Proceedings of PsychoNutrition Student Summit Volume 01. No. Desember 2024 ISSN: 3090-0956 https://proceedings. id/index. php/PINUSS Gambaran Parenting Self-Efficacy Pada Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus yang Berprestasi Nur Amalina Syafiqoh1. Rizma Fithri2. Estri Kusumawati3 Fakultas Psikologi dan Kesehatan. UIN Sunan Ampel Surabaya Jln. Dr. Ir. Soekarno No. Gunung Anyar. Surabaya E-mail: amalinanur0908@gmail. Abstrak Parenting self-efficacy merupakan estimasi kemampuan orang tua dalam mempengaruhi perilaku dan perkembangan anak secara positif berdasarkan keyakinan mereka terhadap diri sendiri. Orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus memiliki tantangan tersendiri dalam hal mengasuh anak, namun dengan parenting self-efficacy yang kuat, mereka dapat menciptakan lingkungan yang mendukung bakat dan prestasi anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis parenting self-efficacy pada orang tua anak berkebutuhan khusus yang berprestasi, dengan mempertimbangkan berbagai jenis disabilitas yang dialami anak. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang melibatkan 3 orang ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus berprestasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga subjek memiliki parenting self-efficacy yang baik dalam lima aspek. Terdapat perbedaan pendekatan dalam aspek discipline dan health yang disesuaikan dengan karakteristik disabilitas anak. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya parenting self-efficacy meliputi usia anak, dukungan sosial, dan keterlibatan dalam komunitas. Temuan ini menunjukkan bahwa Parenting self-efficacy yang tinggi berkontribusi positif pada keberhasilan anak berkebutuhan khusus dalam mencapai prestasi. Meskipun terdapat perbedaan dalam pendekatan pengasuhan berdasarkan jenis disabilitas, komitmen dan keyakinan orang tua dalam mengasuh anak tetap menjadi faktor kunci dalam mendukung perkembangan dan prestasi anak. Kata Kunci: Parenting Self-Efficacy. Orang Tua. ABK. Prestasi PENDAHULUAN Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan anak yaitu perilaku pengasuhan orang tua disebut dengan parenting self-efficacy (Pasyola et al. , 2. Parenting self-efficacy berawal dari teori self efficacy Bandura dimana seseorang yakin terhadap diri mereka untuk bisa menerima tantangan atau tugas yang diberikan. Menurut (Coleman & Karraker, 2. parenting self-efficacy merupakan estimasi kemampuan orang tua dalam mempengaruhi perilaku dan perkembangan anak secara positif, berdasarkan keyakinan mereka terhadap diri sendiri. Hal ini merujuk pada penilaian dan pemikiran orang tua mengenai kemampuan mereka dalam memberika pengasuhan efektif yang nantinya akan bepengaruh positif atau negatif pada perilaku dan perkembangan anak (Fajriyah et al. , 2. Orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus memiliki tantangan tersendiri dalam hal mengasuh anak. Tantangan orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus salah satunya yaitu kesulitan memastikan bahwa anak mendapat akses pendidikan yang sesuai dan memadai untuk mendukung perkembangan mereka (Hasanah et al. , 2. Berdasarkan data yang diperoleh dari Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi (Kemendikbudriste. 164 satuan pendidikan formal di Indonesia yang memiliki peserta didik berkebutuhan khusus per Desember 2023. Anak berkebutuhan khusus ialah anak yang diberikan penanganan secara khusus karena mengalami hambatan belajar dan perkembangan, yang akhirnya Syafiqoh. Fithri. Kusumawati. Gambaran Parenting Self-Efficacy. memerlukan pelayanan yang lebih spesifik (Asyharinur Ayuning Putriana Pitaloka. Safira Aura Fakhiratunnisa, 2. Anak berkebtuhan khusus dapat dikategorikan sebagai berikut Disleksia Learning. ADHD. Autisme. Speech delay, down syndrome, tuna grahita, tunarungu (Saputri et al. , 2. Orang tua yang yakin akan kemampuannya dalam mengasuh anak akan memiliki kesehatan emosional yang lebih baik dan membangun hubungan lebih baik lagi dengan Sebaliknya, ketika orang tua tidak percaya diri dalam mengasuh anak cenderung depresi dan stres, terutama bagi para ibu (Khairullah, 2. Dalam penelitian (Larasati et , 2. menjelaskan bahwa ibu yang menerapkan aturan budaya dan masuk ke dalam komunitas orang tua ASD memiliki parenting self efficacy tinggi karena hal ini merupakan faktor pembentuk parenting self-efficacy, namun akan berbalik jika ibu tidak menerapkan pengalaman masa kecil dan tidak memiliki pengalaman terhadap anak berkebutuhan khusus maka parenting self-efficacy cenderung rendah. Dari data yang telah dijelaskan di atas, disimpulkan bahwa adanya parenting selfefficacy pada diri ibu akan memberikan pengasuhan yang efektif bagi anak (Nuraini Isnanidiyanti & Saloko, 2. Hal tersebut diperkuat dengan adanya penelitian terhadap orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus menyatakan bahwa dengan berinteraksi sesama ibu yang menghadapi tantangan serupa seperti memberikan dukungan sosial dapat mengurangi stres pengasuhan secara langsung (Sugiana et al. Penelitian lain mengenai parenting self-efficacy anak berkebutuhan khusus tidak hanya sampai disitu. Terdapat penelitian yang mengungkapan bahwa anak berkebutuhan khusus juga dapat menorehkan prestasi, hal ini diungkapkan oleh Ulya . yang menyatakan bahwa anak ADHD dapat berprestasi lomba robot, serta orang tua mampu memenuhi aspek-aspek parenting self-efficacy. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan parenting self-efficacy pada orang tua anak berkebutuhan khusus yang berprestasi, dengan mempertimbangkan berbagai jenis disabilitas yang dialami anak. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang parenting self-efficacy dan dampaknya terhadap anak berkebutuhan khusus yang berprestasi. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini didefinsikan sebagai metodologis yang menggali mengenai pandangan komprehensif mengenai pengalaman subjek (Nuryana et al. , 2. Pendekatan ini bertujuan agar bisa lebih memahami, menggambarkan, dan mendefinsikan bagaimana perilaku manusia terhadap fenomena yang ada (Nasir et al. , 2. Pendekatan fenomenologi ini dipilih untuk memahami lebih dalam lagi mengenai fenomena parenting self-efficacy pada orang tua anak berkebutuhan khusus yang Pada penelitian ini peneliti mengambil teknik pengambilan sampel dengan porposive sampling. Purposive sampling adalah metode pemilihan sumber data yang didasarkan pada pertimbangan tertentu. Pertimbangan yang umum digunakan adalah individu yang diperkirakan paling memahami informasi atau keterangan yang diperlukan oleh peneliti (Handayani, 2. Penelitian ini memiliki lima kriteria untuk menentukan subjek penelitian. Orang tua anak berkebutuhan khusus yang memiliki prestasi dalam bidang akademik maupun nonakademik, orang tua anak berkebutuhan khusus yang memiliki pengalaman mengasuh selama 10-15 tahun, anak berkebutuhan khusus berusia remaja menjadi kriteria subjek dalam penelitian ini. Dengan kriteria tersebut, diperoleh 3 subjek penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur. Peneliti menyiapkan Prosiding PsychoNutrition Vol. 01 No. 1 Desember 2024 panduan wawancara sebelum penelitian dilaksanakan. Panduan tersebut disusun untuk mengantisipasi respon informan yang tidak sesuai dengan fokus penelitian. Keterangan Usia Pendidikan Terakhir Jenis Kelamin Pengalaman Anak yang diasuh Usia Hubungan Tabel 1. Identitas Subjek 50 tahun 55 tahun S1 Sastra Inggris SLTA Perempuan Perempuan 13 tahun 14 tahun 45 tahun SLTA Perempuan 10 tahun ADHD 16 tahun Autis 17 tahun Tunarungu 12 tahun Ibu Ibu Ibu HASIL PENELITIAN Tabel 2. Gambaran Parenting self-efficacy Aspek Subjek N Subjek H Subjek D (Orang tua ADHD) (Orang tua Auti. (Orang tua Tunarung. Achievement Mampu memberikan banyak fasilitas untuk anak mengasah bakat minat yang diinginkan Tidak terlalu banyak diberikan fasilitas karena anak sudah semakin besar dan sudah tidaktertarik lagi untuk mencoba hal-hal yang baru Diberikan fasilitas dari awal untuk kemampuan anak di bidang apa dan minatnya dimana Recreation Mampu aktif dalam kegiatan lomba ataupun sekolah anak, teman-teman anak memberikan motivasi terhadap anak ketika mengikuti Selalu mengikuti kegiatan lomba anak diluar sekolah ataupun dalam sekolah Aktif dalam kegiatan anak di ataupun kegiatan Discipline Tidak memaksa anak dalam hal kedisplinan karena disabilitas yang dimiliki Memberikan aturan kepada anak Orang tua mampu untuk memberikan tanggung jawab kepada anak dalam hal yang Syafiqoh. Fithri. Kusumawati. Gambaran Parenting Self-Efficacy. Nurturance Mampu memberikan rasa semangat dan dukungan penuh kepada anak Mampu memahami keinginan anak dan tidak memaksa anak Mampu memberikan rasa nyaman dan tentram pada anak Health Orang tua mampu untuk mengontrol anak dalam hal Orang tua mampu untuk mengontrol makan pada anak Mampu contoh yang baik kepada anak Subjek N A) Achievement (Kemampuan dalam memberikan fasilitas pencapaian anak di Dalam menjalankan perannya sebagai orang tua terutama ibu, subjek N mampu untuk memberikan fasilitas terbaik untuk anaknya, seperti memasukkan anak dalam AuBuat fasilitas sendiri itu ga banyak mbak, kan ini kebetulan ada komunitas anak disabilitas yang di Sidoarjo. Di situ dilihat anaknya gimana sukanya apa. Kebetulan Naomi ini anaknya suka lihat youtube terus buka video-video cara jalan yang baik Nah dari situ saya mikir Auoh anak ini suka nya model, jalan sini sanaAy ya sudah pada akhirnya saya latih sendiri di rumah dan alhamdulillah nya dia ikut lomba fashion juara 3 di kabupaten waktu hari disabilitas. Buat yang nari kebetulan ada gurunya sendiri yang dari komunitas itu jadi di latih sama beliau dan alhamdulillah juga sempat ikut lomba sampe di kirim ke Jakarta. Tapi ya gitu kadang kalau ga menang dia suka ngomel sendiri kenapa ga menang. Au B) Recreation (Kemampuan dalam mendukung kebutuhan rekreasi ana. Dalam mendukung kebutuhan rekresasi anak subjek N mampu untuk memberikan kebutuhan rekreasi anak dengan baik, seperti membantu anak dalam berteman dengan temannya kemudian sering ikut kegiatan anak ketika di dalam sekolah ataupun di luar sekolah. Auini saya bener-bener bersyukur sekali terutama buat teman-temannya Naomi, kan ini Naomi sekolahnya di inklusi dari SD-SMP otomatis harus bergabung dengan anakanak normal pada umumnya. Bersyukurnya kenapa? Soalnya teman-temannya Naomi ini mendukung Naomi, bantuin Naomi kalau lagi di kelas. Kan tante juga jadi shadownya Naomi di sekolah jadi mau gamau ya harus nemenin naomi tapi itu Cuma sampe kelas setelahnya sudah tak tinggal. Teman-temannya Naomi juga dukung kalau dia mau lomba kayak Ausemangat ya Naomi lombanyaAy. Naomi ini juga kan ikut lombanya ga yang dari sekolah aja ya, maksudnya sekolah mengirimkan Naomi tapi Naomi tante ajak juga untuk bisa mengikuti lomba di luar sekolah dan selalu saya temaniAy C) Discipline (Kemampuan dalam menentukan aturan dan disiplin bagi ana. Kemampuan subjek N untuk bisa mendisplinkan anak dalam hal belajar maupun kegiatan sehari-harinya masih belum bisa dilakukan, dikarenakan keterbatasan disabilitas anak yaitu ADHD yang cenderung lebih aktif dan sulit untuk dikondisikan Prosiding PsychoNutrition Vol. 01 No. 1 Desember 2024 Au Susah ya mbak ,soalnya kan ini anaknya aktif banget jadi kadang disuruh ngerjakan tugas di meja terus dia ngelihat apa sudah langsung pergi gitu aja. Saya gitu juga masih sering nanyain ada tugas atau tidak, kalau ga ingatkan kayak gitu ya ga dikerjakan sama dia. Ay D) Nurturance (Kemampuan dalam memahami kondisi emosi ana. Subjek N mampu untuk memahami kondisi emosi anak, terlebih lagi jika anak sedang latihan untuk lomba dan sering mengeluh capek. Subjek N selalu open terhadap anak ketika anak bercerita mengenai kegiatan yang dilakukan. Au Sering ngeluh capek kalau lagi latihan, terus saya ngomong Aumi ini yang mau naomi, istirahat dulu sebentar gapapa setelah itu lanjut lagiAy Dia juga sering cerita kalau misal ga menang lomba selalu tanya selalu ngomong Auoh iya tadi aku salah di gerakan ini maAy ya tante dengarkan sambil ngasih semangat juga ke anaknyaAy E) Health (Kemampuan untuk menjaga kesehatan fisik ana. Kemampuan subjek N untuk melatih anak menjaga kebersihan diri sendiri maupun lingkungan sudah cukup baik. Untuk jam tidur yang diterapkan juga cukup baik AuAlhamdulillah anaknya sudah bisa buat mandi sendiri, cuci piring sendiri tapi masih susah kalau disuruh buat nyapu ngepel itu masih belum mau. Dia sering ngelihat video-video youtube itu buat latihan jalannya atau gerakan gitu kan sampe malam ya mbak, tapi kalau udah masuk jam 10 selalu saya ingatkan dan hp tak ambil biar anaknya tidurAy Subek H A) Achievement (Kemampuan dalam memberikan fasilitas pencapaian anak di Dalam hal ini Subjek H terlalu banyak memberikan fasilitas kepada anak, dikarenakan anak yang sudah semakin besar dan semakin paham mana yang perlu dia ambil atau AuIya dia kan suka nyanyi-nyanyi sendiri, terus saya coba bawakan guru vokal gaada 6 bulan mbak sama guru vokalnya terus latihan sendiri. Akhirnya sering ikut-ikut lomba dan alhamdulillah pernah menang tingkat kabupaten itu terakhir SMP. Sekarang udah besar mbak jadi gamau kalau buat lomba, soalnya kalau lomba kadang dapet piala, nah sekarang dia lebih suka kalau dapet panggilan dari orang buat nyanyi terus ada Jadi dia sudah mulai paham mana yang dia mauAy B) Recreation (Kemampuan dalam mendukung kebutuhan rekreasi ana. Kemampuan subjek H untuk memberikan dukungan akan kebutuhan rekreasi anak juga cukup baik, akan tetapi subjek merasa kesulitan untuk membantu anak dalam hal berkomunikasi dengan teman sebaya nya AuSelain nyanyi juga dulu sempat nyoba biola tak ikutkan lesnya, terus kan ga mungkin juga kan buat beli biolanya jadi akhirnya berhenti. Saya fokuskan ke nyanyi saja. Ini anaknya sekolah di SLB yang notabennya semua disabilitas apa saja ada, nah sulitnya disini dia semakin gamau ngomong padahal sudah kita terapi wicara. Tapi melihat teman-temannya tga ngomong dia ikut ga ngomong. Sebisa mungkin dirumah kita masih tetap melatih anak untuk bisa berkomunikasi dengan mengeluarkan suara, eman soale udah di terapi wicaraAy C) Discipline (Kemampuan dalam menentukan aturan dan disiplin bagi ana. Subjek H merasa bahwa anak sudah mampu untuk melakukan kegiatan tiap harinya dengan baik, jika ada tugas langsung dikerjakan. Subjek jarang untuk memarahi anak ketika anak tidak melakukan kegiatan yang dilakukan dengan baik, karena subjek mengetahui batas kemampuan anak AuUntuk tugas sehari hari yang diberikan di sekolah udah langsung dikerjakan sendiri tanpa saya suruh. Dia juga pernah tatsk ikutkan angklung ya itung-itung bisa buat Syafiqoh. Fithri. Kusumawati. Gambaran Parenting Self-Efficacy. nambah bakat minatnya dia tapi ternyata dia ga tertarik disitu dan akhrinya tidak saya lanjutkanAy D) Nurturance (Kemampuan dalam memahami kondisi emosi ana. Subjek H sudah tau apa yang diinginkan anaknya, subjek H tidak terlalu memaksakan anak untuk bisa melakukan setiap kegiatan yang diberikan. AuYa kayak itu tadi , anaknya sekarang udah gamau buat ikut lomba lagi karna kadang menang terus kalah, kalau menang dapet piala sama uang kalau kalah ga dapet apaapa. Nah tapi kalau diundang dia bisa mendaptatkan uang, jadi dia lebih milih buat manggung, tampil dimana yang bisa menghasilkan uang. Dia sudah tau mbak kalau kayak gitu, mungkin juga sudah semakin besar makin paham. Saya juga gamau memaksa anaknyaAy E) Health (Kemampuan untuk menjaga kesehatan fisik ana. Subjek H memberikan terapi makan pada anak, yang dimana hal ini dilakukan dari anak sudah di diagnosa autis dan terapi ini dilakukan sampai umur 7 tahun. Karena subjek H merasa jika sudah 7 tahun anak sudah paham akan apa yang diinginkan. Anak sudah mampu secara mandiri untuk mandi, mencuci piring kotor. AuIya dulu sempat terapi makan, jadi diatur makannya yang gabole tepung lah apa lah kayak gitu, tapi itu Cuma sampe umur 7 tahun kayaknya setelah itu dia udah gamau Sudah bisa buat mandi sendiri terus tak kasih kebiasaan buat cuci piring setelah makanAy Subjek D A) Achievement (Kemampuan dalam memberikan fasilitas pencapaian anak di Kemampuan Subjek D dalam pemberian fasilitas kepada anak untuk mengasah bakat minat yang dimiliki cukup baik. Lingkungan sekolah maupun yayasan disabilitas juga mendukung potensi anak. AuSaya cari tau dulu anaknya ini suka apa, sempet didatangkan guru mewarnai ke rumah tapi ternyata dia terlalu tertarik. Sampe akhirnya tau nih kalau bakatnya di nari, akhirnya ketika berada di yayasan bakat minat yang di asah itu menarinya, latihan seminggu 2 kali. Alhamdulillah kemarin menang juara 3 tingkat kabupaten. Sekarang ini lagi ikut PMB nari remo juga. Mama senang di sekolah anak yang memang SLB khusus tunarungu sangat memberikan dukungan kepada anak, ketika anak ada lomba atas nama sekolah di bantu dalam hal kostum kemudian pengajar narinya di bantu semua oleh sekolahAy B) Recreation (Kemampuan dalam mendukung kebutuhan rekreasi ana. Subjek D merupakan orang tua yang selalu mendampingi anak dalam setiap kegiatan. Subjek merasakan bahwa anak lebih baik bersekolah di SLB khusus tunarungu tidak di sekolah inklusi, selalu ikut kegiatan anak mau itu perlombaan, tampilan atau latihan. Au Mama selalu ngikutin kegiatannya, apalagi kalau angklung ya itu orang tua harus ikutt mendampingi kalau tampil. Lomba dimana take video dimana mama selalu Bersyukur bisa sekolah di SLB tunarungu disitu anaknya nyaman dan komunikasi juga gampang. Kalau buat anak-anak normal dia bisa tapi lebih nyaman sesama tunarungu, mungkin lebih paham yaAy C) Discipline (Kemampuan dalam menentukan aturan dan disiplin bagi ana. Subjek D merasa bahwa anak sudah memiliki tanggung jawab terhadap tugas, terkadang masih perlu dibimbing jika kesusahan dalam mengerjakan tugas. Subjek D bukan tipe orang tua yang memarahi anaknya jika melakukan kesalahan. AuAnaknya sudah bisa mandiri kalau belajar apalagi kalau ada pr, tapi ya gitu kalau pr nya lupa ga dikerjakan di malamnya pas paginya harus ngebut. Mama juga bukan tipe orang tua yang marahi jadi kalau anaknya ngelakuin kesalahan Cuma mama tegur ga sampe marah-marah, apalagi kalau lagi latihan kayak gitu sudah mama pasrahkan ke gurunyaAy Prosiding PsychoNutrition Vol. 01 No. 1 Desember 2024 D) Nurturance (Kemampuan dalam memahami kondisi emosi ana. Kemampuan subjek D dalam memahami kondisi emosi anak cukup baik, dengan cara mendengarkan anak bercerita ketika selesai pulang sekolah, setelah berkegiatan, serta memberikan waktu istirahata kepada anak jika anak sudah merasa kelelahan dalam melakukan latihan atau belajar AuDari dulu emang sudah dibiasakan di keluarga ini setelah melakukan kegiatan dalam sehari pasti bercerita jadi pasti cerita anaknya. Terkadang kalau dia lagi latihan atau take video buat lomba dan sudah ngerasa capek mama suruh istirahat dulu dan dilanjut nantiAy E) Health (Kemampuan untuk menjaga kesehatan fisik ana. Subjek D mengatakan bahwa anak tidak rewel dalam hal makanan, untuk jam tidur sudah tau kapan harus tidur. Mampu untuk mandi sendiri dan cara orang tua menjelaskan mengenai kebersihan lingkungan dengan mencontohkan membuang sampah pada PEMBAHASAN Tugas pengasuhan yang dimiliki oleh orang tua terutama ibu dari anak berkebutuhan khusus tentu berbeda dari ibu yang memiliki anak normal (Nuraini Isnanidiyanti & Saloko, 2. Pada orang tua anak berkebutuhan khusus, parenting selfefficacy merupakan suatu hal yang penting, dengan parenting self-efficacy yang kuat orang tua tidak hanya meningkatkan kesejahteraan anak, akan tetapi mereka bisa menciptakan lingkungan yang mendukung bakat dan minat anak secara penuh, terlebih pada anak berkebutuhan khusus yang memiliki bakat (Asiyadi & Jannah, 2. Namun, dengan adanya perbedaan karakteristik dari disabilitas yang dimiliki anak tentunya pengasuhan yang diberikan berbeda karena menyesuaikan kemampuan dan bakat minat yang dimiliki anak. Penelitian ini berfokus pada bagaimana parenting self-efficacy orang tua dengan anak berkebutuhan khusus yang berprestasi, ditinjau dari berbagai jenis disabilitas yang ada pada anak dan dampak bagi anak berkebutuhan khusus yang berprestasi. Temuan yang dilakukan oleh (Novita & Siswati, 2. menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi tingginya parenting self-efficacy terutama orang tua anak berkebutuhan khusus yaitu usia anak, dukungan sosial . ingkungan kelurga/sekola. , komunitas/proram edukasi pengasuhan yang rutin diikuti oleh ibu. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan kepada ketiga subjek bahwasannya dengan perbedaan usia yang dimiliki anak dan semakin tambah dewasa anak akan membuat mereka jadi tidak tertarik untuk melakukan hal-hal yang baru, terutama pada anak autis yang dimana mereka memiliki perilaku minat terbatas yang berulang-ulang akan dia lakukan dan disukai (Fatihah, 2. Dalam hal dukungan sosial dari keluarga ataupun sekolah ketiga subjek merasa cukup berpengaruh terhadap parenting self-efficacy yang diberikan kepada anak. Dimana keluarga selalu mendukung dan memberikan semangat kepada anak ataupun orang tua. Komunitas ataupun perkumpulan orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus sangatlah penting, ketika orang tua yakin terhadap pengasuhan yang diberikan kepada anak dengan mengikuti komunitas yang ada disitu parenting self-efficacy akan lebih tinggi (Rachmahana, 2. Ketiga subjek diatas sudah melakukan hal tersebut dengan baik, mereka mengikuti komunitas perkumpulan orang tua anak abk di Sidoarjo yang dimana menjadi wadah untuk orang tua berbagi informasi terkait hal anak, dan anak mendapatkan wadah untuk bersosialisasi dan mengeksplor minat bakat yang dimiliki mereka, karena dalam komunitas tersebut dapat mengasah dan membantu anak untuk mencapai minat bakat yang diinginkan. Syafiqoh. Fithri. Kusumawati. Gambaran Parenting Self-Efficacy. Berdasarkan hasil penelitian dapat ditemukan bahwa subjek N,H,dan D telah mencakup seluruh aspek dari parenting self-efficacy, aspek-aspek tersebut yaitu achievement, recreation, discipline, nurturance, dan health. Aspek achievement merupakan aspek yang dimana orang tua mampu untuk memberikan fasilitas terhadap anak untuk bisa mencapai target harapan yang diinginkan. Apabila dikaitkan dengan hasil penelitian menemukan bahwa subjek N dan Subjek D mampu memberikan fasilitas terbaiknya untuk di anak hingga saat ini, akan tetapi pada subjek H tidak memberikan fasilitas kepada anak hingga saat ini dikarenakan umur anak yang semakin dewasa, maka semakin paham dengan apa yang harus diambil, yang butuh bagi diri mereka sendiri. Pada aspek recreation yang dimana orang tua mampu untuk mendukung kebutuhan rekreasi anak seperti berteman dengan teman sebaya, mengikuti kegiatan perlombaan anak diluar sekolah ataupun dalam sekolah. Dikaitkan dengan hasil penelitian menemukan bahwa subjek N. H, dan D mampu untuk menjalankan tugas tersebut dengan baik. Mereka senang dan selalu mendampingi, mendukung segala kegiatan yang dilakukan anak terutama ketika lomba. Berikutnya dalam aspek discipline, dimana ketika orang tua harus bisa memberikan tanggung jawab dan aturan kepada anak. Apabila dikaitkan dengan hasil penelitian yang dilakukan pada subjek N. H, dan D sudah cukup tegas dan memberikan rasa tanggung jawab terhadap minat ataupun bakat yang anak lakukan. Selanjutnya pada aspek nurturance dimana orang tua mampu untuk peka dalam kondisi anak. Dari hasil penelitian menemukan bahwa ketiga subjek sudah mampu untuk bisa memahami kondisi anak, terlebih lagi ketika anak harus latihan atau mengikuti perlombaan yang disukai. Aspek yang terakhir merupakan aspek health, dimana orang tua harus bisa memberikan nutrisi atau gizi terbaik pada anak. Dari hasil penelitian menemukan bahwa ketiga subjek sudah mampu untuk memberikan nutrisi dan gizi yang baik untuk anak, mampu untuk mengontol makanan dan juga kesehatan diri sendiri ataupun lingkungan. Perbedaan karakter dan kelainan pada anak berkebutuhan khusus (ABK) seharusnya tidak menjadi alasan untuk menganggap mereka tidak memiliki potensi, minat atau bakat yang unik. Pada dasarnya, setiap individu termasuk anak berkebutuhan khusus memiliki minat bakat yang unik. Mereka juga memili hak yang setara dengan anak-anak lain untuk berkembang serta meraih prestasi sesuai kemampuan dan minat yang mereka miliki (Yuniatari & NaAoimah, 2. Orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus tentu tidak memaksa anak dalam kemampuan akademik, namun orang tua mampu untuk mengasah kemampuan anak dalam minat bakat yang dimiliki. Hal ini dilakukan oleh para orang tua terutama dari ketiga subyek yang diwawancarai menyatakan bahwa dengan mengasah kemampuan yang dimiliki anak, mampu untuk memberikan wawasan pada masyarakat bahwsannya anak berkebutuhan khusus juga mampu untuk menciptakan sebuah prestasi. Dorongan dan dukungan dari lingkungan sekitar dapat memberikan penghargaan, dimana anak merasa diharagai, termotivasi dan berusaha untuk bisa meningkatkan kembali hal-hal yang sudah dimiliki (Fara & Fithria, 2. Dari kelima aspek yang telah dipaparkan diatas, tentu setiap orang tua memiliki keyakinan berbeda terhadap gaya pengasuhan yang diberikan kepada anak, terlebih lagi kepada anak berkebutuhan khusus dengan karakteristik yang berbeda-beda. Terlihat pada aspek discipline yang dimana orang tua dengan anak disabilitas ADHD tidak banyak memberikan aturan kepada anak dalam hal berlatih maupun tugas sekolah, hal ini dilakukan karena orang tua merasa kesulitan untuk mengatur anak yang lebih aktif dari anak pada umumnya. Hal ini merupakan salah satu karakteristik anak ADHD yang memiliki perilaku aktif atau tidak dapat berkonsentrasi terhadap tugas atau suatu kondisi yang diberikan (Triwianti, 2. Terdapat perbedaan pada aspek health dimana orang tua anak autis memberikan makan kepada anak dengan pola makan yang benar karena hal ini merupakan salah satu terapi yang dilakukan pada anak autis. Terapi diet yang Prosiding PsychoNutrition Vol. 01 No. 1 Desember 2024 dilakukan ini dapat mengurangi perilaku anak autis dan tetap menjaga tubuh anak agar tetap optimal (Rukiyah et al. , 2. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek N. H, dan D memiliki tingkat parenting self-efficacy yang baik dalam berbagai aspek. Meskipun terdapat perbedaan dalam cara masing-masing subjek memberikan dukungan, semua subjek menunjukkan komitmen yang kuat dalam mendukung perkembangan anak. Hal ini menunjukkan bahwa parenting self-efficacy yang tinggi dapat berkontribusi pada keberhasilan anak, baik dalam pencapaian akademis maupun dalam aspek sosial dan Penelitian ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana orang tua dapat beradaptasi dengan kebutuhan anak seiring dengan pertumbuhan mereka dan pentingnya dukungan yang holistik dalam pengasuhan anak. KESIMPULAN DAN SARAN Parenting self-efficacy merupakan faktor penting dalam pengasuhan anak berkebutuhan khusus. Meningkatkan PSE dapat membantu orang tua untuk lebih efektif dalam mendukung perkembangan dan prestasi anak. Dukungan dan sumber daya yang tepat dapat meningkatkan PSE orang tua, yang pada gilirannya berdampak positif pada Walaupun terdapat perbedaan dari beberapa aspek terkait parenting self-efficacy orang tua pada anak berkebutuhan khusus yang disebabkan oleh perbedaan karakteristik di setiap disabilitas yang dimiliki anak, tidak mematahkan semangat orang tua untuk bisa terus mengasuh dan mendidik anak dengan baik agar bisa meraih suatu prestasi yang Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar peneliti memprioritaskan pembangunan hubungan dengan subjek sebelum melakukan wawancara, sehingga kualitas data yang diperoleh meningkat dan mendukung validitas hasil penelitian. DAFTAR PUSTAKA