ISSN 2541-3252 Vol. No. Mar. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia PELECEHAN VERBAL DAN STEREOTIP DALAM CERPEN RONDA KARYA RATNA AYU BUDHIARTI Muhammad Syifa1. Dina Amalia2. Siti Zahra Maulida3 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, muhammad. syifa23@mhs. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, dina. amalia23@mhs. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, zahra. maulida23@mhs. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan . bentuk pelecehan verbal yang dialami tokoh utama perempuan dalam cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarta meliputi psychological violence godaan serta gurauan yang mengarah kepada seksualitas serta membahas stereotip masyarakat terkait perempuan yang telah ditinggal pasangan . terhadap tokoh utama cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarti. unsur intrinsik cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarti yang meliputi tema, alur, latar, dan penokohan. Penelitian ini deskriptif kualitatif. Terdapat beberapa data pada penelitian ini yang meliputi kata, frase, kalimat, dan ungkapan dalam cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarti yang dijadikan sebagai objek analisis dari penelitian. Hasil penelitian ini yaitu sebagai berikut. Unsur intrinsik cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarti meliputi: . tema cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarti yaitu mengangkat isu sensitif tentang ketidakadilan terhadap perempuan, khususnya untuk perempuan yang ditinggal pasangan dalam menghadapi prasangka dan pelecehan verbal, juga menghadapi pandangan miring hanya karena status seorang janda. cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarti ini menggunakan alur maju. latar cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarti meliputi latar tempat, waktu, dan sosial. tokoh cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarti yaitu terdapat satu tokoh utama dan tiga tokoh tambahan. sudut pandang cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarti yaitu menggunakan sudut pandang orang pertama AuakuAy sebagai tokoh tambahan. Bentuk psychological violence yang dialami tokoh utama perempuan cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarti yaitu berupa perilaku tidak pantas dan juga pengucapan kata-kata yang tidak pantas. Kata Kunci: Unsur Intrinsik. Cerita Pendek. Pelecehan Verbal. Feminisme. How to cite: Syifa. Amalia. , & Maulida. PELECEHAN VERBAL DAN STEREOTIP DALAM CERPEN RONDA KARYA RATNA AYU BUDHIARTI. Bahtera Indonesia. Jurnal Penelitian Bahasa Dan Sastra Indonesia, 10. , 79Ae92. https://doi. org/10. 31943/bi. DOI: https://doi. org/10. 31943/bi. PENDAHULUAN Sastra menurut Siswanto . alam Putri Hasibuan, pengejawantahan sastrawan tentang suatu benda, atau gagasan, sehingga menghasilkan sesuatu bayangan dari kenyataan itu dengan menggunakan bahasa yang kreatif. Kata Sastra itu sendiri, dalam bahasa-bahasa barat merupakan turunan dari kata AolitteraturaAo, yang juga merupakan terjemahan dari bahasa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yunani AogramatikaAo yang sama-sama memiliki makna AohurufAo. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia, sastra merupakan serapan dari bahasa sansekerta. AoSas-Ao bermakna petunjuk atau instruksi, dan AotraAo biasa dimaknakan sebagai alat atau sarana. Jadi sastra artinya alat atau sarana untuk memberikan petunjuk. (Teeuw, 1. Berdasarkan uraian tentang sastra di atas, dapat dismpulkan dan dipahami bersama bahwa karya sastra merupakan gambaran kehidupan nyata yang dapat dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Kehidupan nyata dapat dinikmati dalam sastra sebagai bentuk seni, dengan keindahan bahasa dan struktur bahasa yang terdapat dalam karya sastra tersebut. Selain itu, dapat dipahami konteks cerita yang terdapat pada karya sastranya sehingga kemudian juga pembelajaran di kehidupan nyata. Sastra dapat digolongkan melalui berbagai sudut pandang. Sastra imajinatif dan non-imajinatif merupakan kelompok sastra yang digolongkan berdasarkan jenisnya. Sastra imajinatif banyak menggunakan bahasa yang memiliki banyak makna dibandingkan sastra non-imajinatif yang lebih banyak menggunakan bahasa yang memiliki makna tunggal. (Jakob Sumardjo & Saini M, 1988: . Maka dapat disimpulkan bahwa sastra imajinatif bersifat khayalan dan menggunakan bahasa yang memiliki banyak Sedangkan sastra non imajinatif cenderung bersifat faktual daripada khayalan dan menggunakan bahasa yang lebih sedikit makna atau bermakna tunggal. Lalu prosa, puisi, dan drama digolongkan berdasarkan ragam atau Menurut Burhan . 3: . prosa memiliki pengertian yang lebih luas. Berbagai ISSN 2541-3252 Vol. No. Mar. karya tulis yang ditulis dengan format prosa, bukan dengan format puisi atau drama, dengan tiap barisnya dimulai dari margin kiri penuh hingga ke margin kanan. Dapat dipahami bahwa prosa menurut Burhan bukan hanya karya sastra yang bersifat fiksi, tetapi juga karya sastra nonfiksi seperti berita dalam surat kabar. Menurut Abrams . alam Nurgiyantoro, 2013:. prosa lebih mengarah kepada fiksi, teks naratif atau wacana naratif. Fiksi dapat diartikan dengan cerita khayalan yang tidak mengarah pada kejadian faktual atau sesuatu yang benar-benar terjadi. Mnurut Kosasih . 2: . cerpen merupakan cerita yang menurut wujud fisiknya berbentuk pendek. Biasanya memiliki jumlah kata sekitar 500-5. 000 kata Karena itu cerita pendek seringkali disebut dengan cerita yang dibaca dalam sekali Thahar . juga menyatakan bahwa cerita pendek atau biasa disebut cerpen merupakan salah satu karya sastra yang paling banyak ditulis orang. Karena sifatnya pendek, biasanya dapat dibaca dalam waktu yang Maka kesimpulan dari kedua pendapat di atas adalah bahwa cerita pendek atau cerpen merupakan salah satu karya sastra yang fiktif dan berbentuk prosa yang paling banyak ditulis orang, biasanya dibaca dalam waktu singkat. Dari segi penceritaannya, cerpen dapat mengemukakan jalannya cerita dengan implisit dan sekadar apa yang diceritakan. Cerita dalam cerpen cenderung dipusatkan kepada sesuatu yang dikisahkan, dan tidak dikisahkan secara panjang lebar hingga Pemusatan cerita ini disebabkan bentuknya yang pendek agar sebuah cerita dapat dibaca dalam waktu singkat. Selain itu, juga sebagai kritik terhadap apa yang terjadi, sehingga diperlukan analisis untuk memahaminya. Dalam artikel ini, peneliti menganalisis melalui unsur intrinsik. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ISSN 2541-3252 Vol. No. Mar. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Burhan Nurgiyantoro. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang terdapat di dalam karya sastra yang menjadi struktur pembangun dari karya sastra itu sendiri. Dari unsur intrinsik inilah yang menyebabkan sebuah teks bisa dikatakan sebagai karya sastra atau teks sastra. Unsurunsur yang dimaksud antara lain tema, plot, penokohan, latar, sudut pandang, peristiwa, cerita, gaya bahasa, dan lain-lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk dapat mendeskripsikan . unsur intrinsik cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarta yang meliputi tema, plot, latar, dan . bentuk pelecehan verbal yang dialami tokoh utama sebagai perempuan dalam cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarta meliputi godaan serta gurauan yang mengarah kepada seksualitas serta membahas stereotip masyarakat terkait perempuan yang telah ditinggal pasangan . terhadap tokoh utama cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarti. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan strategi analisis isi untuk menginterpretasikan unsur intrinsik dalam cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarti. Pendekatan pendekatan struktural, yang menitikberatkan analisis pada tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, serta gaya bahasa dalam cerpen. Data penelitian berupa kata, frasa, klausa, dan kalimat yang mencerminkan unsur intrinsik dalam cerpen. Sumber data primer adalah teks cerpen Ronda yang diterbitkan oleh Kompas pada tahun 2024 dengan total 19 paragraf, sedangkan sumber data sekunder berasal dari buku, jurnal, artikel, dan referensi lain yang Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu pemilihan bagian teks yang mengandung unsur intrinsik untuk dianalisis. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan membaca, menandai, dan mencatat unsur intrinsik dalam cerpen. Untuk uji validitas data, penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dengan membandingkan hasil analisis terhadap teori sastra yang Teknik analisis data dilakukan melalui identifikasi, analisis, serta interpretasi unsur intrinsik untuk memahami makna cerpen secara mendalam. HASIL PEMBAHASAN Sebelum mendalam mengenai unsur-unsur intrinsik cerpen 'Ronda' karya Ratna Ayu Budhiarti, berikut disajikan sinopsis cerita untuk memberikan gambaran umum tentang alur dan isi cerpen: Sinopsis: Bermula dari pengenalan situasi kampung yang akan mengadakan kegiatan rutin ronda karena ada peristiwa Selanjutnya pengenalan tokoh Marni, yang diceritakan sebagai Janda yang mempunyai dua anak. Dia mempunyai wajah yang cantik, bentuk tubuh yang bagus, sehingga membuat para warga terpesona. Agenda kegiatan rutin ronda akan diikuti oleh para kepala keluarga, termasuk Marni karena dia merupakan kepala keluarga di keluarganya. Namun karena Marni memiliki banyak kesibukan, dia tidak bisa mengikuti kegiatan ronda dan diwajibkan membayar iuran, tetapi dia juga tidak sanggup untuk membayar iuran tersebut karena uang memenuhi kebutuhan hidupnya dan anakanaknya. Dari situ, muncul permulaan konflik di mana para warga, khususnya bapak-bapak di kampung tersebut, menginginkan Marni untuk ikut serta dalam kegiatan ronda. Hingga Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia sampai akhirnya. Marni mendapatkan pelecehan verbal via WhatsApp oleh Pak Dullah dan Pak RT. Konflik memuncak, dan di akhir cerita disebutkan hal yang mengejutkan yakni Pak RT bahkan sempat melamar Marni, tetapi ditolaknya. Tema Dalam Burhan Nurgiyantoro . 3: . menjelaskan bahwasannya tema merupakan gagasan atau ide dasar yang berfungsi untuk menopang sebuah karya sastra baik fiksi maupun non fiksi yang fungsinya untuk memberikan haluan serta garis besar Tema ini tergolong abstrak dan kemunculannya terkadang berulangulang dan biasanya dilakukan dengan tersirat yang digambarkan melalui motif tokoh yang berkenaan. Secara kontekstual yang mengacu pada cerita, tema dalam cerpen ini adalah pelecehan verbal dan stereotip terhadap perempuan yang ditinggal pasangan. Mengacu Burhan Nurgiyantoro, tema pada cerpen ini tergolong ke dalam tema nontradisional, karena di akhir cerita ada hal yang tak terduga, dan secara garis besar tema-tema tradisional . ebaikan selalu menang melawan kejahata. Tema ini didukung oleh kutipan berikut. AuHah? Gila!Ay Aku nyaris melemparkan ponsel Marni saking Tidak kusangka. Pak RT warganya sama sekali tidak berpihak kepada perempuan seperti Marni. Aku kehilangan minat membaca percakapan berikutnya. Ketua RT macam apa yang merendahkan perempuan dengan ISSN 2541-3252 Vol. No. Mar. status seperti Marni? Aku geram, mengapa masih banyak lelaki berpikiran sempit dan menganggap status perempuan tak bersuami adalah makhluk kesepian dan mudah dipermainkan? (Ronda: paragraf . Berdasarkan kutipan di atas, tema mengacu pada pelecehan verbal yang di alami oleh tokoh utama perempuan dalam cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarta serta menggambarkan sedikit mengenai stereotip yang berada di masyarakat terhadap perempuan yang ditinggalkan pasangan. Tokoh Tokoh Utama dan Tokoh Protagonis Tokoh atau Pemeran Utama merupakan tokoh yang difokuskan Tentunya tokoh utama ini selalu muncul dan dihubungkan dengan tema yang sudah ditentukan, hal ini peneliti Wahyuningtyas dan Santosa . Sedangkan tokoh atau pemeran yang protagonis menurut Altenbernd dan Lewis yang sudah di kutip dalam Nurgiyantoro . 2: . merupakan tokoh yang dikagumi oleh khalayak umum dan merupakan tokoh yang secara tidak langsung menjadikan cerita populer. Tokoh protagonis ini merupakan perwujudan sikap dan nilai yang merupakan cerminan dari masyarakat sekitar. Marni Tokoh yang menggerakkan cerita karena memiliki tujuan atau arah perjuangan yang ada dalam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ISSN 2541-3252 Vol. No. Mar. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia konteks tema: melawan pelecehan Kutipan 1 Ya, aku harus menyebut nama Marni karena ia sedang jadi buah bibir di kampungku. (Ronda: Penjelasan tokoh Marni oleh tokoh Aku memberikan kesan bahwa tokoh utama di sini adalah Marni, bukan tokoh Aku. Karena konteks tema yang ada di dalam cerita berpusat pada Marni. Kutipan 2 Marni sering jadi pembicaraan di kampung kami. Perawakannya yang montok dan senyumnya yang menawan bikin para lelaki tak tahan untuk tidak bermain imajinasi tentang Marni. Bahkan sekelas Wak Dullah, yang terkenal paling saleh di antara semua tetangga, tak bisa menyembunyikan sorot mata yang berkilat setiap Marni lewat atau Gambaran semacam ini terkesan karikatural dan klise Tapi (Ronda: paragraf . Dalam dijelaskan bahwa Marni memiliki perawakan montok dan senyuman yang menawan, membuat para lelaki tak tahan untuk tidak bermain imajinasi tentang Marni. Ini menjadi awal mula munculnya konflik pada cerpen ini. Tokoh tambahan/pendukung Menurut Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya menyebutkan bahwa pendukung merupakan tokoh yang menopang jalannya cerita dan perwatakkan tokoh utama. Tokoh pendukung ini sangat diperlukan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia untuk memperjelas dan menekankan fungsi, sifat, dan perwatakkan tokoh utama serta diperlukan untuk memperjelas tema yang sudah ditentukan dalam cerita. Aku Seorang tokoh yang berperan sebagai saksi dari penceritaan tokoh Dalam cerpen ini, tokoh Aku merupakan tokoh tambahan karena yang menjadi pusat perhatian merupakan tokoh Marni, bukan tokoh Aku yang sebenarnya bertindak sebagai narator sekaligus tokoh yang ada di dalam cerita. Kutipan 1 Lain soal jika kalian tinggal di kota kecil seperti kampungku dan Marni. Ya, aku harus menyebut nama Marni karena ia sedang jadi buah bibir di kampungku. (Ronda: Aku sendiri tidak bisa melarang suamiku bersikap manis terhadap Marni jika Marni meminta bantuan. Aku sebagai istri lebih tahu, suamiku itu tidak akan bertingkah macammacam terhadap Marni karena aku pun tahu Marni bukan perempuan yang mudah digoda lelaki. Lagi pula, aku sengaja menjadikan diriku dekat dengan Marni agar dia tak sungkan meminta bantuan keluarga kami jika dibutuhkan. Hidupnya sudah cukup sulit, dan aku tak ingin menambahi lagi beban pikiran Marni yang membesarkan dua anak tanpa suami yang seharusnya (Ronda: paragraf . Aku ponsel Marni saking jijiknya. Tidak kusangka. Pak RT yang seharusnya mengayomi warganya sama sekali BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tidak berpihak kepada perempuan seperti Marni. Aku kehilangan minat membaca percakapan berikutnya. Ketua RT macam apa yang merendahkan perempuan dengan status seperti Marni? Aku geram, mengapa masih banyak lelaki berpikiran sempit dan menganggap status perempuan tak bersuami adalah makhluk kesepian dan mudah dipermainkan? (Ronda: Kutipan di atas menjelaskan bahwa tokoh Aku sebagai narator atau orang ketiga dalam cerpen ini. sisi lain tokoh Aku merupakan tokoh dikarenakan tokoh Aku mendukung Marni karena ia ikut pula merasakan ketidaknyamanan jikalau perempuan menjadi bahan pergunjingan atau bahan gurauan. Namun, tokoh Aku juga tidak bisa berbuat banyak terkait permasalahan yang di alami Marni. Selain itu, tokoh Aku juga dijadikan sebagai tempat berkeluh kesah Marni dan hal ini yang membuktikan bahwa tokoh Aku ini berpengaruh terhadap tokoh Marni. Tokoh Antagonis Menurut Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya menyebutkan bahwa tokoh antagonis merupakan tokoh yang mendatangkan konflik dan ketegangan dalam cerita sehingga jalannya cerita menjadi menarik. Wak Dullah Sebagai tokoh yang bertentangan dengan tokoh protagonis karena melakukan pelecehan verbal yang merupakan pertentangan dengan tujuan tokoh utama. ISSN 2541-3252 Vol. No. Mar. Kutipan 1 Bahkan sekelas Wak Dullah, yang terkenal paling saleh di antara semua tetangga, tak bisa menyembunyikan sorot mata yang berkilat setiap Marni lewat (Ronda: Kutipan 2 AyAwas. Pak Dede nanti jangan belok yah kalau kena Jadinya malah ngaronda di imah randa, haneut atuh, nanti ada maling gak ketahuan. Ha-haha. Ay (Ronda: paragraf . Dalam kutipan di atas dijelaskan Wak Dullah ketegangan dalam cerita sehingga lewat perkataan atau verbal yang beilau tujukan untuk tokoh utama Marni. Pak RT. Sebagai tokoh yang juga protagonis karena melakukan merupakan pertentangan dengan tujuan tokoh utama. Kutipan 1 Salah satu chat respons Wak Dullah. AyBagaimana ya Bu Marni, ini wajib dipenuhi, sudah kesepakatan bersama, semua kepala keluarga harus ikut Ay Aku turut kesal, kalimatkalimat Pak RT berikutnya sungguh tak terduga. AyKalau Bu Marni tidak sanggup membayar iuran pengganti. Bu Marni tetap harus memenuhi kewajiban Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ISSN 2541-3252 Vol. No. Mar. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai warga. Tidak ada yang bisa bolos dari kesepakatan bersama ini. YahA Bu Marni harus mau ikut keliling ronda bersama kami, para bapak. Anggap saja bisa sama-sama menghangatkan udara malam yang dingin. Bu. He-he-he. Ay (Ronda: paragraf . Dalam kutipan di atas dijelaskan bahwa tokoh Pak RT memiliki peran yang sama dengan Wak Dullah yaitu ketegangan dalam cerita sehingga lewat perkataan atau verbal yang beilau tujukan untuk tokoh utama Marni. Latar Menurut Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya menyebutkan bahwa latar atau setting merupakan dasar atau pondasi yang menjadi tumpuan awal yang menunjuk pada tempat, waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa di dalam cerita yang Latar tempat Menurut Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya menyebutkan bahwa latar tempat merupakan lokasi peristiwa atau kejadian cerita dalam Latar tempat ini juga memberikan konteks fisik untuk peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam karya fiksi tersebut. Sebuah kampung kecil Latar tempat cerpen ini terjadi di sebuah kampung kecil yang tak disebutkan namanya. Kutipan Lain soal jika kalian tinggal di kota kecil seperti kampungku dan Marni (Ronda: paragraf . Dalam kampung kecil yang menjadi latar cerita ini, kita menyaksikan berbagai peristiwa yang membentuk kehidupan Marni dan warga sekitarnya. Kampung kecil ini menjadi panggung di mana drama sosial dan konflik antar karakter Latar waktu Menurut Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya menyebutkan bahwa latar waktu memiliki hubungan dengan masalah AukapanAy terjadinya kejadian yang diceritakan. Masalah AukapanAy ini juga dihubungkan dengan konteks waktu, pengetahuan dan pandangan pembaca terhadap waktu yang dipergunakan dalam cerita sehingga pembaca dapat masuk ke dalam suasana cerita. Era Modern/masa kini Melihat kondisi masyarakat dan teknologi yang digunakan masyarakat dalam berkomunikasi, latar waktu cerita ini terjadi ialah di era modern atau di masa kini. Namun tidak disebutkan secara tersurat pada tanggal ataupun tahun berapa cerita ini terjadi. Kutipan 1 Namun, beberapa orang mengeluh karena itu artinya akan memengaruhi keseluruhan aktivitas Silang pendapat mengenai ronda ramai di grup Whatsapp RT (Ronda: paragraf . Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Kutipan 2 AyIbu-ibu, bapak-bapak, setelah kumpul dan rapat bersama para tokoh masyarakat dan para BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ketua RT di lingkungan RW 01 tadi siang, maka keputusannya adalah ronda diadakan bergiliran setiap Giliran RT 05. RT kita, kebagian hari Kamis malam. Ronda bersama seluruh ketua RT atau perwakilannya dilakukan setiap Sabtu malam, dan pak RW akan memantau semua kegiatan ini,Ay Doni, ketua RT kami, mengirim pesan di grup Whatsapp. (Ronda: paragraph Kutipan 3 Percakapan dalam grup Whatsapp itu tidak lagi kuperhatikan hingga dua hari (Ronda: paragraph . Kutipan 4 Ibu sudah baca pesan-pesan yang ramai di grup Whatsapp itu?Ay Tatapan Marni kurasa terlalu tajam hari ini. (Ronda: paragraph . Kutipan 5 Sudah, tapi hanya sampai dua hari lalu. Saya belum sempat baca lagi, kadang-kadang isinya cuma stiker dan meme-meme lucu, kan. Mar. Saya malas. Ay Kujawab jujur sambil meraba ke mana arah pembicaraan Marni. AyEhA, loh HP saya di mana, ya?Ay Baru kusadari sedari tadi aku tak mengantongi Ibu baca dari HP saya aja,Ay Marni _ (Ronda: paragraph . Kutipan 6 Kalian tidak perlu bilang mana mungkin Marni tidak mampu, buktinya ia punya ponsel. Asal kalian tahu, ponsel Marni itu keluaran lama yang badan ponselnya harus diikat dengan karet gelang agar baterainya tidak mencelat setiap kali dipegang. Marni mempertahankan ponsel butut itu sebab bisa jadi perantara ISSN 2541-3252 Vol. No. Mar. (Ronda: paragraph . Berdasarkan kutipas di atas, dijelaskan latar waktu yang mungkin tidak spesifik. Namun, penulis menggambarkan kondisi masyarakat dan teknologi yang berkembang untuk berkomunikasi menunjukan latar waktu dalam cerpen ini di era modern atau di masa kini. Latar sosial-budaya Menurut Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya menyebutkan bahwa latar sosial-budaya merupakan halhal yang berhubungan dengan perilaku atau stereotip khusus masyarakat baik itu fiksi maupun Dalam cerpen ini dapat diketahui bahwa masyarakat yang ditempati Marni masih dijumpai adanya hal-hal klise dan stereotip buruk terhadap pasangan . Terlebih, sosok Pak RT yang melalukan pelecehan verbal menjadi cerminan bahwa lingkungan sosialnya buruk karena masih melumrahkan stereotip seperti itu dan menganggapnya candaan yang layak dilontarkan kepada seorang manusia. Kutipan Aku nyaris melemparkan ponsel Marni saking jijiknya. Tidak aku sangka. Pak RT yang seharusnya mengayomi warganya sama sekali tidak berpihak kepada perempuan seperti Marni. Aku kehilangan minat membaca percakapan berikutnya. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ISSN 2541-3252 Vol. No. Mar. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Ketua RT macam apa yang merendahkan perempuan dengan status seperti Marni? Aku geram, mengapa masih banyak lelaki berpikiran sempit dan menganggap status perempuan tak bersuami adalah makhluk kesepian dan mudah dipermainkan? (Ronda: Berdasarkan kutipas di atas, dijelaskan bahwa latar sosial dan budaya dalam cerpen ini mengangkat isu mengenai kehidupan sosial masyarakat saat ini. Isu tersebut yakni adanya hal-hal klise dan stereotip buruk terhadap perempuan yang ditinggal pasangan . Plot/Alur C Peristiwa Peristiwa merupakan peralihan dari suatu keadaan atau kejadian ke keadaan yang lain dan dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Hal ini dikemukakan oleh Luxemburg dkk, yang sudah dikutip di dalam buku Nurgiyantoro. Peristiwa awal dalam cerpen ini bermula ketika kondisi kampung mulai tidak aman karena beberapa warga kehilangan barang berharga seperti motor, televisi, dsb. Untuk mengantisipasi, kegiatan ronda malam diaktifkan kembali dengan bergantian oleh warga. Salah satunya ialah Marni, seorang janda dengan dua anak yang bekerja serabutan untuk menghidupi keluarganya. Keputusan diadakannya ronda disambut dengan beragam respon para warga. Sebagian antusias dan sebagian lagi keberatan karena berbagai alasan, termasuk kendala Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ekonomi untuk membayar iuran pengganti ronda. Marni pun menghadapi kebimbangan serupa mengingat penghasilannya yang tidak menentu. Kutipan 1 Persoalan mencuat ketika dua rumah di lingkungan RT kami kehilangan motor, televisi, dan sejumlah barang Berdasarkan pada hasil rembukan, diputuskan kegiatan ronda diaktifkan lagi. Tentu saja hal itu disambut beragam oleh warga. Lega karena ada solusi untuk keresahan yang terjadi. Namun, beberapa orang mengeluh karena itu keseluruhan aktivitas mereka. Silang pendapat mengenai ronda ramai di grup WhatsApp RT 05. Ay (Ronda: Kutipan 2 Di percakapan berikutnya. Marni mengajukan keberatan jika semua kepala keluarga diwajibkan Selain karena anaknya masih kecil-kecil, selama ini tidak pernah ada cerita bahwa perempuan Marni juga mengajukan dispensasi untuk alternatif iuran pengganti wajib ronda. Seperti yang penghasilan Marni saat ini tak Jika harus membayar iuran pengganti ronda yang jumlahnya cukup besar itu. Marni khawatir tidak bisa memberi makanan layak bagi kedua anaknya. Kalian tidak perlu bilang mana mungkin Marni tidak mampu, buktinya ia punya ponsel. Asal kalian tahu, ponsel Marni itu ponselnya harus diikat dengan karet BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia gelang agar baterainya tidak mencelat setiap kali dipegang. Marni mempertahankan ponsel butut itu sebab bisa jadi perantara panggilan pekerjaan baginya. Ay (Ronda: paragraf . Karena Marni adalah seorang kepala keluarga, ia diharuskan mengikuti Ronda, tetapi karena Marni memiliki anak dan harus mencukupi keluarganya ia merasa tidak mampu untuk membayar iuran Hal inilah yang memicu munculnya konflik dalam cerpen ini. Konflik Burhan Nurgiyantoro dalam Konflik dalam cerita merupakan sesuatu yang mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang yakni antara tokoh protagonist dan tokoh antagonis. Dalam konflik juga menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan antar kedua tokoh tersebut. Konflik ini bermula ketika Marni mengajukan keberatannya. Pak tanggapan yang sangat tidak pantas dan menyinggung harkat dan martabat Marni sebagai perempuan. Pak RT menyatakan jika Marni tidak mampu membayar iuran, maka ia harus ikut ronda malam bersama para lelaki dengan nada menggoda dan merendahkan posisi Marni. Selain itu banyak gurauan-gurauan yang menyinggung Marni sebagai perempuan yang tak bersuami. Kutipan C ISSN 2541-3252 Vol. No. Mar. AyAwas. Pak Dede nanti jangan belok yah kalau kena giliran. Jadinya malah ngaronda di imah randa, haneut atuh, nanti ada maling gak ketahuan. Ha-ha-ha. Ay (Ronda: Dalam kutipan tersebut tersirat makna yang menyinggung Marni sebagai seorang janda. Di sisi lain. Marni harus tetap menghadapi kenyataan bahwa ia harus mengikuti kegiatan Ronda. Namun. Marni terus mengajukan dispensasi untuk tidak diwajibkan Ronda. Klimaks Menurut Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya menyebutkan bahwa terpenting dalam jalannya cerita karena saat konflik mencapai tingkat intensitas yang tinggi dan pasti harus hal-hal penyelesaian dan tidak dapat dihindari terjadinya Puncak konflik dalam cerpen ini bermula dari kalimat yang keluar dari Pak RT, dibuktikan dalam kutipan di bawah ini Kutipan AyKalau Bu Marni tidak sanggup membayar iuran pengganti. Bu Marni tetap harus memenuhi kewajiban sebagai warga. Tidak ada yang bisa bolos dari kesepakatan bersama ini. YahA Bu Marni harus mau ikut keliling ronda bersama kami, para bapak. Anggap sama-sama menghangatkan udara malam yang dingin. Bu. He-he-he. Ay (Ronda: Kutipan puncak permasalahan Marni di mana Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ISSN 2541-3252 Vol. No. Mar. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Pak RT yang seharusnya mengayomi masyarakat malah mengucapkan halhal yang tidak senonoh seperti itu. Terlebih lagi. Marni merupakan seorang janda yang baik dan tidak mau memperpanjang masalah. Terungkap bahwa sikap tidak senonoh Ketua RT dilatari oleh rasa dendam karena dulu lamarannya pernah ditolak Marni. Sudut Pandang Menurut Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya menyebutkan bahwa Sudut Pandang atau point of view merupakan melangsungkan sebuah cerita yang ingin Sudut pandang dipergunakan oleh pengarang sebagai sarana atau media dalam menyiratkan cerita baik fiksi maupun nonfiksi kepada pembaca. Dalam cerpen ini menggunakan sudut pandang orang pertama: AuAkuAy sebagai tokoh tambahan. Dalam hal ini. Sudut Pandang pertama: AuAkuAy tokoh tambahan merupakan tokoh atau pemeran yang dihadirkan untuk . AudibiarkanAy Tokoh aku bertindak sebagai narator yang cenderung berpihak pada Marni, di mana kekesalan tokoh Aku terhadap pelecehan yang terjadi kepada Marni. Kutipan 1 Aku sendiri tidak bisa melarang suamiku bersikap manis terhadap Marni jika Marni meminta bantuan. Aku sebagai istri lebih tahu, suamiku itu tidak macam-macam terhadap Marni karena aku pun tahu Marni bukan perempuan yang mudah digoda lelaki. (Ronda: paragraf . Dari keberpihakan tokoh Aku terhadap Marni, di mana Marni bukan perempuan yang mudah digoda lelaki. Maka dari itu tokoh Aku tidak melarang suaminya untuk bersikap manis kepada Marni jika dia meminta bantuan. Kutipan 2 Tapi sebagai perempuan, aku tetap merasa tidak nyaman jika status perempuan lain jadi pergunjingan dan bahan gurauan. Aku sering mewantiwanti suamiku agar tidak ikut-ikutan melakukan perbuatan yang merendahkan perempuan meskipun niatnya bercanda. (Ronda: paragraf . Hal ini memperkuat argumentasi kami, dengan kutipan di atas, tokoh Aku mendukung Marni karena merasa tak nyaman jikalau perempuan menjadi bahan pergunjingan atau bahan gurauan. Kutipan 3 AuHah? Gila!Ay Aku melemparkan ponsel Marni saking Tidak kusangka. Pak RT yang seharusnya mengayomi warganya sama sekali tidak berpihak kepada perempuan seperti Marni. Ay (Ronda: paragraf . Kutipan di atas menunjukkan Aku perlakuan Pak RT kepada Marni karena seharusnya seorang pemimpin memiliki sikap yang bisa membuat nyaman Hal ini juga memperkuat bahwa tokoh Aku berpihak kepada Marni dan menentang adanya pelecehan seksual, maupun secara verbal. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ISSN 2541-3252 Vol. No. Mar. Amanat Menurut Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya menyebutkan bahwa moral atau amanat ini menunjuk pada ajaran atau nasehat baik buruk yang diterima pembaca mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. akhlak, budi pekerti, susila. Dalam cerpen ini juga mengandung Kritik sosial yang wujud kehidupan sosial yang dikritik dapat bermacammacam seluas lingkup kehidupan sosial itu sendiri. Kutipan Aku geram, mengapa masih banyak menganggap status perempuan tak bersuami adalah makhluk kesepian dan mudah dipermainkan? (Ronda: paragraf dimuat dalam cerita seperti pilihan kata, struktur kalimat, bentuk-bentuk bahasa figuratif, penggunaan kohesi, dan lainlain. Dalam menggunakan bahasa Sunda karena kemungkinan tokoh atau tempat tinggal Marni kesehariannya menggunakan bahasa Sunda. Kutipan 1 Dari kutipan ini, bisa disimpulkan bahwa amanat yang ingin disampaikan narator adalah bahwa perempuan yang tak bersuami bukan berarti seseorang yang kesepian dan dapat dipermainkan. Hal ini juga menyinggung masalahmasalah seperti seksisme, di mana ada perempuan itu lemah, janda itu boleh digoda, dsb. Berdasarkan pengarang sedikit memberikan gambaran dan letak kebiasaan masyarakat yang Dengan memasukan unsur kebudayaan tersebut pengarang berhasil membawa pembaca seolah-olah masuk ke dalam lingkungan cerita. Gaya Bahasa Menurut Abrams, 1999:303 dalam buku Burhan Nurgiyantoro menyebutkan bahwa Gaya bahasa atau stile . merupakan cara penulisan bahasa dalam sebuah karya sastra khususnya prosa. Gaya bahasa atau stile . juga dapat diartikan bagaimana seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan dalam jalannya cerita Stile berisikan ciri-ciri kebahasaan yang dapat AyMar, iniA gak enak dibaca ya chatnya. Pikasebeuleun pisan. Ay (Ronda: Kutipan 2 Awas. Pak Dede nanti jangan belok yah kalau kena giliran. Jadinya malah ngaronda di imah randa, haneut atuh, nanti ada maling gak ketahuan. Ha-haha. Ay (Ronda: paragraf . SIMPULAN Setelah mengkaji cerpen "Ronda" karya Ratna Ayu Budhiarti, menyimpulkan beberapa hal penting. Hasil penelitian ini yaitu sebagai berikut. Unsur intrinsik cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarti meliputi: . tema cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarti yaitu mengangkat isu sensitif tentang ketidakadilan terhadap perempuan, khususnya untuk perempuan yang ditinggal pasangan dalam menghadapi prasangka dan pelecehan verbal, juga menghadapi pandangan miring hanya karena status seorang janda. cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarti ini menggunakan alur maju. latar cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ISSN 2541-3252 Vol. No. Mar. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia meliputi latar tempat, waktu, dan sosial. tokoh cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarti yaitu terdapat satu tokoh utama dan tiga tokoh . sudut pandang cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarti yaitu menggunakan sudut pandang orang pertama AuakuAy sebagai tokoh . Bentuk psychological violence yang dialami tokoh utama perempuan cerpen Ronda karya Ratna Ayu Budhiarti yaitu berupa perilaku tidak pantas dan juga pengucapan katakata yang tidak pantas. DAFTAR PUSTAKA