Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. 18 No. 1 (Juni, 2. ISSN : Print : 2356 Ae 1068 Online : 2807 - 5617 ARTIKEL RISET Pengaruh Deep Friction Massage Terhadap Penurunan Disabilitas Leher Kondisi Neck Pain Pada Penjahit di Kota Batu Uun Dian Aprillia. Safun Rahmanto. Zidni Imanurrohmah Lubis. 1, 2, 3 Departemen Fisioterapi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Malang. Jl. Bandung No. Penanggungan. Kec. Klojen. Kota Malang. Jawa Timur 65113. Indonesia Corespondensi : safun07@umm. ABSTRAK Tahun 2012. Studi Beban Penyakit Global menemukan bahwa nyeri leher adalah keluhan fisik terbesar keempat yang sering dialami orang di seluruh dunia. Ini terkait dengan jumlah tahun yang dihabiskan untuk memantau kondisi ini. Deep friction massage adalah salah satu metode terapeutik yang digunakan untuk mengurangi nyeri musculuskletal serta peningkatan gerak dan fungsi. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimental dengan one group Aupre-test dan post-testAy untuk mengevaluasi pengaruh deep friction massage terhadap peningkatan aktivitas fungsional. Berdasarkan uji pengaruh paired t test didapatkan hasil p-value 0,044 . < 0,. yang mana hal ini berarti terdapat pengaruh pemberian deep friction massage terhadap peningkatan aktivitas fungsional. Berdasarkan penelitian yang telah dijabarkan diatas dapat disimpulkan bahwa pemberian deep friction massage memiliki pengaruh terhadap peningkatan aktivitas fungsional kondisi neck pain pada penjahit di Kota Batu. Pengaruh dapat dilihat dari perubahan nilai dari sebelum dan sesudah menggunakan kuesioner neck disability index setelah pemberian intervensi. Kata kunci : Pijat. Aktivitas Sehari-Hari. Sakit Leher. Tukang Jahit. ABSTRACT In 2012, the Global Burden of Disease Study found that neck pain is the fourth most frequent physical complaint that people experience worldwide. This is related to the number of years spent monitoring this condition. Deep friction massage is one of the therapeutic methods used to reduce musculoskletal pain and increase motion and function. This study used a quasi-experimental design with one group Aupre-test and post-testAy to evaluate the effect of deep friction massage on improving functional activity. Based on the paired t test, the p-value of 0. < 0. was obtained, which means that there is an effect of deep friction massage on increasing functional activity. Based on the research described above, it can be concluded that the provision of deep friction massage has an influence on increasing the functional activity of neck pain conditions in tailors in Batu City. The effect can be seen from the change in value from before and after using the neck disability index questionnaire after the intervention. Kata kunci : Massage. Daily Activities. Neck Pain. Tailor Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. 18 No. 1 (Juni, 2. ISSN : Print : 2356 Ae 1068 Online : 2807 - 5617 PENDAHULUAN Tahun 2012. Studi Beban Penyakit Global menemukan bahwa nyeri leher adalah keluhan fisik terbesar keempat yang sering dialami orang di seluruh dunia. Ini terkait dengan jumlah tahun yang dihabiskan untuk memantau kondisi ini. Menurut data dari tahun 2003 dari orang Belanda berusia 25 tahun atau lebih, nyeri leher merupakan lokasi ketiga yang paling umum untuk masalah muskuloskeletal, setelah punggung bawah dan daerah bahu. Insiden nyeri leher selama 1 tahun diperkirakan bervariasi dari 10,4% hingga 21,3% (Wiederhold & Riva, 2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Darmawan . prevalensi nyeri leher dengan faktor resiko usia mencapai 53,3% yang mana memiliki rentan usia 26-35 tahun dalam kategori dewasa muda, 76,6% adalah perempuan dengan keluhan nyeri leher dan 86,7% bekerja dengan sikap duduk lebih dari 2 jam dan mengalami nyeri leher. Mengobati nyeri leher dengan obat anti inflamasi nonsteroid, obat penghilang rasa sakit, isometrik, mobilisasi, latihan penguatan, teknik pemijatan, dan latihan peregangan adalah beberapa metode. Ini disepakati dan dilakukan di seluruh dunia. Banyak intervensi dianggap sebagai kualitas perawatan untuk nyeri leher Namun, tidak ada bukti yang jelas tentang seberapa efektif intervensi non-operatif (Yasin et al. , 2. Dalam studi terdahulu yang telah dilakukan, terkait perbandingan pemberian deep friction massage dengan static stretching. Hasilnya menunjukkan bahwa kedua kelompok mengalami peningkatan signifikan dalam rentang gerak leher dan penurunan intensitas nyeri. Namun, kelompok DFM menunjukkan peningkatan lebih besar dalam Neck Disability Index (NDI), yang mengindikasikan penurunan disabilitas yang lebih baik. Salah satu tindakan non-operatif yang dapat digunakan untuk mengatasi nyeri leher adalah deep friction massage. Deep friction massage adalah metode terapeutik yang digunakan untuk mengurangi nyeri dan peningkatan fungsi. Ada beberapa prinsip dasar aplikasi deep friction massage yang harus disesuaikan tergantung pada tingkat keparahan atau kondisi Pada pengaplikasian deep friction massage harus mempertimbangkan arah . dan tekanan pijatan ("cukup dalam") untuk mengidentifikasi jaringan yang cedera (Chaves et al. , 2. Diketahui bahwa deep friction massage mempengaruhi jaringan otot dalam arah vertikal serat, secara mekanis menyebabkan hiperemia, mengatur ulang kolagen dalam jaringan lunak normal, mengurangi rasa sakit melalui "teori regulasi penghalang", dan mengurangi Selain itu, deep friction massage menghancurkan atau mencegah kelainan adhesi serat, mengurangi stres, meningkatkan kolagen, dan meningkatkan kualitas jaringan luka (Lee et al. , 2. Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. 18 No. 1 (Juni, 2. ISSN : Print : 2356 Ae 1068 Online : 2807 - 5617 Berdasarkan penjabaran tersebut peneliti tertarik untuk meneliti apakah deep friction massage dapat meningkatkan aktivitas fungsional pada penjahit dengan kondisi neck pain. METODE Penelitian dilakukan menggunakan desain quasi eksperimental dengan one group Aupretest dan post-testAy untuk mengevaluasi pengaruh deep friction massage terhadap peningkatan aktivitas fungsional pada penjahit di Kota Batu (Hastjarjo, 2. Populasi dalam penelitian ini ialah penjahit yang berada di wilayah kota Batu. Pengambilan data menggunakan teknik sampling purposive sampling dimana pemilihan sampel berdasarkan kriteria inklusi berupa penjahit yang sedang mengalami neck pain dan memenuhi skor NDI <40% . erve disabilita. dan untuk karakter eksklusi ialah sedang tidak mengalami fraktur pada area leher, mengalami riwayat cedera leher atau bahu, dan sedang tidak mengalami iritasi pada kulit Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Neck Disability Index (NDI) kuesioner yang digunakan untuk mengukur tingkat disabilitas akibat nyeri leher. Kuesioner ini terdiri dari 10 pertanyaan yang mencakup aspek aktivitas sehari-hari, nyeri, dan fungsi. Setiap pertanyaan memiliki pilihan jawaban dengan skor 0Ae5, di mana: 0: Tidak ada disabilitas-5: Disabilitas maksimal (Pontes-Silva et al. , 2. Setiap pertanyaan pada kuesioner kemudian dijumlahkan. Namun, jika sampel tidak menjawab semua pertanyaan, total hanya dihitung berdasarkan jumlah pertanyaan yang dijawab. Penghitungan hasil dari kuesioner ini menggunakan rumus : Presentase Disabilitas = ( ycNycuycycayco ycIycoycuyc ) y 100 ycIycoycuyc ycAycaycoycycnycoycayco Interpretasi hasil dari kuesioner ini adalah 0-20% minimal disabilitas, 20-40% moderate disabilitas, 40-60% serve disabilitas, 60-80% crippled, dan 80-100% Penelitian ini menggunakan analisa univariat dan bivariat. Untuk analisa univariat yang digunakan ialah nyeri, usia, jenis kelamin, aktivitas fungsional . ebelum dan sesudah pemberian intervens. , dan durasi kerja. Analisa bivariat yang digunakan berupa uji normalitas shapiro wilk karena sampel pada penelitian ini < 50 orang (Heryana et al. , 2. Pada uji normalitas menunjukan bahwa data berdistribusi normal oleh karena itu akan menggunakan uji statistik parametrik. Untuk uji pengaruh yang dilakukan menggunakan paired t-test (Anam. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan dari kemenkes dan fikes UMM NO. d/013/KEPK/FIKES-UMM/II/2025 HASIL Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. 18 No. 1 (Juni, 2. ISSN : Print : 2356 Ae 1068 Online : 2807 - 5617 Pada tabel karakteristik dapat dilihat bahwa jumlah responden melibatkan 34 orang, dimana diantaranya ialah 25 orang . ,5%) perempuan dan 9 orang . ,5%) laki-laki. Usia responden terdapat 10 orang . ,4%) 17-25 tahun, 12 orang . ,3%) 26-35 tahun, 9 orang . ,5%) 36-45 tahun, 2 orang . ,9%) berusia 46-55 tahun, dan 1 orang . ,9%) berusia 56-65 Responden ini terdapat 19 orang . ,9%) yang bekerja < 8 jam, 10 orang . ,4%) yang bekerja 8 jam dalam sehari, dan 5 orang . ,7%) yang bekerja > 8 jam dalam sehari. Skala nyeri tekan yang dirasakan sebelum intervensi adalah 27 orang merasakan nyeri mulai dari 13 . ,4%) dan untuk 7 orang mengalami nyeri mulai dari 4-6 . ,6%). Tabel 1. Karakteristik Karakteristik Presentase % Jenis Kelamin Presentase % Laki-laki Perempuan Durasi Kerja Presentase % < 8 Jam 8 Jam > 8 Jam Presentase % Total Aktifitas fungsional Rata-rata Usia (Tahu. Skala Nyeri Tekan Rerata Aktivitas Fungsional Pretest Rerata Aktivitas Fungsional Posttest Selisih 14,24 11,47 2,77 Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. 18 No. 1 (Juni, 2. ISSN : Print : 2356 Ae 1068 Online : 2807 - 5617 Sumber: Data Primer, 2025. Ket : N = Jumlah Sampel Tabel 2. Uji pengaruh paired t test Variable Deep Friction Massage Aktivitas Fungsional p-value 0,001* 0,070 0,049 0,021 Sumber: Data Primer, 2025. Ket Uji Paired T Test : N = Jumlah Sampel, * = Signifikan Berdasarkan data aktivitas fungsional dapat dilihat hasil rata-rata aktivitas fungsional sebelum pemberian intervensi adalah 14,24 dan setelah pemberian intervensi adalah 11,47 dimana selisih keduanya ialah 2,77. Berdasarkan uji normalitas didapat hasil p = 0,001 yang mana jika nilai p < 0,05 maka data berdistribusi normal. Pada tabel 3 terkait uji pengaruh paired t test didapatkan hasil p-value 0,001 . < 0,. hal ini berarti terdapat pengaruh pemberian deep friction massage terhadap penurunan disabilitas leher. PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh pemberian deep friction massage dapat menurunkan disabilitas leher kondisi neck pain pada penjahit. Nyeri leher yang timbul pada penjahit dapat dipengaruhi oleh posisi tubuh yang tidak ergonomis saat bekerja dalam waktu yang lama. Kebanyakan penjahit mengalami nyeri leher pada saat posisi Karena posisi ini mengubah pusat gravitasi tubuh, otot bahu dan leher, terutama otot upper trapezius . rigo : pros spinosus C7, insertio : 1/3 lateral clavicula & acromio. menjadi lebih tegang. Penjahit biasanya duduk lama, kepala membungkuk, lutut dan siku tertekuk, dan gerakan tubuh berulang. Kondisi statis ini menyebabkan otot-otot berkontraksi terus-menerus, yang mengganggu pasokan oksigen ke otot. Akibatnya, perfusi jaringan menurun, yang menyebabkan nyeri. Selain itu, lama bekerja dapat memperburuk rasa sakit (Alfianty et al. , 2. Jika pekerjaan dilakukan terlalu lama, kemampuan tubuh akan menurun dan dapat menyebabkan keluhan. Semakin lama mempertahankan postur tubuh saat bekerja, semakin besar risiko mengalami nyeri leher (Wijayati, 2. Postur yang tidak benar dan durasi kerja terlalu lama dapat menyebabkan ketegangan otot leher dan spasme. Ketegangan otot ini dapat mengganggu sirkulasi darah sehingga dapat menyebabkan nyeri. Ketegangan otot Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. 18 No. 1 (Juni, 2. ISSN : Print : 2356 Ae 1068 Online : 2807 - 5617 berkepanjangan karena beban kerja yang berlebihan juga dapat memicu pembentukan jaringan adhesi sehingga menyebabkan keterbatasan gerak (Panjaitan et al. , 2. Penggunaan deep friction massage dapat mengurangi nyeri leher dan meningkatkan keterbatasan gerak dengan dosis yang digunakan adalah 2 kali seminggu, 8 kali sesi, dan dengan waktu 20 menit per subjek penelitian (Moshrif et al. , 2. Deep friction massage secara fisiologis memecah perlengketan jaringan lunak . dan meningkatkan aliran darah lokal, meningkatkan penyembuhan jaringan dan mengurangi rasa sakit. Pemberian deep friction massage bertujuan untuk memastikan bahwa jaringan lunak ligamen, tendon, dan otot tetap dapat bergerak dan mencegah cedera sehingga dapat meningkatkan aktivitas fungsional (Chaves et al. , 2. Beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu dimana meneliti terkait pemberian terapi manual berupa massage menunjukan bahwa terapi manual terbukti efektif dalam menurunkan nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi, serta meningkatkan aktivitas fungsional. Penelitian yang dilakukan oleh Wulan . menunjukan bahwa pemberian deep friction massage pada mahasiswa fisioterapi dapat meningkatkan aktivitas fungsional kondisi neck pain, dimana deep friction massage dapat mencegah perlengketan pada jaringan lunak, meningkatkan sirkulasi darah di area yang nyeri, menurunkan rasa nyeri yang dirasakan responden, serta dapat meningkatkan kemampuan fungsional. Penelitian ini juga sejalan dengan peneliti terdahulu yang meneliti terkait perbedaan pengaruh pemberian myofacial release serta deep friction massage terhadap peningkatan kemampuan fungsional, yang mana pada penelitian ini deep friction massage dapat menurunkan nyeri dan memperbaiki fungsi leher (Wahyuningsih, 2. SIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dijabarkan diatas dapat disimpulkan bahwa pemberian deep friction massage memiliki pengaruh terhadap peningkatan aktivitas fungsional kondisi neck pain pada penjahit di kota batu. Pengaruh ini dapat dilihat dari perubahan nilai rata-rata dari sebelum dan sesudah menggunakan kuesioner neck disability index setelah pemberian intervensi selama 1 bulan. DAFTAR PUSTAKA