresi variabel modal (X. senilai 0,208 yang artinya bahwasanya setiap penambahan satu satuan modal akan mengoptimalkan produktivitas usahatani jagung senilai Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Juliana et al, 2026 0,208 satuan. Modal yang cukup memdampaki ketersediaan sarana produksi sehingga mendukung hasil yang lebih baik. Koefisien regresi variabel luas lahan (X. senilai 0,052 yang artinya bahwasanya setiap penambahan satu satuan luas lahan akan mengoptimalkan produktivitas usahatani jagung senilai 0,052 satuan. Namun, peningkatan ini relatif kecil dibandingkan dengan variabel lainnya, yang memperlihatkan bahwasanya selain luas lahan, faktor-faktor lain seperti benih serta pupuk lebih dominan dalam memdampaki produktivitas. 4 Dampak Tenaga Kerja Kepada Produktivitas Berdasarkan hasil uji t . abel 2 pada lampira. memperlihatkan bahwasanya variabel signifikan senilai 0,632 yang artinya tenaga kerja tidak berdampak kepada produktivitas tanaman jagung. Hal ini memperlihatkan bahwasanya jumlah tenaga kerja yang digunakan petani, baik dari dalam keluarga maupun tenaga kerja luar, tidak memberikan dampak nyata kepada peningkatan hasil produksi jagung per hektar. Hal ini memperlihatkan bahwasanya tenaga kerja tidak efisien atau tidak optimal penggunaannya meskipun jumlah tenaga kerja cukup namun jika distribusi tugas atau pembagian waktu kerja tidak efektif, maka tidak akan berdampak pada produktivitas. Tenaga kerja juga digunakan hanya pada tahap-tahap tertentu . isalnya tanam atau pane. , sementara pada tahap lain . eperti perawata. tidak maksimal. Hal ini sejalan dengan studi yang dijalankan oleh (Wangi & Ardiansyah, 2. bahwa variabel tenaga kerja tidak berdampak kepada produktivitas jagung pipil. Hal ini dijalankan studi yang dijalankan oleh (Murni, 2. dengan hasil studi ialah variabel tenaga kerja tidak berdampak signifikan kepada produktivitas Usaha Tani Padi Sawah. Berbeda dengan studi (Anggi et al. , 2. ialah tenaga kerja berdampak signifikan kepada produksi jagung. 5 Dampak benih kepada produktivitas Hasil uji t . abel 2 pada lampira. memperlihatkan bahwasanya variabel benih signifikan senilai 0,017 yang memperlihatkan benih berdampak kepada produktivitas tanaman jagung . Hal ini memperlihatkan bahwasanya bibit ialah salah satu faktor produksi yang sangat berdampak dalam usaha tani jagung. Pemilihan bibit yang tepat akan berperan dalammenentukan keberhasilan pertumbuhan tanaman serta hasil panen yang diperoleh. Bibit yang unggul umumnya memiliki pertumbuhan serta hasil panen yang di peroleh, serta memiliki potensi hasil yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, kualitas bibit menjadi faktor penting yang di perhatikan dalam upaya mengoptimalkan Dalam hasil studi, variabel bibit memperlihatkan dampak yang signifikan kepada produktivitas usahatani jagung. Hal ini memperlihatkan bahwasanya semakin baik kualitas bibit yang digunakan makahasil produksi cenderung meningkat. Oleh sebab itu, petani disarankan menggunakan benih jagung unggul serta bersertifikat sesuai rekomendasi penyuluh pertanian agar produktivitas usahatani jagung bisa meningkat dengan cara optimal. Hal ini sejalan dengan studi sejalan dengan studi yang dijalankan oleh(Jusniar et al. , 2. bahwa variabel benih berdampak kepada Analisis Faktor Yang membahas faktor-faktor yang memdampakhi produksi usahatani jagung di desa salengki,. Berbeda dengan studi yang dijalankan oleh (Murni, 2. dengan hasil studi ialah variabel benih tidak berdampak dengan cara signifikan kepada produktivitas Usaha Tani. Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Juliana et al, 2026 6 Dampak pupuk kepada produktivitas Hasil uji T . abel 2 pada lampira. memperlihatkan bahwasanya variabel pupuk signifikan senilai 0,000 yang artinya pupuk berdampak kepada produktivitas. Hal ini memperlihatkan pupuk termasuk salah satu faktor produktivitas sangat berdampak dalam usaha tani jagung. Jadi, semakin optimal penggunaan pupuk, maka semakin tinggi pula produktivitas yang bisa dicapai oleh petani. Pupuk berfungsi tidak hanya sebagai penambahan unsur hara dalam tanah, tetapi juga sebagai faktor pendukung efisiensi serapan nutrisi oleh akar tanaman. Dengan pemupukan yang tepat, tanaman jagung bisa tumbuh lebih kuat. Dengan cara keseluruhan, hasil studi ini menguatkan bahwasanya hasil pupuk ialah salah satu faktor dalam mengoptimalkan produktivitas usahatani Namun,berdasarkan kondisi lapangan, masih terbisa petani yang melakukan pemupukan tidak sesuai anjuran, baik dari segi dosis maupun waktu pemberian. Penggunaan pupuk yang tidak tepat bisa menyebabkan tanaman kekurangan unsur hara tertentu serta berdampak pada rendahnya produktivitas. Oleh sebab itu, petani disarankan menerapkan pemupukan berimbang sesuai rekomendasi penyuluh pertanian serta memanfaatkan pupuk organik guna memperbaiki kesuburan tanah, sehingga produktivitas usahatani jagung bisa meningkat dengan cara Hal ini sejalan dengan studi (Yusuf et al. , 2. yang menyatkan bahwasanya variabel pupuk berdampak kepada produksi jagung. Berbeda dengan studi yang dijalankan oleh (Wulan et al. , 2. dengan hasil studi ialah faktor produksi pupuk berdampak tidak nyata kepada produksi padi sawah. 7 dampak Pestisida Kepada Produktivitas Hasil uji t . abel 2 pada lampira. memperlihatkan bahwasanya variabel signifikan senilai 0,356 yang artinya Pestisida tidak berdampak kepada pestisida. Kondisi ini mengindikasikan bahwasanya penggunaan pestisida belum sepenuhnya sesuai dengan anjuran, baik dari segi dosis, waktu aplikasi, maupun jenis pestisida yang digunakan sehingga efektivitasnya dalam mengendalikan hama menjadi rendah. Hingga hal ini terjadi sebab penggunaan pestisida yang berlebihan atau tidak tepat sasaran, sehingga tanaman tetap terserang hama atau bahkan Mengalami kerusakan lain akibat residu pestisida. Oleh sebab itu penggunaan pestisida perlu dijalankan dengan cara bijak serta kebutuhan agar tidak menimbulkan kerugian bagi petani. Sebab penggunaan pestisida yang berlebihan memiliki banyak dampak buruk bagi tanaman serta petani. Hal ini dengan sejalan dengan studi yang dijalankan oleh (Putra et al. , 2. bahwa variabel pestisida tidak berdampak pada analisis produktivitas lahan pada usahatani jagung ( zea mays L). Berbeda dengan studi yang dijalankan oleh (Murni, 2. dengan hasil studi ialah variabel pestisida berdampak signifikan pada produktivitas usaha tani padi sawah. 8 Dampak Modal Kepada Produktivitas Hasil uji T . abel 2 pada lampira. memperlihatkan bahwasanya variabel signifikan senilai 0,170 yang artinya modal ialah faktor produksi yang penting dalam kegiatan usahatani jagung, seperti guna membeli benih, pupuk, pestisida, serta membayar tenaga kerja. Dalam studi ini, modal tidak selalu berdampak dengan cara signifikan kepada produktivitas usahatani jagung. Hal ini terjadi sebab besarnya modal yang dikeluarkan oleh petani tidak selalu diiringi dengan penggunaannya tidak tepat sasaran seperti membeli sarana produksi yang tidak sesuai kebutuhan atau Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Juliana et al, 2026 menggunakan teknik budidaya yang kurang optimal. Kondisi ini menyebabkan hasil panen tidak meningkat walaupun modal yang dikeluarkan cukup besar. Selain itu, faktor lain seperti keterampilan petani, kualitas lahan serta kondisi cuaca lebih menentukan hasil produksi dibandingkan jumlah modal yang digunakan. Sehingga modal termasuk bagian penting dalam proses pertanian serta pengelolaan yang tidak baik akan membuat modal menjadi tidak berdampak kepada peningkatan produktivitas jagung. Hasil studi ini sejalan dengan (Wangi & Ardiansyah, 2. yang mengatakan bahwasanya variabel modal tidak berdampak kepada produksi jagung. Berbeda dengan studi yang dijalankan oleh (Evarous et al. , 2. ialah Modal berdampak serta signifikan kepada Penbisaan Petani Jagung. 9 Dampak Luas Lahan Kepada Produktivitas Hasil uji T . abel 2 pada lampira. memperlihatkan bahwasanya nilai signifikan variabel luas lahan senilai 0,688 yang artinya luas lahan tidak menjadi faktor penentu dalam mengoptimalkan produktivitas usahatani jagung. Banyak petani memiliki lahan yang cukup luas, namun hasil produksi per hektarnya tetap rendah. Hal ini disebabkan oleh penggunaan lahan yang kurang optimal, seperti penggunaan bibit yang tidak sesuai dosis atau pengendalian hama yang tidak Selain itu, terbatasnya tenaga kerja serta keterbatasan modal sering membuat petani tidak bisa mengelola seluruh lahannya dengan baik. Akibatnya, meskipun lahan yang dikelola lebih luas, produktivitas tanaman jagung tidak memperlihatkan peningkatan yang signifikan. Luas lahan belum tentu sejalan dengan meningkatnya produktivitas jika faktor- faktor pendukung lainnya belum Hal ini dengan sejalan dengan studi yang dijalankan oleh(Wangi & Ardiansyah, 2. bahwasanya variabel Tenaga Kerja tidak berdampak kepada produktivitas jagung pipil. Berbeda dengan studi yang dijalankan oleh (G. Onibala et al. , 2. dengan hasil studi ialah variabel luas lahan berdampak signifikan kepada produksi padi Sawah. 0 Dampak Tenaga Kerja. Benih. Pupuk,Pestisida. Modal serta Luas Lahan Kepada Produktivitas Jagung Dengan cara simultan, tenga kerja, benih, pupuk, pestisida, modal serta luas lahan berdampak kepada produktivitas dengan nilai signifikan senilai 0,000 < 0,05. Sebab nilai signifikan lebih kecil dari 0,05, maka bisa disimpulkan bahwasanya variabel luas lahan, tenaga kerja, pestisida, pupuk, modal serta benih dengan cara simultan berdampak signifikan kepada variabel produksi di Desa Ujung Tanah. SIMPULAN Hasil uji simultan memperlihatkan bahwasanya seluruh variabel berdampak kepada produktivitas jagung di Desa Ujung Tanah. Dampak faktor produksi kepada produktivitas jagung 60,7% serta sisanya di dampaki oleh faktor lain diluar tenaga kerja, benih, pupuk, pestisida, modal, luas lahan. Dengan cara parsial, hanya benih serta pupuk yang berdampak kepada produktivitas, sementara variabel lainnya tidak memperlihatkan dampak signifikan. Hasil studi, memperlihatkan bahwasanya benih serta pupuk berdampak signifikan terhada produktivitas usahatani jagung di Desa Ujung Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Juliana et al, 2026 Tanah. Penggunaan benih unggul bersertifikat serta pemupukan yang tepat menjadi faktor penting dalam peningktan produktivitas. Selain itu, hasil studi ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi penyuluh pertanian serta pemerintah daerah dalam menyusun program pendampingan serta penyediaan sarana produksi guna mengoptimalkan produktivitas serta kesejahteraan petani jagung. DAFTAR PUSTAKA