AL-AFKAR: Manajemen Pendidikan Islam Volume I Nomor I Tahun 2025 Doi: E-ISSN: x-x P-ISSN: x-x PROSES BERPIKIR MANUSIA PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN Heri Gunawan Universitas Islam 45 Bekasi. Indonesia Email: Herigunawan0616@gmail. Muntaha Email: drmuntaha1967@gmail. Universitas Islam 45 Bekasi. Indonesia Abstract Keyword : Philosophy. Education. Human thought process. Philosophy is the science of nature that investigates the essence of all things to attain truth. In accordance with its original meaning, "Philosophy" in Arabic means "Muhibbul Hikmah," meaning a person who loves knowledge. Regarding philosophy, every person's thinking is To understand how humans think from a philosophical perspective, we must first understand the meaning of "thinking. " Thinking is not a physical activity but a mental one. If someone is mentally engaged with something and that thing continues to play in their memory, then that person can be said to be thinking. By thinking, humans can introduce order into a world filled with anxiety and disorder. The author used a qualitative method in compiling this journal, utilizing literature and bibliographic studies. The conclusion that can be drawn is that the purpose of thinking is to understand the truth, and the human thought process, according to idealism, is not merely a cognitive activity but also the key to understanding and shaping true reality, integrated with culture, educational limitations, senses, subjectivity, and moral constructs. Abstrak Kata Kunci : Filsafat. Pendidikan. Proses berfikir Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang hakikat yang menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran. Sesuai dengan makna aslinya. Filsafat mengandung arti dalam Bahasa arab Muhibbul Hikmah yaitu orang yang suka pengetahuan. Adapun untuk menyikapi Filsafat, setiap manusia berbeda dalam pemikirannya. Untuk memahami cara berpikirnya manusia dalam pandangan Filsafat kita harus tahu terlebih dahulu apa arti dari berpikir. Berpikir bukanlah kegiatan fisik namun merupakan kegiatan mental, bila seseorang secara mental sedang mengikatkan diri dengan sesuatu dan sesuatu itu terus berjalan dalam ingatannya, maka orang tersebut bisa dikatakan sedang berpikir. Dengan berpikir, manusia dapat memperkenalkan ketertiban ke dunia yang penuh dengan kecemasan dan gangguan. Metode yang digunakan oleh Penulis dalam penyusunan jurnal ini adalah Metode Kualitatif, yaitu menggunakan studi literatur dan kepustakaan. Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa tujuan dari berpikir yaitu untuk mengetahui kebenaran dan proses berpikir manusia dalam idealisme bukan hanya aktivitas kognitif, tetapi juga merupakan kunci untuk memahami dan membentuk realitas sejati, yang terintegrasi dengan budaya, keterbatasan pendidikan, indera, subjektivitas, dan konstruksi moral. Journal homepage: https://ejournal. id/index. php/alafkar PENDAHULUAN Proses berpikir manusia merupakan proses yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari 1 Menurut Dr. Ibrahim Elfiky . pemikiran seseorang terkadang sangat simpel dan tidak membutuhkan waktu serta perhatian khusus selain sebuah program sederhana, namun demikian setidaknya semua itu bersumber dari tujuh arah yang kemudian mengkristal dan membentuk semacam paradigma yang kuat untuk mempengaruhi pola pikir seseorang secara internal maupun eksternal. 2 Aspek tersebut antara lain: Kedua orang tua. Dasar pola pikir seseorang pada awalnya bersumber dari ayah dan ibunya. Ratu Elizabeth pernah berkata: AuKita belajar seperti Kera yang menyaksikan kebiasaan bapak ibunya secara total. Ay Kita belajar dari orang tua tentang kalimat dan artinya, termasuk ekspresi wajah. Gerakan tubuh, memahami perasaan, pebuatan, prinsip, ideologi, agama, etika, dan keteladanan. Semua itu karena kedua orang tua adalah pendidik pertama di dunia ini. Keluarga dekat. Setelah kedua orang tua, selanjutnya saudara dekat adalah pihak yang paling banyak mempengaruhi cara berpikir seseorang. Baik saudara dari pihak ayah maupun ibu. Termasuk kakek, nenek, paman, bibi, dan sepupu. Dari instentitas pergaulan terhadap mereka akan memperkuat persepsi seseorang tentang sesuatu dari informasi yang didapat sebelumnya. Lingkungan sosial. Yang termasuk dalam lingkungan sosial adalah tetangga, penjual sayur, supir taksi, pengantar paket, dan perkataan orang yang berada di lingkungan sekitarnya akan semakin menambah kekuatan persepsinya tentang suatu hal. Lingkungan sekolah. Kebiasaan para guru dan murid di sekolah dalam berkomunikasi, berargumentasi, berperilaku, berbudaya, bertindak, dan masih didukung dengan kuatnya pengaruh dunia pendidikan terhadap penanaman pengetahuan akan sangat memudahkan sesorang meniru kebiasaan yang ada. Baik kebiasaan positif maupun negatif. Semua pengaruh itu akan semakit memperkuat watak seseorang dari yang didapatkan sebelumnya sampai mengakar dalam akal batinnya. Teman sejawat. Sumber pembentuk pola pikir seseorang dalam poin ini sangat signifkan setelah orang tua. Teman adalah kelompok pertama yang mengisi kehidupan seseorang di luar keluarga. Hal ini bisa dipahami dari kenyataan bahwa seseorang memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan berteman tanpa interfensi orang tua. Hal itu masih didukung lagi dengan kebebasan dan keterbukaan sturuktur sosial di dalam masyarakat. Akhirnya persepsi seperti itu membentuk berbagai paradigma di dalam memori seseorang. Media sosial. Dalam satu minggu, rata-rata seorang remaja menghabiskan waktunya di atas 50 jam di depan televisi. Hal itu tentu akan menimbulkan pengaruh tersendiri pada dirinya, baik pengaruh positif maupun negatif. Misalkan dia melihat seorang idola atau public figure merokok, maka besar kemungkinan dia kan melakukan hal yang sama. Diri sendiri. Seluruh faktor yang mempengaruhi pola pikir seseorang sebelumnya bersumber dari faktor eksternal. Poin berikut ini adalah faktor internal yang berasal dari diri orang itu sendiri. Sumber ini berupa potensi diri seseorang untuk mencari sesuatu yang baru, baik berupa hal yang positif maupun negatif. Faktor ini kemudian akan terintegrasi dengan faktor eksternal sebelumnya hingga membentuk paradigma yang fundamental yang kuat. Gabungan dari seluruh faktor eksternal dan internal itulah yang akan membentuk fanatisme dan kebiasaan seseorang sebagai faktor penentu keberhasilan atau kegagalan dan kebahagiaan atau kesengsaraan seseorang. 5 Bahkan menurut Nasrullah dalam bukunya tertulis setiap pikiran adalah doa. Dan akan menjadi makin tidak sederhana, karena semua doa dikabulkan oleh Allah, baik yang positif maupun Hal ini sesuai dengan sabda Nabi saw. Auinni inda dzonni abdi biA Sesungguhnya Aku berdasarkan prasangka hamba-KuAy . adits Quds. Sekali lagi, setiap doa dikabulkan oleh Allah, baik yang positif maupun Allah berfirman dalan Al-QurAoan: Syahrul Fauzi and Nidaul Fajrin. AuPeran Manajemen Pendidikan Islam Dalam Pengembangan Lembaga Pendidikan Dan Masyarakat,Ay HEUTAGOGIA: Journal of Islamic Education 2, no. : 17Ae32, https://doi. org/10. 14421/hjie. Palmer Richard. Hermeneutics Interpretation Theory in Schleirmacher. Dilthey. Heidegger, and Gadamer, (Terjemaha (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. Hendra Kaprisma. AuCakrawala Historis Pemahaman: Wacana Hermeneutika Hans-Georg Gadamer,Ay Literasi 1, no. : 247Ae Erlina Erlina. AuKajian Filologi Terhadap Teks Manuskrip Karya Ulama Lampung Ahmad Amin Al-Banjary,Ay Jurnal Al Bayan: Jurnal Jurusan Pendidikan 7, no. : 1Ae16, http://w. id/index. php/albayan/article/view/370. Herry Hamerma. Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, 3rd ed. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1. AEOIaa aaNIac aaI a a eOA e A aa a e aaE acaE ee eI aIac acE aeOIaa aaOA e aa aOC aaE acaca acaE acaI e eacaOI eaO A e A eOaa acaacaA aa A aa eE a aca eOIaa eaaI a aa eaOA AuTuhanmu berfirman. AuBerdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu . pa yang kamu Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk . Jahanam dalam keadaan hina dina. Ay (QS. Ghafir : . Karena alasan ini. Penulis merasa perlu untuk membuat penjelasan singkat tentang kekacauan mereka, yang mengandung ulasan tentang ajaran-ajaran mereka dalam disiplin Logika. Fisika, dan Metafisika, tanpa memilah mana yang benar dan mana yang salah. 6 Penulis hanya bermaksud untuk memberikan pemahaman tentang apa tujuan dari pembahasan mereka, tanpa memperpanjang uraiannya dengan menyebutkan bahasanbahasan di luar topik pembahasan mereka. Adapun orang yang berfilsafat membawa ilmu disiplin yaitu. Matematika. Logika. Fisika, dan Metafisika. Matematika ialah teori tentang Ilmu Hitung dan Geometri. Dalam bidang Metafisika, sebagian besar keyakinan para Filsuf bertentangan dengan kebenaran yang benar ada, tetapi Dalam bidang Logika, sebagian besar ajaran mereka benar, yang salah ada tetapi jarang. Dalam bidang Fisika, ajaran para Filsuf yang benar bercampur dengan yang salah. Selanjutnya, bahwa berpikir merupakan aktivitas mental fundamental yang memungkinkan manusia mencari kebenaran, makna dan pengetahuan secara radikal dan sistematis. Filsafat memandang berpikir sebagai alat untuk memahami hakikat keberadaan . , cara memperoleh pengetahuan . , dan nilai-nilai . melalui penalaran kritis, logis, dan komprehensif, tidak hanya sekedar pemikiran dangkal. Berpikirdalam konteks Filsafat juga bertujuan untuk mengarahkan sikap dan tindakan secara rasional dan bijaksana. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengguanakan Metode Analisis Deskriptif Kualitatif dengan Data Pustaka atau studi literatur dari berbagai sumber. 8 Pengguanaan Metode Penelitian Analisis Deskriptif bertujuan untuk mendapatkan jawaban yang terkait dengan pendapat, tanggapan, atau persepsi seseorang, sehingga pembahasan dilakukan secara kualitatif atau dengan uraian kata-kata. Dalam hal ini Penulis juga mengambil materi dari berbagai dokumen, terutama karya akademik, sebagai cara mencari data serta informasi baik dari perpustakaan maupun media internet secara terbuka yang menyediakan akses ke sumber-sumber tersebut. PEMBAHASAN Aliran Filsafat memberikan kontribusi yang berharga dalam memahami kompleksitas proses berpikir manusia, dengan menekankan peran sentral ide atau pikiran dalam membentuk realitas. 10 Para ahli Filsafat yang berpengaruh seperti G. Hegel. Reny Descartes. Leibniz, dan Immanuel Kant telah membentuk landasan konseptual yang mendalam terkait dengan proses berpikir manusia dalam kerangka idealisme. Hegel, seorang Filosof Jerman abad ke-19, mengembangkan pandangan bahwa proses berpikir manusia adalah suatu evolusi dialektis dari ide-ide. 11 Baginya, kesadaran individu bukanlah entitas terisolasi, tetapi bagian dari kesadaran kolektif yang berkembang secara dinamis. Dalam karyanya yang monumental, "Phenomenology of Spirit," Hegel menjelaskan bahwa individu mengalami perkembangan kesadaran melalui tahap-tahap yang bertentangan, dan melalui konflik dan resolusi ini, pemahaman manusia terhadap realitas berkembang. Proses Bertens K. Filsafat Barat Abad XX Inggris - Jerman (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1. Wilda Simanjuntak. AuPerpaduan Cakrawalamu Dan Cakrawalaku: Hermeneutik Gadamer Dan Sumbangsihnya Bagi Pendidikan Teologi Di Indonesia,Ay GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual Dan Filsafat Keilahian 5, no. https://doi. org/https://doi. org/10. 21460/gema. John Creswell. Penelitian Kualitatif Dan Desain Riset, ed. Ahmad Lintang Lazuardi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. Sugiyono Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif. Kualitatif. Dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2. Syahrul Fauzi and Nidaul Fajrin. AuSteam (Science. Technology. Engineering. Arts. Mathematic. Dengan Pendekatan Quantum Di Smp Bumi Cendekia Yogyakarta,Ay Ngaji: Jurnal Pendidikan Islam 2, no. : 35Ae46. Ahmad Baihaqi Soebarna. AuNilai-Nilai Kemanusiaan Dalam Semangat Kenabian Muhammad Perspektif Hermeneutika Wilhelm Dilthey,Ay Jurnal HIMMAH 5, no. : 318Ae36. berpikir menjadi refleksi dari evolusi kesadaran, yang pada akhirnya mencapai pemahaman yang lebih tinggi tentang kebenaran mutlak. Reny Descartes, seorang Filosof Prancis pada abad ke-17, memberikan sumbangan penting terkait dengan proses berpikir manusia melalui metodenya yang radikal. Dalam pencarian kebenaran tergoyahkan. Descartes yang tak mencapai simpulan terkenal dengan kalimatnya "Cogito, ergo sum" (Saya berpikir, maka saya ad. Baginya, eksistensi manusia bergantung pada aktivitas berpikirnya, dan pikiran menjadi substansi yang lebih mendasar dari pada materi. Pemahaman diri dan realitas dimulai dari kesadaran dan pemikiran individu Pentingnya pendidikan dan budaya dalam proses berpikir manusia menurut idealisme tercermin dalam pandangan para ahli ini. 14 Hegel mengakui peran institusi sosial, termasuk pendidikan, dalam membentuk kesadaran kolektif. Descartes menekankan pentingnya Metode Filosofis yang terstruktur untuk mencapai pengetahuan yang jelas dan pasti. Leibniz melibatkan konsep monad untuk menggambarkan kompleksitas struktur realitas yang dapat diakses oleh proses berpikir. Kant menekankan bahwa budaya dan konteks sosial memainkan peran dalam membentuk kategori pemikiran yang membimbing proses berpikir manusia. Idealisme juga menyoroti keterbatasan pengamatan sensoris manusia. Descartes, dalam "Meditations on First Philosophy," mengakui keterbatasan indera dan mendukung ide bahwa pikiran adalah sumber pengetahuan yang lebih handal dari pada pengamatan sensoris yang dapat 16 Pandangan ini mencerminkan keyakinan bahwa proses berpikir manusia bukan hanya tergantung pada input dari dunia fisik, tetapi juga melibatkan interpretasi dan konstruksi aktif oleh pikiran. Dalam kerangka idealisme, proses berpikir manusia dianggap sebagai suatu bentuk konstruksi makna yang dilakukan oleh individu. Kesadaran individu membentuk realitasnya sendiri melalui interpretasi dan analisis Hal ini menunjukkan bahwa melalui konflik dan resolusi dialektis, kesadaran individu mengalami perkembangan menuju pemahaman yang lebih tinggi. 17 Proses ini melibatkan penyatuan dan sintesis ide yang bertentangan untuk mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Proses berpikir manusia dalam idealisme juga mencerminkan sifat subjektif dari pengalaman individu. Kant menekankan bahwa realitas yang diakses oleh manusia tidak bersifat objektif secara mandiri, tetapi dipengaruhi oleh struktur kategori pemikiran subjektif. Setiap individu, oleh karena itu, memiliki konstruksi realitas yang unik berdasarkan pemahaman dan interpretasinya sendiri. Idealisme memunculkan implikasi dalam konteks moral dan etika. Para ahli ini menunjukkan bahwa nilai-nilai dan norma-norma moral dapat dipahami melalui proses berpikir yang melibatkan ide dan kesadaran. 18 sHegel, dalam karyanya "Philosophy of Right," membahas konsep etika yang berkembang seiring evolusi kesadaran manusia. Secara garis besar, aliran Filsafat Idealisme memberikan pandangan yang mendalam dan kompleks terkait dengan proses berpikir manusia. Dari Hegel yang menekankan evolusi dialektis kesadaran. Descartes yang menempatkan pikiran sebagai substansi mendasar. Leibniz dengan konsep monad, hingga Kant yang memperluas peran aktif pikiran dalam membentuk pengalaman, setiap ahli menyumbangkan unsur penting dalam memahami hubungan antara pikiran manusia dan realitas. Narmiyati Narmiyati. Ati Kusmawati, and Moh Amin Tohari. AuDinamika Nilai-Nilai Spiritual Well Being Pada Wanita Tuna Susila Di Panti,Ay KHIDMAT SOSIAL: Journal of Social Work and Social Services 2, no. : 23Ae42. Ajalie Stanley Nwannebuife et al. AuEmpirical Examination of Intrinsic Motivation as a Predictor of Organizational Productivity,Ay The International Journal Business Management . 173Ae80, https://doi. org/10. 24940/theijbm/2020/v8/i9/bm2009-055. Mohammad Arifin. Ainur Rofiq, and Syahrul Ode Aliani. AuPengaruh Kecerdasan Intelektual ( Intellectual Quotient ) Dan Kecerdasan Emosional ( Emotional Quotient ) Terhadap Pembentukan Karakter Religius,Ay Kharisma: Jurnal Administrasi Dan Manajemen Pendidikan 1, no. : 25Ae35, https://doi. org/https://doi. org/10. 59373/kharisma. Filsafat Barat Abad XX Inggris - Jerman. Muhammad Syukran et al. AuKonsep Organisasi Dan Pengorganisasian Dalam Perwujudan Kepentingan Manusia,Ay PUBLIK: Jurnal Manajemen SUmberdaya Manusia. Administrasi Dan Pelayanan Publik 9, no. : 95Ae103, https://doi. org/https://doi. org/10. 37606/publik. Saefudin Saefudin. AuPengorganisasian Dalam Manajemen,Ay Jurnal Disarah 1, no. : 1Ae16. Mamduh Hanafi. AuKonsep Dasar Dan Perkembangan Teori Manajemen,Ay in Managemen, vol. 1, 2019, 66, http://repository. id/4533/1/EKMA4116-M1. KESIMPULAN Berpikir adalah penggabungan fakta dengan konsep, teori dengan praktek, serta konkret dengan sesuatu abstrak (Carso. Berpikir digunakan untuk mengetahui apakah manusia itu berakal. Adapun akal aktif itu terdapat pada jiwa (Imam al-Ghazal. jiwa menunjukan keberadaan akal aktif, mekanisme terpancarnya pengetahuan, kebahagiaan jiwa setelah mati, kesengsaraan jiwa karena terhalang perilaku buruk, mimpi bermakna, mimpi palsu, menjangkau alam gaib dalam keadan terjaga, melihat bentuk yang tidak eksis di alam lahir, mukjizat dan keramat, dan mengapa butuh nabi. Tujuan dari berpikir adalah untuk mengetahui kebenaran. Berpikir secara kritis dan mendalam bisa disebut sebagai berfilsafat. Manusia, filsafat, dan juga berpikir merupakan sesuatu yang tidak terpisahkan karena sederhananya berfilsafat itu berpikir dan berpikir selalu ada dalam diri manusia. Aliran Filsafat Idealisme, yang dipelopori oleh para ahli seperti G. Hegel. Reny Descartes. Leibniz, dan Immanuel Kant, memberikan kontribusi berharga dalam memahamikompleksitas proses berpikir manusia. Mereka menekankan peran sentral ide atau pikiran dalam membentuk realitas. Hegel mengembangkan pandangan bahwa proses berpikir manusia adalah evolusi dialektis dari ide-ide, sementara Descartes menekankan peran substansial pikiran dalam eksistensi manusia. Leibniz melalui konsep monad, dan Kant dengan menyoroti peran aktif pikiran manusia dalam membentuk pengalaman dan interpretasi dunia. Secara garis besar, aliran Filsafat Idealisme memberikan pandangan yang mendalam dan kompleks terkait dengan proses berpikir manusia, mempertimbangkan hubungan kompleks antara individu, ide, dan masyarakat dalam pembentukan realitas. Proses berpikir manusia dalam idealisme bukan hanya aktivitas kognitif, tetapi juga merupakan kunci untuk memahami dan membentuk realitas sejati, yang terintegrasi dengan budaya, keterbatasan pendidikan, indera, subjektivitas, dan konstruksi moral. prospek pengembangan dari hasil penelitian/kajian serta bagaimana implikasi lebih jauh yang menjadi prospek penelitian/kajian peneliti DAFTAR PUSTAKA