Copyright A 2025 The Author. Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 1 Februari 2025 Ketergantungan Penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) pada Tugas Akademik Mahasiswa Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Jihan Alifa Firdaus1. Rakhma Imamatul Ummah2 . Rahma Rizky Aprialini3. Ainul Fithriyyah4. Mahsusi5. Afif Faizin6 1,2,3,4,5,6 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Indonesia mahsusi@uinjkt. Abstrak Perkembangan teknologi yang semakin pesat memberikan dampak signifikan terhadap dunia pendidikan. Maraknya kecerdasan buatan membuat mahasiswa terlena akan kecanggihan teknologi yang ada. Untuk itu artikel ini membahas mengenai ketergantungan penggunaan kecerdasan buatan (AI) pada tugas akademik mahasiswa terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Tujuan penelitian ini adalah mengukur ketergantungan mahasiswa pada AI dalam tugas akademik, khususnya dalam berpikir kritis dan kreatif. Penelitian ini juga mengevaluasi potensi AI sebagai alat bantu, apakah dapat mendukung atau justru menggantikan kemampuan mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner melalui Google Form kepada 29 responden yang merupakan mahasiswa UIN Jakarta jurusan Manajemen Pendidikan. Dari jumlah tersebut, peneliti mewawancarai 3 orang guna mengukur tingkat penggunaan dan persepsi mereka terhadap AI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam pendidikan memberikan kemudahan dan efisiensi, tetapi ketergantungan berlebihan dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif mahasiswa. Untuk itu, perlu ada keseimbangan antara pemanfaatan AI dan pengembangan keterampilan intelektual agar kemampuan esensial mahasiswa tetap terjaga. Kata kunci: Teknologi Pendidikan. Berpikir Kritis. Kreativias Mahasiswa Pendahuluan Perkembangan dalam dunia pendidikan yang semakin kompleks dan maju tidak dapat terlepas dari kemajuan teknologi (Budi Susilo & Tri Widayanti, 2. Perkembangan teknologi memberikan peluang baru dalam implementasi pendidikan melalui berbagai cara (Subagio & Limbong, 2. Hal ini dibuktikan dengan generasi saat ini yang tumbuh di era digital. Generasi yang tumbuh di era digital cenderung menggunakan AI untuk mencari informasi daripada membaca buku. (Lukman et al. , 2. mengungkapkan bahwa generasi digital cenderung lebih mengandalkan kecerdasan buatan (AI) dibandingkan membaca buku sebagai sumber utama. Meskipun AI memberikan fasilitas dalam mempermudah proses pembelajaran, tetapi kecenderungan menggunakan teknologi secara berlebihan dapat mengurangi kemampuan mahasiswa untuk berpikir kritis. Di dunia perkuliahan mahasiswa sering menggunakan AI untuk menyusun karya tulis seperti esai, artikel jurnal, makalah dan skripsi (Febriani et al. , 2. Dengan adanya AI, mahasiswa cenderung hanya akan menerima hasil dari apa yang mereka ingin ketahui tanpa melalui proses mencerna dan berpikir terlebih dahulu dari sebuah fenomena yang mereka cari. (Supriyadi, 2. menegaskan bahwa dalam penulisan karya tulis ilmiah tentunya diperlukan sumber yang jelas sebagai landasan teori untuk mendukung penulisan karya tulis ilmiah. Dengan https://jurnaldidaktika. Vol. 14 No. 1 Februari 2025 ISSN 2302-1330 | E-ISSN 2745-4312 adanya penggunaan AI dikalangan mahasiswa mereka akan sulit menemukan teori yang akurat karena AI tidak menampilkan sumber dari mana teori tersebut berasal. Fenomena ini menggambarkan adanya penurunan terhadap kemampuan Mahasiswa. (Azzahra et al. , 2. mengungkapkan banyak mahasiswa yang menggunakan AI untuk menghasilkan jawaban instan tanpa menjalani proses berpikir yang mendalam. Ketergantungan ini menghalangi mereka untuk menjalani proses penting dalam pembelajaran, seperti menganalisis masalah, merumuskan solusi, dan mengevaluasi hasil pekerjaan mereka sendiri. Ketika AI mengambil alih tugas berpikir, mahasiswa kehilangan kesempatan untuk melatih keterampilan memecahkan masalah secara mandiri. Beberapa penelitian terkait problematika pengunaan AI pernah dilakukan sebelumnya, hasil penelitian menyatakan bahwa penggunaan AI dalam penulisan karya ilmiah oleh mahasiswa dapat mempermudah proses penulisan dan mempercepat akses informasi (Supriyadi, 2. Namun, terdapat dampak negatif seperti peningkatan risiko penurunan kemampuan berpikir kritis, serta potensi pelanggaran etika akademik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif, dengan tujuan memahami dampak penggunaan AI terhadap kemampuan akademik mahasiswa. Penelitian lainnya dilakukan oleh (Lukman et al. , 2. dengan judul AuProblematika Penggunaan Artifical Intelegence (AI) untuk Pembelajaran Dikalangan MahasiswaAy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI menyebabkan beberapa masalah, seperti penurunan kemampuan berpikir kritis, dan hambatan dalam pengembangan keterampilan pribadi. Metode penelitian ini menggunakan wawancara dan observasi terhadap 30 mahasiswa. Studi lain yang sejalan diungkapkan oleh (Ulfah, 2. dengan judul AuDampak Ketergantungan AI Terhadap Kemampuan Analisis dan Kreatif MahasiswaAy. Banyak mahasiswa yang menggunakan AI sebagai alat utama dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik mereka. Akibatnya, kemampuan menulis dan berpikir orisinal mereka melemah, yang sangat berpotensi memengaruhi kualitas tugas akademik yang mereka hasilkan (Reza Putri Angga et al. , 2. Dari tiga artikel jurnal tersebut, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan memiliki dampak positif dan negatif. Di satu sisi. AI dapat meningkatkan kemandirian belajar melalui personalisasi pembelajaran dan dukungan teknologi. Namun. AI juga berisiko menyebabkan plagiarisme, kemalasan, dan penurunan kemampuan berpikir kritis karena ketergantungan pada solusi instan. Meski efektif, penggunaannya harus diimbangi dengan pendekatan yang mendorong pengembangan keterampilan analitis dan etika akademik. Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan saat ini yaitu terletak pada analisis yang dikaji dan metode yang digunakan. Penelitian ini mencoba mengaitkan pemanfaatan AI dalam penggunaan tugas akademik mahasiswa terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner melalui Google Form kepada 29 responden. Dari jumlah tersebut, peneliti mewawancarai 3 orang guna mengukur tingkat penggunaan dan persepsi mereka terhadap AI. Studi ini tidak hanya mengandalkan survei berbasis Google Form, tetapi juga mengintegrasikan analisis data yang lebih mendalam dengan membandingkan hasil penggunaan AI di berbagai lingkungan pendidikan. Selain itu, penelitian ini akan mengeksplorasi sejauh mana mahasiswa mengandalkan AI dalam tugas akademik dan mengkaji peran AI. Hasil penelitian diharapkan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang pemanfaatan AI secara tepat untuk mendukung aktivitas akademik. Tujuan penelitian ini untuk mengukur tingkat ketergantungan mahasiswa dalam mengandalkan AI dalam tugas akademik, terkhusus pada aspek berpikir kritis dan kreativitas. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi potensi AI sebagai alat bantu, apakah dapat menjadi alat bantu yang mendukung kemampuan mahasiswa atau justru menggantikannya. https://jurnaldidaktika. Copyright A 2025 The Author. Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 1 Februari 2025 Dengan mengetahui penggunaan AI secara benar, peneliti berharap mahasiswa mampu mengoptimalkan dalam kehidupan sehari-hari. Metode Penelitian mengenai ketergantungan penggunaan kecerdasan buatan (AI) pada tugas akademik mahasiswa terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreatif ini menggunakan deskriptif Metode deskriptif kuantitatif adalah penelitian yang menggambarkan fenomena berdasarkan data numerik tanpa memanipulasi variabel. Penelitian kuantitatif merupakan pendekatan penelitian yang menggunakan data-data berupa angka dan ilmu pasti untuk menjawab hipotesis penelitian (Waruwu, 2. Peneliti menggunakan metode kuantitatif dalam penelitian ini karena pendekatannya yang objektif dan dapat menghasilkan data yang terukur secara statistik, sehingga memungkinkan untuk mengidentifikasi pola dan hubungan antar variabel secara lebih jelas. Metode ini juga memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan data dalam jumlah besar dengan efisien, sehingga meningkatkan keakuratan hasil penelitian serta mempermudah generalisasi temuan. Tahapan riset yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: pertama, peneliti merumuskan hipotesis berdasarkan teori atau fenomena yang ingin diteliti. Kemudian, peneliti merancang instrumen penelitian, seperti kuesioner atau survei, dan mengumpulkan data dari sampel yang representatif. Dalam penelitian ini, pendekatan kuantitatif diterapkan dengan menyebarkan kuesioner melalui Google Form kepada 29 responden yang merupakan mahasiswa UIN Jakarta jurusan Manajemen Pendidikan. Selain itu, peneliti juga mewawancarai 3 orang dari responden tersebut untuk mengukur tingkat penggunaan dan persepsi mereka terhadap AI. Selanjutnya, data yang terkumpul dianalisis secara statistik untuk menguji hubungan antar variabel atau untuk melihat kecenderungan yang ada. Hasil analisis kemudian disusun dalam bentuk laporan yang menjelaskan temuan dan implikasi dari penelitian. Peneliti melakukan beberapa langkah strategis untuk memastikan validitas dan kredibilitas penelitian kuantitatif ini. Pertama, peneliti merancang instrumen penelitian, seperti kuesioner atau survei, yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya untuk memastikan data yang diperoleh dapat diandalkan. Selanjutnya, peneliti memilih sampel yang representatif dan menggunakan teknik pengambilan sampel yang sistematis untuk memastikan bahwa temuan penelitian dapat digeneralisasi. Selain itu, peneliti menerapkan analisis statistik untuk menguji hubungan antar variabel dan mengidentifikasi pola yang relevan. Dengan langkah-langkah ini, peneliti memastikan bahwa hasil penelitian memiliki validitas dan kredibilitas yang tinggi, serta memberikan pemahaman yang objektif mengenai mengenai ketergantungan penggunaan kecerdasan buatan (AI) pada tugas akademik mahasiswa terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Hasil Tahap penelitian ini dimulai dengan identifikasi masalah oleh para peneliti mengenai ketergantungan penggunaan kecerdasan buatan (AI) pada tugas akademik mahasiswa terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreatif yang secara langsung dilihat oleh peneliti. Proses identifikasi ini dilakukan peneliti untuk mengetahui uraian masalah sesuai dengan judul masalah yang diteliti. Berikut hasil identifikasi masalah yang didapatkan oleh peneliti. No. Tabel 1. Masalah ketergantungan penggunaan AI Uraian Masalah Ketergantungan pada AI mengurangi penggunaan kemampuan pribadi. https://jurnaldidaktika. Vol. 14 No. 1 Februari 2025 ISSN 2302-1330 | E-ISSN 2745-4312 AI bisa mengurangi kebutuhan berpikir mendalam. Penggunaan AI dalam menyelesaikan tugas kuliah. Mahasiswa sering langsung mencari jawaban melalui AI. AI lebih cepat memberikan jawaban analisis. Seberapa besar ketergantungan pada AI dalam tugas kuliah. Frekuensi penggunaan AI dalam pembelajaran. AI membantu dalam memahami materi dan tugas. Kesulitan tugas akademik tanpa AI. Penggunaan AI dapat menurunkan kemampuan analisis dan kreativitas. Berdasarkan uraian masalah, peneliti menyimpulkan bahwa AI menyebabkan Besarnya ketergantungan terhadap AI menyebabkan kemampuan analisis dan kreativitas mahasiswa berkurang. Ketergantungan dalam penggunaan AI Pada penelitian ini dari 29 responden, peneliti menemukan bahwa mahasiswa sangat bergantung terhadap AI dalam menyelesaikan tugas akademik, hal ini dibuktikan dengan diagram di bawah ini: Gambar 1. Frekuensi Penggunaan AI dalam Pembelajaran Sebagian besar responden . ,8%) menggunakan AI dengan frekuensi sedang . ategori Namun, ada kecenderungan positif bahwa penggunaan AI dalam pembelajaran cukup signifikan, karena hanya 17,2% responden yang jarang memanfaatkannya, sementara 37,9% lainnya melaporkan sering hingga sangat sering menggunakan AI . ategori 4 dan . Gambar 2. Tingkat Ketergantungan Mahasiswa terhadap AI dalam Menyelesaikan Tugas Kuliah https://jurnaldidaktika. Copyright A 2025 The Author. Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 1 Februari 2025 Hasil survei ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden . ,5%) cukup sering menggunakan AI dalam tugas kuliah, dengan hampir sepertiga lainnya sering bahkan sangat sering memanfaatkannya. Gambar 3. Persepsi Kesulitan Menyelesaikan Tugas Tanpa Bantuan AI Data ini menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam pembelajaran cukup signifikan, dengan hampir 82,7% responden menggunakan AI pada tingkat sedang hingga sangat sering. Gambar 4. Pengaruh AI terhadap Keterlibatan Mahasiswa dalam Berpikir Mendalam Berdasarkan grafik yang ditampilkan, mayoritas responden merasa bahwa tugas akademik mereka akan lebih sulit diselesaikan tanpa bantuan AI. Lebih dari separuh responden . ekitar 75,9%) setuju hingga sangat setuju bahwa AI membantu meringankan tugas akademik Hanya sebagian kecil responden yang merasa bahwa keberadaan AI tidak terlalu memengaruhi kesulitan tugas akademik, seperti yang terlihat dari persentase rendah pada skala 1 . ,4%) dan 2 . ,7%). Pengaruh Ketergantungan AI pada Tugas Akademik Mahasiswa Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Kemampuan berpikir kritis dan kreativitas mahasiswa mulai menurun karena adanya AI. Sesuai dengan data yang telah dicantumkan di atas, mahasiswa mulai bergantung terhadap AI. Sehingga apabila mahasiswa diberi pertanyaan mereka langsung menggunakan AI tanpa berpikir terlebih dahulu. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada AI dapat menghambat pengembangan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas mahasiswa yang seharusnya menjadi inti dari proses pembelajaran. https://jurnaldidaktika. Vol. 14 No. 1 Februari 2025 ISSN 2302-1330 | E-ISSN 2745-4312 Gambar 5. Ketergantungan Mahasiswa pada AI untuk Menjawab Pertanyaan Analisis Sebagian besar responden . %, kategori . sangat setuju bahwa AI memudahkan pekerjaan mereka hingga mereka jarang berpikir secara mendalam sendiri. Selain itu, 24,1% responden berada di kategori 4, sehingga total 55,1% merasa bahwa AI mengurangi keterlibatan berpikir mendalam. Gambar 6. Persepsi Penurunan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Akibat Penggunaan AI Sebagian besar Mayoritas responden . ,9%, kategori . secara eksplisit menyatakan bahwa mereka cenderung bergantung pada AI untuk menghasilkan jawaban analisis dibandingkan diri mereka sendiri, dengan tambahan 17,2% pada kategori 4. Secara keseluruhan, 55,1% responden menunjukkan ketergantungan ini, yang mengindikasikan bahwa mahasiswa semakin mengandalkan AI, sehingga berpotensi menghambat pengembangan kemampuan analisis dan kreativitas mereka. https://jurnaldidaktika. Copyright A 2025 The Author. Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 1 Februari 2025 Gambar 7. Rangkuman Dampak AI terhadap Kemampuan Akademik Mahasiswa Sebagian besar responden . ,3%) menyatakan bahwa kemampuan berpikir kritis atau kreativitas mereka menurun akibat sering menggunakan AI. Hanya 20,7% yang merasa tidak mengalami penurunan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap AI dapat berdampak negatif pada pengembangan kemampuan kognitif mahasiswa, seperti berpikir kritis dan kreatif. Pembahasan Ketergantungan dalam penggunaan AI Menurut Holmes, kecerdasan buatan atau biasa disebut Artificial Intelligence (AI) dalam pemanfaatannya di bidang pendidikan mengacu pada suatu sistem yang dirancang khusus untuk memberikan bantuan dan memperlancar proses pendidikan dan pembelajaran. Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memiliki peran penting dalam kemajuan bidang pendidikan (Kisno et al. , 2. Kemunculan kecerdasan buatan telah memicu konsep pengalaman belajar baru yang lebih menarik di ranah pendidikan berbasis teknologi (Susanto, 2. Namun dibalik itu, teknologi secara umum yang dapat diibaratkan sebagai pisau bermata dua, dampak negatif yang kemungkinan akan timbul dari munculnya teknologi AI saat ini, salah satunya ketergantungan. Selain itu, kemampuan analitis mahasiswa juga cenderung tergerus ketika mereka mengandalkan AI untuk menganalisis data dan menghasilkan jawaban (Ali et al. , 2. Mahasiswa menjadi kurang terlibat dalam proses analisis yang mendalam, dan pada akhirnya mengurangi kemampuan mereka dalam mengevaluasi informasi secara kritis serta membuat keputusan yang didasarkan pada pemahaman menyeluruh (Harahap & Siswadi, 2. Jika mahasiswa tidak mengembangkan keterampilan ini selama proses pendidikan, mereka mungkin mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan tuntutan dunia profesional yang dinamis dan kompetitif (Hasibuan, 2. Dengan demikian, penting untuk menyeimbangkan penggunaannya dengan pengembangan keterampilan intelektual dan sosial mahasiswa secara Namun, ketika mahasiswa menggunakan AI, kemudahan dan kecepatan sering kali lebih penting daripada memperoleh keterampilan berpikir kritis atau intelektual yang mendalam. Tiga sampel yang diwawancarai menyatakan bahwa alasan mereka menggunakan AI dalam menyelesaikan tugas kuliah adalah karena mudah, cepat, dan praktis. Salah satu alasan lainnya adalah kesulitan dalam merangkai kata-kata meskipun sudah mengetahui jawabannya. Beberapa mahasiswa juga merasa AI lebih efektif dalam situasi "SKS" (Sistem Kebut Semala. , sehingga https://jurnaldidaktika. Vol. 14 No. 1 Februari 2025 ISSN 2302-1330 | E-ISSN 2745-4312 memungkinkan mereka untuk menyelesaikan tugas lebih cepat. Selain itu, sebagian mahasiswa juga merasa malas untuk melakukan analisis mendalam. Sampel A menjelaskan bahwa mereka cenderung langsung membuka AI ketika diberikan pertanyaan karena merasa ragu dengan jawaban mereka sendiri yang mungkin bisa saja jawaban tersebut salah menurut dosen. Mereka juga merasa belum bisa menyampaikan jawaban dengan kalimat yang benar, runtut, dan relevan terhadap persoalan yang disampaikan. Sampel B mengungkapkan bahwa mereka lebih memilih menggunakan AI karena merasa malas untuk mencari dan berpikir kritis. AI dianggap mampu memberikan jawaban yang lebih akurat. Sampel C menyatakan bahwa kebiasaan untuk langsung membuka AI sudah terbentuk sejak ia merasakan kemudahan dan kecepatan yang ditawarkan AI. Selain itu, mereka merasa jawaban yang diberikan oleh AI cukup memadai. Mengenai apakah tugas akademik akan lebih sulit dikerjakan tanpa bantuan AI. Sampel A berpendapat bahwa hal ini tergantung pada jenis tugasnya. Karena sudah terbiasa menggunakan AI, mereka cenderung menggunakan AI untuk mencari ide atau referensi. Sampel B juga berpendapat bahwa hal ini tergantung pada situasinya, karena mahasiswa kini terbiasa mencari informasi secara instan dan menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas akademik. Meskipun tanpa AI tugas tetap bisa diselesaikan, namun AI mempermudah proses tersebut. Sampel C mengungkapkan bahwa mereka terbiasa memeriksa jawaban melalui AI sebelum menyerahkan tugas ke dosen karena khawatir jawabannya salah. Berdasarkan data yang disajikan, jelas bahwa mahasiswa sangat bergantung pada penggunaan AI dalam pembelajaran akademis mereka. Hal ini dibuktikan dengan 82,7% responden menggunakan AI dengan tingkat sedang hingga sangat sering dan mayoritas . ,9%) percaya bahwa akan jauh lebih sulit menyelesaikan tugas sekolah mereka tanpa bantuan AI. Hasil ini menyoroti bahwa AI bukan lagi sekedar alat, namun sudah menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan dalam proses pembelajaran mahasiswa. Ketergantungan ini semakin nyata di kalangan minoritas responden yang jarang atau tidak pernah menggunakan AI dan mahasiswa mulai mengandalkan AI sebagai solusi utama mereka untuk menghadapi tantangan akademis. Pengaruh Ketergantungan AI pada Tugas Akademik Mahasiswa Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan berpikir tingkat tinggi yang dibutuhkan dalam pengembangan keterampilan (Rahardhian, 2. kemampuan berpikir kritis sangat penting untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa. Siswa yang memiliki keterampilan berpikir kritis yang baik cenderung lebih mampu mengembangkan pemahaman materi pelajaran yang lebih baik, memecahkan masalah dengan lebih efektif, dan membuat keputusan yang lebih bijaksana (Ariadila et al. , 2. Sedagkan, berpikir kreatif adalah berpikir dengan mengaitkan gagasan atau hal-hal yang sebelumnya tidak saling terkait kemampuan berpikir kreatif berbeda untuk setiap orang dan bergantung pada latihan teratur yang mendorong pemikiran kreatif (Manurung et al. , 2. Keterampilan berpikir kreatif sangat dibutuhkan oleh manusia dalam menghadapi tantangan global di abad ke-21 yang saat ini berkembang sangat pesat (Fitriyah & Ramadani, 2. Namun, dalam kehidupan nyata, inovasi teknologi seperti AI telah mengubah cara siswa berpikir, terutama dalam hal kreativitas dan berpikir kritis. Mengenai pendapat apakah AI memudahkan pekerjaan sehingga mengurangi kedalaman pemikiran, sampel A setuju dengan pendapat tersebut, karena sebagian besar responden merasa bahwa AI memudahkan pekerjaan mereka sehingga mengurangi keinginan untuk berpikir lebih mendalam. Sampel A menambahkan bahwa penggunaan AI mempermudah pekerjaan mereka, namun mereka tidak tahu cara menganalisis dengan lebih mendalam. Sampel B berpendapat bahwa penggunaan AI yang lebih instan membuat mahasiswa tidak perlu berpikir https://jurnaldidaktika. Copyright A 2025 The Author. Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 1 Februari 2025 lebih dalam, berbeda dengan membaca buku yang mengharuskan pemahaman yang lebih Sampel C menyatakan bahwa selama ada AI, mengapa harus berpikir lebih dalam? Mengenai apakah penggunaan AI dapat mempengaruhi kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Sampel A berpendapat bahwa penggunaan AI yang terlalu sering dapat membuat kemampuan berpikir analitis dan kreativitasnya berkurang, karena mereka merasa kurang Sampel B berpendapat bahwa hal ini tergantung pada individu masing-masing. Ada mahasiswa yang menggunakan AI hanya untuk mencari referensi, dan menurut mereka hal ini tidak berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Namun, ada pula mahasiswa yang mengandalkan AI untuk seluruh proses pengerjaan tugas, yang menyebabkan mereka malas berpikir dan akhirnya menurunkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Sampel C merasa bahwa ketergantungan terhadap AI menyebabkan hilangnya kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Secara keseluruhan, data ini menyatakan potensi risiko besar yang ditimbulkan oleh ketergantungan berlebihan pada AI dalam konteks pendidikan. Meskipun AI menawarkan kemudahan dan efisiensi dalam menyelesaikan tugas, penggunaan yang intensif tidak terkendali dapat mengurangi keterlibatan mahasiswa dalam proses berpikir kritis, analisis mendalam, dan pengembangan kreativitas. Ketergantungan ini tidak hanya mengarah pada pengurangan kemampuan intelektual mahasiswa dalam jangka panjang. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan memiliki dua sisi dampak yang signifikan. Di satu sisi. AI memberikan kemudahan, efisiensi, dan akses informasi yang cepat, sehingga mendukung mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akademik. Namun, di sisi lain, ketergantungan yang berlebihan pada AI membawa dampak negatif pada kemampuan berpikir kritis dan kreativitas mahasiswa. Mahasiswa cenderung mengandalkan AI untuk menyelesaikan tugas tanpa melalui proses berpikir mendalam, yang menyebabkan melemahnya keterampilan berpikir kritis, analitis, dan Penelitian ini berkontribusi pada dunia pendidikan dengan memberikan Batasan yang jelas terhadap penggunaan AI dalam pembelajaran. Hasil identifikasi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa AI dapat membantu mahasiswa dalam mencari ide, referensi, dan memeriksa jawaban. Namun jika penggunaannya tidak seimbang. AI berpotensi menggantikan kemampuan mahasiswa dalam berpikir secara mendalam. Oleh karena itu, diperlukan strategi untuk menyeimbangkan pemanfaatan AI dengan pengembangan keterampilan intelektual, seperti melalui pembelajaran yang mendorong eksplorasi ide, analisis mendalam, dan Dengan pendekatan ini, mahasiswa diharapkan dapat memanfaatkan AI sebagai alat bantu yang mendukung tanpa mengorbankan kemampuan esensial yang dibutuhkan dalam kehidupan akademik dan profesional. References