Kristiyawan, dkk/ Tropical Animal Science 6. :60-72 pISSN 2541-7215 eISSN 2541-7223 Tropical Animal Science. November 2024, 6. :60-72 DOI:10. 36596/tas. Tersedia online pada https://ejournal. id/index. php/tas PENGARUH PERBEDAAN METODE THAWING TERHADAP KUALITAS SEMEN BEKU DAN KEBERHASILAN INSEMINASI BUATAN PADA SAPI PFH DI KECAMATAN TENGARAN KABUPATEN SEMARANG THE EFFECT OF DIFFERENCE THAWING METHODS ON THE QUALITY OF FROZEN SEMEN AND THE SUCCESS OF ARTIFICIAL INSEMINATION IN PFH COWS IN TENGARAN DISTRICT SEMARANG Andi Kristiyawan1. Zakaria Husein Abdurrahman2*. Purwadi2 Mahasiswa Program Studi Peternakan. Fakultas Peternakan. Universitas Boyolali. Boyolali. Indonesia 2Program Studi Peternakan. Fakultas Peternakan. Universitas Boyolali. Boyolali. Indonesia *E-mail korespondensi: zhabdurrahman@mail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan metode thawing menggunakkan air hangat suhu 37 0C dengan air es suhu 5 0C terhadap kualitas semen beku dan keberhasilan inseminasi buatan (IB) pada sapi PFH di Kecamatan Tengaran. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Semen beku . produksi BIB Ungaran dengan pejantan Ramaeden kode bull 30908 bacth P 044. Sapi yang digunakan adalah sapi betina peranakan Fries Holstein (PFH) umur kisaran kurang lebih 3 tahun dengan mengetahui tanggalnya 2 gigi depan . BCS 3 Ae 4 ,dan sedang pada masa birahi / estrus. Rancangan percobaan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) kedalam dua perlakuan dengan 8 ulangan (P1 dan P) dan 10 kali ulangan (U1. U2. U3. U4. U5. U6. U7. U8. U9. Hasil kuantitatif kualitas semen beku Thawing menggunakan air hangat suhu 370C selama 30 detik antara lain Motilitas 71,67 %. Persentase spermatozoa hidup 64,51 %. Abnormalitas 17,99 %. Mortalitas 35,36 % sedangkan kualitas semen beku Thawing menggunakan air es suhu 50C selama 30 menit antara lain Motilitas 63,94 %. Persentase spermatozoa hidup 31,61 %. Abnormalitas 20,36 %. Mortalitas 72,71 %. Hasil Penelitian kemudian di analisa menggunakan Uji T untuk mengetahui pengaruh perlakuan parameter dan pengamatan dengan menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang memberi perbedaan yang sangat nyata (P<0,. adalah motilitas spermatozoa, viabilitas spermatozoa, mortalitas spermatozoa dan sevice per conception (S/C). Sedangkan abnormalitas spermatozoa tidak berbeda nyata (P<0,. Kesimpulan dari penelitian ini adalah dapat disimpulkan bahwa Penggunaan perbedaan metode thawing menggunakan air hangat dengan suhu 37 0C selama 30 detik lebih baik dibandingkan dengan menggunakkan air es suhu 5 0C selama 30 menit. Kata kunci: Thawing. IB, kualitas, semen, keberhasilan. Kristiyawan, dkk/ Tropical Animal Science 6. :60-72 ABSTRACT This study aims to determine the effect of different thawing methods using warm water at a temperature of 37 0C and ice water at a temperature of 5 0C on the quality of frozen semen and the success of artificial insemination (AI) in PFH cows in Tengaran District. The material used in this research is frozen semen . produced by BIB Ungaran with Ramaeden bull code 30908 bacth P 044. The cow used is a Holstein Fries crossbred female (PFH) approximately 3 years old with the date of the 2 front teeth. BCS 3 Ae 4, and is in heat / estrus. The experimental design in this study was a Completely Randomized Design (CRD) into two treatments with 8 replications (P1 and P) and 10 replications (U1. U2. U3. U4. U5. U6. U7. U8. U9. The research results were then analyzed using the T test to determine the effect of treatment parameters and observations using the SPSS program. The results of the study showed that the treatments that made a very significant difference (P<0. were spermatozoa motility, spermatozoa viability, spermatozoa mortality and service per conception (S/C). Meanwhile, spermatozoa abnormalities were not significantly different (P<0. The conclusion of this research is that the use of different thawing methods using warm water with a temperature of 37 0C for 30 seconds is better than using ice water with a temperature of 5 0C for 30 minutes. Keywords: Thawing. AI, quality, cement, success PENDAHULUAN Peningkatan populasi produksi ternak untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, peningkatkan ekspor dan mengurangi impor pembangunan peternakan yang tertuang Aupanca peternakanAy Populasi dan produksi ternak akan meningkat bila disertai dengan penanganan yang memadahi dan terpadu dalam tatalaksana manajemen, pakan, dan Salah satu aspek dari upaya reproduksi ternak adalah inseminasi buatan (Samsudewa, 2. Inseminasi buatan atau yang biasa disebut dengan IB merupakan proses perkawinan secara non alami yang melibatkan manusia pada pelaksanaannya. IB dapat diartikan sebagai proses mempertemukan sperma dengan sel telur dengan tujuan akan terjadi fertilisasi atau pembuahan. Inseminasi bioteknologi reproduksi dengan tujuan meningkatkan mutu genetik ternak. Tujuan dari teknologi IB adalah untuk menggunakan pejantan terpilih secara lebih efektif dan efisien, mencegah penyebaran penyakit melalui fasilitas reproduksi, atau meminimalisir kendala saat pejantan dan betina dikawinkan secara alami (Dwiyanto. Keunggualan dari IB antara lain dapat meminimalisir resiko penularan penyakit veneris atau kelamin menular, dapat meningkatkan kapasitas pejantan unggul untuk melayani betina, menurunkan biaya dan risiko pemeliharaan hewan, menurunkan kemungkinan penyebaran penyakit menular seksual, dan mendorong peternak untuk melakukan recording . dengan cermat (Hardijanto et al. ,2. Semen beku adalah obyek yang digunakan ketika sedang melakukan IB. Manfaat dari semen beku adalah masa simpannya yang lebih lama. kekurangannya adalah kualitas spermatozoa dapat menurun setelah diencerkan karena suhu ekstrem yang harus ditahan oleh spermatozoa selama proses pembekuan. Kristiyawan, dkk/ Tropical Animal Science 6. :60-72 Inseminasi buatan tidak akan berhasil dengan baik jika semen beku berkualitas rendah (Garner and Hafez, 2. Semen beku yang digunakan untuk IB harus dilakukan thawing setelah dikeluarkan dari wadah yang berisi N2 cair, yang memiliki suhu -196 derajat Celcius dengan tujuan semen beku dapat dimasukkan ke dalam organ reproduksi betina, semen beku harus di thawingterlebih dahulu dengan menggunakan media, suhu dan waktu tertentu. Variasi kualitas semen beku pasca pencairan dapat disebabkan oleh waktu pencairan yang berbeda-beda (Salim et al. , 2. Kecamatan Tengaran daerah yang memiliki potensi cukup baik dalam industri pengembangan sapi potong dan sapi perah. Luas dari Kecamatan ini adalah 47,29 km persegi dan terbagi menjadi 15 Desa. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani atau peternak, dan hampir setiap kepala keluarga memiliki hewan ternak, seperti sapi perah, sapi potong, dan domba, yang digunakan sebagai sumber pendapatan tambahan dan tabungan untuk biaya tak terduga. Sebagian besar masyarakatnya petani dan peternak, hampir setiap kepala keluarga memilki hewan ternak seperti sapi perah, sapi potong, domba, dan kambing untuk dijadikan penghasilan utama dan tambahan serta tabungan untuk kebutuhan yang mendadak. Dari data yang diperoleh pada dinas peternakan setempat Populasi sapi perah didaerah Kecamatan Tengaran adalah 3. 151 ekor, sapi potong 5560 ekor, kambing 10. 613 ekor, domba 10. ekor, kuda 208 ekor, dan kerbau 9 (Distaringan kab. Semarang,2. Kecamatan Tengaran ini memiliki satu Puskeswan dan 4 ulib dibawah naungan Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan Kabupaten Semarang. Dalam masyarakat / peternak yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan Inseminasi buatan terdapat Dokter hewan. Paramedis, dan 4 Inseminator. Pada setiap Inseminator memiliki cara Ae cara yang berbeda dalam melakukan proses Inseminasi Buatan, salah satunya adalah dalam melakukan AuthawingAy. Dalam menggunakan air es dengan suhu 50C dan waktu yang digunakan untuk sampai ketempat peternak antara 30 Ae 60 menit. Ini dikarenakan tidak adanya container lapang / mini container 1,5 L yang dimiliki oleh petugas inseminator (PPL, 2. Hal ini tentunya tidak sesuai dengan standar yang dikeluarkan oleh Balai Inseminasi Buatan dan juga Dinas peternakan setempat yang mana suhu dalam melakukan thawing yang baik adalah di kisaran suhu 370C dan waktunya 30 Kualitas semen beku yang buruk dan keahlian inseminator dalam melakukan proses thawing merupakan dua hambatan dan rintangan bagi keberhasilan inseminasi buatan di lapangan. Secara umum, inseminator cenderung kurang memperhatikan suhu selama periode thawing, yang berakibat pada penurunan motilitas spermatozoa setelah pencairan dan pembiakan ulang. (Pratiwi et ,2. Tingkat viabilitas dan motilitas yang rendah, serta persentase spermatozoa yang tidak mampu bertahan hidup, merupakan tanda-tanda kualitas semen beku yang buruk pasca proses thawing (Salim et al. , 2. Pentingnya thawing merupakan faktor utama yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan IB. Metode thawingyang tidak tepat dapat merusak spermatozoa, menurunkan kualitas semen beku dan mungkin menurunkan tingkat keberhasilan IB. Di sisi lain, ada berbagai macam metode thawing dalam beberapa pustaka, yang mengarah pada berbagai macam metode thawing yang digunakan di Direktorat Jenderal Peternakan menggunakan air pada suhu 37AC selama 30 detik, untuk menghasilkan semen beku berkualitas tinggi. Akan tetapi, faktor pertimbangan inseminator dalam pelaksanaan Namun. Kristiyawan, dkk/ Tropical Animal Science 6. :60-72 pelaksanaan saat melakukan thawing. Ada beberapa teknik pencairan lain yang digunakan di lapangan, seperti air es, air sumur, es lilin, dan bahkan ada inseminator (Samsudewa, 2. Sebelum melakukan inseminasi buatan. Semen beku terlebih dahulu di AuthawingAy pada media suhu dan waktu yang tepat dan sesegera mungkin diinseminasikan pada sapi betina yang sedang birahi / estrus. Akan tetapi kenyataan dilapangan sering kali berbeda, hal ini dapat dilihat pada pengamatan didaerah kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang menunjukan bahwa lama waktu yang ditempuh dari tempat semen beku di AuthawingAy sampai ke tempat akseptor berkisar 5 Ae 60 menit dan proses thawing dilakukan dengan memasukkan semen beku ke dalam wadah yang berisi air keran atau air sumur. Bahkan tak jarang ada inseminator yang melakukan thawing dengan menggunakan air es untuk dibawa sebelum inseminasi selama berjam jam hal ini tentunya merupakan kendala bagi fertilitas spermatozoa, sebab fertilitas spermatozoa dapat dipengaruhi oleh suhu dan lama AuthawingAy. Mini container dengan nitrogen cair di dalamnyayang digunakan untuk membawa semen beku . tidak tersedia, dan kenyamanan dalam melaksanakan inseminasi buatan merupakan keterbatasan lain bagi para inseminator (PPL. Hal mengurangi keberhasilan dalam Inseminasi buatan, sebab menurut BIB Ungaran . ,Pada proses pemindahan straw, dimana straw akan mengalami keadaan berada di udara luar yang merugikan, haruslah diusahakan dalam waktu yang sesingkat Ae Untuk ukuran straw medium waktu mediumnya adalah 3 detik. Waktu yang diperlukan untuk prosesthawing adalah 15 detik yang bertujuan supaya semen beku dapat mencair dengan sempurna sebelum dilakukan proses inseminasi. Meskipun waktu thawing itu bisa jauh lebih lama lagi, yaitu sampai satu jam, akan tetapi makin cepat straw dipergunakan akan semakin lebih baik. Straw mengalami proses thawing, tidak boleh disimpan kembali didalam container. Azasnya ialah bahwa perlakuan terhadap mani beku tidak boleh berada dalam suhu yang berayun . , sekali mani beku keluar dari container yang bersuhu Ae 196 0C, ia harus berada didalam suhu yang meninggi sampai ia ditumpahkan kedalam peranakan betina pada waktu inseminasi. Sebab naik turunnya suhu akan menimbulkan akibat yang merugikan semen (BIB Ungaran, 2. Berdasarkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan dampak dari dua metode thawing yang berbeda, yaitu udara pada suhu 37AC selama 30 detik dan pada suhu 5AC selama 30 menit, terhadap hasil dari inseminasi buatan (IB) di Kecamatan Tengaran. Kabupaten Semarang, pada sapi Peranakan Friesien Holstein (PFH). MATERI DAN METODE Penelitian tentang pengaruh perbedaan metode thawing menggunakan air hangat 37 0Cdengan menggunakan air es suhu 5 C dengan waktu 30 menit dengan fokus keberhasilan pada inseminasi buatan (IB) pada sapi PFH ini dilaksanakan di Laboratorium Genetika dan Reproduksi Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro dan wilayah tugas inseminator Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang selama 2 bulan. Bahan dan alat yang digunakan antara lain mikroskop, objek glass, cover glass, cairan eosin 2%, mini container kapasitas 3 L, termometer, termos thawing, gunting, pinset, pipet, tisu dan cool box. Sapi yang digunakan adalah sapi betina Peranakan Fries Holstein (PFH) yang sedang birahi (Estru. sebanyak 16 ekor milik pelaku usaha ternak sapi perah yang berada di Kecamatan Tengaran. Kristiyawan, dkk/ Tropical Animal Science 6. :60-72 Kabupaten Semarang. Umur D2/P1 (Penanggalan gigi seri 2, beranak 1 kal. dan BCS 3-4, yaitu metode menilai tubuh ternak dengan melihat kondisi tubuh maupun dengan perabaan pada timbunan lemak dibawah kulit sekitar pangkal ekor. BCS 3-4 memiliki makna sapi dalam keadaan baik dan cukup dalam memperoleh asupan pakan sehinnga tampak tidak kurus dan tidak gemuk . sehingga baik untuk proses inseminasi buatan. Sapi dalam keadaan birahi menaiki sapi yang lain, gelisah, napsu makan dan produksi susu menurun, vulva memerah bengkak hangat, serta keluar lender berwarna putih transparan. Straw yang digunakan adalah Straw produksi Balai Inseminasi Buatan (BIB) Ungaran menggunakan Pejantan Fries Holstein (FH) nama Ramaeden 30908 Bacth e 47. Kode 30908 memiliki makna 3 adalah kode pejantah FH, 09 tahun lahir pejantan, 08 no urut pejantan di BIB Ungaran. Batch e 47 memiliki arti e tahun pengambilan semen / koleksi yaitu tahun 2014, 4 bulan April dan 7 adalah tanggal 7. Perlengkapan inseminasi buatan (IB) yang digunakan adalah insemination gun (Gun IB). Thermometer. Plastik sheath. Glove . arung tangan plasti. Gunting. Pelicin . abun mandi, sabun cuc. Kapas atau tisu. Termos thawing. buku harian inseminator, bolpoin, kartu recording model II, dan buku catatan. Perlakuan yang diberikan adalah sebagai T1: Thawing menggunakan air hangat suhu 37 0C dengan waktu 30 detik kemudian diamati menggunakan mikroskop untuk mengetahui motilitas, persentase hidup spermatozoa, abnormalitas dan mortalitas Kemudian diinseminasikan pada sapi betina PFH yang sedang birahi . T2: Thawing menggunakan air es suhu 5 0C dengan waktu 30 menit kemudian diamati menggunakan mikroskop untuk mengetahui motilitas, persentase hidup spermatozoa, abnormalitas dan mortalitas Kemudian diinseminasikan pada sapi betina PFH yang sedang birahi . Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dengan melakukan thawing serta inseminasi buatan (IB) pada sapi betina PFH yang sedang birahi . dan tahap pengamatan PFH Metode Thawing dengan air suhu 37 0C dengan waktu 30 detik. Menyediakan air hangat dengan suhu 37 0C pada termos thawing, kemudian mengambil straw dari container. Straw diambil secepat mungkin dan langsung ditempatkan atau di masukkan ke dalam gelas yang telah berisi air suhu 37 0C tersebut hal ini untuk menghindari cold shock. Setelah itu diamkan selama 30 detik menginseminasi sapi Peranakan Fries Holstein (PFH)yang sedang birahi . Metode air es suhu 5 0C selama 30 menit dengan cara menyediakan termos thawing yang telah diisi dengan air es suhu 5 0C, kemudian mengambil straw dari container dan langsung ditempatkan pada gelas Diamkan selama 30 menit atau menuju tempat akseptor yang ditempuh selama kurang lebih 30 menit. Baru kemudian diinseminasikan pada sapi Peranakan Fries Holstein (PFH) yang sedang birahi . Tahap Inseminasi Buatan menyiapkan peralatan inseminasi buatan (IB) yaitu nsemination gun, plastik sheath, glove . arung tanga. plastic, gunting, pelicin . etergent, sabun mand. , kapas atau tisu. Tahapan inseminasi dengan mengambil insemination gun, kemudian menarik pangkal kebelakang agar piston besi dapat masuk kedalam, sebab jika tidak ditarik kebelakang piston tersebut akan menghalangi masuknya Memasukkan straw yang sudah di thawing kedalam insemination gun, lalu potong bagian ujungstraw menggunakan gunting agar semen dapat keluar sebab bagian ujung tersebut terdapat sumbat laboratorium . aboratory insemination gun dengan menggunakan plastik sheath yang steril, bagian yang tersobek Kristiyawan, dkk/ Tropical Animal Science 6. :60-72 masukkan terlebih dahulu. Melakukan inseminasi dengan menggunakan metode Setelah selesai melakukan Inseminasi tersebut baru dilakukanpencatatan . Diagnosa kebuntingan dilakukan secara palpasi perectal setelah 2 bulan di inseminasi tidak terjadi estrus / birahi. Penelitian ini dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) kedalam dua perlakuan dan 8 ulangan. Data hasil Penelitian di analisa Uji T guna mengetahui menggunakan program SPSS. Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis kemaknaannya dengan Uji T untuk mencari letak perbedaannya. (Hadi, 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian pengaruh perbedaan metode thawing terhadap kualitas semen beku dan keberhasilan inseminasi buatan (IB) pada sapi PFH di Kecamatan Tengaran. Dengan menggunakan Air hangat suhu 370C selama 30 detik dengan air es suhu 50C selama 30 menit diperoleh hasil sebagai beikut: Tabel 1. Hasil analisa statistik data penelitian metode thawing yang berbeda menggunakan air hangat suhu 370C selama 30 detik dan air es suhu 50C selama 30 menit Perl motilitas PSH P1 71,67% a 64,51% a 17,99% a P2 63,94% b 31,61% b 20,36% a 35,36% a 72,7%1 b S/C Keterangan: Superskrip huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menujukan perbedaan yang sangat nyata (P<0,. Hasil penelitian dan pengamatan motilitas spermatozoa metode thawing dengan air hangat suhu 37 0C selama 30 detik memiliki nilai 71,67 %. Sedangkan hasil pengamatan metode thawing dengan air es suhu 5 0C selama 30 menit memiliki nilai 63,94 Dari hasil tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata (PO0,. antara kedua metode thawing tersebut. Ketika proses thawing dengan menggunakan air hangat pada suhu 37AC selama 30 detik, nilai motilitas lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan air es untuk proses thawing pada suhu 5AC selama 30 menit. Pada thawing suhu 5 0C terjadi penurunan daya motilitas spermatozoa karena pada suhu rendah mengakibatkan struktur fosfolipid membran plasma akan berubah dari fase cair menjadi fase gel atau lebih kental. Selain itu pada suhu rendah pengeluaran krioprotektan sempurna tetapi metabolisme berjalan tidak optimal sehingga mengakibatkan nilai motilitas spermatozoa yang dihasilkan mengalami penurunan. Hal ini didukung dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ansary et al . motilitas yang baik yaitu pada teknik thawing menggunakan 37 0C dengan waktu 30 detik karena suhu thawing yang lebih rendah akan menghasilkan angka motilitas yang rendah. Karena suhu pencairan 37AC sesuai dengan suhu fisiologis pada umumnya, maka spermatozoa dapat berjalan dengan sempurna pada suhu ini. Selain itu, spermatozoa memiliki mekanisme yang mencegah tekanan osmotik sekaligus mempercepat gliserol Peristiwa tekanan osmotik pada spermatozoa selama pembekuan dan proses ketidakseimbangan pada konfigurasi lipid protein membran spermatozoa, yang pada saatnya berdampak pada keseimbangan Selain itu, terbukti bahwa setelah 30 menit pada suhu 50C, proporsi motilitas Hal mengindikasikan bahwa penurunan motilitas individu dapat terjadi jika suhu thawing lebih Ketika spermatozoa dicairkan pada suhu yang terlalu rendah atau tinggi, struktur lipid protein membran menjadi tidak Kristiyawan, dkk/ Tropical Animal Science 6. :60-72 seimbang dan tidak sesuai dengan parameter fisiologis yang diperlukan untuk pergerakan spermatozoa karena tekanan osmotiknya. Hal ini menyebabkan penurunan motilitas dan (Daud Suryawijaya, 2. Karena proporsi motilitas spermatozoa lebih besar pada suhu 37AC dibandingkan dengan suhu 5AC, maka suhu thawingspermatozoa hidup. Kemampuan lingkungan untuk menahan panas melalui konduksi, konveksi, dan penguapan tidak berkurang secara signifikan pada suhu 37AC, sehingga memungkinkan semen beku mencair sepenuhnya dan meningkatkan motilitas spermatozoa selama proses pencairan. Pramunico . berpendapat bahwa apabila yang terjadi pada membran spermatozoa tidak berada di bawah tekanan osmotik yang berlebihan pada suhu 37AC, motilitas spermatozoa dapat menjadi lebih aktif. Menurut Widyastuti . apabila spermatozoa bergerak ke depan, maka dianggap progresif. Motilitas atau pergerakan sperma sangat penting untuk keberhasilan Daya gerak atau motilitas spermatozoa menjadi tolak ukur untuk menentukan kualitas semen (Nugroho, 2. Berdasarkan penelitian dari Zelpina et al . menunjukkan bahwa proses thawing dilakukan pada suhu 37AC dengan waktu 30 detikmemiliki persentase motilitas yang lebih besar jika dibandingkan dengan pencairan pada suhu 5AC selama 30 menit. Nilai motilitas spermatozoa yang kurang dari 40% mengindikasikan bahwa semen beku dengan post thawing motility (PTM) tidak cocok untuk IB (Samsudewa. Didukung dengan pendapat Ansary et , . saat menggunakan proses thawing, motilitas yang baik dapat dicapai dengan memanaskan air hingga 37AC dengan 30 detik. Jumlah motilitas yang lebih rendah akan dihasilkan dari suhu pencairan yang lebih Berdasarkan pernyataan tesebut, sesuai dengan temuan penelitian yang menunjukkan penurunan nilai motilitas rata- rata ketika prosedur pencairan digunakan dengan waktu 30 menit pada suhu 5AC. Pelepasan krioprotektan sangat ideal pada suhu rendah, tetapi metabolisme menjadi tidak optimal, sehingga motilitas menjadi tidak optimal yang menurunkan nilai motilitas spermatozoa yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P2 yang melibatkan pencairan pada suhu 50C selama 30 menit, lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan P1 karena pencairan pada suhu rendah juga menyebabkan struktur fosfolipid membran plasma bertransisi dari fase cair ke fase gel atau lebih kental. Selain suhu rendah selama proses pencairan, suhu tinggi juga mempengaruhi motilitas spermatozoa. Hal ini metabolisme spermatozoa berjalan normal selama fase pencairan, tetapi proses penghilangan krioprotektan belum selesai. Penghilangan yang tidak sempurna ini dapat menyebabkan keracunan dan kerusakan spermatozoa, yang pada gilirannya dapat menurunkan motilitas spermatozoa. Proses metabolisme spermatozoa akan meningkat pada suhu tinggi dalam media thawing, sehingga menghasilkan kebutuhan energi yang lebih tinggi. Spermatozoa dengan cepat kehilangan energi dalam keadaan seperti itu, yang menyebabkan kematiannya (Zelpina et al. , 2. Menurut Gordon . motilitas dan viabilitas sperma paling baik pada suhu 3037AC dengan waktu 30 detik saat post thawing. Straw semen sapi yang di thawing pada suhu 37AC mendapatkan hasil fertilitas lebih tinggi dibandingkan dengan air dingin atau 5AC (Pace et al. , 1981 dalam Nur et al. , 2. Persentase pengamatan viabilitas spermatozoa setelah pencairan semen beku menggunakan air hangat pada suhu 37AC selama 30 detik adalah 64,51%, sedangkan persentase berdasarkan pencairan menggunakan air es pada suhu 5AC selama 30 menit adalah 31,61%. Hal tersebut dapat disimpulkan bahawa nilai viabilitas thawing menggunakan air hangat suhu 37 0C Kristiyawan, dkk/ Tropical Animal Science 6. :60-72 selama 30 detik dengan thawing menggunakan air es suhu 5 0C selama 30 menit berbeda sangat nyata (P<0,. Presentase dithawingdalam air hangat pada suhu 37AC dalam 30 detik. Hal ini mengindikasikan bahwa membran plasma masih utuh secara fisik, melindungi organel sel spermatozoa dan menyediakan bahan makanan dan ion yang diperlukan untuk aktivitas metabolisme. Jika membran plasma sel masih utuh, maka sel dapat secara efektif mengontrol aliran substrat dan elektrolit ke dalam dan ke luar sel, yang diperlukan untuk metabolisme sel yang Uji kualitas yang disebut viabilitas digunakan untuk menghitung proporsi spermatozoa yang diperlakukan yang hidup atau mati. Pewarnaan eosin digunakan dalam berdasarkan variasi warna. Spermatozoa yang tidak berwarna dari spermatozoa hidup menunjukkan bahwa mereka tidak menyerap pewarna, sedangkan spermatozoa yang berwarna-warni dari spermatozoa yang tidak hidup menunjukkan bahwa mereka menyerap Pada thawing dengan suhu 50C persentase hidup spermatozoa rendah di karenakan membrane plasma sudah tidak lagi spermatozoa tidak tercukupi kebutuhan za makanan dan ion untuk proses metabolism. 0yeyemi et al . menyatakan bahwa bila terjadi perubahan suhu yang tidak sesuai fosfolipid hidrofilik rusak dan menyebabkan fluiditas membran terganggu sehingga terjadi kematian spermatozoa. Fluktuasi suhu ekstraseluler yang tidak tepat menyebabkan kerusakan pada hidrofilik dan menghambat fluiditas membran, yang pada spermatozoa (Oyeyemi et al. , 2. Sayoko et , . menyatakan bahwa apabila terdapat lebih banyak spermatozoa hidup dapat dihasilkan selama thawing ketika laju perubahan suhu dalam semen meningkat. Ketika dilakukan proses thawing dengan air yang dipanaskan dengan benar, hal ini dapat Kecepatan perubahan spermatozoa selama proses pencairan akan mengurangi tekanan pada spermatozoa saat mereka melewati masa krusial, atau fase transisi. Hal meningkatkan jumlah spermatozoa yang meningkatkan tingkat pembuahan. Biasanya, spermatozoa mengalami kerusakan selama fase transisi ini. Jumlah asam laktat yang tidak teroksidasi dari metabolisme spermatozoa merupakan alasan lain yang berkontribusi terhadap rendahnya proporsi spermatozoa yang layak setelah pembekuan. Penumpukan asam laktat menyebabkan keasaman larutan meningkat, yang berbahaya bagi spermatozoa selama perkembangannya. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa thawing menggunakan air hangat pada suhu 37AC dengan waktu 30 detik menghasilkan nilai viabilitas yang tinggi. Hal ini dapat dijelaskan bahwa suhu dan waktu tersebut ideal untuk kondisi spermatozoa, dan prosedur thawing tersebut merupakan prosedur yang paling efektif dan sesuai dengan pedoman Balai Besar Inseminasi Buatan. Saryoko et al. , . menyatakan bahwa ketika dicairkan selama 30 menit, proporsi spermatozoa yang layak hidup tidak setinggi ketika dicairkan selama 30 detik. Berdasarkan abnormalitas setelah dilakukan thawing dengan menggunakan air hangat pada suhu 37 0C selama 30 detik mendapatkan nilai 17, 99 % sedangkan dengan air es suhu 5 0C selama 30 menit 20,36 %, maka dapat disimpulkan bahwa abnormalitas pada dua Kristiyawan, dkk/ Tropical Animal Science 6. :60-72 metode thawing yang berbeda tersebut tidak berbeda nyata (P>0,. Abnormalitas kedua metode thawing tersebut layak digunakan untuk melakukan inseminasi buatan (IB). Hal ini sejalan dengan penelitian Ihsan . , yang menyatakan bahwa abnormalitas spermatozoa kurang dari 20% masih dapat diterima pada semen beku untuk IB dan abnormalitas spermatozoa lebih dari 20% akan menurunkan tingkat fertilitas. Penelitian ini mencakup spermatozoa dengan berbagai macam abnormalitas, termasuk kepala kecil, ekor melingkar, ekor retak, dan ekor patah. Pengelompokan abnormalitas terbagi menjadi dua kategori: abnormalitas primer yang terjadi pada tubulus seminiferus selama spermatogenesis, seperti kepala besar . , kepala kecil . , kepala ganda, ekor ganda, dan ekor melingkar. Sedangkan abnormalitas sekunder yang terjadi setelah sperma meninggalkan tubulus seminiferus, selama perjalanan menuju epididimis, ejakulasi, dan faktor lain akibat sepertitempat penampungan yang kotor dan suhu tinggi, seperti kepala dan ekor yang terputus secara normal (McPeake dan Pennington, 2. Analisis ragam menyatakan bahwa abnormalitas spermatozoa tidak secara signifikan dipengaruhi oleh waktu thawing yang tepat. Kesalahan dalam ejakulasi atau sumber abnormalitas yang muncul. Didukung dengan pendapat Arifiantini etal. , . persiapanthawing dapat menjadi penyebab abnormalitas sekunder. Guncangan suhu dan ejakulasi tidak sempurna dapat menjadi penyebab abnormalitas pada ekor. Pengamatan terhadap abnormalitas spermatozoa muncul dari hasil penelitian bahwa, pada semua perlakuan, suhu dan lama thawing tidak memberikan tekanan atau pengaruh mekanis yang signifikan, sehingga menyebabkan spermatozoa menjadi abnormal seperti halnya ciri-ciri abnormalitas tersier. Kepala atau ekor yang terputus merupakan salah satu ciri-ciri spermatozoa yang mengalami abnormalitas tersier. Berdasarkan temuan tersebut, sebagian besar abnormalitas adalah spermatozoa dengan kepala atau ekor Namun mengindikasi bahwa prosedur persiapan, seperti membuat preparat ulas, adalah yang menyebabkan kondisi ini, bukan proses Kepala atau ekor spermatozoa yang putus selama preparat ulas dapat menjadi penyebab anomali tersier (Yulnawati et al. Didukung dengan pendapat Suyadi et , . peroksidasi lipid dan pembuatan preparat pra-pengamatan adalah penyebab meningkatnya tingkat abnormalitas. Pada hasil pengamatan mortalitas metode thawing dengan air hangat suhu 37 0C selama 30 detik mendapatkan nilai 35,36 %. Sedangkan hasil pengamatan mortalitas metode thawing dengan air es suhu 5 0C selama 30 menit memiliki nilai 72,71 %. Maka dapat disimpulkan bahwa perlakuan metode thawingair hangat suhu 37 0C selama 30 detik dengan air es suhu 5 0C selama 30 menit memiliki perbedaan yang sangat nyata (P<0,. Dari hasil pengamatan tersebut metode thawing dengan air hangat suhu 37 0C selama 30 detik memiliki nilai mortalitas yang lebih rendah / sedilkit dibandingkan dengan metode thawing dengan air es suhu 5 0C selama 30 menit. Mortalitas adalah jumlah spermatozoa yang mati setelah dilakukan thawing dengan menggunakan air hangat dengan suhu 37 0C selama 30 detik dan dengan air es suhu 5 0C selama 30 menit. Sebaliknya, daya hidup mengacu pada kapasitas spermatozoa untuk bertahan dalam pengenceran, seperti yang ditunjukkan oleh kemampuannya untuk terus bermigrasi hingga tidak mampu lagi Sperma yang motil akan hidup, tetapi sperma yang hidup tidak selalu motil dan sperma yang tidak bergerak disebut mortal atau mati (Triana, 2. Kristiyawan, dkk/ Tropical Animal Science 6. :60-72 Mobilitas spermatozoa menurun selama fase pengenceran. Hal ini diduga disebabkan oleh meningkatnya keasaman pH semen setelah pengenceran dan meningkatnya jumlah spermatozoa yang rusak dan mati sebagai akibat dari kandungan nutrisi yang buruk dan kurangnya ketersediaan energi (Solihati dan Kune, 2. Tambing et al. menyatakan bahwa karena fosfolipase A memiliki sifat toksik bagi semen selama proses pengenceran, maka diyakini bahwa aktivitas enzim ini merupakan sumber keasaman pH. Berdasarkan hasil Service / Conception (S/C) pada inseminasi buatan (IB) thawing dengan metode yang berbeda pada semen beku menggunakan air hangat suhu 37 0C selama 30 detik mendapatkan hasil1. sedangkan dengan menggunakan air es suhu 5 0C selama 30 menit mendapatkan hasil2. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahawa S/C thawing menggunakan air hangat suhu 37 selama 30 detik dengan thawing menggunakan air es suhu 5 0C selama 30 menit berbeda sangat nyata (P<0,. Sesuai dengan hasil inseminasi buatan di lapangan P1 memiliki hasil yg lebih baik dibandingkan dengan P2, sebab motilitas Tingkat keberhasilan fertilisasi. Salah satu indikator yang digunakan untuk menilai kualitas spermatozoa adalah motilitas spermatozoa, yang didefinisikan sebagai kemampuan spermatozoa untuk bermigrasi ke depan setelah pencairan. Motilitas diperlukan agar perkembangan saat memecah dinding sel Jumlah total spermatozoa yang aktif dan hidup sehat menentukan tingkat suburanium spermatozoa (Hafez, 1. Seluruh organel spermatozoa terletak di bagian ekor, yang memungkinkan spermatozoa bergerak dalam gelombang yang dimulai dari kepala dan bergerak ke arah ekor. Motilitas individu yang dilakukan dengan melihat pergerakan spermatozoa yang . Pergerakan mempengaruhi keberhasilan IB. Spermatozoa individu biasanya bergerak secara progresif atau maju. agar bisa melakukan fertilisasi. Pergerakan spermatozoa progresif diperlukan untuk transportasi di saluran reproduksi betina, sehingga dapat terjadi fertilisasi. Jumlah persentase spermatozoa hidup (PSH) sangat mempengaruhi keberhasilan inseminasi buatan disuatu tempat tertentu sebab menurut Hidayanti . inseminasi buatan membutuhkan 50% spermatozoa yang Untuk melindungi organel sel spermatozoa, viabilitas pada perlakuan thawing P1 dengan menggunakan air hangat pada suhu 37AC dengan 30 detik mengindikasi bahwa persentase viabilitas tetap berada Persentase spermatozoa hidup yang tinggi juga menunjukkan bahwa membran plasma mengindikasikan ketersediaan nutrisi dan ion yang diperlukan untuk fungsi metabolisme. Menurut Arianti et al. persentase abnormalitas yang tinggi pada semen beku dikaitkan dengan tingkat fertilitas yang lebih rendah karena hal ini mempengaruhi mempertahankan perkembangan embrio. Penelitian bahwa meskipun waktu yang dihabiskan sesuai dengan standar yang berlaku, thawing menggunakan air es pada suhu 5AC selama 30 menit kurang sesuai untuk inseminasi karena suhu yang lebih rendah akan merusak morfologi spermatozoa. Didukung dengan pendapat Putranti et al. , . Salah satu elemen yang paling penting dalam IB adalah spermatozoa yang sehat atau tidak rusak yang memiliki kemungkinan besar untuk fertilisasi. Angka konsepsi pada P2 lebih rendah dari pada P1, hal ini di sebabkan asam laktat dari metabolisme sel hadir selama proses pendinginan pada suhu 5AC menyebabkan Kristiyawan, dkk/ Tropical Animal Science 6. :60-72 Penurunan pH ini akan membuat kondisi medium menjadi lebih asam. Spermatozoa dapat diracuni oleh kondisi ini, yang pada spermatozoa (Sugiarti et al. Hal ini dikarenakan semakin lama waktu thawing maka akan terjadi peningkatan pada persentase mortalitas spermatozoa pada semen beku. Dimana mortalitas tertinggi yaitu pada lama waktu thawing menggunakan air es suhu 5 0C selama 30 menit sebesar 72,71 %. Sedangkan pada thawingsuhu 37 0C selama30 detik sebesar 35,36%. Tekanan panas dan interaksi oksigen mengakibatkan membran spermatozoa rusak akibat waktu thawing yang tidak tepat. Asam lemak diproduksi sebagai hasil dari proses peroksidasi sel, yang menurunkan membran spermatozoa berbasis fosfolipid. Karena sperma mengalami perubahan lingkungan yang substansial selama pemrosesan semen, maka viabilitas sperma pasti akan hilang. Didukung dengan pendapat Anwar et al. peningkatan asam laktat yang menurunkan PH pengencer dan menghasilkan sifat toksik demi kelangsungan hidup spermatozoa, spermatozoa akan secara agresif terlibat dalam aksi biomolekul kimiawi yang memetabolisme substrat yang diperlukan untuk motilitas. Jumlah perkawinan yang diperlukan untuk menghasilkan kehamilan dikenal sebagai Service per conception atau S/C. Menurut Nuryadi danWahyuningsih . kisaran normal untuk S/C adalah 1,6 hingga 2,0. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kisaran ini termasuk peternak yang terlambat inseminator tentang sapi yang sedang berahi, kelainan pada organ reproduksi induk sapi, transportasi yang sulit, kurangnya fasilitas layanan inseminasi, dan inseminator yang kurang berpengalaman yang mungkin mengalami kesulitan dalam mencairkan semen beku. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa perbedaan metode thawing menggunakan air hangat dengan suhu 37 0C selama 30 detik lebih baik dibandingkan dengan menggunakkan air es suhu 5 0C selama 30 menit. Hasil pemeriksaan dan pengamatan semen beku secara mikroskopis yang mana nilai/angka baik motilitas, persentase hidup spermatozoa dan mortalitas semen beku pada penggunakkan metode thawing dengan air suhu 37 0C selama 30 detik sangat baik dan tinggi. Hasil S/C inseminasi buatan di lapangan metode thawing dengan air suhu 37 0C selama 30 detik adalah 1,3. Menunjukan tingkat keberhasilan Inseminasi buatan (IB) yang baik. DAFTAR PUSTAKA