vailable at http://ejournal. id/index. php/sastra P-ISSN 2337-7712 E-ISSN 2598-8271 Volume 8 No. 1, 2020 page 1-15 Article History: Submitted: 12-10-2019 Accepted: 05-12-2019 Published: 01-03-2020 FEMINISM OF WOMEN'S PESANTREN: HEGEMONY AND RELATIONSHIP FEMINISME PEREMPUAN PESANTREN: HEGEMONI DAN RELASI KUASA Ahmad Faizi Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia (S. Universitas Negeri Malang. Indonesia (UM) Email: afaizi77@yahoo. URL:https://ejournal. id/index. php/sastra/issue/view/157 DOI: https://doi. org/10. 32682/sastranesia. Abstract This study aims to uncover the feminism of pesantren women. The source of the data in this research is the linguistic data in the novel Perempuan Berkalung Sorban by Abidah El-Kholieqy. The data is collected by documentation method which is then analyzed using the theory of feminism and hegemony. The results of this study indicate that there has been a hegemony in the pesantren education environment, in the family environment, and in the community environment. The various hegemony is a form of vague injustice, so it needs a critical attitude to reveal it. Keywords: feminism, hegemony, boarding schools, women. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap Feminisme perempuan Sumber data dalam penelitian ini adalah data-data kebahasaan yang ada di dalam novel Perempuan Berkalung Sorban karya Abidah El-Kholieqy. Data-data dikumpulkan dengan metode dokumentasi yang kemudian dianalisis menggunakan teori feminisme dan hegemoni. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa telah terjadi hegemoni di lingkungan pendidikan pesantren, di lingkungan keluarga, dan di lingkungan masyarakat. Pelbagai hegemoni tersebut merupakan bentuk ketidakadilan yang samar, sehingga perlu sikap kritis untuk mengungkapnya. Kata kunci: feminisme, hegemoni, pesantren, perempuan. This is an open access article distributed under the Creative Commons 4. 0 Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. A2018 by author and STKIP PGRI Jombang Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 Pendahuluan Ada beberapa pihak yang enggan mendefinikan feminisme, terutama golongan yang tidak merasa nyaman dengan feminisme. Salah satu alasannya adalah karena mereka takut ketika feminisme didefinisika dan dipahami oleh banyak orang maka laki-laki akan kehilangan kejantanannya (Thomson, 2010:. Keengganan itu juga disebabkan karena feminisme tidak dianggap sebagai konsep dan teori ilmiah yang sistematis, melainkan hanya sekedar gerakan yang dipilih kaum perempuan karena menginginkan posisi tertentu di ranah domestik maupun publik. Di sisi lain, memahami feminisme tidak bisa terlepas dari aspek filosofis lahirnya, bahwa feminisme lahir karena semangat modernitas, kebebasan, dan Awal dari gerakan ini bermula dari agenda besar yang ada di eropa. Sehingga, ada istilah perempuan modern dan perempuan tidak modern, feminisme barat dan feminisme bukan barat. Dengan demikian, ada hubungan yang sangat rumit antara feminisme, modernitas, dan kolonialisme (Allen, 2013:. Pesantren sebagai sebuah institusi tidak terlepas dari persoalan perempuan. Selayaknya sebuah institusi, pesantren juga memiliki peserta didik peremuan. Selain itu, institusi keluarga yang dimili kiai Aisosok yang paling sentral di dalam pesantrenAi juga tidak mungkin terelakkan. Ada perempuan yang berperan sebagai isteri, dan ada yang berperan sebagai anak. Ada asumsi bahwa perempuan pesantren menjadi bagian yang hanya mengikuti sistem yang sudah berlaku cukup lama. Pilihan ini dianggap sebagai keharusanAisesuai doktrin yang ditanamkanAiuntuk kemulyaan perempuan. Kondisi ini memang sudah menjadi konvensi dan seolah memang dibutuhkan baik oleh kaum laki-laki maupun perempuan. Alhasil, perempuan yang demikian menunjukkan bahwa mereka sudah terhegemoni oleh kaum laki-laki. Sehingga, kaum feminisme yang menyadari terjadinya hal itu melakukan perlawan dengan berbagai cara, salah satunya adalah mengitik sistem pengajaran yang ada di pesantren, sistem kekeluargaan, dan sistem sosial budaya yang ada di lingkungan masyarakat pesantren. Hegemonidapat dimaknai sebagai kemenangan yang diperoleh oleh kelas sosial tertentu melalui mekanisme konsensus daripada melalui penindasan terhadap kelas sosial lainnya. Ada beberapa cara yang dapat digunakan dalam mencapai konsensus. Bagi Gramsci dalam Patria . , hegemoni melalui konsensus muncul melalui kometmen aktif atas kelas sosial yang secara historis lahir memiliki hubungan. Secara tidak langsung ada pengakuan tentang legitimasi ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS kelas atas . dari kelas bawah. Menurut Aminah . , pengakuan tersebut terjadi karena ada huubngan politis dan ideologis. Menyadari sudah terhegemoni, perempuan melakukan gerakan untuk terlepas dan bebas dari sistem yang membelenggu mereka itu. Gerakan itu kita kenal dengan istilah feminisme. Berbicara feminisme, tidak bisa kita abaikan bahwa semua itu tidak terlepas dari agenda modernitas Eropa. Tidak heran jika agenda-agenda feminisme lebih berkiblat kepada egenda besar itu, dengan mengabaikan keragaman budaya (Alle, 2013:. Sehingga, feminisme perempuan pesantren menjadi salah satu bentuk kajian yang perlu mendapat perhatian dengan perspektif yang berbeda. Pesantren sebagai konteks memiliki perbedaan latar belakang sosial budaya yang berbeda dengan dunia barat. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Sumber data berupa novel PBS karya Abidah. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik simak, dan catat. Analisis data pada penelitian kualitatif pada dasarnya dilakukan secara bersamaan dengan proses pengumpulan data yang dilakukan peneliti (Milles, 1992:. Penelitian tentang hegemoni dalam novel AuPerempuan Berkalung SorbanAy karya Abidah pernah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Salah satunya telah dilakukan oleh Muzakka. Penelitian yang berjudul AuPerjuangan Perempuan Melawan Hegemoni Patriarki: Kajian terhadap Novel Perempuan Berkalung Sorban Karya Abidah El-KhalieqyAy itu mendapat temuan bahwa perempuan pesantren telah berani melakukan perlawanan terhadap hegemoni kaum laki-laki. salah satu bentuk jegemoni yang terjadi di komunitas pesantren adalah anggapan bahwa perempuan sebagai manusia yang inferior (Muzakka, 2010:. Hasil dan Pembahasan Hegemoni Perempuan Pesantren di Lingkungan Pendidikan Sebagai seorang santri di pondok pesantren, perempuan akan dihadapkan pada sebuah sistem pembelajaran yang di dalamnya menggunakan kitab kuning sebagai refrensi utamanya. Beberapa kitab kuning yang mereka gunakan menerangkan berbagai hal yang berkaitan dengan problematika perempuan, termasuk masalah fikih dan akhlak. Dengan kata lain, berbagai petunjuk tentang STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 aktivitas santri perempuan yang berhubungan dengan pergaulannya dengan orang lain sudah diatur di dalam kitab tersebut. Hak-hak perempuan, kewajibankewajiban perempuan, dan penilaian baik dan buruknya perilaku perempuan, baik sebagai anak, ibu, istri, dan santri sudah ada aturannya yang tertulis di dalam kitab klasik tersebut. Selanjutnya perhatikan data berikut. Ustadz Ali mulai menyitir sebuah hadis AuPerempuan mana saja yang diajak suaminya untuk berjimak lalu ia menunda-nunda hingga suaminya tertidur, maka ia kan dilaknat oleh Allah. Ay Kemudian lanjutnya. AuPerempuan mana saja yang cemberut di hadapan suaminya, maka dia dimurkai Allah sampai ia dapat menimbulkan senyuman suaminya dan meminta keridhaannyaAy (PBS, 2012:79-. Kiai yang memiliki kuasa dan pengaruh di dalam tradisi pesantren, proses tersebut menjadi upaya mudah untuk menciptakan konsensus antara kiai dan Perempuan yang statusnya masih sebagai santri akan dengan mudah menerima berbagai hal yang disampaikan kiai, termasuk menerima bahwa perempuan harus selalu siap melayani suami. Walaupun, hak dan kewajiban perempuan yang disampiakn kiai tidak memenuhi azas kesetaraan. Hal itu merupakan praktik hegemoni di dunia pesantren yang ada pada novel PBS. Perempuan yang masih berstatus sebagai santri sudah mulai dikenalkan dengan bagaimana seharusnya menjadi seorang istri yang baik, menjadi anak yang baik, dan juga diajarkan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kriteria perempuan yang salihah. Meskipun hanya ikut mendengarkan, aku mulai berkenalan dengan Uqudullujain. Risylatul Mahidz. Akhlyqun-nisyAo. MarAoatus-shylihyt dan Akhlyqul-banyt, yang membicarakan tetek bengek soal perempuan, menstruasi, hubungan suami istri, tanda-tanda perempuan salehah dan lain sebagainya. Yang akhirnya kuketahui, bahwa kitab itulah yang selalu menjadi pegangan para santri, melebihi kitab fikih, al-QurAoan, atau hadis Nabi (PBS, 2012:. Dengan demikian, kemenangan hanya berpihak pada salah satu golongan. Kaum laki-laki sudah pasti menjadi pihak yang diuntungkan, karena perempuan yang sudah melalui proses konvensi dengan berbagai pesan yang ada di beberapa kitab klasik akan memuluskan keinginan kaum laki-laki untuk berkuasa tanpa pertentangan dari kaum perempuan. Sehingga, kaum perempuan hanya bisa menjadi sosok yang mematuhi apa yang menjadi keinginan dari tradisi dan budaya yang patriarki dan keinginan kaum laki-laki khususnya. Hal ini terjadi karena ada hubungan kuasa yang tidak seimbang antara kiai sebagai penyampai pesan dengan santri sebagai penerima pesan. ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS Di usia kalian seperti ini, remaja putri begitu mudah dan gampang untuk dipengaruhi, dibohongi dan dirayu oleh kebohongan-kebohongan cinta yang sengaja disusupkan oleh para kafirun itu. Untuk merusak akidah dan akhlak kalian. Kalian dicekoki dengan gambaran-gambaran hidup yang bebas tak kenal aturan. Jangan sampai kalian terpengaruh, nanti kalian akan terjerumus. Lebih bagus lagi jika kalian sama sekali tidak membaca buku-buku selain kitab pelajaran, apalagi nonton film. Ay (PBS, 2012: . Pelbagai pesan disampaikan oleh kiai. Dalam penyampaian pesannya, kiai terlebih dahulu merendahkan posisi santri perempuan dengan memberikan pernyataan bahwa santri yang mayoritas usia remaja masih mudah untuk dipengaruhi dan dibohongi. Tindakan yang dilakukan kiai ini merupakan salah satu strategi agar santri bisa menerima pesan yang disampaikan. Hal ini akan memuluskan konvensi bahwa santri perempuan sebagai sosok yang lemah, sehingga perlu memproteksi diri dari sesuatu yang dianggap merusak dan Pesan-pesan yang disampaikan kiai ditujukan untuk memproteksi santri perempuan dari informasi-informasi yang datangnya dari luar. Santri perempuan dilarang untuk menerima dan membaca buku dan menonton film yang dianggap hanya berisi kebohongan dan rayuan yang dapat merusak jati diri santri sebagai sosok yang memiliki aturan dan akhlak. Menariknya, santri perempuan di pondok pesantren hanya akan menerima informasi yang didapat dari kitab klasik yang memang sudah menjadi acuan utama. Tindakan yang dilakukan kiai hanya akan memelihara tradisi lama, yaitu perempuan yang pasif dan patuh. Sistem pengajaran yang menjadikan kitab kuning sebagai acuan utama. Berisi pesan-pesan yang dijadikan sebagai tolok ukur kehidupan dalam hubungan antar sesama dan hubungannya dengan sang pencipta. Yang harus menjadi perhatian adalah berbagai pesan yang terkandung menjadi konvensi yang ujungujungnya menguntungkan kaum laki-laki. Melalui sistem pengajaran pondok pesantren, perempuan dipersiapkan untuk menjadi sosok yang patuh dan pasif, tanpa ada kesempatan untuk bisa setara dengan kaum laki-laki. AuUlangi sekali lagi, lebih keras dan jelas!Ay perintah pak guru. AuBapak pergi ke kantor!Ay teriakku lantang kemudian terdiam. Aku berpikir sejenak kemudian bertanya. AyApa ke kantor itu termasuk urusan laki-laki. Pak Guru?Ay Pak guru terkejut. Aku juga ikut terkejut. Demikian juga temantemanku. AuBagaimana. Nisa? Apa yang kau tanyakan tadi?Ay (PBS, 2012: Berbagai pertanyaan menandakan ada doktrin sejak usia sekolah. Ada pernyataan-pernyataan yang meninggikan salah satu pihak dan melemahkan STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 pihak lain. Hal itu merupakan proses konsensus yang sengaja diciptakan oleh individu atau kelompok tertentu untuk mempertahankan dan menciptakan kemenangan salah satu pihak, yaitu kaum laki-laki. Nisa merupakan sosok siswa perempuan yang berani mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu dilakukan oleh teman-temannya. Tindakan yang dilakukan Nisa dinilai sebagai tindakan yang berani karena melawan tradisi. Selain itu, keberanian Nisa juga menjadi luar biasa ketika dia memprotes guru yang secara umum dianggap sebagai sosok yang memiliki kuasa yang lebih dibandingkan dengan Nisa yang masih berstatus sebagai siswa atau Sebagai santri perempuan yang tergolong masih anak-anak. Nisa sudah bisa berpikir tentang akibat dari suatu perbuatan. Hal ini menunjukkan bahwa dia sudah bisa berpikir bahwa perempuan tidak mungkin bisa menjadi orang yang sukses jika hanya dilatih untuk mengerjakan urusan domestik. Demikian juga dengan anak laki-laki, tidak mungkin bisa mendapat jaminan masa depan yang baik jika tidak ada upaya untuk mendapatkan. Dengan demikian, antara anak laki-laki dengan anak perempuan sama-sama memiliki kemungkinan untuk mendapat jaminan masa depan yang baik jika ada upaya yang jelas untuk . Kepada Mbak May aku bertanya, benarkah semua yang kudengar dari kitab itu? Ia tersenyum ragu-ragu dan mengangguk. Maka aku pun raguragu dan tak pernah mau mengangguk seperti dia dan siapapun. Sebelum haqqul yakin dengan kebenaran, aku tak mau mengangguk dan menjadi keledai, sekalipun keledai seorang syaikh atau imam besar (PBS, 2012:. Selain bersikap kritis. Nisa juga memiliki keberanian dan keteguhan di dalam mempertahankan keyakinan dan keinginannya. Berbagai pesan yang didapatkan dari kitab kuning masih patut dipertanyakan walaupun sebagian besar santri mempercayai dan meyakininya, karena mereka sudah terpengaruh dengan doktrin yang sudah berlangsung melalui kegiatan pengajaran yang ada di pondok Nisa sebagai perempuan yang teguh dan berani, tetap berupaya mencari jawaban terhadap keraguan-keraguannya. Selain melalui kitab kuning dalam pengajaran, praktik hegemoni juga terjadi di lingkungan pendidikan dengan memanfaatkan cerita tentang adat istiadat dan budaya nenek moyang. Guru menyampaikan bahwa laki-laki memiliki perbedaan kewajiban jika dibandingkan dengan perempuan. Konsep perbedaan kewajiban ini sudah berlangsung sejak dulu dan dipercaya oleh nenek moyang mereka. Cerita yang disampaikan oleh guru ditujukan untuk memengaruhi santri agar ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS juga mengikuti apa yang sudah dilakukan oleh nenek moyangnya. Hal ini merupakan salah satu bentuk konvensi yang terjadi antara murid dengan guru. Audalam adat istiadat kita, dalam budaya nenek moyang kita, seorang lakilaki memiliki kewajiban dan seorang perempuan juga memiliki Kewajiban seorang laki-laki, yang terutama adalah bekerja mencari nafkah, baik di kantor, di sawah, di laut atau di mana saja asal bisa medatangkan rezeki yang halal. Sedangkan seorang perempuan, mereka juga memiliki kewajiban, yang terutama adalah mengurus urusan rumah-tangga dan mendidik anak. Jadi, memasak, mencuci, mengepel, menyetrika, menyapu, dan merapikan seluruh rumah adalah kewajiban seorang perempuan. Demikian juga memandikan anak, menyuapi, menggantikan popok dan menyusui, itu juga kewajiban seorang perempuanAy (PBS, 2012:. Gambaran ketimpangan tugas laki-laki dengan perempuan digambarkan. Tugas kaum perempuan yang pertama adalah mengurus rumah tangga, seperti memasak, mengepel, menyetrika, menyapu, merapikan rumah. Sedangkan yang kedua adalah menyuapi, mendidik, menggantikan popok, dan menyusui anak. Gambaran perbedaan tugas tersebut merupakan salah satu bentuk diskriminasi yang terjadi terhadap perempuan. Bentuk diskriminasi ini terjadi karena adanya relasi kuasa yang tidak seimbang antara guru dengan santri yang ada di lingkungan pendidikan. Posisi guru yang sangat dihormati di lingkungan pendidikan memiliki potensi untuk memenangkan salah satu pihak dan membungkam pihak lain. Apabila seorang perempuan berkata kepada suaminya. Ceraikanlah aku! Maka ia akan datang pada hari kiamat nanti dengan muka tidak berdaging, lidahnya keluar dari kuduknya dan terjungkir di kerak jalanan, sekalipun siang hari dia bepuasa dan malam hari bangun shalat selamanyaAy (PBS, 2012:. Praktik hegemoni di lingkungan pendidikan juga terjadi dengan memanfaatkan ancaman terhadap perempuan. Pada data tersebut, kiai menyampaikan kutipan dari kitab klasik yang berisi ancaman. Ancaman yang disampaikan itu mendudukkan ketaatan seorang istri terhadap suami sebagai suatu hal yang mutlak. Sesuai dengan data tersebut, ibadah yang lain seperti puasa dan sholat tidak akan berarti penuh jika seorang istri masih tidak melakukan ketaatan kepada suaminya. Ancaman disampaikan dengan mengenyampingkan berbagai hal. Sebagian besar santri menerima pesan yang disampikan kiai tanpa dapat melakukan pertanyaan apalagi protes terhadap pesan yang sebetulnya sangat diskriminatif STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 Hal ini terjadi karena ada relasi kuasa yang tidak seimbang. Ancaman tersebut merupakan doktrin yang ada di lingkungan pendidikan. Doktrin tersebut merupakan proses konvensi yang pada akhirnya akan menguntungkan sebelah pihak dan melemahkan pihak yang lain. Selain itu, doktrin yang berasal dari kutipan kitab klasik juga menganggap memulyakan laki-laki jauh lebih penting dari dunia dan isinya. Selanjutnya perhatikan data berikut. AuSungguh, andai kata perempuan itu memiliki dunia seluruhnya dan ia membelanjakan semua hartanya untuk suaminya, kemudian ia mengungkit-ungkitnya sesudah waktu lama, maka Allah melebur amalnya dan ia akan dihalau bersama Qarun. Ay AuBahwasanya perempuan apabila tidak mau menghilangkan kesempitan suaminya, maka Allah TaAoala memurkainya dan semua malaikat akan turun dan memberi laknat kepadanya. Ay Berbagai ancaman yang berasal dari kutipan kitab kuning yang ada di dalam PBS selalu ditujukan kepada kaum perempuan. Sesuai dengan data di atas, perempuan diancam akan mendapatkan laknat dari malaikat karena tidak mau menghilangkan kesempitan suami. Hal ini menunjukkan bahwa pengorbanan dan penghormatan dari istri terhadap suami menjadi sesuatu yang sangat mutlak, karena segala hal yang dimiliki istri dianggap tidak berarti jika dibandingkan dengan pengorbanan yang diberikan terhadap suaminya. Dengan demikian, berbagai ancaman terhadap perempuan yang ada di dunia pendidikan merupakan sebuah praktik-praktik hegemoni yang ada di dunia pendidikan pesantren. Menariknya adalah, kaum perempuan yang mendapatkan ancaman tersebut tidak merasa diancam karena mereka meyakini itu sebagai sebuah bentuk kebenaran yang datangnya dari Tuhan, sehingga tidak perlu meragukan dan melakukan sikap kritis terhadap semua itu. Padahal semua ancaman itu ditujuakan untuk menciptakan sebuah konvensi bahwa perempuan merupkan manusia yang memiliki derajat yang berbeda jika dibandingkan dengan laki-laki, sehingga perempuan harus memberikan penghormatan terhadap kaum laki-laki. Ustadz Ali mulai menyitir AuPerempuan mana saja yang diajak suaminya untuk berjimak lalu ia menunda-nunda hingga suaminya tertidur, maka ia kan dilaknat oleh Allah. Ay Kemudian lanjutnya. AuPerempuan mana saja yang cemberut di hadapan suaminya, maka dia dimurkai Allah sampai ia dapat menimbulkan senyuman suaminya. Ay (PSB, 2012: 7. ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS Pada data tersebut, kiai menyampaikan bahwa perempuan diancam akan mendapat laknat dari Allah jika menunda-nunda ajakan suami untuk berjimak. Selain itu, perempuan yang cemberut di depan suaminya akan mendapat murka dari Allah. Dua ancaman tersebut sering digunakan kiai di dalam kegiatan pengajaran di pondok pesantren. Hal ini ditujukan agar istri dapat memberikan pelayanan yang baik terhadap suaminya, termasuk memberikan kepuasan dalam hubungan seksualitas. Terlepas dari perdebatan salahbenarnya kesahihan hadis tersebut, dalam praktiknya, hadis itu sering disalahtafsirkan dan dimanfaatkan untuk memenangkan salah satu pihak dan melemahkan pihak lain. Dalam hal ini, lakilaki menjadi pihak yang dimenangkandan pihak perempuan menjadi pihak yang Semua itu terjadi karena adanya ketidakseimbangan relasi kuasa antara guru dengan santri. Kiai Ali menikmati betul status dan posisinya sebagai seorang kiai sepuh yang dihormati dan ditaati perintahnya, dilaksanakan ajaran dan petuahnya secara membabi buta. SamiAona wa athaAona. Tak ada seorang santri pun yang berani membantah atau mengkritik (PBS, 2012:. Pada data tersebut, kiai berada pada pihak yang dimenangkan dengan adanya ketidakseimbangan relasi kuasa yang ada antara santri dengan kiai. Berbagai pesan yang disampaikan kiai dianggap sebagai sebuah kebenaran mutlak yang tidak bisa dikritisi. Apa yang menjadi perintah kiai akan dilaksanakan dengan ketaatan penuh tanpa boleh mempertanyakan alasan dan akibatnya. Anggapan bahwa perempuan hanya pantas diberlakukan sebagai pelayan bagi kaum laki-laki sudah menjadi konvensi masarakat secara umum. Konvensi itu berwujud tradisi dan budaya yang berlangsung di ruang domestik maupun ruang publik. Anggapan itu muncul disebabkan beberapa hal. Misalnya sistem pengajaran yang eksklusif menggunakan kitab kuning, kutipan dari hadis yang diartikan tanpa mempertimbangkan sejarah dan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi, tradisi nenek moyang, dan ancaman dari guru atau kiai. Semua itu tergambar pada data berikut. AuItulah masalahnya. Mbak. Dari kitab yang pernah kupelajari, menolak ajakan suami adalah kutukan. Aku belum tahu dengan jelas alasan dan dalil-dalil yang menguatkan pernyataan itu, juga kesahihan hadisnya. Sepertinya, hadis Nabi itu juga tidak menjelaskan berbagai JadiA dalil itu sangat lemah untuk menjawab berbagai persoalan di sekitar masalah itu. Ay (PBS, 2012: . STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 Dengan demikian, keberadaan perempuan di pesantren seolah hanya dipersiapkan untuk menjadi sosok yang memenuhi keinginan kaum laki-laki. Sebagai santri, perempuan di dalam pesantren akan diajari untuk mengetahui dan mempelajari berbagai hal yang dapat menyenangkan kaum laki-laki, termasuk juga apa saja yang tidak disenangi laki-laki. Berbagai praktik hegemoni yang terjadi di lingkungan pesantren menggugah keberanian Nisa sebagai tokoh perempuan yang cerdas dan teguh dengan Nisa mempertanyakan praktik hegemoni yang terjadi dengan memanfaatkan kitab kuning dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu Nisa juga menunjukkan ketidakberpihakannya dengan praktik hegemoni di lingkungan pendidikan pesantren dengan memanfaatkan kutipan dari hadis yang disalah gunakan atau disampaikan dengan tidak seimbang. Selain itu, berbagai ancaman terhadap santri perempuan yang disampaikan kiai memberikan sumbangan besar terhadap terbentuknya praktik hegemoni dilingkungan pendidikan. Selanjutnya, ada juga praktik hegemoni di lingkungan pendidikan pesantren dengan memanfaatkan cerita bahwa budaya nenek moyong sudah sejak lama menganut konsep-konsep bahwa perempuan memiliki tugas yang berbeda dengan kaum laki-laki. Waktu berlalu begitu cepat. Kini aku telah menerima rapor dari kelas lima tanpa satu angka pun yang berwarna merah. Bahkan, peringkat rangkingku paling atas dan itu semua berkat dorongan melalui suratsurat Lek Khudhori yang menggemuruh penuh cita-cita. Keindahan kata-katanya dalam menyatakan kerinduan membuatku terus berada dalam situasi kepayang (PBS, 2012: . Pada data tersebut. Nisa digambarkan sebagai santri perempuan yang Sejak kecil dia sudah menunjukkan kecerdasannya dengan pencapaiannya yang ditunjukkan dengan nilai raport dari sekolah di mana dia menuntut ilmu. Deskripsi ini sengaja dilakukan oleh penulis untuk menunjukkan bahwa perempuan juga memeliki potensi yang sama dengan laki-laki. Mereka kaum perempuan juga akan dapat mencapai capaian tertentu jika ada upaya yang dilakukan. Berbagai praktik hegemoni di dunia pendidikan yang sudah disebutkan sebelumnya menjadi tantangan berat bagi perempuan untuk mencapai kesetaraan hak dengan kaum laki-laki. Sehingga, keberanian kaum perempuan dalam mendobrak dan melawannya menjadi kunci utama. Keberanian dan keteguhan Nisa merupakan salah bentuk bukti keberanian dari pengarang di dalam mengkritisi berbagai bentuk hegemoni di dunia pendidikan pesantren. Hal itu tidak bisa terlepas dari latar belakang Abidah sebagai seorang penulis yang memiliki pengalaman panjang di dunia pesantren. ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS Selain itu, keberanian Nisa dalam novel PBS juga menunjukkan keprihatinan Abidah terhadap nasib perempuan yang selalu dinomerduakan. Keberanian tokoh Nisa dalam PBS ditujukan untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi perempuan baik di ranah domestik maupun publik. Selain itu, menghadirkan tokoh perempuan yang cerdas dan berani dapat dimaknai sebagai hegemoni yang dilakukan pengarang terhadap kaum laki-laki. Hal ini sesuai dengan teori Gramsci bahwa hegemoni merupakan upaya menguasai yang dilakukan oleh satu kelas kepada kelas lain dengan cara konvensi, bukan dengan cara pemaksaan dan kekerasan. Hegemoni Perempuan Pesantren di Lingkungan Keluarga Di dalam keluarga pesantren, anak perempuan memiliki hak yang berbeda dibandingkan dengan laki-laki. Ada pekerjaan yang dianggap hanya pantas dilakukan oleh kaum laki-laki, sebaliknya juga ada pekerjaan yang dianggap hanya pantas dikerjakan oleh kaum perempuan. AuApa ibu belum mengatakan padamu kalau naik kuda hanya pantas dipelajari oleh kakakmu Rizal, atau kakakmu Wildan. Kau tahu, mengapa? Sebab kau ini anak perempuan. Nisa. Nggak pantas, anak perempuan kok naik kuda, pencilakan, apalagi keluyuran mengelilingi ladang, sampai ke blumbang segala. (PBS, 2012:. Sesuai dengan data tersebut, praktik hegemoni juga terjadi di lingkungan keluarga pesantren sejak perempuan masih usia anak-anak. Ada proses konvensi antara orang tua Nisa dengan Nisa, sebagai anak perempuan. Ayah Nisa sebagai orang tua menyampaikan bahwa anak perempuan tidak pantas naik kuda. Tindakkan naik kuda dianggap sebagai tindakan nakal yang akan mendatangkan anggapan negatif dari masyarakat. Proses ini tidak mendapat tantangan dari masyarakat secara umum, walau sebetulnya Nisa sebagai perempuan yang cerdas dan berani dan sering mempertanyakan konvensi tersebut. Ruang bermainku mendapat pagar baru, lebih tinggi dan sempit untuk cakrawala penglihatanku. Tanganku mulai dilatih memegang piring, gelas, sendok, wajan, dan api pembakaran. (PBS, 2012: . Pada data tersebut, perempuan sejak usia anak-anak sudah dibiasakan dengan kesibukan-kesibukan domestik. Pekerjaan yang ada di dapur dan sekitarnya sudah mulai disodorkan untuk dikerjakan dan sekaligus menjadi Semua itu merupakan salah satu bentuk hegemoni dan diskriminasi terhadap anak perempuan yang ada di lingkungan pesantren. Hal ini Abidah menggunakan kata AokudaAo karena PBS merupakan hasil penelitiannya di sebuah pedesaan yang masyarakatnya banyak menggunakan kuda sebagai kendaraan sehari-hari. STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 merupakan salah satu proses konvensi yang terjadi di tengah-tengah masyarakat yang diawali dari lingkungan keluarga pesantren. Konvensi tersebut disebabkan relasi kuasa yang tidak seimbang. Sebagai anak. Nisa tidak memiliki kuasa yang lebih dibanding orang tuanya. Apa yang disampaikan orang tuanya sulit untuk dipertanyakan dan ditentang secara Di sisi lain, masyarakat pesantren secara umum melihat bahwa pembagian wilayah tanggung jawab yang memosisikan perempuan di ranah domestik sebagai suatu kebenaran, karena masyarakat memiliki kecenderungan untuk mengikuti apa yang menjadi pilihan dari keluarga pesantren. Hal itu terjadi tidak terlepas dari penghormatan yang sangat tinggi terhadap keluarga pesantren, terutama pada kiai. Pak guru bilang kewajiban seorang perempuan itu banyak sekali, ada mencuci, memasak, menyetrika, mengepel, menyapu, menyuapi, menyusui, memandikan anaknya, dan banyak lagi. Tidak seperti lakilaki. Bu, kewajibannya cuma satu, pergi ke kantor. (PBS, 2012:. Pada data tersebut. Nisa sebagai seorang anak perempuan mempertanyakan berbagai tugas kaum perempuan. Tidak hanya memiliki tempat yang berbedabeda dan ruang lingkup terbatas, secara kuantitas perempuan juga memiliki kewajiban yang lebih banyak dibandingkan dengan kaum laki-laki. Signifikansi perbedaan itu membuat Nisa seolah menyesali telah terlahir sebagai . Kadang aku merasa, bapak tidak begitu sayang padaku. Mungkinkah itu karena aku anak perempuan? Tidak seperti Wildan dan Rizal yang bebas keluyuran dalam kuasanya, main bola, main layang-layang, sementara aku disekap di dapur untuk mencuci kotoran bekas makanan mereka, mengiris bawang hingga mataku pedas demi kelezatan dan kenyamanan perut mereka (PBS, 2012:. Diskriminisi terhadap Nisa sebagai anak sudah didapatkan dari orang-orang yang lingkungan keluarganya sendiri. Berbagai pertanyaan sudah muncul di benak Nisa sebagai anak perempuan. Nisa mempertanyakan mengapa Wildan dan Rizal memiliki kebebasan untuk bermain di luar tanpa harus terikat dengan berbagai aturan yang membelenggunya. Sementara itu. Nisa sebagai anak perempuan harus selalu tetap di dapur untuk menyelesaikan kewajibannya memasak, mencuci kotoran, dan menyiapkan hidangan untuk kaum laki-laki. Selain itu, praktik diskriminasi juga terjadi pada perempuan ketika ada anggapan bahwa anak perempuan tidak perlu sekolah terlalu tinggi. Di dalam keluarga pesantren, kitab kuning sudah dianggap cukup untuk membekali perempuan menjalani kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS AuTetapi anak perempuan kan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Sudah cukup jika telah mengaji dan khatam. Sudah ikut sorogan kitab kuning. Kami juga tidak terlalu keburu. Ya, mungkin menunggu sampai si Udin wisuda kelak (PBS, 2012:. Sesuai dengan data tersebut, ada perbedaan kesempatan perempuan dalam menuntut ilmu. Perempuan tidak perlu menjalani sekolah formal sampai pada tingkat yang sangat tinggi. Berbeda dengan laki-laki yang terbuka lebar kesempatannya untuk mengenyam pendidikan formal setinggi mungkin. Anggapan bahwa perempuan hanya pantas berada di dapur sudah menjadi konvensi masyarakat pesantren. Selain itu, anggapan bahwa perempuan cukup berbekal kitab kuning untuk menjalani kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat juga bisa dikategorikan sebagai praktik hegemoni karena sudah menjadi konvensi masyarakat pesantren secara umum. Semua itu terjadi karena adanya relasi kuasa yang tidak seimbang antara Nisa sebagai anak dengan orang Selain memiliki keterbatasan dalam bermain dan akses pendidikan, perempuan juga tidak mendapat kebebesan dalam memilih jodoh. Penentuan jodoh menjadi hak prerogatif orang tua, khususnya orang tua laki-laki. Anak perempuan pesantren hanya memiliki kesempatan untuk mengiyakan apa yang menjadi keputusan dari orang tua. Proses bertanya yang dilakukan orang tua terhadap anak perempuan pesantren seolah hanya sekedar basa-basi karena sudah menjadi konvensi masyarakat pesantren bahwa anak perempuan harus mematuhi apa yang menjadi keinginan orang tua mereka. Semua itu dideskripsikan pada data berikut. Mendengar kata-kata itu, darahku serasa beku. Aku tertahan dan berdiam seperti patung. Rupanya mereka tengah merundingkan sesuatu untuk masa depanku. Alangkah jauhnya mereka melewati Begitu riangnya mereka menggambari masa depanku semaumaunya. Pastilah mereka mengira, alangkah bodoh dan naifnya aku ini, sehingga untuk menentukan nasib masa depanku sendiri, tak perlu lagi mereka melibatkanku (PBS, 2012:. Relasi kuasa yang tidak seimbang menyebabkan Nisa sebagai anak perempuan tidak berani melakukan penolakan secara terang-terangan terhadap Walaupun tanpa kekerasan dan paksaan secara terang-terangan dari orang tuanya. Nisa merasa ekspresi yang ditampakkan oleh ayah nisa mengharuskan Nisa menyetujui tawaran dari orang tuanya. Hal ini juga dapat dikategorikan sebagai praktik hegemoni yang terjadi dilingkungan keluarga Praktik perjodohan di lingkungan keluarga pesantren sudah STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 dibenarkan dan menjadi konvensi mereka. Konvensi ini bersumber dari kitab kuning bahwa setiap orang tua memiliki hak ijbar, yaitu hak prerogatif untuk menjodohkan anak perempuannya. Semua itu tergambar dalam data berikut. Tetapi yang tidak habis kumengerti, mengapa bapak dan ibu selalu mendengung-dengungkan hak ijbar mereka atasku adalah semata karena merekalah yang paling menyanyangiku. Jika mereka sayang, mengapa tidak membiarkanku memilih jodohku sendiri. Bukankah pada akhirnya, aku juga yang akan menjalani pernikahan itu?Ay (PBS, 2012:. Sebagai anak yang pandai dan cerdas. Nisa sebetulnya mempertanyakan hak ijbar yang selalu didengungkan oleh orang tuanya. Perbedaan konteks pertama kali diberlakukannya hak ijbar juga dipertanyakan. Hal ini tentunya tidak lantas bisa disamakan dengan kondisi perempuan pada saat ini. Selain itu. Nisa juga mempertanyakan bagaimana kaitan hak ijbar dengan prinsip kebebasan dalam Islam. Selanjutnya, perempuan juga dibatasi dengan berbagai aturan sopan santun. Yang menjadi pertanyaan adalah, peraturan yang diberlakukan untuk perempuan tidak sama dengan laki-laki. Misalnya, perempuan dilarang tertawa lepas dengan suara yang keras karena tindakan seperti itu dianggap tidak pantas dilakukan oleh anak perempuan. Sementara itu, anak laki-laki tidak diharuskan mengikuti aturan itu. Selain itu, anak perempuan juga dilarang untuk melakukan tindakantindakan aktif tertentu, seperti meloncat, naik pohon, dan naik motor. Beberapa tindakan itu tidak boleh dilakukan oleh anak perempuan pesantren karena dianggap menyalahi aturan sopan santun yang sudah menjadi konvensi. Sementara itu, anak laki-laki justru akan dilatih untuk dapat melakukan tindakantindakan itu. Aturan-aturan tentang sopan santun ini sudah diberlakukan bagi anak ketika usianya masih dini, ketika mereka hanya bisa meniru dan masih belum dapat berpikir tentang baik-buruknya sebuah tindakan. Hal ini merupakan salah satu proses hegemoni yang terjadi di lingkungan keluarga, karena ada proses penanaman aturan-aturan yang dilakukan secara terus menerus dan hanya memenangkan salah satu pihak. Lain dengan kakakku, meski sudah lebih sepuluh tahun. Rizal masih mengenakan celana kolor pendek untuk pergi mengembara ke mana saja, mengelilingi sawah dan ladang, mengelilingi kampung kami. juga bebas tertawa ngakak, meloncat dan naik pohon pecicilan seperti Tarzan. Tapi bapak tak pernah peduli. Bapak tidak pernah mengatakan kalau Rizal tak tahu adab. Tak tahu sopan santun. Sepertinya sopan santun memang tidak berlaku untuk kalangan laki-laki. Hukum apapun ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS tidak mampu menjamah kemerdekaan mereka, sebab mereka adalah Fitrahnya adalah merdeka. Berbeda dengan perempuan, tubuhnya saja mirip manusia, tetapi nafsunya mirip binatang. Dipenuhi anak setan. Untuk itulah sopan santun harus diperkenalkan padanya (PBS, 2012:. Melihat kenyataan itu. Nisa mempertanyakan aturan-aturan yang hanya berlaku untuk anak perempuan. Kenyataan ini menimbulkan anggapan bahwa seolah hanya laki-laki yang layak disebut sebagai manusia karena fitrah manusia adalah kemerdekaan. Berbeda dengan perempuan yang sarat dengan keterbatasan, sehingga perlu diberi pengawasan dan pengawalan secara ketat agar tidak salah jalan. Hal ini menjadi salah satu bukti praktik diskriminasi yang terjadi di lingkungan keluarga dengan dibungkus tradisi dan budaya. Samsudin itu meraih tubuhku dalam gendongannya. Lalu membawaku ke kamar dan menidurkanku di atas ranjang. Kemudian berusaha merayuku dengan suara lelaki di masa kerajaan Majapahit. Lalu mengguling-gulingkan tubuhku dengan paksa. Dengan paksa pula ia buka bajuku, dan semua yang nempel di badan. Aku meronta kesakitan tetapi ia kelihatan semakin buas dan tenaganya semakin lama semakin berlipat-lipat. Matanya mendelik ke wajahku. Kedua tangannya mencengkeram bahuku sekaligus menekan kedua lenganku. Beban gajihnya begitu berat menindih tubuhku hingga semuanya menjadi tak Seperti ada peluru karet yang menembus badanku (PBS, 2012:. Sebagai istri, perempuan pesantren mendapat perlakuan kasar 2 dari Perlakuan kasar terjadi di saat-saat akan dilakukan hubungan seks. Pendekatan yang digunakan Samsuddin dilakukan dengan cara-cara yang tidak Perlakuan itu tidak hanya menyakiti fisik Nisa sebagai istrinya, akan tetapi juga melukai perasaannya sebagai seorang istri dan sebagai seorang manusia. Selain itu, kekerasan seksual juga dilakukan Samsuddin tanpa memperhatikan situasi dan kondisi, termasuk kondisi dari Nisa sebagai istri. Kondisi kesiapan dan kesediaan Nisa sebagai istri sama sekali tidak menjadi pertimbangan dalam hubungan seks yang dilakukan. Sehingga yang ada hanya pemuasan dari Samsuddin sebagai suami karena sudah bisa melampiaskan nafsu dengan Semua itu dideskripsikan pada data berikut. Sering ketika aku sedang mengepel lantai, ia datang diam-diam dari belakang, mendekapku, mencumbuiku dan memaksaku untuk bermain cinta di lantai itu juga tanpa memberi kesempatan kepadaku, bahkan Perlakuan kasar yang dimaksud adalah tindakan egoisme Syamsuddin terhadap Nisa baik secara fisik maupun psikis. STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 sekadar untuk bernapas dari jepitan mulutnya yang dipenuhi oleh bau asap rokok (PBS, 2012:. Pada data tersebut Samsuddin mencumbui Nisa tanpa menanyakan kesiapan Nisa. Tindakan ini terjadi karena adanya relasi kuasa yang tidak seimbang antara Samsuddin sebagai suami dengan Nisa sebagai istri. Samsuddin selaku suami dapat berbuat semuanya tanpa mendapat perlawanan yang berarti dari Nisa. Nisa selaku istri juga tidak dapat melakukan penolakan secara terang-terangan karena sudah terhegemoni dengan berbagai tradisi dan budaya yang sudah menjadi konvensi masyarakat. Kekerasan seksual yang dilakukan Samsuddin juga menyakiti fisik Nisa. Kesenangan yang seharusnya untuk berdua yang muncul dengan hubungan seksual antara suami istri justru menyakiti salah satu pihak, karena tidak dilakukan dengan pertimbangan kesenangan bersama. Kesakitan yang diderita Nisa karena kekerasan yang dilakukan suaminya justru menambah kesenangan dan kepuasan Samsuddin. Samsuddin senang karena Nisa menjadi perempuan yang tidak berdaya secara fisik, sehingga dia bisa melakukan segala sesuatu yang dapat memuaskan nafsu seksualnya kepada Nisa. Semua itu dideskripsikan pada data berikut. Lalu ia mendesak dan terus mendesak. Sampai farjiku terasa sakit hingga nyeri dan perihnya menjalar ke seluruh tubuh. Dalam keadaan seperti itu, kelelakian Samsudin semakin menjadi, lalu menggigit bahu dan leherku seperti layaknya drakula. Bahkan ia juga memilih sesukanya bagian-bagian mana dari tubuhku untuk dicengkeram. Dicakar-cakar semaunya, seakan aku ini kambing kurban yang sedang berada di tangan seorang penjagal. Bukan saja tubuhku yang terluka, tetapi juga hati dan jiwaku pun benar-benar terluka (PBS, 2012:. Pada data tersebut, dalam hubungan seksual. Nisa hanya tak ubahnya sebagai objek yang bida dimanfaatkan semaunya oleh Samsuddin. Selayaknya sebuah objek. Nisa hanya menjadi sasaran pelampiasan nafsu kelelakian dari suaminya, tanpa bisa melakukan perlawanan berarti terhadap perlakuan kasar dari suaminya. Sebagai perempuan yang cerdas dan berani Nisa berusaha mencoba untuk melakukan perlawanan atas kekerasan yang dilakukan secara bertubi-tubi dan membabibuta, terutama kekerasan seks dalam rumah tangga. Namun, usaha yang dilakukan oleh Nisa justru menambah keganasan Samsuddin. Sehingga Nisa semakin mendapat perlakuan-perlakuan kasar, seperti dicekik, ditampar, dan Hal ini bisa dilihat pada data berikut. ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS Setelah menampar, mencekik dan menjambak rambutku dengan penuh kebiadaban, setelah melihat tenagaku lemas tak berdaya, ia pergi sambil meludahi wajahku berkali-kali. Busuk sekali bau ludahnya (PBS, 2012: . Ia menampar mukaku bertubi-tubi hingga pipi dan pundakku lebam kebiru- biruan. Untuk kali pertama, kucakar wajahnya dan ia membanting badanku ke lantai. Bunyi gedebug dan suara berisik di kamar membuat Mbak Kulsum curiga. Ia menggedor pintu dengan ketakutan dan Samsudin membentaknya (PBS, 2012: . Berbagai tindak kekerasan yang dilakukan Samsuddin menunjukkan ada relasi kuasa yang tidak seimbang di dalam hubungan suami istri di dalam keluarga pesantren. Istri menjadi sosok perempuan yang dilemahkan dan tidak berdaya ketika berhadapan dengan kaum laki-laki, termasuk juga suaminya kondisi ini tidak sesuai dengan yang didengung-dengungkan banyak orang, bahwa salah satu tujuan pernikahan dalam Islam adalah untuk menentram hati. Sepanjang malam itu, ia mengikatku dalam dekapannya. Mencincang hak dan kebebasanku sebagai manusia, agar aku tak bisa lolos sekalipun untuk satu geliatan. Satu-satunya yang masih bisa lolos adalah pikiranku. Terbayang wajah Kiai Ali dengan sepasang mata awasnya yang berkilat-kilat membenam di balik sorban apeknya jika mendengar rintihanku (PBS, 2012:. Pada data tersebut. Samsuddin sebagai suami tidak pernah berpikir tentang kesenangan Nisa sebagai istrinya. Sebagai perempuan yang berani dan cerdas. Nisa belum mampu melakukan perlawanan secara fisik terhadap tindakan kasar dari suaminya. Walau demikian. Nisa tidak sepakat apalagi membenarkan tindakan Samsuddin terhadapnya. Semua itu terjadi karena Nisa terhegemoni dengan berbagai ancaman yang didapat ketika masih berstatus sebagai santri di pondok pesantren. Perempuan diancam akan mendapat laknat dari tuhan jika tidak menuruti kemauan dari suami, walaupun sebetulnya ancaman tersebut tidak pernah memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi. Selain kekerasan dalam bentuk fisik. Nisa juga mendapatkan perlakuan kasar dalam bentuk perkataan. Dalam upayanya memperbaiki dan menghentikan tindakan kasar Samsuddin. Nisa berusaha memberanikan diri untuk menyampaikan keinginannya. Upaya Nisa justru mendapat balasan kata-kata yang menyakiti. Samsuddin menganggap bahwa perempuan tidak bisa menyampaikan kebenaran selayaknya laki-laki. Semua itu tergambar pada data STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 AuMari kita berkumur dan membaca doa sebelum bercumbu. Ay AuAlahA ocehanmu melebihi Kiai Masykur. Memangnya kita mau berangkat haji ke Mekah?Ay AuSetidaknya, itu juga masalah kesucian. Ay AuKesucian itu tidak bisa dilihat. Jangan sok kamuAy (PBS, 2012:. Berbagai kata yang melemahkan perempuan terungkap dari Samsuddin karena adanya relasi kuasa yang tidak seimbang antara suami dengan istri dalam keluarga pesantren. Sudah menjadi konvensi bahwa perempuan tidak layak menjadi inisiator. Ide-ide dari perempuan tidak dianggap sebuah kebenaran dan bahkan dianggap mengusik kenyamanan kaum laki-laki. Sehingga kemenangan hanya akan tetap berpihak pada kaum laki-laki, selama tidak ada upaya mendobrak konsep-konsep patriarki yang dibungkus tradisi dan budaya dalam keluarga pesantren. Conclusion Ada pelbagai praktik ketidakadilan yang terjadi dilingkungan pendidikan Menurut Abidah, di dalam pendidikan pesantren, perempuan hanya dipersiapkan untuk menjadi sosok yang pasif dan cenderung melayani. Santri perempuan di pesantren tidak diberikesempatan untuk mempersiapkan diri memasuki dunia publik dan berinisiatif menjadi peminpin. Permasalahan itu terletak pada sistem pengajaran dan sumber pengajaran yang mereka gunakan secara eksklusif, yaitu kitab klasik. Sehingga, semua santri perempuan di lingkungan pesantren hanya dimungkinkan untuk menerima apa yang disampaikan kiai dan apa yang tertulis di kitab klasik. Selain itu, di dalam PBS Abidah juga mengungkap ketidakadilan yang terjadi di lingkungan keluarga. Sebagai seorang anak, perempuan tidak mendapat perlakuan yang sama jika dibandingkan dengan anak laki-laki. Kesempatan belajar yang didapat anak perempuan tidak seluas kesempatan belajar yang didapat anak laki-laki. Di dalam keluarga, anak perempuan juga dipersiapkan untuk terampil mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dengan kuantitas dan varian kerja yang cukup banyak. Sedangkan anak laki-laki mendapat kesempatan menggali potensi guna mempersiapkan diri untuk terjun ke dunia publik, walau tidak semua laki-laki dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Selanjutnya, posisi Abidah sebagai pengarang perempuan yang memiliki perhatian terhadap nasib kaum perempuan, ingin mengikis atau bahkan menghilangkan belbagai bentuk ketidakadilan di dalam lingkungan keluarga tersebut melalui novel-novel yang dia tulis. ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS Ketidak dilan yang terjadi di lingkungan pendidikan pesantren, keluarga, dan masyarakat yang tergambar di PBS merupakan praktik hegemoni. Perempuan sebagai pihak yang dirugikan tidak menyadari bahwa mereka sudah Praktik ini terjadi karena sudah ada konvensi di tengah-tengah masyarakat, sehingga upaya menguasai yang dilakukan satu pihak kepada pihak lain seringkali tidak perlu menggunakan pemaksaan apalagi kekerasan. DAFTAR PUSTAKA