Volume 10. Nomor 1, 2026 . e-ISSN: 2579-5929 Nilai Ekonomi Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu oleh Masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga di Sekitar Taman Nasional Tesso Nilo (Economic Value of Non-Timber Forest Product Utilization by the Community of Lubuk Kembang Bunga Village Around Tesso Nilo National Par. Feny Oktaningsih1. Evi Sribudiani1. Sonia Somadona1. Pebriandi1*. Ewi Irfani1. Muhammad Mardhiansyah1. Yossi Oktorini1. Defri Yoza1. Ika Lestari1. Lefdi Agung Nugraha1 Jurusan Kehutanan. Fakultas Pertanian. Universitas Riau. Pekanbaru, 28293 *Email : pebriandi@lecturer. Abstract Article History: Received: Apr 26, 2026 Reviewed: Jun 9, 2026 Accepted: Jun 25, 2026 Published: Jun 30, 2026 Keywords: non-Timber Forest Products, economic value, community income. Tesso Nilo National Park, sustainable utilization Tesso Nilo National Park (TNTN) is a conservation area with high potential of nontimber forest products (NTFP. utilized by surrounding communities. This study aimed to identify the types of NTFPs utilized, analyze their economic value, and determine the contribution of NTFPs to the income of the community of Lubuk Kembang Bunga Village around TNTN. The study was conducted from March to April 2022 using a survey method through field observations, interviews, and questionnaires with NTFPs-utilizing communities. Data were analyzed using qualitative and quantitative descriptive approaches with a market price approach. The results showed that the community utilized NTFPs including honey, resin, pandanus, rattan, fish, fruits, and medicinal plants. The total economic value of NTFPs reached IDR 293,198,600 per year, contributing 21. 15% to community income. NTFPs utilization plays an important role as an additional source of income while supporting the daily needs of communities around the forest area. Sustainable NTFPs management needs to be improved through strengthening community capacity and developing NTFPs-based products to support community welfare and the conservation of Tesso Nilo National Park. Pendahuluan Hutan merupakan ekosistem yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan serta menyediakan berbagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Hutan berfungsi sebagai penyimpan dan penyerap karbon (Pebriandi et al. , 2. , kawasan ekowisata (Pajri et al. , 2. , serta memiliki berbagai tipe komunitas hutan (Pebriandi et al. Berdasarkan pemanfaatannya, sumber daya hutan dapat dikelompokkan menjadi hasil hutan kayu (HHK) dan hasil hutan bukan kayu (HHBK). Selama ini, pemanfaatan hutan masih banyak berorientasi pada hasil kayu, sementara HHBK memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena dapat memberikan manfaat ekonomi tanpa melakukan eksploitasi kayu. HHBK seperti madu, rotan, damar, tumbuhan obat, buah-buahan, dan berbagai hasil hutan lainnya telah dimanfaatkan masyarakat secara turun-temurun sebagai sumber kebutuhan rumah tangga maupun pendapatan Pemanfaatan HHBK juga dapat menjadi salah satu strategi peningkatan ekonomi masyarakat sekitar hutan sekaligus mengurangi tekanan terhadap kawasan hutan (Yoza et al. Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) merupakan salah satu kawasan konservasi di Provinsi Riau keanekaragaman hayati dan sumber daya hutan, termasuk hasil hutan bukan kayu. Desa Lubuk Kembang Bunga merupakan salah satu desa yang berbatasan langsung dengan kawasan TNTN, sehingga masyarakat memiliki interaksi yang erat dengan sumber daya hutan. Interaksi tersebut mendorong masyarakat untuk memanfaatkan berbagai jenis HHBK sebagai sumber kebutuhan sehari-hari, bahan kerajinan, dan tambahan Pemanfaatan HHBK oleh masyarakat sekitar kawasan TNTN juga telah dilaporkan sebelumnya, terutama dalam pemanfaatan hasil hutan untuk produk kerajinan dan kebutuhan masyarakat (Lusia, 2. Namun, informasi mengenai jenis HHBK yang dimanfaatkan, bentuk pemanfaatan, nilai ekonomi, serta kontribusi HHBK terhadap pendapatan masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga masih belum banyak Jurnal Ilmu-Ilmu Kehutanan Volume 10. Nomor 1, 2026 . Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis HHBK yang dimanfaatkan masyarakat, mengetahui bentuk pemanfaatannya, menganalisis nilai ekonomi HHBK, serta menghitung kontribusi HHBK terhadap pendapatan masyarakat sekitar TNTN. Bahan dan Metode Penelitian dilaksanakan di Desa Lubuk Kembang Bunga, kawasan sekitar Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Kabupaten Pelalawan. Provinsi Riau pada bulan Maret hingga April 2022. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan dan wawancara langsung dengan informan. Observasi dilakukan untuk mengidentifikasi jenis hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang dimanfaatkan oleh masyarakat, sedangkan wawancara dilakukan menggunakan kuesioner untuk memperoleh informasi terkait bentuk pemanfaatan, proses pemanenan, frekuensi pemanfaatan, serta nilai ekonomi HHBK. Penentuan informan dilakukan menggunakan metode snowball sampling, yaitu penentuan informan berdasarkan rekomendasi dari informan sebelumnya hingga informasi yang diperoleh mencapai titik jenuh . ata saturatio. atau tidak ditemukan informasi baru (Nurdiani, 2. Informan kunci . ey informan. dalam penelitian ini adalah Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo, sedangkan informan lainnya merupakan masyarakat yang memanfaatkan HHBK di Desa Lubuk Kembang Bunga. Data yang dikumpulkan meliputi jenis HHBK, bentuk pemanfaatan, jumlah pemanenan, frekuensi pemanfaatan, harga jual, serta pendapatan dari HHBK. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif menggunakan pendekatan harga pasar . arket price approac. untuk menghitung nilai ekonomi dan kontribusi HHBK terhadap pendapatan masyarakat. Data pendekatan harga pasar . arket price approac. mengacu pada Affandi dan Patana . Analisis dilakukan untuk menghitung rerata pemanenan HHBK, total pemanenan per tahun, nilai ekonomi HHBK, persentase nilai ekonomi, serta kontribusi HHBK terhadap pendapatan masyarakat. Rerata HHBK yang dipanen perjenis: ycUycn ycUycnycn U A A A ycUycu ycIyceycycaycyca yayayaAya = ycu Keterangan: Xi = Hasil HHBK yang dipanen n = Hasil panen HHBK per jenis e-ISSN: 2579-5929 Potensi atau total pemanenan per unit barang per tahun ycNycE = ycIya ycu yaycE ycu yaycE Keterangan: TP = Total panen per tahun RJ = Rerata jumlah yang dipanen FP = Frekuensi pemanenan JP = Jumlah pemanenan Nilai ekonomi barang hasil hutan per jenis barang per tahun ycAya = ycNycE ycu yaya Keterangan: NH = Nilai hasil hutan per jenis TP = Total pemanenan . nit/tahu. HH = Harga hasil yang dipanen Persentase nilai ekonomi ycA %ycAya = Oc ycAyaycn ycu 100% ycn Keterangan: %NE = Persentase nilai NEi = Nilai yang dipanen OcNE = Jumlah total nilai ekonomi dari seluruh hasil hutan Kontribusi HHBK Persentase pendapatan HHBK pendapatan responden Informan: ycIEayc ycI= ycu 100% ycIyc Keterangan: R = Hasil HHBK Rhr = Hasil HHBK Rt = Hasil keseluruhan Berdasarkan Usman dan Purnomo . , kelas pendapatan HHBK masyarakat (Tabel . Tabel 1. Hasil HHBK dalam pendapatan masyarakat Kontribusi Pendapatan Keterangan HHBK (%) 0,0 Ae 20,0 Rendah sekali 21,0 Ae 40,0 Rendah 41,0 Ae 60,0 Sedang 61,0 Ae 80,0 Berkontibusi 81,0 Ae 100,0 Berkontibusi besar Hasil dan Pembahasan Kondisi Umum Lokasi Penelitian Desa Lubuk Kembang Bunga secara geografis berada pada koordinat sekitar 0,1703A LU dan 101,987A BT serta berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Kedekatan desa dengan kawasan taman nasional menjadikan masyarakat di wilayah ini memiliki interaksi yang erat dengan sumber daya hutan. Jurnal Ilmu-Ilmu Kehutanan Volume 10. Nomor 1, 2026 . e-ISSN: 2579-5929 khususnya dalam pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) sebagai bagian dari aktivitas ekonomi dan pemenuhan kebutuhan hidup. Pemanfaatan HHBK oleh masyarakat umumnya mencakup berbagai komoditas hutan seperti hasil tanaman bawah tegakan, rotan, madu, serta produk hutan lainnya yang tersedia di sekitar Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaan hutan di sekitar desa memiliki peran penting dalam mendukung mata pencaharian masyarakat, sehingga relevan dengan tujuan penelitian yang berfokus pada pemanfaatan HHBK. Masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga Desa Lubuk Kembang Bunga memiliki jumlah penduduk sebanyak 7. 571 jiwa, yang terdiri dari 3. 915 jiwa laki-laki . %) dan 3. jiwa perempuan . %). Mayoritas penduduk beragama Islam dengan komposisi etnis yang beragam, terutama suku Melayu. Jawa, dan Batak. Keragaman ini turut memengaruhi pola pemanfaatan sumber daya hutan, termasuk hasil hutan bukan kayu (HHBK), yang telah menjadi bagian dari pengetahuan dan praktik masyarakat secara turun-temurun maupun hasil adaptasi mata Secara masyarakat masih didominasi oleh sektor pertanian dan aktivitas berbasis sumber daya alam, sehingga ketergantungan terhadap kawasan hutan di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo masih cukup tinggi. Pemanfaatan HHBK menjadi salah satu strategi penghidupan, baik sebagai sumber pendapatan tambahan maupun untuk kebutuhan rumah tangga, seperti pemanfaatan hasil hutan non-kayu dari sekitar kawasan hutan. Pemanfaatan Hasil Hutan Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga memanfaatkan hasil hutan bukan kayu (HHBK) sebagai sumber pendapatan tambahan dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Pemanfaatan HHBK telah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan (Tabel . Salah satu HHBK yang dimanfaatkan adalah madu hutan, yang dikelola secara berkelompok mulai dari proses pemanenan hingga Pemanenan madu dilakukan pada siang hari karena kondisi tersebut mendukung proses pengambilan dan pembersihan hasil panen. Jamiat et al. menyatakan bahwa pemanenan madu pada siang hari lebih efektif karena madu dapat segera dibersihkan setelah proses pemanenan. Sistem pemanfaatan secara berkelompok menunjukkan adanya kerja sama antaranggota masyarakat dalam pengelolaan HHBK, sehingga hasil penjualan dapat dibagi sesuai kesepakatan kelompok. Tabel 2. Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Jenis HHBK Madu Damar Pandan Rotan Ikan Buah-buahan Obat-obatan Jernang Produk/Bentuk Pemanfaatan Madu hutan . adu sialan. Getah damar Pandan mentah, tikar, bakul, katang. Keranjang, lukah, tangguk, rotan Ikan konsumsi Buah hutan . onsumsi musima. Tumbuhan obat tradisional Getah jernang . elum dimanfaatka. Pemanfaatan damar dilakukan secara individu dengan menggunakan alat sederhana berupa parang dan karung sebagai wadah Pola pemanfaatan tradisional ini juga ditemukan pada masyarakat Kampung Bariat. Distrik Konda. Kabupaten Sorong Selatan, yang memanfaatkan damar dengan peralatan sederhana seperti parang dan kapak (Antoh et al. , 2. Sistem Pemanfaatan Kelompok Individu Individu Individu Individu Individu Individu Belum dimanfaatkan Masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga juga memanfaatkan pandan secara individu untuk menghasilkan produk seperti pandan mentah, tikar, bakul, katang, dan tungap. Pengolahan pandan umumnya dilakukan melalui teknik Setiawan et al. menyatakan bahwa produk anyaman dari pandan merupakan salah satu bentuk pemanfaatan HHBK yang banyak digunakan oleh masyarakat. Selain pandan, rotan dimanfaatkan untuk pembuatan Jurnal Ilmu-Ilmu Kehutanan Volume 10. Nomor 1, 2026 . kerajinan seperti keranjang, lukah, dan tangguk. Bagian batang rotan menjadi bagian utama yang digunakan dalam proses pengolahan (Roy et al. HHBK lainnya yang dimanfaatkan buah-buahan, tumbuhan obat, dan jernang. Pemanfaatan HHBK tersebut umumnya dilakukan secara individu sesuai kebutuhan dan waktu tertentu. Nilai Ekonomi Hasil Hutan Bukan Kayu Hasil penelitian menunjukkan bahwa total nilai ekonomi hasil hutan bukan kayu (HHBK) di Desa Lubuk Kembang Bunga sebesar Rp293. 600 per tahun. Nilai ini merupakan akumulasi dari beberapa komoditas seperti madu, damar, pandan, rotan, ikan, buah-buahan, dan obat-obatan. Secara interpretatif, kontribusi ekonomi antarjenis HHBK menunjukkan variasi yang cukup besar. HHBK seperti madu memiliki kontribusi lebih tinggi . ,40%) dibandingkan obat-obatan . ,65%) dan pandan . ,28%). Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan tingkat permintaan pasar, intensitas pemanfaatan, serta frekuensi pengambilan. Obat-obatan tradisional memiliki nilai rendah karena mulai jarang digunakan dan hanya dimanfaatkan sesekali, yaitu sekitar 2Ae3 kali per minggu. Sementara itu, buahbuahan hutan memberikan kontribusi sebesar 5,12% atau Rp15. 000 per tahun. Nilai ini relatif terbatas karena sifatnya musiman, sehingga tidak dapat dipanen sepanjang tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketersediaan sumber daya secara temporal sangat memengaruhi nilai ekonomi HHBK. Berbeda dengan itu, jernang belum memberikan kontribusi ekonomi karena belum dapat dipanen akibat belum mencapai umur Hal ini menunjukkan bahwa siklus biologis tanaman menjadi faktor pembatas dalam kontribusi ekonomi HHBK tertentu. Pada komoditas madu, nilai ekonomi sebesar Rp18. 600 per tahun menunjukkan kontribusi yang lebih stabil karena telah lama dimanfaatkan dan memiliki nilai jual yang relatif Maulana . juga menyatakan bahwa madu sialang memberikan kontribusi nyata terhadap pendapatan rumah tangga, meskipun masih bersifat pendapatan sampingan. Secara umum, variasi nilai ekonomi HHBK dipengaruhi oleh faktor aksesibilitas, ketersediaan sumber daya, musim panen, tingkat pemanfaatan, serta permintaan pasar. Implikasinya, pengembangan HHBK dengan nilai ekonomi rendah dapat diarahkan melalui diversifikasi produk dan peningkatan pengolahan agar memberikan nilai e-ISSN: 2579-5929 tambah bagi masyarakat sekitar Taman Nasional Tesso Nilo. Kontribusi Hasil Hutan Bukan Kayu terhadap Pendapatan Pendapatan masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga dari hasil hutan bukan kayu (HHBK) sebesar Rp293. 600 per tahun, sedangkan pendapatan dari sumber di luar HHBK Rp1. Berdasarkan proporsi tersebut, kontribusi HHBK terhadap total pendapatan rumah tangga sebesar 21,15%, sedangkan kontribusi di luar HHBK sebesar 78,85%. Secara kuantitatif, kontribusi HHBK termasuk kategori rendah dibandingkan sumber pendapatan utama masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa HHBK belum menjadi sektor utama ekonomi rumah tangga, melainkan masih berperan sebagai sumber pendapatan Rendahnya dipengaruhi oleh terbatasnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan serta pengolahan HHBK, sehingga nilai tambah produk masih rendah dan masyarakat cenderung beralih pada pekerjaan lain yang lebih stabil. Hal ini sejalan dengan Sianturi . yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan memengaruhi pola pikir dan keputusan ekonomi masyarakat dalam memilih sumber mata pencaharian. Namun demikian, secara fungsional HHBK tetap memiliki peran penting dalam menopang kehidupan masyarakat, terutama sebagai sumber pendapatan tambahan, bahan pangan, serta obatobatan tradisional. Dalam kondisi tertentu. HHBK berfungsi sebagai Aubuffer ekonomiAy ketika pendapatan utama menurun. Ismenni et al. juga menegaskan bahwa HHBK berperan dalam diversifikasi mata pencaharian masyarakat sekitar Dengan demikian, meskipun secara persentase kontribusi HHBK tergolong rendah, secara sosial-ekonomi HHBK tetap memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan penghidupan masyarakat di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo. Kesimpulan Masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga memanfaatkan berbagai jenis hasil hutan bukan kayu (HHBK) dari kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, seperti madu, damar, pandan, rotan, buah-buahan, dan tumbuhan obat. Pemanfaatan HHBK dilakukan melalui tahapan pemanenan, pengolahan, hingga pemasaran dengan pola individu maupun kelompok. Secara umum. HHBK berperan sebagai sumber pendapatan Jurnal Ilmu-Ilmu Kehutanan Volume 10. Nomor 1, 2026 . e-ISSN: 2579-5929 kontribusinya masih lebih kecil dibandingkan sumber pendapatan dari luar sektor hutan. Hal ini menunjukkan bahwa HHBK belum menjadi sumber penghidupan utama, namun tetap memiliki peran penting dalam diversifikasi pendapatan rumah tangga. Dengan demikian, pengembangan pengelolaan HHBK secara berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan nilai ekonomi sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya hutan secara lestari. Masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga memanfaatkan berbagai jenis hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang berasal dari kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, yaitu madu, damar, pandan, rotan, buah-buahan, dan tumbuhan obat-obatan. Pemanfaatan HHBK dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari pemanenan, pengolahan, hingga pemasaran atau penjualan kepada Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ekonomi HHBK yang diperoleh masyarakat mencapai Rp293. 600 per tahun dengan kontribusi sebesar 21,15% terhadap total pendapatan masyarakat. Sementara itu, sumber pendapatan yang berasal dari luar kawasan hutan mencapai Rp1. 000 per tahun dengan kontribusi sebesar 78,85%. Temuan ini menunjukkan bahwa HHBK memiliki peran penting sebagai sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, meskipun kontribusinya masih lebih rendah dibandingkan pendapatan yang berasal dari sektor di luar hutan. Oleh karena itu, pengelolaan dan pemanfaatan HHBK secara mendukung kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian sumber daya hutan. Daftar Pustaka