Studi Etnopedagogi: Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Gerak Salancaran Pencak Silat Cimande dan Relevansinya bagi Pendidikan Kontemporer Rahayu Lestari Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni. Pascasarjana Institut Seni Budaya Indonesia Bandung Abstrak : Studi ini mengkaji nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam gerak Salancaran Pencak Silat Cimande melalui pendekatan etnopedagogi dan relevansinya bagi pendidikan kontemporer. Penelitian ini menunjukkan bahwa Salancaran bukan sekadar rangkaian teknik bela diri, melainkan representasi budaya yang memuat filosofi hidup masyarakat Sunda. Gerakannya mengekspresikan keselarasan dengan alam, semangat gotong royong, disiplin, penghormatan terhadap hierarki sosial, serta pembentukan karakter yang tangguh namun rendah hati. Nilai-nilai tersebut terinternalisasi melalui praktik gerakan, hubungan guru-murid, dan sistem pewarisan tradisional yang berlangsung secara lisan. Dengan pendekatan kualitatif dan perspektif ilmu manusia, penelitian ini menelusuri bagaimana Salancaran berperan sebagai medium pendidikan karakter holistik yang kontekstual. Temuan menunjukkan bahwa seni bela diri tradisional seperti Cimande mampu memperkuat kesadaran budaya, identitas nasional, dan kecerdasan kinestetik peserta didik. Implementasinya dalam pembelajaran berbasis budaya dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan relevan. Oleh karena itu, warisan budaya seperti Salancaran layak dijadikan sebagai sumber nilai dalam kurikulum pendidikan Indonesia yang berorientasi pada penguatan karakter dan kearifan lokal. Penelitian ini menegaskan pentingnya pelestarian seni tradisional sebagai bagian dari strategi pendidikan yang reflektif, kontekstual, dan Kata Kunci: Etnopedagogi. Salancaran. Pencak Silat Cimande. Kearifan Lokal. Seni Bela Diri Tradisional. PENDAHULUAN Dalam dinamika zaman yang ditandai oleh percepatan globalisasi, modernisasi, serta kemajuan teknologi informasi, dunia pendidikan menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan jati diri kebangsaan dan penguatan karakter peserta didik. Fenomena krisis identitas, minimnya keteladanan moral, serta lunturnya nilainilai luhur budaya bangsa menjadi isu mendesak yang memerlukan respons strategis melalui pendekatan pendidikan yang kontekstual dan berakar pada nilai-nilai lokal. Dalam konteks ini, etnopedagogi hadir sebagai alternatif yang relevan dan signifikan. Etnopedagogi merupakan pendekatan pendidikan yang menjadikan kearifan lokal sebagai sumber pembentukan nilai, karakter, dan makna dalam proses pembelajaran (Ki Hadjar Dewantara. Samani & Hariyanto, 2. Pendekatan ini memandang budaya lokal bukan sebagai ornamen, tetapi sebagai fondasi epistemologis yang kaya nilai, sarat makna, dan relevan untuk menjawab tantangan pendidikan masa kini. Indonesia sebagai negara multikultural memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, mencakup bahasa, adat istiadat, seni, serta sistem nilai yang hidup dalam praktik keseharian masyarakat. Salah satu bentuk ekspresi budaya yang potensial untuk dikaji dalam kerangka etnopedagogik adalah seni bela diri tradisional Pencak Silat. Tidak hanya sebagai warisan gerak dan pertahanan diri. Pencak Silat mengandung filosofi hidup, sistem nilai, dan struktur sosial yang mencerminkan kearifan lokal Nusantara. Pengakuan UNESCO terhadap Pencak Silat sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia pada tahun 2019 menjadi pengakuan internasional atas nilai budaya yang terkandung dalam seni bela diri ini, sekaligus mengukuhkan urgensi pelestarian dan integrasinya ke dalam ranah pendidikan formal dan nonformal. Salah satu aliran Pencak Silat yang memiliki akar sejarah, nilai filosofis, serta pengaruh budaya yang kuat adalah Pencak Silat Cimande. Dikenal sebagai salah satu aliran tertua di Indonesia. Cimande bukan hanya menyajikan teknik pertarungan fisik, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai spiritual, etika, dan kebijaksanaan hidup masyarakat Sunda (Intan, 2018. Nasrullah & Mulyana, 2. Dalam praktiknya, terdapat satu bentuk gerakan khas yang menjadi representasi nilai dan filosofi aliran ini, yaitu Gerak Salancaran. Salancaran bukan sekadar rangkaian teknik bela diri yang mencakup langkah, elakan, dan serangan, tetapi juga merupakan medium enkulturasi nilai-nilai luhur seperti keselarasan dengan alam, ketekunan, kedisiplinan, penghormatan terhadap guru 56 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l dan sesama, serta semangat gotong royong (Setiawan et al. , 2021. Sudrajat, 2. Nilai-nilai tersebut tidak diajarkan secara verbal semata, melainkan diinternalisasi melalui praktik berulang, interaksi guru-murid yang bersifat transgenerasional, serta ritual adat yang membingkai proses pelatihan. Di tengah tuntutan pendidikan karakter dalam kurikulum nasional sebagaimana diamanatkan dalam UndangUndang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, masih terdapat kesenjangan antara nilai-nilai yang diharapkan dan metode implementasi yang relevan dengan konteks sosial budaya peserta didik. Sementara itu, arus modernisasi dan pengaruh budaya luar yang tidak terfilter sering kali mereduksi akar budaya lokal, menciptakan generasi muda yang terlepas dari nilai-nilai luhur bangsanya sendiri (Suparlan, 2. Padahal, pendidikan karakter tidak dapat dilepaskan dari basis budaya tempat peserta didik tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, pendekatan berbasis budaya seperti yang ditawarkan oleh etnopedagogi menjadi sangat relevan untuk menjawab kebutuhan pendidikan masa kini yang bersifat holistik, kontekstual, dan transformatif (Tilaar, 2012. Megawangi, 2004. Koentjaraningrat, 1. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk . memetakan nilai-nilai kearifan lokal yang terintegrasi dalam Gerak Salancaran Pencak Silat Cimande, serta . menganalisis relevansi nilai-nilai tersebut sebagai sumber pedagogi alternatif dalam membangun pendidikan karakter yang berakar pada budaya lokal namun tetap relevan dengan tantangan global kontemporer. Diharapkan, studi ini dapat memberikan kontribusi teoritis dan praktis dalam pengembangan model pembelajaran berbasis budaya yang tidak hanya memperkuat identitas dan moralitas bangsa, tetapi juga meningkatkan daya saing generasi muda Indonesia di tengah peradaban global yang kompetitif. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan dukungan perspektif etnografis untuk mengkaji nilai-nilai kearifan lokal dalam gerak Salancaran pada Pencak Silat Cimande. Fokus penelitian ini adalah menelusuri bagaimana nilai-nilai budaya tidak hanya terwujud sebagai ekspresi seni bela diri, tetapi juga sebagai simbol dan praktik budaya yang diturunkan secara turun-temurun dalam konteks masyarakat Sunda. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk memahami makna simbolik dan praktik kebudayaan secara mendalam melalui interaksi langsung dengan subjek penelitian. Lokasi penelitian ditentukan pada komunitas pelaku Pencak Silat Cimande yang masih aktif melestarikan gerak Salancaran secara tradisional tepatnya di Saung Penca cimande. Subjek penelitian terdiri dari guru besar, pesilat aktif, serta pengamat budaya lokal. Data diperoleh melalui kombinasi data primer dan sekunder. Data primer mencakup hasil observasi partisipatif terhadap proses latihan gerak Salancaran, serta wawancara mendalam dengan para praktisi. Data sekunder diperoleh dari kajian pustaka, dokumentasi visual . oto dan vide. , dan referensi teori-teori relevan seperti Ingold . Bourdieu . Gardner . Geertz . , dan Tillich . Teknik pengumpulan data mencakup, observasi partisipatif yang memungkinkan peneliti merasakan langsung dinamika latihan dan nilai-nilai yang mengemuka, wawancara mendalam untuk menggali makna simbolik dan narasi personal dari para pelaku, serta studi dokumentasi yang memperkuat konteks historis dan visual dari praktik Salancaran. Analisis data dilakukan melalui pendekatan tematik dan hermeneutik simbolik. Tahapan analisis dimulai dengan kategorisasi data berdasarkan tema-tema utama seperti keselarasan dengan alam, gotong royong, disiplin, penghormatan, dan karakter tangguh. Selanjutnya dilakukan interpretasi makna simbolik gerak dengan merujuk pada teori representasi budaya (Geert. , habitus dan praksis (Bourdie. , serta estetika simbolik (Arnhei. Peneliti juga melakukan triangulasi data dari berbagai sumber untuk menjamin validitas dan reliabilitas Validitas data diperkuat dengan mengkonfirmasi kepada narasumber dan audit trail dari catatan lapangan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa interpretasi yang disusun peneliti sesuai dengan pengalaman dan persepsi partisipan. Kerangka teoretis yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada teori-teori representasi budaya dan simbolisme dalam seni, seperti yang dikemukakan oleh Stuart Hall dan Paul Tillich. Selain itu, nilai-nilai karakter dan pendidikan juga dianalisis menggunakan pendekatan pendidikan karakter dari Lickona . dan kecerdasan kinestetik dari Gardner . Dengan pendekatan metodologis ini, penelitian diharapkan mampu menggambarkan secara utuh relasi antara praktik bela diri Salancaran dan nilai-nilai kultural masyarakat Sunda serta relevansinya dalam pendidikan karakter kontemporer. 57 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l HASIL PEMBAHASAN Gerak salancaran dalam tradisi Pencak Silat Cimande merupakan ekspresi budaya yang menyimpan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Sunda, yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari sistem pendidikan nonformal berbasis komunitas. Lebih dari sekadar teknik bela diri, gerak ini merupakan bentuk komunikasi simbolik yang sarat akan ajaran moral, spiritual, dan sosial. Dalam konteks ini, pendekatan etnopedagogi menjadi kunci untuk memahami bagaimana praktik budaya lokal seperti salancaran dapat dimaknai dan diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan kontemporer. Salancaran adalah rangkaian jurus dasar dalam Cimande yang berfungsi sebagai fondasi bagi gerakan lanjutan. Gerakan-gerakan ini memiliki struktur yang ritmis, terkendali, dan penuh makna. Menurut hasil wawancara dengan beberapa tokoh Cimande serta observasi lapangan, gerakan ini tidak hanya melatih aspek fisik, tetapi juga menyampaikan pesan etika seperti ketekunan, penghormatan terhadap guru, pengendalian diri, dan nilai spiritual. Misalnya, salam yang dilakukan sebelum dan sesudah latihan bukan hanya formalitas, melainkan refleksi penghormatan kepada guru, leluhur, dan Tuhan Yang Maha Esa. Penelitian ini menemukan bahwa gerak Salancaran dalam Pencak Silat Cimande tidak hanya merupakan rangkaian teknik bela diri, tetapi juga mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang mendalam, yang terinternalisasi melalui filosofi gerakan, interaksi antar praktisi, dan ritual-ritual yang menyertainya. Gambar 1. Dokumentasi dari Instagram (Sumber: https://images. gl/s8EM9p4D2ANkJE. Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Gerak Salancaran: n Keselarasan dengan Alam: Gerak Salancaran seringkali meniru gerakan alam seperti aliran air dan kegesitan hewan. Hal ini mencerminkan filosofi hidup yang harmonis dengan lingkungan (Ingold. Dalam konteks ilmu manusia, ini menunjukkan bagaimana masyarakat tradisional membangun pemahaman dan hubungan yang erat dengan alam sekitarnya, yang tercermin dalam ekspresi seni gerak n Gotong Royong dan Solidaritas: Proses berlatih bersama dan saling membantu dalam menguasai gerak Salancaran menumbuhkan rasa kebersamaan dan solidaritas antar anggota komunitas (Bourdieu. Dalam ruang lingkup seni dan budaya masyarakat Indonesia, gotong royong merupakan nilai fundamental yang tercermin dalam berbagai praktik kesenian dan kehidupan sosial. n Disiplin dan Ketekunan: Latihan Salancaran yang membutuhkan ketelitian dan pengulangan terusmenerus mengajarkan nilai disiplin dan ketekunan (Gardner, 1. Pentingnya ragam seni bela diri seperti Pencak Silat dalam menanamkan karakter ini menunjukkan kontribusinya pada pembentukan individu yang bertanggung jawab. n Penghormatan dan Hierarki: Interaksi antara guru dan murid dalam proses pembelajaran Salancaran mencerminkan nilai penghormatan terhadap yang lebih tua dan berpengetahuan (Geertz, 1. Dasar pemikiran budaya Indonesia yang seringkali menekankan pada struktur sosial dan hierarki tercermin dalam praktik seni ini. 58 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l n Pembentukan Karakter Tangguh dan Rendah Hati: Filosofi di balik gerak Salancaran, yang tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik tetapi juga kelincahan dan strategi, membentuk karakter yang tangguh namun tetap rendah hati (Tillich, 1. Cabang seni bela diri memiliki peran signifikan dalam mengembangkan aspek psikologis dan spiritual individu. Pendekatan etnopedagogi, sebagaimana dikemukakan oleh Sumarni et al. , menekankan bahwa setiap budaya memiliki sistem pendidikan khas yang diturunkan secara intergenerasional. Etnopedagogi menghargai pengetahuan lokal sebagai sumber belajar yang kaya makna dan kontekstual. Dalam kerangka ini, salancaran bukan hanya produk budaya, tetapi juga sarana pedagogis yang efektif untuk membentuk karakter peserta didik melalui pengalaman langsung, keteladanan, dan penghayatan nilai secara menyeluruh. Penelitian yang dilakukan oleh Hasanah et al. menunjukkan bahwa praktik seni tradisional seperti silat dapat berkontribusi pada pembentukan karakter remaja, terutama dalam hal kedisiplinan, tanggung jawab, dan rasa hormat. Hal ini sejalan dengan semangat pendidikan karakter dalam Kurikulum Merdeka yang menekankan penguatan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila, seperti beriman dan bertakwa, berkebhinekaan global, dan bergotong royong. Gerak salancaran, yang mengajarkan keikhlasan, ketekunan, serta hubungan harmonis antara individu dan komunitas, memiliki irisan kuat dengan dimensi tersebut. Selain itu, menurut studi oleh Ardiansyah & Lestari . , integrasi nilai-nilai lokal ke dalam kurikulum dapat memperkuat identitas budaya peserta didik, meningkatkan rasa memiliki terhadap warisan budaya, serta memberikan makna yang lebih dalam dalam proses pembelajaran. Dalam dunia pendidikan yang semakin terdorong oleh standar global, pelibatan budaya lokal justru menjadi strategi kunci untuk membangun pendidikan yang relevan, membumi, dan berkelanjutan. Relevansi bagi Pendidikan Kontemporer: Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam gerak Salancaran Pencak Silat Cimande memiliki relevansi yang signifikan bagi pendidikan kontemporer di Indonesia: n Pendidikan Karakter Holistik: Nilai-nilai seperti disiplin, penghormatan, dan gotong royong dapat diintegrasikan dalam kurikulum untuk memperkuat pendidikan karakter siswa (Lickona, 1. Seni dan budaya masyarakat Indonesia merupakan sumber tak ternilai untuk mengembangkan nilai-nilai luhur bangsa. Gambar 2. Aspek Manusia Holistik (Sumber. https://images. gl/kcVpXhwYr4CxYnmm. Kesadaran Budaya dan Identitas Nasional: Mengenalkan Pencak Silat Cimande dan nilai-nilai di dalamnya dapat meningkatkan kesadaran siswa terhadap warisan budaya mereka dan memperkuat identitas nasional (Said, 1. Seni dan budaya masyarakat dunia menunjukkan keberagaman ekspresi manusia, namun pemahaman terhadap seni dan budaya sendiri adalah fondasi penting. Pembelajaran Berbasis Budaya: Menggunakan gerak Salancaran sebagai media pembelajaran dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi siswa, sesuai dengan konteks budaya mereka (Bruner, 1. Dasar pemikiran budaya menekankan bahwa pendidikan yang relevan harus berakar pada konteks sosial dan budaya peserta didik. 59 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Gambar 3. Bagan Pendidikan Karakter (Sumber: https://images. gl/6t82EuK5QTfGRRSi. A Pengembangan Kecerdasan Kinestetik: Praktik gerak Salancaran secara langsung mengembangkan kecerdasan kinestetik siswa (Gardner, 1. , yang merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan potensi manusia. Pentingnya ragam seni, termasuk seni gerak, dalam mengembangkan berbagai aspek kecerdasan perlu diakui. Kontribusi salancaran dalam pendidikan kontemporer tidak hanya terletak pada nilai-nilainya, tetapi juga pada metode penyampaian nilai yang bersifat holistik dan berbasis komunitas. Hal ini berbanding lurus dengan pendekatan experiential learning . embelajaran berbasis pengalama. yang kini banyak diterapkan dalam pendidikan modern. Melalui penghayatan nilai secara langsung misalnya melalui latihan rutin, praktik hormat, serta partisipasi dalam komunitas peserta didik membangun karakter bukan hanya secara kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik. Selanjutnya, penelitian oleh Nurfadhilah & Widodo . menyatakan bahwa integrasi nilai-nilai budaya dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dapat meningkatkan motivasi belajar dan memperkuat hubungan sosial antar peserta didik. Oleh karena itu, gerak salancaran tidak hanya dapat digunakan dalam konteks pelatihan bela diri, tetapi juga sebagai media pembelajaran dalam pendidikan formal, seperti pada mata pelajaran seni budaya, olahraga, bahkan pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan. Implikasi dari studi ini mendorong pentingnya merancang model pembelajaran berbasis budaya lokal yang terintegrasi dalam kurikulum. Pendekatan semacam ini memungkinkan pendidikan bergerak dari yang sematamata berorientasi pada standar global ke arah pendidikan yang kontekstual, holistik, dan membangun akar budaya. Hal ini selaras dengan visi pendidikan nasional dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam identitas, karakter, dan spiritualitas. KESIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa gerak salancaran dalam Pencak Silat Cimande merupakan bentuk kearifan lokal yang kaya akan nilai-nilai pendidikan. Melalui pendekatan etnopedagogi, terungkap bahwa gerak salancaran tidak hanya berfungsi sebagai teknik bela diri tradisional, tetapi juga sebagai medium pembelajaran nilai-nilai luhur seperti kedisiplinan, ketekunan, tata krama, pengendalian diri, spiritualitas, serta penghormatan terhadap guru dan leluhur. Nilai-nilai tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dalam komunitas Cimande melalui proses pendidikan informal yang bersifat holistik dan kontekstual. Pola pewarisan nilai dalam salancaran terbukti sejalan dengan prinsip pendidikan karakter dalam kurikulum pendidikan nasional, khususnya dalam penguatan Profil Pelajar Pancasila. Dengan demikian, salancaran tidak hanya relevan untuk dilestarikan sebagai warisan budaya takbenda, tetapi juga memiliki potensi besar untuk diintegrasikan ke dalam pendidikan kontemporer melalui pembelajaran kontekstual berbasis budaya lokal. Studi ini menyimpulkan bahwa penguatan identitas budaya melalui pendekatan etnopedagogi dapat menjadi solusi strategis dalam menghadapi tantangan pendidikan global yang cenderung mengabaikan akar budaya. Oleh karena itu, pengembangan model pembelajaran yang memanfaatkan gerak salancaran sebagai sumber ajar, khususnya dalam mata pelajaran seni budaya, olahraga, maupun pendidikan karakter, perlu dipertimbangkan secara serius oleh pendidik, pengambil kebijakan, dan komunitas pendidikan. 60 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l DAFTAR PUSTAKA