ANTRO: Antropologi Tadulako Research Journal Vol. No. , 1-6 DOI: http://dx. org/10. 30983/it. PROSES TRANSFORMASI BUDAYA PADA SEKOLAH ALAM TONDO LINO NGATA TORO KECAMATAN KULAWI KABUPATEN SIGI Fatimah Dewiyanti. Hapsa. Ikhtiar Hatta 1Afiliasi 1. fatimahdewiyanti@gmail. 2Afiliasi 2. irsyahapsa@gmail. Afiliasi 3. konsumerisme@yahoo. Abstrak Masyarakat Toro mengajarkan anak-anaknya kebiasaan-kebiasaan yang telah diterapkan orang tua Kebiasaan-kebiasaan orang tua di Ngata Toro kepada anak-anaknya merupakan bagian dari kesadaran akan pentingnya adat bagi kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan sejarah terbentuknya Sekolah Alam Tondo Lino Ngata Toro dan mengetahui proses pembelajaran Sekolah Alam Tondo Lino. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian yaitu penelitian kualitatif deskriptif. Penentuan informan dalam penelitian inimenggunakan teknik pusposive sampling, dengan menentukan jumlah informan 5 orang. Yaitu 2 orang murid, 1 penggagas dan 2 orang dewasa. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu studi pustaka, penelitian lapangan yang terdiri dari observasi, wawancara pendahuluan dan mendalam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada Sekolah Alam Tondo Lino Ngata Toro Kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi bahwa orang tua berperan penting dalam mengenalkan kebudayaan kepada anakanak. Kebiasaan-kebiasaan yang diterapkan oleh orang tua di Ngata Toro kepada anak-anaknya merupakan bagian dari kesadaran dan pentingnya adab bagi kegidupan sehari-hari. Pendidikan yang diterapkan di Sekolah Alam tondo Lino Ngata Toro, tidak lain guna untuk tetap menjaga kearifan local seperti, hubungan antara manusia dengan tuhan, manusia dan manusia, serta manusia dengan Kata Kunci: Sekolah Alam. Kearifan Lokal. Ngata Toro Pendahuluan Keluarga merupakan lingkungan yang paling dekat dengan anak, sejak anak dilahirkan. Di dalam keluarga ini, anak-anak akan banyak mendapatkan pengalaman untuk tumbuh dan berkembang demi masa depannya. Wuryandani,2010:77 menjelaskan bahwa keluarga tempat yang efektif bagi orang tua mengajarkan pendidikkan nilai, moral, dan berbagai hal baik pada anak. Budaya keluarga adalah segala sesuatu yang membentuk sebuah keluarga dalam bersikap dan berperilaku yang dijadikan sebuah aturan yang mengharuskan setiap anggota dalam keluarga dapat memahami dan mengimplementasikannya dalam kegiatan setiap hari. Budaya keluarga nanti akan membentuk sikap dan perilaku dari setiap anggota keluarganya, bagaimana anggota keluarga dalam menampilkan tingkah laku kebiasaan-kebiasaannya itu sangat ditentukan dan dipengaruhi oleh budaya dalam keluarganya. Untuk itu harus dipahami oleh setiap orang tua dan setiap anggota keluarga bahwa sangat besar dan penting pengaruh dari ANTRO: Antropologi Tadulako Research Journal. Vol. No. 2 | Fatimah Dewiyanti, dkk budaya yang berkembang dalam keluarga karena itu akan membent uk setiap anggota keluarga yang lahir dan tumbuh di dalamnya. setiap anggota keluarga yang lahir dan tumbuh di dalamnya. Demorest. Morrison. Beken & Jungbluth,2007 juga menjelaskan Hampir semua aspek kehidupan manusia dalam bermasyarakat merupakan proses enkulturasi secara sadar maupun tak sadar. Proses pembelajaran ini dimulai sejak kecil hingga akhir hayat seperti bahasa,sebelum bisa berbicara dengan lancar orang tua atau orang terdekat kita mengajarkan kata-kata sederhana pada saat kita masih balita, meski pada awalnya kita belum mampu untuk mengucapkan kata- kata tersebut dengan sempurna, orang tua senantiasa mencontohkan dan mengajari kita bertutur bahasa dengan benar dan kita perlahan menirukannya, sehingga seiring bertambahnya usia seseorang mahir berbicara dengan bahasa yang telah diajarkan oleh orang tua. Ibadah, orang tua atau orang terdekat mengajarkan untuk beribadah pada awal kehidupan biasanya dengan sedikit pemaksaan, misalnya dengan memarahi. Koentjaraningrat: 1986:233 menjelaskan Enkulturasi yaitu seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat-adat, sistem norma dan peraturan-peraturan yang hidup dalam budayanya. Oleh karena itu proses enkulturasi itu sudah dimulai dalam alam pikiran warga sesuatu masyarakat. Mula- mula dari orang-orang di dalam lingkungannya sendiri, kemudian teman-temanya bermain. Sering sekali ia meniru saja berbagai macam tindakan, setelah perasaan dan nilai budaya yang memberi motivasi akan tindakan meniru itu telah diinternalisasi dalam Dengan berkali-kali meniru maka tindakannya menjadi suatu pola yang mantap dan norma yang mengatur tindakannya "dibudayakan". Ifa Khoiria Ningrum & Yuniarta Ita Purnama, 2018:10 menjelaskan bahwa Sekolah alam merupakan sekolah yang dibangun untuk upaya pengembangan pendidikan yang dilakukan di alam terbuka agar mengetahui pembelajaran dari semua makhluk hidup di alam ini secara langsung. Berbeda dengan sekolah pada umumnya yang menggunakan sistem ruangan berupa kelas, para siswa di sekolah alam dibebaskan waktunya untuk lebih banyak berinteraksi di alam terbuka sehingga terbentuk pembelajaran langsung pada materi dan pembelajaran yang bersifat pengalaman. Proses belajar pada sekolah alam berlangsung dengan menyenangkan di alam terbuka. Tanpa tekanan dan jauh dari kebosanan sehingga peserta didik akan merasa nyaman. Hal ini disesuaikan dengan masa perkembangan peserta didik yang mana mereka bukanlah makhluk AoinstanAo. Mereka mengalami perkembangan dari waktu ke waktu baik dari segi fisik, psikis, sosial maupun Ahmad Tafsir, 2005:28 mendefinisikan pendidikan secara luas. Yaitu: Aupengembangan pribadi dalam semua aspeknyaAy Jalan dengan catatan bahwa yang dimaksud Aupengembangan pribadiAy sudah mencakup pendidikan oleh diri sendiri, lingkungan dan orang lain. sedangkan kata Ausemua aspekAy, sudah mencakup jasmani, akal, dan hati. Fokus penelitian ini berada di Desa Toro Kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi, dari hasil pengamatan pertama yang saya lakukan bahwa Masyarakat Toro mengajarkan anakanaknya kebiasaan-kebiasaan yang telah diterapkan orang tua terdahulu yang bertujuan untuk melestarikan kebudayaan yang telah ada sejak lama. Kebiasaankebiasaan yang diterapkan oleh Orang Tua di Ngata Toro kepada anak- anaknya merupakan bagian dari kesadaran akan pentingnya adab bagi kehidupan sehari-hari namun seiring dengan perkembangan zaman, anak-anak yang mulai terpengaruh dengan masuknya kehidupan modern seperti gadget menimbulkan kekhawatiran bagi Orang Tua di Ngata Toro akan kelestarian budaya dan adab yang telah mereka terapkan selama turun-temurun akan ANTRO: Antropologi Tadulako Research Journal. Vol. No. Fatimah Dewiyanti, dkk | 5 Adapun topik permasalahan ini adalah adanya inisiatif untuk membangun Sekolah Fatimah Dewiyanti, dkk | 3 Alam Tondo Lino Ngata Toro sebagai tempat untuk terus menjaga kelestarian kebudayaan dengan mengajarkan pengetahuan dasar seperti hubungan antar manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam, termasuk juga etika dalam berbicara, pengetahuan mengenai tumbuhan-tumbuhan yang ada di hutan dan dapat dijadikan obat. Berdasarkan fenomena sosial yang terjadi pada masyarakat Toro. Hal inilah yang membuat peneliti tertarik untuk mengkaji terkait permasalahan ini untuk diteliti. Metode Dasar penelitian ini adalah seluruh rangkain penelitian dilaksanakan berdasarkan jenis pendekatan yang digunakan adalah penelitian kualitatif, dimana penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai penelitian menghasilkan data deskriptif mengenai katakata lisan maupun tulisan dan tingkah lakunyang dapay diamati dari orang-orang yang diteliti (Taylor dan Bogdan, 1984:. Menurut Bogdan dan Taylor . , bahwa penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang mampu menghasilkan data deskriptif berupa ucapan, tulisan, dan perilaku dari orang-orang yang diamati. Melalui penelitian kualitatif ini dimungkinkan untuk diperoleh pemahaman tentang kenyataan melalui proses Penelitian ini berlokasi di Desa Ngata Toro Kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi yang wilayah lokasinya pegunungan. Saya mengambil lokasi penelitian ini berdasarkan pertimbangan bahwa di Ngata Toro masih memiliki proses transformasi budaya dalam bentuk enkulturasi yang dilakukan masyarakat terkait kearifan lokal sekolah alam. Pengambilan informasi dalam penelitian ini dilakukan dengan cara Aupurposive samplingAy yaitu sengaja memilih sejumlah orang tertentu yang dapat memberikan informasi yang mendalam dan relevan dengan masalah penelitian ini. Adapun Informan dalam penelitian ini adalah Masyarakat Toro yang terlibat dalam Sekolah Alam Tondo Lino dan yang menjadi informan yaitu. Bapak Said Tolso sebagai pendiri Sekolah Alam Tondo Lino. Bapak Asdar A Tongka sebagai Lembaga Adat Ngata Toro. Ibu Lulu Musdalifah sebagai fasilitator di Sekolah Alam Tondo Lino Ngata Toro. Suci Ramadani dan Khalifah sebagai siswa Sekolah Alam Tondo Lino. Hasil dan Pembahasan Sejarah Terbentuknya Sekolah Alam Tondo Lino Ngata Toro Melihat perkembangan zaman yang semakin modern menjadi pengaruh besar bagi masyarakat Ngata Toro bukan hanya pengaruh positif yang diperoleh tetapi juga pengaruh negatif terutama bagi anak-anak, pengaruh negatif yang dapat dilihat secara langsung adalah perubahan sifat dan sikap anak-anak yang mulai mengikuti budaya luar dan mulai melupakan budaya mereka sendiri. Berdasarkan hal tersebut, melalui ide dan gagasan Bapak Said Tolao yang disebut sebagai Tondo Ngata (Penjaga Huta. yang tugasnya menjaga hutan adat, sebagai mitra TNLL (Taman Nasional Lore Lind. dalam menjaga kawasan TNLL yang ada di wilayahnya. Dengan status sebagai Tondo Ngata yang telah disandangnya sejak lama membuat Bapak Said Tolao sedit banyak mengetahui perkembangan Ngata Toro dari waktu ke Pada tahun 2015 tepatnya bulan Februari lahirlah Sekolah Alam ANTRO: Antropologi Tadulako Research Journal. Vol. No. 4 | Fatimah Dewiyanti, dkk Tondo Lino Ngata Toro. Saat itu hanya terdapat 8 murid yang berasal dari kalangan Selanjutnya, pada tanggal 2 Mei 2016 sekaligus dalam rangka memperingati hari pendidikan, dilakukan peletakkan tiang raja bangunan sekolah alam di atas lahan yang di hibahkan oleh Bapak Said Tolao. Dalam proses melahirkan ide dan gagasan untuk berkomunikasi dengan beberapa pihak. Pak Said dibantu oleh Runnyati Tahir Mahasiswi Kehutanan Universitas Tadulako pada saat itu di dalam menyusun beberapa rencana induk . aster pla. Hal ini dilakukan demi keberlanjutan sekolah alam termasuk membuka komunikasi ke beberapa pihak yaitu pemerintah desa, lembaga adat dan tokoh masyarakat. Konsep Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal Proses pengenalan tanaman non-kayu seperti pinang dan rotan sebagai contoh untuk mengajarkan peserta didik bagaimana cara menanam dan merawat tanaman hingga tumbuh menjadi pohon yang memiliki manfaat bagi masyarakat Ngata Toro. Murid sekolah alam diberikan pengenalan lokasi-lokasi tanaman yang dapat ditebang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan juga larangan-larangan untuk menghindari hal-hal yang dapat merugikan masyarakat. Mereka juga diajarkn untuk menghitung masa tanaman hingga masa panen dengan menghitung bulan. Hal ini diajarkan sejak dini bertujuan untuk menumbuhkan rasa peduli terhadap lingkungan sekitar tempat tinggal agar kelak ketika menjadi dewasa hal tersebut juga mereka terapkan terhadap keturunan di masa depan. Proses Pembelajaran di Sekolah Alam Tondo Lino Budaya yang diterapkan oleh masyarakat Toro dalam mendidik anak merupakan pondasi adap yang mendasari 3 aspek kehidupan (Taluhi Katuvu. yaitu hubungan antara manusia dengan Tuhan. Manusia dengan Manusia, dan hubungan antara Manusia dengan Alam. Hubungan Manusia dengan Tuhan bisa diterapkan melalui orang tua dengan membiasakan anak agar tidak lupa untuk selalu beribadah kepada Tuhan. Hubungan antara manusia dengan manusia dapat dilihat dari adab yang diterapkan oleh orang tua di dalam rumah yaitu budaya tabe, yang mengajarkan untuk berperilaku sopan kepada orang lain yang lebih tua maupun dengan seusianya dan membangun hubungan harmonis antar masyarakat, nilai selanjutnya adalah pomebila atau saling menghargai yang biasa diterapkan melalui budaya bertamu yaitu tidak memasuki rumah orang lain ketika di dalam rumah itu hanya perempuan dan yang bertamu adalah laki-laki maka tamu tersebut tidak boleh masuk ke dalam rumah dan begitupun sebaliknya, karenakan Desa Toro masih menggunakan hukum givu, yang diterapkan tidak hanya pada saat acara-acara tertentu tapi bisa juga terjadi pada saat di rumah, pomebila juga bisa dilihat dari sikap anak yang hanya bertugas mengantarkan minum atau makanan dan tidak diperbolehkan untuk mendengar pembahasan orang tua. Hubungan antara manusia dan alam dapat dilihat dari pola hidup yang masyarakat Toro terapkan yaitu dengan masih menjaga ekosistem alam karena mereka sadar akan dampak yang mereka rasakan ketika tidak menjaga alam karena pentingnya alam untuk memenuhi kebutuhan mereka seharihari. Proses Pembelajaran di Alam Terbuka Proses pembelajaran yang berlangsung di tengah alam terbuka menjadikan proses belajar mengajar lebih menyenangkan, dengan metode pembelajaran ini ANTRO: Antropologi Tadulako Research Journal. Vol. No. Fatimah Dewiyanti, dkk | 5 membuat peserta didik lebih antusias karena dapat melihat secara langsung hal-hal yang biasanya diajarkan di Sekolah Alam Tondo Lino Ngata Toro dan tidak pernah diajarkan di sekolah dasar. Tidak hanya tumbuhan yang dapat mereka lihat tetapi hewan-hewan langka pun dapat mereka jumpai. Dengan menggunakan metode pembelajaran seperti ini membuat peserta didik lebih memahami pelajaran yang diberikan oleh fasilitator. Proses Belajar Sambil Bermain Proses belajar dilakukan di sungai yang terdapat di sekitar Sekolah Alam Tondo Lino Ngata Toro, membuat aktivitas belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan karena peserta didik tidak hanya duduk diam untuk mendengarkan fasilitator menerangkan materi tetapi dapat langsung mempraktekkan pelajaran yang diajarkan dengan memanfaatkan kekayaan alam sebagai media untuk belajar. Hal tersebut yang membuat peserta didik lebih cepat memahami pelajaran yang diberikan. Kesimpulan Proses pembelajaran yang berlangsung di tengah alam terbuka menjadikan proses belajar mengajar lebih menyenangkan, dengan metode pembelajaran ini membuat peserta didik lebih antusias karena dapat melihat secara langsung hal-hal yang biasanya diajarkan di Sekolah Alam Tondo Lino Ngata Toro dan tidak pernah diajarkan di sekolah dasar. Tidak hanya tumbuhan yang dapat mereka lihat tetapi hewan-hewan langka pun dapat mereka jumpai. Dengan menggunakan metode pembelajaran seperti ini membuat peserta didik lebih memahami pelajaran yang diberikan oleh fasilitator. Proses belajar dilakukan di sungai yang terdapat di sekitar Sekolah Alam Tondo Lino Ngata Toro, membuat aktivitas belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan karena peserta didik tidak hanya duduk diam untuk mendengarkan fasilitator menerangkan materi tetapi dapat langsung mempraktekkan pelajaran yang diajarkan dengan memanfaatkan kekayaan alam sebagai media untuk belajar. Hal tersebut yang membuat peserta didik lebih cepat memahami pelajaran yang diberikan. Daftar Pustaka