Jurnal Pendidikan Bahasa Volume 15. Nomor 4. Desember 2025 | ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Urgensi Penerapan Prinsip Kesantunan Berbahasa di Ruang Publik Kampus: Studi Kasus Kantin UIN Gusdur Eska Rojwa Fauziah1. Aulin Hanani1,*. Dewi Cahya Ningsih1. Muhammad Jamal Aldin Al-Afqhoni At-Sauriy1. Rissa Shofiani1 Universitas Islam Negeri K. H Abdurahman Wahid Pekalongan *Corespondence: aulin. hanani24053@mhs. Abstrak Penelitian ini mengkaji urgensi penerapan prinsip kesantunan berbahasa pada ruang publik non-formal kampus, dengan mengambil studi kasus di Kantin UIN Gusdur. Kantin ini berfungsi sebagai ruang interaksi dinamis berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, dosen, karyawan, dan pedagang. Fokus utama adalah menganalisis implementasi atau pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa, ditinjau dari empat kriteria: ketepatan bahasa, kelancaran, kesopanan, dan efektivitas Konsep efektivitas komunikasi dan kelancaran didasarkan pada prinsip kerja sama . ooperative principl. dari H. Grice. Sementara itu, kesopanan dan kepatuhan pada maksim penghargaan serta pemufakatan berakar pada prinsip kesantunan . oliteness principl. oleh Geoffrey Leech. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan partisipatif moderat terhadap interaksi verbal transaksional. Hasil analisis menunjukkan bahwa komunikasi di Kantin UIN Gusdur secara umum berlangsung efektif, lancar, dan menjaga Meskipun terdapat penggunaan bahasa lisan yang sangat non-formal, seperti penyingkatan kata, penghilangan kata kerja, dan fenomena campur kode dan alih kode, hal ini justru berfungsi untuk meningkatkan keakraban sosial dan kelancaran komunikasi, sekaligus merefleksikan budaya lokal Pekalongan. Penggunaan sapaan hormat ("Bu," "Om") dan ungkapan lokal ("Monggo," "Maturnuwun," "Nak") menunjukkan kepatuhan yang kuat terhadap maksim penghargaan dan Kata Kunci: Kesantunan Berbahasa. Efektivitas Komunikasi. Campur Kode dan Alih Kode Received: 5 Nov 2025. Revised: 24 Nov 2025. Accepted: 25 Nov 2025. Available Online: 7 Des 2025 This is an open access article under the CC - BY license. PENDAHULUAN Kesantunan dalam berbahasa adalah aspek yang sangat penting dalam interaksi sosial dan komunikasi, terutama di lingkungan akademik. Menurut Siregar. , . alam bidang pdendidikan tinggi, penggunaan bahasa yang sopan dan etis sangat penting untuk mempertahankan hubungan profesional di antara sivitas akademika, meningkatkan mutu interaksi, serta membangun budaya akademis yang inklusif dan efektif. Penelitian ini menggunakan landasan teoretis utama dari bidang Pragmatik dan konsep Kesantunan Berbahasa (Linguistic Politenes. Pragmatik mengkaji makna tuturan berdasarkan konteks sosial dan budaya, sebagaimana dinyatakan bahwa komunikasi efektif terjadi ketika individu mematuhi norma sosial (Khazin, 2. Oleh karena itu, mutu ucapan di kampus mencerminkan dengan jelas keberhasilan dalam pembinaan etika akademik. Teori ini menjadi pisau analisis utama untuk mengidentifikasi kepatuhan dan pelanggaran terhadap norma Sebagai teori pendukung, digunakan kerangka Sosiolinguistik untuk menganalisis faktor sosialbudaya dan bahasa. Konsep kunci sosiolinguistik yang diterapkan adalah Campur Kode (Code-Mixin. , yang menjadi fokus utama dalam mengurai bagaimana penyisipan dialek atau bahasa ibu dapat ditafsirkan sebagai pelanggaran etika berbahasa (Syahriani, dkk. , 2. Lingkungan kampus yang menjadi tempat bagi mahasiswa dengan beragam latar belakang etnis dan bahasa, sering kali menghadapi sulitnya menjaga kesopanan dalam berbicara. Fenomena di ruang umum mengindikasikan penurunan etika dalam berbahasa lisan, yang dalam konteks interaksi di lingkungan kampus, sering kali disebabkan oleh faktor sosiolinguistik. Syahriani dkk. menyatakan bahwa pelanggaran etika https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. berbahasa sering disebabkan oleh campur kode antara dialek dan Bahasa Indonesia yang terjadi secara tiba-tiba. Dalam fenomena ini, penutur memasukkan kosakata bahasa ibu ke dalam percakapan. Hal tersebut dapat menimbulkan tafsiran tidak sopan, meskipun penutur menganggapnya sebagai kebiasaan yang wajar. Selain itu, perbedaan latar belakang sosial dan budaya di antara mahasiswa juga memengaruhi cara mereka berkomunikasi serta pemahaman tentang kesopanan, yang terkadang dapat menyebabkan kesalahpahaman di antara mahasiswa dari berbagai budaya Kamhar. , dkk. Oleh karena itu, menyelidiki fenomena ini memiliki urgensi tinggi untuk memberikan data empiris mengenai dampak latar belakang linguistik dan budaya terhadap kesantunan berbahasa, serta menegaskan kembali pentingnya etika berkomunikasi sebagai bagian integral dari pembentukan karakter mahasiswa yang berakhlak mulia sesuai dengan nilai-nilai keislaman UIN. Fokus utama penelitian ini adalah Kantin UIN Gusdur. Pemilihan lokasi ini sangat tepat karena Kantin berfungsi sebagai ruang publik non-formal yang aktif, di mana interaksi yang nyata terjadi dan melibatkan berbagai lapisan sosial, mulai dari mahasiswa, dosen, karyawan, hingga para pedagang. Menurut Wahyuni . , interaksi informal di lokasi ini menghasilkan pola komunikasi yang sangat dipengaruhi oleh status sosial dan konteks, sehingga cenderung melonggarkan atau bahkan melanggar norma kesopanan. Kantin bertindak sebagai "laboratorium" sosial di mana komunikasi memiliki karakteristik yang kontras dengan lingkungan formal, terutama dalam penggunaan tindak tutur dan tingkat kesopanan . Subjek penelitian ini terdiri dari sivitas akademika dan komunitas pedagang dengan mahasiswa, kariyawan dan dosen yang berinteraksi di Kantin UIN Gusdur. Data dikumpulkan melalui observasi percakapan selama periode sekitar dua minggu. Studi ini dilaksanakan untuk mengonfirmasi, menganalisis, serta menunjukkan pentingnya peningkatan kepatuhan terhadap kemampuan berbahasa lisan. Untuk mencapai tujuan ini, masalah yang akan dikaji adalah . bagaimana bentuk tuturan yang sesuai atau bertentangan dengan norma kesopanan berbahasa . ari sudut pandang ketepatan bahasa, kelancaran, kesopanan, dan efektivitas komunikas. di Kantin UIN Gusdur, dan . faktor-faktor khusus apa saja yang menjadi penyebab utama dalam pematuhan atau pelanggaran kesantunan, terutama yang berkaitan dengan penggunaan dialek dan latar belakang sosial budaya. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan keuntungan ganda, baik dari segi teoritis untuk mendukung ilmu pengetahuan pragmatik dalam konteks keislaman, maupun dari segi praktis sebagai landasan rekomendasi program pendidikan UIN Gusdur dalam mengembangkan etika dan nilai-nilai Islam di lingkungan kampus. METODE Penelitian ini akan menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus . ase stud. yang berlokasi di Kantin UIN KH Abdurrahman Wahid (UIN Gus Du. Pekalongan. Proses pengumpulan data berlangsung selama kurang lebih dua Minggu hingga data mencapai saturasi. Fokus utama penelitian ini adalah semua interaksi verbal yang terjadi di Kantin, meliputi percakapan antara mahasiswa, mahasiswa dan dosen, serta interaksi bersama penjual. Populasi adalah keseluruhan interaksi dan sampel yang dikumpulkan menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Peneliti menggunakan pengamat partisipatif moderat untuk mengintensifkan observasi lokasi, dibantu dengan instrumen primer yaitu pedoman observasi dan catatan lapangan. Analisis data akan mengikuti model interaktif yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil observasi menunjukkan bahwa komunikasi transaksional di kantin mengutamakan ketepatan bahasa yang bersifat fungsional. Secara umum, ungkapan dalam komunikasi menunjukkan ketepatan bahasa karena pesan dapat disampaikan dengan jelas dan direspon dengan baik, meskipun terdapat elemen bahasa lisan yang tidak formal, seperti penyingkatan kata. Tabel 1. Analisis Urgensi Penerapan Prinsip Kesantunan Berbahasa di Ruang Publik Kampus: Studi Kasus Kantin UIN Gusdur Judul Tema Percaka pan di Komunikasi Transaksio Urgensi Penerapan Prinsip Kesantunan Berbahasa Menjaga Norma Hormat: Penggunaan https://ejournal. id/index. php/jpb/index Bentuk Keterampilan Berbicara Direktif/Asertif Fungsional: Bentuk Efektivitas Komunikasi Kejelasan & Responsif Cepat: Dampak Sosial yang Terlihat Terpeliharanya Kesantunan Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 Judul Tema Kantin UIN Gusdur Fungsional Keseimbang Kesantunan Lokal ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Urgensi Penerapan Prinsip Kesantunan Berbahasa sapaan "Bu" oleh mahasiswa dan ungkapan "Monggo" oleh penjual penghormatan dasar meskipun dalam transaksional yang sa Bentuk Keterampilan Berbicara Mahasiswa tuturan langsung untuk bertanya dan memesan ("Menunya ada apa aja Bu?," "Tahu Campur 2" Bentuk Efektivitas Komunikasi Pesan disampaikan secara ringkas ("Tahu Campur 2") dan langsung Komunikasi berhasil mencapai pembayaran dan penawaran produk tambahan secara ef Menciptakan Suasana Inklusif: Penerapan kesantunan dasar . eperti sapaa. berfungsi sebagai fondasi untuk lingkungan kampus yang menghargai keberagaman latar sosial dan bahasa. Informatif/Komi sif: Penjual informasi menu ("Ada GadoGado. Tahu campur") dan pembeli ("Krupuk Pok?. Satu ya"), interaksi yang pro Efisiensi Transaksional Tinggi: Penyingkatan kata dan respons yang Kelancaran Berbicara yang tinggi, namun tetap diimbangi aspek kesantunan. Dampak Sosial yang Terlihat Dasar: Kepatuhan pada penanda hormat lokal . apaan "Bu" dan ucapan "Monggo") interaksi yang positif dan bera Etika Persuasif: Penjual kesopanan yang melalui cara berbicara yang persuasif dan lembut saat (Siregar dkk. , 2 Ungkapan mahasiswa "Tahu Campur 2" menggantikan ungkapan "Saya pesan dua porsi Tahu Campur," serta penghilangan kata kerja seperti pada ungkapan "Ada Gado-Gado. Tahu campur" oleh penjual. Gaya komunikasi non-formal ini secara kausalitas meningkatkan Kelancaran Berbicara dan Efektivitas Komunikasi (Purnama dkk. , 2024. Hamidah, 2. , sebab respons yang cepat dari kedua pihak mempercepat proses Meskipun non-formal, aspek Kesantunan Berbahasa tetap terjaga. Penggunaan sapaan "Bu" oleh mahasiswa adalah penanda penghormatan yang sesuai dalam konteks budaya Indonesia, sementara penjual menampilkan sopan santun yang dipengaruhi oleh budaya setempat dengan menggunakan ungkapan "Monggo" . dan dengan cara berbicara yang persuasif dan lembut dalam mempromosikan kerupuk ("Krupuk Pok? Satu ya"). Penggunaan "Bu" dan "Monggo" ini merupakan wujud kepatuhan terhadap norma budaya setempat (Siregar dkk. , 2. yang menciptakan suasana interaksi positif. Implikasinya, temuan ini menegaskan bahwa etika komunikasi di ruang publik kampus dapat dipertahankan melalui penggabungan efisiensi bahasa lisan dan kepatuhan pada penanda hormat dasar. Tabel 2. Analisis Urgensi Penerapan Prinsip Kesantunan Berbahasa di Ruang Publik Kampus: Studi Kasus Kantin UIN Gusdur Judul Tema Percakap an di Pembayaran Urgensi Penerapan Prinsip Kesantunan Berbahasa Menjaga Norma Hormat: https://ejournal. id/index. php/jpb/index Bentuk Keterampilan Berbicara Bentuk Efektifitas Komunikasi Direktif/Campur Kode: Mahasiswa Alur Jelas dan Respons Cepat: Dampak Sosial yang Terlihat Peningkatan Keakraban Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 Judul Tema Kantin UIN Gusdur Campur Kode Situasional Urgensi Penerapan Prinsip Kesantunan Berbahasa Konsistensi sapaan "Bu" oleh berfungsi sebagai mekanisme facesaving dan Maksim Pemufakatan (Agreement Maxi. Keseimbangan Efisiensi dan Adat: Meskipun terjadi campur kode yang nonformal, sapaan bahwa efisiensi transaksi tidak komunikasi dasar. ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Bentuk Keterampilan Berbicara Bentuk Efektifitas Komunikasi Dampak Sosial yang Terlihat tindak tutur direktif . eminta pembayara. yang diselingi Campur Kode lokal ("opo kae namane"Aiapa itu namany. saat hambatan kognitif . engingat Penjual dengan deklaratif yang jelas ("Kembalian Dua ribu ya"), alur komunikasi yang lancar dan secara langsung. Kelancaran Berbicara Tinggi: Penggunaan bahasa yang lugas, dengan balasan yang cepat, kelancaran yang tinggi, sesuai dengan sifat komunikasi trans Lokal: Campur kode ("opo kae namane") secara keakraban lokal dan memvalidasi latar belakang mahasiswa, tanpa Konsistensi Hormat: Meskipun disisipi dialek, penggunaan "Bu" yang konsisten bahwa aspek kesantunan tetap menjadi prioritas interaksi sosial. Asertif/Deklaratif : Mahasiswa pembayaran ("Ini Bu sepuluh ribu"), dan Penjual informasi sisa Interaksi percakapan tersebut menunjukkan bagaimana Ketepatan Bahasa diimbangi oleh Campuran Dialek Pekalongan/Jawa. Hal ini terlihat dari penyisipan frasa Jawa "opo kae namane" . pa itu namany. oleh mahasiswa ketika berusaha mengingat pesanan ("Ibu mau membayar apa tadi. Lontong sayur. opo kae namane"). Fenomena campur kode ini (Rachmanita dkk. , 2. sering muncul dalam komunikasi transaksional di lingkungan Jawa dan secara kausal berfungsi sebagai strategi untuk mengatasi hambatan kognitif . engingat pesana. dan meningkatkan keakraban lokal. Secara gramatikal, mahasiswa menggunakan tindak tutur direktif . eminta pembayara. , sementara penjual merespons dengan deklaratif, menunjukkan adanya alur komunikasi yang jelas (Setiawati dan Alber, 2. Alur yang jelas ini, dikombinasikan dengan balasan yang cepat, menghasilkan Kelancaran Berbicara dan Efektivitas Komunikasi yang tinggi, di mana tujuan pembayaran tercapai secara langsung (Khotimah, 2023. Abdul dkk. , 2. Dalam kerangka pragmatik, kesantunan berbahasa terpelihara melalui Maksim Pemufakatan (Agreement Maxi. yang ditandai dengan penggunaan sapaan 'Bu' secara konsisten (Ainun. Siregar, & Rahmawati, 2. Sapaan ini berfungsi sebagai mekanisme menjaga citra diri . penutur, meskipun situasi tersebut bersifat transaksional. Tabel 3. Analisis Urgensi Penerapan Prinsip Kesantunan Berbahasa di Ruang Publik Kampus: Studi Kasus Kantin UIN Gusdur Judul Tema Percakap an di Penawaran Produk Urgensi Penerapan Prinsip Kesantunan Berbahasa Mematuhi Prinsip Penghargaan https://ejournal. id/index. php/jpb/index Bentuk Keterampilan Berbicara Direktif dan Asertif: Bentuk Efektifitas Komunikasi Efektivitas Meyakinkan: Dampak Sosial yang Terlihat Kesesuaian Etika Komunikasi Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 Kantin UIN Gusdur Strategi Asertif (Approbation Maxi. : Pertanyaan mahasiswa ("Nasi jagung enak gak?") secara strategis mendorong penjual untuk memberikan pujian produk ("Nasi Jagung Enak"), yang terhadap barang yang dijual dan citra diri penjual. Menjaga Hormat Dasar: Penggunaan sapaan "Bu" yang konsisten menjaga suasana interaksi tetap profesional dan santun, sesuai dengan norma budaya Indonesia. ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Mahasiswa dengan tindak tutur direktif . eminta "Yang ini apa Bu?") dan dengan tindak tutur asertif . onfirmasi kualitas, "Nasi enak gak?. Manis?"). Respon tegas penjual ("Nasi Jagung Enak") mahasiswa untuk membeli ("Oke cobalah satu"). Efektivitas Komunikasi yang Fungsional: Interaksi ini bahwa etika melalui struktur kalimat sederhana dan fungsional yang langsung mencapai tujuan . nformasi pembelian terjad. Menjaga Hormat Dasar: Penggunaan sapaan "Bu" yang konsisten interaksi tetap dan santun, sesuai dengan Indonesia. Kejelasan Informasi: Permintaan mahasiswa akan informasi produk terpenuhi dengan Kepuasan Pelanggan: Tindak tutur yang efektif informasi yang cepat, yang pada mengarah pada tran Dalam percakapan tersebut dimana melibatkan penawaran produk (Nasi Jagun. Ketepatan Bahasa dicapai melalui struktur kalimat sederhana dan fungsional. Mahasiswa memulai dengan tindak tutur direktif dan asertif ("Yang ini apa Bu? ", "Nasi jagung enak gak?. Manis?") yang mencerminkan kebutuhan akan kejelasan informasi produk (Maghfiroh. Tindak tutur asertif Mahasiswa secara kausal memicu respon tegas penjual ("Nasi Jagung Enak"), yang berhasil meyakinkan Mahasiswa untuk membeli, menunjukkan Efektivitas Komunikasi yang tinggi (Khotimah, 2. Pada aspek Kesantunan Berbahasa, interaksi ini mematuhi Prinsip Penghargaan (Approbation Maxi. Pertanyaan konfirmasi Mahasiswa ("Nasi jagung enak gak?,") secara strategis mendorong Penjual untuk memberikan pujian tentang produknya, yang dianggap sebagai tuturan yang mengoptimalkan penghargaan atau apresiasi terhadap barang yang dijual, sekaligus mempertahankan citra diri penjual (Hamanay dkk. , 2. Tabel 4. Analisis Urgensi Penerapan Prinsip Kesantunan Berbahasa di Ruang Publik Kampus: Studi Kasus Kantin UIN Gusdur Judul Tema Percakap an di Kantin UIN Gusdur Campur Kode Leksikal Sapaan A Urgensi Penerapan Prinsip Kesantunan Berbahasa Kepatuhan Norma Informal: Penggunaan sapaan "Om" dan "Mbak" merupakan bentuk kepatuhan terhadap https://ejournal. id/index. php/jpb/index Bentuk Keterampilan Berbicara Campur Kode Leksikal: Percakapan didominasi oleh campur kode yang Bentuk Efektifitas Komunikasi Kelancaran Berbicara Sangat Tinggi: Campur kode ini secara Dampak Sosial yang Terlihat Penciptaan Suasana Familiar: Penggunaan sapaan akrab dan campur Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 Judul Tema ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Urgensi Penerapan Prinsip Kesantunan Berbahasa Maksim Penghargaan dan Pemufakatan dalam ranah suasana familiar. Bentuk Keterampilan Berbicara leksikal Bahasa Jawa ("tuku," "piro," "duite") dengan Bahasa Indonesia, yang sangat santai. Strategi Komisif Efektif: Penggunaan kata "Saja" oleh penjual saat menyebut harga ("3. 000 Saja") adalah tindak tutur komisif untuk menegaskan harga yang terjangkau, mematuhi Prinsip Penghargaan. Direktif dan Asertif: Mahasiswa tindak tutur direktif ("Tuku minum es teh om"), yang segera direspon oleh penjual dan diikuti dengan tindak tutur asertif ("3. Saja"). Bentuk Efektifitas Komunikasi suasana familiar dan mendukung komunikasi yang sangat cepat dan yang sangat baik. Kejelasan Harga dan Persetujuan Cepat: Tujuan harga dan transaksi tercapai secara langsung Dampak Sosial yang Terlihat kode yang santai antara penjual dan pembeli, yang cepat. Etika Efisiensi: Komunikasi ini bahwa efisiensi tinggi dan bahasa yang sangat nonformal dapat tetap beretika norma sapaan Penggunaan bahasa yang paling tidak formal ditandai dengan campur kode yang menggabungkan leksikon Bahasa Jawa seperti 'tuku', 'piro', dan 'duite', serta sapaan akrab 'Om' dan 'Mbak' (Sundawa. R 2. Sundawa. R . menyebutkan bahwa campur kode ini menciptakan suasana familiar, yang menurut Larasati dan Widyaningsih . mendukung komunikasi yang cepat dan santai. Hal ini berdampak pada kelancaran berbicara yang sangat baik serta penyelesaian transaksi yang cepat (Khotimah, 2. Meskipun dalam situasi non-formal, kesantunan berbahasa tetap terjaga mengikuti norma setempat. Ainun dkk. menjelaskan bahwa penggunaan sapaan 'Om' dan 'Mbak' merupakan bentuk kepatuhan terhadap Maksim Penghargaan dan Permufakatan. Lebih lanjut, strategi penambahan kata 'saja' saat penyebutan harga . isalnya: '3. 000 saja') berfungsi sebagai tindak tutur komisif untuk menegaskan harga yang terjangkau (Hamanay, 2. Tabel 5. Analisis Urgensi Penerapan Prinsip Kesantunan Berbahasa di Ruang Publik Kampus: Studi Kasus Kantin UIN Gusdur Judul Tema Urgensi Penerapan Prinsip Kesantunan Berbahasa Bentuk Keterampilan Berbicara Bentuk Efektifitas Komunikasi Dampak Sosial yang Terlihat Percakap an di Kantin UIN Gusdur Alih Kode Situasion al dan Maksim Kederma Memenuhi Maksim Kedermawanan (Generosity Maxi. Penggunaan panggilan akrab "nak" . oleh Alih Kode Situasional: Penjual memulai dengan ungkapan Jawa ("Arep pesen opo, nak?") sebagai penyesuaian sosial terhadap lawan tutur . Kelancaran dan Kejelasan Perlokusi Tinggi: Tuturan direktif yang jelas dari didukung oleh tuturan perlokusi penjual ("Oke. Peningkatan Keakraban dan Solidaritas: Alih kode dan sapaan "nak" memvalidasi latar https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 Judul Tema ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Urgensi Penerapan Prinsip Kesantunan Berbahasa Bentuk Keterampilan Berbicara Bentuk Efektifitas Komunikasi Dampak Sosial yang Terlihat sikap peduli dan kehangatan, yang keakraban tanpa mengurangi rasa yang diikuti dengan Campur Kode ("Sedelot maning ya" dan "Iki duete. Bu"). Sedelot maning ya"), yang berhasil mahasiswa untuk belakang budaya lokal, dan suasana interaksi yang sangat positif Kepatuhan Budaya dalam Penutup: Penggunaan "Maturnuwun" . erima kasih dalam bahasa Jaw. sebagai penutup interaksi kepatuhan dan terhadap budaya (Siregar dkk. , 2. Direktif dan Komisif: Mahasiswa tindak tutur . , dan Penjual tindak tutur komisif/deklaratif . enyebutkan total harga dan meminta tungg. Tujuan Transaksi Tercapai Penuh: Interaksi dimulai dari perencanaan, konfirmasi, hingga pembayaran dan semuanya berjalan lancar dan efektif Etika Adaptif: Temuan ini bahwa kesantunan bukan hanya kepatuhan kaku pada kaidah formal, tetapi juga yang adaptif dan didukung oleh belakang budaya. Dari tabel percakapan di atas dialog yang terjadi di kantin UIN Gusdur secara linguistik ditandai dengan munculnya fenomena Alih Kode dan Campur Kode situasional. Alih kode situasional muncul ketika Penjual secara sadar menggunakan ungkapan Jawa AuArep pesen opo. Nak?Ay sebagai bentuk penyesuaian sosial terhadap lawan tutur (Larasati & Widyaningsih, 2. Penggunaan kode tersebut secara kausal meningkatkan keakraban, yang diperkuat oleh penerapan Maksim Kedermawanan melalui panggilan akrab AuNakAy sebagai penanda sikap peduli (Ainun et al. , 2. Penyesuaian kode dan kejelasan tuturan direktif ini memastikan kelancaran berbicara dan efektivitas komunikasi tetap tinggi. Bahkan tuturan perlokusi Penjual AuOke, sedelot maning yaAy berhasil memengaruhi Mahasiswa untuk bersabar tanpa mengeluh (Savira et al. , 2. Implikasi temuan ini bagi ilmu pragmatik adalah penegasan bahwa di lingkungan multietnis, kesantunan tidak hanya dipandang sebagai kepatuhan kaku pada kaidah formal, melainkan sebagai strategi sosiolinguistik yang adaptif yang didukung oleh latar belakang budaya. Bagi praktik pendidikan UIN Gusdur, hasil ini menjadi dasar rekomendasi bahwa pembinaan etika berbahasa mahasiswa harus memasukkan pemahaman tentang fungsi sosial campur kode dan peran penanda hormat lokal dalam membangun komunikasi yang efektif dan berakhlak, di mana Kesantunan Berbahasa terwujud dalam keseimbangan antara efisiensi . dan keakraban . ampur kode/diale. KESIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa etika berkomunikasi di ruang publik non-formal seperti Kantin UIN Abdurrahman Wahid (UIN Gusdu. berjalan sangat baik dan bersahabat, menunjukkan adaptasi fungsional dari prinsip Kesantunan Berbahasa yang didukung oleh budaya lokal. Meskipun percakapan bersifat santai dan menggunakan bahasa lisan yang ringkas dan efisien . eperti penyingkatan kalima. untuk memperlancar transaksi, nilai-nilai kesopanan tetap terjaga melalui sapaan khas lokal ("Bu," "Om," "Nak"), yang mencerminkan kepatuhan terhadap Maksim Penghargaan dan Pemufakatan. Aspek unik lainnya adalah campur kode dan alih kode antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa . isalnya, "opo kae namane") yang tidak merusak kesantunan, sebaliknya elemen lokal ini berfungsi sebagai strategi sosial untuk mengatasi kendala komunikasi atau membangun keakraban. Dengan demikian, kesantunan berbahasa di UIN Gusdur dipahami sebagai strategi https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. sosial yang adaptif bukan kepatuhan formal yang selaras dengan latar belakang budaya Pekalongan dan memperkuat nilai-nilai keislaman dalam pembentukan karakter mahasiswa. Daftar Pustaka