Pengaruh Asap Cair Bambu Tali (Gigantochloa apu. terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis Dessy Imelda Nirmasari Siregar. Dhira Satwika. Vinsa Cantya Prakasita Fakultas Bioteknologi. Universitas Kristen Duta Wacana. Yogyakarta. Indonesia Alamat Korespondensi: dhira@staff. Abstrak Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis merupakan penyebab infeksi pada luka terbuka. Penggunaan antibiotik pada dosis yang berlebih untuk pengobatan infeksi dapat menyebabkan resistensi, oleh karena itu dibutuhkan agen antibakteri alternatif, misal dari tanaman yang dapat membunuh bakteri patogen. Bambu tali merupakan salah satu kekayaan alam yang tumbuh subur di Aek Nauli. Sumatera Utara. Masyarakat setempat menggunakan asap cair bambu tali yang dipercaya dapat mengobati infeksi luka terbuka. Belum banyak kajian potensi asap cair bambu tali, sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengkaji potensi asap cair bambu tali sebagai agen antibakteri. Pembuatan asap cair dilakukan dengan melakukan pembakaran bambu tali. Uji fitokimia dilakukan dengan menggunakan GC-MS. Dilakukan uji antibakteri dengan metode difusi agar sumuran, pengukuran nilai MIC dan MBC untuk mengetahui efektivitasnya sebagai agen Hasil GC-MS menunjukkan bahwa senyawa utama yang terkandung dalam cairan asap bambu tali adalah furan, fenol dan asam lemak. Hasil uji antibakteri metode difusi agar menunjukkan bahwa asap cair bambu tali dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada konsentrasi 20%. Didapatkan nilai MIC dan MBC 5% asap cair tali bambu terhadap Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis. Kata Kunci: Asap cair. Gigantochloa apus. MIC-MBC. Staphylococcus aureus. Staphylococcus epidermidis The Effect of Gigantochloa apus Liquid Smoke on Staphylococcus aureus and Staphylococcus epidermidis Growth Abstract Staphylococcus aureus and Staphylococcus epidermidis are well known as the main cause of open wound The use of antibiotics in excessive dose in treating these infections may cause resistance, therefore alternative antibacterial agents are needed, for example liquid smoke from plants. Gigantochloa apus . nown as bambu tali, or string bamboo, by local peopl. is one of the natural resources that thrives in Aek Nauli. North Sumatra. Local people use liquid smoke of this bamboo to cure open wound infections. However, there is limited information about this bamboo that encourage us to conduct this study in order to examine the potential of string bamboo liquid smoke as an antibacterial agent. Liquid smoke was made by burning this bamboo for 5-8 hours. Phytochemical analysis was carried out by mean of GC-MS. Well diffusion agar test. MIC and MBC values were measured to determine their effectiveness as an antibacterial agent. The resulting GC-MS analysis showed that liquid smoke main compounds were furans, phenols and fatty acids, respectively. The results of the agar diffusion antibacterial test showed that the liquid smoke could inhibit bacterial growth at a concentration of 20%. The MIC and MBC values of liquid smoke of bamboo tali were 5% on Staphylococcus aureus and Staphylococcus epidermidis, respectively. Keywords: liquid smoke. Gigantochloa apus. MIC-MBC. Staphylococcus aureus. Staphylococcus epidermidis How to Cite : Siregar D. Satwika D. Prakasita V. Pengaruh Asap Cair Bambu Tali (Gigantochloa apu. terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis. J Kdokt Meditek, 2022: 28. , 177Ae185. Available from: http://ejournal. id/ojs/index. php/Meditek/article/view/2419 DOI: https://doi. org/10. 36452/jkdoktmeditek. Pendahuluan Kulit merupakan organ terluas pada tubuh manusia yang paling banyak dihuni oleh Mikrobiota kulit bersifat komensal, mutual dan parasit tergantung imunologis inangnya. 1 Jenis mikrobiota kulit manusia yang sering dijumpai antara lain Staphylococcus. Micrococcus. Enterobacter. Acinetobacter. 2 Bakteri jenis Staphylococcus banyak ditemukan di semua area kulit, dan Staphylococcus Staphylococcus epidermidis sebagai penghuni utama kulit manusia. 3 Meskipun umumnya bersifat tidak berbahaya, tidak jarang S. aureus dan S. epidermidis muncul sebagai patogen komensal yang menyebabkan infeksi pada luka terbuka. Kedua bakteri mampu dengan cepat melekat dan membentuk biofilm pada permukaan luka. 2 S. aureus mampu membelah cepat dan menyebar luas ke jaringan yang dapat memproduksi katalase, eksfoliatif dan enterotoksin. 4 Dilaporkan juga bahwa bakteri ini mampu membentuk biofilm yang terjadi ketika S. aureus menempel pada permukaan biotik dan abiotik dan mulai berkoloni. Penggunaan antibiotik pada dosis yang berlebih untuk mengobati infeksi dapat menimbulkan terjadinya resistensi terhadap bakteri patogen, yang dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan yang serius,5 sehingga dibutuhkan agen antibakteri alami sebagai pengobatan alternatif untuk menghambat pertumbuhan dan atau membunuh bakteri patogen guna mencegah terjadinya resistensi bakteri. Salah satu agen antibakteri potensial adalah produk tanaman untuk pengobatan infeksi luka terbuka. Agen antibakteri tidak hanya dapat mencegah terjadinya resistensi tetapi diduga juga dapat menurunkan tingkat infeksi pada luka terbuka serta dianggap aman dan ramah lingkungan. Salah satu produk tanaman alam yang mengandung agen antibakteri yaitu bambu tali (Gigantochloa apu. Bambu tali (G. memiliki kandungan senyawa asam, flavin, fenolik dan polisakarida yang berpotensi sebagai 6 Bambu tali merupakan salah satu tanaman kekayaan Aek Nauli. Sumatera Utara yang banyak tumbuh subur dan sering dijumpai di daerah tersebut. Masyarakat Aek Nauli biasanya menggunakan bambu tali sebagai asap cair untuk mengobati infeksi luka terbuka. Asap cair bambu tali (G. diduga dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan infeksi pada luka terbuka. Telah dilaporkan bahwa secara umum asap cair mengandung air, tar, asam karbonil dan fenol yang dapat digunakan sebagai agen antibakteri. 7 Sampai saat ini belum banyak penelitian yang dilakukan terhadap potensi asap cair bambu tali, oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas penghambatan asap cair bambu tali (Gigantochloa apu. terhadap S. aureus dan S. Metodologi Penelitian ini bersifat ekperimental yang bertujuan untuk menguji kandungan senyawa aktif bambu tali terhadap Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus. Penelitian dilakukan Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana. Yogyakarta. Asap cair disiapkan di Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli. Sibaganding. Sumatera Utara. Kultur bakteri yang digunakan yaitu Staphylococcus epidermidis ATCC 1228 berasal dari Balai Labkes dan Kalibrasi Yogyakarta. Staphylococcus aureus FNCC 0047 merupakan koleksi Laboratorium Mikrobiologi Universitas Kristen Duta Wacana. Yogyakarta. Pembuatan Asap Cair Bambu Tali Sampel bambu tali diambil dari kawasan BP2LHK Aek Nauli. Bambu yang dipilih merupakan bambu segar dan sehat. Bambu dibersihkan dari daun yang menempel, selanjutnya dibelah dan dipotong sekitar 30 cm. Bambu tali yang sudah dibersihkan dan dipotong, ditimbang sebanyak 50 kg, kemudian dimasukkan dan disusun ke dalam alat pirolisis. Setelah bambu dimasukkan ke dalam alat pirolisis, bambu tali dibakar selama 5-8 jam. Asap cair yang dihasilkan dialirkan ke pipa penampungan. Dilakukan penyaringan terhadap asap cair bambu tali yang dihasilkan dari pipa penampungan tungku pirolisis. Ijuk, zeolite aktif, arang aktif dan kertas saring disusun di dalam suatu wadah. Kemudian asap cair dituang untuk penyaringan di dalam wadah Sampel asap cair bambu tali dianalisis menggunakan GC-MS (Shimadzu GC2010 plu. Uji Antibakteri Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode sumuran dengan teknik pour plate. bakteri dan media yang masih cair dicampur menjadi satu. Sebelum dilakukan uji, bakteri uji dibiakkan pada media Nutrien Broth selama 24 jam, kemudian Siregar D. Satwika D. Vinsa Cantya Prakasita. J Kdokt Meditek. : 177-185 disentrifugasi dengan kecepatan 600 rpm selama 15 menit. Tingkat kekeruhan bakteri disetarakan dengan larutan standart Mc Farland 0,5. Suspensi bakteri yang sudah disetarakan dengan Mc Farland 0,5 dicampurkan ke dalam media MHA (Muller Hinton Aga. yang masih cair dan dituang ke cawan petri. Setelah media memadat, dibuat sumuran pada agar dan diisi dengan asap cair dengan konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80% dan 100%, kontrol negatif . dan kontrol positif . dengan working solution sebanyak MIC dan MBC Nilai MIC (Minimum inhibitory concentratio. ditentukan menggunakan microplate 96 well dengan melihat ada tidaknya pertumbuhan bakteri pada konsentrasi asap cair 40%, 35%, 30%, 25%, 20%, 15%, 10%, 5%. Sebagai kontrol positif digunakan vancomycin dan akuades sebagai kontrol negatif. Microplate diinkubasi pada suhu 37AC selama 24 jam dan selanjutnya dilakukan pembacaan OD menggunakan microplate reader dengan panjang gelombang 570 nm. Nilai MBC (Minimum bactericidal concentratio. ditentukan dengan menggoreskan sampel hasil uji MIC pada medium NA dan diinkubasi pada suhu 37AC selama 24 jam. Dilakukan pengamatan pertumbuhan. konsentrasi terendah yang tidak menunjukkan pertumbuhan bakteri merupakan nilai MBC asap Hasil dan Pembahasan Kandungan Kimia Asap Cair Bambu Tali Asap cair merupakan hasil pembakaran langsung atau tidak langsung dari bahan yang mengandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Komposisi kimia asap cair sangat tergantung pada jenis dan kadar air bahan baku. Degradasi termal bahan baku menghasilkan campuran senyawa kompleks yang mewakili keseluruhan sifat organoleptik, antioksidan dan antimikroba dari asap cair. 7 Menurut Agustina & Elvia, . bahwa asap cair mengandung beberapa senyawa utama, yang terdiri dari fenol dan turunannya, senyawa karbonil . eton dan aldehid. , asam dan turunan asam organik, dan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH). Batang bambu tali digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan asap cair karena mengandung selulosa, hemiselulosa dan lignin. Dilakukan pembakaran bambu tali dalam tungku pirolisis selama 5-8 jam. Hasil dari destilasi menggunakan ijuk, arang aktif dan zeolite aktif yang berfungsi untuk mengabsorbsi senyawa yang berbahaya di dalam asap cair, antara lain senyawa Asap cair dianalisis dengan menggunakan GCMS. Berikut hasil analisis senyawa asap cair bambu tali dengan GC-MS (Gambar . Gambar 1. Grafik kromatografi asap cair bambu tali Hasil kromatografi asap cair bambu tali yang disajikan pada Gambar 1 menunjukkan senyawa yang terkandung dalam asap cair bambu tali, dan dapat diidentifikasi senyawa-senyawa utama asap cair bambu tali yaitu senyawa asam lemak, fenol dan furan (Tabel . Siregar D. Satwika D. Vinsa Cantya Prakasita. J Kdokt Meditek. : 177-185 Tabel 1 Kandungan senyawa utama asap cair bambu tali Nama senyawa Rumus senyawa Total area (%) C5H4O2 C6H6O C7H8O2 C17H34O2 C16H32O2 C19H36O2 2- Furankarbosilat (CAS) Fenol Fenol, 4-metoksi Ae (CAS) Asam heksadekanoat, metil ester N Ae asam heksadekanoat 9-asam oktadekanoat, metil ester (CAS) Asam oktadekanoat, metil ester C19H38O2 Berdasarkan Tabel 1 diperoleh informasi bahwa asap cair bambu tali memiliki beberapa senyawa utama, yaitu asam organik . etil ester asam oktadekanoat dengan persen area sebesar 13,90%, metil ester asam heksadekanoat dengan luas area 15,09%, n-asam heksadekanoat sebesar 8,13%, metil ester 9-asam oktadekanoat, dengan persen area sebesar 7,89%) dan fenol . ampuran fenol sebesar 14,76% dan 4-metoksi fenol dengan persen area sebesar 11,94%). Kandungan senyawa kimia asap cair bambu tali relatif mirip dibanding asap cair dari bahan lain, tetapi jika dilihat konsentrasi senyawa-senyawa tersebut, bambu tali Perbandingan senyawa kimia asap cair bambu tali dan bahan lain disajikan pada Tabel 2 berikut: Tabel 2 Kandungan senyawa asap cair dari berbagai bahan baku yang berbeda No. Bahan baku asap cair Bambu tali . Bambu hitam Bambu tutul 9 Bambu betung 9 Kayu jati 10 Asam organic (%) Fenol (%) Furan (%) Pustaka 1,30 Penelitian ini 53,37 1,24 1,09 6,53 2,74 31,37 0,56 2,53 3,31 Berdasar data tersebut dapat dilihat bahwa senyawa yang terkandung pada asap cair berbedabeda tergantung jenis dan karakteristik bahan baku . yang digunakan karena perbedaan kandungan lignin, selulosa dan hemiselulosa yang dimiliki setiap bahan baku. Perbedaan jenis bahan yang digunakan juga mempengaruhi jenis senyawa yang dihasilkan sehingga kandungan fenol, asam organik dan karbonil yang terkandung juga 11 Asap cair bambu tali memiliki keunggulan dibandingkan dengan asap cair jenis lain karena memiliki kandungan asam lemak dan fenol yang tinggi dibandingkan asap cair dari bahan lain. (Komarayati et al, 2. (Suryani et al, 2. Aktivitas Antibakteri Uji menggunakan metode difusi dan dilusi. Metode difusi digunakan untuk mengetahui sensitivitas S. aureus dan S. epidermidis terhadap asap cair bambu tali. Metode difusi sumuran dilakukan dengan menggunakan metode pour plate. Hasil uji disajikan pada Gambar 2 yang menunjukkan aktivitas anti bakteri asap cair bambu tali yang dapat menghambat S. aureus dan S. Penghambatan pertumbuhan Staphylococcus yang disebabkan oleh asap cair bambu tali semakin meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi dari 20% hingga 100%. Siregar D. Satwika D. Vinsa Cantya Prakasita. J Kdokt Meditek. : 177-185 Asap cair bambu tali Diameter zona penghambatan . Konsentrasi (%) Gambar 2. Kurva diameter zona hambat pada S. aureus dan S. Semakin tinggi konsentrasi asap cair maka semakin tinggi penghambatan yang terbentuk. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Ramadhan et al berbanding lurus dengan konsentrasi yaitu semakin penghambatan semakin tinggi. Hasil pengukuran diameter zona hambat yang terbentuk pada kultur S. aureus dan S. oleh asap cair bambu tali disajikan pada Tabel 3 yang menunjukkan peningkatan zona seiring dengan peningkatan konsentrasi. Menurut Nazri et al . bahwa zona terang yang terbentuk dengan diameter 0-9 mm dikategorikan sebagai daya hambat lemah, zona sebesar 10-14 mm dikategorikan memiliki daya hambat sedang, sedangkan diameter penghambatan 15-20 mm dikategorikan kuat dan Ou 20 mm masuk dalam kategori daya hambat sangat kuat. Tabel 3. Diameter zona hambat antibakteri . Isolat Staphylococcus Staphylococcus Konsentrasi (%) Diameter . A SD Kriteria14 Vancomycin . Vancomycin . 0 A 0. 6 A 5. 3 A 1. 0 A 0. 0 A 1. 0 A 1. 3 A 0. Lemah Lemah Sedang Kuat Kuat Kuat Sedang 0 A 0. 0 A 0. 0 A 0. 0 A 0. 0 A 0. 0 A 0. 3 A 0. Lemah Lemah Sedang Sedang Kuat Kuat Sedang Siregar D. Satwika D. Vinsa Cantya Prakasita. J Kdokt Meditek. : 177-185 Vancomycin digunakan sebagai kontrol positif sebagai pembanding efektivitas asap cair bambu tali terhadap Staphylococcus. Vancomycin merupakan antibiotik spektrum sempit yang dapat menghambat bakteri gram positif. Staphylococcus. 14 Pada tabel 2 diperoleh hasil bahwa penghambatan asap cair bambu tali terhadap Staphylococcus pada konsentrasi 600% memiliki kategori daya hambat kuat. Vancomycin terhadap Staphylococcus sedang. Daya hambat yang diberikan Vancomycin . 001%) dengan 3 mm setara dengan daya hambat asap cair bambu tali pada konsentrasi 40% yang memiliki kategori daya hambat sedang sehingga dapat disimpulkan bahwa asap cair bambu tali pada konsentrasi 60% -100% memiliki daya hambat yang lebih kuat terhadap Staphylococcus dibandingkan dengan vancomycin . 001%). Penghambatan yang terbentuk pada S. dan S. epidermidis oleh asap cair bambu tali memiliki perbedaan daya hambat. Meskipun penghambatan yang terbentuk pada S. aureus dan epidermidis tidak berbeda nyata, asap cair bambu tali menunjukkan efek yang berbeda terhadap setiap mikroorganisme, walaupun masih dalam satu genus yang sama dan spesies yang Hal ini dapat menjadi acuan bagi penelitian lanjutan mengenai pengaruh asap cair terhadap spesies yang berbeda. MIC (Minimum Inhibitory Concentratio. dan MBC (Minimum Bactericidal Concentratio. MIC (Minimum Inhibitory Concentratio. merupakan nilai yang digunakan untuk menentukan konsentrasi terendah yang masih MBC (Minimum Bactericidal Concentratio. merupakan nilai untuk menentukan konsentrasi terendah yang dapat membunuh 18 Untuk menentukan nilai MIC dan MBC asap cair bambu tali digunakan metode dilusi atau pengenceran menggunakan microplate 96 well. Rentang konsentrasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah antara 5% - 40% . %, 10%, 15%, 20%, 25%, 30%, 35% dan 40%). Setiap well berisi inokulum, media dan asap cair, selanjutnya diinkubasi pada suhu 37AC selama 24 jam. Pengukuran MIC dilakukan dengan mengukur absorbansi padapanjang gelombang 570 nm menggunakan Elisa-reader. Nilai MBC dapat ditentukan setelah diperoleh nilai MIC dengan cara menumbuhkan inokulum pada media agar. Konsentrasi terendah yang menunjukkan tidak adanya pertumbuhan bakteri merupakan nilai MBC asap cair bambu tali. Optical Density (OD) Asap cair bambu tali Konsentrasi (%) Kontrol kontrol positif negatif Gambar 3. Kurva OD uji MIC S. aureus dan S. Gambar 3 menunjukkan hasil pengukuran nilai absorbansi pertumbuhan S. aureus dan S. epidermidis pada konsentrasi asap cair 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, 30%, 35%, 40% dan kontrol positif . Berdasar data tersebut dapat dilihat tidak terjadi pertumbuhan bakteri pada setiap konsentrasi uji yang ditunjukkan dengan nilai OD yang mendekati 0 . Hal ini berbeda nyata dengan nilai OD pada perlakuan kontrol negatif . yang menunjukkan pertumbuhan yang relatif tinggi dibanding perlakuan lain. Hasil uji MIC asap cair bambu tali terhadap Siregar D. Satwika D. Vinsa Cantya Prakasita. J Kdokt Meditek. : 177-185 Staphylococcus menunjukkan nilai konsentrasi terendah yang dapat menghambat (MIC) S. dan S. epidermidis yaitu 5% ditandai dengan tidak adanya pertumbuhan Staphylococcus di dalam microplate 96 well. Gambar 4. Uji MBC asap cair. hasil uji MBC kontrol positif dan kontrol negatif terhadap S. uji MBC asap cair dan . hasil uji MBC kontrol positif dan kontrol negatif terhadap S. epidermidis yang menunjukkan hanya terjadi pertumbuhan pada perlakuan kontrol negatif MBC didefinisikan sebagai konsentrasi terendah . ,9%) inokulum terbunuh. apabila tidak terdapat pertumbuhan, maka nilai MBC dapat ditentukan. Data pada gambar 4 merupakan hasil pengujian MBC asap cair bambu tali terhadap S. aureus dan epidermidis pada konsentrasi 5%-40% dan vancomycin tidak terdapat pertumbuhan bakteri. Hal ini sejalan dengan hasil uji MIC dengan tidak konsentrasi 5%-40%, yang ditandai dengan rendahnya nilai OD yang dihasilkan atau nol . Berdasarkan hasil uji MBC diperoleh nilai terendah asap cair yang dapat membunuh S. dan S. epidermidis yaitu pada konsentrasi 5%. Berdasarkan hasil MIC dan MBC, asap cair bambu tali memiliki sifat antibakteri dan bakteriostatik. Aktivitas bakteriostatik yang terdapat pada asap cair bambu tali diduga karena senyawa asam lemak seperti asam heksadekanoat, asam oktadekanoat dan senyawa fenolik yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Menurut Kyaw et al . dalam Maligan et al . asam lemak mampu menghambat aktivitas bakteri dengan cara melakukan pengasaman pada sitoplasma yang kemudian menyebakan lisisnya sel. 17 Senyawa fenol pada asap cair memiliki gugus hidroksil atau cincin fenolik yang mampu berikatan dengan membran bakteri. Fenol mengikat rantai transpor elektron sehingga kemampuan transpor elektron untuk mentransfer elektron terganggu yang menyebabkan kekurangan produksi ATP dan Staphylococcus kehilangan sumber energi. Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, diperoleh hasil MIC dan MBC asap cair bambu tali terhadap terhadap S. aureus dan S. epidermidis yaitu pada konsentrasi 5%. Asap cair bambu tali pada konsentrasi 5% dapat menghambat sekaligus membunuh S. aureus dan S. Pada penelitian yang telah dilakukan oleh Adhiasari et al . aktivitas antibakteri asap cair yang berasal dari tempurung kelapa memiliki nilai MIC pada konsentrasi 25% dan nilai MBC pada konsentrasi 50% terhadap S. sedangkan penelitian yang dilakukan Darojah et al . melaporkan nilai MIC dan MBC asap cair pada konsentrasi 50% terhadap S. Perbedaan nilai penghambatan yang dihasilkan oleh asap cair bambu tali dan asap cair tempurung kelapa terhadap S. aureus dan S. diduga karena kadar fenol dan asam organik yang dihasilkan asap cair bambu tali lebih tinggi dibandingkan asap cair tempurung kelapa. Fenol dan asam organik merupakan salah satu senyawa Siregar D. Satwika D. Vinsa Cantya Prakasita. J Kdokt Meditek. : 177-185 utama asap cair dalam menghambat pertumbuhan Diduga efektivitas asap cair bambu tali lebih tinggi dibandingkan dengan efektivitas asap cair tempurung kelapa terhadap S. aureus dan S. Hasil ini perlu dilakukan lagi kajian mengenai potensi asap cair bambu tali secara in vitro terhadap jenis bakteri yang berbeda. Nilai MIC dan MBC yang diperoleh dalam penelitian ini sebesar 5%, dan diduga asap cair bambu tali masih dapat menghambat pada konsentrasi kurang dari Mengingat potensinya yang besar, perlu dilakukan uji lanjutan secara in vivo dan uji organoleptik sehingga asap cair dapat dijadikan suatu produk antibakterial alami yang bersifat efektif, efisien serta aman bagi manusia dan ramah Simpulan Berdasar hasil penelitian diketahui beberapa senyawa kimia utama pada asap cair bambu tali (Gigantochloa apu. yaitu asam oktadekanoat, asam heksadekanoat, fenol dan furan karboksilat. Diduga senyawa-senyawa tersebut berperan terhadap aktivitas antibakteri yang mampu menghambat dan membunuh S. aureus dan S. epidermidis pada konsentrasi 5%, relatif lebih efektif dari penelitian sejenis menggunakan jenis bambu lain. Daftar Pustaka