JVIP, 4 . : 118 - 125 November 2023 E-ISSN : 2745-4363 Pencegahan Infeksi Bakteri Vibrio alginolyticus Pada Ikan Kerapu Cantang (Epinephelus fuscoguttatus x lanceolatu. Dengan Menggunakan Kombinasi Madu Dan Air Rebusan Patikan Kerbau (Euphorbia hirt. Kanisius Ogy Syaputra Bere1*. Yuliana Salosso2. Wesly Pasaribu3 Program Studi Budidaya Perairan. Fakultas Peternakan Kelautan dan Perikanan. Universitas Nusa Cendana. Jln. Adisucipto Penfui. Kota Kupang. Kode Pos 85228. *Email Korespondensi : ogybere@gmail. 1, 2, . Abstrak. Kegiatan budidaya ikan kerapu cantang (Epinephelus fuscoguttatus x lanceolatu. seringkali terkendala akibat serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Vibrio alginolyticus. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penggunaan kombinasi madu dan patikan kerbau dapat mencegah ikan kerapu cantang dari serangan bakteri V. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga perlakuan yang masing-masing diulangi sebanyak tiga kali yakni 2 : 1, 1,5 : 1,5 dan 1 : 2. Penelitian dilaksanakan selama satu bulan di Jalan Fatudela 1 Liliba sedangkan pemeriksaan hematologi dilakukan di UPT Laboratorium Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Parameter yang diamati meliputi jumlah eritrosit, jumlah leukosit, pertumbuhan, kelangsungan hidup, morfologi dan gejala klinis. Hasil menunjukkan bahwa pemberian kombinasi madu dan patikan kerbau tidak berpengaruh terhadap hematologi dan pertumbuhan ikan kerapu cantang (P>0,. , namun berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup ikan kerapu cantang (P<0,. dengan kelangsungan hidup tertinggi pada perlakuan 1:2. Hasil uji lanjut BNT menunjukkan bahwa perlakuan 1:2 berbeda dengan perlakuan 2 : 1 dan 1,5 : 1,5, begitu pula perlakuan 1,5 : 1,5 juga berbeda dengan perlakuan 2 : 1. Sedangkan hasil gejala klinis menunjukkan bahwa perlakuan 1 : 2 memiliki gejala klinis yang lebih ringan jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Kata kunci : Kerapu Cantang. Vibrio alginolyticus. Hematologi. Madu. Euphorbia hirta Pendahuluan Ikan Kerapu Cantang (Epinephelus fuscoguttatus x lanceolatu. merupakan salah satu dari sekian banyak spesies kerapu yang memiliki nilai ekonomis tinggi (Rahmaningsih & Ari, 2. Ikan kerapu cantang dihasilkan melalui persilangan antara induk betina ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatu. dan induk jantan ikan kerapu kertang (Epinephelus lanceolatu. (Firdausi & Mubarak, 2021. Ismi, 2017. Rahmaningsih & Ari, 2. Sutarmat & Yudha, . melaporkan bahwa ikan kerapu cantang (E. fuscoguttatus x lanceolatu. memiliki keunggulan dimana pertumbuhannya relatif cepat dibandingkan dengan jenis kerapu lainnya. Dalam pengembangan budidaya ikan kerapu cantang (Epinephelus fuscoguttatus x lanceolatu. sering terkendala oleh serangan penyakit akibat bakteri (Dahlia et al. , 2. Vibrio alginolyticus adalah golongan bakteri yang sering menginfeksi hampir semua spesies air laut (Ren et al. , 2022. Yu et al. , 2022. Zhang et al. , 2. Dilaporkan bahwa Vibrio alginolyticus menyebabkan mortalitas pada ikan kerapu cantang sebesar 60% (Mali et ,2. hingga mencapai 63,3% (Qomariyah et al. , 2. Penanganan yang sering dilakukan dalam hal mengatasi serangan bakteri yaitu dengan penggunaan antibiotik (Harikrishnan et al. , 2. Namun penggunaan antibiotik dapat berdampak buruk terhadap biota seperti resistensi antibiotik (Defoirdt et al. , 2. Oleh karena itu penanganan bakteri pada ikan dapat menggunakan bahan herbal sebagai antibiotik alami (Hamzah et al. Bahan herbal yang telah terbukti ampuh mengatasi serangan bakteri pada ikan adalah madu hutan kefa yang dapat mengobati ikan kerapu cantang dari serangan bakteri V. alginolyticus (Ollin et al. , 2. Selain madu tanaman patikan kerbau (Euphorbia hirt. juga telah terbukti dapat mencegah serangan bakteri Aeromonas hydrophilla pada ikan nila (Dawan et al. , 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji apakah kombinasi antara madu dan patikan kerbau (E. efektif dalam pencegahan serangan bakteri V. alginolyticus pada ikan kerapu cantang (E. fuscoguttatus x lanceolatu. dengan meninjau perubahan hematologi, pertumbuhan, gejala klinis serta sintasan ikan kerapu cantang dan pada perbandingan berapakah yang dapat memberikan efek terbaik. JVIP, 4 . : 118 - 125 November 2023 E-ISSN : 2745-4363 Bahan dan Metode Penelitian ini menggunakan madu hutan kefa yang diencerkan menggunakan akuades hingga mencapai konsentrasi 50%, air rebusan patikan kerbau dengan konsentrasi 3% dan ikan kerapu cantang (E. sebanyak 54 ekor dengan padat penebaran tiap akuarium adalah 6 ekor. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Oktober sampai November 2022, pemeliharaan ikan dilakukan di Jalan Fatudela 1 Kelurahan Liliba Kota Kupang dan pemeriksaan hematologi ikan dilakukan di UPTD. Dinas Kesehatan Provinsi NTT. Pemeriksaan hematologi berupa eritrosit dan leukosit dilakukan sebanyak tiga kali yakni sebelum ikan diberi perlakuan, sesudah 26 hari perlakuan dan sesudah 5 hari dilakukan infeksi bakteri Vibrio alginolyticus. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga perlakuan yang diulang sebanyak tiga kali sehingga diperoleh 9 unit percobaan yakni Perlakuan A . = 1000 ml madu dan 500 ml patikan kerbau Perlakuan B . ,5:1,. = 750 ml madu dan 750 ml patikan kerbau dan Perlakuan C . = 500 ml madu dan 1000 ml patikan kerbau. Sebelum diberi perlakuan, ikan terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi dalam wadah penelitian selama tiga hari bertujuan agar ikan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Selanjutnya dilakukan pengambilan darah ikan sebelum perlakuan. Dilanjutkan dengan perlakuan perendaman selama 26 hari yang dilakukan selama 1 sampai 2 menit pada sore hari. Saat perendaman ikan tetap diberi aerasi agar tidak kekurangan oksigen. Pada hari ke-27 dilakukan pengambilan darah sesudah perlakuan di hari yang sama pula dilakukan infeksi bakteri Vibrio alginolyticus dengan kepadatan bakteri 106 sel/ml diinfeksi ke setiap ikan dengan konsentrasi 0,1 ml/individu dengan cara di injeksi. Pengamatan gejala klinis dilakukan selama 5 hari setelah ikan diinfeksi bakteri. Parameter utama yang diamati berupa nilai sel darah merah . , sel darah putih . , kelangsungan hidup dan gejala klinis serta parameter penunjang berupa pertumbuhan ikan kerapu cantang. Perhitungan eritrosit maupun leukosit menggunakan hematology analyzer (Quintus 5 par. dimana segala proses pemeriksaan akan terjadi secara otomatis dimulai dari proses dilusi, hemolyzing, perhitungan jumlah sel, display serta print out. Kelangsungan hidup ikan kerapu cantang selama penelitian dihitung menggunakan rumus Effendie . Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut : ycyc = ycAyei ycAya yc yayaya% Keterangan : SR : Kelangsungan hidup (%) Nt : Jumlah ikan yang hidup pada akhir penelitian . N0 : Jumlah ikan pada awal penelitian . Pertumbuhan berat mutlak ikan kerapu cantang selama penelitian dihitung menggunakan rumus Effendie . Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut : Wm = Wt Ae Wo Keterangan : : Pertumbuhan berat mutlak . : Berat biomassa pada akhir penelitian . : Berat biomassa pada awal penelitian . JVIP, 4 . : 118 - 125 November 2023 E-ISSN : 2745-4363 Hasil dan Pembahasan Sel Darah Merah (Eritrosi. Rata-rata sel darah merah . ikan kerapu cantang (Epinephelus fuscoguttatus x lanceolatu. mulai dari sebelum diberi perlakuan, sesudah diberi perlakuan selama 26 hari dan sesudah infeksi selama 5 hari disajikan sebagaimana dalam gambar 1. Rata-rata Eritrosit selama Penelitian . sel/AA. 65 A 0,09 a 65A 0,09 a 65A 0,09 a 96A 0,1 a 8 A 0,1 a 7 A 0,1 a 77 A 0,1 a 4A 0,2 a 33 A 0,2 a Sebelum Perlakuan Sesudah Perlakuan Sesudah Infeksi Perlakuan A . Perlakuan B . ,5:1,. Perlakuan C . Gambar 1. Rata-rata Eritrosit Ikan Kerapu Cantang Selama Penelitian Gambar 1 menunjukkan rata-rata sel darah merah . ikan kerapu cantang sebelum diberi perlakuan berjumlah 1,65x106 sel/AAl. Nilai ini masih tergolong eritrosit normal namun dalam kategori rendah dimana rata-rata eritrosit normal pada ikan berkisar antara 1,05 Ae 3 x106 sel/mm3 (Sjafei et al. , 1. Rendahnya eritrosit ikan sebelum perlakuan diduga karena ikan dalam kondisi stres. Hal ini sejalan dengan pernyataan Bangsa et al. , . bahwa kondisi stress mampu mempengaruhi kinerja dan kesehatan ikan berupa gangguan fungsi sel darah. Selain itu, kurangnya suplai nutrisi ke sel jaringan dan organ sehingga dapat mempengaruhi total eritrosit. Eritrosit ikan kerapu cantang setelah diberi perlakuan menunjukkan adanya peningkatan yakni pada perlakuan A . = 1,7x106 sel/AAl, perlakuan B . ,5:1,. = 1,8x106 sel/AAl dan pada perlakuan C . = 1,96x106 sel/AAl (Gambar . Akan tetapi nilai tersebut tidak menunjukkan adanya perbedaan (P>0,. Meningkatnya eritrosit ikan kerapu cantang setelah diberi perlakuan dipicu oleh adanya kandungan senyawa aktif yang terkandung dalam madu dan patikan kerbau (E. Dimana madu mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, tanin dan saponin (Zahra et al. , 2. , sedangkan patikan kerbau (E. mengandung senyawa flavonoid, tannin dan steroid (Yuda et al. , 2. Sejalan dengan hal diatas Zissalwa et al. menyatakan bahwa senyawa flavonoid dan saponin mampu meningkatkan jumlah eritrosit dimana flavonoid bermanfaat dalam melindungi sel, antiinflamasi dan dapat bekerja sebagai antibiotik sedangkan senyawa saponin dapat memacu pembentukan protein (Chandra et al. , 2. Rata-rata eritrosit ikan kerapu cantang mengalami penurunan setelah diinfeksi bakteri Vibrio alginolyticus selama lima hari yakni pada perlakuan A . = 1,33x106 sel/AAl, perlakuan B . ,5:1,. = 1,4x106 sel/AAl sedangkan pada perlakuan C . = 1,77x106 sel/AAl (Gambar . Akan tetapi nilai tersebut tidak menunjukkan adanya perbedaan (P>0,. Menurunnya jumlah eritrosit setelah infeksi bakteri V. alginolyticus diakibatkan oleh bakteri yang masuk kedalam saluran darah menghasilkan enzim hemolisin sebagai suatu eksotoksin yang memiliki kemampuan dalam melisiskan sel darah merah sehingga sel darah merah pada pembuluh darah akan berkurang (Kamaludin, 2. Selain itu bakteri yang masuk kedalam tubuh ikan akan mengganggu organ hematopoietik seperti ginjal dan limpa terganggu dalam memproduksi sel eritrosit yang disebabkan oleh adanya infeksi bakteri (Kabata, 1. Walaupun mengalami penurunan namun masih dalam kisaran eritrosit normal JVIP, 4 . : 118 - 125 November 2023 E-ISSN : 2745-4363 Rata-rata Leukosit Ikan Kerapu Cantang Selama Penelitian . 104 sel/AA. Sel Darah Putih (Leukosi. Rata-rata sel darah putih . ikan kerapu cantang (Epinephelus fuscoguttatus x lanceolatu. mulai dari sebelum diberi perlakuan, sesudah diberi perlakuan selama 26 hari dan sesudah infeksi selama 5 hari disajikan sebagaimana dalam gambar 2. 87A 0,4 a 06A 1,79 a 76 A 0,32 a 16A 2,2 a 15A 0,4 a 4A 0,7 a 10 A 0,92 a 10A 0,92 a 10A 0,92 a Sebelum Perlakuan Sesudah Perlakuan Sesudah Infeksi Perlakuan A . Perlakuan B . ,5:1,. Perlakuan C . Gambar 2. Rata-rata Leukosit Ikan Kerapu Cantang Selama Penelitian. Gambar 2 menunjukkan bahwa rata-rata sel darah putih . ikan kerapu cantang sebelum diberi perlakuan berjumlah 10x104 sel/AAl. Hal ini menunjukkan bahwa leukosit ikan kerapu cantang sebelum diberi perlakuan masih tergolong leukosit normal pada ikan. Sejalan dengan hal tersebut Moyle & Cech . melaporkan bahwa rata-rata sel darah putih lebih rendah dibandingkan dengan sel darah merah pada ikan yakni berkisar antara 20. 000 sel/mm3 Ae 150. 000 sel/mm3. Leukosit ikan kerapu cantang setelah diberi perlakuan menunjukkan adanya peningkatan dimana pada perlakuan A . = 12,76x104 sel/AAl, perlakuan B . ,5:1,. = 13,06x104 sel/AAl sedangkan pada perlakuan C . = 13,87x104 sel/AAl (Gambar . Akan tetapi nilai tersebut tidak menunjukkan adanya perbedaan (P>0,. Peningkatan nilai leukosit setelah perlakuan mengindikasikan bahwa telah terjadi pembentukan antibodi yang dipicu oleh adanya kandungan senyawa aktif pada madu dan patikan kerbau (E. dimana madu madu mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, tanin dan saponin (Zahra et al. , 2. , sedangkan patikan kerbau (E. mengandung senyawa flavonoid, tannin dan steroid (Yuda et al. , 2. Sejalan dengan hal diatas Hodar et , . menyatakan bahwa senyawa aktif seperti flavonoid, steroid, fenol dan tanin dapat bekerja dalam mengaktifkan sel pertahanan seluler dengan cara meningkatkan sel yang berperan dalam sistem imun dalam hal ini adalah sel darah putih. Rata-rata leukosit ikan kerapu cantang setelah diinfeksikan bakteri Vibrio alginolyticus mengalami peningkatan dimana pada perlakuan A . = 16x104 sel/AAl, perlakuan B . ,5:1,. = 15x104 sel/AAl sedangkan perlakuan C . = 14,4x104 sel/AAl (Gambar . Namun nilai tersebut juga tidak menunjukkan adanya perbedaan (P>0,. Peningkatan nilai leukosit setelah infeksi dapat terjadi karena bakteri yang masuk kedalam tubuh ikan akan diidentifikasi sebagai antigen (Hazzuli et al. , 2. sehingga ketika terjadi infeksi maka leukosit akan membentuk antibodi untuk merangsang dan mengidentifikasi benda asing . yang masuk oleh karena itu semakin banyak rangsangan antigen maka antibodi yang dihasilkan juga akan semakin banyak (Kurniawan et al. , 2. Kelangsungan Hidup Kelangsungan hidup ikan kerapu cantang dari awal penelitian hingga 5 hari dilakukan infeksi bakteri Vibrio alginolyticus disajikan sebagaimana dalam gambar 4. Kelangsungan hidup (%) JVIP, 4 . : 118 - 125 November 2023 E-ISSN : 2745-4363 2 A19. 4 A 9,6 a A . B . ,5:1,. Perlakuan C . Gambar 3. Kelangsungan Hidup Ikan Kerapu Cantang Selama Penelitian Gambar 3 menunjukkan kelangsungan ikan kerapu cantang selama penelitian dimana pada perlakuan A . memiliki nilai sintasan 44,4%, perlakuan B . ,5:1,. sebesar 72,2% sedangkan pada perlakuan C . sebesar 100%. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa penggunaan kombinasi madu dan patikan kerbau berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup ikan kerapu cantang (P<0,. , dengan kelangsungan hidup tertinggi pada perlakuan C . selanjutnya diikuti perlakuan . ,5:1,. sedangkan kelangsungan hidup terendah pada perlakuan . Uji lanjut BNT menunjukkan bahwa perlakuan C berbeda dengan perlakuan A maupun B, begitu pula perlakuan B berbeda dengan perlakuan A. Mortalitas terjadi akibat ikan uji mengalami stress setelah terinfeksi bakteri V. Bakteri masuk menyebar ke seluruh tubuh ikan sehingga pertahanan tubuh ikan lemah dan menyebabkan kematian. Mangunwardoyo et al. , . menyatakan bahwa upaya untuk melindungi tubuh, ikan mengeluarkan banyak lendir sehingga metabolisme meningkat dan banyak menggunakan energi dalam tubuh, akibatnya ikan lemah dan stress sehingga kondisi ini mempermudah bakteri untuk menginfeksi. Faktor yang mempengaruhi kelangsungan hidup ikan kerapu cantang diduga adalah kandungan patikan kerbau dalam perlakuan. Dimana semakin tinggi konsentrasi patikan kerbau dalam perlakuan menghasilkan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi pula. Sejalan dengan hal tersebut Dawan et al. , . melaporkan bahwa pemberian patikan kerbau melalui pencegahan dapat meningkatkan ketahanan tubuh ikan. Gejala Klinis Gejala klinis diamati selama 5 hari setelah ikan kerapu cantang diinfeksi bakteri V. Gejala klinis pasca infeksi disajikan sebagaimana dalam table 1. Tabel 1. Gejala Klinis Ikan Kerapu Cantang Pasca Infeksi Perlakuan Gejala Klinis Yang Tampak Pada Hari Ke2 A . B . ,5:1,. C . Keterangan: = Respon terhadap pakan normal, ikan bergerak aktif = Respon terhadap pakan kurang, ikan berenang normal tapi tidak terlalu aktif, warna tubuh menjadi Respon terhadap pakan kurang, ikan berenang tidak seimbang terjadi kerusakan pada tubuh = . orok, luka pada bekas suntikan, sisk mengelupa. Tabel 1 menunjukkan bahwa pengamatan gejala klinis hari ke-1 menggambarkan hampir semua ikan perlakuan menunjukkan gejala klinis awal yang sama yakni warna tubuh menjadi pudar, gerakan lambat dan JVIP, 4 . : 118 - 125 November 2023 E-ISSN : 2745-4363 nafsu makan menurun. Pada hari ke 2, gerakan ikan mulai kembali normal namun pada perlakuan 2:1 dan perlakuan 1,5:1,5 beberapa ikan mengalami luka pada bekas suntikan dan sisik mengelupas selain itu ikan belum terlalu merespon pakan yang diberikan. hari ke 3, ikan pada perlakuan 1:2 sudah kembali merespon pakan sedangkan pada perlakuan 2:1 dan 1,5:1,5 masih belum merespon bahkan menunjukkan gejala tambahan seperti pada perlakuaan 2:1 terjadi borok pada operculum. Selanjutnya di hari ke 4, pada perlakuan 1:2 menunjukkan gejala sembuh yakni nafsu makan mulai normal dan sedangkan pada pada perlakuan 2:1 dan 1,5:1,5 ikan baru mulai merespon pakan sedangkan luka di bagian tubuh dan operculum tidak kunjung membaik. Pengamatan pada hari ke 5, masih menunjukkan kondisi yang sama seperti pada hari ke 4. Nitimulyo et al. , . melaporkan bahwa ikan kerapu yang terserang vibriosis akan menimbulkan gejala seperti bergerak lambat, keseimbangan terganggu dan selalu berenang di permukaan. Sementara itu Seuk et al. , . melaporkan bahwa ikan kerapu cantang setelah diinfeksi bakteri V. alginolyticus menunjukkan gejala klinis seperti sisik terkelupas, muncul benjolan dan borok disertai pendarahan pada sirip punggung dan sirip ekor, muncul benjolan pada bekas suntikan serta terjadi pendarahan, insang mengalami pendarahan, muncul borok pada permukaan tubuh ikan, respon ikan terhadap pakan kurang serta ikan sering menabrak dinding akuarium dan sering muncul ke permukaan. Gejala klinis yang muncul diinfeksi bakteri V. alginolyticus tidak begitu parah jika dibandingkan dengan yang dilaporkan oleh Nitimulyo et al. , . Seuk et al. , . Hal ini menandakan bahwa penggunaan kombinasi madu dan patikan kerbau cukup efektif dalam menekan timbulnya gejala klinis akibat infeksi bakteri V. Pertumbuhan Berat Mutlak . Pertumbuhan Berat Pertumbuhan berat mutlak ikan kerapu cantang mulai dari awal penelitian hingga 26 hari dilakukan perlakuan perendaman disajikan sebagaimana dalam gambar 3. 5 A 1,63 a 5A 3,94 a 1 A 2,5 a A . B . ,5:1,. Perlakuan C . Gambar 4. Pertumbuhan Berat Mutlak Ikan Kerapu Cantang selama 26 Hari Perlakuan Gambar 4 menunjukkan bahwa setelah dilakukan perlakuan perendaman selama 26 hari terjadi penambahan berat mutlak ikan kerapu cantang yakni pada perlakuan A . sebesar 47,5 g, perlakuan B . ,5:1,. sebesar 46,5 g sedangkan pada perlakuan C . sebesar 45,1 g. akan tetapi nilai tersebut tidak menunjukkan adanya perbedaan (P>0,. Pada awal penelitian diduga ikan mengalami stres dilihat dari kurangnya respon terhadap pakan namun setelah diberi perendaman selama beberapa hari menunjukkan nafsu makan yang semakin membaik dimana ikan kembali merespon pakan yang diberikan. Hal ini dapat terjadi karena kandungan madu yang ada dalam Sejalan dengan penelitian Arifin & Rumondang . dimana madu yang dicampur dalam pakan akan meningkatkan nafsu makan ikan. Islamiyah et al. , . menyatakan bahwa selain dapat meningkatkan nafsu makan dan berfungsi dalam ketahanan tubuh, madu juga mengandung sejumlah mineral yang dapat berfungsi dalam pembentukan sel. JVIP, 4 . : 118 - 125 November 2023 E-ISSN : 2745-4363 Kesimpulan Penggunaan kombinasi madu dan air rebusan patikan kerbau tidak memberikan berpengaruh terhadap eritrosit, leukosit dan pertumbuhan ikan kerapu cantang akan tetapi berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan kerapu cantang. Kelangsungan hidup tertinggi dihasilkan pada perlakuan C . yang berbeda dengan perlakuan lainnya, selanjutnya diikuti perlakuan B . ,5:1,. dan nilai sintasan terendah pada perlakuan A . Hasil gejala klinis menunjukkan bahwa perlakuan C . memiliki gejala klinis yang ringan dibandingkan perlakuan lainnya. Ucapan Terimakasih Ucapan terimakasih penulis berikan kepada Kepala dan seluruh staf UPT Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kupang. Daftar Pustaka