Volume 8 Nomor 1 . Journal of Midwifery Science: Basic and Applied Research e-ISSN: 2774-227X Demografi Obesitas Sentral di Indonesia (Analisis Survei Kesehatan Indonesia 2. Indriasih Olyn Simanungkalit 1. Bona Simanungkalit 2 Faculty of Medicine. RSUD Pasar Minggu. Jakarta Selatan. Indonesia Faculty of Medicine. Universitas Kristen Indonesia. Indonesia Corresponding author: Indriasih Olyn Simanungkalit Email: Olynsimanungkalit@gmail. ABSTRACT The 2023 Indonesian Health Survey (SKI) report shows that the prevalence of central obesity in the population aged 15 years and over has reached 36. The purpose of this study was to identify the prevalence of central obesity by age group, education level, and employment status. Furthermore, it was also to determine the relationship between age, education level, and employment status with abdominal circumference . entral obesit. This study was a quantitative study with a secondary data analysis design from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). The study sample consisted of men with complete data on anthropometric measurements . bdominal circumferenc. and demographic characteristics. The sampling technique used was multistage random sampling. Analysis using the chi-square test was conducted to examine the relationship between age, education level, and employment status with central obesity . bdominal circumference measuremen. The results showed a significant relationship between age, education level, and employment status with central obesity . bdominal circumference measuremen. , with each p-value <0. It is recommended that a health stewardship approach should focus on lifestyle interventions in the workplace and health education for productive age groups to prevent a heavier burden of heart disease in the future. Keyword : Age. Central obesity. Education level. Occupation. Waist circumference PENDAHULUAN Obesitas saat ini telah menjadi epidemi global yang mengancam kesehatan masyarakat di berbagai belahan dunia. Berbeda dengan obesitas umum yang diukur melalui Indeks Massa Tubuh (IMT), obesitas sentral atau obesitas abdominal merupakan kondisi akumulasi lemak berlebih yang berfokus secara spesifik di area perut . ntraabdominal fa. Lingkar perut adalah parameter tunggal yang paling akurat untuk mendiagnosis obesitas sentral. Indeks Massa Tubuh (IMT) mengukur kegemukan secara umum, lingkar perut secara spesifik mengukur distribusi lemak di area perut . Secara klinis, kondisi ini diidentifikasi melalui pengukuran lingkar perut, dengan ambang batas di Indonesia adalah >90 cm untuk laki-laki dan >80 cm untuk perempuan. Berdasarkan laporan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan RI, angka prevalensi obesitas sentral pada penduduk usia di atas 15 tahun memang benar telah mencapai 36,8%. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan dari 31% pada hasil Riskesdas 2018 . Lemak diperlukan sebagai salah satu sumber energi untuk melakukan kegiatan seharihari, salah satu jenis lemak pada tubuh adalah lemak visceral . Lemak viseral dapat menjadi suatu penanda/prekursor terhadap suatu masalah kesehatan seperti obesitas sentral yang terjadi akibat akumulasi dari lemak viseral pada tubuh. Menurut World Health Organization (WHO) pada 2022, didapati bahwa secara global tingkat obesitas >890 juta orang dewasa di atas 18 tahun . Lemak viseral berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. 2018, selalu terjadi peningkatan dari tahun 2007 hingga 2018. Sulawesi Utara menempati angka tertinggi untuk obesitas sentral . Lingkar perut adalah ukuran antropometri yang digunakan untuk menilai akumulasi lemak di Copyright@2026. JOMISBAR, http://ejournal. poltekkes_smg. id/ojs/index. php/JOMISBAR area abdomen . Secara teknis, pengukuran ini dilakukan pada titik tengah antara tulang rusuk terbawah dan bagian atas tulang panggul . rista Berbeda dengan berat badan biasa, lingkar perut secara spesifik menggambarkan jumlah lemak visceral, yaitu lemak yang membungkus organorgan internal di dalam rongga perut. Lingkar perut digunakan sebagai standar emas . old standar. untuk menegakkan diagnosis obesitas sentral karena lebih akurat daripada Indeks Massa Tubuh (IMT) dalam memprediksi risiko penyakit. Seseorang didiagnosis menderita obesitas sentral jika hasil pengukuran LP melewati ambang batas . ut-off poin. yang ditetapkan oleh WHO dan Kemenkes RI untuk laki-laki >90 cm dan perempuan >80 cm . Diagnosis ini ditegakkan karena lingkar perut yang besar menunjukkan adanya adipositas abdominal. Meskipun seseorang memiliki berat badan normal secara IMT, jika lingkar perutnya melebihi batas tersebut tetap dikategorikan sebagai penderita obesitas sentral . ormal weight obesit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan profil demografis penderita obesitas sentral pada kelompok pria di Indonesia dengan memanfaatkan basis data nasional SKI 2023. Penelitian ini berupaya mengevaluasi faktor-faktor sosiodemografi yang menjadi determinan utama terhadap peningkatan lingkar perut di atas ambang batas klinis (>90 c. pada pria. Secara khusus, studi ini mengidentifikasi prevalensi dan distribusi obesitas sentral menurut kelompok usia, tingkat pendidikan dan status pekerjaan. (LP) menggunakan pita meteran dengan ambang batas >90 cm untuk pria. Variabel bebas meliputi karakteristik demografi yaitu kelompok usia, tingkat pendidikan dan status ekonomi dan Data menggunakan perangkat lunak statistic yaitu SPSS. Analisis mendeskripsikan prevalensi obesitas sentral. Analisis bivariat menggunakan uji chi square dilakukan untuk melihat hubungan atau korelasi antara usia, tingkat pendidikan dan status pekerjaan dengan obesitas sentral . engukuran lingkar peru. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil olah data deskriptif 000 responden dari data sekunder Riskesdas tahun 2023, berikut adalah distribusi frekuensi responden berdasarkan kelompok usia: METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan data sekunder kuantitatif dengan desain analisis data sekunder dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Pendekatan ini digunakan untuk mengamati hubungan antara variabel demografi dengan kejadian obesitas sentral pada populasi pria di Indonesia. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penduduk pria di Indonesia yang tercatat dalam basis data SKI 2023. Sampel penelitian difokuskan pada pria yang memiliki data lengkap mengenai pengukuran antropometri . ingkar peru. dan karakteristik demografi. Teknik pengambilan sampel menggunakan multistage random sampling yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI untuk merepresentasikan populasi nasional. Data diperoleh dari hasil rilis resmi Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK). Variabel terikat dalam studi ini adalah obesitas sentral, yang diukur berdasarkan kriteria Kementerian Kesehatan RI Gambar 1. Distribusi Lingkar Perut Berdasarkan Kelompok Usia Gambar 1. menunjukkan jika kita fokus pada lingkar perut > 90 cm, terlihat tren kenaikan jumlah yang sangat jelas seiring bertambahnya usia remaja akhir hanya 3. 045 orang. Dewasa awal naik menjadi 297 orang. Puncaknya pada dewasa akhir dan lansia awal angkanya mencapai titik tertinggi yaitu 680 dan 13. 625 orang. Manula . enurun kembali . 868 oran. , namun ini bisa dipengaruhi oleh jumlah total sampel manula yang memang lebih sedikit. Copyright@2026. JOMISBAR, http://ejournal. poltekkes_smg. id/ojs/index. php/JOMISBAR Gambar 2. Distribusi Lingkar Perut Berdasarkan Tingkat Pendidikan Gambar 2. menunjukkan ada kecenderungan peningkatan risiko obesitas sentral pada kelompok dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Kelompok ini memiliki persentase individu dengan lingkar perut > 90 cm yang paling besar dibandingkan jumlah total populasinya . i atas 30%). Tamat PT (Perguruan Tingg. memiliki proporsi risiko tertinggi . %). Meskipun jumlah orangnya tidak sebanyak lulusan SLTA, namun secara persentase, kelompok ini yang paling rentan. Tamat D1 memiliki proporsi risiko yang juga sangat besar . %). Tamat SLTA secara angka mutlak, kelompok ini adalah penyumbang jumlah orang berisiko terbanyak . 734 oran. , dengan proporsi risiko sekitar 23%. Tamat SLTP dengan tingkat risiko sekitar 15%. Tidak Sekolah memiliki tingkat risiko paling rendah, yaitu hanya sekitar 11,8%. dan tidak bekerja memiliki angka lingkar perut > 90 cm yang paling rendah. Hal ini bisa disebabkan oleh faktor usia . ada kelompok sekola. atau aktivitas fisik lain pada kelompok tidak bekerja. Kelompok wiraswasta, pegawai dan PNS/TNI/POLRI menunjukkan frekuensi obesitas sentral . ingkar perut > 90 c. yang lebih tinggi. Hal ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh gaya hidup dan beban kerja. Wiraswasta dan pegawai kantoran seringkali memiliki waktu kerja yang panjang dengan mobilitas fisik yang terbatas, serta tingkat stres kerja yang dapat memicu akumulasi lemak viseral . Berdasarkan hasil olah data bivariat dengan menggunakan analisis chi square didapatkan hasil hubungan antara usia, pekerjaan dan tingkat pendidikan dengan lingkar perut responden sebagai Tabel 1. Hasil Analisis Bivariat Hubungan Usia. Pendidikan dan Lingkar Perut Variabel Usia dan Lingkar Perut Tingkat pendidikan dan Lingkar Perut Pekerjaan dan Lingkar Perut Value (Person Chi Squar. 288990,721 P value <0,001 140648,122 <0,001 213528,884 <0,001 *chi square Gambar 3. Distribusi Lingkar Perut Berdasarkan Jenis Pekerjaan Gambar 3. menunjukkan kelompok berisiko tertinggi terdapat pada kelompok wiraswasta yang memiliki jumlah responden terbanyak dengan lingkar perut > 90 cm, yaitu sebanyak 20. 734 orang. Secara proporsi, kelompok ini juga menunjukkan kecenderungan obesitas sentral yang menonjol dibandingkan kelompok lain. PNS/TNI/POLRI dan pegawai adalah kedua kelompok ini memiliki jumlah responden berisiko yang cukup signifikan yaitu PNS sebanyak 9. 112 dan pegawai sebanyak Hal ini sering dikaitkan dengan pola kerja kantoran yang minim aktivitas fisik . Risiko terendah pada kelompok yang masih sekolah Berdasarkan tabel 1. hasil analisis bivariat dengan chi square antara usia dengan lingkar perut diperoleh nilai pearson chi square sebesar 990,721 dengan nilai signifikansi <0,05 yaitu p value sebesar < 0,001 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna secara statistik antara usia dengan lingkar perut pada responden. Hal ini juga didukung dengan terpenuhinya syarat uji chi square dimana tidak terdapat sel dengan nilai frekuensi harapan di bawah 5 . %). Hubungan kategori usia dengan kategori lingkar perut berdasarkan hasil analisis, ditemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kategori usia dengan ukuran lingkar perut. Tren data menunjukkan bahwa risiko memiliki lingkar perut > 90 cm meningkat secara drastis pada kelompok dewasa akhir . Ae45 tahu. dan mencapai puncaknya pada lansia awal . Ae55 tahu. Hal ini dapat dijelaskan melalui beberapa mekanisme fisiologis dan gaya hidup, bertambahnya usia diikuti dengan penurunan Laju Metabolisme Basal (BMR). Seiring bertambahnya usia, tubuh cenderung Copyright@2026. JOMISBAR, http://ejournal. poltekkes_smg. id/ojs/index. php/JOMISBAR kehilangan massa otot . dan menggantinya dengan jaringan lemak. Penurunan metabolisme ini menyebabkan kalori yang masuk lebih sulit dibakar dan lebih mudah disimpan sebagai lemak viseral, yaitu lemak yang menumpuk di area perut. Perubahan hormonal memainkan peran besar. Pada kelompok usia dewasa akhir menuju lansia awal, pria mengalami penurunan hormon reproduksi . eperti testosteron dan Penurunan hormon ini secara langsung mempengaruhi redistribusi lemak tubuh dari area perifer . engan/kak. ke area sentral . Faktor gaya hidup dan aktivitas fisik. Kelompok usia 36Ae55 tahun sering kali berada pada puncak karier yang cenderung memiliki pola kerja sedenter . anyak dudu. dan tingkat stres yang lebih tinggi. Stres kronis meningkatkan produksi hormon kortisol, yang memiliki kaitan erat dengan akumulasi lemak di perut . Hal ini sejalan dengan temuan penelitian terdahulu . Riskesdas 2. yang menunjukkan bahwa prevalensi obesitas sentral di Indonesia memang cenderung lebih tinggi pada kelompok usia produktif akhir dan lansia awal . Implikasi kesehatan terjadi peningkatan lingkar perut > 90 cm pada usia ini perlu menjadi perhatian serius karena merupakan indikator utama obesitas Kondisi ini meningkatkan risiko sindrom metabolik, seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, dan penyakit jantung koroner. Oleh karena itu, intervensi berupa pola makan sehat dan peningkatan aktivitas fisik sangat krusial dilakukan sebelum memasuki usia lansia akhir. Tabel 1. menunjukkan hasil uji chi square antara tingkat pendidikan dengan lingkar perut diperoleh nilai pearson chi square sebesar 648,122 dengan nilai signifikansi <0,05 yaitu p value sebesar < 0,001 sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara tingkat pendidikan dengan lingkar perut Hasil ini dinyatakan memenuhi syarat uji karena tidak ditemukan sel dengan nilai harapan kurang dari 5. Dari hasil analisis, ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan ukuran lingkar perut. Tren data menunjukkan bahwa responden dengan pendidikan tinggi (Perguruan Tinggi/D. memiliki proporsi obesitas sentral . ingkar perut > 90 c. yang lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang tidak bersekolah atau berpendidikan dasar. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui beberapa sudut pandang yaitu: . tingkat pendidikan dan aktivitas sedenter: lulusan pendidikan tinggi cenderung bekerja di sektor formal atau manajerial yang melibatkan aktivitas fisik minimal . anyak duduk/sedente. Sebaliknya, responden dengan pendidikan rendah sering kali terlibat dalam pekerjaan fisik intensif di sektor informal . uruh, tani, atau pedagang pasa. , yang secara alami membakar lebih banyak kalori dan mencegah akumulasi lemak visceral. transisi nutrisi dan status ekonomi: pendidikan yang lebih tinggi sering kali berkolerasi dengan status sosial ekonomi yang lebih baik. Hal ini meningkatkan aksesibilitas terhadap makanan olahan tinggi kalori dan gaya hidup "barat" (Western die. yang menjadi faktor pemicu utama obesitas sentral di negara . risiko kardiovaskular . erspektif JCS): peningkatan lingkar perut pada kelompok berpendidikan ini menjadi perhatian serius dalam manajemen kesehatan jantung. Menurut literatur dalam Journal of Cardiovascular Stewardship (JCS), lingkar perut merupakan indikator lemak viseral yang secara langsung memicu peradangan Hal ini meningkatkan risiko terjadinya aterosklerosis dan kejadian kardiovaskular prematur pada kelompok usia produktif yang berpendidikan tinggi . Tabel 1. menunjukkan hasil analisis hubungan pekerjaan dengan lingkar perut diperoleh nilai pearson chi square sebesar 213. 528,884 dengan nilai signifikansi <0,05 yaitu p value sebesar < 0,001 sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara pekerjaan dengan lingkar perut responden. Hasil ini dinyatakan valid karena tidak terdapat sel yang memiliki nilai harapan kurang dari 5 . ,0%). Ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara jenis pekerjaan dengan kategori lingkar perut Kelompok pekerja di sektor formal seperti PNS/TNI/POLRI, pegawai swasta, serta wiraswasta menunjukkan prevalensi obesitas sentral . ingkar perut > 90 c. yang lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tidak bekerja atau masih sekolah. Temuan ini mengindikasikan bahwa karakteristik aktivitas harian dalam suatu pekerjaan berpengaruh langsung terhadap akumulasi lemak tubuh . Faktor utama yang mendasari fenomena ini adalah perilaku sedenter . edentary behavio. atau kurangnya aktivitas fisik selama jam kerja. Pekerjaan administratif dan manajerial umumnya menghabiskan waktu berjam-jam dalam posisi duduk di depan komputer dengan mobilitas fisik yang minimal. Kondisi ini menyebabkan ketidakseimbangan energi, di mana asupan kalori tidak sebanding dengan energi yang dikeluarkan, sehingga memicu penumpukan lemak viseral di area abdomen . Sebaliknya, pekerja lapangan dengan intensitas fisik tinggi cenderung memiliki lingkar perut yang lebih terjaga. Selain kurangnya aktivitas Copyright@2026. JOMISBAR, http://ejournal. poltekkes_smg. id/ojs/index. php/JOMISBAR fisik, tingkat stres kerja pada profesi seperti Wiraswasta dan Pegawai memiliki kontribusi terhadap obesitas sentral melalui jalur hormonal. Stres kronis di lingkungan kerja dapat meningkatkan produksi hormon kortisol secara berlebihan, yang secara klinis terbukti mempercepat penyimpanan lemak di area perut. Hal ini diperburuk dengan pola makan yang tidak teratur dan kecenderungan mengonsumsi camilan tinggi gula sebagai bentuk kompensasi terhadap tekanan pekerjaan . Dari sudut pandang manajemen risiko penyakit, kaitan antara pekerjaan dan lingkar perut merupakan indikator penting dalam pencegahan penyakit kardiovaskular. Dalam literatur Journal of Cardiovascular Stewardship (JCS), ditekankan bahwa lingkungan kerja harus menjadi sasaran utama intervensi kesehatan karena lingkar perut yang besar pada kelompok pekerja merupakan prediktor kuat terhadap kejadian hipertensi dan gagal jantung di masa depan. Stewardship kesehatan di tempat kerja melalui program aktivitas fisik singkat . sangat direkomendasikan untuk memitigasi risiko ini . SIMPULAN Korelasi antara usia, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan menciptakan profil risiko yang kompleks terhadap kejadian obesitas sentral di Indonesia. Kelompok usia produktif akhir yang berpendidikan tinggi dan bekerja di sektor formal merupakan kelompok "paling berisiko" karena akumulasi faktor gaya hidup sedenter serta pola konsumsi makanan padat energi. Oleh karena itu, pendekatan stewardship kesehatan harus difokuskan pada intervensi gaya hidup di lingkungan kerja dan edukasi kesehatan pada kelompok usia produktif untuk mencegah beban penyakit jantung yang lebih berat di masa UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terima kasih kepada Riskesdas (Riset Kesehatan Dasa. Ganda Sari Simanjuntak . Keaka Corry Simanjuntak. Josh Hagia Simanjuntak dan dr. DAFTAR PUSTAKA