JUMBA: Jurnal Manajemen. Bisnis, dan Akuntansi Vol. 04 No. 01 Tahun 2025 e-ISSN: 2828-8815 MANAJEMEN LABA DALAM PERSPEKTIF AGENCY THEORY: ANALISIS EMPIRIS PADA PT GUDANG GARAM TBK TAHUN 2020 SAMPAI 2023 Rini Ika Oktaviana Universitas Islam Kadiri rinii5403@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis indikasi praktik manajemen laba yang dilakukan oleh PT Gudang Garam Tbk selama periode 2020 hingga 2023, dengan menggunakan pendekatan Agency Theory sebagai kerangka teoretis utama. Teori agensi menjelaskan bahwa konflik kepentingan antara manajer . dan pemilik perusahaan . dapat mendorong terjadinya praktik manipulasi laba sebagai bentuk perilaku oportunistik manajemen. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan menganalisis rasio keuangan, meliputi Gross Profit Margin (GPM). Net Profit Margin (NPM). Return on Assets (ROA). Return on Equity (ROE), serta rasio likuiditas dan Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan signifikan pada GPM. ROA, dan ROE, serta fluktuasi tajam pada NPM selama periode pengamatan. Selain itu, rasio likuiditas menurun dan rasio solvabilitas meningkat, yang menunjukkan tekanan finansial Temuan ini mengindikasikan adanya kemungkinan tindakan manajemen untuk mengelola laporan keuangan guna mempertahankan citra dan kepercayaan investor. Penelitian ini menyarankan perlunya penguatan sistem pengendalian internal dan pengungkapan informasi yang lebih transparan untuk meminimalisasi praktik manajemen Kata-kata kunci: Manajemen Laba. Agency Theory. Rasio Keuangan. Pt Gudang Garam. Laporan Keuangan ABSTRACT This study aims to analyze the indications of earnings management practices conducted by PT Gudang Garam Tbk during the 2020Ae2023 period, using Agency Theory as the primary theoretical framework. Agency Theory explains that conflicts of interest between managers . and shareholders . may lead to opportunistic behavior such as earnings manipulation to achieve personal or organizational goals. This research adopts a descriptive quantitative method by analyzing key financial ratios, including Gross Profit Margin (GPM). Net Profit Margin (NPM). Return on Assets (ROA). Return on Equity (ROE), as well as liquidity and solvency ratios. The findings reveal a significant decline in GPM. ROA, and ROE, and sharp fluctuations in NPM over the observed period. addition, declining liquidity and increasing solvency ratios suggest growing financial These results indicate the possibility of managerial actions to influence financial reports in order to maintain the company's image and investor confidence. The study recommends strengthening internal control systems and enhancing financial disclosure to minimize earnings management practices. Keywords: Earnings Management. Agency Theory. Financial Ratios. Pt Gudang Garam. Financial Statements JUMBA: Jurnal Manajemen. Bisnis, dan Akuntansi Vol. 04 No. 01 Tahun 2025 e-ISSN: 2828-8815 PENDAHULUAN Laporan keuangan berfungsi sebagai media utama bagi perusahaan dalam menyampaikan informasi finansial kepada berbagai pihak berkepentingan, seperti investor, kreditur, otoritas, dan publik. Informasi ini sangat menentukan dalam pengambilan keputusan bisnis dan investasi. Oleh karena itu, keakuratan dan kejujuran penyajiannya sangat penting. Namun, dalam praktiknya, tidak semua laporan keuangan mencerminkan kondisi aktual perusahaan. Salah satu alasan utamanya adalah adanya praktik manajemen laba, yaitu tindakan manajemen untuk mengatur angka-angka dalam laporan keuangan demi memenuhi target tertentu atau menciptakan citra keuangan yang diinginkan. Manajemen laba bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti mempercepat atau menunda pengakuan pendapatan dan beban, serta menggunakan metode akuntansi yang fleksibel sesuai standar yang berlaku. Meskipun secara formal praktik ini tidak selalu menyalahi aturan, secara etika dapat menyesatkan pengguna laporan keuangan. Kondisi ini dapat mengganggu kredibilitas perusahaan di mata investor dan merusak kepercayaan pasar jika tidak diawasi dengan baik. Beberapa studi menyatakan bahwa manipulasi laporan laba dapat menurunkan kualitas informasi akuntansi yang disampaikan kepada publik dan meningkatkan risiko keputusan yang tidak akurat dari pihak eksternal. Untuk memahami praktik ini secara teoritis, penelitian ini menggunakan pendekatan Agency Theory, yang menjelaskan bahwa terdapat ketidakseimbangan kepentingan antara manajer sebagai agen dan pemilik perusahaan sebagai prinsipal. Dalam situasi informasi yang tidak seimbang . simetri informas. , manajer dapat mengambil tindakan yang menguntungkan kepentingan pribadi, seperti menyajikan laba yang lebih baik dari kenyataan. Ketika laba perusahaan menurun, tekanan terhadap manajemen cenderung meningkat, yang dapat mendorong mereka untuk melakukan rekayasa akuntansi agar tetap terlihat berkinerja baik. Salah satu perusahaan publik yang relevan untuk dikaji dalam konteks ini adalah PT Gudang Garam Tbk, yang bergerak di sektor industri rokok dan menghadapi tantangan regulasi yang tinggi serta persaingan yang ketat. Perusahaan ini menunjukkan fluktuasi signifikan dalam rasio-rasio keuangan utama seperti Gross Profit Margin (GPM). Net Profit Margin (NPM). Return on Assets (ROA), dan Return on Equity (ROE) sepanjang 2020 hingga 2023. Selain itu, penurunan rasio likuiditas dan peningkatan struktur pembiayaan melalui utang menjadi sinyal awal yang memperkuat kemungkinan praktik manajemen laba. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri adanya indikasi manajemen laba dalam laporan keuangan PT Gudang Garam Tbk dengan menganalisis pola-pola dalam rasio keuangan perusahaan selama empat tahun terakhir. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif, dengan analisis data sekunder berupa laporan keuangan perusahaan. Melalui sudut pandang Agency Theory, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemahaman terhadap potensi praktik manajemen laba serta pentingnya transparansi dalam pelaporan keuangan JUMBA: Jurnal Manajemen. Bisnis, dan Akuntansi Vol. 04 No. 01 Tahun 2025 e-ISSN: 2828-8815 perusahaan publik di Indonesia. METODE Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif, yaitu pendekatan yang bertujuan menggambarkan dan menjelaskan kondisi objek penelitian melalui data numerik yang diperoleh dan dianalisis secara sistematis. Metode ini digunakan untuk mengamati dan menilai fluktuasi kinerja keuangan PT Gudang Garam Tbk, khususnya yang mengarah pada dugaan praktik manajemen laba, berdasarkan perhitungan rasio keuangan (Sugiyono, 2. Data yang dianalisis bersumber dari laporan keuangan tahunan PT Gudang Garam Tbk yang dipublikasikan secara resmi melalui situs Bursa Efek Indonesia (BEI) dan situs keuangan lain yang relevan, untuk periode 2020 hingga 2023. Penelitian ini merupakan studi kasus pada PT Gudang Garam Tbk, yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Pemilihan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa perusahaan tersebut merupakan salah satu emiten terbesar di sektor industri rokok nasional dan memiliki data keuangan lengkap serta kinerja yang mengalami fluktuasi selama periode penelitian. Penelitian ini dikaji dalam kerangka Agency Theory, yang menyatakan bahwa perbedaan kepentingan antara manajemen sebagai agen dan pemilik perusahaan sebagai prinsipal dapat mendorong munculnya praktik manajemen laba (Pandini & Hwihanus, 2. Rasio keuangan yang digunakan dalam analisis ini terdiri dari: Gross Profit Margin (GPM) Gross Profit Margin merupakan rasio yang digunakan untuk menilai efisiensi perusahaan dalam mengelola biaya pokok penjualan terhadap pendapatan yang diperoleh. Rasio ini menunjukkan seberapa besar laba kotor yang dapat dihasilkan dari penjualan bersih. GPM yang menurun dapat mengindikasikan meningkatnya beban pokok penjualan atau inefisiensi dalam proses produksi. Jika tren penurunannya terus berlanjut, hal ini dapat memberikan tekanan pada manajemen dan berpotensi mendorong tindakan manipulasi laba guna menjaga penampilan kinerja yayayaAya yaycCycNycCycI GPM= ycEyaycAyaycOyayayaycA yaAyaycIycIyaya X 100% Net Profit Margin (NPM) Net Profit Margin digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari penjualan setelah seluruh beban dikurangkan. Rasio ini menggambarkan efektivitas manajemen dalam mengelola seluruh komponen biaya, termasuk operasional, bunga, dan pajak. Fluktuasi yang tinggi pada NPM dapat menjadi sinyal bahwa perusahaan tidak stabil dalam pengelolaan laba, dan bisa mengindikasikan JUMBA: Jurnal Manajemen. Bisnis, dan Akuntansi Vol. 04 No. 01 Tahun 2025 e-ISSN: 2828-8815 adanya praktik manajemen laba, terutama bila terjadi peningkatan laba yang tidak sejalan dengan performa penjualan atau biaya. ycycycyc ycycycycycyc NPM= ycycycAycycycycycycA ycycycycycycX 100% Return on Assets (ROA) Return on Assets merupakan indikator untuk menilai sejauh mana efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan aset yang dimiliki untuk menghasilkan keuntungan. ROA yang tinggi menunjukkan bahwa aset digunakan secara efisien dalam operasional bisnis. Sebaliknya, penurunan ROA dapat menunjukkan penurunan efisiensi atau laba bersih, yang bisa menjadi latar belakang bagi manajer untuk melakukan pengelolaan laba agar tetap mempertahankan citra kinerja perusahaan. yayayaAya yaAyaycIycIyaya ROA= ycNycCycNyaya yaycIyaycN X 100% Return on Equity (ROE) Return on Equity mencerminkan tingkat pengembalian atas modal yang ditanamkan oleh pemilik perusahaan. Rasio ini sangat diperhatikan oleh investor karena menunjukkan seberapa besar laba bersih yang dihasilkan dari ekuitas. Penurunan ROE sering kali diasosiasikan dengan turunnya daya tarik investasi, sehingga dalam beberapa kasus, dapat memotivasi manajemen untuk mengatur atau memoles angka laba agar rasio ini tetap menarik bagi pemegang saham. yayayaAya yaAyaycIycIyaya ROE=ycNycCycNyaya yayaycOyaycNyaycI X 100% Current Ratio Current Ratio digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dengan aset lancar yang Rasio ini mencerminkan likuiditas perusahaan dalam jangka waktu Bila current ratio terlalu rendah, hal ini dapat menandakan bahwa perusahaan berisiko tidak mampu membayar utang lancarnya, sehingga bisa menciptakan tekanan bagi manajemen untuk menampilkan kondisi keuangan yang lebih baik dari yang sebenarnya. yaycIyaycN yayaycAyayaycI Current Rasio = yayayayaAyayayaycNyaycI yayaycAyayaycI JUMBA: Jurnal Manajemen. Bisnis, dan Akuntansi Vol. 04 No. 01 Tahun 2025 e-ISSN: 2828-8815 Debt to Asset Ratio Debt to Asset Ratio menggambarkan seberapa besar proporsi aset perusahaan yang dibiayai dengan utang. Rasio ini memberikan gambaran tentang tingkat risiko keuangan yang ditanggung perusahaan. Meningkatnya rasio ini menunjukkan bahwa perusahaan semakin bergantung pada pembiayaan eksternal. Dalam situasi tersebut, manajemen mungkin merasa perlu menyajikan kinerja laba yang tampak kuat untuk menjaga kepercayaan kreditur dan menghindari persepsi risiko tinggi. ycNycCycNyaya ycOycNyaycAya Debt to Asset Ratio = ycNycCycNyaya yaycIyaycN Debt to Equity Ratio Debt to Equity Ratio digunakan untuk menilai sejauh mana perusahaan dibiayai oleh utang dibandingkan dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukkan struktur permodalan perusahaan dan menjadi indikator penting dalam menilai keberlanjutan jangka panjang. Rasio yang sangat tinggi dapat mengindikasikan beban keuangan yang berat, sehingga mendorong manajer untuk melakukan pengelolaan laba demi menjaga rasio tetap stabil dan menarik di hadapan investor dan pemberi pinjaman. ycNycCycNyaya ycOycNyaycAya Debt to Equity Ratio = ycNycCycNyaya yayaycOyaycNyaycI HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis rasio keuangan PT Gudang Garam Tbk periode 2020Ae2023 yang berpotensi mencerminkan adanya praktik manajemen laba ditunjukkan pada Tabel 1. Data yang dianalisis mencakup rasio profitabilitas, efisiensi, likuiditas, dan solvabilitas, yang diperoleh dari laporan keuangan tahunan perusahaan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi pola atau anomali dalam laporan keuangan yang mengindikasikan adanya pengelolaan angka-angka akuntansi oleh manajemen. Tabel 1. Analis Rasio Keuangan PT Gudang Garam Tahun 2020 sampai 2023 JENIS RASIO KEUANGAN Gross Profit Maergin (GPM) Net Profit Margin (NPM) Return on Assets (ROA) Return on Equity (ROE) Current Rasio Debt to Asset Rasio Debt to Equity Rasio 15,2% 6,7% 9,8% 13,1% 291,2% 25,2% 33,6% 11,4% 4,5% 6,2% 9,5% 209,1% 34,1% 51,7% 8,9% 2,2% 3,1% 4,8% 190,4% 34,7% 53,1% 12,3% 4,5% 5,8% 8,7% 18,2% 34,2% 51,9% JUMBA: Jurnal Manajemen. Bisnis, dan Akuntansi Vol. 04 No. 01 Tahun 2025 e-ISSN: 2828-8815 Adapaun hasil analisis data mencakup rasio profitabilitas, efisiensi, likuiditas, dan solvabilitas, yang diperoleh dari laporan keuangan tahunan perusahaan sebagi Gross Profit Margin (GPM) Penurunan GPM dari 15,2% . menjadi 8,9% . , lalu naik ke 12,3% . , menunjukkan efisiensi perusahaan dalam mengelola biaya pokok penjualan sempat memburuk sebelum sedikit membaik. Dalam kerangka Agency Theory, penurunan ini bisa menjadi tekanan bagi manajemen sebagai agen untuk mempertahankan citra kinerja dengan cara mengatur waktu pengakuan pendapatan atau beban (Pandini & Hwihanus. Manajemen laba kerap dilakukan dalam situasi seperti ini untuk mempertahankan persepsi positif dari pemegang saham dan pihak eksternal Net Profit Margin (NPM) NPM yang menurun dari 6,7% ke 2,2%, lalu naik kembali ke 4,5% Ketidakpastian ini dapat memunculkan indikasi pengelolaan laba, terutama bila tidak sejalan dengan peningkatan penjualan atau penurunan beban Dalam situasi seperti itu, manajer memiliki insentif untuk melakukan manipulasi angka laba sebagai bentuk tanggapan atas tekanan dari pihak prinsipal (Sam. Goso, & Halim, 2. Return on Assets (ROA) Turunnya ROA dari 9,8% . menjadi 3,1% . mencerminkan penurunan efisiensi dalam menghasilkan laba dari total aset. Walaupun naik lagi menjadi 5,8% . , pemulihan ini perlu dicermati. Berdasarkan Agency Theory, manajemen mungkin terdorong untuk menampilkan angka laba yang lebih baik dari kondisi sesungguhnya demi menjaga reputasi dan loyalitas investor (Sukri. Ruma, & Sahabuddin, 2. Return on Equity (ROE) ROE mengalami penurunan signifikan dari 13,1% menjadi 4,8%, sebelum naik kembali ke 8,7%. Ini menunjukkan pengembalian modal pemilik sempat menurun drastis. Menurut Agency Theory, kondisi seperti ini mendorong manajemen untuk meningkatkan tampilan laba melalui teknik manajemen laba agar tetap menarik di mata pemegang saham (Pandini & Hwihanus, 2. Current Ratio Penurunan current ratio dari 291,2% . ke 183,2% . mencerminkan menurunnya kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Dalam situasi menurunnya likuiditas, manajemen berpotensi menyajikan laporan keuangan dengan performa laba yang stabil, meskipun secara kas menghadapi tekanan, demi menjaga kepercayaan dari JUMBA: Jurnal Manajemen. Bisnis, dan Akuntansi Vol. 04 No. 01 Tahun 2025 e-ISSN: 2828-8815 pihak eksternal seperti kreditur (Sam et al. , 2. Debt to Asset Ratio Kenaikan rasio dari 25,2% ke 34,7% menunjukkan peningkatan pembiayaan melalui utang. Ketergantungan yang lebih besar terhadap utang dapat menciptakan tekanan bagi manajemen untuk memastikan bahwa perusahaan tampak memiliki kemampuan menghasilkan laba yang memadai, sehingga memicu potensi manipulasi dalam penyajian laporan laba (Pandini & Hwihanus, 2. Debt to Equity Ratio Peningkatan Debt to Equity Ratio dari 33,6% ke 53,1% memperlihatkan struktur modal yang semakin berat di sisi utang. Dalam konteks Agency Theory, kondisi ini bisa menjadi alasan bagi manajer untuk menjaga agar laba tetap terlihat kuat guna menghindari ketidakpercayaan dari investor dan pemberi pinjaman (Sam et al. , 2. KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis rasio keuangan PT Gudang Garam Tbk selama periode 2020 hingga 2023, dapat disimpulkan bahwa terdapat indikasi praktik manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan. Penurunan Gross Profit Margin (GPM), fluktuasi Net Profit Margin (NPM), serta tren menurun pada Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE) hingga tahun 2022, kemudian disusul kenaikan pada tahun 2023, mencerminkan potensi adanya pengelolaan angka laba untuk mempertahankan persepsi kinerja yang positif. Penurunan rasio likuiditas dan peningkatan rasio solvabilitas selama periode tersebut juga menunjukkan tekanan keuangan internal yang bisa menjadi pendorong munculnya perilaku manajerial yang oportunistik. Jika dilihat melalui perspektif Agency Theory, hasil ini memperkuat asumsi bahwa terdapat potensi konflik kepentingan antara manajemen dan pemilik Manajer sebagai agen cenderung menjaga kepentingan pribadi dan posisi mereka dengan cara mengelola laporan keuangan agar tetap terlihat stabil di mata investor, kreditur, dan pemangku kepentingan lainnya, meskipun kondisi operasional sebenarnya belum sepenuhnya membaik. SARAN Untuk menjaga transparansi dan keandalan laporan keuangan. PT Gudang Garam Tbk disarankan untuk menerapkan prinsip akuntansi yang konsisten dan konservatif, terutama dalam kondisi keuangan yang berfluktuasi. Manajemen juga diharapkan meningkatkan kualitas pengungkapan informasi keuangan dalam laporan tahunan, agar seluruh pemangku kepentingan mendapatkan gambaran yang utuh dan jujur mengenai kondisi perusahaan. Selain itu, perusahaan perlu memperkuat sistem pengawasan internal melalui audit yang lebih ketat dan berkala. JUMBA: Jurnal Manajemen. Bisnis, dan Akuntansi Vol. 04 No. 01 Tahun 2025 e-ISSN: 2828-8815 Hal ini bertujuan untuk meminimalkan peluang terjadinya manipulasi laporan Penelitian lanjutan di masa depan juga disarankan untuk mengkaji faktor-faktor lain yang berpotensi memengaruhi manajemen laba, seperti struktur kepemilikan, kompensasi manajerial, serta mekanisme tata kelola perusahaan, dengan pendekatan kuantitatif inferensial untuk mendapatkan hasil yang lebih mendalam dan terukur. DAFTAR PUSTAKA