ANALISIS KEGAGALAN PROSES PRODUKSI PLASTIK PADA MESIN CUTTING DI PT. PKF DENGAN PENDEKATAN FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS DAN DIAGRAM PARETO ANALISIS KEGAGALAN PROSES PRODUKSI PLASTIK PADA MESIN CUTTING DI PT. PKF DENGAN PENDEKATAN FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS DAN DIAGRAM PARETO Reynaldi Saputra, 2Deri Teguh Santoso Program Studi S1Teknik Mesin. Fakultas Teknik. Universitas Singaperbangsa Karawang 1710631150141@student. id, 2 deri. teguh@ft. INFO ARTIKEL Diterima : 02 Desember 2020 Direvisi : 18 Januari 2021 Disetujui : 20 Januari 2021 Kata Kunci : Plastik. Failure Modes and Effects Analysis. Mesin cutting sealing. Pengendalian ABSTRAK Kualitas produk dalam proses produksi seringkali tidak terlepas dari . ol caca. zero defect dimana produk yang dihasilkan dalam sebuah produksi tidak ada cacat sama sekali. Begitu juga pada PT. PKF salah satu perusahaan yang memproduksi plastik yang masih terdapat kegagalan terutama pada proses produksi di mesin cutting. Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah Failure Modes and Effects Analysis dan diagram pareto yaitu sebuah metode pengendalian kualitas yang digunakan untuk mengevaluasi kegagalan terjadi dalam sebuah desain, sistem, proses, atau pelayanan . Metode Failure Modes and Effects Analysis dan diagram pareto ini, yang mana melalui beberapa urutan diantaranya: penentuan jenis-jenis kegagalan/cacat dengan kumulatif mencapai 80%, kegagalan potensial dilakukan dengan cara pemberian penilaian atau skor masing-masing moda/modus kegagalan berdasarkan tingkat kejadian . , tingkat keparahan . , dan tingkat deteksi . Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengendalian kualitas pada PT. PKF belum maksimal, dengan rata-rata kegagalan produk 89% perbulan pada mesin cutting Jenis kegagalan yang sering terjadi adalah seal leleh sebesar 21%, sobek sebesar 20%, sambungan sebesar 17% , melipat sebesar 17% dan anjlok sebesar 14% dari total produk gagal/cacat pada periode yang diamati. Dari hasil observasi lapangan dan wawancara, faktorfaktor penyebab kegagalan/cacat ini adalah faktor manusia dan mesin. PENDAHULUAN Kemajuan dunia industri yang semakin berkembang, mengakibatkan beragamnya hasil produk yang dihasilkan. Pentingnya kualitas sebuah produk yang baik sesuai dengan standarisasi atau keinginan konsumen dibutuhkan pengendalian kualitas yang tepat dalam sebuah produksi untuk meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan. PT. PKF adalah salah satu perusahan yang bergerak dibidang pembuatan kantong plastik dengan bahan baku LDPE (Low Density Polyethylen. dan HDPE (High Density Polyethylen. , yang di produksi dengan mesin blow molding dan mesin cutting. Plastik HDPE (High Density Polyethylen. merupakan polyethylene dengan jumlah rantai cabang yang lebih sedikit dibandingkan dengan plastik LDPE. Rantai cabang yang lebih sedikit ini membuat plastik HDPE memiliki sifat material yang lebih kuat, keras, buram, dan lebih tahan terhadap temperatur tinggi. Plastik LDPE memiliki ciri material yang kuat, agak tembus cahaya, fleksibel/elastis, permukaan yang agar berlemak dan kerapatannya . lebih kecil dibandingkan dengan plastik HDPE . Mesin cutting merupakan salah satu mesin yang digunakan untuk produksi plastik, dimana mesin cutting ini bekerja untuk memotong dan merekatkan plastik. PT. PKF dengan didukung oleh teknologi dan sumber daya manusia, mengadakan berbagai terobosan unutk mencapai kualitas yang memberi kepuasan pada pelanggan, kualitas produk, dan kedekatan dengan pasar adalah bagian terbesar perusahaan tersebut. PT. PKF menetapkan sebuah kebijakan mutu untuk menghasilkan plastik AuBAGUSAy yakni plastik yang: Bening. Alot. Gulungan rapih, dan Seal kuat. Meski sistem produksi dan sistem manajemen mutu yang diterapkan PT. PKF telah dilaksanakan dengan baik, namun pada kenyataan dilapangan masih dapat ditemukan ISSN: 1979-889X . ISSN: 2549-9041 . http://w. terjadinya kegagalan/cacat produk yang tidak dapat terhindarkan dimana mutu produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan standarisasi kualitas yang diharapkan oleh perusahaan, yaitu zero defect dimana produk yang dihasilkan tidak ditemukan cacat sama sekali. Menurut Prawirosentono . , kualitas dalam suatu produk adalah dimana AuKeadaan fisik, fungsi dan sifat suatu produk yang dapat memenuhi kriteria dan kebutuhan konsumen sehingga berbanding lurus sesuai dengan nilai uang yang telah dikeluarkanAy . Namun, sering kali didalam setiap produksi, selalu ditemui kasus kegagalan/kecacatan produk yang dihasilkan. Kegagalan/kecacatan suatu produk yang terjadi dapat disebabkan oleh human error atau kesalahan pada mesin yang digunakan untuk produksi yang tidak dapat Penerapan analisis salah satu tool yang digunakan untuk membantu pengendalian kualitas dalam suatu produksi adalah menggunakan metode Failure Modes and Effects Analysis (FMEA) dan diagram pareto. FMEA merupakan salah satu pendekatan pengendalian kualitas yang digunakan untuk mengevaluasi kegagalan yang terjadi dalam sebuah sistem, desain, proses, atau pelayanan . , kegagalan potensial dilakukan dengan cara pemberian penilaian atau skor masing-masing moda/modus kegagalan berdasarkan frekuensi tingkat kejadian . , tingkat keparahan . , tingkat deteksi . dan perhitungan nilai Risk Priority Number (RPN) yang nantinya digunakan untuk menentukan prioritas kegagalan yang akan dilakukan perbaikan atau penanganan lebih lanjut . Diagram pareto merupakan diagram yang digunakan untuk menentukan suatu prioritas kategori kejadian, sehingga dapat diketahui nilai yang paling dominan dilakukan dengan melihat nilai kumulatifnya . Prinsip pareto yang menyatakan dengan Barometer. Volume 6 No. Januari 2021. Halaman 322-327 sebuah aturan 80/20 yang dapat diartikan bahwa 80% masalah kualitas dalam sebuah produk disebabkan oleh 20% penyebab kegagalan dari suatu produksi, sehingga dipilih jenis-jenis kegagalan/cacat dengan kumulatif mencapai 80% dengan asumsi bahwa dengan 80% tersebut dapat mewakili seluruh jenis cacat yang terjadi . Menurut penelitian yang dilakukan Rifka Findiani, dkk menyatakan bahwa penggunaan metode Failure Modes and Effects Analysis (FMEA) ini dapat meminimalisir/ mengurangi produk-produk yang gagal dalam sebuah proses produksi . Penggunaan diagram pareto dapat memudahkan dalam mengurutkan sebuah masalah, berdasarkan urutan tertinggi sampai terendah nya suatu masalah yang terjadi . Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi serta meminimalisir produk cacat di PT. PKF pada mesin cutting adalah dengan mengunakan metode Failure Modes and Effects Analysis (FMEA). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis-jenis dan faktor-faktor apa saja penyebab terjadinya kegagalan/cacat pada mesin cutting. II. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang dilakukan di PT. PKF ini, prosedur penelitian dilakukan sebagai berikut: Pengambilan Data Pengambilan data pada penelitian ini yaitu berdasarkan data primer dan data sekunder, yaitu sebagai Data primer Data yang diperoleh dari informasi hasil pengamatan di lapangan, seperti jenis kegagalan/cacat pada produk, dan frekuensi keseringan terjadi kegagalan/cacat. Data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil penelitian dilapangan dengan kepala bagian PPIC, leader dan beberapa karyawan perusahaan yang bersangkutan untuk kemudian diolah kembali menjadi data yang dapat dipergunakan dan dapat Tabel I merupakan data tabulasi yang diambil dengan wawancara lapangan dan data sekunder yang tersedia. Pada tabel I terdapat beberapa jenis cacat dan jumlah keseringan dari tanggal 01-29 Juli 2020. TABEL I JENIS CACAT DAN JUMLAH KESERINGAN DARI TANGGAL 01-29 JULI 2020 Jenis BS/Cacat Jumlah BS. Tgl. Plastik cacat Kumullatif 01-29 Juli 2020 . persentase (%) (Keseringan/kal. Leleh Sobek Sambungan Melipat Anjlok Grepes Keriput Setting Sensor Lubang Angin ISSN: 1979-889X . ISSN: 2549-9041 . http://w. Data sekunder Data yang diperoleh dari informasi dokumentasi atau data perusahaan, seperti jumlah cacat dalam satu bulan, jenis material atau bahan produksi, dan lain sebagainya. Berdasarkan data yang didapatkan dari data PPIC di PT. PKF, bahwa masih tingginya presentase plastik cacat/ kegagalan yang terjadi di PT. PKF pada mesin cutting. Tabel II merupakan data kegagalan/cacat yang telah dilakukan pendataan dari tanggal 01-29 Juli 2020. TABEL II DATA KEGAGALAN/CACAT DARI TANGGAL 01-29 JULI 2020 Tanggal Plastik hasil cutting Plastik cacat Persentase . (%) 01-04 Juli 2020 23,140. 06-10 Juli 2020 31,778. 13-17 Juli 2020 29,860. 20-24 Juli 2020 27,775. 27-29 Juli 2020 19,000. Pengolahan Data Pada pengolahan data dalam penelitian ini terdapat 2 metode, yaitu: Analisis kegagalan/cacat menggunakan diagram Menentukan permasalahan serta data yang akan Mengurutkan dan menentukan frekuensi terjadinya dengan membuat daftar permasalahan. Menghitung presentase dari frekuensi yang di tentukan dengan cara menghitung frekuensi kumulatif, dan presentase kumulatif. Membuat diagram dan akan diketahui frekuensi yang paling tinggi dalam sebuah permasalahan untuk melakukan analisis selanjutnya. Analisis kegagalan/cacat menggunakan metode Failure Modes and Effects Analysis (FMEA): Identifikasikan kecenderungan kegagalan /cacat pada sistem produksi. Deskripsikan hubungan antara penyebab, efek kegagalan/cacat pada sistem produksi. Menganalisis masing-masing kecenderungan, berdasarkan ketiga faktor Penilaian terhadap keseriusan dalam terjadinya kegagalan . dari efek yang ditimbulkan, pada Tabel i menunjukan nilai rating keseriusan. Skala TABEL i PENILAIAN RATING KESERIUSAN (SEVERTY) Effect of Severity Criteria Severity Failure to meet safety and/or regulatory requirements Kegagalan dapat mempengaruhi hasil proses produksi tanpa adanya peringatan terlebih dahulu ANALISIS KEGAGALAN PROSES PRODUKSI PLASTIK PADA MESIN CUTTING DI PT. PKF DENGAN PENDEKATAN FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS DAN DIAGRAM PARETO Loss or degradation of primary Loss or degradation of secondary function Annoyance No effect Kegagalan dapat mempengaruhi hasil proses produksi dengan adanya peringatan terlebih dahulu Almost impossible Kegagalan tidak mungkin tedeteksi melalui pengecekan. Very remote Pengecekan gagal sehingga tidak mampu mendeteksi kegagalan. Kegagalan memberikan efek terhadap hilangnya fungsi utama produk Remote Pengecekan berpeluang sangat kecil bisa mendeteksi kegagalan. Very low Pengecekan berpeluang kecil bisa mendeteksi kegagalan. Low Pengecekan kemungkinan bisa mendeteksi kegagalan Medium Pengecekan berpeluang besar bisa mendeteksi kegagalan Kegagalan memberikan efek terhadap hilangnya fungsi sampingan produk Moderate high Pengecekan berpeluang sangat besar bisa mendeteksi kegagalan High Pengecekan bisa mendeteksi Kegagalan memberikan efek terhadap penurunan fungsi sampingan produk Very high Pengecekan hampir selalu bisa mendeteksi kegagalan Almost certain Pengecekan selalu bisa mendeteksi kegagalan Kegagalan memberikan efek terhadap penurunan fungsi utama produk Kegagalan mempengaruhi kerja sistem produksi dimesin cutting Kegagalan memberikan efek minor pada sistem produksi dimesin cutting Kegagalan memberikan efek yang dapat diabaikan Kegagalan tidak memberikan Menentukan prioritas kegagalan (Risk Priority Numbe. dari tingkat keparahan, tingkat kejadian dan tingkat deteksi. Nilai RPN dapat ditunjukkan dengan persamaan sebagai berikut : RPN = severity y occurrence y detection Penilaian yang disesuaikan berdasarkan frekuensi kejadian . atau angka kumulatif dari kegagalan yang dapat terjadi, pada Tabel IV menunjukkan frekuensi terjadinya kegagalan. Skala TABEL IV FREKUENSI TERJADINYA KEGAGALAN (OCCURRENCE) Likelihood of Occurrence Possible failure rate Ou100 per 1. 000 atau hampir Very high selalu terjadi dalam sebulan 50 per 1. 000 atau sangat sering dalam sebulan 20 per 1. 000 atau sering dalam High 10 per 1. 000 atau cukup sering dalam sebulan 2 per 1. 000 atau sedikit sering dalam sebulan 0,5 per 1. 000 atau jarang terjadi Moderate dalam sebulan 0,1 per 1. 000 atau sedikit jarang terjadi dalam sebulan Low Very low 0,01 per 1. 000 atau cukup jarang terjadi dalam sebulan 0,001 per 1. 000 atau sangat jarang terjadi dalam sebulan O 0,001 per 1. 000 atau hampir tidak pernah terjadi dalam Rating dalam mengendalikan/mengontrol frekuensi terjadinya kegagalan . , yang dijelaskan pada Tabel V. Skala TABEL V FREKUENSI TERJADINYA KEGAGALAN (OCCURRENCE) Likelihood of Detection Opportunity for detection ISSN: 1979-889X . ISSN: 2549-9041 . http://w. Nilai yang digunakan yaitu dengan memberi peringkat berdasarkan kegagalan/cacat yang terjadi, agar dapat lebih dahulu diminimalisir tingkat kecenderungan terjadinya. Merekomendasikan hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk meminimalisir kecenderungan kegagalan/cacat yang terjadi. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan data kegagalan dan cacat produk yang sudah ditabulasikan dan data diolah kedalam diagram pareto yang selanjutnya di analisis menggunakan metode Failure Modes and Effects Analysis (FMEA). Analisis data kondisi saat ini menggunakan diagram pareto Data jenis-jenis cacat yang terjadi pada mesin cutting diolah menggunakan diagram pareto, untuk menentukan jenis-jenis kegagalan/cacat yang paling dominan muncul pada proses produksi dilakukan dengan cara membuat diagram pareto sehingga pada nantinya dapat ditentukan kegagalan/cacat mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu . Gambar 1 mempresentasikan data jenis-jenis cacat yang terjadi di PT. PKF pada mesin cutting, dilihat dari data tersebut bahwa kegagalan/cacat yang paling dominan terjadi terdapat lima jenis cacat, yaitu leleh sebesar 21%, sobek sebesar 20%, sambungan sebesar 17%, melipat 17%, dan anjlok sebesar 14%. Sesuai prinsip pareto yang menyatakan bahwa dengan nilai kumulatif mencapai 80% dengan asumsi 80% tersebut dapat mewakili seluruh jenis cacat yang terjadi . Jika kelima jenis cacat yang terjadi pada mesin cutting tersebut ditangani, maka 89% masalah pada mesin cutting Barometer. Volume 6 No. Januari 2021. Halaman 322-327 terselesaikan sehingga kelima jenis cacat tersebut menjadi prioritas yang harus ditangani. Occurrence Corrective Action to Minimize or Eliminate Failure/Effect Detection RPN Peringkat Setting kecepatan putaran mesin cutting, temperatur dan waktu sealing sesuai dengan ketebalan dan jenis Dalam hal ini perlunya data sheet parameter antara kecepatan, temperatur dan waktu sealing, agar ketepatan perekatan seal terhadap plastik sesuai. Membersihkan pisau sealer sebelum dan sesudah pemakaian mesin cutting, dan perawatan serta pergantian bantalan Seal pada plastik akan leleh karena tekanan sealing . isau seale. yang tidak sesuai / terlalu kuat Setting tekanan sealing . isau seale. sesuai dengan ketebalan dan jenis plastik yang akan di seal, dan perlunya data sheet parameter tekanan berdasarkan ketebalan plastik. Mata pisau tumpul Plastik tidak Perawatan pada pisau dengan pengasahan mata Kemiringan pisau Plastik tidak sempurna dan Selalu memperhatikan posisi pisau baik sebelum dan sesudah pemakaian mesin Tiang penopang mata pisau sulit untuk naik turun Plastik tidak dapat terpotong Perlunya permberian pelumas pada tiang mata pisau, agar lebih mudah naik dan turun. Faktor hembusan angin dari lingkungan sekitar Plastik mudah terbawa oleh hembusan angin pada saat plastik, hal membuat plastik Memberi pembatas pada area pemotongan plastik agar plastik tidak mudah terbawa angin. Kecepatan putaran mesin yang tidak sesuai dengan kecepatan pisau Plastik tidak terpotong dengan sempurna dan sobek pada Setting kecepatan mesin cutting serta kecepatan mata pisau agar pemotongan sesuai dengan ketebalan dan jenis plastik. Sambungan plastik pada roll akan terputus jika sambungan dari mesin terputus maka proses produksi pada mesin Dari proses mesin blowing jika terdapat sambungan roll perlunya diberi isolatape sebagai tanda bahwa roll tersebut memiliki sambungan, agar lebih mudah diketahui pada proses pemotongan di mesin cutting. Component and Function Mode of Failure Potential Cause of (Defec. Failure Sealing . isau seale. Sebagai perekat plastik agar plastik menjadi kantong Leleh Severity Potential Effect of Failure Perekatan plastik pada seal tidak sesuai dengan Perekatan seal tidak rata dan leleh pada bagian tertentu Tekanan sealing . isau seale. tidak Kecepatan putaran mesin yang tidak sesuai dengan Pisau sealer dan bantalan kotor Gambar 1 Pengolahan data diagram pareto Analisis data menggunakan Failure Mode and Effect Analisys (FMEA) Hasil dari pengolahan data pada diagram pareto, kemudian kelima jenis kegagalan/cacat diolah menggunakan Failure Mode and Effect Analisys (FMEA). Masing-masing jenis kegagalan/cacat di analisis berdasarkan komponen dan fungsi . omponent and functio. , yang menyebabkan kegagalan/cacat terjadi pada mesin cutting di PT. PKF. Penentuan serta analisis nilai severity, occurrence, dan detection dilakukan setelah mengetahui penyebab potensial kegagalan . otential cause of failur. dan efek potensial kegagalan terjadi . otential effect of failur. Gambar 2 menjelaskan hasil analisis dari kelima jenis kegagalan/cacat yang terjadi di mesin cutting. Setelah dilakukan perhitungan Risk Priority Number (RPN), sehingga dapat ketahui nilai RPN pada masingmasing jenis kegagalan/cacat yang terjadi serta dapat dipilih beberapa penyebab terjadinya kegagalan proses produksi plastik pada mesin cutting yang dapat menimbulkan kecacatan pada plastik yang memiliki nilai paling besar yang kemudian diberikan peringkat berdasarkan nilai RPN tertinggi dan akan diprioritaskan terlebih dahulu agar segera ditangani sehingga dapat meminimalisir kecacatan pada Pemberian peringkat dari hasil perhitungan nilai RPN dapat memudahkan. Dari pengolahan data yang dilakukan menggunakan metode Failure Modes and Effects Analysis (FMEA), maka didapatkan 2 jenis kegagalan/cacat yang paling dominan terjadi dan 3 penyebab potensial terjadinya kegagalan, yaitu kecepatan putaran mesin yang tidak sesuai temperatur yang menyebabkan cacat leleh pada plastik, kecepatan putaran mesin yang tidak sesuai dengan kecepatan pisau potong yang dapat menyebabkan plastik menjadi sobek, dan tekanan sealing . isau seale. yang tidak sesuai menyebabkan plastik leleh. Pisau pemotong. Sobek berfungsi untuk memotong plastik sesuai ukuran yang di inginkan ISSN: 1979-889X . ISSN: 2549-9041 . http://w. Roll Plastik. Sambungan merupakan hasil produksi dari unit blowing untuk siap di potong Sambungan yang disebabkan dari mesin blowing Servo roll Melipat merupakan tempat roll plastik yang siap diproses untuk Servo roll Anjlok belakang, dan servo roll depan merupakan tempat roll plastik yang siap diproses untuk Plastik pada servo roll balakang atau depan melipat. Plastik akan melipat dan hasil seal tidak . Perlunya pemeriksaan pada servo roll belakang, setiap pemasangan plastik roll baru pada mesin cutting dan perlu diperhatikan pada saat proses cutting berjalan karena jika tidak plastik kemungkinan dapat terlipat karena dorongan servo roll belakang. Dalam hal tersebut perlunya pemasangan pengganjal bobin . ones ) pada roll servo belakang tidak sesuai dengan kecepatan putaran servo Jarak perekatan seal pada plastik tidak sesuai standar. Perlunya pemeriksaan dan pengaturan kecepatan yang sesuai pada servo belakang dan servo depan. Gambar 2 Analisis data menggunakan Failure Mode and Effect Analisys Analisis data setelah penelitian Setelah dilakukan penelitian kegagalan/cacat yang terjadi pada proses produksi plastik di mesin cutting, selanjutnya dilakukan analisis kembali dengan pengambilan data primer. Tabel VI dan VII menjelaskan bahwa dengan penerapan metode Failure Modes and Effects Analysis (FMEA) dan diagram pareto dapat meminimalisir kegagalan/cacat yang terjadi pada mesin cutting di PT. PKF. ANALISIS KEGAGALAN PROSES PRODUKSI PLASTIK PADA MESIN CUTTING DI PT. PKF DENGAN PENDEKATAN FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS DAN DIAGRAM PARETO TABEL VI DATA KEGAGALAN/CACAT SEBELUM PENERAPAN METODE FMEA DAN DIAGRAM DAFTAR RUJUKAN PARETO Tanggal 01-04 Juli 2020 06-10 Juli 2020 13-17 Juli 2020 20-24 Juli 2020 27-29 Juli 2020 Plastik hasil cutting . 23,140. 31,778. 29,860. 27,775. 19,000. Plastik cacat Persentase (%) TABEL VII DATA KEGAGALAN/CACAT DARI TANGGAL 03-12 AGUSTUS 2020. SETELAH PENELITIAN Tanggal Plastik hasil cutting . 03-07 Agustus 2020 24,754. 10-12 Agustus 2020 32,200. Plastik cacat . Persentase (%) Berdasarkan data kegagalan/cacat pada Tabel VII diatas, diketahui bahwa penurunan tersebut meminimalisir terbuangnya plastik yang mengalami kegagalan/cacat pada proses produksi di mesin cutting. Menurut penelitian Kuswarini Kusno menyatakan, bahwa penelitian dengan menggunakan metode Failure Modes and Effects Analysis (FMEA) dalam analisis penyebab risiko produksi jamur, yang mana dapat mengetahui apa saja penyebab risiko dalam produksi jamur, serta dapat memberikan perbaikan dan saran dalam proses produksinya untuk meminimalisir penyebaran penyakit pada jamur yang diproduksi . IV. KESIMPULAN Berdasakan penelitian yang telah dilakukan, beberapa kesimpulan yang ditarik adalah pengolahan data kegagalan/cacat telah dilakukan dengan menggunakan metode Failure Modes and Effects Analysis (FMEA) dan diagram pareto, proses produksi pada mesin cutting semestinya selalu dilakukan setting parameter mesin sebelum mesin digunakan serta melakukan pelatihan kepada setiap operator mesin cutting agar operator memiliki pengetahuan yang lebih mumpuni dalam pengoprasian mesin cutting. Penerapan metode Failure Modes and Effects Analysis (FMEA) dan diagram pareto pada kegagalan/cacat yang terjadi di mesin cutting mengalami penurunan sebesar 62% dari data awal plastik cacat pada 01-04 Juli 2020 sebesar 276. 2 kg dengan data setelah penerapan penelitian pada 03-07 Agustus 2020 sebesar 105 kg. Dengan penerapan metode tersebut, maka dapat meminimalisir terbuangnya plastik yang mengalami kegagalan/cacat dalam produksi plastik pada mesin cutting di PT. PKF. UCAPAN TERIMA KASIH