Vol 5. No 2. Oktober 2025, p. e-ISSN: 2777-0346 | p-ISSN: 2777-0354 https://doi. org/10. 52364/synergy. SYNERGY Jurnal Bisnis dan Manajemen RESEARCH ARTICLE OPEN ACCESS Peran Usaha Industri Kecil Pangan Terhadap Pengembangan Wilayah di Kecamatan Tuah Madani Kota Pekanbaru Yasser Hamidi1*. Trisla Warningsih2,Dahlan Tampubolon3 Program Studi Magister Perencanaan Wilayah dan Perdesaan Universitas Riau Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau *Correspondent email: yasser. hamidi@gmail. Diterima: 26 Juni 2. Disetujui: 30 Oktober 2025 | Disetujui: 31 Oktober 2025 Abstract. This study aims to analyze the influence of production factors . orking capital, labor, raw materials, and technolog. on the production output of small food industries and to analyze the role of small food industries in regional development in Tuah Madani District. Pekanbaru City. The research method used a quantitative approach with Cobb-Douglas multiple regression analysis to answer the first objective, while the second objective was analyzed using the Location Quotient (LQ) and multiplier effect methods. The research population consisted of 138 small food industry units in Tuah Madani District. A sample of 58 businesses was selected using the Slovin formula with a significance level of 10% and purposive sampling technique. The results showed that the four production factors simultaneously had a significant effect on production output with an F-value of 386. 502 and a significance level of 0. The regression model formed had excellent predictive power with an RA value 7%, meaning that 96. 7% of the variation in production output could be explained by the variables of working capital, labor, raw materials, and technology. Partially, raw materials have the most significant influence with a coefficient of 0. 635 and a t-value of 7. 515, followed by technology with a coefficient of 0. 139 and a t-value of 3. The Location Quotient analysis shows a value of 2. indicating that the small food industry is a base sector in Tuah Madani District. The multiplier effect analysis produced a value of 4 for the income multiplier and employment multiplier, indicating a significant multiplier effect on the regional economy. Small-scale food industries have proven to play an important role in regional development through the absorption of local labor . 7% of whom are wome. , increased community income, and the creation of an economic multiplier effect that influences other economic sectors. Keywords: Small-Scale Food Industries. Regional Development. Production Factors PENDAHULUAN Pembangunan wilayah merupakan suatu proses perbaikan yang berkesinambungan atas suatu masyarakat atau sistem sosial secara keseluruhan menuju kehidupan yang lebih baik atau lebih manusiawi (Adisasmita. Menurut Siagian . , pembangunan wilayah harus dipandang sebagai proses multidimensional yang melibatkan perubahan mendasar dalam struktur sosial, sikap masyarakat, dan institusi nasional, di samping akselerasi pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks modern, pembangunan wilayah tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek sosial, lingkungan, dan keberlanjutan. Pembangunan wilayah yang berhasil harus didasarkan pada pendekatan yang mengintegrasikan potensi sumber daya lokal, kapasitas masyarakat setempat, serta kearifan lokal sebagai fondasi utama (Nugroho & Dahuri, 2. Industri kecil dan menengah (IKM) memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi daerah, terutama karena kemampuannya dalam menyerap tenaga kerja yang besar dan ketahanannya terhadap krisis Hal ini terbukti pada saat krisis ekonomi 1998, dimana IKM mampu bertahan dari keterpurukan yang dialami oleh perusahaan besar lainnya (Ratnasari, 2. Bahkan jumlah IKM tersebut semakin meningkat setelah terjadinya krisis, menunjukkan resiliensi sektor ini terhadap guncangan ekonomi. Industri kecil pangan sebagai bagian dari IKM memiliki karakteristik khusus yang menjadikannya sebagai sektor yang menarik untuk dikaji. Sektor ini memiliki peran penting dalam menyediakan produk makanan yang terjangkau bagi masyarakat, menyerap tenaga kerja, serta mendukung pertumbuhan ekonomi Menurut data Yenita dalam Birny . , di Indonesia terdapat sebanyak 1,68 juta unit usaha dalam http://synergy. SYNERGY Jurnal Bisnis dan Manajemen Vol 5. No 2. Oktober 2025, p. e-ISSN: 2777-0346 | p-ISSN: 2777-0354 https://doi. org/10. 52364/synergy. subsektor IKM pangan yang memberikan sumbangan sebesar 1,33% terhadap PDB nasional pada kuartal kedua Kecamatan Tuah Madani di Kota Pekanbaru menjadi salah satu sentra industri kecil pangan yang menarik untuk dikaji. Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian Kota Pekanbaru, terdapat 138 unit usaha industri kecil pangan yang tersebar di berbagai kelurahan di kecamatan ini. Keberadaan industri kecil pangan di Kecamatan Tuah Madani tidak hanya memberikan manfaat ekonomi langsung bagi pelaku usaha, tetapi juga menciptakan efek pengganda . ultiplier effec. bagi perekonomian wilayah secara keseluruhan. Era otonomi daerah yang memberikan implikasi kepada daerah untuk merencanakan sendiri pembangunan di daerahnya, menjadikan posisi IKM sangat penting untuk mewujudkan pengembangan perekonomian daerah dan pemberdayaan masyarakat (Setyawati, 2. Dalam konteks ini, pemahaman yang mendalam tentang peran industri kecil pangan terhadap pengembangan wilayah menjadi sangat penting untuk merumuskan kebijakan pembangunan yang tepat sasaran. Tujuan dari penelitian ini mengetahui pengaruh faktor-faktor produksi . odal kerja, tenaga kerja, bahan baku, dan teknolog. terhadap hasil produksi usaha industri kecil pangan di Kecamatan Tuah Madani Kota Pekanbaru. Bagaimanakah peran usaha industri kecil pangan terhadap pengembangan wilayah di Kota Pekanbaru khususnya di Kecamatan Tuah Madani. METODE PENELITIAN Populasi dan Sampel Populasi penelitian adalah 138 usaha industri kecil pangan di Kecamatan Tuah Madani. Sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat signifikansi 0,1, sehingga diperoleh 58 sampel yang terdiri dari industri produk roti dan kue . , industri kerupuk dan peyek . , industri makanan olahan . , industri kue basah . , dan industri bumbu masak . Teknik Penarikan Sampel Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Lokasi penelitian adalah Kecamatan Tuah Madani. Kota Pekanbaru, yang dipilih secara purposive dengan pertimbangan bahwa lokasi ini merupakan salah satu sentra industri kecil pangan di Kota Pekanbaru. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Desember 2024. Data yang digunakan meliputi data primer yang diperoleh melalui wawancara dengan responden, dan data sekunder dari berbagai sumber seperti BPS dan Dinas Perindustrian. Variabel yang dianalisis mencakup hasil produksi (Y) sebagai variabel dependen, serta modal kerja (X. , tenaga kerja (X. , bahan baku (X. , dan teknologi (X. sebagai variabel independen. Analisis Data Fungsi produksi Cobb-Douglas dipilih karena kemampuannya dalam menganalisis kontribusi setiap faktor produksi dan telah banyak digunakan dalam kajian ekonomi produksi (Karmini, 2. , dengan model Log Y = Log bCA bCA Log XCA bCC Log XCC bCE Log XCE bCE Log XCE A Untuk menganalisis peran industri kecil pangan terhadap pengembangan wilayah, digunakan analisis Location Quotient (LQ) dan multiplier effect. Analisis LQ digunakan untuk menentukan apakah industri kecil pangan merupakan sektor basis atau non-basis di Kecamatan Tuah Madani (Sjafrizal, 2. , sedangkan multiplier effect mengukur dampak ekonomi dari industri kecil pangan terhadap perekonomian wilayah secara HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Karakteristik Berdasarkan Usia Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Usia Kelompok Usia Frekuensi 21-30 tahun 31-40 tahun 41-50 tahun 51-60 tahun Total Persentase 13,8% 20,7% 39,7% 25,9% http://synergy. SYNERGY Jurnal Bisnis dan Manajemen Vol 5. No 2. Oktober 2025, p. e-ISSN: 2777-0346 | p-ISSN: 2777-0354 https://doi. org/10. 52364/synergy. Mayoritas responden berada pada kelompok usia 41-50 tahun . ,7%), diikuti kelompok usia 51-60 tahun . ,9%). Hal ini menunjukkan bahwa industri kecil pangan lebih banyak dijalankan oleh pengusaha yang berada pada usia produktif pertengahan. Kelompok usia ini umumnya memiliki pengalaman, keterampilan, dan modal yang memadai untuk menjalankan usaha. Hal ini sejalan dengan karakteristik UMKM pangan di Indonesia yang umumnya dikelola oleh perempuan dengan orientasi pada pemberdayaan ekonomi keluarga (Firmansyah, 2. Karakteristik Berdasarkan Jenis Kelamin Berdasarkan karakteristik usia, sebagian besar responden . ,7%) berada pada kelompok usia 41-50 tahun, diikuti oleh kelompok usia 51-60 tahun . ,9%), 31-40 tahun . ,7%), dan 21-30 tahun . ,8%). Dari segi jenis kelamin, mayoritas responden adalah perempuan . ,7%) dan sisanya laki-laki . ,3%). Dominasi perempuan dalam industri kecil pangan terkait dengan keterampilan dalam mengolah makanan dan fleksibilitas usaha yang memungkinkan untuk tetap mengurus rumah tangga. Dari segi lama usaha, mayoritas usaha . ,1%) telah berdiri lebih dari 10 tahun, menunjukkan bahwa sebagian besar usaha cukup mapan dan memiliki keberlangsungan yang baik. Kelompok terbanyak kedua adalah usaha yang telah berdiri selama 7-9 tahun . ,4%), diikuti dengan usaha yang berdiri 1-3 tahun . ,3%) dan 4-6 tahun . ,2%). Pengaruh Faktor-Faktor Produksi terhadap Hasil Produksi Hasil analisis regresi berganda dengan model Cobb-Douglas menunjukkan persamaan sebagai berikut: Log Y = 1,895 0,043 Log XCA 0,104 Log XCC 0,657 Log XCE 0,223 Log XCE Nilai koefisien determinasi (RA) sebesar 0,967 menunjukkan bahwa 96,7% variasi hasil produksi dapat dijelaskan oleh variabel modal kerja, tenaga kerja, bahan baku, dan teknologi, sedangkan sisanya 3,3% dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Hasil uji F menunjukkan nilai F hitung sebesar 386,502 dengan signifikansi 0,000 (< 0,. , yang berarti variabel modal kerja, tenaga kerja, bahan baku, dan teknologi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap hasil produksi. Namun, hasil uji t menunjukkan bahwa secara parsial, hanya variabel bahan baku . oefisien 0,. dan teknologi . oefisien 0,. yang berpengaruh signifikan terhadap hasil produksi. Elastisitas bahan baku sebesar 0,657 menunjukkan bahwa jika penggunaan bahan baku meningkat sebesar 1% dengan asumsi variabel lain konstan, maka hasil produksi akan meningkat sebesar 0,657%. Koefisien ini memiliki nilai terbesar dibandingkan variabel lainnya, yang mengindikasikan bahwa ketersediaan dan penggunaan bahan baku menjadi faktor paling krusial dalam menentukan tingkat produksi industri kecil pangan. Hal ini sesuai dengan teori manajemen produksi yang menyatakan bahwa bahan baku merupakan input utama dalam proses produksi yang menentukan kualitas dan kuantitas output (Nuraini, 2. Elastisitas teknologi sebesar 0,223 menunjukkan bahwa jika penggunaan teknologi meningkat sebesar 1% dengan asumsi variabel lain konstan, maka hasil produksi akan meningkat sebesar 0,223%. Artinya, penerapan teknologi yang lebih maju dalam proses produksi akan berdampak positif terhadap peningkatan output industri kecil pangan. Penelitian Gusriyana . juga menemukan bahwa teknologi berpengaruh signifikan terhadap produktivitas UMKM, dimana peningkatan penggunaan teknologi akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses produksi. Peran Industri Kecil Pangan terhadap Pengembangan Wilayah Hasil analisis Location Quotient (LQ) menunjukkan nilai LQ industri kecil pangan di Kecamatan Tuah Madani sebesar 2,54. Nilai LQ > 1 mengindikasikan bahwa industri kecil pangan merupakan sektor basis di Kecamatan Tuah Madani, yang mampu memenuhi kebutuhan wilayah tersebut dan berpotensi untuk diekspor ke wilayah lain. Menurut Sjafrizal . , sektor dengan nilai LQ lebih dari 1 menunjukkan bahwa sektor tersebut memiliki keunggulan komparatif dan menjadi penggerak utama perekonomian wilayah. Analisis multiplier effect menunjukkan bahwa output multiplier sebesar 186,8, artinya setiap peningkatan Rp 1 output industri kecil pangan akan menghasilkan peningkatan total output wilayah sebesar Rp 186,8. Income multiplier sebesar 4 mengindikasikan bahwa setiap Rp 1 peningkatan pendapatan di industri kecil pangan akan menghasilkan tambahan pendapatan wilayah sebesar Rp 4 melalui efek pengganda. Employment multiplier juga sebesar 4, artinya setiap 1 tenaga kerja tambahan di industri kecil pangan akan menciptakan total 4 lapangan kerja di wilayah Kecamatan Tuah Madani secara keseluruhan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Rahmani et . yang menemukan bahwa industri kecil memiliki dampak multiplier yang signifikan terhadap perekonomian lokal di Kabupaten Sidoarjo. Selain itu, sebaran industri kecil pangan di Kecamatan Tuah Madani telah sesuai dengan arahan pemanfaatan ruang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Industri-industri tersebut berlokasi pada lahan yang memang dialokasikan untuk kegiatan industri kecil dalam RTRW dengan luas 25 Ha, sementara luas eksisting yang telah digunakan adalah 15 Ha. Ini menunjukkan bahwa pengembangan industri kecil pangan masih memiliki ruang yang cukup dan tidak bertentangan dengan perencanaan tata ruang. http://synergy. Vol 5. No 2. Oktober 2025, p. e-ISSN: 2777-0346 | p-ISSN: 2777-0354 https://doi. org/10. 52364/synergy. SYNERGY Jurnal Bisnis dan Manajemen Meskipun memiliki potensi besar, industri kecil pangan di Kecamatan Tuah Madani masih menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan akses permodalan, kurangnya standardisasi kualitas produk, keterbatasan pemasaran, dan persaingan dengan produk industri besar. Tantangan ini perlu diatasi untuk memastikan keberlanjutan usaha dan pengembangannya. Tantangan ini perlu diatasi untuk memastikan keberlanjutan usaha dan pengembangannya melalui pendampingan, pelatihan, dan akses pembiayaan yang lebih baik (Firmansyah. SIMPULAN Faktor-faktor produksi seperti modal kerja, tenaga kerja, bahan baku, dan teknologi memiliki pengaruh signifikan terhadap hasil produksi usaha industri kecil pangan di Kecamatan Tuah Madani. Bahan baku dan teknologi merupakan faktor yang paling berpengaruh secara parsial, dengan elastisitas masing-masing sebesar 0,657 dan 0,223. Usaha industri kecil pangan berperan penting dalam pengembangan wilayah Kecamatan Tuah Madani, dengan nilai LQ sebesar 2,54 yang menunjukkan bahwa industri ini merupakan sektor basis. Multiplier effect yang tinggi juga mengindikasikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian wilayah melalui penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan. DAFTAR PUSTAKA