Jurnal Penabiblos Edisi ke-29. ISSN : 2086-6097. Vol. 14 No. 2 -- November 2023 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen PENGALAMAN PENGASUHAN KELUARGA YANG MEMILIKI ANAK USIA 6-24 BULAN DENGAN STATUS WEIGHT FALTERING Oleh: Asriani Puspita Dewi. Sherly Ester E. Kawengian. Binuko Edi Nugroho. p19@student. id, esterk. fakukrim@gmail. binukoedi@ukrimuniversity. Abstrack This article discusess the experiences of parenting for families who have toodlers with weight faltering status. This research was conducted at the Mother and Child Development Intervention Light Generation IO-0777 Hagios Yogyakarta, which is located around the Malioboro tourist area, presicely on Jalan Sosrowijayan No. Sosromenduran Village. Gedong Tengen District. Special Region of Yogyakarta. This research was conducted using a descriptive qualitative method, using a phenomenological approach. The author took as many as 9 parents or families as participants to explore their experience of parenting to children with weight faltering status. From the research results identified as many as 4 main themes that describe various family experiences, specifically mothers as the main caregivers, who care of toodlers with weight faltering status. The four theme include: parenting experiences, parental responses about problem of weight faltering, obstacles and support when raising children, the meaning of parenting experiences. Keywords: parenting experiences, golden age, weight faltering Abstrak Artikel ini membahas mengenai pengalaman pengasuhan keluarga yang memiliki anak balita dengan status weight faltering. Penelitian ini dilakukan di Intervensi Pengembangan Ibu dan Anak (IPIA) Light Generation IO-0777 Hagios Yogyakarta yang berada di sekitar kawasan wisata Malioboro tepatnya berada di Jalan Sosrowijayan No. Desa Sosromenduran. Kecamatan Gedong Tengen. Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif menggunakan pendekatan fenomenologi. Penulis mengambil partisipan sebanyak 9 orang tua atau keluarga untuk digali pengalamannya mengasuh anak dengan status weight faltering. Dari hasil penelitian teridentifikasi sebanyak 4 tema utama yang memaparkan berbagai pengalaman keluarga secara spesifik ibu sebagai pengasuh utama, yang mengasuh anak balita dengan status weight faltering. Keempat tema tersebut antara lain: pengalaman pengasuhan orang tua, respons orang tua terhadap masalah weight faltering, hambatan dan bantuan ketika mengasuh anak, makna pengalaman pengasuhan. Kata Kunci: pengalaman pengasuhan, anak usia 6-24 bulan, weight faltering Pendahuluan Keberhasilan tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh faktor lingkungan, yang dimulai dari lingkungan keluarga. Keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama bagi tumbuh kembang anak, diberi amanah dari Sang Pencipta untuk melakukan pengasuhan dengan baik. Pengasuhan merupakan keseluruhan interaksi antara orang tua dengan anak dalam rangka mendukung perkembangan fisik, emosi, sosial, intelektual, dan spiritual sehingga anak tumbuh dan berkembang Jl. Solo KM. Kalasan. Kab. Sleman. DI Yogyakarta Web: ukrim. Journal. id/index. php/JPS ---- 112 Jurnal Penabiblos Edisi ke-29. ISSN : 2086-6097. Vol. 14 No. 2 -- November 2023 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen menjadi pribadi yang mandiri, cerdas, sehat, berbudi pekerti luhur dan berkarakter mulia. 1 Tidak hanya itu, pengasuhan ialah tugas utama yang harus dilakukan oleh orang tua sejak anak dalam kandungan, usia dini, remaja hingga dewasa. 2 Salah satu pengaruh besar yang diberikan keluarga dalam proses pengasuhan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu pola asuh orang Sebab, sikap dan perilaku orang tua dalam proses pengasuhan akan memberikan dampak bagi pertumbuhan dan perkembangan anak di kemudian hari. Jika pengasuhan anak belum bisa dipenuhi secara baik dan benar, maka akan muncul suatu masalah dan konflik tertentu dalam tumbuh kembang anak. Salah satu masalah tumbuh kembang anak yang perlu mendapat perhatian serius yaitu gangguan gizi dalam kesehatan balita yang berdampak pada keterlambatan pertumbuhan dan 3 Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SGI) 2021 menunjukkan bahwa 1 dari 4 anak Indonesia mengalami stunting dan 1 dari 10 anak mengalami gizi kurang. 4 Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Mirta Agustina, et al menjelaskan bahwa pola asuh dapat memengaruhi status gizi karena tentang tindakan pemberian makan yang berhubungan dengan tercukupinya kebutuhan gizi anak baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Tidak hanya itu, pola asuh juga berkaitan akan pemantauan kesehatan anak seperti imunisasi dan penimbangan secara 5 Sedangkan, menurut penelitian yang dilakukan oleh Lubis, terdapat hubungan antara tipe pola asuh terhadap pola makan sehingga memengaruhi status gizi balita, yang mana status gizi balita sangat pendek dan pendek, mayoritas terdapat pada tipe pola asuh permisif. Adapun yang menjadi latar belakang masalah, penulis ingin melakukan penelitian ini yaitu pertama, ditemukan adanya masalah rendahnya tingkat kesadaran orang tua akan kesehatan balita yang nampak dari pola pikir dan perilaku pengasuhan yang keliru di tempat penelitian. Masalah tersebut antara lain orang tua memberikan makanan tidak sesuai tahapan usianya, pemberian makan seharusnya tiga kali hanya diberikan dua kali, anak usia 36 bulan sudah diberikan mie instan, pemberian cemilan-cemilan manis dan kurang sehat, kurangnya pemberian ASI eksklusif, pemberian susu formula yang berlebihan, waktu atau jadwal tidur dan pola makan anak yang tidak teratur. Padahal, berbagai upaya telah dilakukan IPIA Hagios untuk mengantisipasi masalah tersebut diantaranya program penyuluhan dan edukasi seputar kesehatan gizi anak dan support bahan makanan yang sehat. Kedua, terdapat masalah weight faltering pada 9 keluarga penerima manfaat yang memiliki anak usia 6-24 bulan. Melalui hasil pemantauan KMS (Kartu Menuju Seha. di IPIA Hagios Yogyakarta selama penulis melakukan PPL pada September 2022 lalu, dari 34 Balita rentang usia 6-24 bulan, 9 diantaranya pernah mengalami weight faltering. Sedangkan beberapa keluarga yang pernah mengalaminya telah berhasil melewati masalah tersebut, ditunjukkan dengan kenaikan berat badan yang cukup signifikan pada anak. Weight faltering atau growth faltering ialah kegagalan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. AuPengasuhan PositifAy . :3. Ibid Hapsari Maharani Sugeng. Rodman Tarigan, and Nur Melani Sari. AuGambaran Tumbuh Kembang Anak Pada Periode Emas Usia 0-24 Bulan Di Posyandu Wilayah Kecamatan Jatinangor,Ay Jurnal Sistem Kesehatan 4, no. : 97. Kkn. AuMuda yang Bersuara: Gaungkan Masalah Stunting Pada Generasi Muda Desa Pakopen,Ay https://kkn. id/?p=331005, . iakses pada 12 Oktober 2. Ibid. , 508. Azizah Lubis. AuHubungan Tipe Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pola Makan (Jenis. Frekuensi. Jumlah Asupan Energ. dan Status Gizi Balita di Kota Malang,Ay Universitas Brawijaya . Jl. Solo KM. Kalasan. Kab. Sleman. DI Yogyakarta Web: ukrim. Journal. id/index. php/JPS ---- 113 Jurnal Penabiblos Edisi ke-29. ISSN : 2086-6097. Vol. 14 No. 2 -- November 2023 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen pertumbuhan yang memicu terjadinya underweight bahkan stunting. 7 Pada tahun 2019, jumlah balita yang mengalami gizi kurang atau underweight di DIY sebanyak 1056 jiwa atau 7,6% dari total seluruh balita di wilayah Jogja. 8 Sedangkan, di tahun 2020 jumlah balita yang mengalami berat badan kurang atau underweight di DIY sebanyak 1084 jiwa atau 9% dari total keseluruhan balita yang ada di Jogja. 9 Hal tersebut berarti kasus gizi kurang atau underweight mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya selama masa pandemi. Selain itu. IPIA Light Generation IO-0777 Hagios Yogyakarta yang terletak di Jalan Sosrowijayan No. 80 ini, berada dalam lingkup Puskesmas Gedongtengen, yang mana melalui hasil survei kasus gizi buruk di DIY tahun 2020, sebanyak 11 anak balita mengalami gizi buruk dan dirawat secara medis. Berdasarkan hasil survei tersebut, daerah Gedongtengen menduduki posisi kelima kasus gizi buruk tertinggi di Yogyakarta setelah daerah Umbulharjo 1. Gondokusuman 1. Kraton dan Jetis. Selain memicu terjadinya underweight . izi kuran. dan stunting yang mengarah pada kategori pendek karena kekurangan gizi kronis, masalah weight faltering bila tidak diatasi akan menimbulkan masalah yang lebih serius lagi yaitu wasting . dan gizi buruk. Tidak hanya itu, weight faltering yang terus menerus dibiarkan begitu saja, juga dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan kognitif, sosio-emosional dan psikomotorik pada anak, terganggunya sistem imunitas tubuh, meningkatnya risiko terkena infeksi dan penyakit, kesulitan belajar dan masalah perilaku, hingga menyebabkan kematian pada bayi. 11 Sehingga, weight faltering sebagai pintu utama masuknya berbagai masalah status ketidakcukupan gizi lainnya yang lebih serius, bila tidak segera ditangani sangat berpengaruh terhadap produktivitas hidup seseorang kedepannya. Berdasarkan paparan kasus mengenai gizi balita dan dampaknya tersebut, gereja seharusnya menyadari bahwa masalah itu sangatlah penting untuk diselesaikan dan menimbulkan keresahan di Indonesia bahkan seluruh dunia. Gereja sebagai tubuh Kristus yang terdiri dari persekutuan orang percaya, kehadirannya dipanggil untuk membawa dampak positif dan berpartisipasi dalam permasalahan yang terjadi di lingkungan masyarakat sekitar, dengan cara saling memahami, peduli, dan melayani kebutuhan sesamanya, khususnya terhadap masalahmasalah manusia yang kompleks. Gereja dalam pelayanan diakonianya di bidang kesehatan, harus mencerminkan keprihatinan dan wujud teladan dari pelayanan Yesus selama di dunia atas penderitaan yang dialami sesama. Gereja perlu berkontribusi dalam mencegah dan mengatasi masalah gizi balita dalam keluarga-keluarga yang mengalaminya, dengan terbeban mencari tahu serta menindaklanjuti faktor penyebab yang terjadi. Gereja juga memiliki peran penting dan strategis untuk bisa memberikan edukasi pola pengasuhan dalam keluarga. 13 Sebab, keluarga memiliki peran penting dalam Kusharisupeni. AuGrowth Faltering Pada Bayi di Kabupaten Indramayu Jawa Barat,Ay Jurnal Makara Kesehatan vol. 6 no. , 25. Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Yogyakarta. Profil Kota Yogyakarta Tahun 2021, 12. Ibid. , 13. Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Yogyakarta. Profil Kota Yogyakarta Tahun 2021, 19. Melissa Angela Chionardes dan Rina Pratiwi. AuPraktik Pemberian MP-ASI Sebagai Faktor Risiko Growth Faltering Pada Anak Usia 7-24 Bulan,Ay e-journal Undip . , 9. Soetarman. Mulai dari Musa dan segala Nabi:Makna Misi Gereja dalam Bidang Kesehatan (Jakarta: BPK Gunung Muli. , 2003 Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. AuGereja Ramah Anak Sehati berikan Perlindungan bagi Keluarga dan Anak,Ay https://w. id/index. php/page/read/29/2876/gereja-ramah-anak-sehati-berikan-perlindungan-bagikeluarga-dan-anak, . iakses pada 20 Januari 2. Jl. Solo KM. Kalasan. Kab. Sleman. DI Yogyakarta Web: ukrim. Journal. id/index. php/JPS ---- 114 Jurnal Penabiblos Edisi ke-29. ISSN : 2086-6097. Vol. 14 No. 2 -- November 2023 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen mengatasi gizi buruk dengan pembaharuan dan perubahan sikap yang diikuti oleh tindakan nyata. Selain itu, keluarga memiliki peranan penting dalam memperhatikan, melindungi, dan memantau kesehatan anggota keluarganya. Keluarga juga ialah unit utama dalam masyarakat yang dapat menimbulkan, mencegah, mengabaikan, bahkan memperbaiki masalah kesehatan anggota keluarganya sendiri. 15 Oleh karena itu, penulis tertarik meneliti fenomena pengasuhan keluarga terkait kasus weight faltering yang terjadi pada balita rentang usia 6-24 bulan di IPIA Hagios Yogyakarta bagi yang pernah mengalaminya. Penulis ingin menggali lebih mendalam dengan metode kualitatif pendekatan fenomenologi sebab pengalaman tidak bisa diukur secara kuantitatif karena keunikan masing-masing orang. Pengalaman dapat dimaknai dengan baik menggunakan penelitian kualitatif. Melalui pengalaman pengasuhan keluarga yang memiliki balita dengan status weight faltering tersebut, penulis akan menemukan esensi dari data yang diperoleh Tujuan penelitian ini dilakukan yaitu pertama, memahami pengalaman pengasuhan keluarga yang memiliki anak usia 6-24 bulan dengan status weight faltering. Kedua, menemukan makna pengalaman pengasuhan bagi keluarga yang memiliki anak usia 6-24 bulan dengan status weight faltering. Ketiga, menemukan esensi makna pengalaman pengasuhan bagi keluarga yang memiliki anak usia 6-24 bulan dengan status weight faltering sehingga menghasilkan gagasan atau konsep demi pengembangan strategi yang dapat digunakan untuk memecahkan permasalahan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak di IPIA Light Generation IO-0777 Hagios Yogyakarta. Sehingga rumusan masalah untuk menjawab tujuan penelitian ini yaitu pertama, apa pengalaman pengasuhan keluarga yang memiliki anak usia 6-24 bulan dengan status weight faltering? yaitu seputar apa yang dialami oleh partisipan terkait pengasuhan terhadap balita dengan status weight faltering. Kedua, bagaimana pengalaman pengasuhan keluarga yang memiliki anak usia 6-24 bulan dengan status weight faltering? yaitu seputar bagaimana partisipan memaknai Ketiga, apa esensi dari makna pengasuhan keluarga yang memiliki anak usia 6-24 bulan dengan status weight faltering? yaitu tentang interpretasi penulis terhadap makna yang Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif menggunakan pendekatan Fenomenologi adalah studi mengenai pengalaman hidup seseorang atau metode untuk mempelajari dan menemukan makna yang sedalam-dalamnya tentang pengalamanpengalaman yang dirasakan oleh individu secara subjektif terkait fenomena . ejala atau peristiw. Penelitian ini dilakukan di Intervensi Pengembangan Ibu dan Anak (IPIA) Light Generation IO-0777 Hagios Yogyakarta yang berada di sekitar kawasan wisata Malioboro tepatnya berada di Jalan Sosrowijayan No. Desa Sosromenduran. Kecamatan Gedong Tengen. Daerah Istimewa Yogyakarta. Berkaitan dengan waktu penelitian, observasi telah dilakukan penulis sejak Agustus- Oktober 2022 ketika PPL (Praktik Pengalaman Lapanga. di IPIA Light Generation IO0777 Hagios Yogyakarta. Sedangkan, proses wawancara secara langsung kepada partisipan dan Dokpenkwi. AuGerakan HPS Tahun 2016-2018: Penguatan Pangan Keluarga Demi Kesejahteraan Hidup Bersama,Ay http://w. org/2016/09/19/penguatan-pangan-berbasis-keluarga, . iakses pada 3 januari Zaidin Ali. Pengantar Keperawatan Keluarga (Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2. , 3. Kirana. AuFenomenologi: Apa Yang Kita Rasakan Secara Indrawi Tidak Selalu Sama Dengan Yang Kita Maknai,Ay diperbaharui 2021, diakses 14 Maret 2023, https://feb. id/id/berita/3232-fenomenologi-apa-yang-kitarasakan-secara-indrawi-tidak-selalu-sama-dengan-yang-kita-maknai. Jl. Solo KM. Kalasan. Kab. Sleman. DI Yogyakarta Web: ukrim. Journal. id/index. php/JPS ---- 115 Jurnal Penabiblos Edisi ke-29. ISSN : 2086-6097. Vol. 14 No. 2 -- November 2023 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen dokumentasi dilakukan pada bulan April-Mei 2023. Selanjutnya, penyusunan hasil atau laporan penelitian penulis lakukan pada bulan Mei-Juni 2023. Fenomena keluarga dalam mengasuh balita dengan status weight faltering tidak dapat digambarkan secara kuantitatif karena dialami secara berbeda-beda oleh setiap individu. Partisispan yang diteliti berasal dari latar belakang budaya, keyakinan, ekonomi, pendidikan dan dipengaruhi oleh nilai sosial yang berbeda-beda sehingga setiap partisipan kemungkinan memiliki persepsi, keyakinan, harapan yang berbeda pula dalam pengalamannya mengasuh anak yang weight faltering. Dengan demikian, fenomenologi merupakan metode yang tepat untuk menggambarkan dan memahami pengalaman keluarga yang mengasuh balita dengan status weight faltering. Penulis menggunakan metode kualitatif fenomenologi dari pendapat Creswell yang menjelaskan bahwa penelitian ini berupa studi naratif yang melaporkan pengalaman individu atau beberapa individu dengan cara mendeskripsikan pengalaman hidupnya terkait fenomena tertentu yaitu tentang apa yang dialami dan bagaimana mereka mengalami. Sehingga, kemungkinan dua pertanyaan inti yang perlu dijawab dalam penelitian ini yaitu mengenai textural description . eskripsi tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian tentang sebuah fenomena menyangkut aspek objektif, data yang bersifat faktual dan hal yang tampak secara empiri. dan structural description . eskripsi tentang bagaimana subjek mengalami dan memaknai pengalamanya. Hal ini bersifat subjektif, menyangkut pendapat, penilaian, perasaan, harapan, dan respon subjektif lainnya dari subjek penelitian berkaitan dengan pengalamanya tersebu. Pendekatan kualitatif fenomenologi yang digunakan penulis, memakai paradigma konstruksi sosial. Paradigma konstruksi sosial menurut Creswell ialah usaha untuk memahami individu-individu, memahami tempat mereka hidup dan bekerja. Sebab, mereka memiliki pemaknaan tersendiri tentang kehidupan berdasarkan pengalaman masing-masing. Makna yang beragam tersebut dipersempit dalam kategori kecil atau sejumlah ide oleh peneliti. Sehingga penelitian dengan paradigma ini bersandar pada pandangan atau persepsi dari partisipan tentang situasi tertentu. 18 Tujuan utamanya ialah melihat, memperjelas, dan mencerahkan bagaimana setiap keluarga memaknai, memahami atau memandang tentang fenomena pengasuhan kepada balita dengan status weight faltering. Pemaknaan tersebut tentunya berdasarkan pengalaman masingmasing keluarga yang ada di tempat penelitian. Penulis mengambil partisipan sebanyak 9 orang tua atau keluarga untuk digali pengalamannya mengasuh anak dengan status weight faltering. Penulis mengumpulkan data dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Kemudian, proses analisis data dalam penelitian kualitatif, terdapat tiga tahap seperti reduksi data, display atau penyajian data, dan verifikasi atau 19 Penulis menggunakan analisis studi fenomenologi model Stevick-Colaizzi-Keen. Langkah analisis tersebut yaitu pertama, menampung semua jawaban partisipan dan mendeskripsikan secara menyeluruh pengalaman setiap partisipan terkait fenomena yang sedang diteliti, sambil mempelajarinya berulang-ulang. Kedua, membuat daftar pernyataan yang penting dan bermakna dari hasil wawancara partisipan, sesuai fokus penelitian. Ketiga, mengambil pernyataan penting, menyatukan pernyataan-pernyataan yang mempunyai makna sama dari masingmasing partisipan, dikelompokkan ke dalam unit makna menjadi kelompok kategori-kategori Amir Hamzah. Metode Penelitian Fenomenologi: Kajian Filsafat dan Ilmu Pengetahuan (Malang: CV. Literasi Nusantara Abadi, 2. , 64. Ibid. , 11. Ibid. , 246. Ibid. , 97 Jl. Solo KM. Kalasan. Kab. Sleman. DI Yogyakarta Web: ukrim. Journal. id/index. php/JPS ---- 116 Jurnal Penabiblos Edisi ke-29. ISSN : 2086-6097. Vol. 14 No. 2 -- November 2023 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen kemudian menjadi kelompok sub tema dan tema. Keempat, mendeskripsikan fenomena yang dialami partisipan sesuai kelompok tema tersebut, secara menyeluruh sesuai fokus penelitian seperti apakah yang dialami . dan bagaimana pengalaman tersebut terjadi . , sambil menelaah keterkaitan atau hubungannya satu sama lain, dengan kata lain penulis melakukan Kelima, peneliti mendeskripsikanya secara keseluruhan dalam bentuk narasi atau deskriptif tentang esensi fenomena yang diperoleh dalam penelitian. Hasil Penelitian dan Pembahasan Tema yang teridentifikasi dari hasil wawancara adalah sebanyak 4 tema utama yang memaparkan berbagai pengalaman keluarga secara spesifik ibu sebagai pengasuh utama, yang mengasuh anak balita dengan status weight faltering. Keempat tema tersebut antara lain: pengalaman pengasuhan orang tua, respons orang tua terhadap masalah weight faltering, hambatan dan bantuan ketika mengasuh anak, makna pengalaman pengasuhan. Berdasarkan tema 1 yaitu pengalaman pengasuhan orang tua dengan sub tema arti pengasuhan, perasaan dalam pengasuhan dan tindakan pengasuhan, esensi makna yang diperoleh yaitu pertama, adanya kesenjangan atau AojurangAo . antara pengertian tentang pengasuhan dan praktik pengasuhan yang dilakukan atau yang pernah dialami oleh partisipan orang tua. Berdasarkan pengertian pengasuhan, partisipan orang tua sudah memiliki pemahaman yang cukup baik tetapi dari sisi perasaan dan tindakan pengasuhan terdapat sesuatu yang tidak serasi atau konsisten dengan arti pengasuhan. Kedua, esensi makna yang diperoleh yaitu perilaku atau tindakan pengasuhan orang tua dipengaruhi oleh kepercayaan atau sesuatu yang diyakini. Berdasarkan tema 2 yaitu respons orang tua terhadap masalah weight faltering yang terdiri dari tiga sub tema yakni . persepsi tentang arti, penyebab dan dampak weight faltering, . perasaan ketika anak mengalami weight faltering . upaya atau usaha mengasuh anak yang weight Penulis memperoleh suatu esensi makna yaitu pertama, dalam proses pengasuhan muncul masalah-masalah psikologis. Kedua, esensi makna yang diperoleh yaitu pola asuh orang tua berdampak terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak. Berdasarkan tema 3 mengenai hambatan dan bantuan ketika mengasuh anak, esensi makna yang diperoleh yaitu ditemukan berbagai faktor pengaruh . enghambat dan pendukun. pola asuh seperti masalah disfungsi peran dalam keluarga seperti suami kurang terlibat dalam pengasuhan, masalah perbedaan pola asuh dalam keluarga, pola atau kebiasaan yang keliru, pemahaman budaya setempat yang diterapkan turun temurun dan dukungan sosial berupa arahan atau masukan dari orang-orang sekitar. Berdasarkan tema 4 mengenai makna pengalaman pengasuhan, diperoleh esensi makna yaitu pertama, evaluasi pengasuhan dan komitmen atau penguatan motivasi mengenai pengasuhan timbul akibat anak mengalami weight faltering. Kedua, evaluasi pengasuhan dan komitmen atau penguatan motivasi mengenai pengasuhan timbul akibat latar belakang pengasuhan yang diterima dari keluarga asal. Pertama, temuan penelitian yang penulis peroleh yaitu perilaku atau tindakan pengasuhan orang tua dipengaruhi oleh kepercayaan atau sesuatu yang diyakini. Hal ini salah satunya berkaitan dengan hasil penelitian berupa tindakan pengasuhan ibu dalam hal pengobatan anak yang sakit masih memiliki kepercayaan terhadap dukun atau orang pintar dan keyakinan mengenai pengobatan herbal lebih baik dilakukan sebelum memberikan obat kimia. Berkenaan dengan kepercayaan terhadap orang pintar dalam pengobatan anak sakit di penelitian ini, orang tua masih memercayai pengobatan yang tidak mengandalkan kuasa Tuhan atau masih memercayai adanya pengaruh-pengaruh gaib saat anak sakit sehingga perlu dibawa ke dukun atau orang pintar dalam penyembuhannya. Menurut Minggus Dilla, paham atau kepercayaan yang tidak mengandalkan kuasa Tuhan, melainkan memercayai kuasa kegelapan, yang rahasia, misterius atau Jl. Solo KM. Kalasan. Kab. Sleman. DI Yogyakarta Web: ukrim. Journal. id/index. php/JPS ---- 117 Jurnal Penabiblos Edisi ke-29. ISSN : 2086-6097. Vol. 14 No. 2 -- November 2023 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen kekuatan gaib disebut dengan okultisme. Alkitab mengatakan, berhubungan dengan iblis dengan mempraktekkan okultisme atau kuasa gelap sama dengan dosa penyembahan berhala. Selanjutnya. Veronika Purba dan Pardomuan Munthe menegaskan: Aujangan percaya dengan ramalan dukun atau anjuran dukun untuk melakukan sesuatu hal jika sudah lebih percaya kepada dukun apalagi sampai percaya penuh kepadanya itu sama saja dengan berhala, bahwa dukun tidak berperan melindungi atau dapat menjaga kehidupan manusia secara utuh sebab hanya Allah saja pemelihara yang berkuasa atas manusia dan alam semesta. Maka dari itu, warga gereja harus tetap berpegang teguh pada keyakinan bahwa Allah lah yang memelihara dan berkuasa atas manusia, bukan dukun. Ay22 Tidak hanya itu. Stanley Heath menambahkan bahwa salah satu bentuk okultisme yaitu berkaitan dengan kedukunan dan mencari bantuan gaib berarti tidak percaya sepenuhnya kepada Allah, tidak meyakini kemahakuasaan Allah, tidak percaya kepada Firman yang menjanjikan pertolongan ilahi. Hal ini tidak diperkenankan untuk dilakukan oleh orang percaya. Okultisme juga dilarang keras dalam Ulangan 18: 9-13 yang menjelaskan demikian AuApabila engkau sudah masuk ke negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN. Allahmu, maka janganlah engkau belajar berlaku sesuai dengan kekejian yang dilakukan bangsa-bangsa itu. Di antaramu janganlah didapati seorangpun yang mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai korban dalam api, ataupun seorang yang menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati. Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, dan oleh karena kekejian-kekejian inilah TUHAN. Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu. Haruslah engkau hidup dengan tidak bercela di hadapan TUHAN. Allahmu. Ay Kedua, temuan penelitian yang diperoleh yakni dalam proses pengasuhan muncul masalah-masalah psikologis. Masalah-masalah psikologis tersebut berupa emosi negatif yang dialami oleh ibu seperti kuatir, cemas, takut, sedih, bingung dan kesal. Arti emosi menurut Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini yaitu perasaan yang kita miliki ketika berada dalam situasi tertentu atau ketika berhubungan denan seseorang yang dianggap penting. 23 Menurut teori JamesLange manusia dapat mengalami emosi karena adanya sensasi yang berasal dari jasmani terutama organ-organ tubuh dari dalam. Teori ini juga menjelaskan bahwa emosi adalah hasil persepsi seseorang terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh sebagai respons terhadap berbagai rangsangan yang datang dari luar. Temuan penelitian ini didukung oleh penelitian Sifa Fauziah. Puji Nurfaizatul Hasanah dan Cucum Suminar yang menjelaskan bahwa ibu mengalami masalah psikologis selama mengasuh anak yang stunting yaitu sedih karena memiliki anak yang berbeda dengan yang lain. Hasil tersebut menyatakan bahwa psikologis ibu akan rentan mengalami gangguan ketika memiliki anak yang berisiko stunting. 25 Padahal. Nur Qholifah Maharani Aprilia Putri dan Amrina Rosyada menjelaskan bahwa kesehatan mental pada ibu dapat memengaruhi perilaku pengasuhannya terhadap anak. Minggus Dilla. Pandangan Alkitab tentang Okultisme (Manna Rafflesia, 2. , 27. Veronika Purba dan Pardomuan Munthe. AuTinjauan Dogmatis Terhadap Pemahaman Jemaat GKPS Bangun Baru tentang Dukun Baik dan Dukun Jahat,Ay Jurnal Sabda Akademika 1 no. : 10-11. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. AuMengelola Emosi Orang Tua dalam Proses Pengasuhan,Ay. , 6. Sherly Ester E. Kawengian. Diktat Kuliah: Psikologi Perkembangan, sem. II, 2016. Sifa Fauziah. Puji Nurfaizatul Hasanah dan Cucum Suminar. AuPengalaman Ibu dalam Merawat Balita Berisiko Stunting,Ay Jurnal Ilmu Keperawatan Sebelas April vol. 4 no. : 38. Jl. Solo KM. Kalasan. Kab. Sleman. DI Yogyakarta Web: ukrim. Journal. id/index. php/JPS ---- 118 Jurnal Penabiblos Edisi ke-29. ISSN : 2086-6097. Vol. 14 No. 2 -- November 2023 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen Kesehatan mental yang buruk akan memicu perilaku ibu dalam melakukan tindakan kekerasan terhadap anak. Selain itu, dalam penelitian Sifa Fauziah. Puji Nurfaizatul Hasanah dan Cucum Suminar, menegaskan demikian: AuTidak seharusnya orang tua memiliki rasa sedih berlebihan ketika memiliki balita yang dikategorikan berbeda dengan yang lain, karena dapat menimbulkan stress yang berlebihan dan membuat balita ikut terganggu. Memang betul rasa sedih dan psikologis orang tua bakal terganggu karena mereka memiliki hati nurani yang dalam terhadap anak kandung mereka Akan tetapi kesehatan mental seorang ibu sangat berperan dalam perkembangan dan pertumbuhan anak. Kesedihan yang dialami oleh orang tua bisa membuat anak tambah jadi murung, seharusnya orang tua jauh lebih semangat dalam merawat balita supaya cepat berkembang dan bertumbuh secara baik,Ay26 Esther Setiawati. Krisna Dewi dan Heryanti juga menjelaskan bahwa menjadi seorang ibu merupakan panggilan hidup yang kompleks dan sulit. Tidak hanya itu, menjadi ibu bukanlah tugas atau pekerjaan yang menyenangkan karena tugas yang menantang harus dijalani oleh ibu seperti mengandung, memberi makan, mengasuh anak dari bayi hingga dewasa. 27 Namun. Alkitab mengatakan bahwa mereka yang diberkati Tuhan untuk menjadi seorang ibu harus menerima tanggung jawab dengan serius yaitu mengasihi anak-anak. Ketiga, temuan penulis dalam penelitian ini yaitu pola asuh berdampak terhadap kesehatan serta pertumbuhan dan perkembangan anak. Pertumbuhan berhubungan dengan masalah perubahan dalam hal besar, jumlah ukuran pada dimensi sel, organ, maupun individu yang dapat diukur dengan ukuran berat, ukuran panjang. Sedangkan, perkembangan adalah bertambahnya kemampuan . dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan. Pertumbuhan dan perkembangan mengandung pengertian adanya perubahan pada manusia. Semua orang yang mendapat tugas untuk mengawasi dan mengurus anak harus mengerti persoalan anak yang sedang bertumbuh dan Dengan kata lain, orang tua harus mengerti tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan anak. Tumbuh kembang anak memiliki tahap-tahap tersendiri beserta ciri-ciri yang Usia anak pada penelitian ini yaitu masa bayi dan masa balita atau masa toddler yakni rentang usia 0-3 tahun. Daud Manno mengatakan bahwa masa usia 0-2 tahun, anak belajar melepaskan diri dari lingkungan fisik dan emosional yang sebelumnya mengelilingi mereka. Anak usia ini banyak belajar melalui panca indera . dan sangat membutuhkan sentuhan fisik yang penuh kasih sayang berupa dekapan dan perhatian penuh dari ibunya atau pengasuhnya. Perpisahan anak dengan ibunya akan menimbulkan krisis bagi mereka, yang ditunjukkan dengan perbuatan menangis, menolak makan dan timbulnya gangguan fisiologis serta gangguan psikologis . 30 Masa usia 0-24 bulan juga sering disebut periode emas bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, karena masa ini anak tumbuh dan berkembang dengan pesat sebagai awal penentu kehidupan selanjutnya. Pada periode emas ini, kemungkinan besar ada gangguan yang akan Sifa Fauziah. Puji Nurfaizatul Hasanah dan Cucum Suminar. AuPengalaman Ibu dalam Merawat Balita Berisiko Stunting,Ay Jurnal Ilmu Keperawatan Sebelas April vol. 4 no. : 38. Esther Setiawati. Krisna Dewi dan Heryanti. Menjadi Seorang Ibu. Peny. Jarot Wijanarko (Jakarta: Keluarga Indonesia Bahagia, 2. , 50. Ibid Yudrik Jahja. Psikologi Perkembangan (Jakarta: PRENADAMEDIAGROUP, 2. , 27-30. Daud Manno. Building Your Future: Pembentukan Watak dan Tata Nilai untuk Menjadi Pribadi Unggul (Yogyakarta: ANDI, 2. , 179. Jl. Solo KM. Kalasan. Kab. Sleman. DI Yogyakarta Web: ukrim. Journal. id/index. php/JPS ---- 119 Jurnal Penabiblos Edisi ke-29. ISSN : 2086-6097. Vol. 14 No. 2 -- November 2023 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen dihadapi bayi seperti pertumbuhan yang lambat, datangnya penyakit, terganggunya sistem pencernaan dan pernafasan, kurang gizi atau malnutrisi, kurangnya perawatan secara medis dan 31 Sehingga, anak usia ini sangat membutuhkan perhatian dari segi kasih sayang, kedekatan, keperluan gizi dan kesehatan. Sedangkan, pada masa balita atau toodler anak usia ini belajar mengembangkan kehendak dan keinginan untuk bebas atau mandiri. 33 Pada usia ini, muncul sikap keras kepala, tidak menurut, melawan atau menentang. 34 Masa ini justru seharusnya pertumbuhan otonomi atau kemandirian anak bertumbuh. Jika larangan atau tuntutan begitu banyak dari orang tua maka anak berkembang dengan sebaliknya yaitu diliputi perasaan malu . Tidak hanya itu, pembentukan bahasa menjadi sesuatu yang sangat penting pada masa ini. 35 Pertumbuhan dan perkembangan anak pada proses dan kenyataannya terkadang tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Hal tersebut dikarenakan adanya banyak faktor yang memengaruhi salah satunya faktor lingkungan. Faktor lingkungan tersebut secara khusus yaitu keluarga berkaitan dengan pola asuh orang tua. Pengasuhan ialah faktor yang berkaitan erat dengan pertumbuhan anak balita . awah lima tahu. karena mereka sangat membutuhkan suplai makanan dan gizi dalam jumlah yang 37 Aspek pengetahuan atau wawasan ibu tentang pengasuhan anak, akan memengaruhi perilaku ibu dalam mengasuh anak. Pengetahuan ibu akan memengaruhi kualitas pola asuh ibu terhadap balita khususnya berkaitan dengan pola asuh pemberian makan. 38 Berikutnya, dalam penelitian yang dilakukan oleh Fitria Dewi Sri Rahayuningati, et al menambahkan tentang alasan pola asuh memengaruhi kesehatan dalam tumbuh kembang anak, karena pola asuh meliputi perhatian atau dukungan Ibu dan rangsangan psikososial terhadap anak, pemberian ASI atau makanan pendamping (MP-ASI), persiapan serta penyimpanan makanan, praktik hygenie dan sanitasi lingkungan, bahkan perawatan kesehatan anak misalnya pengobatan saat anak sedang Hal tersebut diperkuat dengan penyebab anak mengalami weight faltering pada penelitian ini karena faktor pola asuh ibu seperti kurang pengawasan dan selalu menuruti keinginan anak sehingga makan sembarangan dan anak trauma karena paksaan makan. Pola asuh yang menuruti semua keinginan anak tersebut dikenal dengan istilah pola asuh permisif atau memanjakan Baumrind menjelaskan bahwa tipe pola asuh permisif merupakan kebalikan dari pola asuh otoriter karena rendahnya tuntutan dari orang tua tetapi tingginya respon atau perhatian terhadap Sidjabat. Membesarkan Anak dengan Kreatif: Panduan Menanamkan Iman dan Moral Kepada Anak Sejak Dini (Yogyakarta: Andi Offset, 2. , 67. Daud Manno. Building Your Future: Pembentukan Watak dan Tata Nilai untuk Menjadi Pribadi Unggul (Yogyakarta: ANDI, 2. , 179. Ibid. , 180. Sherly Ester E. Kawengian. Diktat Kuliah: Psikologi Perkembangan, sem. II, 2016. Daud Manno. Building Your Future: Pembentukan Watak dan Tata Nilai untuk Menjadi Pribadi Unggul (Yogyakarta: ANDI, 2. , 180. Yudrik Jahja. Psikologi Perkembangan (Jakarta: PRENADAMEDIAGROUP, 2. , 29. Mirta Agustina. Fauzi Ali Amin, dan Anwar Arbi. AuHubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia 24-59 Bulan di Wilayah Puskesmas Kuta Cot Glie Kecamatan Kuta Cot Glie Kabupaten Aceh Besar Tahun 2022,Ay Jurnal of Health and Medical Science Vol. 2 No. : 24. Sifa Fauziah. Puji Nurfaizatul Hasanah dan Cucum Suminar. AuPengalaman Ibu dalam Merawat Balita Berisiko Stunting,Ay Jurnal Ilmu Keperawatan Sebelas April vol. 4 no. : 39. Ibid. , 509. Jl. Solo KM. Kalasan. Kab. Sleman. DI Yogyakarta Web: ukrim. Journal. id/index. php/JPS ---- 120 Jurnal Penabiblos Edisi ke-29. ISSN : 2086-6097. Vol. 14 No. 2 -- November 2023 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen keinginan anak. 40 Baumrind menegaskan bahwa orang tua dengan pola asuh ini memberikan kebebasan kepada anak untuk mengatur dan menentukan keinginannya sendiri sehingga kurang adanya campur tangan dari orang tua. Pola asuh ini seringkali dikatakan sebagai pola asuh yang longgar dalam mengasuh anak atau pasif dalam pembiasaan disiplin. Orang tua dengan pola asuh ini cenderung membebaskan anak untuk melakukan apapun sesuai kehendaknya tanpa melarang. 42 Lebih tepatnya, pola asuh permisif dikenal dengan istilah memanjakan anak. 43 Sedangkan, menurut Deddy Siswanto pola asuh permisif memiliki ciri yaitu kurangnya kontrol dari orang tua, memberi kebebasan atas keinginan anak dengan alasan agar anak bahagia, tidak adanya aturan yang mengikat bahkan pendisiplinan jarang diberikan, orang tua kurang membimbing dan mengarahkan anak. Selanjutnya menurut Baumrind, pola asuh orang tua yang sangat menuntut dan direktif tetapi tidak responsif dikenal dengan pola asuh authoritarian . 45 orang tua dengan pola asuh otoriter menuntut anaknya agar mengikuti kemauan dan perintahnya. 46 Pola atau cara pengasuhan anak ini bersifat pemaksaan, keras, dan kaku. Bahkan, orang tua cenderung membuat berbagai aturan yang ketat dan harus dipatuhi tanpa peduli perasaan anak. 47 Selanjutnya, tambahan pendapat dari Bahran Taib. Dewi Mifidatul Ummah dan Yuliyanti Bun, ciri-ciri orang tua dengan pola asuh otoriter ialah sangat berkuasa dan suka mengatur, suka memaksa agar anak patuh pada aturan yang dibuat, suka menghukum, bersifat kaku, kurang memberikan kasih sayang, kurang simpatik dan cenderung mengekang keinginan anak. Berdasarkan pendapat Santrock pola asuh otoriter memiliki dampak yang merugikan anak secara psikologis antara lain anak menjadi pesismis, tertekan dan terkekang, tidak mandiri serta kehilangan kepercayaan diri. Pola asuh ini menyebabkan anak menjadi stress, depresi dan trauma. Temuan penelitian ini juga didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Hidayathillah & Mulyana membuktikan bahwa orang tua yang menggunakan pola asuh permisif, balita mengalami status gizi kurang seluruhnya. Hasil tersebut juga didukung oleh penelitian Firdaus bahwa pola asuh permisif menyebabkan balita mengalami gizi kurang. Sama halnya dengan pola asuh permisif pada penelitian Hidayathillah & Mulyana dan Firdaus bahwa orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter memberikan dampak terhadap status gizi balita mengalami gizi kurang. Tidak hanya itu, orang tua juga perlu memberikan pola asuh kepada anak seperti yang diajarkan dalam Alkitab yaitu pola asuh yang seimbang antara kasih sayang dengan disiplin. Fadlillah and Syifa Fauziah. AuAnalysis of Diana BaumrindAos Parenting Style on Early Childhood Development,Ay AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan 14, no. : 2132-2133. Ibid Habibu Rahman. Rita Kencana, dan Nur Faizah. Pengembangan NIlai Moral dan Agama Anak Usia Dini (Tasikmalaya: Edu Publisher, 2. , 44. Icam Sutisna. AuMengenal Model Pola Asuh Baumrind,Ay Universitas Negeri Gorontalo Deddy Siswanto. Anak di Persimpangan Perceraian (Surabaya: Airlangga University Press, 2. , 48. Fadlillah and Syifa Fauziah. AuAnalysis of Diana BaumrindAos Parenting Style on Early Childhood Development,Ay AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan 14, no. : 2130. Evy Clara dan Ajeng Agrita Dwikasih Wardani. Sosiologi Keluarga (Jakarta: UNJ Press, 2. , 96-97. Siti Fatimah Azahro. Pola Asuh Orang Tua Terhadap Anak dalam Lingkungan Keluarga: Potret Kampung Pelawat Mandiri (Serang: A-Empat, 2. , 36. Bahran Taib et al. AuAnalisis Pola Asuh Otoriter Orang Tua Terhadap Perkembangan Moral Anak,Ay Jurnal Ilmiah Cahaya Paud 2, no. : 128Ae137. Evy Clara dan Ajeng Agrita Dwikasih Wardani. Sosiologi Keluarga (Jakarta: UNJ Press, 2. , 96-97. Happy Mega Nur Fatihah. Pola Asuh Orang Tua Terhadap Status Gizi Kurang Anak Usia 6-24 Bulan Di Wiliayah Kerja Puskesmas Karangduren Kabupaten Jember, 2021. Jl. Solo KM. Kalasan. Kab. Sleman. DI Yogyakarta Web: ukrim. Journal. id/index. php/JPS ---- 121 Jurnal Penabiblos Edisi ke-29. ISSN : 2086-6097. Vol. 14 No. 2 -- November 2023 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen Disiplin yang diberikan harus tepat yaitu diiringi dengan kasih sayang bukan untuk pelampiasan kemarahan seperti yang tertulis dalam kitab Efesus 6:4 yang berbunyi AuDan kamu bapa-bapa janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Ay Ayat ini ditulis sesudah Paulus selesai memberikan nasihat kepada anak-anak pada ayat sebelumnya. Nasihat ini ditujukan kepada bapa-bapa dan tidak tertulis untuk ibu-ibu meskipun mereka juga termasuk orang tua bagi anak-anak. Hal itu dilakukan Paulus, sebab bapabapa dianggap sebagai kepala keluarga yang memikul wibawa sebagai orang tua. Kemudian, amarah yang dilampiaskan kepada anak-anak sangatlah berbahaya. Sebab apabila anak menjadi sakit hati karena amarah ayahnya, maka lambat laun anak akan menunjukan sikap pemberontakan kepada orang tua yang memimpinya. Bahkan, anak akan meragukan dan memberontak melawan Allah sebagai Bapa. Melalui ayat ini. Paulus memberikan nasihat khusus kepada bapa-bapa agar mereka tidak menggusarkan atau menyakiti hati anaknya karena anak dapat marah dan kecewa apabila mereka terlalu banyak dituntut. Nasihat ini diikuti dengan perintah posistif yaitu orang tua perlu mendidik anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan. 52 Perintah tersebut agar bapa-bapa menerapkan ajaran yang berasal dari Tuhan yaitu pengenalan akan Tuhan dan ajaran-ajaran-Nya. 53 Selain itu, ayat tersebut memberikan penjelasan mengenai pentingnya orang tua mendidik anak dengan penuh Firman Tuhan dengan jelas melarang orang tua untuk mendidik anak dalam kemarahan, sebab kemarahan akan menghasilkan anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang keras dan Sedangkan. Daud Manno menjelaskan bahwa jika orang tua mengasihi anak mereka juga harus melakukan disiplin kepada anak. Penerapan kasih dan disiplin harus berjalan seimbang. Kasih tanpa disiplin berarti memunculkan ketidakpedulian sedangkan disiplin tanpa kasih merupakan tindakan kejam. Menurut Dobson, tujuan disiplin yaitu agar anak hidup bertanggung jawab. Prinsip Dobson ketika anak sengaja memberontak atau menentang otoritas orang tua, orang tua harus menghukum anak. Apabila memberlakukan hukuman fisik atau pukulan, hendaknya pada bagian pantat anak dan hanya sesekali tidak boleh terlalu sering serta perlu memberitahukan alasan 55 Selain itu, catatan penting menurut Dobson bahwa orang tua yang bijaksana harus menerapkan disiplin sesuai dengan kebutuhan pribadi anak dengan cara mengerti dan memahami ciri-ciri emosi atau perasaan dan jasmani . anak pada setiap tingkatan umur. Keempat, dalam penelitian ini ditemukan adanya disfungsi peran karena suami kurang terlibat atau bahkan sama sekali tidak terlibat dalam pengasuhan anak. Menurut pandangan Alkitab, dalam sebuah keluarga suami haruslah sebagai kepala keluarga. Tugas utama suami sebagai kepala keluarga ialah mengasihi istri sebagaimana Kristus mengasihi jemaat. Sebagai kepala keluarga. Bryan Roy and Antonius Yosef. AuPertumbuhan Rohani Anak Dalam Keluarga Kristen Menurut Efesus 6:4,Ay The Way Jurnal Teologi dan Kependidikan 5, no. :66. Jarot Wijanarko dan Yehuda So. Menjadi Seorang Ayah di Era Milenial (Jakarta: Keluarga Indonesia bahagi. , 43. Bryan Roy and Antonius Yosef. AuPertumbuhan Rohani Anak Dalam Keluarga Kristen Menurut Efesus 6:4,Ay The Way Jurnal Teologi dan Kependidikan 5, no. :66-67. Merlin Lebang dan Kristin Kerenhapukh Pasa. AuPentingnya Pengasuhan Orang Tua Dalam Meningkatkan Kualitas Sensori Motorik Anak Usia Emas ( 0-2 Tahun ) Melalui Sistem Pembelajaran Audio Visual,Ay EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 1, no. : 123. Daud Mano. Building Your Future: Pembentukan Watak dan Tata Nilai Untuk Menjadi Pribadi Unggul (Yogyakarta: ANDI, 2. , 202. James Dobson. Kendalikan Selagi Mampu. Penj. Chris Samuel (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2. , 41. Jl. Solo KM. Kalasan. Kab. Sleman. DI Yogyakarta Web: ukrim. Journal. id/index. php/JPS ---- 122 Jurnal Penabiblos Edisi ke-29. ISSN : 2086-6097. Vol. 14 No. 2 -- November 2023 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen seorang suami harus menjadi yang paling bertanggung jawab dalam kelangsungan hidup rumah tangganya, hal itu menyangkut: materi/ekonomi. kerohanian atau spiritualitas serta jiwani. 57 Suami juga harus berperan sebagai imam bagi istri dan anak-anaknya atau seisi rumahtangganya. Seorang suami tidak boleh otoriter dan semena-mena kepada anggota keluarga. Seorang suami mendapatkan hak untuk pengambilan keputusan dalam keluarga, namun demikian juga harus melibatkan istri melalui diskusi. Dalam struktur keluarga Kristen, istri memiliki peran sebagai penolong. Sebagai penolong yang sepadan bagi laki-laki (Kejadian 2:. Sebagai penolong yang sepadan, maka perempuan memiliki posisi yang terhormat, dihargai dan mulia, karena diciptakan untuk melengkapi laki-laki atau suami, dengan kata lain seorang istri sangat berperan dalam menyempurnakan fungsi dan peran laki-laki atau suami bagi keluarganya. Selain itu, keluarga merupakan institusi pertama yang dibentuk oleh Allah memiliki peran sebagai tempat pendidikan yang pertama dan utama bagi anak. Memiliki identitas ayah dan ibu tidak hanya sekadar melahirkan anak saja. Tetapi keduanya saling bekerja sama untuk bersungguh-sungguh mendidik mereka. Sebab, keluarga ialah suatu persekutuan antara anak-anak dengan orang tuanya sebagai representatif yang mengahdirkan shalom di bumi. 59 Sehingga ketika mengerti atau memahami peran berdasarkan prinsip kebenaran Firman Tuhan, disfungsi peran dalam sebuah keluarga seharusnya tidak terjadi. Kelima, temuan penelitian yang diperoleh penulis yaitu evaluasi pengasuhan, komitmen atau penguatan motivasi mengenai pengasuhan timbul akibat anak mengalami weight faltering dan latar belakang pengasuhan yang diterima dari keluarga asal. Menurut Maryanto, untuk bisa mengakui kekurangan diri dan menyadari kesalahan bukan perkara yang mudah yang bisa dilakukan oleh setiap orang. Proses merefleksi diri ini merupakan sebuah proses melihat kembali pengalaman yang telah dijalani untuk dapat menarik lessons learned atau pembelajaran bagi diri Proses tersebut dilanjutkan dengan penyusunan sebuah action plan untuk mengurangi kesenjangan . yang masih ada antara harapan dan kenyataan. 60 Kemudian, motivasi memiliki hubungan dengan perasaan sebab perasaan dapat memperkuat atau memperlemah tindakan seseorang seperti halnya motivasi. 61 Selain itu, motivasi dapat terbentuk akibat interaksi individu dan situasi, baik situasi internal maupun eksternal. Motivasi didefenisikan sebagai kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi dalam memenuhi suatu kebutuhan. Tidak hanya itu, keluarga atau orang tua harus memiliki motivasi yang benar sesuai prinsip Firman Tuhan bahwa anak merupakan karunia dari Tuhan yang harus diberi pengasuhan dengan baik. Orang tua harus memahami bahwa pengasuhan ialah tugas dan tanggung jawab utama orang tua dalam mendidik dan mendisiplin anak. Hal tersebut terdapat dalam kitab Amsal 29:15,17 yaitu ayat 15 yang berbunyi AuTongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya. Ay Beberapa prinsip yang menjadi tanggung jawab orang tua menurut kitab Amsal 29:15 tersebut antara lain orang tua perlu mendidik anak dengan teguran dan menggunakan tongkat. Teguran yang dimaksud artinya peringatan atau pemberitahuan mengenai hal yang baik dan buruk supaya anak tidak melakukan kesalahan. Selain itu, teguran juga berarti Hendri Suwarno. AuPeranan Keluarga Kristen Dalam Mendidik AnakAy . : 115Ae124. Ibid Ibid Supinah. AuFASILITATOR KEREN DENGAN PILIHAN METODE DAN TEKNIK PEMBELAJARAN PADA PELATIHAN BAGI GENERASI MILENIAL,AyJurnal Kewidyaiswaraan 5 No. :30. Sherly Ester E. Kawengian. Diktat Kuliah: Psikologi Umum, sem. I, 2013. Maya Wulan Pramesti. AuMOTIVASI: PENGERTIAN. PROSES DAN ARTI PENTING DALAM ORGANISASI,Ay 23. Jl. Solo KM. Kalasan. Kab. Sleman. DI Yogyakarta Web: ukrim. Journal. id/index. php/JPS ---- 123 Jurnal Penabiblos Edisi ke-29. ISSN : 2086-6097. Vol. 14 No. 2 -- November 2023 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen memberikan petunjuk agar anak tidak mengulangi kesalahannya kembali. 63 Matthew Henry menambahkan bahwa teguran akan mendatangkan hikmat apabila anak memperhatikan peringatan yang diberikan. Selain itu, prinsip penting lainnya yaitu tidak membiarkan anak. Sebab, orang tua memiliki tugas dan tanggung jawab penuh dalam mengawasi dan mengendalikan anaknya. Jika orang tua tidak menjalankan tugas dan tanggung jawab tersebut, maka orang tua sudah membiarkan atau mengabaikan anaknya. Penulis kitab Amsal pada ayat 15 tersebut menegaskan bahwa anak yang dibiarkan akan mempermalukan orang tua terkhusus ibunya. Karena tidak diberi didikan yang benar sehingga memiliki perilaku yang memalukan. 65 Henry menegaskan bahwa anak yang mendatangkan malu dan aib bagi orang tuanya ialah anak yang dibiarkan hidup dalam kemanjaan dan kecemaran. Kemudian, ayat 17 tertulis demikian AuDidiklah anakmu maka ia akan memberikan ketentraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu. AyAyat tersebut menjelaskan bahwa orang tua merupakan wakil dari Tuhan yang bertanggung jawab penuh mendidik anak-anaknya dengan benar, sehingga apabila didikan tersebut diberikan secara tepat maka di masa yang akan datang, orang tua itu sendiri akan mengalami ketentraman dan damai sejahtera dalam 67 Prinsip lain yang seharusnya menjadi motivasi orang tua dalam melakukan pengasuhan yaitu dalam pengasuhan harus menekankan aspek pendidikan spiritual anak. Hal itu seperti yang terdapat di dalam kitab Ulangan 6:4-9 yang berbunyi AuDengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita. TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN. Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anakanakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang ada dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu. Ay Melalui kutipan ayat tersebut, pengajaran yang diperintahkan Allah kepada orang tua untuk diterapkan kepada anak-anak, bila dipaparkan ialah sebagai berikut: syahadatnya yaitu Tuhan itu Allah kita. Tuhan itu esa! Sedangkan perintahnya yaitu kasihilah Tuhan. Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Petunjuk melakukannya yaitu ajarkanlah berulang-ulang, bicarakanlah apabila kau duduk, berjalan, bangun, di dalam rumah, di luar rumah, dan sebagainya. 68 Susan S. Wiriadinata, dkk memperjelas bahwa Tuhan sungguh-sungguh serius menaruh harapan dan memberi perintah kepada setiap orang tua agar berperan aktif dalam pembentukan rohani anak-anaknya. Bornok Sinaga. AuHakikat Mendidik Anak dalam Amsal 29:15,17 Terhadap Upaya Orang Tua dalam Mendidik Anak di GKPI Agape Mandala Medan,Ay Providensi: Jurnal Pendidikan dan Teologi 5, no. :38. Matthew Henry. Tafsiran Matthew Henry Kitab Amsal. Penj. Iris Ardaneswari, dkk. Peny. Jhonny Tjia, dkk (Surabaya: Penerbit Momentum, 2. , 619. Ibid Matthew Henry. Tafsiran Matthew Henry Kitab Amsal. Penj. Iris Ardaneswari, dkk. Peny. Jhonny Tjia, dkk (Surabaya: Penerbit Momentum, 2. , 620. Merlin Lebang dan Kristin Kerenhapukh Pasa. AuPentingnya Pengasuhan Orang Tua Dalam Meningkatkan Kualitas Sensori Motorik Anak Usia Emas ( 0-2 Tahun ) Melalui Sistem Pembelajaran Audio Visual,Ay EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 1, no. : 123. Susan S. Wiriadinata. Ardi Wiriadinata dan John Sudarma. Mengasuh Anak. Mengasihi Tuhan: Membimbing Anak Menjadi Pribadi Unggul dengan Mengenal Tuhan (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2. , 5. Ibid. , 2. Jl. Solo KM. Kalasan. Kab. Sleman. DI Yogyakarta Web: ukrim. Journal. id/index. php/JPS ---- 124 Jurnal Penabiblos Edisi ke-29. ISSN : 2086-6097. Vol. 14 No. 2 -- November 2023 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen Penutup Pertama, berkenaan dengan pengalaman pengasuhan keluarga yang memiliki anak balita dengan status weight faltering, orang tua melakukan tindakan atau cara pengasuhan antara lain mengontrol dan menetapkan batasan makanan dan minuman tertentu serta tontonan di gadget, mendidik aspek karakter anak, mendidik aspek spiritual, menstimulasi perkembangan anak, menunjukkan ketegasan ketika anak memberontak, perawatan anak sakit yakni kepercayaan terhadap orang pintar atau dukun, mengandalkan pengobatan herbal seperti bawang merah, kencur, kunyit, jeruk nipis dan pemberian obat kimia, melakukan pemeriksaan medis, strategi dalam pola asuh pemberian makan atau asupan gizi seperti mengatur jadwal atau pola makan anak, menciptakan suasana makan anak, memasak dan membuat variasi makanan, memberikan karbohidrat dan protein yang cukup, memberi susu formula, menambah porsi makan anak dan menyediakan makanan dengan jumlah yang cukup untuk usia anak, memberi vitamin penambah nafsu makan, memberikan air tajin, memberikan jamu cekok, serta mengatur pola tidur anak. Kedua, berkenaan dengan makna pengalaman pengasuhan keluarga yang memiliki anak dengan status weight faltering, pemaknaan orang tua antara lain yaitu perasaan yang dialami selama menjalani proses mengasuh anak yaitu susah atau tidak mudah, senang meskipun melelahkan, perasaan yang kompleks atau bercampur aduk, melewati banyak suka duka dan perasaan bersalah, serta adanya perasaan menyesal karena sewaktu hamil kurang memperhatikan asupan gizi. Perasaan ketika anak mengalami weight faltering yaitu cemas, kuatir, takut, sedih, bingung, kesal, tidak terlalu kuatir karena persepsi hanya karena faktor genetik. Evaluasi orang tua terkait kelemahan pengasuhan yakni pengasuhan yang kurang baik yaitu kurang membatasi, menuruti semua keinginan anak atau memanjakan anak, memaksa anak, memukul anak. Penguatan atau pembaharuan motivasi orang tua mengenai pengasuhan yaitu sebagai orang tua harus mau capek dan mau berjuang, mengusahakan banyak cara, sabar dan telaten, aktif, tidak sembarangan atau asal-asalan. Komitmen orang tua mengenai pengasuhan yaitu memperhatikan dan disiplin kepada anaknya dan memberi yang terbaik kepada anak. Ketiga, terkait esensi makna pengalaman pengasuhan keluarga yang memiliki anak dengan status weight faltering, penulis menemukan beberapa hal yaitu adanya kesenjangan atau AojurangAo . antara pengertian tentang pengasuhan dan praktik pengasuhan yang dilakukan atau yang pernah dialami oleh partisipan orang tua, perilaku atau tindakan pengasuhan orang tua dipengaruhi oleh kepercayaan atau sesuatu yang diyakini, dalam proses pengasuhan muncul masalah-masalah psikologis, pola asuh orang tua berdampak terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak secara spesifik pola asuh permisif dan otoriter menyebabkan anak mengalami weight faltering, ditemukan berbagai faktor pengaruh pola asuh . enghambat dan pendukun. seperti masalah disfungsi peran dalam keluarga seperti suami kurang terlibat dalam pengasuhan, masalah perbedaan pola asuh dalam keluarga, pola atau kebiasaan yang keliru, pemahaman budaya setempat yang diterapkan turun temurun dan dukungan sosial berupa arahan atau masukan dari orang-orang sekitar, evaluasi pengasuhan dan komitmen atau penguatan motivasi mengenai pengasuhan timbul akibat anak mengalami weight faltering dan akibat latar belakang pengasuhan yang diterima dari keluarga asal. Melalui penelitian ini terdapat beberapa saran yag bisa dilakukan oleh konselor, gereja, petugas layanan kesehatan, lembaga PPA Hagios, dan peneliti selanjutnya. Pertama, konselor dapat memberikan pelayanan untuk membantu ibu dalam menangani masalah-masalah psikis yang dialami selama mengasuh balita yang weight faltering dan masalah gizi lainnya. Kemudian. Jl. Solo KM. Kalasan. Kab. Sleman. DI Yogyakarta Web: ukrim. Journal. id/index. php/JPS ---- 125 Jurnal Penabiblos Edisi ke-29. ISSN : 2086-6097. Vol. 14 No. 2 -- November 2023 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen konselor dapat memberikan bimbingan mengenai pola asuh keluarga karena melalui penelitian ini didapatkan bahwa pola asuh yang memanjakan anak . dan pola asuh yang memaksa atau menuntut anak . dapat menyebabkan anak mengalami masalah gizi. Tidak hanya itu, konselor khususnya konselor Kristen juga dapat melakukan bimbingan konseling sesuai kebenaran Firman Tuhan kepada jemaat atau ibu yang masih memiliki kepercayaan terhadap dukun atau orang pintar dalam pengobatan anak yang sedang sakit. Kedua, gereja tidak hanya melakukan katekisasi atau konseling pranikah saja tetapi perlu meningatkan dan mengembangkan program-program bimbingan dan konseling postnikah. Gereja perlu mengembangkan program pelayanan pastoral postnikah terkhusus dalam hal pengasuhan anak dengan melakukan kerja sama dengan berbagai pihak seperti memberikan seminar-seminar, maupun khotbah tentang pengasuhan anak yang sesuai dengan prinsip Alkitab. Sebab, gejolak dan tantangan setelah menikah lebih kompleks apalagi bagi orang tua baru yang pertama kali memiliki anak yang harus beradapatsi menghadapi kenyataan yang ada. Gereja juga perlu berperan serta memberikan perhatian khusus kepada ibu hamil dan anak usia emas . -2 tahu. karena masa-masa ini membentuk dan menentukan pertumbuhan serta perkembangan anak selanjutnya. Ketiga, petugas layanan kesehatan perlu meningkatkan program preventif dan terus melakukan program kuratif dalam menangani masalah gizi balita. Selain itu, petugas layanan kesehatan perlu meningkatkan pelayanan edukasi atau penyuluhan seputar kesehatan dan gizi kepada ibu hamil maupun ibu yang memiliki anak balita. Terkhusus perlu mensosialisasikan tentang weight faltering sebagai pemicu pertama terjadinya stunting dan masalah gizi lainnya. Sebab melalui penelitian ini, semua ibu masih sangat asing dengan istilah weight faltering tetapi lebih mengenal istilah stunting. Berikutnya, petugas layanan kesehatan juga perlu mendorong ibu untuk selalu rutin memeriksakan anak ke layanan kesehatan guna memantau pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Tidak hanya itu, petugas layanan kesehatan juga perlu mendorong ibu untuk segera melakukan observasi atau pemeriksaan medis secara dini jika ada sesuatu yang aneh pada diri anak. Keempat. PPA Hagios terus mengembangkan pelayanan edukasi dan pemberian gizi atau support bahan makanan sehat kepada para keluarga penerima manfaat. Selain itu. PPA Hagios perlu meningkatkan program kunjungan dari rumah ke rumah yang disertai dengan bimbingan konseling terkait pengasuhan balita. Kelima, bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian lebih lanjut dengan pendekatan studi kasus untuk memecahkan kasus dan menolong masalahmasalah yang muncul dalam penelitian ini. Selain itu, melalui hasil penelitian ini masih ditemukan penerapan tradisi, maka bagi peneliti selanjutnya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan pendekatan budaya . tentang pengasuhan keluarga yang memiliki anak dengan masalah gizi. Mengingat bahwa keberagaman budaya dan tradisi Indonesia dapat memengaruhi perilaku ibu dan keluarga dalam mengasuh balita. Daftar Pustaka