Chemical Engineering Journal Storage 3:1 (April 2. PEMODELAN APLIKASI KONTROL PID-LEVEL CONTROL PADA DEAERATOR 61-101-U PADA PT. PUPUK ISKANDAR MUDA DENGAN MENGGUNAKAN METODE RESPON SURFACE METHODOLOGY M Ali Anto. Rozanna Dewi*. Fahirul Muhar,Azhari,Novi Sylvia. Faisal. Jurusan Teknik Kimia. Fakultas Teknik. Universitas Malikussaleh Kampus Utama Cot Teungku Nie Reuleut. Muara Batu. Aceh Utara Ae 24355 *E-mail: rozanna. dewi@unimal. Abstrak Deaerator berfungsi untuk menghilangkan gas-gas yang terkandung dalam air umpan yang akan dialirkan di dalam boiler. Gas-gas tersebut berupa gas O2 dan CO2 yang dapat menyebabkan korosi pada boiler apabila tidak Pada proses deaerator, level merupakan variabel yang penting untuk dikendalikan agar dapat menjaga kestabilan proses sesuai dengan set point yang dikehendaki. Jika level air terlalu tinggi akan menyebabkan pemisahan oksigen kurang sempurna, hal ini membuat air masih banyak mengandung oksigen yang dapat menyebabkan korosi bagi boiler. Jika level air terlalu rendah dapat merusak komponen lain seperti pompa dan menghambat proses suplai air ke boiler. Oleh karena itu diperlukan pengendalian level menggunakan metode tuning PID Response Surface Methodolog. Deaerator untuk meminimalkan kerusakan pada perusahaan dengan cara memodelkan terlebih dahulu, kemudian melakukan uji optimasi dan uji set point. Untuk mendapatkan parameter tuning PID dilakukan uji central composite design (CCD) yang nantinya akan mendapatkan nilai Kc. EI. ED dari masingmasing controller. Dari nilai parameter tuning akan dilakukan uji Set point dan Adapun dari analisa Optimasi yang telah dicoba terlihat perbandingan antara uji sebelum perubahan Set point (SP) dan setelah perubahan Setpoint (SP), atau naik turun (A) nya Set point. bahwa Respon time . terdapat pada uji penurunan set point -10%. Dengan kondisi awal 68% menjadi 58% dan nilai Optimasi = 1,0659 menit. Dan nilai max Overshoot . yang paling terendah terdapat pada uji set point -5% sebesar 3,1746 Kata kunci: Deaerator. Tuning Respon Surface Methodology. Level. Setpoint. DOI: https://doi. org/10. 29103/cejs. Pendahuluan Steam merupakan salah satu hasil pengolahan unit utilitas yang sangat berpengaruh pada setiap industri, steam biasanya digunakan untuk proses pada M Ali Anto / Chemical Engineering Journal Storage 3 :1 (April 2. 22Ae41 pabrik maupun digunakan pada unit power plant. Pengoperasian peralatan yang digunakan pada banyak industri menggunakan listrik yang dihasilkan oleh steam turbin yang ada di pabrik tersebut. Steam yang digunakan untuk menggerakkan sudu-sudu turbin merupakan steam yang dihasilkan oleh boiler, sehingga boiler sangat berpengaruh terhadap listrik yang dihasilkan oleh turbin, karena jika steam yang dihasilkan oleh boiler mengalami fluktuasi akan mengakibatkan ketidakstabilan besarnya listrik yang dihasilkan oleh turbin dan mengakibatkan tidak maksimalnya pengoperasian alat yang ada pada industri tersebut, sehingga perlu adanya alat kontrol yang dapat menjaga agar steam yang dihasilkan oleh boiler memiliki suhu yang konstan untuk setiap produksi steam. Pada penelitian ini kontroler yang akan digunakan adalah kontrol PID (Proportional Integral Derivativ. , sampai saat ini kontrol PID (Proporsional Integral Derivativ. merupakan satu-satunya strategi yang paling banyak diadopsi pada pengontrolan variabel proses di industri. Kepopuleran PID sebagai komponen kontrol proses dilatar belakangi terutama karena struktur yang sederhana tetapi aplikasinya luas. Masalah utama dalam perancangan kontrol PID adalah tuningnya . enentuan nilai Kc. Ti. Deaerator berfungsi untuk menghilangkan gas-gas yang terkandung dalam air umpan yang akan dialirkan di dalam boiler. Gas-gas tersebut berupa gas O2 dan CO2 yang dapat menyebabkan korosi pada boiler apabila tidak dihilangkan. Pada proses deaerator, level merupakan variabel yang penting untuk dikendalikan agar dapat menjaga kestabilan proses sesuai dengan set point yang dikehendaki. Jika level air terlalu tinggi akan menyebabkan pemisahan oksigen kurang sempurna, hal ini membuat air masih banyak mengandung oksigen yang dapat menyebabkan korosi bagi boiler. Jika level air terlalu rendah dapat merusak komponen lain seperti pompa dan menghambat proses suplai air ke boiler. Deaerator memiliki dua proses yaitu Fisika dan Kimia. Pada proses Fisika steam stripping seperti hidrokarbon dan senyawa organik yang mudah menguap, biasa nya melewati aliran uap. Sedang pada kimia yaitu dengan dehydration. Oksigen dan gas- gas terlarut lainnya dihilangkan didalam deaerator sebelum air masuk kedalam pipa boiler. Oksigen M Ali Anto / Chemical Engineering Journal Storage 3 :1 (April 2. 22Ae41 dihilangkan dengan cara memberikan uap panas pada air yang masuk kedalam Deaerator terdiri dari dua drum, drum yang lebih kecil merupakan tempat pemanasan pendahuluan dan pembuangan gasgas dari air umpan, sedangkan drum yang lebih besar merupakan tempat penampungan air umpan sebelum masuk kedalam boiler. Spray nozzle yang berfungsi untuk menyemprotkan air umpan menjadi butiran-butiran air halus terdapat pada bagian drum kecil, hal ini dibuat agar proses pemanasan dan pembuangan gas-gas lebih sempurna. Saluran vent terdapat pada drum kecil agar gas-gas yang tidak terkondensi bisa dibuang ke Bahan dan Metode Bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan dalam menjalankan penelitian ini antara lain adalah Data actual Deaerator 61-101-U pada PT pupuk Iskandar Muda. Jenis Deaerator,Diameter 1,75. Height 13 meter dan Temperatur 131 oC. Laptop Lenovo Ideapad 110 Core i3. Software Aspen Hysys v8. Sofware Microsoft Office. Respon Surface Methodology. Model steady state Deaerator dibuat sesuai dengan data yang diperoleh di PT. Pupuk Iskandar Muda. Setelah model steady state diperoleh maka model tersebut diubah menjadi model dynamic dengan cara ditambahkan PC (Level contro. valve pada bagian yang ingin dikontrol. Kemudian pasang control yang diinginkan dalam plant tersebut didalam aspen hysys. Setelah terinput, isi parameter tuning dari Response Surface Methodology (RSM) yang sudah dibuat. Kemudian jalankan simulasi control dihysys dengan nilai parameter yang dihasilkan oleh response surface methodology (RSM). Berikut Gambar 2. 1 yaitu platform penelitian yang sudah dipasang control dan siap diuji. M Ali Anto / Chemical Engineering Journal Storage 3 :1 (April 2. 22Ae41 Gambar 2. 1 Steady State Deaerator 16-10-U Tahap pertama pembuatan model steady state dari deaerator dengan Hysys, masukkan semua komposisi kimia yang diperlukan, susun peralatan sesuai P&ID yang diperoleh dari PT. Pupuk Iskandar Muda pada Ammonia Plant. Selanjutnya persiapan untuk masuk ke mode dynamic Hysys. Langkah ini dengan memasukkan informasi spesifikasi alat, memasang level control, memanfaatkan fasilitas Dynamic Assistant dari Aspen Hysys untuk memastikan. Pengujian perlu dilakukan, apakah kontrol bekerja dengan baik. Ini dilakukan dengan cara mengubah harga setpoint sesuai data PT. Pupuk Iskandar Muda, jalankan sistem, amati apakah Present Value mengikuti harga setpoint. Jika Present Value sudah mengikuti harga set point, maka platform penelitian sudah siap untuk digunakan untuk penelitian. Jika belum, maka harga Kc. Ti dan Td perlu diubah hingga kontrol bekerja dengan baik, kemudian jalankan sistem hingga diperoleh waktu yang diperlukan proses variabel unuk mencapai set point. M Ali Anto / Chemical Engineering Journal Storage 3 :1 (April 2. 22Ae41 Gambar 2. 2 Blok Diagram Prosedur Kerja Penelitian M Ali Anto / Chemical Engineering Journal Storage 3 :1 (April 2. 22Ae41 Gambar 2. 3 Blok Diagram Rancangan Percobaan M Ali Anto / Chemical Engineering Journal Storage 3 :1 (April 2. 22Ae41 Hasil dan Diskusi Dalam Bab ini untuk mendapatkan Optimasi nilai respon time . terbaik maka akan dilakukan proses Uji Optimasi respon time . Tuning Respon Surface Methodeology dan Close loop. dengan LIC-100 pada Deaeartor 16-101-U, dengan Respon Surface Methodeology. Dalam bab ini akan di bahas mengenai Optimasi Respon Time . dengan parameter tuning Kc. Ti dan Td dengan metode Respon Surface Methodeology (RSM). Berdasarkan pemodelan plant menggunakan software Aspen Hysys maka didapatkan Variable yang akan di uji dengan LIC-100. pada uji ini akan didapatkan grafik antara Operating point (OP). Set Point (SP) dan Proses Variabel (PV). Berikut ini analisa data dan pembahasan dari masing-masing variable Uji Optimasi LIC-100 Pada Deaerator 61-101-U Uji pada LIC-100 ini adalah dengan membuat record antara LIC-100 SP dengan LIC-100 OP. Dengan awal nilai OP sebesar 25% dan naik sebesar 62,83 %. Dengan nilai SP 68 %. Sedangkan nilai range minimum LIC-100 0% - dan nilai range maksimum 100%. Nilai tersebut didapatkan berdasarkan Gambar 3. 1 dan Setelah mendapatkan nilai hasil dari trial Respon Surface Methodeology respon time . tercepat pada Tabel 3. Tabel 3. 1 Parameter LIC-100 Tuning Parameter LIC-100 PID Overshoot(M. 4,4117 % (Deti. 433,968 (Meni. 7,2328 Dari nilai parameter yang didapatkan pada Respon Surface Methodeology (RSM) maka dilanjutkan dengan melakukan analisa uji LIC-100 sesuai Tabel 4. yang menyatakan parameter LIC-100 pada Dearator 16-101-U. M Ali Anto / Chemical Engineering Journal Storage 3 :1 (April 2. 22Ae41 Gambar 3. 1 Grafik uji LIC-100 Dari Gambar 4. 1 pada Uji LIC-100 terlihat bahwa sebelum nilai PV menyesuaikan SP, terjadi Overshoot yang tidak begitu tinggi. Gambar 3. 2 uji LIC-100-SP. %) Dapat dilihat dari Gambar 4. 2 bahwa nilai Optimasi LIC-100-SP . %) dengan respon time . = 7,2328 menit, dengan nilai Kc 2 Ti 1,5 dan Td 0,5 pada Run ke-2. Uji Optimasi LIC-100 Pada Deaerator 61-101-U Uji pada LIC-100 ini adalah dengan membuat record antara LIC-100 PV 67,97% dengan LIC-100 OP. Dengan awal nilai OP sebesar 25% dan naik sebesar M Ali Anto / Chemical Engineering Journal Storage 3 :1 (April 2. 22Ae41 63,07 %. Dengan nilai SP 68 %. Sedangkan nilai PV range minimum LIC-100 0% - Sedangkan nilai range maksimum 100%. Nilai tersebut didapatkan berdasarkan Gambar 3. 3 dan 3. Setelah membuat grafik gambar respon time . tercepat pada Gambar 3. maka selanjutnya akan dibuat respon time . terlama pada Tabel 3. 3 dan 3. Tabel 3. 2 Parameter LIC-100 Tuning Parameter LIC-100 PID 0,65 Overshoot(M. 13,2352 % (Deti. 845,874 (Meni. 14,0979 Dari nilai parameter yang didapatkan pada Respon Surface Methodeology (RSM) maka dilanjutkan dengan melakukan analisa uji LIC-100 sesuai Tabel 3. yang menyatakan parameter LIC-100 pada Dearator 16-101-U. Gambar 3. 3 Grafik uji LIC-100 Dari Gambar 3. 3 pada Uji LIC-100 terlihat bahwa sebelum nilai PV menyesuaikan SP, terjadi Overshoot lebih tinggi dari sebelumnya. M Ali Anto / Chemical Engineering Journal Storage 3 :1 (April 2. 22Ae41 Gambar 3. 4 uji LIC-100-SP . %) Dapat dilihat dari Gambar 3. 4 bahwa nilai Optimasi LIC-100-SP . %) dengan respon time . = 14,0979 menit, dengan nilai Kc 0,65 Ti 2 dan Td 1 pada Run ke-17. Bahwa respon time . tersebut merupakan yang paling lama dari 1-20 Run. Perbandingan antara Gambar 3. 2 maka pada Gambar 3. 4 telah terjadi Overshoot yang naik signifikan. Uji Close loop pada Dearator 61-101-U Dalam Uji Close loop akan dilakukan uji kenaikan dan penuruan set point Level Sebesar : A 5 % dan A 10 %. Dari uji set point tersebut akan didapatkan perbanding antara Set point tetap sebesar 68 % dan set point naik turun sebesar 5% dan 10%. Uji Set point Level - 5% Setelah melakukan uji penambahan set point 5% dan 10% maka selanjutnya adalah uji penurunan set point -5%. Kondisi awal dari Level pada plant adalah 68% kemudian diturunkan sebesar 5% menjadi 63 %. Maka dapat dilhat pada Gambar 5 dan 3. 6 merupakan gambar uji set point -5% didapatkan nilai range minimum 0% dan range maksimum 100%. M Ali Anto / Chemical Engineering Journal Storage 3 :1 (April 2. 22Ae41 Gambar 3. 5 Grafik set point -5% Dari Gambar 3. 5 pada Uji set point -5% terlihat bahwa sebelum nilai PV menyesuaikan SP, dari uji pengurangan set point -5% terjadi max Overshoot . sebesar 3,1746 %. Gambar 3. 6 uji set point -5% Dapat dilihat dari Gambar 3. 6 bahwa nilai Optimasi Uji set point -5% dengan respon time . = 3,7308 menit, dengan nilai awal set point 68% menjadi 63% dan parameter nilai Kc 2 Ti 1,5 dan Td 0,5. M Ali Anto / Chemical Engineering Journal Storage 3 :1 (April 2. 22Ae41 Uji Set point Level - 10% Setelah melakukan uji penurunan set point -5% maka selanjutnya adalah uji penurunan set point -10%. Kondisi awal dari Level pada plant adalah 68% kemudian diturunkan sebesar -10% menjadi 58 %. Maka dapat dilhat pada Gambar 7 dan 3. merupakan Gambar uji set point -10% didapatkan nilai range minimum 0% dan range maksimum 100%. Gambar 3. 7 Grafik set point -10% Dari Gambar 4. 11 pada Uji set point -10% terlihat bahwa sebelum nilai PV menyesuaikan SP, dari uji pengurangan set point -10% terjadi max Overshoot . sebesar 3,4482 %. Gambar 3. 8 uji set point -10% M Ali Anto / Chemical Engineering Journal Storage 3 :1 (April 2. 22Ae41 Dapat dilihat dari Gambar 3. 8 bahwa nilai Optimasi Uji set point -10% dengan respon time . = 1,0659 menit, dengan nilai awal set point 68% menjadi 58% dan parameter nilai Kc 2 Ti 1,5 dan Td 0,5. Respon Time . Tuning Parameters Kc. Ti, dan Td Berikut adalah hasil grafik respon time dari masing-masing Run 1-20 maka nilai Optimasi dapat dilihat pada Gambar 3. 9 dan Tabel 3. Gambar 3. 9 Grafik Optimasi Run 1-20 Dari Gambar 3. 9 didapat nilai respon time . pada run ke-2 sebesar 7,2328 menit dan nilai respon time . terlama ada pada run ke-17 sebesar 14,0979 menit. Lalu untuk melihat respon time run ke-1 hingga run ke-20 dapat dilihat juga pada Tabel 3. M Ali Anto / Chemical Engineering Journal Storage 3 :1 (April 2. 22Ae41 Tabel 3. 3 Hasil Penelitian RSM 1 Menggunakan Software Design Expert V. Run Variabel Bebas Variabel Terikat Bukaan Valve (%) SetPoint (%) Respon Time . 12,4020 7,2328 9,2277 10,1536 11,0895 10,4691 10,1536 10,1536 10,4691 8,3500 8,9632 11,2023 13,1079 10,2784 7,6222 13,9163 14,0979 10,1536 9,8742 10,1536 Setelah didapatkan nilai parameter dari tuning PID dengan metode Respon Surface Methodeology berupa nilai Kc. EI. ED dari masing-masing pengendali. dengan rancangan percobaan menggunakan central composite design (CCD) dan membuat nilai batas bawah dan nilai batas atas pada masing-masing Kc,Ti dan Td. Dengan nilai Kc 1-2, nilai Ti 1,5-2,5 dan Td 0,5-1,5. maka nilai trial Respon Surface Methodeology dapat ditentukan pada nilai Kc,Ti,dan Td untuk nilai tuning M Ali Anto / Chemical Engineering Journal Storage 3 :1 (April 2. 22Ae41 parameter LIC-100. Pada pemodelan plant untuk Respon Surface Methodeology tuning yang digunakan pada Level Control adalah tuning PID. dengan menggunkan metode Respon Surface Methodeology. nilai dari parameter tuning akan dipakai untuk uji sistem Optimasi Pada Dearator 16-101-U. dan Uji close loop Pada Deaerator 16-101-U. Lalu dilakukan Uji Optimasi pada Dearator 16-101-U. Dengan uji LIC-100 Setpoint SP . %). Output OP . %) dan nilai range minimum = 0% Sedangkan nilai range maksimum 100%. Dari hasil uji run ke-1 hingga run ke-20 maka didapat Optimasi respon time . terbaik dengan nilai Kc yang digunakan pada model plant Respon Surface Methodeology di level sebesar Sedangkan nilai Ti di level sebesar 1,5. Dan untuk nilai Td sebesar 0,5. Maka di dapat nilai respon time . sebesar 7,2328 menit, dengan nilai Kc=2. Ti= 1,5 dan Td=0,5 pada Run ke-2 yang paling Optimasi. Sedangkan respon time terlama sebesar 14,0979 menit,dengan nilai Kc=0,65 Ti=2 dan Td=1 pada Run ke-17. Setelah didapat nilai Respon time . uji optimasi pada deaerator 61-101-U maka selanjutnya dilakukan Uji Close loop dengan kenaikan dan penurunan setpoint A 5% dan A 10%. Maka uji Setpoint 5% pada Deaerator 61-101-U dengan menggunakan nilai Kc sebesar 2,Ti sebesar 1,5 dan Td sebesar 0,5. nilai Kc,Ti dan Td di ambil dari hasil Respon time . terbaik atau pada run k-2. Dengan nilai LIC100 setpoint awal 68% menjadi 73%. nilai range minimum 0% dan range maksimum 100%. maka didapat respon time . sebesar 6,7510 menit dan overshoot sebesar 5,4794 %. Setelah itu Setpoint 10% pada Deaerator 61-101-U dengan menggunakan nilai Kc sebesar 2,Ti sebesar 1,5 dan Td sebesar 0,5. nilai Kc,Ti dan Td di ambil dari hasil Respon time . terbaik atau pada run k-2. Dengan nilai LIC-100 setpoint awal 68% menjadi 78%. nilai range minimum 0% dan range maksimum maka didapat respon time . sebesar 6,5733 menit dan overshoot sebesar 5,1948 %. Setelah itu Setpoint -5% pada Deaerator 61-101-U dengan menggunakan nilai Kc sebesar 2,Ti sebesar 1,5 dan Td sebesar 0,5. nilai Kc,Ti dan Td di ambil dari hasil Respon time . terbaik atau pada run k-2. Dengan nilai LIC-100 setpoint M Ali Anto / Chemical Engineering Journal Storage 3 :1 (April 2. 22Ae41 awal 68% menjadi 63%. nilai range minimum 0% dan range maksimum maka didapat respon time . sebesar 3,7308 menit dan overshoot sebesar 3,1746 %. Setelah itu Setpoint -10% pada Deaerator 61-101-U dengan menggunakan nilai Kc sebesar 2,Ti sebesar 1,5 dan Td sebesar 0,5. nilai Kc,Ti dan Td di ambil dari hasil Respon time . terbaik atau pada run k-2. Dengan nilai LIC-100 setpoint awal 68% menjadi 58%. nilai range minimum 0% dan range maksimum maka didapat respon time . sebesar 1,0659 menit dan overshoot sebesar 3,4482 %. Untuk melihat perbandingan dari beberapa uji. Mulai dari uji optimasi pada deaerator 61-101-U hingga uji Close loop pada deaerator 61-101-U. Dari analisa Optimasi yang telah dicoba terlihat perbandingan antara uji sebelum perubahan Setpoint 68% dan setelah perubahan Setpoint atau naik turun (A) nya Set point. bahwa Optimasi respon time . terbaik terdapat pada uji penurunan set point -10%. Dengan kondisi awal 68% menjadi 58% dengan nilai sebesar = 1,0659 menit. Dan nilai max Overshoot . yang paling terendah terdapat pada uji set point 5% sebesar 3,1746 % . Tabel 3. 4 Data Analisa Varian (ANOVA) Waktu RSM Source Sum of Squares B-Ti C-Td Residual Model A-KC Mean F-value Square p-value Keterang 0001 significant M Ali Anto / Chemical Engineering Journal Storage 3 :1 (April 2. 22Ae41 Lack of Fit 0075 significant Pure Error Cor Total Model dapat dinyatakan memiliki pengaruh yang signifikan jika model memiliki nilai probabilitas <0,05. Namun, jika nilai lebih besar dari 0,1 maka model yang ditunjukkan tidak signifikan. Pada Tabel 4. 5 diatas menyatakan bahwa hanya persamaan A memiliki nilai probabilitas <0,05 dan memiliki pengaruh signifikan yang berarti bahwa ada hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Tabel 3. 5 Menunjukan Nilai R2 Adjusted RA Predicted RA Adeq Precision Model dapat dikategorikan sebagai model yang sesuai bila model tersebut Std. Dev. Mean memiliki koefisien korelasi R2 > 0,75. Model yang secara statistik dikategorikan cukup baik bila R2 mendekati 1. Dan model dapat diterima bila model tersebut memiliki koefisien korelasi R2 > 0,50. Prediksi RA sebesar 0,9796 sesuai dengan RA yang Disesuaikan sebesar 0,9948. yaitu perbedaannya kurang dari 0,2. Adeq Precision mengukur rasio sinyal terhadap noise. Rasio yang lebih besar dari 4 diinginkan. Rasio Anda sebesar 72,357 menunjukkan sinyal yang memadai. Model ini dapat digunakan untuk menavigasi ruang desain. M Ali Anto / Chemical Engineering Journal Storage 3 :1 (April 2. 22Ae41 Gambar 3. 10 Model Grafik 3D Surface Untuk Variabel Time RSM 1 Gambar 3. 10 menunjukkan titik optimum time . dari interaksi Ti . dan Kc . Titik optimum dari interaksi tersebut di dapat pada Kc dan Ti maka time . yang diperoleh adalah menit dan titik minimum yang diperoleh Kc=1,5 dan Ti= 2 maka time . yang diperoleh adalah 10,7328 menit. Berdasarkan faktor karakteristik dari control PI, jika nilai Kc terlalu kecil pengontrol proportional hanya mampu melakukan koreksi kesalahan yang kecil sehingga akan menghasilkan respon control yang lambat. Jika nilai Kc terlalu besar, maka akan mengakibatkan respon sistem tersebut tidak stabil dan akan berosilasi. Namun apabila nilai Ti terlalu besar, menyebabkan output berosilasi, dan jika pemilihan Ti yang tidak tepat dapat menyebabkan respon tidak bekerja atau respon transien sehingga terjadi ketidakstabilan sistem. Nilai Td mempunyai suatu karakter untuk mendahului, sehingga Td dapat menghasilkan koreksi yang signifikan sebelum pembangkit kesalahan menjadi sangat besar. Sehingga kontroler Td dapat mengantisipasi pembangkit kesalahan, memberikan aksi yang bersifat korektif, dan cenderung meningkatkan stabilitas sistem. M Ali Anto / Chemical Engineering Journal Storage 3 :1 (April 2. 22Ae41 Simpulan dan Saran Setelah melakukan perancangan system pengendalian Level pada Dearator 16-101-U dengan menggunakan pengendalian PID di PT Pupuk Iskandar Muda II Serta melakukan uji Optimasi dan naik turun set point dari model plant yang telah di buat maka dapat disimpulkan bebebrapa hal antara lain : Telah dilakukan pemodelan Dearator 16-101-U dengan software Aspen HYSYS 8. 8 pada pengendalian Level. Diperolehnya nilai parameter tuning pada loop pengendalian LIC-100 melalui metode Respon Surface Methodeology yakni nilai Kc sebesar 2 Ti sebesar 1,5 dan Td sebesar 0,5 untuk tuning PID. Nilai dari uji set point berupa kenaikan dan penurunan set point level sebesar A 5 % dan A 10%. Nilai max overshoot yang paling terendah berdasarkan uji Optimasi LIC-100 dan uji kenaikan/penurunan set point sebagai berikut : berada pada uji set point -5% sebesar 3,1746 %. Nilai Optimasi Respon time . perbandingan berdasarkan uji LIC-100 dan kenaikan/penuruan set point. Sebagai berikut : pada uji LIC-100 sebesar 7,2328 menit. Dan untuk Optimasi Respon time . pada uji set point yaitu pada set point -10% sabesar 1,0659 menit. Perhatikan nilai tuning pada saat memodelkan suatu plant dengan software Aspen HYSYS karena ketika sensitifitas suatu plant bergantung pada jenis tuning yang digunakan dan nilai parameter tuning. M Ali Anto / Chemical Engineering Journal Storage 3 :1 (April 2. 22Ae41 Daftar Pustaka